Indonesia
NovelToon NovelToon

Dua Bulan Saja, Sayang

Episode 1

Bab 1: Apakah Orang Jahat Boleh Dicintai?

Bau hujan yang basah bercampur dengan dingin AC minimarket, membuat lantai di dekat pintu kaca terasa licin dan lengket. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, putih pucat, menimpa wajah Naomi Liem yang sudah dua kali menahan kantuk di balik meja kasir.

Di luar, hujan turun seperti seseorang sedang menuangkan ember dari langit.

Universitas Nusantara biasanya ramai sampai malam, apalagi saat awal semester. Tapi malam ini, hanya beberapa mahasiswa yang nekat menembus hujan untuk membeli mi instan, kopi sachet, atau payung plastik yang harganya naik dua kali lipat karena stok tinggal sedikit.

Naomi merapikan tumpukan struk di samping mesin kasir. Jari-jarinya agak kaku karena terlalu lama terkena udara dingin. Seragam minimarket yang ia pakai masih menyimpan bau deterjen murah dari kos, bercampur sedikit aroma gorengan yang tadi ia makan diam-diam di gudang.

Perutnya belum benar-benar kenyang.

Tapi shift malam memberi tambahan upah.

Tambahan upah berarti satu hari lagi ia bisa menunda pesan dari pinjol yang selalu datang dengan kalimat sopan tapi terasa seperti tangan yang mencengkeram leher.

Pintu kaca bergeser terbuka.

Dua mahasiswi masuk sambil tertawa tertahan. Sepatu mereka basah, payung mereka ditutup sembarangan di dekat rak promo. Salah satunya langsung berjalan ke bagian minuman, sementara yang satu lagi menunduk menatap layar ponsel.

"Lo udah dengar belum? Celine katanya beneran ninggalin Kelvin."

Tangan Naomi yang sedang menata permen di dekat kasir berhenti sebentar.

Nama itu jatuh begitu saja di tengah dengung lampu neon.

Kelvin.

Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras.

"Celine Tanuwijaya?" tanya temannya. "Serius? Bukannya mereka dijodohin keluarga?"

"Perjodohan doang. Katanya Celine mau ke luar negeri. Lagian Kelvin Hartono mana pernah kelihatan sayang sama orang? Mantan-mantannya aja katanya kaya mendadak setelah putus."

Yang satu tertawa kecil. "Ya ampun, putus sama dia dapat pesangon? Kalau gitu aku juga mau."

"Jangan gila. Dia itu serem. Orang ganteng, kaya, tapi matanya kayak nggak punya hati."

Naomi menunduk, pura-pura sibuk menghitung uang kembalian di laci kasir.

Matanya seperti nggak punya hati.

Kalimat itu terlalu mudah masuk ke kepalanya, karena Naomi pernah melihat mata itu dari dekat. Bukan benar-benar dekat, sebenarnya. Hanya beberapa meter. Hanya dari balik tirai hujan. Hanya pada satu sore di masa SMA yang sampai sekarang masih sering datang ke mimpinya.

Hujan. Gerbang sekolah. Jalanan becek di depan warung nasi bungkus kecil milik Mama Rosa.

Naomi yang dulu masih memakai seragam putih abu-abu berdiri di bawah atap warung, menggenggam bungkusan nasi yang sudah dingin. Badannya terasa berat karena obat yang harus ia minum setiap hari. Napasnya mudah pendek. Rambutnya lepek. Seragamnya terlalu ketat di lengan.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti.

Seorang anak laki-laki duduk di kursi belakang. Kaca mobil turun sedikit. Wajahnya tampak samar di balik hujan, tapi Naomi ingat garis rahangnya, cara matanya menatap keluar, dingin dan tidak terburu-buru.

Di dekat pos satpam, dua orang berbadan besar sedang mengurus seorang pria yang berteriak-teriak soal utang. Mereka tidak memukulnya di depan umum, tapi cara mereka memegang lengan pria itu cukup membuat semua orang tahu bahwa perlawanan tidak akan berguna.

Anak laki-laki di mobil itu hanya melihat.

Tidak marah.

Tidak takut.

Tidak kasihan.

Kelvin Hartono, kata murid-murid lain waktu itu. Anak dari keluarga Hartono. Orang seperti dia tidak perlu berlari menghindari hujan. Hujan yang akan dibukakan jalannya.

