Indonesia
NovelToon NovelToon

Meraih Bintang

Episode 1

Bab 001

Malam Gala

Rangga Wicaksana tahu ia hanya punya waktu kurang dari tiga menit sebelum layar utama ballroom menyala.

Di depannya, ratusan tamu undangan berdiri dengan gelas kristal di tangan. Gaun malam berkilau, jas hitam mahal, aroma parfum lembut, dan tawa yang sengaja dibuat pelan memenuhi ballroom sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Dari luar, gala dinner itu tampak seperti acara amal biasa. Dari dalam, Rangga tahu sebagian besar orang di ruangan itu datang untuk mencuci nama, uang, atau keduanya.

Di panggung utama, Jenderal Hartono Prakoso sedang berbicara tentang pembangunan daerah.

"Kalimantan bukan sekadar tanah," suara Hartono rendah dan berat, disambut kamera media. "Di sana ada masa depan bangsa. Kita tidak boleh membiarkan rakyat kecil tertinggal."

Rangga menatap pria itu dari sisi ruangan, wajahnya tenang seperti biasa. Tangannya menyentuh saku dalam jas, memastikan flashdisk kecil itu masih ada. Di dalamnya tersimpan laporan pengiriman alat berat ilegal, foto lokasi tambang tanpa izin, rekening perantara PT Garuda Perkasa, dan daftar orang yang menerima aliran dana.

Selama enam bulan ia mengumpulkan semuanya.

Malam ini, ia akan membuat ruangan semahal ini menelan kebenaran yang paling kotor.

"Mas Rangga."

Rangga menoleh sedikit. Reno berdiri dua langkah di belakangnya, wajahnya tegang meski suaranya tetap pelan.

"Tim hotel baru saja mengganti operator layar. Orang kita tidak bisa masuk."

"Siapa yang mengganti?"

"Orang Hartono."

Rangga tidak langsung menjawab. Di panggung, Hartono mengangkat tangan, membuat para tamu bertepuk tangan lebih keras. Di meja VIP, beberapa pejabat tersenyum sambil berpura-pura terharu.

"Berarti dia sudah mencium sesuatu," kata Rangga.

"Kita batalkan?"

Rangga menatap layar besar yang masih menampilkan logo acara amal. Kalau ia mundur sekarang, data itu akan segera basi. Sumbernya di Kalimantan sudah hilang kontak sejak pagi. Orang yang berani mengirim bukti itu mungkin sudah tidak hidup saat ini.

"Tidak."

Reno menarik napas pendek. "Mas, ini bukan rapat direksi. Kalau mereka tahu Anda membawa bukti itu, mereka tidak akan menunggu pengacara."

"Saya juga tidak berniat menunggu mereka."

Rangga mengambil ponsel, membuka folder tersembunyi, lalu mengirim satu pesan terjadwal ke tiga alamat email. Kalau ia gagal memasukkan flashdisk ke sistem hotel, berkas itu tetap akan terkirim. Namun tanpa layar, tanpa saksi, tanpa wajah Hartono tepat di depan kamera, dampaknya akan jauh lebih kecil.

Ia bergerak ke sisi ballroom, melewati pelayan yang membawa nampan canape. Langkahnya tidak tergesa. Orang seperti Rangga tidak berlari di ruang publik. Ia cukup berjalan, dan orang-orang biasanya memberi jalan.

Di dekat pintu servis, seorang pelayan perempuan mendorong troli kosong. Rangga mengangguk kecil padanya, lalu melewati pintu tanpa menunggu izin.

Lorong belakang hotel jauh lebih dingin dan terang. Suara musik dari ballroom terdengar teredam. Di ujung lorong, dua teknisi hotel berdiri di depan ruang kontrol, tetapi wajah mereka bukan wajah staf hotel. Sepatu mereka terlalu kaku. Bahu mereka terlalu siap.

Rangga berhenti setengah detik.

Salah satu dari mereka menoleh.

Mata mereka bertemu.

Rangga berbalik tepat saat pria itu menyentuh earpiece di telinganya.

"Dia di lorong servis."

Kalimat itu pelan, tetapi cukup.

Rangga berjalan cepat. Belokan pertama, kiri. Belokan kedua, melewati dapur. Seorang koki hampir menabraknya dengan panci besar.

"Maaf," kata Rangga singkat.

"Pak, area ini tidak boleh..."

Kalimat itu putus ketika dua pria berjas hitam masuk dari belakang Rangga.

Koki itu langsung diam.

