Bab 1: Vonis
"Lo sadar nggak, dari tadi cara jalan lo mirip gue?"
Keira Seng menoleh dengan wajah polos yang terlalu rapi untuk disebut tidak sengaja.
"Serius? Mungkin dunia yang salah. Kenapa harus gue yang dituduh meniru?"
Xavier Sia menatap hoodie hitam-putih yang mereka pakai bersamaan, lalu turun ke sepatu kanvas putih di kaki Keira. Sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Dunia juga tahu selera gue lebih bagus."
"Selera lo bagus karena gue pakai versi yang lebih lucu."
Kalimat itu seharusnya terdengar sombong. Dari mulut Keira, entah kenapa malah seperti permintaan hidup yang dibungkus candaan.
***
Seminggu sebelum percakapan itu pernah terjadi, Keira duduk di depan ruang dosen pembimbing dengan map tipis di pangkuan dan hasil lab yang terasa lebih berat daripada seluruh tugas semester lima.
Kampus Unpar siang itu ramai. Anak-anak DKV membawa tabung gambar, mahasiswa Hukum lewat dengan kemeja rapi, tukang kopi susu di dekat gerbang memanggil pelanggan dengan suara yang sama seperti hari-hari biasa.
Hanya dunia Keira yang sudah berhenti sejak dokter di RS Borromeus menyebut kata itu.
Kanker.
Stadium lanjut.
Ia sempat tertawa waktu mendengarnya. Bukan karena lucu, tapi karena otaknya seperti kehilangan tombol reaksi yang normal.
"Maksud Dokter, lambung saya ini drama queen banget ya? Kalau mau rusak, langsung grand final."
Dokter tidak tertawa. Angela Liem, yang baru tiba dari Jakarta dengan blazer kantor masih melekat di tubuhnya, juga tidak tertawa. Mama Keira hanya menggenggam tas kulitnya begitu kuat sampai buku jarinya memucat.
Keira baru berhenti bercanda saat melihat Angela menoleh ke jendela dan mengusap sudut matanya diam-diam.
Maka hari ini, dengan sisa tenaga yang masih bisa ia pakai untuk terlihat waras, Keira datang meminta cuti akademik.
"Keira, Ibu paham kondisi kamu berat." Bu dosen pembimbing menutup map itu pelan. "Tapi pengajuan cuti harus melalui prosedur. Surat dokter, persetujuan orang tua, administrasi fakultas. Tidak bisa selesai hari ini."
"Kalau saya tidak sempat menyelesaikan prosedurnya, Bu?"
Ruangan itu mendadak terlalu sunyi.
Keira tersenyum duluan, seolah kalimatnya cuma lelucon gagal. "Maksud saya, deadline tugas saya juga banyak. Takut keburu tenggelam."
Ibu dosen menatapnya dengan mata iba yang paling Keira benci. "Kamu pulang dulu. Istirahat. Besok kita bicarakan lagi."
Besok.
Orang sehat memang gampang sekali memakai kata itu.
Keira keluar dari gedung fakultas dengan map menempel di dada. Napasnya pendek. Perutnya terasa seperti diremas pelan dari dalam, bukan cukup sakit untuk membuatnya jatuh, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa tubuhnya sudah menjadi rumah kontrakan yang mau roboh.
Ponselnya bergetar. Nama Angela muncul di layar.
"Keira, kamu sudah dari kampus?"
"Sudah, Ma. Dosenku belum bisa proses hari ini."
Di seberang sana ada jeda. Suara mesin mobil dan klakson Jakarta terdengar samar.
"Mama bisa ke Bandung malam ini."
"Nggak usah. Aku cuma mau tidur."
"Kamu makan dulu."
Keira melihat gerobak siomay di pinggir jalan. Aroma bumbu kacang biasanya membuatnya lapar. Hari ini, lambungnya langsung protes.
"Iya. Nanti aku makan."
"Jangan bohong."
Keira tertawa kecil. "Ma, kalau aku bohong soal makan, paling dosanya masuk kategori ringan."
"Keira."
Suara Angela pecah sedikit. Keira langsung menyesal. Ia menggigit bibir, menahan kalimat bercanda berikutnya.
"Aku pulang dulu, Ma. Nanti aku kabari."
