Bab 001
Aku pernah mati di hari ketika hujan tidak berhenti sejak pagi.
Saat itu, Jakarta terlihat seperti kota yang menolak membersihkan darahku. Lampu-lampu mobil pecah di atas aspal basah. Bau bensin, bau besi, dan bau obat dari ambulans bercampur menjadi satu. Aku terbaring di pinggir jalan dengan gaun yang robek di bagian lutut, sementara ponselku bergetar tanpa henti di dekat telapak tangan.
Nama di layar itu bukan Papa.
Bukan Mama.
Bukan siapa pun yang akan menangis untukku.
Lo Hafeng.
Aku masih ingat bagaimana suaranya terdengar di ujung panggilan yang akhirnya tersambung. Dingin. Jauh. Seperti seluruh hidupku hanya kesalahan kecil yang tidak sempat dia hapus dari daftar.
"Lim Meiran, berhenti membuat masalah."
Kalimat itu menjadi suara terakhir yang kudengar sebelum dunia gelap.
Lalu sekarang, suara yang sama menghantamku sekali lagi.
"Minggir."
Bahu Lim Meiran terbentur keras. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, buku catatan di pelukannya terlepas, lembar-lembar sketsa berhamburan di lantai marmer koridor Universitas Prestasi.
Suara langkah mahasiswa berhenti. Beberapa orang menoleh. Ada yang menahan tawa, ada yang langsung mengangkat ponsel, seolah kejatuhan seorang Lim Meiran di tengah gedung fakultas seni adalah tontonan pagi yang lebih menarik daripada kuliah pertama.
Meiran terduduk di lantai.
Telapak tangannya perih karena menahan tubuh. Di hadapannya, sepatu kulit hitam seorang pria berhenti tepat di atas salah satu sketsanya. Ujung sepatu itu menginjak garis wajah yang baru saja ia gambar beberapa jam lalu.
Wajah Lo Hafeng.
Pria itu menunduk sedikit. Rambut hitamnya rapi, kemeja putihnya bersih, dan sorot matanya sedingin kaca gedung di luar koridor. Tinggi, tenang, terlalu tampan untuk seseorang yang sejak awal sudah terlihat seperti masalah.
Meiran menatapnya.
Sesaat, dua kehidupan bertabrakan di dalam kepalanya.
Di kehidupan ini, ia baru mahasiswa tahun pertama. Putri tunggal Lim Group yang terkenal cantik, sombong, dan suka mengejar Lo Hafeng tanpa tahu malu. Ia baru saja datang ke kampus dengan mobil dari rumah besar Lim di Menteng, membawa sketsa yang sebenarnya hanya alasan untuk melewati koridor tempat Hafeng biasa lewat.
Di kehidupan sebelumnya, ia mengejar pria itu sampai keluarganya hancur, sampai Papa jatuh sakit, sampai Mama tidak lagi berani menyebut namanya di depan tamu, sampai Lim Group menjadi bahan tertawaan. Ia percaya semua orang berbohong kecuali cintanya sendiri.
Ternyata cinta bisa menjadi tali.
Dan ia sendiri yang mengikatkannya di leher.
"Kamu tuli?" Hafeng bertanya.
Koridor menjadi lebih sunyi.
Meiran berkedip pelan. Rasa sakit di telapak tangannya nyata. Dinginnya lantai marmer menembus rok seragam kampusnya. Aroma kopi dari gelas plastik yang tumpah di dekat dinding bercampur dengan parfum mahal mahasiswa lain. Semua terlalu jelas untuk disebut mimpi.
Ia hidup lagi.
Hidup, di titik paling bodoh dari seluruh hidupnya.
"Lim Meiran jatuh lagi gara-gara mengejar Hafeng," bisik seseorang.
"Kasihan juga, tapi dia sendiri yang cari malu."
"Lihat, sketsanya Hafeng semua."
Tawa kecil menyebar seperti api di rumput kering.
Hafeng melirik lembaran yang berhamburan. Rahangnya mengeras ketika melihat wajahnya digambar berulang kali di sana. Satu, dua, lima, bahkan satu halaman penuh hanya berisi garis profilnya.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran pasti akan panik. Ia akan buru-buru memungut kertas itu sambil menjelaskan bahwa ia tidak sengaja, bahwa ia hanya kebetulan menggambar, bahwa ia tidak bermaksud membuat Hafeng tidak nyaman.
Lalu Hafeng akan pergi tanpa melihatnya lagi.
Dan ia akan menangis di kamar mandi, menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri.
Kali ini Meiran tidak bergerak.
Ia hanya menunduk, melihat ujung sepatu Hafeng yang masih menginjak sketsanya.
"Kakimu," ucapnya.