Rangga tidak punya pilihan selain masuk ke dapur utama. Panas dari kompor, bau mentega, saus daging, bawang putih, dan gula karamel langsung menyerbu hidungnya. Di antara staf yang sibuk, ada satu gadis berkaus lusuh sedang berdiri di dekat meja dessert dengan mata berbinar.

Gadis itu tidak memakai seragam.

Di tangan kirinya ada piring kecil berisi dua potong steak, tiga udang panggang, dan sepotong roti. Di tangan kanannya ada sendok yang masih meneteskan saus cokelat.

Ia sedang mengunyah.

Rangga dan gadis itu saling menatap.

"Kamu siapa?" tanya Rangga.

Gadis itu menelan buru-buru. "Staf tambahan."

Rangga menatap sendal jepitnya.

Gadis itu ikut menunduk, lalu mengangkat dagu. "Staf tambahan bagian kelaparan."

Dalam keadaan lain, Rangga mungkin akan menganggap jawaban itu mengganggu. Malam ini, ia hanya melihat pintu keluar di belakang gadis itu.

"Minggir."

"Enak aja. Ini jalan gue duluan."

Pria berjas hitam muncul di ambang pintu dapur. Salah satunya mengeluarkan sesuatu dari balik jas. Bukan pistol, terlalu berisiko di hotel penuh pejabat. Sebuah tongkat pendek logam.

Wajah gadis itu berubah. Ia melihat tongkat itu, lalu melihat Rangga.

"Lu dikejar?"

"Ya."

"Utang?"

"Bukti kejahatan."

"Oh." Gadis itu masih memegang piringnya. "Levelnya beda."

Rangga menyambar pergelangan tangannya dan menariknya menjauh tepat saat tongkat logam menghantam meja dessert. Piring kecil gadis itu jatuh. Saus cokelat menciprat ke lantai putih.

"Woi! Makanan gue!"

"Kalau kamu masih ingin makan besok, lari."

Mereka menerobos pintu belakang dapur. Lorong sempit membawa mereka ke area loading. Di luar, hujan Jakarta turun tipis, membuat lantai semen licin. Suara musik gala berganti menjadi deru mesin pendingin, klakson mobil, dan bentakan seseorang dari jarak dekat.

"Tahan dia!"

Gadis itu tiba-tiba menarik tangannya dari Rangga.

"Sini!"

Ia melompat melewati tumpukan peti air mineral dengan gerakan lincah yang tidak cocok dengan tubuh kurus dan kaus usangnya. Rangga mengikuti, meski jasnya tersangkut ujung besi. Di belakang mereka, langkah para pengejar makin dekat.

"Nama kamu?" Rangga bertanya sambil berlari.

"Sekarang kenalan? Romantis banget, Pak!"

"Saya perlu tahu kalau harus menulis laporan kematian."

"Gak usah doain!" Gadis itu menendang pintu samping hingga terbuka. "Bunga. Bunga Lestari."

Mereka keluar ke koridor parkir bawah tanah. Lampu neon berkedip. Aroma bensin dan air hujan bercampur. Beberapa mobil mewah berjajar seperti hewan mahal yang tidur.

Rangga melihat kamera CCTV di sudut, lalu mengutuk dalam hati. Area itu pasti sudah mereka kuasai.

"Ke kanan," katanya.

"Kanan buntu."

"Kiri ada orang mereka."

"Lu tahu dari mana?"

"Dari cara mereka mengepung."

Bunga menatapnya sekilas, seperti baru menyadari jas mahal dan wajah tenangnya bukan sekadar pajangan. "Oke, Tuan Strategi. Kalau buntu, lu yang jadi tumbal."

Mereka berbelok ke kanan. Benar, ujung koridor ditutup pagar besi untuk area renovasi. Bunga tidak berhenti. Ia menarik satu batang pipa kecil dari tumpukan material dan memukul kunci gemboknya dengan sudut yang tepat.

Tak.

Gembok terbuka.

Rangga menatapnya.

"Anak kampung juga punya skill," kata Bunga cepat. "Jangan kagum dulu."

Mereka masuk ke area renovasi. Lantai belum rata, sebagian tertutup plastik, dan bau semen basah menyengat. Rangga meraba saku jasnya lagi.

Flashdisk masih ada.

Bunga melihat gerakan itu. "Benda kecil itu yang bikin kita hampir mati?"

"Ya."

"Kasih ke gue. Kalau mereka cari lu, gue bisa kabur."

"Tidak."

"Percaya sama orang miskin susah banget, ya?"

Rangga menoleh tajam, tetapi tidak sempat menjawab.

