Indonesia
NovelToon NovelToon

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Episode 1

Bab 001

Anak Haram

Gerbang besi rumah keluarga Lim terbuka tepat ketika langit Jakarta mulai menumpahkan hujan.

Seraphina Lim berdiri di bawah payung hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya, satu tangan menggenggam gagang koper, satu tangan lagi menahan ujung jas hujan tipis yang mulai basah di bagian lengan. Di balik pagar tinggi itu, halaman rumah Lim terbentang seperti taman milik hotel bintang lima. Lampu sorot tersembunyi di antara pohon palem, memantulkan cahaya ke jalan setapak dari batu alam yang licin terkena air.

Di Surabaya, hujan biasanya membuat rumah terasa hangat. Bau tanah naik dari halaman, Mama Kartika akan berteriak dari dapur agar ia tidak lupa minum jahe, sementara Papa Budiman menutup koran dan bertanya apakah tugasnya sudah selesai.

Di sini, hujan hanya membuat dinding putih rumah besar itu tampak lebih dingin.

Seorang satpam membuka pintu pos, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan seperti kepada anak perempuan pemilik rumah yang baru pulang.

"Nona Seraphina?" tanyanya, lebih mirip memastikan nama di daftar tamu.

"Ya."

Satpam itu menunduk sekadarnya, lalu mengangkat tangan ke arah rumah utama. "Silakan masuk. Tuan sudah menunggu."

Tuan.

Bukan Papa.

Seraphina menelan rasa getir yang naik ke tenggorokan. Ia menyeret kopernya melewati jalan setapak, roda kecil koper beradu dengan batu basah, menghasilkan bunyi kasar yang terdengar terlalu keras di halaman seluas itu. Tidak ada seorang pun keluar menyambut. Tidak ada payung tambahan. Tidak ada tangan yang mengambil kopernya.

Di anak tangga teras, seorang pria paruh baya berdiri dengan setelan abu-abu tua. Wajahnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, rahangnya keras seperti sudah lama terbiasa memberi perintah dan tidak menerima bantahan.

Hendrawan Lim.

Orang yang secara darah adalah ayahnya.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan dengan cheongsam modern warna krem, kalung mutiara melingkar di lehernya. Meilin Lim tampak anggun, tetapi jemarinya saling meremas di depan perut. Matanya jatuh ke wajah Seraphina, bertahan satu detik terlalu lama, lalu cepat-cepat turun ke koper.

Seraphina berhenti di anak tangga paling bawah. Hujan memukul payung di atas kepalanya.

"Selamat malam," ucapnya.

Hendrawan melihat jam di pergelangan tangannya. "Pesawatmu mendarat pukul lima. Sekarang hampir tujuh."

Tidak ada, apa kabar.

Tidak ada, perjalananmu baik-baik saja?

Seraphina melipat payungnya perlahan. Tetes air jatuh di lantai marmer teras. "Macet dari bandara."

"Jakarta memang begitu. Kalau ingin tinggal di sini, kau harus terbiasa."

Kalau ingin tinggal di sini.

Seolah ia yang meminta.

Meilin bergerak sedikit, seperti hendak maju. "Sera..."

Nama itu keluar begitu pelan, hampir tenggelam oleh hujan.

Seraphina menatapnya. Di antara semua hal asing di rumah ini, suara itu justru yang paling membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena hangat, melainkan karena terlalu hati-hati. Seperti Meilin takut memecahkan sesuatu yang sudah retak sejak lama.

"Bu Meilin," jawab Seraphina.

Wajah Meilin berubah pucat. Tangannya yang tadi hendak terulur berhenti di udara, lalu turun kembali.

Hendrawan menoleh singkat kepada istrinya, cukup untuk membuat Meilin menutup mulut. Setelah itu ia memberi isyarat kepada pria berseragam hitam yang berdiri di dekat pintu.

"Bawa barangnya ke kamar."

Pria itu maju mengambil koper Seraphina. Seraphina tidak langsung melepas gagangnya.

"Saya bisa bawa sendiri."

Alis Hendrawan bergerak tipis. "Di rumah ini ada aturan. Staf mengurus barang tamu."

Tamu.

Kata itu akhirnya keluar juga, hanya disamarkan dengan nada sopan.

Seraphina melepaskan koper itu. "Baik."

Ia masuk melewati pintu utama. Udara dingin dari dalam rumah langsung menyentuh kulitnya. Lobi keluarga Lim terlalu luas untuk disebut rumah. Lampu kristal menggantung tinggi, cahayanya menimpa lantai marmer hitam putih. Di dinding kanan, deretan foto keluarga dipajang dalam bingkai emas. Hendrawan muda. Meilin dengan senyum yang lebih hidup. Darren dalam seragam sekolah internasional. Yolanda dengan gaun pesta ulang tahun, memegang buket mawar putih.