Ia memutus panggilan sebelum suasana berubah menjadi terlalu basah untuk ditanggung di tengah kampus.
Jalan menuju gerbang memaksanya melewati area Fakultas Hukum. Sore mulai turun. Lampu taman belum menyala, tapi bayangan pohon sudah memanjang di paving block. Keira berjalan pelan, satu tangan menekan perut, satu tangan memegang map.
Di dekat tangga gedung Hukum, kerumunan kecil membuat langkahnya melambat.
Seorang cewek berdiri dengan wajah merah, memegang paper bag kecil. Di depannya, seorang cowok tinggi memakai hoodie hitam-putih yang desainnya mirip dengan hoodie Keira, hanya ukurannya jelas lebih mahal dan jatuh di bahunya dengan cara yang menyebalkan.
Cowok itu terlalu mencolok untuk diabaikan. Wajahnya rapi seperti poster penerimaan mahasiswa baru yang sengaja dibuat tidak realistis. Rambutnya agak berantakan, tapi malah terlihat seperti sengaja. Di bawah sudut bibirnya ada tahi lalat kecil.
"Xavier, aku cuma mau bilang..." suara cewek itu bergetar. "Aku suka kamu."
Beberapa orang langsung menahan napas. Keira, yang seharusnya pulang, ikut berhenti karena manusia tetap manusia. Bahkan pasien kanker pun masih punya rasa ingin tahu.
Cowok bernama Xavier itu menatap paper bag, lalu wajah cewek itu.
"Kebetulan."
Cewek itu membeku.
Xavier memasukkan satu tangan ke saku hoodie. "Aku juga suka diriku sendiri."
Satu detik hening.
Lalu ada yang tersedak tawa.
Keira hampir ikut tertawa, tapi perutnya sakit. Ia menutup mulut, bahunya bergetar. Gila. Cowok ini bukan cuma menolak. Ia menolak dengan tingkat percaya diri yang harusnya dikenai pajak.
Mungkin karena gerakannya terlalu jelas, Xavier menoleh.
Tatapan mereka bertemu di bawah langit Bandung yang mulai memerah.
Keira lupa menunduk. Xavier juga tidak langsung mengalihkan mata. Untuk beberapa detik yang aneh, suara kampus seperti mengecil. Keira menyadari warna hoodie mereka sama. Hitam di bagian badan, putih di lengan, bahkan tali serutnya sama-sama putih.
Seorang mahasiswa di belakang Xavier bersiul pelan.
"Wih, couple hoodie?"
Keira tersadar lebih dulu. "Bukan!"
Xavier menurunkan pandangan ke hoodie Keira, lalu kembali ke wajahnya. Alisnya terangkat sedikit, seperti baru menemukan soal ujian yang salah cetak.
"Pacarnya Xavier?" bisik seseorang.
"Gila, pantes nolak."
Darah naik ke wajah Keira. Kalau tubuhnya tidak sedang setengah rusak, mungkin ia sudah punya tenaga untuk menjelaskan panjang. Sayangnya, hari ini ia hanya punya satu prioritas: tidak muntah di depan Fakultas Hukum.
"Salah orang," katanya cepat.
Ia memutar badan dan berjalan pergi dengan langkah yang ia paksa stabil. Dari belakang, ia masih bisa merasakan tatapan Xavier menempel di punggungnya.
Baru setelah melewati gerbang, lutut Keira melemas. Ia berhenti di dekat tiang lampu, menarik napas dalam-dalam. Di kaca spion mobil yang parkir, wajahnya terlihat pucat. Terlalu pucat untuk hoodie yang seharusnya lucu.
"Tuhan," gumamnya pelan, "kalau memang mau kirim keajaiban, jangan yang ribet ya. Kirim saja CEO ganteng yang mau donasi nyawa. Atau minimal voucher makan."
Tidak ada petir. Tidak ada malaikat. Hanya notifikasi ojek online dari HP-nya sendiri.
Keira pulang ke The Springs Residence dengan kepala bersandar di jendela mobil. Bandung bergerak di luar kaca, warung, lampu merah, motor, mahasiswa yang tertawa di trotoar. Semuanya berjalan seperti biasa, seolah hidup orang lain tidak sedang selesai pelan-pelan.