Naomi masih ingat bagaimana ia diam-diam bertanya pada dirinya sendiri malam itu.

Kalau seseorang terlihat begitu jahat, kenapa jantungnya tetap berdebar saat melihatnya?

"Mbak."

Naomi tersentak.

Salah satu mahasiswi tadi sudah berdiri di depan kasir dengan dua botol teh dan sebungkus tisu basah. Naomi cepat-cepat memindai barcode.

"Dua puluh tujuh ribu lima ratus," ucapnya.

Mahasiswi itu membayar dengan QRIS sambil masih berbicara pada temannya. "Tapi kalau dipikir-pikir, Kelvin itu cocok sih jadi tokoh novel. Bad boy konglomerat, dingin, terus nanti luluh sama cewek biasa."

"Cewek biasa yang mana dulu? Yang biasa tapi cantik, bukan yang biasa banget."

Mereka tertawa lagi.

Naomi menempelkan struk pada kantong plastik, lalu menyerahkannya dengan kedua tangan. "Terima kasih."

Mereka pergi tanpa benar-benar melihat wajahnya.

Itu tidak apa-apa. Naomi sudah terbiasa tidak dilihat.

Pintu kaca tertutup. Hujan kembali menjadi suara paling keras di ruangan kecil itu. Naomi menarik napas pelan, lalu merapikan rak cokelat yang sebenarnya sudah rapi.

Kelvin Hartono.

Ia pikir nama itu akan tetap tinggal di masa SMA, terkunci bersama seragam lama, foto-foto yang tidak ingin ia lihat lagi, dan suara tawa orang-orang yang memanggilnya dengan julukan yang membuat perutnya mual.

Ternyata tidak.

Nama itu masuk ke universitasnya, masuk ke tempat kerjanya, masuk ke malam hujan yang harusnya biasa saja.

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas. Shift-nya masih tersisa empat puluh lima menit. Setelah ini ia harus mengepel lantai, menghitung stok rokok elektrik, lalu pulang ke kos di Tebet dengan jaket tipis yang tidak pernah cukup menahan angin malam.

Naomi menekan telapak tangannya ke perut.

Lapar bisa ditahan.

Kantuk bisa ditahan.

Mengingat Kelvin Hartono, ternyata tidak semudah itu.

Pintu kaca kembali bergeser.

Angin basah masuk lebih dulu, membawa aroma aspal dan hujan. Naomi otomatis mengangkat kepala, siap mengucapkan salam toko yang sudah ia hafal.

"Selamat datang di..."

Kalimatnya berhenti di tengah jalan.

Seorang laki-laki masuk sambil menutup payung hitam. Jaket gelapnya sedikit basah di bahu, rambutnya terkena titik hujan, tapi ia tampak seolah cuaca buruk hanya sesuatu yang terjadi pada orang lain. Di belakangnya, Danny Setiawan masuk sambil menggerutu karena sepatunya kebasahan.

"Kel, gue bilang tadi parkir dekat sini aja, lo malah sok drama jalan kaki," kata Danny.

Laki-laki itu tidak menjawab.

Naomi tahu wajah itu bahkan sebelum otaknya sempat menerima kenyataan.

Kelvin Hartono berjalan ke rak minuman dingin.

Minimarket yang tadi terasa sempit mendadak seperti kehilangan udara.

Naomi menunduk terlalu cepat. Jantungnya memukul rusuk, keras sekali sampai ia takut suara itu bisa terdengar. Tangannya mencari-cari kesibukan, tapi mesin kasir tidak perlu disentuh dan rak permen sudah rapi.

Pintu kulkas terbuka. Ada bunyi kaleng saling beradu.

Es kola.

Tentu saja.

Di masa SMA, Naomi pernah melihatnya memegang minuman yang sama. Kaleng merah dingin di antara jari panjangnya, tetesan air turun ke pergelangan tangan, sementara dunia di sekitarnya seperti tidak berani mengganggu.

"Mbak, bayar," ujar Danny lebih dulu, menaruh sebungkus permen karet di meja kasir.

Naomi mengangguk. "Baik."

Suaranya terlalu pelan.

Lalu Kelvin meletakkan satu kaleng es kola di depan mesin pemindai.

Jarak tangan mereka hanya beberapa sentimeter.