Hafeng mengerutkan kening.
"Apa?"
"Angkat."
Satu kata itu jatuh begitu datar sampai beberapa mahasiswa di sekitar mereka saling melirik.
Hafeng menatapnya lebih tajam. "Kamu sedang memerintahku?"
Meiran tersenyum tipis.
Aneh. Bibirnya bisa tersenyum ketika dadanya masih menyimpan rasa sakit dari kematian yang baru ia ingat. Mungkin karena rasa takutnya sudah mati lebih dulu di kehidupan sebelumnya.
"Aku sedang menyelamatkan sepatumu," katanya. "Kalau sketsa itu robek, aku mungkin akan menagih ganti rugi dengan harga yang membuatmu harus menjual motor kesayanganmu."
Bisik-bisik langsung berubah nada.
Hafeng membeku sepersekian detik. Motor itu bukan informasi yang seharusnya diketahui Meiran sedetail itu. Di masa ini, mereka bahkan belum benar-benar saling mengenal.
Tapi di masa depan, Meiran tahu terlalu banyak.
Ia tahu Hafeng tidak suka makanan terlalu manis. Ia tahu pria itu akan memilih arsitektur daripada bisnis keluarga. Ia tahu Hafeng akan memegang pergelangan tangan orang dengan tekanan yang terlalu kuat ketika marah. Ia tahu pria itu akan memandangnya seperti sampah, bahkan ketika ia sudah berdiri di tepi kehancuran.
Dan ia tahu, orang yang paling ia cintai di kehidupan sebelumnya adalah orang yang paling mudah digunakan takdir untuk membunuhnya.
Hafeng akhirnya mengangkat kaki.
Meiran mengambil sketsa itu. Kertasnya kusut, sudutnya kotor, tetapi tidak robek. Ia menepuk-nepuknya sekali, lalu berdiri tanpa menerima tangan siapa pun.
Seorang mahasiswi berambut pendek mendekat setengah langkah. "Meiran, tanganmu berdarah."
Meiran melirik telapak tangannya. Ada goresan kecil di pangkal ibu jari. Tidak dalam, hanya cukup untuk membuat merah menyala di kulit putihnya.
Di kehidupan sebelumnya, luka sekecil itu cukup untuk ia jadikan alasan mendekat ke Hafeng.
Sekarang ia malah merasa lucu.
"Tidak apa-apa," jawab Meiran.
Mahasiswi itu ragu. "Perlu ke klinik?"
"Tidak. Aku belum selemah itu."
Kalimat itu membuat beberapa orang kembali diam.
Hafeng masih berdiri di depannya. "Kamu sengaja menabrakku?"
"Kamu yang berjalan sambil melihat ponsel."
"Koridor ini luas."
"Benar. Tapi egomu lebih luas."
Seseorang tersedak tawa. Ada ponsel yang diturunkan cepat-cepat ketika Hafeng menoleh.
Mata Hafeng semakin dingin. "Lim Meiran, permainan apa lagi ini?"
Permainan.
Kata itu menusuk tepat ke tempat lama yang belum sempat sembuh. Dulu, seluruh hidupnya memang seperti permainan yang aturannya tidak pernah ia baca. Ia pikir ia adalah tokoh utama dari cinta yang menyedihkan. Ia tidak tahu bahwa ia hanya perempuan jahat yang disiapkan untuk kalah.
Detik berikutnya, suara asing meledak di dalam kepalanya.
**【Sistem Predator】Aktivasi berhasil.**
Meiran berhenti bernapas.
Koridor, tawa, langkah, parfum, semua terdorong jauh ke belakang. Di depan matanya, sebuah panel transparan muncul seperti pantulan cahaya di udara.
Target: Lo Hafeng.
Nilai Cinta: -80.
Nilai Kehancuran: 12.
Status Host: Lim Meiran, hidup kembali.
Misi Utama: Naikkan Nilai Cinta target hingga 100.
Kegagalan: Nilai Kehancuran mencapai 100, Host mati permanen.
Jari Meiran mengepal di sisi tubuhnya.
Mati permanen.
Jadi kematian di jalan basah itu bukan akhir. Ia diberi kesempatan, tetapi kesempatan itu dipasang dengan pisau di leher. Bukan cukup dengan menjauh dari Hafeng. Bukan cukup dengan berhenti mencintainya. Ia harus membuat pria yang membencinya ini mencintainya sampai angka penuh.
Lucu.
Takdir benar-benar punya selera humor yang busuk.
"Lim Meiran." Suara Hafeng menariknya kembali.
Meiran mengangkat wajah.
Hafeng menatapnya dengan curiga. "Kenapa diam?"