Tidak ada Seraphina.

Tentu saja.

Ia hanya berdiri beberapa detik di depan foto-foto itu. Cukup lama bagi Meilin untuk menyadari ke mana pandangannya pergi.

"Foto-foto lama," kata Meilin cepat. "Nanti... nanti kita bisa tambah."

Seraphina menoleh. "Tidak perlu repot."

Meilin seperti tertampar, tetapi ia tidak membalas. Bibirnya bergerak, tidak ada suara yang keluar.

Hendrawan berjalan lebih dulu menuju ruang tengah. "Darren belum pulang dari kantor. Yolanda ada di atas. Kau akan bertemu mereka nanti."

"Saya sudah pernah bertemu Yolanda," kata Seraphina.

Langkah Hendrawan berhenti setengah detik.

Empat tahun lalu, di pesta ulang tahun ke delapan belas Yolanda, Seraphina pernah berdiri di teras rumah ini dengan gaun biru muda yang dipilihkan Meilin melalui asisten. Saat itu semua orang menatapnya seperti noda pada kain mahal. Yolanda menangis di tengah pesta, mengatakan kepalanya pusing, lalu menolak turun kalau Seraphina masih berada di sana.

Malam itu juga Seraphina dikirim kembali ke Surabaya.

Tidak ada yang mengatakan ia harus pulang. Mereka hanya mengatur mobil, memasukkan kopernya, dan menutup pintu.

Hendrawan berbalik. "Empat tahun lalu situasinya berbeda."

"Sekarang juga tidak terlihat jauh berbeda."

Keheningan turun.

Seorang pelayan perempuan yang sedang membawa nampan teh berhenti di ambang pintu. Matanya membesar sedikit, lalu cepat-cepat menunduk.

Meilin berbisik, "Sera..."

Hendrawan tidak menaikkan suara. Justru karena itu, kalimatnya terdengar lebih tajam. "Kau baru sampai. Jangan mulai dengan sikap keras kepala."

Seraphina menatap pria itu. Ada banyak kalimat yang bisa ia ucapkan. Tentang dua puluh tahun lebih hidupnya yang tidak pernah benar-benar dicari. Tentang bagaimana ia menerima panggilan mendadak dari Jakarta, diminta pulang seolah ia koper lama yang akhirnya dibutuhkan. Tentang Mama Kartika yang menatapnya lama di bandara Juanda, lalu hanya berkata, "Kalau mereka menyakitimu, pulang."

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Di rumah ini, setiap kata pasti ditimbang bukan sebagai perasaan, melainkan sebagai kelemahan.

"Saya mengerti," jawabnya.

Ruang tengah sudah disiapkan seperti panggung. Sofa kulit warna gading, meja kopi dari batu onyx, aroma teh oolong hangat, dan vas tinggi berisi anggrek putih. Semua terlalu bersih. Terlalu sempurna. Terlalu tidak hidup.

Meilin duduk lebih dulu, lalu memberi isyarat kepada Seraphina untuk duduk di sampingnya. Hendrawan memilih kursi tunggal di seberang, posisi yang membuatnya tampak seperti hakim.

Seraphina duduk dengan punggung tegak. Ia meletakkan tas kecilnya di pangkuan.

"Mulai hari ini," kata Hendrawan, "kau tinggal di sini sebagai bagian dari keluarga Lim. Tapi kau harus paham, nama Lim bukan sesuatu yang bisa dipakai sembarangan. Ada reputasi, ada lingkaran sosial, ada aturan."

Seraphina memandang cangkir teh di depannya. Permukaan teh tenang, tidak terganggu sedikit pun oleh suara hujan di luar.

"Aturan seperti apa?"

"Jangan membuat keributan. Jangan bicara pada media. Jangan membahas masa lalumu dengan orang luar. Kalau ada undangan sosial, kau datang sesuai arahan Papa."

Papa.

Ia mengucapkannya dengan mudah, seakan satu kata cukup untuk menutup semua jarak.

"Dan," Hendrawan melanjutkan, "kau tidak perlu membawa kebiasaan lama dari Surabaya ke sini. Jakarta berbeda. Orang menilai dari cara berjalan, cara bicara, cara memilih teman."

Seraphina tersenyum tipis. "Saya kira orang dinilai dari apa yang dia lakukan."