Apartemen lantai 16 terasa sepi saat ia masuk. Angela belum datang. Sepatu kerja Mama tidak ada di rak. Di meja makan, ada kotak barang pindahan yang belum sempat ia bereskan sejak awal semester. Keira menaruh map di atasnya, lalu melihat sesuatu menyembul di antara kabel charger lama.
Sebuah HP Nokia tua.
Ia mengerutkan kening. Benda itu ia temukan dua hari lalu di kotak gudang, lalu ia buang ke tempat sampah dekat lift karena tidak bisa menyala. Kenapa sekarang ada di meja makan?
"Oke. Entah gue yang pikun, atau apartemen ini butuh disinfektan spiritual."
Keira mengambil HP itu. Bodinya kusam, layarnya kecil, tombolnya keras. Benda mati.
Sampai tiba-tiba layar hijaunya menyala.
Tangannya nyaris melempar HP itu.
Getaran kasar memenuhi telapak tangannya. Satu pesan masuk, huruf-huruf pixel muncul pelan seperti film horor murah.
`Sistem Imitasi aktif.`
Keira tidak bernapas.
Pesan kedua muncul.
`Host terdeteksi: Keira Seng.`
Pesan ketiga membuat darahnya terasa berhenti.
`Misi utama: tiru target untuk memperoleh Poin Kehidupan.`
Keira menatap layar itu, lalu menatap map hasil lab di meja. Dadanya naik turun. Kalau ini prank, orang yang membuatnya sangat niat dan sangat kurang ajar. Kalau ini bukan prank...
HP itu bergetar lagi.
`Replika Target: Xavier Sia.`
Di bawah tulisan itu, muncul foto cowok Fakultas Hukum yang tadi menolak cinta dengan kalimat paling menyebalkan sedunia.
Keira memegang meja agar tidak jatuh.
"Serius?" bisiknya. "CEO donasi nyawa nggak datang, gantinya sistem nyuruh gue cosplay cowok narsis?"
Bab 2: Tetangga Seberang
Selama sepuluh detik penuh, Keira hanya berdiri di depan meja makan sambil menatap foto Xavier Sia di layar Nokia tua itu.
Cowok Fakultas Hukum. Hoodie kembar. Tahi lalat kecil di bawah sudut bibir. Kalimat penolakan paling narsis yang pernah ia dengar seumur hidup.
Target hidupnya.
Keira menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol kecil di bawah layar.
`Misi utama: tingkatkan Nilai Replika dengan meniru target.`
"Meniru target," ulang Keira pelan. "Ini sistem penyelamat hidup atau panitia ospek?"
Layar berkedip lagi.
`Peringatan: host dilarang memberi tahu pihak ketiga tentang sistem. Pelanggaran akan mengurangi Poin Kehidupan.`
Tawa Keira langsung mati.
Poin Kehidupan.
Dua kata itu menempel di dadanya seperti plester dingin. Ia melihat map hasil lab, lalu Nokia di tangannya. Kalau semua ini halusinasi karena obat, halusinasinya terlalu spesifik. Kalau bukan, berarti ada sesuatu yang tidak masuk akal sedang memberinya tali, sekecil apa pun, untuk tidak jatuh.
Masalahnya, tali itu terhubung ke Xavier Sia.
Keira mencoba cara paling rasional yang bisa dipikirkan manusia pada pukul delapan malam: membuang benda mencurigakan.
Percobaan pertama, ia memasukkan Nokia itu ke kantong plastik kecil, mengikatnya rapat, lalu membuangnya ke tempat sampah di koridor dekat lift.
Ia kembali ke unitnya, mencuci tangan, minum air hangat, dan menghitung sampai tiga puluh.
Nokia itu sudah ada di meja makan.
Keira menatapnya.
"Oke."
Percobaan kedua, ia turun ke lantai dasar dengan lift, berjalan ke area sampah gedung, dan melempar Nokia itu ke tong paling dalam. Ia bahkan menutup tongnya seperti menutup peti mati.
Begitu pintu lift lantai 16 terbuka, benda itu jatuh dari dalam hoodie-nya ke lantai.
Klontang.
Seorang ibu-ibu yang baru keluar dari lift sebelah meliriknya curiga. Keira tersenyum kaku.