Satu orang muncul dari sisi kiri dan langsung mengayunkan tongkat ke kepala Bunga. Bunga menunduk, memutar tubuh, lalu menyikut perut pria itu. Gerakannya cepat, kasar, dan terlatih. Pria itu terdorong, tetapi yang kedua datang dari belakang.

Rangga menarik Bunga ke samping. Pukulan itu mengenai bahunya. Nyeri menjalar sampai ujung jari, namun wajahnya tetap datar.

"Lu bisa berantem juga?" Bunga terkejut.

"Saya bisa bertahan."

"Beda tipis kalau lagi mau mati."

Mereka mundur sampai punggung Bunga hampir menyentuh dinding beton. Tiga pria mengepung. Di belakang mereka, langkah lain mendekat. Rangga menghitung jarak, sudut, kemungkinan. Terlalu sedikit jalan keluar. Terlalu banyak risiko.

Ponselnya bergetar di saku.

Pesan terjadwal terkirim.

Setidaknya bukti itu sudah keluar.

Salah satu pria menyeringai. "Pak Hartono cuma minta flashdisk. Jangan bikin susah, Mas Rangga."

Bunga langsung menoleh. "Mas Rangga?"

Rangga tidak menjawab. Ia menatap pria itu. "Kalau Pak Hartono ingin bicara, dia tahu nomor saya."

"Beliau sudah bosan bicara."

Pria itu menyerang.

Semua bergerak terlalu cepat. Bunga mendorong Rangga ke belakang, menghantam lutut penyerang pertama dengan pipa, lalu berputar untuk menghindari pukulan kedua. Namun orang ketiga tidak menyerang Rangga.

Ia menyerang Bunga.

Tongkat logam itu diarahkan ke tengkuknya.

Rangga melihatnya sepersekian detik sebelum terjadi. Gadis itu tidak akan sempat menghindar. Kepalanya masih miring, kakinya belum menapak sempurna. Tubuhnya kecil, terlalu ringan untuk menahan hantaman seperti itu.

Rangga tidak berpikir.

Ia menerjang ke depan dan memeluk tubuh Bunga dari samping, memutar posisi mereka.

Hantaman keras menghantam belakang kepalanya.

Dunia pecah menjadi cahaya putih.

Ia mendengar Bunga berteriak, sangat dekat di telinganya. Tubuh mereka jatuh bersamaan ke lantai beton. Flashdisk terlepas dari saku jas, meluncur ke bawah lembar plastik basah.

Rangga mencoba mengangkat tangan, tetapi jarinya tidak bergerak.

Di atasnya, lampu neon berkedip sekali, dua kali, lalu berubah buram.

"Pak! Pak jas mahal! Jangan mati di atas gue!"

Suara Bunga terdengar panik. Tangannya menepuk pipi Rangga, kasar dan hangat.

Rangga ingin mengatakan bahwa secara medis, menepuk pipi korban trauma kepala bukan prosedur yang dianjurkan. Ia juga ingin mengatakan agar gadis itu mengambil flashdisk dan lari.

Tidak ada suara keluar.

Yang terakhir ia rasakan adalah bau saus cokelat yang masih menempel di tangan Bunga, bercampur darah dan hujan yang terbawa dari luar.

Lalu semuanya gelap.

Ketika Bunga membuka mata, yang pertama ia lihat adalah lampu putih rumah sakit yang menusuk.

Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut. Ada suara mesin monitor di sebelah kanan, tirai hijau pucat, dan seseorang berteriak memanggil perawat dari balik pintu.

Ia mencoba bangun.

"Jangan bergerak."

Bunga membeku.

Suara itu laki-laki. Rendah. Tenang. Terlalu dekat.

Ia menoleh ke kiri. Tidak ada siapa-siapa.

Ia menoleh ke kanan. Hanya infus dan kursi kosong.

"Siapa?" bisiknya serak.

Suara itu terdengar lagi, bukan dari telinga, melainkan dari dalam kepalanya.

"Saya juga sedang berusaha memahami situasi ini."

Napas Bunga tertahan.

Monitor di samping ranjang berbunyi lebih cepat.

"Dan untuk sementara," kata suara itu, dingin dan jelas, "tolong jangan berteriak."

Episode 2

Bab 002

Suara di Dalam Kepala

Bunga tetap berteriak.

Tentu saja ia berteriak.

Siapa pun yang baru bangun di ranjang rumah sakit, dengan kepala seperti dipukul palu dan suara laki-laki asing berbicara dari dalam kepala, pasti akan berteriak. Bunga bahkan merasa teriakannya masih kurang keras untuk ukuran kejadian tidak masuk akal seperti ini.

