Indonesia
NovelToon NovelToon

Tuan Wijaya, Selamat Menikah

Episode 1

Bab 1

Vihara di Pagi Hari

Udara Bogor pagi itu dingin sampai ujung jari Naomi Liem terasa kaku.

Dia berdiri di halaman Vihara Padma Suci dengan kedua tangan memegang beberapa batang dupa. Asap tipis naik di depannya, berputar pelan sebelum larut ke udara yang masih basah oleh embun. Dari aula utama terdengar suara lonceng kecil, satu ketukan bening yang membuat dadanya ikut tenang.

Naomi memejamkan mata sebentar.

Sudah hampir tiga bulan dia tidak datang ke sini. Urusan pindah dari Surabaya ke Jakarta, berkas administrasi RS Permata Harapan, dan persiapan hari pertama resminya besok membuat kepalanya penuh. Di Surabaya dulu, dia juga sering menunda istirahat, tetapi jarak antara rumah sakit dan rumah kontrakannya tidak pernah terasa seberat Jakarta.

Pagi ini dia sengaja berangkat sebelum matahari tinggi. Kong Kong masih di Bandung, jadi tidak ada yang menahannya sarapan lebih dulu atau menyuruhnya membawa sup hangat.

"Naomi?"

Suara lembut itu membuat Naomi membuka mata.

Bhante Dharmaputra berdiri beberapa langkah dari tangga aula. Jubah cokelat tuanya bergerak sedikit tertiup angin. Wajah beliau tetap sama seperti dalam ingatan Naomi, teduh, seolah tidak pernah terburu-buru oleh apa pun.

Naomi menunduk hormat. "Selamat pagi, Bhante."

"Pagi sekali datangnya."

"Takut macet kalau agak siang." Naomi tersenyum kecil. "Besok sudah mulai resmi di rumah sakit, jadi hari ini saya mau tenang sebentar."

"Dokter muda biasanya memakai libur untuk tidur."

"Biasanya begitu." Naomi melihat dupa di tangannya, lalu menancapkannya pelan di tempat dupa. "Tapi hari ini rasanya ingin ke sini."

Bhante Dharmaputra tidak bertanya lebih jauh. Beliau hanya mengangguk, seakan jawaban sesederhana itu sudah cukup.

Naomi masuk ke aula utama. Lantai batu di bawah telapak kakinya terasa dingin. Dia berlutut di bantalan tipis, menyatukan kedua telapak tangan, lalu membiarkan kepalanya menunduk. Tidak ada permintaan yang terlalu jelas pagi itu. Dia hanya ingin ibunya tenang di alam sana, Kong Kong sehat, dan pekerjaannya di Jakarta berjalan baik.

Untuk dirinya sendiri, Naomi tidak tahu harus meminta apa.

Dia hidup cukup baik. Pekerjaan ada. Apartemen ada. Sahabat-sahabatnya ramai dan menyebalkan dengan cara yang menghangatkan. Kong Kong masih sehat walau sering membuatnya cemas karena keras kepala.

Kalau ada yang kurang, Naomi tidak ingin menamainya.

Selesai berdoa, dia duduk di salah satu meja panjang di samping aula untuk menyalin paritta. Kertas putih di depannya kosong, kuas kecil sudah disiapkan oleh penjaga vihara. Aroma dupa melekat pada rambut dan lengan bajunya. Di luar, beberapa pengunjung lanjut usia berjalan pelan, sebagian membawa kantong kecil berisi kertas doa.

Naomi baru menulis beberapa baris ketika suara mobil berhenti di halaman terdengar samar.

Tidak ada yang aneh. Vihara ini cukup terkenal di kalangan keluarga Tionghoa-Indonesia Jakarta. Banyak orang datang dari kota hanya untuk berdoa, bertemu Bhante, atau sekadar mencari suasana tenang.

Namun beberapa detik kemudian, Naomi mengangkat kepala.

Di sisi halaman, di dekat pohon kamboja tua, seorang pria turun dari mobil hitam.

Jarak mereka cukup jauh, tetapi Naomi mengenali postur tubuh itu sebelum wajahnya terlihat jelas. Kemeja putih, celana gelap, langkah tenang yang tidak pernah terlihat ragu. Sopirnya berdiri di dekat mobil, sementara pria itu mengambil sesuatu dari kursi belakang.

Sebuah kantong kain kecil berwarna merah tua.

Naomi menahan gerakan kuasnya.

Reynard Wijaya.

Nama itu muncul di kepalanya dengan terlalu jelas.

Dia bukan orang asing. Bukan juga orang dekat.