Tatapan Hendrawan mengeras. "Itu pikiran idealis. Di keluarga seperti kita, persepsi sering lebih penting daripada kebenaran."

Meilin menunduk. Jari-jarinya kembali saling meremas.

Seraphina melihat gerakan itu. Aneh, bagian paling rapuh dari ruangan ini justru perempuan yang seharusnya paling berhak memeluknya. Namun Meilin duduk hanya beberapa jengkal darinya, kaku seperti tamu yang salah masuk acara.

"Kamar Sera sudah disiapkan?" tanya Meilin kepada pelayan, mungkin karena tidak tahan pada percakapan itu.

"Sudah, Nyonya."

"Di sayap timur," kata Hendrawan. "Dekat kamar tamu. Lebih tenang."

Dekat kamar tamu.

Seraphina hampir tertawa.

Dari lantai dua terdengar bunyi hak sepatu mengetuk tangga. Pelan, terukur, sengaja dibuat terdengar. Semua kepala di ruang tengah menoleh.

Yolanda Lim turun dengan gaun rumah warna putih susu, rambutnya jatuh rapi melewati bahu. Di tangannya ada ponsel. Wajahnya cantik dengan cara yang biasa dipuji orang di pesta, lembut, mahal, dan tahu bahwa ia sedang diperhatikan.

"Papa, Mama," sapanya manis.

Lalu matanya berhenti pada Seraphina.

Senyum Yolanda tidak hilang. Hanya berubah bentuk.

"Oh," katanya, seolah baru melihat sesuatu yang tidak sengaja tertinggal di ruang tamu. "Dia sudah datang."

Meilin berdiri. "Yolanda, ini Sera. Kakakmu."

Kakak.

Kata itu menggantung di udara, canggung dan asing.

Yolanda turun satu anak tangga lagi, lalu tertawa kecil. "Kakak? Mama bercanda?"

"Yolanda," tegur Hendrawan.

Nada itu bukan teguran sungguhan. Lebih mirip peringatan agar ia tidak terlalu kasar di depan staf.

Yolanda mengabaikannya. Ia berjalan ke ruang tengah, berhenti di depan Seraphina, lalu menatap pakaian Seraphina dari atas sampai bawah. Blus putih sederhana. Celana panjang hitam. Jam tangan tanpa logo besar. Sepatu datar yang bersih tapi jelas bukan keluaran butik yang biasa dipakai Yolanda.

"Aku pikir orang Surabaya setidaknya akan berdandan kalau pertama kali datang ke rumah keluarga Lim," ucap Yolanda pelan, tetapi cukup keras untuk didengar pelayan di dekat pintu.

Seraphina mengangkat wajah. "Aku pikir keluarga Lim setidaknya akan mengajarkan sopan santun kepada anak yang dibesarkan di rumah ini."

Pelayan itu menahan napas.

Senyum Yolanda membeku.

Meilin memegang lengan sofa. "Sudah, kalian berdua..."

"Tidak apa-apa, Mama." Yolanda menoleh kepada Meilin dengan wajah terluka yang terlalu cepat muncul. "Aku hanya menyapa. Mungkin dia belum terbiasa dengan cara bicara keluarga."

"Aku cukup terbiasa dengan cara bicara orang yang tidak menyukaiku," jawab Seraphina.

Mata Yolanda berkilat. Sesuatu yang manis di wajahnya retak, memperlihatkan rasa benci yang lebih tua dari pertemuan malam ini.

"Kalau begitu kau harusnya juga terbiasa sadar diri," kata Yolanda. "Rumah ini punya sejarah. Punya nama. Tidak semua orang bisa tiba-tiba masuk hanya karena Papa kasihan."

Seraphina tidak bergerak.

Hendrawan meletakkan cangkirnya sedikit lebih keras di meja. "Cukup."

Namun Yolanda sudah terlalu jauh untuk berhenti. Mungkin ia merasa aman karena selama ini setiap air matanya selalu lebih dipercaya daripada diam Seraphina. Mungkin ia ingin memastikan sejak malam pertama siapa yang berhak berdiri di bawah lampu kristal rumah ini.

Yolanda mendekat setengah langkah.

"Jangan salah paham, Seraphina. Kau boleh memakai nama Lim sekarang. Tapi semua orang tahu kau siapa." Senyumnya kembali, lebih kejam. "Anak haram tetap anak haram."

Ruang tengah menjadi sangat sunyi.

Hujan di luar terdengar lebih keras daripada napas orang-orang di dalam.