"Mbak! Mbak, tenang!" Seorang perawat membuka tirai dengan cepat. "Jangan banyak bergerak. Kepalanya baru dijahit."

Bunga menarik selimut sampai ke dada. "Ada orang ngomong!"

Perawat itu menoleh ke kursi kosong, lalu ke bawah ranjang. "Di mana?"

"Di sini!" Bunga menunjuk kepalanya sendiri. "Di dalam sini!"

Wajah perawat berubah satu garis lebih kaku.

"Mbak, coba tarik napas dulu, ya."

"Jangan lihat gue kayak orang gila."

"Saya tidak bilang begitu."

"Muka Mbak bilang begitu."

Suara laki-laki itu kembali terdengar, tenang sampai menyebalkan. "Secara teknis, reaksimu memang membuat mereka sulit menyimpulkan hal lain."

Bunga membeku lagi. Matanya membelalak. "Lu diam!"

Perawat ikut membelalak. "Saya?"

"Bukan Mbak."

"Lalu siapa?"

Bunga membuka mulut, lalu menutupnya. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa ada pria berjas mahal yang tadi mungkin mati di atas tubuhnya, sekarang pindah jadi penyiar pribadi di kepalanya?

Ia menekan kedua pelipisnya. "Aduh, rek... gue dipukul atau dikutuk, sih?"

"Tidak ada indikasi kutukan," kata suara itu. "Kemungkinan besar ada anomali neurologis atau sesuatu yang belum bisa saya jelaskan."

"Bahasanya jangan kayak brosur obat!"

Perawat mundur satu langkah. "Saya panggil dokter dulu."

"Jangan!"

Terlambat. Perawat itu sudah keluar dengan langkah cepat.

Bunga menyandarkan punggung ke bantal, napasnya memburu. Ruang gawat darurat itu berbau antiseptik dan obat. Tirai hijau tipis membuat bayangan orang berlalu-lalang terlihat seperti hantu lewat. Di tangan kirinya tertancap infus. Di pergelangan kanannya ada gelang pasien tanpa nama lengkap, hanya tulisan `Perempuan, sekitar 20-an`.

Sekitar 20-an. Bahkan rumah sakit pun tidak yakin dia siapa.

"Kamu bisa mendengar saya?" tanya suara itu.

Bunga menatap langit-langit. "Kalau gue jawab, gue makin kelihatan gila."

"Kamu sudah menjawab sejak tadi."

"Diam."

"Saya perlu memastikan beberapa hal."

"Gue perlu memastikan lu bukan efek obat."

"Kalau saya efek obat, saya tidak akan tahu bahwa di balik tirai sebelah kanan ada petugas administrasi membawa formulir pembayaran."

Bunga spontan menoleh ke kanan. Tirai masih tertutup. Dua detik kemudian, seorang petugas perempuan menyingkapnya sambil membawa papan jalan.

"Mbak, sudah sadar, ya? Kami perlu data pasien. Namanya siapa?"

Bunga menelan ludah. Suara di kepalanya tidak berbohong.

"Bunga," jawabnya pelan. "Bunga Lestari."

"KTP-nya ada?"

Bunga meraba saku celana. Kosong. Celananya bahkan bukan celana yang ia pakai tadi. Rumah sakit memberinya celana pasien longgar. Tas kecilnya entah di mana. Ponsel murahnya hilang. Uang dua puluh ribu yang ia simpan di balik casing ponsel ikut lenyap.

"Gak ada."

"Nomor BPJS?"

"Gak punya."

Petugas itu menghela napas dengan sopan yang dipaksakan. "Keluarga yang bisa dihubungi?"

Bunga menatap selimut.

Tidak ada.

Nenek Ratna sudah lama tidak bisa dihubungi, karena tanah makam tidak punya sinyal. Kak Sari entah di mana, nomor lamanya sudah tidak aktif sejak Bunga datang ke Jakarta. Teman kos? Mereka bahkan tidak tahu nama lengkap Bunga.

"Tidak ada," jawab Bunga.

Petugas menulis sesuatu. "Nanti bagian administrasi akan bicara lagi. Untuk sementara Mbak jangan pergi dulu."

Kalimat `jangan pergi dulu` terdengar seperti pintu besi dikunci dari luar.

Begitu petugas itu pergi, Bunga langsung menurunkan kaki dari ranjang.

"Apa yang kamu lakukan?" suara itu bertanya.

"Kabur."

"Kamu baru saja dijahit."