Kaleng itu dingin. Dingin yang langsung merambat ke meja kaca, menyisakan lingkaran air di bawahnya. Naomi memindai barcode dengan gerakan kaku.

"Delapan belas ribu," katanya.

Kelvin mengeluarkan kartu dari dompet tipis. Tidak ada logo mencolok, tidak ada gerakan pamer. Justru karena terlalu biasa, semuanya terasa semakin jauh. Naomi menerima kartu itu dengan hati-hati, seolah benda kecil itu bisa membakar jarinya.

Saat ia mengembalikan kartu, Kelvin menatapnya.

Hanya satu detik.

Mungkin kurang.

Tapi cukup untuk membuat dunia Naomi kehilangan suara. Dengung neon, hujan, keluhan Danny, semua mundur ke belakang.

Mata itu masih sama.

Tenang. Dingin. Seperti tidak menyisakan ruang untuk siapa pun masuk.

Namun kali ini, mata itu melihatnya.

Benar-benar melihatnya.

"Terima kasih," ucap Naomi, hampir berbisik.

Kelvin menerima kartu itu. Ujung jarinya menyentuh sisi jari Naomi, ringan sekali, mungkin tidak sengaja.

Naomi menahan napas.

"Kel, ayo. Hujannya makin gila," kata Danny dari dekat pintu.

Kelvin menarik kaleng es kola dari meja. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan jejak air kecil di lantai yang baru saja Naomi pel.

Pintu kaca bergeser tertutup.

Naomi tetap berdiri di belakang kasir, tangannya masih menggantung di udara.

Di luar, hujan menghantam kaca semakin keras.

Di atas meja, lingkaran air bekas kaleng es kola perlahan melebar. Naomi menatapnya seperti menatap sesuatu yang tidak seharusnya ia simpan, tapi tidak sanggup ia hapus.

Ujung jarinya masih dingin.

Seolah sisa suhu dari kaleng itu, atau mungkin dari sentuhan Kelvin Hartono, tertinggal lebih lama dari yang seharusnya.

Episode 2

Bab 2: Tanpa Hati

Naomi baru menurunkan tangannya ketika pintu kaca minimarket sudah benar-benar berhenti bergetar. Di luar, punggung Kelvin Hartono dan Danny Setiawan menghilang di balik tirai hujan, tertelan lampu parkiran kampus yang buram.

Lingkaran air bekas kaleng es kola masih tertinggal di meja kasir.

Naomi mengambil tisu, hendak menghapusnya, tapi gerakannya berhenti setengah jalan. Konyol sekali. Itu hanya air dari kaleng minuman. Besok pagi meja yang sama akan ditempati kopi sachet, roti tawar, atau struk belanja mahasiswa lain.

Tetap saja, ia butuh dua detik lebih lama sebelum akhirnya mengelapnya bersih.

"Mbak kasir."

Naomi hampir menjatuhkan tisu.

Danny ternyata kembali masuk. Rambutnya basah di bagian depan, dan ia membawa ekspresi orang yang merasa hidupnya tidak seharusnya direpotkan hujan.

"Payung gue ketinggalan?" tanyanya sambil melirik ke sekitar.

Naomi cepat-cepat melihat area dekat pintu. "Tidak ada, Kak."

"Jangan panggil Kak. Berasa tua banget." Danny mencondongkan tubuh ke meja kasir, tersenyum ramah dengan cara yang terlalu mudah. "Nama lo siapa?"

Naomi menatap name tag di dadanya sendiri, lalu kembali menatap Danny.

Danny ikut melihat. "Oh. Naomi."

Ia menyebut nama itu seolah sedang mencoba apakah bunyinya enak di lidah.

Naomi menjaga suaranya tetap sopan. "Kalau tidak ada yang tertinggal, saya lanjut kerja dulu."

Danny terkekeh. "Galak juga."

"Saya sedang shift."

"Oke, oke. Santai." Danny mengangkat dua tangan. "Gue cuma mau bilang, kalau ada barang jatuh atau apa dari teman gue tadi, kabarin ya. Anak itu kalau hilang barang suka nggak sadar."

Naomi tidak tahu harus menjawab apa. Kelvin Hartono terlihat seperti orang yang bahkan kalau kehilangan sesuatu, dunia yang akan repot mencarinya.

"Baik," ucapnya akhirnya.