"HP jadul. Lagi latihan konten nostalgia."
Percobaan ketiga, ia kehilangan akal sehat sedikit. Ia membungkus Nokia itu dengan tisu, memasukkannya ke kotak bekas boba, menaruh kotak itu di depan pintu darurat, lalu kembali ke apartemen sambil membaca doa seadanya yang ia ingat dari sekolah.
Di kamar, selimutnya bergerak.
Keira membuka selimut dengan dua jari.
Nokia itu tergeletak di tengah kasur seperti bayi setan yang minta disayang.
Keira duduk di lantai.
"Gue punya kanker, Ma," gumamnya ke langit-langit. "Kenapa bonusnya malah HP kesurupan?"
Ketukan di pintu membuatnya hampir menjerit.
"Keira?"
Suara Angela.
Keira cepat-cepat memasukkan Nokia ke laci nakas dan menarik napas sebelum membuka pintu. Angela berdiri dengan paper bag makanan dan wajah lelah orang yang baru menempuh Jakarta-Bandung setelah kerja.
"Mama bawakan bubur. Kamu sudah makan?"
"Sudah."
Angela mengangkat alis.
"Setengah," koreksi Keira.
Angela masuk tanpa banyak bicara. Ia menaruh bubur di meja makan, menyentuh dahi Keira sebentar, lalu memandang wajah putrinya terlalu lama. Keira tahu tatapan itu: tatapan seorang ibu yang ingin bertanya semua hal sekaligus tapi takut jawabannya menghancurkan.
"Mama tidur di kamar tamu malam ini."
"Ma, aku bukan anak kecil."
"Betul. Anak kecil biasanya lebih jujur kalau sakit."
Keira kalah.
Malam itu ia makan beberapa sendok bubur agar Angela tidak terus menatapnya seperti CCTV hidup. Setelah Angela masuk kamar tamu, Keira kembali mengeluarkan Nokia dari laci.
Layar langsung menyala.
`Misi 1: Samakan status WhatsApp dengan target selama 3 hari.`
`Status target saat ini: Tidak menerima drama.`
Keira berkedip.
"Dia benar-benar menulis begitu di WA?"
Tidak ada jawaban. Tentu saja. Sistem ini cuma dramatis saat ingin membuatnya panik.
Keira mengambil HP utamanya. Ia membuka WhatsApp, masuk ke bagian info profil, lalu mengganti kalimat lamanya, `slow response, lagi gambar`, menjadi:
`Tidak menerima drama.`
Ia menatap kalimat itu selama beberapa detik.
"Selamat, Keira. Hari pertama jadi cowok dingin dimulai dari bio WA."
Setelah tugas pertama selesai secara teknis, rasa takutnya pelan-pelan berubah bentuk. Bukan hilang, hanya bergeser. Kalau sistem ini benar, berarti ia mungkin bisa mendapatkan waktu tambahan. Kalau ia bisa mendapatkan waktu tambahan, berarti ia tidak harus langsung menyerah pada vonis dokter.
Mungkin ia belum selesai.
Pikiran itu membuat matanya panas.
Keira cepat-cepat membuka browser sebelum sempat menangis. Kata kunci pertama yang ia ketik: `Xavier Sia Unpar`.
Hasilnya terlalu banyak.
Foto festival kampus. Potongan video debat Fakultas Hukum. Komentar dari akun-akun confession. Nama Xavier muncul berkali-kali di @unparfess, lengkap dengan julukan yang membuat Keira ingin menutup laptop.
`Campus Crush No.1 Fakultas Hukum.`
`Cowok mahal yang senyumnya cuma buat kamera KTM.`
`Xavier Sia kalau lewat, IPK gue naik sendiri.`
Keira memijat pelipis. "Target gue seleb kampus. Mantap. Tinggal tunggu gue dibakar netizen."
Ia membuka chat Celine.
`Cel. Lo tahu Xavier Sia?`
Balasan datang kurang dari sepuluh detik.
`Lo nanya XAVIER SIA jam 11 malam?`
`Jawab dulu.`
`Semua orang tahu dia. Campus Crush No.1. Anak Hukum. Tajir. Dingin. Kalau senyum katanya bisa bikin orang daftar ulang semester. Kenapa?`
Keira menatap layar, lalu mengetik kebohongan paling aman.