"Lebih baik dijahit daripada dijual buat bayar tagihan rumah sakit."

"Rumah sakit tidak menjual pasien."

"Lu anak orang kaya, ya?"

Hening sebentar.

Bunga tersenyum miring meski kepalanya berdenyut. "Nah. Ketahuan."

"Saya tidak mengatakan apa pun."

"Justru itu. Orang miskin kalau dengar kata tagihan, refleksnya langsung paham. Lu malah bahas prosedur."

Ia mencabut plester infus dengan gigi.

"Jangan mencabut itu sembarangan," suara itu menajam.

"Kalau lu mau ngatur, muncul sini. Bantu bayar."

"Saya sedang tidak bisa muncul."

"Tentu. Suara kepala memang biasanya gak punya dompet."

Bunga meringis saat jarum infus keluar. Darah kecil muncul di punggung tangannya. Pada detik yang sama, suara laki-laki itu terhenti. Bunga merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada orang lain ikut menahan napas di dalam dadanya.

"Kamu merasakannya?" tanyanya curiga.

"Ya."

Nada pria itu berubah. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak tipis.

Bunga menekan bekas infus dengan kapas. "Lu ngerasain sakit gue?"

"Tampaknya begitu."

"Bagus." Bunga menarik napas, lalu mencubit lengannya sendiri keras-keras.

"Akh!" suara itu tertahan.

Bunga hampir tertawa. "Oh, ini menarik."

"Jangan lakukan itu lagi."

"Lu jangan sok jadi bos di kepala gue."

"Kita perlu bekerja sama."

"Kita? Gue belum setuju ada kontrakan gratis di otak gue."

Langkah beberapa orang terdengar dari luar tirai. Dokter dan perawat mungkin kembali, mungkin bersama petugas keamanan kalau mereka menganggapnya pasien bermasalah. Bunga melihat sekeliling. Sandal tidak ada. Tas tidak ada. Pakaian aslinya juga tidak ada.

"Lihat ke kiri," kata suara itu.

"Apa?"

"Kiri. Rak linen."

Bunga menoleh. Di sudut ruangan ada rak berisi selimut bersih, masker, dan beberapa kantong plastik transparan berlabel barang pasien. Salah satunya berisi kaus lusuh, celana jeans, dan sendal jepit merah miliknya.

"Kok lu tahu?"

"Saya melihat ketika perawat masuk tadi. Kamu terlalu sibuk panik."

"Lu bisa lihat yang gue lihat?"

"Sepertinya demikian."

Bunga merinding, bukan karena dingin. Ia merasa telanjang dengan cara yang lebih buruk daripada tubuh tanpa baju. Matanya, telinganya, rasa sakitnya, semua bisa disentuh pria asing ini.

"Jangan lihat sembarangan," katanya pelan.

Suara itu ikut pelan. "Saya akan berusaha menjaga batas."

Jawaban itu terlalu sopan untuk situasi seabsurd ini. Bunga tidak tahu harus percaya atau menendang dinding.

Tirai terbuka sedikit. Sebelum dokter masuk, Bunga menyambar kantong barangnya, merunduk ke balik ranjang sebelah, lalu menyelinap keluar dari celah tirai lain. Tubuhnya limbung. Jahitan di kepala menarik kulitnya setiap kali ia bergerak.

"Jalan biasa," suara itu menginstruksikan. "Jangan seperti orang kabur."

"Gue memang kabur."

"Maka jangan terlihat seperti itu."

Bunga menggigit bibir. Ia menegakkan punggung dan berjalan melewati koridor. Seorang perawat menatapnya.

"Mbak, mau ke mana?"

Bunga hampir berlari.

"Jawab," kata suara itu cepat. "Katakan mau ke toilet. Tunjuk arah yang salah agar dia mengoreksi."

Bunga mengangkat tangan ke kiri. "Toilet sebelah sana, ya?"

"Sebelah kanan, Mbak," jawab perawat otomatis.

"Makasih."

Begitu melewati belokan, Bunga masuk ke toilet. Ia mengganti baju secepat mungkin, menahan nyeri, lalu keluar lewat pintu samping yang menuju lorong staf. Suara itu terus memberi arahan, mengingat posisi kamera, jam pergantian satpam, dan pintu darurat yang tidak dijaga karena dipakai kurir makanan.

"Kamu terlalu pintar buat suara gentayangan," gumam Bunga.

"Saya bukan suara gentayangan."

"Terus siapa?"

Hening.

Bunga berhenti di dekat pintu darurat. Di baliknya, suara jalan raya terdengar samar. "Nama lu siapa?"