Panel itu masih melayang di samping kepala Hafeng. Angka -80 menyala merah, seolah mengejeknya. Di bawah angka itu, ada garis kecil yang berdenyut pelan seperti nadi.
Pria ini membencinya.
Belum sampai ke titik paling parah, tetapi cukup dalam untuk membuat sistem menyebutnya target.
Meiran memiringkan kepala. "Aku sedang berpikir."
"Berpikir bagaimana cara menggangguku lagi?"
"Bukan."
Ia melangkah maju.
Gerakan kecil itu membuat Hafeng otomatis mundur setengah langkah. Reaksi tubuhnya jujur, lebih jujur daripada wajah dinginnya. Meiran melihatnya dan menyimpan informasi itu.
Di belakang mereka, seseorang berbisik, "Kok Lim Meiran hari ini beda?"
Soe Wanyu baru muncul di ujung koridor saat bisikan itu terdengar.
Perempuan itu berjalan dengan buku gambar di dada, rambutnya jatuh rapi di bahu, ekspresinya lembut seperti air yang tidak pernah mengakui bisa menenggelamkan orang. Di kehidupan sebelumnya, Wanyu selalu datang di momen yang tepat, menawarkan tisu, menawarkan simpati, lalu meninggalkan Meiran sebagai orang jahat di mata semua orang.
"Ko Hafeng," panggil Wanyu.
Nada suaranya langsung membuat beberapa mahasiswa menoleh. Manis, akrab, penuh hak yang tidak pernah ia sebutkan terang-terangan.
Hafeng menoleh. Ekspresinya sedikit melunak, hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuat dada Meiran di kehidupan lama hancur berkali-kali.
Sekarang, Meiran hanya menghitung.
Satu musuh utama.
Satu perempuan yang pandai berpura-pura.
Satu sistem gila.
Dan satu kesempatan untuk tidak mati sebagai bahan cerita orang lain.
Wanyu mendekat, matanya turun ke kertas-kertas di tangan Meiran. "Meiran, kamu jatuh? Kamu tidak apa-apa?"
Pertanyaan itu terdengar peduli. Tetapi mata Wanyu berhenti terlalu lama pada sketsa wajah Hafeng.
Meiran menyelipkan sketsa itu ke mapnya.
"Aku baik-baik saja."
Wanyu tersenyum kecil. "Syukurlah. Aku khawatir kamu salah paham lagi. Ko Hafeng memang kadang terlihat dingin, tapi dia tidak bermaksud menyakitimu."
Kalimat itu halus.
Tapi semua orang mendengarnya sebagai pengumuman: Wanyu mengenal Hafeng lebih baik. Wanyu punya posisi untuk menjelaskan Hafeng. Meiran hanya perempuan luar yang berlebihan.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran akan terbakar. Ia akan berkata kasar, lalu Wanyu akan menunduk terluka, Hafeng akan berdiri di depan Wanyu, dan seluruh koridor akan punya bahan gosip baru.
Kali ini Meiran tertawa pelan.
Tidak keras. Tidak manis. Cukup pendek untuk membuat Wanyu berhenti tersenyum.
"Khawatir?" Meiran mengulang. "Kamu bahkan baru datang."
Wanyu terdiam.
Hafeng menatap Meiran. "Jangan menyeret orang lain."
"Aku tidak menyeret." Meiran menatap Hafeng, lalu Wanyu. "Aku hanya membersihkan tempatku berdiri."
Ia berjongkok, memungut sisa kertas satu per satu. Mahasiswi berambut pendek tadi ikut membantu, kali ini tanpa banyak bicara. Dua mahasiswa lain yang semula menonton juga ikut mengambil lembaran yang terbang dekat dinding, mungkin karena aura Meiran terlalu tenang untuk dijadikan bahan ejekan.
Wanyu tampak canggung karena tidak punya peran.
Hafeng juga tidak bergerak.
Ketika semua kertas sudah kembali ke map, Meiran menatap Hafeng sekali lagi. Panel sistem masih menggantung di udara. Nilai Cinta -80. Nilai Kehancuran 12.
"Lo Hafeng," katanya.
Nama itu keluar dari mulutnya dengan rasa yang berbeda. Dulu ia menyebut nama itu seperti doa. Sekarang seperti nama lawan di papan permainan.
Hafeng menyipitkan mata.
"Mulai hari ini," lanjut Meiran, "aku tidak akan mengejarmu dengan cara lama."
Wanyu hampir tidak terlihat bernapas.
Hafeng mencibir. "Bagus. Pertahankan itu."
"Tentu."
Meiran melangkah melewatinya. Bahunya hampir menyentuh lengan Hafeng, tetapi kali ini ia menghindar tepat pada jarak terakhir, membuat pria itu tidak punya alasan untuk marah dan tidak punya kepuasan karena ditakuti.
