Bab 1 - Prolog: Pesan yang Terlambat
Cowok itu duduk sendirian di lantai paling atas gedung mangkrak di Dago.
Angin malam Bandung menyusup lewat dinding semen yang belum selesai, membawa bau debu, hujan lama, dan asap kembang api dari jalanan di bawah. Kota sedang ramai. Klakson, tawa, suara orang menghitung mundur, semuanya naik sampai ke tempat itu, pecah menjadi gema yang dingin di antara tiang beton.
Kelvin Susanto tidak melihat ke atas.
Di atas kepalanya, langit meledak dalam warna merah, emas, lalu putih. Cahaya sebentar-sebentar menyapu wajahnya yang pucat, menempel di sudut mata yang kering, di rahang yang terkunci terlalu kuat, di bibir yang sejak tadi tidak mengucapkan apa pun.
Tangannya menggenggam HP dengan layar retak.
Retaknya menjalar dari sudut kanan atas, seperti jaring laba-laba tipis. Di layar itu, sebuah voice message WhatsApp berhenti di detik terakhir. Nama kontaknya masih sama, tidak pernah dia ganti.
Nona Guru ❤
Kelvin menatap nama itu lama sekali. Ibu jarinya menggantung di atas tombol putar ulang. Dingin malam membuat buku-buku jarinya memutih, tapi dia seolah tidak merasakannya.
Dari bawah, suara orang-orang meledak lagi.
"Tiga! Dua! Satu!"
"Selamat Tahun Baru!"
Kembang api pecah bersamaan.
Kelvin menekan tombol replay.
[Voice message - 00:07]
"Maaf..."
Suara perempuan itu kecil. Pelan. Ada napas yang tertahan di sela satu kata itu, seperti seseorang yang tersenyum sambil menahan sakit.
"Aku nggak bisa menunggumu, Kelvin."
Pesan itu selesai.
Kelvin tidak bergerak.
Di tahun baru, orang-orang membuat janji. Mereka berpelukan, mengirim stiker, memotret langit, menulis harapan seolah satu tahun ke depan pasti bersedia menunggu mereka. Kelvin dulu pernah percaya hal semacam itu tidak penting. Hidupnya terlalu berantakan untuk diisi harapan.
Lalu seorang cewek pendiam datang, duduk di sebelahnya, dan mengajarinya cara menulis jawaban satu per satu.
Dia mengajarinya membuka buku.
Mengajarinya menahan tinju.
Mengajarinya memanaskan susu kotak di saku jaket karena minuman dingin tidak baik untuk perut.
Mengajarinya bahwa seseorang bisa memanggil namanya dengan begitu lembut, sampai nama itu terasa seperti rumah.
Kelvin menekan replay lagi.
"Maaf..."
Kali ini, bibirnya bergerak sangat pelan.
"Jangan minta maaf."
Tidak ada yang menjawab.
Hanya angin yang melewati lubang jendela tanpa kaca. Hanya suara petasan kecil di kejauhan. Hanya pesan tujuh detik yang sudah dia putar entah berapa puluh kali, sampai baterai HP-nya turun ke lima persen dan peringatan merah muncul di bagian atas layar.
Layar menyala lagi oleh panggilan masuk.
Bagas.
Kelvin menatap nama itu tanpa mengangkat telepon.
Panggilan mati.
Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
**Bagas**: Kel, lu di mana?
**Bagas**: Dimas nyariin lu dari tadi.
**Bagas**: Jangan bikin gue panik, bangsat.
Pesan berikutnya datang dari Dimas.
**Dimas**: Angkat.
Satu kata. Seperti biasa.
Kelvin menutup notifikasi itu dengan jari gemetar. Bukan karena dia tidak tahu mereka khawatir. Justru karena dia tahu. Karena jika dia mengangkat, Bagas akan berteriak, Dimas akan diam terlalu lama, lalu keduanya akan bertanya hal yang sama.
Kel, lu baik-baik aja?
Pertanyaan itu sekarang terdengar seperti lelucon paling kejam.
Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?