"Untuk saat ini, sebut saja saya Tuan Misterius."

Bunga melongo. "Serius? Itu nama pilihan lu?"

"Lebih baik daripada kamu memanggil saya suara kepala."

"Tuan Misterius," ulang Bunga, lalu mendengus. "Norak banget, tapi cocok. Sok mahal."

Ia mendorong pintu darurat dan keluar ke gang samping rumah sakit. Udara malam Jakarta menampar wajahnya, lembap, bau knalpot, gorengan, dan selokan. Kepalanya masih sakit, perutnya kosong, tapi ia bebas dari meja administrasi.

Setidaknya untuk sementara.

Dua puluh menit kemudian, Bunga duduk jongkok di tepi trotoar dekat warung kaki lima. Ia berhasil menukar anting imitasi kecilnya dengan sebungkus nasi, telur dadar, sambal, dan sedikit ayam suwir. Bukan transaksi paling adil dalam hidupnya, tetapi malam ini ia tidak punya tenaga untuk tawar-menawar.

Ia membuka bungkus kertas minyak itu. Uap hangat naik ke wajahnya.

"Kamu yakin itu aman dimakan?" tanya Tuan Misterius.

"Kalau mati karena nasi bungkus, minimal mati kenyang."

"Standar keselamatanmu mengkhawatirkan."

"Standar hidup gue realistis."

Bunga menyuap nasi pertama. Sambal pedas menyengat lidah, telur dadar masih agak hangat, ayam suwirnya asin, dan nasi putihnya pulen di bagian tengah, sedikit keras di pinggir karena sudah lama di termos.

Di dalam kepalanya, Tuan Misterius tiba-tiba diam total.

Bunga berhenti mengunyah. "Kenapa?"

Tidak ada jawaban.

"Woi, Tuan Misterius. Lu mati?"

"Tidak."

Suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya.

Bunga menyuap lagi, kali ini dengan sambal lebih banyak. Rasa pedas membuat matanya sedikit berair.

Tuan Misterius menarik napas, seolah ia yang sedang makan setelah bertahun-tahun lupa caranya.

"Ini," katanya pelan, "makanan terbaik yang pernah saya makan."

Bunga menatap nasi bungkus di tangannya, lalu tertawa kecil.

"Selamat datang di dunia orang lapar, Tuan."

Episode 3

Bab 003

Perjanjian

"Selamat datang di dunia orang lapar, Tuan."

Bunga mengucapkannya sambil mengaduk sisa sambal di atas kertas minyak. Ia berniat mengejek, tetapi suara itu tidak langsung membalas. Diamnya Tuan Misterius kali ini berbeda. Bukan diam sombong, melainkan seperti orang yang baru menemukan jendela di ruang yang terlalu lama terkunci.

Angin malam membawa bau asap sate dari ujung jalan. Mobil lewat tanpa peduli pada gadis berkaus lusuh yang duduk di trotoar dengan kepala diperban seadanya. Jakarta memang begitu. Kota ini bisa menelan orang tanpa sendawa.

"Kamu selalu makan seperti ini?" tanya Tuan Misterius akhirnya.

"Kalau lagi kaya, pakai kerupuk."

"Itu bukan jawaban serius."

"Itu jawaban paling serius dari orang yang tadi bayar makan pakai anting imitasi."

Bunga melipat kertas nasi, lalu menyelipkannya ke kantong plastik warung. Nenek Ratna dulu selalu bilang, miskin bukan alasan meninggalkan sampah sembarangan. Tangan Bunga bergerak otomatis, seolah omelan Nenek masih berdiri di belakangnya.

Perasaan itu menusuk sedikit.

Tuan Misterius menangkap perubahan napasnya. "Kamu kesakitan?"

"Kepala gue dijahit, Tuan. Masa geli?"

"Bukan itu."

Bunga terdiam. Ia tidak suka laki-laki ini terlalu cepat membaca sela-sela. Di dalam kepala sendiri saja rasanya ia tidak punya tempat bersembunyi.

"Dengar," katanya sambil berdiri pelan. "Kita harus bikin aturan."

"Saya setuju."

"Pertama, jangan komentar setiap kali gue makan."

"Sulit, tapi akan saya usahakan."

"Kedua, jangan lihat kalau gue mandi, ganti baju, atau apa pun yang normalnya orang sopan gak lihat."

"Saya sudah mengatakan akan menjaga batas."

"Ketiga, kalau lu tahu cara keluar dari kepala gue, lakukan."

Hening.