Meilin menutup mulutnya. Matanya basah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hendrawan menatap Yolanda, lalu menatap Seraphina, seakan sedang menghitung kerugian sosial dari kalimat itu. Pelayan di pintu menunduk sangat dalam. Di ujung tangga, seorang pria muda yang baru tiba berdiri membeku dengan jas kerja masih melekat di tubuhnya.

Darren Lim.

Seraphina mengenalinya dari foto keluarga.

Ia baru saja mendengar semuanya.

Selama beberapa detik, Seraphina merasakan tubuhnya seperti kembali menjadi gadis dua puluh dua tahun di pesta ulang tahun empat tahun lalu, berdiri sendirian di teras dengan gaun biru muda, mendengar bisik-bisik orang yang tidak tahu apa-apa tetapi merasa berhak menghakimi.

Bedanya, malam ini ia tidak akan masuk mobil dan pergi sebelum pesta selesai.

Seraphina berdiri.

Gerakannya pelan, tanpa bunyi. Ia menatap Yolanda, lalu melihat satu per satu wajah di ruangan itu. Meilin yang gemetar. Hendrawan yang diam. Darren yang terlambat datang. Staf yang pura-pura tidak mendengar.

Terakhir, pandangannya kembali ke Yolanda.

"Aku tidak meminta dilahirkan di keluarga ini," ucap Seraphina. Suaranya tenang, lebih tenang daripada hujan di luar. "Tapi aku juga tidak akan meminta maaf karena aku ada."

Episode 2

Bab 002

Keluarga yang Dingin

Tidak ada yang langsung menjawab.

Yolanda berdiri dengan dagu terangkat, tetapi ujung jarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat. Meilin masih menutup mulut, matanya basah. Hendrawan menatap Seraphina seolah baru pertama kali menyadari bahwa gadis yang ia panggil pulang dari Surabaya itu tidak akan mudah dilipat.

Di ujung tangga, Darren Lim akhirnya bergerak.

"Yolanda," katanya pelan.

Satu kata saja. Tidak keras. Tidak cukup untuk disebut pembelaan.

Namun bagi Yolanda, satu kata itu cukup untuk membuat wajahnya berubah. Ia menoleh kepada Darren dengan mata melebar, seperti anak kecil yang baru saja dikhianati.

"Ko Darren juga mau menyalahkan aku?"

Darren turun dua anak tangga, lalu berhenti. Jas kerjanya masih basah sedikit di bagian bahu. Ia melihat Seraphina, ada sesuatu yang rumit di matanya. Rasa bersalah, mungkin. Atau rasa ingin tahu. Atau ketidakberanian yang sudah terlalu lama menjadi kebiasaan.

"Aku hanya bilang, sudah malam."

Seraphina hampir tersenyum.

Sudah malam.

Itu cara keluarga Lim menghentikan luka, bukan dengan meminta maaf, melainkan dengan memindahkan jam.

Hendrawan berdiri. "Cukup. Semua orang kembali ke kamar masing-masing."

Yolanda membuka mulut, hendak protes, tetapi tatapan Hendrawan membuatnya menelan kata-kata. Ia berbalik dengan gerakan tajam. Saat melewati Seraphina, bahunya sengaja menyenggol lengan Seraphina.

Tidak keras, tetapi cukup untuk menunjukkan niat.

Seraphina tidak bergeser.

Yolanda berhenti setengah detik karena tubuh Seraphina tidak memberi ruang. Senyumnya kembali tipis, lalu ia melangkah ke tangga.

"Selamat malam, Kakak," ucapnya manis.

Kata itu terdengar lebih tajam daripada hinaan.

Seraphina menatap punggungnya. "Selamat malam, Yolanda."

Darren masih berdiri di tangga. Ketika mata mereka bertemu, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak sedikit, tetapi akhirnya hanya mengangguk kaku.

"Sera," panggilnya.

Seraphina menunggu.

Darren menelan ludah. "Koper kamu sudah dibawa ke kamar. Kalau butuh sesuatu..."

"Saya akan minta ke staf."

Kalimat itu memotong ruang di antara mereka.

Darren terdiam. Lalu, pelan-pelan, ia mengangguk lagi.

Meilin berdiri dari sofa. "Mama antar ke kamar."

Seraphina menoleh. "Bu Meilin tidak perlu repot."

Kata `Bu Meilin` membuat napas Meilin tertahan. Seraphina melihat luka itu muncul di wajahnya, tetapi ia tidak bisa memaksa diri untuk melembut. Ada jarak yang tidak bisa ditutup hanya karena seseorang tiba-tiba ingin memakai kata Mama.

Hendrawan memberi isyarat kepada pelayan. "Antar Nona Seraphina."