Kelvin menunduk. Di sebelah kakinya ada kotak kue kecil dari toko roti yang belum dibuka. Pita putihnya sudah kotor terkena debu semen. Di atas kotak itu, ada buket mawar putih yang beberapa kelopaknya mulai layu karena terlalu lama dibawa ke mana-mana.
Dia membelinya sore tadi.
Dengan bodoh, dia sempat berdiri di depan etalase kue, memilih yang paling cantik, bertanya pada pelayan apakah mereka punya lilin angka delapan belas. Pelayan itu tersenyum, mungkin mengira cowok SMA bermata tajam itu sedang gugup merayakan ulang tahun pacarnya.
Kelvin tidak membantah.
Dia memang ingin merayakan ulang tahun seseorang.
Seseorang yang pernah berkata, "Kalau kamu bisa mengejar langkahku, aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia sudah berlari.
Dia benar-benar berlari sampai dadanya hampir pecah.
Tapi ketika dia sampai di garis akhir, orang itu sudah tidak ada di sana.
HP-nya bergetar lagi. Kali ini bukan panggilan, melainkan alarm lama yang belum sempat dia hapus.
21.00 - Ingatkan Nona Guru makan.
Kelvin menatap tulisan itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, sesuatu di wajahnya retak.
Dia tertawa pelan. Pendek. Tidak ada suaranya. Hanya udara yang keluar dari dadanya seperti benda tajam.
"Nona Guru," gumamnya, suara serak karena terlalu lama diam. "Udah makan belum?"
Pertanyaan itu melayang ke ruang kosong.
Tidak ada balasan "Iya."
Tidak ada pesan menyuruhnya tidur.
Tidak ada foto tangan kecil yang memegang pulpen ungu muda, menandai soal mana yang harus dia kerjakan malam ini.
Kelvin menekan voice message itu lagi.
"Maaf..."
Dia memejamkan mata.
Dalam gelap di balik kelopak matanya, suara itu terdengar lebih dekat. Seolah cewek itu masih duduk di bangku sebelahnya, rambut diikat ekor kuda, wajah sedikit pucat, tangan dingin menyentuh buku latihan, lalu memanggil namanya dengan cara yang selalu membuatnya ingin menoleh.
Kelvin.
Dan dia, seperti orang bodoh yang terlalu yakin pada hari esok, selalu menjawab:
Aku di sini.
Kelvin membuka mata. Langit sudah mulai kosong. Kembang api tinggal asap tipis yang menggantung di atas Bandung. Orang-orang di bawah masih tertawa, tapi suara mereka terdengar jauh sekali, seperti berasal dari dunia lain.
Dia mengusap layar HP dengan ibu jari. Retakan kaca menggores kulitnya, meninggalkan garis merah kecil. Darah muncul setitik.
Kelvin tidak peduli.
Dia menekan replay untuk kesekian kalinya.
"Maaf... Aku nggak bisa menunggumu, Kelvin."
Kali ini, dia menjawab dengan suara hampir tidak terdengar.
"Aku sudah sampai."
Angin menelan kalimat itu sebelum jatuh ke bawah.
Kotak kue tetap tertutup. Mawar putih tetap tergeletak di lantai. Panggilan dari Bagas masuk lagi, bergetar di telapak tangannya, memaksa dunia tetap bergerak ketika miliknya sudah berhenti.
Kelvin mematikan layar.
Gelap langsung menutup wajahnya.
Enam belas bulan sebelumnya, seorang cewek pindahan berjalan masuk ke Kelas XI-IPA 4 SMA Bina Bangsa.
Dia membawa tas rapi, wajah lembut, dan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Lalu Pak Arif menunjuk kursi kosong di sebelah cowok paling bermasalah di sekolah itu.
"Keiko, kamu duduk di sebelah Kelvin."
Bab 2 - Teman Sebangku Baru
"Keiko, kamu duduk di sebelah Kelvin."
Begitu suara Pak Arif jatuh, seluruh Kelas XI-IPA 4 mendadak sunyi.
Sunyi yang aneh. Bukan sunyi karena murid-murid patuh pada guru, melainkan sunyi karena semua orang serentak menahan napas. Beberapa kepala langsung menoleh ke barisan paling belakang, ke kursi dekat jendela yang sejak tadi tampak seperti wilayah terlarang.