Keluarga Wijaya dan keluarga Liem sudah saling mengenal sejak lama. Kong Tai Wijaya beberapa kali datang ke rumah Kong Kong. Saat Naomi kecil, dia pernah melihat Reynard berdiri di ruang tamu, tinggi, rapi, terlalu pendiam untuk anak laki-laki seusianya. Waktu itu Naomi hanya tahu dia cucu Kong Tai yang sekolahnya bagus dan wajahnya selalu serius.

Beberapa tahun setelah itu, mereka bertemu lagi saat liburan kuliah di rumah Kong Kong.

Naomi masih ingat sore itu. Hujan baru berhenti. Taman belakang rumah Kong Kong basah, bau tanah naik dari pot-pot anggrek. Naomi duduk di bangku kayu sambil membaca buku tentang kisah kelahiran kembali dalam tradisi Buddhis. Dia baru masuk tahun kedua kuliah kedokteran dan sedang dalam fase merasa semua hal bisa dijelaskan, kecuali kehilangan ibunya.

Reynard datang membawa payung lipat yang sudah tertutup.

"Kong Kong menyuruhku memanggilmu. Makan malam sudah siap," katanya.

Naomi menutup bukunya. "Kamu percaya reinkarnasi?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja, mungkin karena wajah Reynard terlalu tenang sampai Naomi merasa boleh bertanya hal aneh.

Reynard menatapnya sebentar. "Kenapa tanya aku?"

"Kamu kelihatan seperti orang yang nggak percaya hal begitu."

"Menurutmu aku percaya apa?"

Naomi berpikir beberapa detik. "Angka. Kontrak. Sesuatu yang bisa dihitung."

Untuk pertama kalinya sore itu, sudut bibir Reynard bergerak tipis. Bukan senyum penuh, hanya retakan kecil di wajah yang biasanya datar.

"Kalau kamu?"

Naomi memandang taman basah di depan mereka. "Aku ingin percaya. Kalau benar ada kehidupan berikutnya, mungkin Mama bisa bahagia di kehidupan lain."

Reynard tidak menjawab cepat. Lama sekali dia diam sampai Naomi mengira percakapan itu selesai.

Lalu dia berkata, "Kalau itu membuatmu lebih tenang, percaya saja."

Kalimat itu sederhana. Tidak menghibur secara berlebihan. Tidak juga meremehkan. Tapi entah kenapa, Naomi mengingatnya sampai sekarang.

Kuas di tangan Naomi berhenti di atas kertas.

Di halaman vihara, Reynard berjalan ke arah bangunan samping, bukan ke aula utama. Dia tidak melihat ke arah Naomi. Atau mungkin melihat, tetapi terlalu jauh untuk dipastikan. Bhante Dharmaputra muncul dari koridor, menyambutnya seperti menyambut orang yang sudah biasa datang.

Itu yang membuat Naomi semakin heran.

Reynard Wijaya, setahu Naomi, bukan orang yang religius. Dalam pembicaraan keluarga, dia lebih sering disebut bersama kata rapat, ekspansi, saham, dan Wijaya Group. Bahkan Kong Kong pernah berkata sambil tertawa bahwa cucu sulung Kong Tai itu otaknya seperti laporan keuangan, rapi dan sulit dibaca.

Lalu untuk apa dia datang ke Vihara Padma Suci sepagi ini?

Naomi menurunkan pandangannya lagi ke kertas. Tulisan terakhirnya menjadi terlalu tebal karena kuas berhenti terlalu lama di satu titik. Tinta hitam melebar seperti noda kecil.

Dia mengambil napas, berusaha kembali fokus.

Tidak ada urusannya.

Reynard boleh datang ke vihara mana pun. Orang yang terlihat tidak percaya apa-apa tetap boleh punya hal yang disimpan sendiri. Lagipula, mereka tidak dekat. Mereka hanya dua nama yang kadang berada dalam lingkaran keluarga yang sama.

Naomi mengulang kalimat itu dalam hati sambil menyalin baris berikutnya.

Mereka tidak dekat.

Tetapi telinganya tetap menangkap langkah di koridor samping. Matanya, tanpa izin darinya sendiri, beberapa kali bergerak ke arah halaman. Dari sela pilar, dia melihat Reynard berdiri di depan Bhante Dharmaputra. Pria itu menunduk sopan, lalu menyerahkan kantong kain merah tua tadi dengan kedua tangan.

Bhante menerimanya tanpa banyak bicara.

Naomi tidak bisa mendengar isi percakapan mereka. Angin membawa suara lonceng, gesekan daun, dan gumaman pengunjung lain. Reynard hanya berdiri sebentar. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada sesuatu pada bahunya yang membuat Naomi merasa pria itu sedang membawa urusan yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Perasaan ingin tahu itu menggelitiknya.