`Tadi nggak sengaja lihat dia nolak cewek. Penasaran aja.`
Celine langsung mengirim tiga tautan @unparfess, satu screenshot ranking Campus Crush, dan satu voice note lima belas detik yang isinya cuma tawa.
`Kei, kalau lo suka dia, gue dukung dari jauh. Jauh banget. Soalnya fanbase-nya serem.`
`Gue nggak suka.`
`Kalimat orang yang akan suka.`
Keira melempar HP ke bantal. "Pengkhianat."
Namun ia tetap membuka semua tautan itu.
Besok paginya, setelah Angela pergi membeli obat ke apotek, Keira berdiri di depan cermin dengan hoodie longgar dan wajah kurang tidur. Nokia di meja menampilkan hitungan hari untuk misi pertama: `Hari 1/3`.
Ia butuh informasi tentang Xavier. Gaya pakaian, kebiasaan, jadwal. Meniru orang yang tinggal entah di mana saja sudah terdengar seperti misi memalukan. Tapi meniru orang yang seluruh kampus perhatikan?
Itu bunuh diri sosial.
Keira keluar ke koridor untuk mengambil paket obat lambung yang Angela pesan. Koridor lantai 16 The Springs pagi itu sepi. Lampu putih menyala lembut, karpet lorong meredam langkahnya.
Di depan unit seberang, ada dua paket besar.
Keira awalnya hanya melirik.
Lalu ia berhenti.
Nama penerima di label pengiriman tertulis jelas.
`Xavier Sia.`
Jantung Keira memukul tulang rusuknya.
Ia menatap nomor unit di pintu seberang. Lalu nomor unitnya sendiri.
Depan. Persis depan.
Target hidupnya bukan cuma satu kampus. Bukan cuma cowok yang kemarin membuatnya nyaris pingsan karena malu.
Xavier Sia tinggal di seberang pintu apartemennya.
Keira menutup mulut dengan punggung tangan.
"Tuhan," bisiknya, "ini bukan keajaiban. Ini paket lengkap bencana."
Matanya turun ke label paket. Ada nama brand pakaian pria yang semalam ia lihat beberapa kali di foto Xavier. Kalau ia tahu brand-nya, ia bisa menebak style-nya. Kalau ia bisa menebak style-nya, misi berikutnya mungkin tidak akan membunuh harga dirinya terlalu cepat.
Keira berjongkok pelan, membuka kamera HP, lalu mengarahkan lensa ke label pengiriman.
Klik.
Suara kunci terdengar dari dalam unit seberang.
Tubuh Keira membeku.
Pintu di depannya terbuka.
Bab 3: Insiden Salah Masuk
Pintu di depannya terbuka tidak sampai separuh, tetapi cukup untuk membuat Keira melihat sepasang sepatu rumah warna abu-abu dan celana training hitam.
Ia mendongak pelan.
Xavier Sia berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit basah, satu tangan masih memegang gagang. Wajahnya tetap datar. Hanya alisnya yang naik tipis saat melihat Keira berjongkok di depan paketnya, kamera HP masih terbuka.
Keira ingin mengatakan sesuatu yang cerdas.
Yang keluar justru, "Lantai ini bersih banget ya."
Hening.
Xavier menatapnya. Lalu menatap paket. Lalu kembali menatapnya.
"Lo... survei karpet?"
Keira berdiri terlalu cepat sampai kepalanya berkunang-kunang. Ia menahan dinding dengan telapak tangan dan berharap wajahnya tidak terlihat sepucat mayat yang baru selesai olahraga.
"Paketku jatuh," katanya asal. "Maksudku, paket Mama. Ada obat. Aku kira ini punya kami."
Di saat paling buruk, HP di tangannya mengeluarkan suara kamera karena jarinya menyentuh layar.
Klik.
Foto kedua label paket Xavier tersimpan sempurna.
Xavier menunduk ke layar HP Keira.
Keira menekan tombol power dengan panik. "Refleks. Kamera gue sensitif."