Di sana, seorang cowok duduk menyamping dengan punggung bersandar ke dinding.
Seragam putih abu-abunya dipakai asal. Kemeja bagian atas tidak dikancingkan rapi, lengan dilipat sampai siku, dasi sekolah tergantung longgar seperti benda yang tidak ada gunanya. Di meja, sebuah buku terbuka menutupi sebagian wajahnya. Dari sela buku itu, Keiko hanya melihat rambut hitam yang sedikit berantakan dan rahang yang tajam.
Kelvin Susanto.
Nama itu sudah Keiko dengar sebelum masuk kelas.
Di ruang guru, saat Pak Arif membantunya mengurus berkas pindahan, dua murid yang lewat sempat berbisik dengan suara terlalu keras.
"Anak baru itu nanti sekelas sama Kelvin?"
"Kasihan. Baru pindah langsung duduk dekat bom waktu."
Pak Arif waktu itu hanya mengetuk meja dengan ujung pulpen, membuat dua murid itu buru-buru pergi. Namun bisikan mereka tertinggal di kepala Keiko, berdampingan dengan aroma kertas administrasi, obat di dalam tasnya, dan detak jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya.
Sekarang, semua mata menunggu reaksinya.
Keiko mengencangkan genggaman pada tali tas. Telapak tangannya agak dingin. Bukan karena takut pada cowok di belakang sana, melainkan karena terlalu banyak tatapan menempel di tubuhnya sekaligus.
Pak Arif menoleh padanya. Suara wali kelas itu dibuat ringan, tetapi matanya berhenti sebentar di wajah Keiko, seolah bertanya tanpa kata.
Kamu tidak apa-apa?
Keiko membalas dengan anggukan kecil.
"Iya, Pak."
Dia berjalan menyusuri lorong di antara meja.
Bisik-bisik langsung hidup lagi, pelan tapi rapat.
"Serius dia duduk situ?"
"Pak Arif tega banget."
"Kelvin bangun nggak, tuh?"
Keiko pura-pura tidak mendengar. Dia berhenti di samping kursi kosong. Meja itu bersih, berbeda dari yang dia bayangkan. Tidak ada coretan kasar, tidak ada bekas rokok, tidak ada benda aneh. Hanya ada satu buku tulis hitam, satu pulpen, dan sebuah buku Bahasa Inggris yang sudutnya kusut.
Cowok di sebelahnya masih tidak bergerak.
Keiko menunggu beberapa detik, lalu berkata pelan, "Permisi."
Buku yang menutupi wajah cowok itu turun sedikit.
Sepasang mata gelap terbuka.
Keiko akhirnya melihat Kelvin Susanto dengan jelas.
Matanya tajam, seperti orang yang terbiasa membuat orang lain mundur sebelum mereka sempat mendekat. Kulitnya agak pucat, hidungnya tinggi, bibirnya tipis dan hampir tidak punya lengkung. Tidak ada ekspresi ramah di wajahnya. Bahkan tidak ada rasa ingin tahu.
Dia menatap Keiko sebentar, lalu menatap kursi kosong di sebelahnya.
"Kamu yakin?" tanyanya.
Suaranya rendah. Datar. Tidak seperti ancaman, tapi juga jelas bukan sambutan.
Keiko berkedip. "Pak Arif yang menyuruh."
"Aku tanya kamu."
Beberapa murid di depan langsung pura-pura sibuk membuka buku, padahal telinga mereka jelas mengarah ke belakang.
Keiko menatap kursi kosong itu, lalu menatap Kelvin lagi. "Aku murid baru. Aku belum tahu tempat duduk lain."
Kelvin diam.
Keiko berpikir dia akan menyuruhnya pergi, atau setidaknya memasang wajah kesal seperti orang yang wilayahnya diganggu. Namun cowok itu hanya menarik kakinya yang tadi menghalangi sedikit jalan, lalu menyingkirkan buku hitamnya ke sisi meja sendiri.
Gerakannya kecil.
Tetapi cukup.
Keiko duduk.