Pelayan perempuan itu menunduk. "Baik, Tuan."

Kamar yang disiapkan untuk Seraphina berada di sayap timur lantai dua, setelah melewati lorong panjang yang lampunya menyala otomatis saat orang melangkah. Di satu sisi lorong ada jendela tinggi menghadap taman belakang. Di sisi lain, beberapa pintu kamar tertutup rapat. Tidak ada suara keluarga. Tidak ada tawa. Rumah sebesar itu ternyata bisa terasa lebih sepi daripada kamar kos mahasiswa.

Pelayan membuka pintu terakhir.

"Ini kamar Nona."

Seraphina masuk. Ruangan itu luas, bersih, dan dingin. Seprai putih tanpa lipatan, meja rias tanpa barang pribadi, lemari kosong yang sudah diberi pewangi, bunga segar di vas kaca. Semua tampak mahal, tetapi tidak ada satu pun yang terasa disiapkan untuk dirinya.

Lebih mirip kamar hotel.

Atau kamar tamu yang diberi nama baru.

"Kalau Nona butuh sesuatu, tekan bel di samping tempat tidur," kata pelayan.

"Terima kasih."

Pelayan itu ragu sebentar. Matanya bergerak ke wajah Seraphina, lalu cepat menunduk lagi. "Selamat beristirahat, Nona."

Pintu tertutup.

Seraphina berdiri di tengah kamar cukup lama. Setelah itu ia membuka koper, mengeluarkan beberapa pakaian, lalu berhenti ketika melihat sebuah pouch kecil warna biru tua di antara tumpukan baju. Mama Kartika yang memasukkannya diam-diam sebelum ia berangkat. Di dalamnya ada obat flu, minyak kayu putih, plester, dan selembar kertas kecil.

Kalau sakit, jangan sok kuat.

Tulisan Mama Kartika besar dan miring, sama persis seperti orangnya.

Seraphina menekan kertas itu dengan ibu jari. Dadanya yang sejak tadi keras perlahan terasa nyeri.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Mama Kartika.

Sudah sampai? Jangan lupa makan. Kalau rumah itu terlalu dingin, pakai jaket. Mama tahu kamu suka pura-pura kuat.

Seraphina membaca pesan itu dua kali.

Ia ingin membalas, rumah ini tidak hanya dingin. Rumah ini seperti tidak pernah menunggu siapa pun pulang.

Namun yang ia ketik hanya:

Sudah sampai, Ma. Aku baik-baik saja.

Kebohongan kecil terkirim, lalu layar menjadi gelap.

Malam semakin larut. Setelah mandi, Seraphina duduk di tepi tempat tidur, rambutnya masih lembap. Dari luar kamar terdengar langkah kaki pelan. Seseorang berhenti di depan pintunya.

Seraphina mengangkat kepala.

Tidak ada ketukan.

Hanya keheningan.

Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi porselen diletakkan di lantai. Langkah itu belum pergi. Orang di luar masih berdiri, terlalu lama untuk sekadar mengantar makanan.

Seraphina tidak bergerak.

Di balik pintu, suara Meilin terdengar sangat pelan.

"Sera... Mama taruh sup di depan pintu. Kamu belum makan dari sore."

Seraphina memejamkan mata.

Mama.

Kata itu datang terlambat, mengetuk pintu yang sudah ia kunci dari dalam.

Meilin menunggu lagi. Mungkin berharap pintu terbuka. Mungkin berharap Seraphina menjawab. Setelah hampir satu menit, langkahnya akhirnya menjauh.

Seraphina tetap duduk sampai suara itu benar-benar hilang.

Baru setelah itu ia berdiri dan membuka pintu.

Di lantai depan kamar ada nampan kecil. Semangkuk sup ayam kampung dengan irisan jahe dan angco, tutup porselennya masih berembun. Di sampingnya ada sendok perak dan segelas air hangat. Seraphina menyentuh sisi mangkuk. Masih hangat.

Bukan hangat karena baru selesai dimasak.

Hangat karena seseorang menunggu di depan pintu cukup lama sambil memastikan sup itu tidak keburu dingin.

Rasa sakit itu datang tanpa suara.

Kalau Meilin hanya dingin, Seraphina mungkin bisa membencinya lebih mudah. Namun perempuan itu tidak sepenuhnya dingin. Ia memberi sup, tetapi tidak berani membela. Ia memanggil Mama, tetapi tidak berani meraih. Ia berdiri di depan pintu, tetapi tidak mengetuk.

Seraphina mengangkat nampan itu, membawanya ke kamar mandi, lalu menuang sup ke wastafel.