Danny menatapnya sebentar, lalu tersenyum lagi. Kali ini lebih usil. "Tapi kalau mau kabarin, harus tahu nomor gue dulu, kan?"

Naomi diam.

Pintu kaca di belakang Danny terbuka sedikit, cukup untuk memasukkan suara Kelvin dari luar.

"Danny."

Satu kata saja.

Danny langsung menoleh. "Iya, iya. Galak amat." Ia mundur dari kasir, lalu sempat menunjuk Naomi dengan dua jari. "Sampai ketemu, Naomi."

Naomi menunduk sedikit, tidak membalas.

Setelah Danny pergi, minimarket terasa terlalu sunyi. Hujan terus turun. Jam mendekati pukul sebelas, dan Naomi memaksa dirinya menyelesaikan pekerjaan penutupan toko. Ia mengepel jejak basah di lantai, menghitung uang kas, lalu membantu staf gudang memeriksa stok susu kotak.

Saat dua mahasiswi yang tadi bergosip kembali untuk mengambil payung, salah satunya tiba-tiba membungkuk di dekat rak cokelat.

"Eh, ini punya siapa?"

Naomi menoleh.

Di tangan gadis itu tergantung sebuah gantungan kecil dari kayu. Bentuknya burung, ukirannya sederhana tapi halus. Sayapnya tidak simetris sempurna, seperti dibuat dengan tangan, bukan mesin.

Jantung Naomi kembali berdebar, kali ini dengan rasa yang berbeda.

Ia pernah melihat benda itu.

Bukan dari dekat. Hanya saat Celine Tanuwijaya berjalan melewati koridor fakultas ekonomi beberapa hari lalu, tas mahalnya bergoyang pelan, dan gantungan burung kecil itu ikut bergerak di samping logo kulit yang bahkan tidak berani Naomi cari harganya di internet.

"Mungkin punya pelanggan," kata Naomi.

Mahasiswi itu memutar-mutar gantungan itu. "Lucu juga. Burung apa ini?"

"Tinggalkan saja di kasir. Nanti kalau ada yang mencari, saya kembalikan."

"Kalau nggak ada yang cari?"

Naomi menahan dorongan untuk merebut benda itu terlalu cepat. "Masuk kotak barang tertinggal."

Gadis itu mengangkat bahu, lalu meletakkan gantungan burung ukir kayu itu di atas meja.

Sepanjang sisa shift, mata Naomi terlalu sering jatuh ke benda kecil tersebut.

Kayunya berwarna cokelat tua, permukaannya licin di beberapa bagian, kasar di bagian lain. Di salah satu sayapnya ada goresan tipis, hampir tidak terlihat. Benda itu tidak tampak seperti aksesori mahal. Tidak seperti sesuatu yang seharusnya digantung di tas Celine Tanuwijaya.

Tapi justru karena itu, Naomi tidak bisa berhenti memikirkannya.

***

Tiga hari berlalu.

Tidak ada yang mencari gantungan burung itu.

Naomi membawanya pulang setelah mendapat izin dari staf senior untuk menyimpan sementara, karena kotak barang tertinggal minimarket sering dibongkar orang iseng. Di kamar kosnya yang sempit di Tebet, benda kecil itu ia letakkan di atas meja lipat, di sebelah kamus Jerman bekas dan botol air minum isi ulang.

Setiap kali melihatnya, Naomi teringat Kelvin.

Lalu teringat Celine.

Lalu teringat dirinya sendiri, yang tidak seharusnya ada di antara dua nama itu.

Malam keempat, setelah menyelesaikan terjemahan artikel pendek tentang mesin industri Jerman dan mengirimkannya ke klien yang selalu membayar terlambat, Naomi membuka akun menfess kampus. Jarang sekali ia mengirim apa pun. Ia lebih sering membaca diam-diam, memastikan tidak ada nama atau fotonya muncul di sana.

Jarinya lama berhenti di kolom pesan.

Akhirnya ia mengetik:

"Min, tolong post anon. Ada barang kecil tertinggal di minimarket kampus waktu hujan beberapa hari lalu. Sepertinya milik teman Daniel Setiawan. Kalau Daniel baca ini, bisa DM untuk ambil barangnya."

Ia membaca ulang tiga kali sebelum mengirim.

Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar.

Akun bernama Danny S. mengirim pesan.