Aroma sabun cuci seragam yang tipis bercampur dengan bau kertas lama dari buku di meja Kelvin. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi Keiko tetap bisa melihat luka kecil di buku-buku jari cowok itu, bekas merah yang tampak belum lama mengering.
Pak Arif berdeham di depan.
"Baik. Kita lanjutkan perkenalan singkat. Keiko pindahan dari Jakarta. Mulai hari ini dia resmi bergabung di Kelas XI-IPA 4. Tolong bantu dia menyesuaikan diri."
"Baik, Pak," jawab sekelas, tidak kompak.
Pak Arif menatap barisan belakang. "Kelvin."
Cowok itu mengangkat mata malas.
"Jangan bikin teman sebangkumu menyesal di hari pertama."
Kelas langsung menahan tawa.
Kelvin tidak ikut tertawa. Dia hanya menjawab, "Iya, Pak."
Keiko menoleh sedikit. Jawaban itu pendek, tetapi tidak melawan. Tidak sinis. Hanya seperti seseorang yang sudah terlalu sering dianggap salah sampai malas menjelaskan apa pun.
Bel pergantian jam berbunyi tidak lama setelah itu.
Pak Arif keluar, digantikan guru Bahasa Inggris yang membawa setumpuk kertas fotokopi. Suasana kelas berubah menjadi lebih ribut. Murid-murid membuka tas, menyeret kursi, saling meminjam pulpen. Keiko juga membuka tasnya, mencari buku paket yang tadi disebut dalam daftar pelajaran.
Tidak ada.
Dia baru ingat, bagian administrasi mengatakan semua buku paket akan diberikan setelah data pindahannya selesai masuk sistem. Hari ini dia hanya membawa buku catatan kosong, kotak pensil, dan map berisi berkas.
"Open your textbook, page forty-six," kata guru Bahasa Inggris dari depan.
Kertas-kertas berdesir.
Keiko menatap meja kosong di depannya.
Di sebelahnya, Kelvin melirik sekilas. Tidak mengatakan apa pun. Tangannya bergerak mendorong buku Bahasa Inggris kusut itu ke tengah meja.
Keiko menoleh.
Buku itu sekarang berada tepat di antara mereka.
"Pakai aja," kata Kelvin, masih menatap papan tulis.
"Kamu?"
"Aku bisa lihat."
Keiko mengikuti arah pandangnya. Dari posisi Kelvin, setengah halaman masih terlihat, tetapi jelas tidak nyaman. Apalagi tulisan di bukunya penuh coretan kecil dan beberapa bagian hampir lepas dari jilidan.
"Terima kasih," ucap Keiko.
Kelvin tidak menjawab.
Guru mulai membaca dialog contoh di halaman itu. Keiko menunduk, mencatat kata-kata penting dengan pulpen ungu muda. Dia terbiasa menulis rapi, menandai kalimat utama, membuat garis bawah kecil. Di sampingnya, Kelvin hanya menopang dagu, matanya tampak mengarah ke papan tulis, tetapi entah benar-benar memperhatikan atau tidak.
Setelah beberapa menit, guru Bahasa Inggris berjalan mengitari kelas.
Langkahnya berhenti di meja mereka.
"Kelvin."
Keiko mengangkat wajah.
Guru itu menatap meja Kelvin yang tampak tidak punya buku karena buku satu-satunya berada di sisi Keiko.
"Lagi-lagi tidak bawa buku?"
Beberapa murid tertawa kecil.
Keiko segera berkata, "Bu, ini sebenarnya buku Kelvin. Saya yang belum dapat buku, jadi dia..."
"Keiko, kamu baru pindah, tidak perlu membela dia." Guru itu memotong, suaranya tidak keras tapi dingin. "Kelvin, berdiri di luar. Kalau tidak niat belajar, jangan mengganggu murid lain."
Keiko terdiam.
Kelvin bahkan tidak terlihat terkejut.
Seolah kejadian ini terlalu biasa baginya.
Dia menarik buku dari tengah meja dan meletakkannya kembali di depan Keiko. "Lanjut baca."
"Tapi..."
Kelvin sudah berdiri.