Aroma jahe naik bersama uap tipis.

Ia melihat kuah bening itu menghilang ke lubang pembuangan sampai tidak tersisa apa pun selain beberapa potong angco yang tertahan di saringan.

"Aku tidak lapar," bisiknya.

Entah untuk siapa.

Pagi berikutnya, keluarga Lim sarapan di ruang makan panjang yang bisa menampung dua puluh orang, meski hanya lima kursi yang terisi. Hendrawan duduk di kepala meja. Meilin di sisi kanan. Yolanda di sampingnya, segar dengan riasan tipis, seperti semalam tidak pernah terjadi. Darren duduk di seberang, lebih banyak menatap kopinya daripada orang-orang di meja.

Seraphina datang tepat pukul tujuh.

Yolanda menatapnya dari balik cangkir teh. "Kau tidur nyenyak? Kamar tamu kami cukup nyaman, kan?"

Darren mengangkat wajah. "Yolanda."

Kali ini nadanya sedikit lebih tegas.

Yolanda mengerucutkan bibir. "Aku cuma bertanya."

Seraphina menarik kursi dan duduk. "Nyaman. Terlalu nyaman untuk orang yang tidak berniat tinggal lama."

Pisau di tangan Meilin berhenti.

Hendrawan menatapnya. "Apa maksudmu?"

"Saya ingin pindah."

Yolanda tertawa kecil. "Baru satu malam sudah tidak kuat?"

Seraphina tidak menoleh. "Saya punya pekerjaan. Akan lebih praktis kalau tinggal dekat pusat kota."

"Pekerjaan?" Yolanda menyandarkan punggung. "Bisnis kecil dari Surabaya itu?"

"Cukup kecil untuk tidak mengganggu siapa pun," jawab Seraphina. "Tapi cukup serius untuk membuat saya tidak punya waktu bermain drama keluarga setiap pagi."

Wajah Yolanda memerah.

Darren menutup mulutnya dengan punggung tangan, entah batuk atau menahan sesuatu.

Hendrawan meletakkan garpu. "Kau baru pulang. Orang akan bertanya kalau kau langsung keluar dari rumah ini."

"Orang juga akan bertanya kalau setiap malam ada yang memanggil saya anak haram di ruang keluarga."

Keheningan turun lagi.

Meilin menunduk. Darren menatap Seraphina lebih lama, kali ini tanpa menghindar. Ada penyesalan di sana, tetapi penyesalan tidak mengubah apa pun.

Hendrawan akhirnya berkata, "Papa punya unit apartemen di SCBD. Aman, dekat kantor, dan cukup pantas untuk nama Lim."

Seraphina mengangkat alis. Ia tidak menyangka persetujuan datang secepat itu.

Hendrawan menyeka bibir dengan serbet. "Kau boleh pindah sore ini. Sopir akan mengantar. Tapi ingat, Seraphina, tinggal di luar bukan berarti kau bebas dari keluarga ini."

Tentu saja.

Tidak ada pemberian gratis dari Hendrawan Lim.

"Apa syaratnya?"

Hendrawan menatapnya dengan senyum yang terlalu tipis untuk disebut hangat. "Kau pintar. Bagus."

Yolanda memandang ayahnya, mulai gelisah. "Papa..."

Hendrawan mengabaikannya. "Jakarta punya banyak teman yang ingin mengenalmu. Beberapa dari mereka penting untuk masa depan keluarga Lim. Kalau Papa memintamu hadir di sebuah acara, kau datang."

Seraphina menatap pria di ujung meja itu.

Baru semalam ia diperlakukan seperti tamu yang memalukan. Pagi ini, ia sudah dipindahkan seperti aset yang akan dipakai pada waktu yang tepat.

Di bawah meja, jari Seraphina mengepal di atas pangkuan.

"Jadi itu alasan Papa memanggil saya pulang?"

Hendrawan tidak menjawab langsung. Ia hanya mengambil cangkir tehnya, seolah pertanyaan itu tidak pantas mengganggu sarapan.

"Selesaikan sarapanmu," katanya tenang. "Sore ini kau pindah ke SCBD."

Episode 3

Bab 003

Empat Tahun yang Lalu

Sore itu, Seraphina pindah sebelum hujan sempat turun lagi.

Sopir keluarga Lim mengantarnya ke sebuah apartemen tinggi di kawasan SCBD. Tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Ia hanya menyerahkan kartu akses, kunci cadangan, dan sebuah amplop berisi nomor kontak pengelola gedung. Semuanya sudah diatur rapi, terlalu rapi, seolah Hendrawan memang sejak awal menyiapkan tempat untuk menaruhnya jauh dari rumah, tetapi tetap cukup dekat untuk dipanggil kapan saja.