"Lo Naomi minimarket itu, kan?"

Naomi duduk lebih tegak.

"Iya. Barangnya masih ada."

Balasan Danny datang cepat.

"Gantungan burung gendut?"

Naomi menatap benda di mejanya.

Burung itu memang agak bulat.

"Gantungan burung ukir kayu."

"Nah itu. Kirim alamat atau gue kirim kurir?"

Naomi mengetik bahwa ia bisa mengantarnya ke kampus saja, tapi sebelum terkirim, Danny sudah mengirim lokasi.

Supercar Club Jakarta.

Naomi memandangi alamat di SCBD itu cukup lama sampai layar ponselnya meredup.

Tempat seperti itu bukan tempat yang bisa ia datangi dengan sandal jepit dan tote bag kain.

"Saya antar besok sore setelah kelas."

Danny membalas dengan stiker jempol.

Lalu, beberapa detik kemudian, notifikasi transfer masuk muncul.

Rp2.000.000.

Naomi membeku.

Nama pengirim: Daniel Setiawan.

Pesan singkat menyusul.

"Ongkos repot. Jangan ditolak. Gue males transfer dua kali."

Naomi membaca angka itu berkali-kali.

Dua juta rupiah.

Lebih dari setengah gaji minimarket bulanannya. Hampir cukup untuk menutup cicilan pinjol yang besok sudah jatuh tempo. Bagi Danny, itu mungkin hanya uang parkir, uang rokok, uang yang keluar tanpa perlu dihitung.

Bagi Naomi, angka itu bisa membuatnya tidur tanpa takut ponsel berdering tengah malam.

Ia ingin mengembalikan. Ia benar-benar ingin.

Tapi notifikasi pinjol muncul di layar yang sama, tepat di bawah pesan Danny.

"Pembayaran Anda jatuh tempo besok. Hindari penagihan ke kontak darurat."

Naomi menekan ponselnya ke dada.

Rasanya seperti menerima payung dari orang yang berdiri di bawah atap marmer, sementara ia basah kuyup di jalan.

***

Di lantai atas Supercar Club Jakarta, Danny melempar ponselnya ke sofa kulit dan tertawa sendiri.

"Kel, gantungan burung gendut lo ketemu."

Kelvin duduk di dekat jendela besar, memandangi lampu SCBD yang pecah di kaca karena sisa hujan. Di tangannya ada kaleng es kola yang belum dibuka.

"Hm."

"Cuma hm?" Danny menatapnya tidak percaya. "Itu katanya barang dari Celine. Kalau hilang, keluarga Tanuwijaya bisa drama."

Kelvin membuka kaleng minumannya. Bunyi desisnya pendek.

"Kalau hilang, beli lagi."

Danny memicingkan mata. "Lo memang nggak punya hati, ya?"

Kelvin meneguk es kola, lalu meletakkan kaleng di meja tanpa suara.

"Baru tahu?"

Danny menggeleng sambil tertawa. Tapi Kelvin tidak ikut tertawa.

Di kamar kos Tebet, Naomi masih menatap angka dua juta di layar ponselnya.

Untuk pertama kalinya sejak malam hujan itu, ia benar-benar mengerti jarak antara dirinya dan Kelvin Hartono.

Bukan jarak kampus ke SCBD.

Melainkan jarak antara seseorang yang bisa berkata "beli lagi", dan seseorang yang harus menghitung napas sebelum memakai uang yang jatuh ke rekeningnya.

Episode 3

Bab 3: Gaun di Dasar Lemari

Naomi tidak langsung tidur malam itu.

Angka dua juta di rekeningnya membuat kamar kos yang sempit terasa lebih terang daripada biasanya. Bukan karena lampu di langit-langit mendadak baik hati. Lampu itu tetap berkedip setiap beberapa menit, seolah sedang menghitung kapan ia akan mati total. Tapi ponsel di tangan Naomi menyala terus, menampilkan saldo yang tidak pernah sebesar itu sejak awal semester.

Di meja lipat, gantungan burung ukir kayu tergeletak diam.

Besok sore ia harus membawanya ke Supercar Club Jakarta.

SCBD.

Naomi memejamkan mata sebentar. Nama daerah itu saja sudah terdengar mahal. Seperti lift kaca, lantai marmer, parfum asing, dan orang-orang yang tidak pernah membuka aplikasi pinjol sambil menahan napas.