Namun tepat saat ia berada di sampingnya, panel sistem kembali berkedip.
**【Sistem Predator】Peringatan awal: Target memiliki resistensi kebencian tinggi. Kontak emosional negatif dapat menurunkan Nilai Cinta lebih jauh.**
Meiran berhenti satu detik.
Ia menoleh sedikit. Hafeng masih menatapnya, dingin dan penuh curiga. Wanyu berdiri di belakangnya dengan wajah lembut yang mulai retak di bagian mata.
Di kehidupan sebelumnya, dua orang itu adalah pintu menuju neraka.
Di kehidupan ini, pintu itu masih ada.
Bedanya, Meiran tidak lagi datang sebagai korban yang mengetuk dari luar.
Ia akan menjadi orang yang memegang kuncinya.
"Sisi," bisiknya dalam hati, mencoba nama yang muncul begitu saja bersama sistem itu. "Kalau aku harus membuat dia mencintaiku, setidaknya beri tahu aku satu hal."
**【Sistem Predator】Silakan bertanya, Host.**
"Apa yang terjadi kalau aku gagal menjinakkannya?"
Panel itu berkedip merah.
**【Sistem Predator】Kekuatan Takdir akan mengembalikan alur asli. Keluarga Lim hancur, Lo Hafeng tetap membencimu, dan Host mati untuk kedua kalinya.**
Darah di telapak tangan Meiran belum kering.
Ia menutup jari-jarinya, membiarkan perih itu menggigit kulitnya sampai ia benar-benar yakin sedang hidup.
Lalu ia tersenyum.
Baiklah.
Kalau takdir ingin ia menjadi perempuan jahat, ia akan menjadi lebih jahat dari yang pernah ditulis siapa pun.
Tapi kali ini, Lo Hafeng harus jatuh cinta padanya.
Bab 002
Membuat Lo Hafeng jatuh cinta padanya ternyata terdengar lebih mudah ketika kalimat itu masih berada di dalam kepala.
Begitu Meiran berbelok dari koridor utama menuju gedung studio seni, denyut di telapak tangannya mulai terasa lebih tajam. Luka kecil itu mengingatkannya bahwa ia tidak sedang membaca ulang hidupnya dari jauh. Ia benar-benar kembali ke awal, dengan tubuh muda, reputasi buruk, dan seorang pria yang Nilai Cintanya berada di angka -80.
**【Sistem Predator】Saran awal: Host perlu menciptakan kontak intens dengan target untuk memetakan reaksi emosional.**
"Kontak intens?" Meiran berbisik sambil mempercepat langkah. "Sisi, kamu sadar dia baru saja menatapku seperti aku virus?"
**【Sistem Predator】Data awal menunjukkan target memiliki reaksi kuat terhadap Host. Reaksi kuat dapat digunakan.**
"Reaksi kuat tidak selalu berarti bagus."
**【Sistem Predator】Benar. Karena itu Host perlu mengujinya.**
Meiran hampir tertawa. Sistem ini tidak terdengar seperti penyelamat. Lebih mirip dosen pembimbing yang menyuruh mahasiswanya masuk ke ruang ujian tanpa memberi materi.
Ia masuk ke studio seni yang masih kosong. Ruangan itu luas, dengan jendela tinggi menghadap taman belakang kampus. Bau cat minyak, kayu basah, dan kain kanvas menyambutnya. Di sudut ruangan ada beberapa patung gipsum tertutup kain putih. Di sisi lain, lemari peralatan berdiri rapat, salah satunya berupa kabinet tinggi untuk menyimpan kanvas gulung, tripod, dan papan gambar.
Meiran menaruh map sketsanya di atas meja panjang.
Ia perlu berpikir.
Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, pagi ini seharusnya berlanjut dengan adegan memalukan lain. Ia akan mengejar Hafeng sampai ke studio, Wanyu akan menemukannya di sana, lalu gosip tentang Lim Meiran yang tidak tahu malu akan menyebar ke seluruh grup WhatsApp angkatan sebelum jam makan siang.
Kali ini ia tidak boleh mengikuti alur yang sama.
Ia mengambil tisu dari tas, menekan luka di telapak tangannya. Darah berhenti, tetapi panel sistem masih menggantung di tepi pandangannya seperti tagihan yang belum dibayar.
Target: Lo Hafeng.
Nilai Cinta: -80.
Nilai Kehancuran: 12.
"Kalau aku menjauh dari dia?" tanya Meiran dalam hati.
**【Sistem Predator】Nilai Cinta tidak naik. Kekuatan Takdir akan mencari jalur lain untuk mengembalikan alur asli.**
"Kalau aku membuat dia membenciku lebih dulu, lalu menariknya pelan-pelan?"