Sudut bibir Xavier bergerak, entah menahan tawa atau menahan komentar yang lebih jahat. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunduk, mengambil dua paketnya, lalu memungut satu amplop hitam tipis yang terselip di bawah kardus.
Keira baru sadar ada amplop serupa di tangannya. Mungkin ikut terbawa saat ia panik memindahkan paket obat Angela tadi.
"Itu punya lo?" tanya Xavier.
Keira melihat amplop hitam itu. Di atasnya hanya ada stiker kecil tanpa nama, mirip sekali dengan sleeve kartu cadangan unit yang Angela letakkan di meja pagi tadi.
"Punya Mama gue," jawabnya cepat.
Xavier menatap stiker itu sebentar, tapi tidak memperpanjang. "Hati-hati kalau cari paket. Jangan sampai salah unit."
Keira mengangguk berkali-kali seperti boneka rusak, lalu mundur ke pintu apartemennya sendiri.
Begitu masuk, ia bersandar di balik pintu dan menutup wajah.
"Mati aja sekalian, Keira. Tapi jangan sekarang. Masih ada misi."
***
Keesokan malamnya, Angela harus kembali ke Jakarta karena rapat mendadak. Sebelum pergi, ia menunjuk meja dekat pintu.
"Kartu cadangan unit Mama taruh di sana. Kalau kamu pusing atau butuh apa-apa, telepon Mama. Jangan sok kuat."
"Siap, Bos Angela."
"Keira."
"Siap, Mama."
Setelah pintu tertutup, apartemen kembali sunyi. Keira memakai piyama katun warna krem, rambutnya dicepol asal, dan di meja nakas, Nokia tua itu menampilkan hitungan misi: `Hari 2/3`.
Status WhatsApp-nya masih sama dengan target.
`Tidak menerima drama.`
Ironis, karena hidupnya sejak kemarin murni drama.
Menjelang pukul sembilan, rasa mual datang tiba-tiba. Keira bangun untuk mengambil obat di tas kecil yang tadi Angela bawa, tapi tas itu tidak ada di ruang tamu. Ia mengingat-ingat. Angela sempat bilang ada obat tambahan di kantong belanja depan pintu.
Keira mengambil amplop hitam di meja, menyangka itu kartu cadangan unitnya. Kepalanya pening. Koridor terlihat sedikit berputar saat ia keluar.
Ia menempelkan kartu ke smart lock.
Pintu terbuka.
Keira masuk sambil menunduk, menahan perutnya. Dua langkah kemudian, ia berhenti.
Aroma ruangan ini berbeda.
Apartemennya sendiri biasa berbau kertas gambar, cat marker, dan bubur ayam sisa Angela. Ruangan ini berbau kopi, deterjen mahal, dan sesuatu yang hangat seperti kayu.
Keira mengangkat wajah.
Ruang tamu di depannya jelas bukan ruang tamunya.
Sofa abu-abu tua. Rak buku tinggi penuh buku hukum, beberapa komik, dan satu figur kucing hitam kecil. Di dekat jendela, ada tanaman hijau yang terlihat terlalu sehat untuk dimiliki Keira. Sepasang sepatu putih dan sneakers hitam tersusun rapi di rak dekat pintu.
Keira membeku.
"Oh, tidak."
Ia berbalik hendak kabur, tapi pintu sudah menutup otomatis di belakangnya.
Kartu di tangannya bukan kartu unitnya.
Kartu itu milik Xavier.
Keira menatap langit-langit. "Tuhan, kemarin aku minta keajaiban. Ini bukan keajaiban. Ini jebakan karakter utama bodoh."
Ia seharusnya langsung keluar. Benar-benar langsung keluar.
Tapi matanya menangkap rak sepatu itu lagi.
Sneakers putih. Loafer hitam. Sepatu olahraga abu-abu. Semuanya rapi, semua warnanya netral. Di gantungan dekat pintu ada jaket denim gelap dan hoodie hitam-putih yang kemarin dipakai Xavier. Di atas meja kecil, ada jam tangan hitam dan parfum dengan botol minimalis.
Informasi.
Sistem di laci kamarnya seolah berbisik. Kalau ia ingin hidup, ia harus meniru target.
"Lima detik," bisik Keira. "Gue cuma lihat lima detik. Ini bukan mencuri. Ini riset survival."