Kursinya berderit pelan. Tingginya membuat bayangan jatuh sebentar di atas halaman buku Keiko. Saat melewati meja, dia berhenti setengah detik, cukup dekat sampai Keiko bisa mendengar napasnya.
"Nggak usah jelasin," katanya pelan.
Lalu dia berjalan keluar kelas.
Tidak membanting pintu. Tidak membantah guru. Tidak menatap murid-murid yang menertawakannya. Dia hanya keluar, lalu berdiri di koridor dengan satu tangan masuk ke saku celana.
Guru Bahasa Inggris melanjutkan pelajaran seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Keiko tidak lagi bisa fokus.
Di halaman empat puluh enam, dialog tentang memperkenalkan diri tiba-tiba terlihat buram. Pulpen ungu mudanya berhenti di tengah garis bawah. Dari jendela, dia bisa melihat sisi wajah Kelvin di luar kelas. Cowok itu menatap halaman sekolah, matanya kosong, punggungnya tegak seakan terbiasa berdiri sendirian di tempat hukuman.
Murid-murid bilang dia bom waktu.
Pembuat onar.
Anak yang tidak peduli pada siapa pun.
Tetapi buku yang sekarang terbuka di hadapan Keiko adalah miliknya.
Dan dia memilih dihukum daripada menarik kembali buku itu.
Keiko menunduk, menyentuh sudut halaman yang kusut dengan ujung jari.
Untuk pertama kalinya sejak masuk SMA Bina Bangsa, dia bertanya-tanya apakah rumor tentang Kelvin Susanto benar-benar sesederhana itu.
Bab 3 - Bukan Seperti Rumornya
Pertanyaan itu belum sempat menemukan jawaban sampai bel istirahat kedua berbunyi.
Guru Bahasa Inggris akhirnya memanggil Kelvin masuk lima menit sebelum pelajaran selesai. Cowok itu kembali ke kursinya dengan wajah yang sama seperti saat dia keluar. Tidak kesal. Tidak malu. Tidak merasa perlu membuktikan apa pun.
Keiko menggeser buku Bahasa Inggris ke arahnya. "Terima kasih untuk bukunya."
Kelvin melirik halaman yang sudah dipenuhi garis bawah ungu muda. Ada jeda pendek di matanya, seperti dia tidak terbiasa melihat bukunya diperlakukan serapi itu.
"Kamu selalu nyatet sebanyak ini?"
"Kalau materinya penting."
"Bahasa Inggris halaman perkenalan diri penting?"
Keiko menutup pulpen. "Untuk murid pindahan, iya."
Sudut bibir Kelvin bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, hanya retakan kecil pada wajah dinginnya. Namun retakan itu cepat hilang. Dia menarik buku ke mejanya sendiri, memasukkannya ke laci, lalu kembali menatap jendela.
Setelah bel berbunyi, kelas langsung pecah menjadi suara kursi dan langkah kaki. Seorang siswi berambut sebahu mendekati meja Keiko sambil membawa dompet kecil.
"Keiko, kan? Aku Anisa. Mau ke kantin bareng?"
Keiko berdiri sambil merapikan tas. Perutnya sejak tadi terasa kosong, tetapi bukan lapar. Ada rasa perih halus yang merambat dari ulu hati, tanda tubuhnya mulai mengingatkan bahwa pagi tadi dia hanya sanggup menelan dua sendok bubur.
"Terima kasih, tapi aku harus ke ruang tata usaha dulu. Ada berkas yang belum selesai."
"Oh." Anisa mengangguk. Matanya sempat melirik ke arah Kelvin, lalu kembali pada Keiko. Suaranya otomatis menjadi lebih pelan. "Kalau nanti butuh apa-apa, bilang aku aja. Jangan sungkan."
Keiko tersenyum. "Iya."
Setelah Anisa pergi, Keiko mengambil map dari tas. Di meja sebelah, Kelvin masih duduk, tidak ikut keluar bersama murid lain. Dari dekat, Keiko melihat luka di buku jarinya lebih jelas. Ada satu bagian kulit yang pecah, kemerahan.
Dia hampir bertanya.
Namun Kelvin lebih dulu mengangkat mata.
"Ruang tata usaha di gedung depan. Jangan lewat belakang."