Pintu kamarnya diketuk keras.

"Naomi! Listrik kamu jangan pakai buat masak air terus, ya. Meteran naik terus!" suara Ibu kos terdengar dari luar.

Naomi cepat-cepat berdiri. "Iya, Bu. Maaf. Saya tidak masak air, cuma charger laptop."

"Sama saja. Anak kos lain juga pakai listrik. Jangan mentang-mentang kuliah di kampus bagus terus seenaknya."

Naomi menatap pintu tripleks yang catnya mengelupas. Ia bisa saja menjawab bahwa ia selalu membayar tepat waktu, bahwa kipas anginnya bahkan sudah mati dua minggu lalu, bahwa charger laptopnya ia cabut setiap kali tidak dipakai.

Tapi perdebatan dengan Ibu kos selalu berakhir dengan satu kalimat.

Kalau tidak suka, pindah saja.

Jadi Naomi hanya menjawab pelan, "Iya, Bu."

Langkah Ibu kos menjauh. Naomi duduk lagi di lantai, membuka kotak makan plastik dari minimarket. Isinya nasi sisa yang tadi hampir dibuang karena bungkusnya penyok, ditambah telur rebus promo yang sudah lewat satu jam dari batas display. Ia makan perlahan sambil membuka laptop.

Dokumen terjemahan Jerman menunggu.

"Sicherheitsvorschriften fuer Industriemaschinen."

Naomi mengetik terjemahan dengan mata yang mulai berat. Upahnya kecil, tapi klien ini membayar berdasarkan halaman. Kalau malam ini ia bisa menyelesaikan lima halaman, besok ia tidak perlu memakai uang Danny untuk ongkos Grab. Ia bisa naik TransJakarta sampai dekat SCBD, lalu jalan kaki sedikit.

Ponselnya bergetar.

"Tagihan Anda jatuh tempo besok."

Naomi mengunyah nasi yang sudah dingin sampai terasa seperti kertas di lidah.

Ia menekan tombol bayar.

Sebagian dari dua juta itu langsung pergi.

Saldo yang tersisa masih terlihat besar, tapi dadanya justru terasa kosong. Uang yang bagi Danny bisa dikirim sambil bercanda, baginya lenyap hanya untuk membuat penagih berhenti sehari lebih lama.

Matanya jatuh ke gantungan burung di meja.

"Aku cuma mengembalikan barang," bisiknya pada diri sendiri.

Bukan menemui Kelvin.

Bukan ingin dilihat olehnya.

Bukan karena sejak malam hujan itu, ia tidur dengan ujung jari yang masih mengingat dingin kaleng es kola.

Naomi menutup laptop menjelang pukul dua pagi. Saat hendak mengambil baju tidur dari lemari plastik, tangannya menyentuh sesuatu di dasar laci.

Sebuah gaun.

Warnanya biru gelap, sederhana, dibeli dua tahun lalu dari hasil menang lomba esai bahasa Jerman. Waktu itu Naomi membelinya bukan karena butuh, melainkan karena untuk pertama kalinya ia ingin memiliki sesuatu yang cantik tanpa alasan praktis.

Ia mengangkat gaun itu, menempelkannya ke tubuh di depan cermin kecil yang retak di sudut.

Wajah di cermin tampak pucat karena kurang tidur. Rambutnya diikat asal. Bahunya kurus, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang terlalu mudah terbaca.

Harapan.

Naomi langsung menurunkan gaun itu.

Tidak boleh.

Kalau ia berdandan, ia akan terlihat seperti sedang berharap. Kalau ia berharap, ia akan lupa bahwa ia datang hanya untuk mengembalikan barang milik orang lain. Orang seperti Kelvin Hartono mungkin tidak akan ingat wajah kasir minimarket, tapi Naomi akan mengingat tatapan itu terlalu lama.

Akhirnya gaun itu ia lipat kembali, dimasukkan ke dasar lemari.

Besok ia akan memakai kemeja putih yang sudah disetrika rapi dan celana kain hitam. Sederhana. Aman. Tidak memalukan, tapi juga tidak seperti sedang bermimpi.

***

Sore berikutnya, hujan sudah berhenti, menyisakan udara Jakarta yang lembap dan bau knalpot di jalan besar.