**【Sistem Predator】Risiko tinggi.**
"Tapi mungkin efektif."
Sistem diam satu detik.
**【Sistem Predator】Host memang cocok menjadi predator.**
Meiran baru akan menjawab ketika suara langkah terdengar dari luar studio.
Ia menoleh.
"Ko Hafeng, tunggu sebentar."
Suara Soe Wanyu.
Meiran langsung meraih mapnya. Ia bisa menghadapi Wanyu, tetapi bukan sekarang, bukan ketika isi kepalanya masih dipenuhi angka merah dan kematian kedua. Di kehidupan sebelumnya, Wanyu selalu menang karena Meiran terlalu mudah terpancing. Pagi ini, ia perlu mengubah ritme.
Pintu studio terbuka sedikit.
Tanpa banyak berpikir, Meiran menyelinap ke balik kabinet peralatan yang pintunya setengah terbuka. Ruang di dalamnya lebih sempit dari perkiraannya. Kanvas gulung menekan bahunya, dan papan gambar dingin menyentuh punggungnya. Ia menarik pintu hampir tertutup, menyisakan celah tipis untuk melihat keluar.
Langkah Hafeng masuk lebih dulu.
"Aku ada kelas," katanya.
Wanyu menyusul sampai ambang pintu. "Aku cuma mau memastikan kamu tidak salah paham soal Meiran tadi. Dia memang sering bersikap begitu, tapi mungkin hari ini dia sedang tidak enak badan."
Dari dalam kabinet, Meiran mengangkat alis.
Luar biasa.
Wanyu bisa menusuk orang sambil membungkus pisaunya dengan tisu.
Hafeng berdiri tidak jauh dari kabinet. Ia mengambil sebuah tabung gambar dari meja dekat pintu. "Aku tidak peduli."
"Kamu selalu bilang begitu." Wanyu tertawa kecil. "Tapi kalau dia terus mengganggumu, kamu bisa bilang padaku. Aku akan bicara baik-baik dengannya."
Meiran menggigit bagian dalam pipinya.
Bicara baik-baik, lalu membuat semua orang berpikir aku perempuan gila yang perlu dikasihani.
Hafeng tidak menjawab. Ia berbalik, langkahnya justru mengarah ke kabinet tempat Meiran bersembunyi.
Meiran menahan napas.
Di luar, Wanyu berkata lagi, "Ko Hafeng?"
Hafeng berhenti tepat di depan pintu kabinet. Mungkin ia hendak mengambil sesuatu. Mungkin ia melihat ujung sepatu Meiran dari celah bawah. Apa pun itu, matanya turun, lalu bertemu mata Meiran melalui celah sempit.
Satu detik.
Dua detik.
Meiran mengangkat telunjuk ke bibir.
Diam.
Sorot mata Hafeng langsung berubah.
Ia membuka mulut, jelas hendak membongkar tempat persembunyiannya.
Meiran tidak memberinya kesempatan.
Ia menarik pergelangan tangan Hafeng.
Tubuh pria itu terdorong masuk ke kabinet. Pintu tertutup pelan, nyaris tanpa suara, tetapi ruang di dalamnya mendadak menjadi terlalu kecil untuk dua orang yang saling membenci.
Punggung Meiran menempel pada papan gambar. Dada Hafeng hampir menyentuh bahunya. Satu tangannya masih tertahan di dekat kepala Meiran, sementara napasnya yang dingin jatuh di pelipisnya.
"Kamu sudah gila?" desis Hafeng.
"Bisa lebih pelan?" Meiran berbisik. "Kecuali kamu ingin Wanyu melihat kita sekabinet seperti ini."
Rahang Hafeng mengeras. Di ruang gelap itu, aroma sabun mahal dari tubuhnya bercampur dengan bau kayu dan cat. Meiran bisa merasakan panas tubuhnya walau mereka tidak benar-benar berpelukan. Terlalu dekat. Bahkan kain kemejanya sesekali menyentuh punggung tangan Meiran setiap kali ia bernapas.
Hafeng mencoba mundur, tetapi tumitnya membentur gulungan kanvas.
"Buka pintunya."
"Tidak."
"Lim Meiran."
"Kalau kamu keluar sekarang, Wanyu akan bertanya kenapa kamu masuk ke kabinet. Lalu dia akan melihatku. Setelah itu, seluruh kampus akan punya cerita baru sebelum jam sebelas."
"Itu salahmu."
"Benar. Tapi wajahmu juga akan masuk cerita."
Hafeng terdiam. Dalam gelap, Meiran hampir bisa mendengar kesabarannya retak.
Di luar, langkah Wanyu mendekat.