Bunga mengangkat alis. "Nah. Masalahnya di situ, kan?"

"Saya belum tahu caranya."

"Berarti kita sama-sama sial."

"Tidak sepenuhnya." Nada Tuan Misterius kembali rapi. "Kamu butuh bantuan. Saya juga."

Bunga berjalan menjauh dari warung. Kakinya masih sedikit goyah, tetapi ia menolak duduk lagi. Kalau duduk terlalu lama, tubuhnya akan sadar bahwa ia hampir mati malam ini.

"Bantuan apa yang lu punya? Dompet aja gak ada."

"Pengetahuan."

"Pengetahuan gak bisa buat bayar kos."

"Bisa, kalau digunakan benar."

Bunga tertawa pendek. "Orang kaya kalau ngomong memang suka begitu. Uang mereka berubah nama jadi pengetahuan, jaringan, peluang. Di bawah sini namanya tetap nasi dan kontrakan."

"Maka katakan apa yang kamu inginkan."

Langkah Bunga berhenti.

Pertanyaan itu terlalu besar untuk trotoar sempit dan perban murahan di kepalanya. Apa yang ia inginkan? Makan cukup? Tidur di kamar yang pintunya bisa dikunci? Ponsel baru? Tidak dikejar satpam mal karena bajunya lusuh?

Tidak.

Semua itu hanya kulit.

Yang ia inginkan berdiri jauh lebih tinggi, di balik gedung kaca, mobil hitam, meja VIP, dan senyum orang-orang seperti Hartono.

"Gue mau masuk ke dunia mereka," kata Bunga pelan.

"Mereka?"

"Orang-orang di ballroom tadi. Yang sekali buang makanan bisa buat gue makan seminggu. Yang kalau ngomong semua orang diam. Yang kalau salah, ada pengacara. Kalau jahat, ada acara amal buat cuci muka."

Tuan Misterius diam, tetapi Bunga tahu ia mendengarkan.

"Gue mau belajar cara mereka berdiri, cara mereka bicara, cara mereka bohong. Gue mau ada di ruangan yang sama dengan mereka tanpa diusir."

"Untuk apa?"

Bunga menatap pantulan dirinya di kaca minimarket yang sudah tutup. Kausnya kusut, perbannya miring, sendal jepitnya beda warna karena satu tertukar di rumah sakit. Ia tampak seperti lelucon yang tersesat di Jakarta.

Namun matanya tidak bercanda.

"Untuk mendekati Hartono Prakoso."

Nama itu membuat udara di dalam kepalanya berubah. Bunga merasakan dingin yang bukan miliknya, tajam dan tertahan. Tuan Misterius mengenal nama itu. Bukan sekadar tahu, tetapi benci.

"Apa hubunganmu dengan Hartono?" tanyanya.

Bunga menutup mata sebentar.

Desa Kemuning muncul seperti luka lama yang ditekan. Jalan tanah setelah hujan. Bau daun basah. Suara Nenek Ratna menghitung gerakan pencak silat di halaman. Tangan tua itu keras saat membetulkan posisi kuda-kuda Bunga, tetapi selalu hangat saat menyodorkan makan.

Bunga bukan lahir dari keluarga. Ia ditemukan, dibesarkan, dimarahi, dilatih, dan dicintai oleh seorang perempuan tua yang semua orang panggil Nenek Ratna.

"Dia membunuh orang yang membesarkan gue," kata Bunga.

Tidak ada tawa dalam suaranya sekarang.

"Nenek Ratna bukan nenek kandung, tapi dia satu-satunya keluarga gue. Di Desa Kemuning, dia ngajarin gue silat, ngajarin baca, ngajarin jangan takut sama orang yang pakai sepatu mahal. Lalu orang-orang Hartono datang. Katanya tanah desa masuk proyek tambang. Katanya kami harus pergi."

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Nenek menolak. Banyak orang menolak. Setelah itu rumah-rumah dibakar, beberapa orang hilang, dan Nenek..." Bunga berhenti. Rahangnya mengeras. "Gue cuma sempat lihat tubuhnya di lantai rumah, dengan darah di dekat mulutnya."

Untuk pertama kalinya sejak mereka berbagi kepala, Tuan Misterius tidak menyela dengan logika.

"Gue lari dari Desa Kemuning ke Jakarta," lanjut Bunga. "Gue jadi apa aja. Cuci piring, angkat galon, tidur di emperan, masuk acara orang kaya buat curi makanan. Semua supaya gue bisa tetap hidup sampai punya kesempatan."