Unit itu berada di lantai tiga puluh dua. Dari ruang tamu, kaca besar menghadap gedung-gedung Jakarta yang berkilau menjelang malam. Lampu kota menyala satu per satu, membentuk garis emas di antara jalanan yang mulai padat. Di bawah sana, mobil bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti.

Seraphina berdiri di depan jendela dengan koper di samping kaki.

Tempat ini lebih tenang daripada rumah Lim.

Namun ketenangan yang dibeli dengan syarat tetap terasa seperti kurungan.

Ia membuka koper di kamar utama. Pakaian kerja diletakkan di lemari, laptop di meja, obat-obatan kecil dari Mama Kartika di laci paling atas. Ketika menarik satu lapis kain pelindung di bagian bawah koper, sebuah foto jatuh ke lantai.

Seraphina membungkuk mengambilnya.

Foto itu sudah sedikit melengkung di sudut, warnanya tidak lagi setajam dulu. Di sana, ia berdiri di sebuah teras luas, memakai gaun biru muda dengan rambut tergerai. Cahaya bulan jatuh di pagar batu. Di belakangnya, bayangan pesta tampak buram dari pintu kaca.

Empat tahun lalu.

Yolanda berusia delapan belas tahun malam itu.

Untuk pertama kalinya, Seraphina datang ke Jakarta bukan sebagai tamu Tjiandra, melainkan sebagai anak yang diam-diam diminta hadir oleh keluarga Lim. Meilin mengirimkan gaun melalui kurir, lengkap dengan sepatu dan kartu kecil bertuliskan, Pakailah ini kalau Sera berkenan. Tidak ada tanda tangan, tetapi Seraphina tahu tulisan itu milik Meilin.

Saat itu ia masih cukup muda untuk percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, sebuah undangan ulang tahun bisa menjadi awal dari sesuatu.

Mobil berhenti di halaman rumah Lim yang penuh lampu. Musik lembut mengalun dari dalam ballroom. Para tamu datang dengan gaun mahal, jas hitam, parfum tajam, dan tawa yang terdengar dibuat-buat. Mereka memandang Seraphina seperti membaca berita yang belum lengkap.

"Itu siapa?"

"Katanya anak Pak Hendrawan juga."

"Dari luar nikah?"

"Sst, jangan keras-keras."

Bisik-bisik itu mengikuti langkahnya seperti bayangan.

Meilin menyambutnya di dekat pintu samping. Malam itu wajah Meilin lebih muda, tetapi matanya sama gugupnya seperti semalam.

"Sera, kamu cantik sekali," katanya.

Seraphina memegang clutch kecil dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bu Meilin."

Meilin tersenyum kaku. "Jangan terlalu formal. Di sini... kamu boleh panggil Mama."

Seraphina ingin mencoba. Satu kata itu sudah berada di ujung lidahnya.

Namun sebelum ia mengucapkannya, suara piring pecah terdengar dari dalam ballroom.

Yolanda berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat. Gaun putihnya menjuntai indah, tetapi matanya merah. Ia menunjuk ke arah Seraphina.

"Kenapa dia di sini?"

Semua percakapan berhenti.

Hendrawan mendekat cepat, wajahnya menegang. "Yolanda, jangan buat keributan."

"Ini pestaku, Papa." Suara Yolanda bergetar, tetapi cukup keras untuk seluruh ruangan. "Kenapa Papa bawa dia? Papa mau semua orang tahu?"

Meilin memegang lengan Seraphina. Pegangannya dingin.

Seraphina tidak tahu harus maju atau mundur. Ia hanya berdiri di tepi ruangan, dalam gaun biru yang tiba-tiba terasa seperti kostum salah acara.

Seorang tante yang tidak ia kenal berbisik kepada temannya, "Kasihan Yolanda. Anak itu pasti malu."

Anak itu.

Maksudnya bukan Seraphina.

Dalam beberapa menit, seseorang menyarankan agar Seraphina keluar dulu untuk menenangkan suasana. Tidak ada yang berkata terus terang ia diusir. Mereka hanya memakai kata yang lebih halus, udara luar, istirahat sebentar, jangan memperkeruh.

Seraphina keluar ke teras.

Jakarta malam itu panas, tetapi angin di teras membawa bau bunga sedap malam dari taman. Dari balik pintu kaca, musik kembali diputar. Pesta berjalan lagi, seakan kepergiannya cukup untuk menambal suasana.