"Ko Hafeng?" panggilnya, kali ini lebih bingung. "Kamu masih di dalam?"
Meiran menahan napas. Hafeng menatapnya seperti ingin mencekik, tetapi ia juga tidak menjawab. Untuk pertama kalinya pagi itu, mereka berada di pihak yang sama, meski hanya karena sama-sama tidak ingin tertangkap dalam posisi konyol.
**【Sistem Predator】Kontak fisik intens terdeteksi.**
Panel merah muncul begitu dekat dengan wajah Hafeng sampai Meiran hampir lupa bahwa hanya ia yang bisa melihatnya.
Nilai Cinta: -85.
Meiran membeku.
Apa?
**【Sistem Predator】Reaksi target: penolakan ekstrem, peningkatan kewaspadaan, kemarahan.**
Nilai Cinta: -92.
Hafeng menunduk, suaranya hampir tidak terdengar. "Lepaskan tanganku."
Meiran baru sadar jarinya masih menggenggam pergelangan tangan Hafeng.
Kulit pria itu hangat. Denyut nadinya cepat, menghantam ujung jari Meiran dengan ritme yang tidak setenang wajahnya. Entah karena marah, jijik, atau karena ruang sempit membuat tubuh mereka tidak punya jarak aman.
Ia melepaskannya perlahan.
Nilai Cinta: -96.
Sial.
"Sisi," batin Meiran, "ini disebut memetakan reaksi atau menggali kuburan?"
**【Sistem Predator】Data sangat berharga.**
"Untuk siapa?"
**【Sistem Predator】Untuk misi Host, jika Host masih hidup setelah ini.**
Meiran menutup mata sebentar.
Hafeng salah paham pada keheningannya. "Kamu takut sekarang?"
Meiran membuka mata. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat garis rahang Hafeng, bulu matanya, dan kemarahan yang membuat pupilnya tampak lebih gelap.
"Tidak," jawabnya. "Aku sedang menghitung."
"Menghitung apa?"
"Seberapa besar kamu membenciku."
Hafeng mencibir tanpa suara. "Kalau kamu perlu angka, kuberi tahu. Sangat besar."
Seolah menanggapi ucapannya, panel sistem berkedip tajam.
Nilai Cinta: -100.
**【Sistem Predator】Peringatan: Nilai Cinta mencapai batas kebencian terendah. Fenomena balik ekstrem mungkin terjadi jika target terus menerima rangsangan emosional dari Host.**
Meiran menatap angka itu.
-100.
Bukannya naik, ia malah berhasil menjatuhkan target ke dasar jurang hanya dalam satu pagi.
Harusnya ia panik. Harusnya ia marah pada sistem, pada Hafeng, pada takdir yang membuatnya harus memulai dari angka semustahil ini. Namun entah kenapa, senyum tipis justru muncul di bibirnya.
Dasar hidup baru yang menarik.
Hafeng menatap senyum itu dengan curiga. "Apa yang lucu?"
"Kamu."
"Aku?"
"Kamu bilang sangat membenciku, tapi dari tadi kamu tetap berbisik."
Mata Hafeng berkilat. "Karena aku tidak mau terlihat bodoh."
"Tepat. Berarti kita punya satu kepentingan yang sama."
Di luar kabinet, Wanyu kembali melangkah. Kali ini suara sepatunya berhenti tepat di depan pintu kabinet.
Bayangan tipis jatuh melalui celah bawah.
Meiran dan Hafeng sama-sama diam.
Lalu suara Wanyu terdengar sangat dekat.
"Ko Hafeng... kamu di situ?"
Bab 003
"Ko Hafeng... kamu di situ?"
Suara Wanyu menempel di sisi lain pintu kabinet seperti napas dingin.
Meiran tidak bergerak. Hafeng juga tidak. Dalam ruang sempit itu, bahu mereka hampir saling menekan. Hanya satu gerakan kecil, satu papan gambar jatuh, dan seluruh studio akan tahu bahwa Lo Hafeng bersembunyi bersama Lim Meiran di dalam kabinet peralatan.
Nilai Cinta masih menyala merah di tepi pandangan Meiran.
-100.
Angka itu seperti tamparan yang belum selesai.
Hafeng menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Meiran ketika ia berbisik, "Ini semua salahmu."
"Aku tidak menyangkal."
"Buka."
"Kalau kamu ingin keluar sebagai bahan gosip, silakan."
Mata Hafeng menyipit. "Kamu mengancamku?"
"Aku sedang memberimu pilihan."
Di luar, Wanyu mengetuk pintu kabinet pelan.
Tok.
Suara kecil itu membuat punggung Meiran semakin rapat pada papan gambar. Hafeng mengulurkan tangan, seolah hendak mendorong pintu. Meiran cepat menahan lengannya, kali ini hanya dengan dua jari di manset kemejanya.