Keiko berhenti. "Kenapa?"
"Ribet."
Jawabannya pendek, tidak menjelaskan apa pun.
Keiko menatapnya dua detik. "Terima kasih."
Kelvin tidak menanggapi.
Tentu saja, karena dia belum mengenal tata letak sekolah, Keiko tetap salah belok.
SMA Bina Bangsa lebih luas dari yang terlihat dari gerbang. Gedung kelas tersusun mengelilingi lapangan, dengan koridor yang saling terhubung seperti garis-garis pada buku kotak. Keiko mengikuti papan kecil bertuliskan `Administrasi`, tetapi setelah melewati kantin, papan itu menghilang. Dia berdiri di bawah pohon ketapang, menatap dua jalur yang sama-sama sepi.
Jalur kiri tampak menuju gedung olahraga.
Jalur kanan menuju area parkir motor.
Keiko memilih kiri karena terlihat lebih teduh.
Baru beberapa langkah, dia mendengar suara benda keras menghantam tembok.
Tubuhnya berhenti.
Lalu suara laki-laki mengumpat.
"Gila lu, Kel!"
Keiko seharusnya berbalik.
Itu pikiran pertama yang muncul di kepalanya. Dia murid baru. Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak punya urusan dengan perkelahian orang lain. Bu Tuti pasti akan memarahinya kalau tahu dia mendekati masalah di hari pertama sekolah.
Namun suara berikutnya membuat kakinya justru bergerak pelan ke arah sumber keributan.
"Udah gue bilang, jangan sok jago di sini."
Di belakang gedung olahraga, bayangan tiga siswa laki-laki tampak saling dorong di antara dinding dan pagar belakang. Satu siswa tersungkur di dekat tong sampah, memegangi bibirnya. Satu lagi mundur dengan wajah panik. Di tengah mereka, Kelvin berdiri dengan napas tidak teratur, kerah seragamnya tertarik miring, buku jarinya berdarah.
Matanya berbeda dari di kelas.
Tajam. Gelap. Berbahaya.
Siswa yang masih berdiri mengangkat tangan seperti ingin menyerang lagi. Kelvin bergerak lebih cepat. Dia mencengkeram kerah siswa itu, mendorongnya ke dinding, lalu berhenti tepat sebelum tinjunya benar-benar mengenai wajah lawannya.
"Minta maaf," kata Kelvin rendah.
"Sama siapa?"
"Kamu tahu."
Siswa itu menelan ludah. Wajahnya memerah, antara marah dan takut. "Gue cuma bercanda."
"Lucu?"
Keiko tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia hanya tahu suara Kelvin saat itu membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
"Kelvin!"
Suara berat dari ujung koridor memotong semuanya.
Pak Herman, kepala kedisiplinan sekolah, datang bersama seorang satpam. Wajahnya langsung mengeras ketika melihat Kelvin mencengkeram kerah siswa lain.
"Lepas!"
Kelvin melepaskan tangannya.
Siswa yang tadi tersungkur langsung berdiri terpincang-pincang. "Pak, dia duluan yang mukul!"
"Iya, Pak!" temannya menyahut cepat. "Kami cuma lewat. Tiba-tiba dia nyerang."
Kelvin tidak membantah.
Dia hanya berdiri di sana, buku jari berdarah, kerah berantakan, wajah tanpa ekspresi. Sikap diamnya membuat cerita dua siswa itu terdengar lebih mudah dipercaya.
Pak Herman menatapnya dengan kecewa yang sudah terlalu siap. "Kelvin Susanto. Hari pertama semester ini saja kamu sudah buat masalah lagi?"
Keiko meremas map di tangannya.
Dia tidak tahu kejadian lengkapnya. Dia tidak tahu siapa benar, siapa salah. Tapi dia tahu satu hal: sebelum Pak Herman datang, Kelvin sedang memaksa seseorang meminta maaf. Bukan tertawa. Bukan menikmati perkelahian.
"Pak."
Semua orang menoleh.
Keiko baru sadar suaranya keluar.
Pak Herman mengerutkan kening. "Kamu siapa?"