Ia berdiri di dekat pagar batu, menatap bulan yang tampak jauh di antara awan tipis.

"Kau tidak suka pesta?"

Suara laki-laki itu datang dari sisi kiri.

Seraphina menoleh.

Seorang pria muda berdiri beberapa langkah darinya. Ia memakai setelan hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya, satu tangan memegang gelas red wine, tangan lainnya masuk ke saku celana. Wajahnya dingin, terlalu tenang untuk seseorang seusianya. Matanya gelap, tajam, seperti terbiasa melihat kebohongan orang sebelum mereka sempat bicara.

Seraphina tidak mengenalnya.

Namun anehnya, di antara semua tatapan malam itu, tatapan pria ini tidak membuatnya merasa kotor.

Ia hanya merasa dilihat.

"Aku tidak suka menjadi alasan pesta orang lain rusak," jawab Seraphina.

Pria itu menatap pintu kaca di belakangnya. Di dalam, Yolanda sudah kembali tersenyum di antara teman-temannya. "Kalau satu orang bisa merusak pesta sebesar ini hanya dengan berdiri, berarti pestanya memang rapuh."

Seraphina menoleh kepadanya, sedikit terkejut.

Ujung bibir pria itu tidak tersenyum. Ia mengatakan kalimat itu seolah menyebut fakta sederhana, seperti cuaca atau harga saham.

"Kau tamu keluarga Lim?" tanya Seraphina.

"Kurang lebih."

"Nama?"

Pria itu menatapnya lagi. Kali ini pandangannya berhenti sedikit lebih lama pada gaun biru muda yang ia kenakan, lalu naik ke wajahnya.

Sebelum ia menjawab, seorang pria berjas mendekat dari pintu samping.

"Tuan muda, Pak Gunawan mencari Anda."

Tuan muda.

Seraphina menangkap sebutan itu, tetapi tidak tahu keluarga mana yang dimaksud. Di lingkaran seperti ini, terlalu banyak pria dipanggil tuan muda hanya karena lahir dari rumah yang benar.

Pria itu meletakkan gelasnya di meja kecil dekat pilar.

"Kalau tidak ingin didorong keluar lagi," katanya kepada Seraphina, "jangan berdiri terlalu dekat pintu."

Setelah itu ia masuk kembali ke dalam, meninggalkan aroma tipis cedar dan wine di udara.

Seraphina berdiri lama di tempatnya.

Tidak lama kemudian, mobil dari keluarga Lim mengantarnya kembali ke hotel, lalu ke bandara keesokan paginya. Meilin tidak sempat menemuinya. Hendrawan hanya mengirim pesan singkat melalui asisten. Yolanda mengunggah foto pesta di Instagram, penuh tawa dan ucapan selamat, tanpa satu pun jejak gaun biru muda di teras.

Sejak itu, Seraphina menyimpan foto tersebut di dasar koper.

Bukan karena ia ingin mengingat rasa malu.

Melainkan karena di foto itu, ia melihat dirinya masih berdiri tegak.

Seraphina kembali ke masa kini ketika suara televisi di ruang tamu tiba-tiba terdengar. Ia baru sadar remote tersenggol saat ia menaruh tas di sofa. Layar besar menampilkan siaran berita bisnis malam. Gedung konferensi megah, lampu kamera, para wartawan, dan logo Hartono Group berputar di belakang podium.

Ia hendak mematikan televisi, tetapi nama yang disebut pembawa berita membuat jarinya berhenti.

"Hartono Group malam ini menggelar konferensi tahunan di Jakarta. Perhatian publik tertuju pada Reynard Hartono, pewaris tunggal Hartono Group, yang untuk pertama kalinya memimpin pemaparan strategi ekspansi sektor teknologi dan infrastruktur pertahanan."

Kamera bergerak ke podium.

Seorang pria dalam setelan hitam berdiri di bawah cahaya putih. Wajahnya lebih matang daripada ingatan Seraphina, garis rahangnya lebih tegas, matanya tetap sama dinginnya. Ia menerima mikrofon dari seorang staf, lalu menatap barisan wartawan tanpa sedikit pun gugup.

Jantung Seraphina berhenti satu ketukan.

Gelas red wine. Setelan hitam. Tatapan yang berhenti padanya di teras.

Empat tahun lalu, ia tidak sempat mengetahui namanya.

Malam ini, seluruh Jakarta menyebutnya.

Reynard Hartono.

Pria di layar televisi itu adalah pria yang pernah berdiri bersamanya di bawah cahaya bulan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!