Lima detik menjadi tiga puluh.
Ia berjalan pelan ke area dekat kamar yang pintunya setengah terbuka. Dari celah itu, ia bisa melihat lemari pakaian. Warna-warna di dalamnya seperti hidup Xavier dirancang oleh orang yang alergi keceriaan: hitam, putih, abu-abu, navy, sedikit cokelat.
Keira mengeluarkan HP, membuat catatan cepat.
`Xavier: basic, clean, mahal, tidak ada warna norak.`
Ia baru selesai mengetik saat sesuatu bergerak dari bawah sofa.
Sepasang mata kuning menatapnya.
Keira menahan napas.
Seekor kucing hitam keluar perlahan. Bulunya pekat, ekornya tegak, wajahnya terlalu percaya diri untuk ukuran makhluk berbulu. Di lehernya ada kalung kecil bertuliskan `Mochi`.
"Halo," bisik Keira. "Aku cuma tersesat. Jangan lapor pemilikmu."
Mochi mengeong.
"Ssst."
Mochi melangkah mendekat.
Keira mundur.
Mochi melompat.
"Aaa!"
Keira terhuyung ke sofa saat kucing itu mendarat tepat di dadanya. Refleks, ia memeluk tubuh kecil berbulu itu agar tidak jatuh. Mochi, bukannya takut, malah menyusup nyaman ke pelukannya dan mengeong lagi seperti baru menemukan bantal pribadi.
Pintu utama berbunyi.
Klik.
Keira menoleh dengan Mochi masih di pelukan, piyama kusut, rambut hampir lepas, dan wajah penuh dosa.
Xavier berdiri di pintu.
Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya selama total dua kejadian memalukan, wajah datar Xavier retak.
Ia menatap Keira.
Menatap Mochi.
Menatap kembali Keira.
"Ini," katanya pelan, "masih survei karpet?"
Panas naik ke seluruh wajah Keira.
"Gue bisa jelaskan."
Mochi mengeong seolah ikut menagih penjelasan.
Xavier menutup pintu di belakangnya. "Silakan."
Keira membuka mulut. Tidak ada kalimat yang pantas keluar. Tidak ada versi cerita yang membuat seorang cewek berpiyama, berada di apartemen cowok asing, sambil memeluk kucingnya, terdengar normal.
"Aku salah masuk."
"Dengan kartu unit gue?"
Keira melihat kartu hitam di tangannya. Tenggorokannya kering.
"Kemarin... kayaknya ketukar."
Xavier diam.
"Aku sakit kepala, terus ambil kartu yang salah. Terus pintunya kebuka. Terus aku sadar ini bukan rumahku. Terus..."
"Terus lo jalan sampai depan kamar gue?"
Keira memejamkan mata. Tamat.
"Riset."
"Apa?"
"Maksudku, refleks. Aku panik. Kalau panik, orang kan bisa jalan nggak jelas."
Xavier menatapnya lama sekali. Keira semakin ingin menyatu dengan sofa.
Lalu Mochi, makhluk pengkhianat itu, menggosokkan kepala ke dagu Keira.
Tatapan Xavier turun ke kucingnya. Sesuatu yang sangat halus lewat di wajahnya. Keira tidak sempat membaca itu apa.
"Mochi biasanya nggak suka orang baru," katanya.
"Mungkin dia punya selera buruk."
"Mungkin."
Keira mengembalikan Mochi ke sofa dengan hati-hati. "Aku pulang."
"Kartu gue."
"Oh. Iya."
Ia menyerahkan kartu itu dengan dua tangan seperti menyerahkan barang bukti di kantor polisi. Lalu ia membuka pintu, hampir tersandung sandal sendiri, dan kabur ke unit seberang tanpa berani menoleh.
Pintu apartemennya tertutup.
Keira menempelkan punggung ke pintu, menutup mata, dan mengeluarkan suara tanpa bentuk.
Di seberang lorong, Xavier masih berdiri di ruang tamu. Dua detik. Tiga detik.
Lalu ia tertawa pelan.
Keira tidak mendengarnya.
Yang ia dengar lima menit kemudian adalah bunyi notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal.
`Besok mau jelaskan soal tadi, atau mau aku lapor satpam? :)`
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!