"Keiko Hartono. Murid pindahan di XI-IPA 4." Keiko menunduk sopan, lalu mengangkat wajah lagi. "Maaf, Pak. Saya tadi tersesat mencari ruang tata usaha."
"Lalu?"
Keiko menelan rasa perih di perutnya. "Saya tidak melihat dari awal. Tapi waktu saya sampai, saya dengar Kelvin menyuruh mereka minta maaf. Bukan memukul tanpa alasan."
Salah satu siswa langsung berseru, "Dia bohong, Pak!"
Kelvin menatap Keiko.
Untuk pertama kalinya, wajah dinginnya benar-benar berubah. Ada sesuatu seperti keheranan di matanya, tipis tapi nyata.
Pak Herman menatap Keiko lama. "Kamu yakin dengan yang kamu dengar?"
Keiko mengangguk. "Iya, Pak."
Rasa sakit di perutnya menusuk lebih dalam. Dia menekan map ke depan tubuhnya, menyembunyikan tangan yang mulai gemetar.
Pak Herman menghela napas. "Semua ikut saya ke ruang BK. Satpam, tolong panggil wali kelas mereka."
Dua siswa itu langsung protes, tetapi Pak Herman tidak mendengar. Kelvin tetap diam. Saat berjalan melewati Keiko, dia berhenti sebentar.
"Nona Murid," katanya pelan.
Keiko menoleh.
Kelvin menatap map yang diremasnya, lalu wajahnya. "Cukup berani juga."
Keiko tidak sempat menjawab karena Pak Herman sudah memanggilnya. Dia hanya melihat Kelvin berjalan menyusul yang lain, punggungnya tegak seperti saat berdiri di luar kelas tadi.
Sore itu, Keiko akhirnya menemukan ruang tata usaha setelah diantar Anisa.
Pak Arif juga sempat memanggilnya, bertanya dengan suara rendah apakah dia baik-baik saja. Keiko menjawab seperti biasa.
"Iya, Pak. Saya baik-baik saja."
Pak Arif menatapnya lebih lama dari guru lain. Lalu beliau hanya berkata, "Kalau lelah, langsung bilang."
Keiko mengangguk.
Dia pulang sebelum jam tambahan dimulai. Bu Tuti menjemputnya dengan wajah khawatir, membawa botol air hangat dan jaket tipis meskipun udara Bandung tidak terlalu dingin.
"Hari pertama capek, Nduk?"
Keiko tersenyum sambil masuk ke mobil. "Sedikit."
"Makan bubur nanti, ya. Jangan cuma dua sendok."
"Iya."
Malamnya, rumah keluarga Hartono terasa terlalu besar untuk dua orang yang benar-benar peduli satu sama lain.
Papa dan Mama belum pulang. Oma Tan tidak ada di Bandung. Hanya Bu Tuti yang mondar-mandir di dapur, memastikan bubur ayamnya cukup halus dan tidak terlalu berminyak.
Keiko duduk di kamar dengan lampu meja menyala kecil. Seragamnya sudah diganti piyama ungu muda. Di hadapannya, ada botol obat berwarna putih, strip tablet, segelas air hangat, dan map sekolah yang masih sedikit kusut karena terlalu kuat dia remas siang tadi.
Dia membuka tutup botol.
Satu tablet.
Dua.
Lalu obat anti mual yang harus diminum sebelum tidur.
Jari Keiko berhenti sebentar di atas meja. Di buku jarinya sendiri tidak ada luka seperti Kelvin. Hanya urat tipis yang terlihat lebih jelas dari seharusnya.
Di sekolah, semua orang mengira Kelvin Susanto adalah orang paling berbahaya di kelas.
Tidak ada yang tahu bahwa di bangku sebelahnya, ada seseorang yang membawa bahaya jauh lebih sunyi di dalam tubuhnya sendiri.
Keiko menelan obat satu per satu.
Rasa pahit menyebar di lidah. Air hangat tidak benar-benar menghilangkannya. Dia mematikan lampu meja, berbaring telentang, lalu menatap langit-langit kamar yang redup.
Dokter bilang paling lama tiga tahun.
Itu April tahun lalu.
Sekarang sudah tahun kedua.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!