Naomi turun dari TransJakarta dengan tote bag kain di bahu. Di dalamnya, gantungan burung ukir kayu dibungkus tisu dan plastik kecil. Ia berjalan melewati gedung-gedung tinggi yang kacanya memantulkan langit kelabu.

Semakin dekat ke alamat yang dikirim Danny, langkahnya semakin pelan.

Supercar Club Jakarta tidak memiliki papan nama mencolok. Hanya fasad gelap, pintu tinggi, dan dua security yang berdiri dengan jas hitam. Di depan gedung, mobil-mobil rendah dengan warna mengilap berjajar seperti hewan mahal yang sedang tidur.

Naomi menahan tote bag-nya lebih erat.

"Ada keperluan, Mbak?" tanya salah satu security.

Suaranya sopan, tapi matanya turun sebentar ke sepatu Naomi yang sudah mulai kusam.

"Saya mau mengembalikan barang. Untuk Daniel Setiawan."

Security itu saling pandang. Salah satunya bicara lewat earpiece. Beberapa menit kemudian, seorang staf pria berpakaian rapi keluar dari dalam.

"Ibu Naomi?"

Naomi hampir menoleh untuk mencari siapa yang dipanggil. Tidak ada yang pernah memanggilnya Ibu dengan nada seformal itu.

"Iya, saya."

Staf itu menatapnya dari kepala sampai ujung kaki. Senyumnya tetap ada, tapi lebih seperti garis wajib di wajah. "Silakan ikut saya."

Di dalam, udara dingin langsung menyergap. Aroma kulit mahal, kopi, dan parfum maskulin memenuhi lobi. Lantai marmer begitu bersih sampai Naomi takut meninggalkan bekas debu dari sepatunya.

Saat mereka melewati kaca besar di dekat lift, Naomi sempat melihat pantulan dirinya.

Kemeja putihnya tidak salah.

Celana hitamnya juga tidak salah.

Tapi di tempat itu, benar saja, ia tetap tampak seperti seseorang yang salah alamat.

Staf pria itu awalnya berjalan setengah langkah di depan tanpa banyak bicara. Namun ketika lift berhenti di lantai atas dan Naomi mengangkat wajah untuk melihat nomor ruangan, ekspresinya berubah sebentar.

Matanya berhenti di wajah Naomi.

Bukan dengan tatapan merendahkan seperti tadi. Lebih seperti terkejut karena baru sadar bahwa gadis dengan tote bag murah ini memiliki wajah yang tidak sesuai dengan sepatu kusamnya.

Naomi pura-pura tidak melihat.

Ia sudah terlalu sering dinilai dari hal-hal yang tidak ia pilih. Dulu karena tubuhnya. Sekarang karena perubahan yang membuat orang-orang bingung harus menempatkannya di rak mana.

Pintu VIP area terbuka.

Danny sedang duduk di sofa bersama beberapa orang yang tidak Naomi kenal. Ia langsung melambaikan tangan.

"Naomi! Sini."

Naomi melangkah masuk, tapi kata-katanya hilang ketika melihat orang yang duduk di dekat jendela.

Kelvin Hartono.

Hari ini ia memakai kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Di meja depannya ada kaleng es kola yang sudah terbuka. Cahaya sore dari kaca besar menempel di sisi wajahnya, membuat ekspresinya tampak lebih dingin daripada malam di minimarket.

Naomi merasa tote bag di bahunya mendadak terlalu berat.

Ia mengambil plastik kecil dari dalam tas, lalu menyerahkannya pada Danny. "Ini barangnya."

Danny menerima, membuka tisu, lalu mengangkat gantungan burung itu dengan dua jari. "Nah, burung gendut balik juga."

Kelvin melirik sekilas.

Hanya sekilas.

Seolah benda itu memang tidak berarti apa-apa.

Naomi menunduk. "Kalau begitu, saya permisi."

"Tunggu."

Suara Kelvin membuat langkahnya berhenti.

Naomi mengangkat kepala perlahan.

Kelvin sudah berdiri. Tingginya membuat jarak beberapa meter di antara mereka terasa lebih sempit.

Ia mengambil gantungan burung dari tangan Danny, melihatnya sebentar, lalu menaruhnya di meja tanpa ekspresi. Setelah itu, matanya kembali pada Naomi.

"Duduk sebentar?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!