Panel sistem langsung berkedip.
**【Sistem Predator】Kontak fisik tambahan terdeteksi. Tidak disarankan memperpanjang kontak pada Nilai Cinta -100.**
Terima kasih atas peringatannya yang terlambat, Sisi.
Hafeng menatap dua jari Meiran di mansetnya. "Lepaskan."
Meiran melepaskan. "Tiga detik lagi."
"Untuk apa?"
"Agar dia mulai ragu apakah kamu benar-benar di sini."
Hafeng terlihat ingin membantah, tetapi Wanyu sudah memanggil lagi, nada suaranya lebih pelan.
"Ko Hafeng, aku masuk, ya?"
Pintu studio berderit. Wanyu rupanya tidak hanya berdiri di depan kabinet, ia juga memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu. Bayangannya bergerak melalui celah bawah.
Meiran mengangkat tangan, menghitung tanpa suara.
Satu.
Dua.
Tiga.
Hafeng membuka pintu kabinet dari dalam.
Wanyu mundur terkejut ketika Hafeng keluar dengan wajah dingin dan tabung gambar di tangan. Gerakannya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak di ruang sempit dengan musuhnya.
"Kamu kenapa di situ?" tanya Wanyu.
"Mengambil alat."
Jawaban Hafeng pendek.
Meiran tetap berada di dalam kabinet, menunggu dua detik sebelum keluar sambil membawa gulungan kanvas kosong. Ia sengaja tidak terburu-buru. Jika ia terlihat bersalah, Wanyu akan menang. Jika ia terlihat terlalu santai, Hafeng akan semakin marah.
Pilihan kedua lebih berguna.
Wanyu menatapnya. Senyumnya sempat hilang sebelum kembali dipasang.
"Meiran? Kamu juga di sini?"
"Studio seni memang untuk mahasiswa seni," jawab Meiran. "Aneh kalau aku muncul di bengkel mesin."
Wajah Wanyu menegang halus.
Hafeng menoleh tajam pada Meiran. "Jangan mulai."
"Aku belum mulai apa pun."
"Kamu menarikku masuk ke kabinet."
Wanyu membeku. Beberapa detik kemudian, matanya melebar dengan sangat pas, tidak terlalu berlebihan, cukup untuk terlihat terluka jika ada orang ketiga yang melihat.
"Meiran, kenapa kamu melakukan itu?" suaranya melembut. "Kalau kamu ingin bicara dengan Ko Hafeng, kamu bisa bicara baik-baik. Jangan membuatnya tidak nyaman."
Kalimat itu nyaris sempurna.
Meiran bahkan ingin bertepuk tangan.
Ia menaruh gulungan kanvas di meja. "Benar. Aku salah."
Wanyu tampak tidak siap mendengar pengakuan secepat itu.
Hafeng juga diam sepersekian detik.
Meiran melanjutkan, "Karena itu aku tidak akan mengulang cara yang sama."
"Bagus," kata Hafeng dingin.
"Aku akan pakai cara yang lebih jelas."
Hafeng menatapnya lagi. "Apa maksudmu?"
Meiran tidak menjawab di depan Wanyu. Ia mengambil map sketsanya, melewati Hafeng, lalu berjalan menuju pintu studio. Hafeng ternyata mengikutinya, mungkin karena amarahnya belum selesai, mungkin karena ia tidak suka Meiran meninggalkan pertanyaan begitu saja.
Wanyu ikut melangkah. "Ko Hafeng, kelasmu..."
"Nanti," jawab Hafeng tanpa menoleh.
Satu kata itu membuat senyum Wanyu retak lebih jelas.
Meiran menangkapnya dari pantulan kaca jendela studio. Bagus. Bukan hanya Hafeng yang harus dipindahkan dari alur lama. Wanyu juga harus belajar bahwa panggung bukan lagi miliknya seorang.
Begitu mereka keluar ke koridor samping yang lebih sepi, Hafeng menangkap pergelangan tangan Meiran.
Pegangannya kuat, tetapi tidak sampai menyakitkan.
Meiran berhenti dan menatap tangannya.
"Kalau kamu ingin mempertahankan reputasi sebagai pria terhormat," katanya, "jangan menarik perempuan di koridor kampus."
Hafeng segera melepaskan, seolah baru sadar ada dua mahasiswa lewat di ujung lorong.
"Kamu benar-benar tidak tahu malu."
"Itu kalimat lama. Cari yang baru."
"Lim Meiran."
Nada suaranya turun. Marahnya tidak lagi panas, tetapi padat. Lebih berbahaya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu pagi ini. Tapi dengarkan baik-baik. Aku tidak suka kamu. Aku tidak tertarik padamu. Aku muak dengan caramu membuat semua orang berpikir aku punya hubungan denganmu."