"Kesempatan untuk membunuh Hartono?"

Bunga membuka mata. "Kalau bisa."

"Itu bukan rencana. Itu bunuh diri yang diberi nama dendam."

"Lu pikir gue gak tahu?"

"Kalau kamu tahu, kamu seharusnya mencari cara lain."

"Makanya gue butuh masuk ke dunia mereka." Bunga menepuk dadanya sendiri. "Gue punya badan, nyali, dan dendam. Tapi gue gak punya peta."

Tuan Misterius menjawab lebih pelan, "Saya punya peta."

Bunga menunggu.

"Saya juga ingin menjatuhkan Hartono Prakoso."

Kali ini Bunga yang diam.

Sebuah motor lewat terlalu dekat, membuat ujung bajunya berkibar. Ia tidak bergerak. Di dalam kepalanya, kebencian Tuan Misterius terasa seperti baja tipis yang disimpan lama di bawah kain beludru.

"Kenapa?" tanya Bunga.

"Karena dia membangun kerajaan dari tambang ilegal, pembunuhan, pengusiran, dan uang kotor. Karena hukum selalu berhenti satu langkah sebelum menyentuhnya. Karena malam ini saya hampir berhasil membuka buktinya di depan publik."

"Flashdisk itu."

"Ya."

"Berarti lu bukan cuma cowok jas mahal yang apes."

"Deskripsi itu tetap akurat, tetapi tidak lengkap."

Bunga hampir tersenyum, lalu menahannya. "Jadi apa mau lu?"

"Bantu saya bergerak. Tubuh saya tidak bisa saya pakai sekarang. Saya tidak tahu di mana kondisi fisik saya, tetapi selama saya berada di dalam kesadaranmu, saya perlu mata, telinga, dan tangan."

"Tangan gue mahal."

"Saya bisa membayarnya."

"Katanya gak punya dompet."

"Saya punya akses, jaringan, dan pengetahuan tentang cara kerja orang-orang yang ingin kamu masuki."

Bunga mengangkat satu jari. "Syarat gue pertama, lu bantu gue masuk ke lingkaran elite Jakarta."

"Bisa."

"Jangan gampang banget jawabnya. Gue ini cuma cewek kampung dengan baju jelek dan logat medok."

"Justru itu bisa digunakan."

"Digunakan gimana?"

"Kejujuran yang diarahkan dengan benar terlihat seperti keberanian. Kekurangan yang diberi cerita tepat bisa berubah menjadi daya tarik."

Bunga menatap kosong beberapa detik. "Tuan, kalau lu lagi jual seminar motivasi, gue pulang."

"Saya sedang menyusun strategi."

"Syarat kedua," Bunga melanjutkan. "Lu gak boleh mengambil alih badan gue tanpa izin."

Tuan Misterius hening sesaat. "Saya bahkan belum tahu apakah itu mungkin."

"Kalau nanti mungkin, ingat dari sekarang. Ini badan gue."

"Saya setuju."

"Syarat ketiga, jangan bohong soal Hartono."

"Kamu juga."

Bunga mengulurkan tangan ke udara kosong. "Deal?"

"Kamu sadar saya tidak bisa menjabat tanganmu?"

"Simbolis, Tuan. Orang miskin juga ngerti simbol."

Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa. Lalu Bunga merasakan sesuatu yang aneh, bukan sentuhan, tetapi kesadaran lain yang mendekat pelan, seperti seseorang berdiri tepat di sampingnya tanpa mengambil ruang.

"Deal," kata Tuan Misterius.

Bunga menurunkan tangan. "Oke. Sekarang gimana caranya gue masuk dunia mereka?"

"Ada sebuah socialite gathering tiga hari lagi. Tamu utamanya Baskara Prawira."

"Siapa lagi itu?"

"Keponakan Hartono. Pewaris Keluarga Prawira. Akses yang lebih halus menuju pamannya."

Bunga langsung tegak. Rasa sakit di kepalanya seperti lupa hadir. "Lu bisa masukin gue ke sana?"

"Sebagai plus one, mungkin."

"Plus one siapa?"

"Itu yang perlu kita atur."

Bunga menatap bayangannya lagi di kaca minimarket. Kaus lusuh, celana kusut, sendal jepit, rambut berantakan, perban di kepala.

Tuan Misterius juga melihatnya melalui mata yang sama.

Diam mereka kali ini kompak.

Akhirnya Bunga menunjuk dirinya sendiri. "Dengan tampilan begini?"

Suara Tuan Misterius terdengar sangat datar.

"Ya. Itu masalah pertama kita."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!