Setiap kata menghantam tepat sasaran.
Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu cukup untuk membuat Meiran berlari ke toilet dan menangis sampai mata bengkak. Hari ini, dadanya tetap sakit, tetapi rasa sakit itu seperti bekas luka lama yang disentuh, bukan luka baru yang menguasai tubuh.
Panel sistem berkedip pelan, seakan ikut menonton.
Nilai Cinta: -100.
Meiran mengangkat wajah. "Selesai?"
Hafeng terdiam.
"Kalau sudah selesai, sekarang giliranku."
"Aku tidak mau mendengarkan."
"Tapi kamu tetap berdiri di sini."
Rahang Hafeng mengeras lagi.
Di ujung lorong, dua mahasiswa yang tadi lewat memperlambat langkah. Meiran melihat mereka, lalu sengaja menaikkan suara secukupnya. Konflik yang tersembunyi hanya akan menjadi cerita versi Wanyu. Konflik yang terlihat bisa ia kendalikan sendiri.
"Lo Hafeng, kamu membenciku karena aku mengejarmu tanpa aturan. Baik. Aku akui itu menjijikkan."
Bisikan kecil terdengar dari ujung lorong.
Hafeng tampak tidak nyaman. "Pelankan suaramu."
"Kenapa? Bukankah kamu ingin semua orang tahu aku tidak punya hubungan denganmu?"
"Jangan memutarbalikkan kata-kataku."
"Aku tidak memutarbalikkan. Aku merapikannya."
Wanyu muncul di pintu studio, berdiri cukup jauh untuk terlihat tidak ikut campur, cukup dekat untuk mendengar. Meiran tahu perempuan itu sedang menunggu kesempatan. Maka Meiran memberinya sesuatu untuk didengar.
"Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu tanpa hasil," kata Meiran.
Hafeng mencibir. "Akhirnya sadar?"
"Tapi aku tidak bilang aku akan menyerah."
Wajah Hafeng berubah gelap.
Wanyu melangkah setengah maju. "Meiran..."
Meiran mengangkat satu tangan tanpa menatapnya. Gerakan kecil itu cukup untuk menghentikan Wanyu di tempat.
"Kamu suka angka, kan?" Meiran menatap Hafeng. "Nilai, peringkat, hasil yang bisa dilihat semua orang. Kita pakai itu."
"Kita?"
"Ujian tengah semester tinggal beberapa minggu. Kamu selalu nomor satu di jurusan desain arsitektur lintas kelas, dan aku selalu dianggap hanya tahu menggambar wajahmu." Meiran tersenyum tipis. "Mari bertaruh."
Hafeng menatapnya seolah ia baru saja mengucapkan lelucon paling buruk pagi itu.
"Aku tidak tertarik."
"Takut kalah?"
Kata itu bekerja.
Bukan karena Hafeng mudah dipancing seperti anak kecil. Justru karena pria seperti dia tidak tahan jika harga dirinya disentuh di tempat yang tepat. Meiran tahu itu dari masa depan, dari rapat-rapat bisnis, dari cara Hafeng mengerjakan ulang satu maket semalaman hanya karena seorang dosen menyebut desainnya kurang bernyawa.
Mata Hafeng menjadi lebih dingin. "Kamu tidak akan menang melawanku."
"Kalau begitu, terima."
Wanyu cepat berkata, "Ko Hafeng, tidak perlu meladeni. Semua orang tahu kemampuanmu."
Meiran akhirnya menoleh pada Wanyu. "Justru karena semua orang tahu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?"
Wanyu tersenyum kaku.
Hafeng menatap Meiran lama. "Apa taruhannya?"
Sistem di kepala Meiran berbunyi sebelum ia menjawab.
**【Sistem Predator】Peluang menciptakan ikatan berulang terdeteksi. Host, lanjutkan.**
Meiran menahan senyum.
Ikatan berulang. Itulah yang ia butuhkan. Bukan cinta hari ini. Bukan maaf. Bukan belas kasihan. Ia butuh alasan yang sah untuk membuat Lo Hafeng terus berada di sekitarnya sampai angka merah itu punya celah untuk berubah.
Ia melangkah mendekat satu langkah.
Hafeng tidak mundur, tetapi bahunya menegang.
"Taruhannya sederhana," kata Meiran. "Kalau aku menang, kamu harus menjadi milikku selama satu bulan."
Koridor langsung sunyi.
Hafeng menatapnya tajam. "Apa maksudmu, milikmu?"
Meiran tersenyum, pelan dan berbahaya.
"Kita bertaruh, Lo Hafeng."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!