Naomi segera menunduk lagi, malu pada dirinya sendiri. Dia bukan tipe orang yang mencampuri rahasia orang lain. Sebagai dokter, dia sudah terbiasa memegang batas. Ada hal yang boleh ditanya, ada yang harus dibiarkan tertutup sampai pemiliknya sendiri membuka.

Namun pagi itu, batas itu terasa tipis.

"Tulisanmu jadi miring," suara Bhante Dharmaputra terdengar dari samping.

Naomi tersentak kecil. Entah sejak kapan beliau sudah berdiri di dekat meja. Di halaman, Reynard tidak lagi terlihat. Mobil hitamnya juga sudah tidak ada.

Naomi melihat kertasnya. Benar saja, satu baris terakhir turun seperti pasien yang kehilangan tekanan darah.

Wajahnya memanas. "Maaf, Bhante. Saya kurang fokus."

Bhante tersenyum. "Pikiran manusia memang suka berjalan lebih cepat daripada tangan."

Naomi ikut tersenyum, walau dadanya masih menyimpan rasa aneh. "Tadi... Pak Reynard sering datang ke sini?"

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat dia tahan.

Bhante Dharmaputra memandangnya sejenak. Tidak menegur, tidak juga langsung menjawab. Senyum beliau tetap lembut, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa Naomi baca.

"Beberapa orang datang ke vihara untuk meminta sesuatu," kata beliau pelan. "Beberapa lagi datang karena ingin menjaga sesuatu."

Naomi terdiam.

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Justru membuat kepalanya semakin penuh.

"Menjaga apa, Bhante?"

"Kalau suatu hari kamu memang perlu tahu, kamu akan tahu."

Naomi menggenggam kuas lebih erat. Ujung jarinya terkena sedikit tinta.

Bhante Dharmaputra lalu berjalan pergi, meninggalkannya bersama kertas yang belum selesai dan rasa penasaran yang tiba-tiba duduk terlalu dekat di dalam dada.

Naomi memaksa dirinya menulis sampai halaman itu penuh. Setelah itu dia merapikan kuas, mencuci tangan, dan berpamitan. Di gerbang vihara, udara sudah lebih hangat. Matahari menyentuh atap merah bangunan utama, membuat asap dupa tampak seperti benang tipis yang tidak putus-putus.

Di dalam mobil menuju Jakarta, Naomi membuka ponsel. Ada pesan dari Felicia.

Felicia: Na, nanti sore jangan lupa datang ya. Ultah Patrick. Kalau lo batal, gue jemput paksa.

Naomi mengetik balasan singkat.

Naomi: Datang. Tenang aja.

Dia hampir menekan tombol kirim ketika matanya kembali menangkap bayangan kantong kain merah tua dalam ingatan.

Reynard Wijaya di vihara. Bhante yang tidak menjawab. Kalimat tentang menjaga sesuatu.

Naomi menggeleng pelan, lalu mengirim pesan pada Felicia.

Tidak ada urusannya, katanya lagi pada diri sendiri.

Tapi sepanjang perjalanan pulang, setiap kali mobil berhenti di lampu merah atau tersendat di tol Jagorawi, pikirannya selalu kembali pada satu pemandangan yang sama: Reynard berdiri di bawah pohon kamboja, menyerahkan kantong doa seolah benda kecil itu jauh lebih penting daripada seluruh dunia yang biasa ia kendalikan.

Episode 2

Bab 2

Pesta Ulang Tahun

Sore harinya, Naomi masih membawa bayangan kantong doa itu sampai ke depan gerbang Emerald Ville.

Rumah Felicia dan Patrick di Bintaro tampak terang dari luar. Lampu taman sudah menyala, memantul di kaca besar ruang keluarga. Dari halaman belakang terdengar tawa beberapa orang, suara gelas beradu, dan musik jazz pelan yang jelas dipilih Felicia karena Patrick tidak mungkin serajin itu memikirkan suasana pesta.

Naomi turun dari mobil sambil merapikan ujung blusnya.

"Na!"

Felicia muncul dari pintu samping sebelum Naomi sempat menekan bel. Rambutnya digulung rapi, gaun satin warna champagne membuatnya terlihat seperti tuan rumah pesta hotel, bukan pesta ulang tahun suami sendiri di rumah.

"Akhirnya datang juga." Felicia langsung menarik tangan Naomi. "Gue udah hampir kirim sopir buat culik lo."

Naomi tertawa. "Aku bilang datang, kan?"

"Lo dokter. Jadwal lo bisa berubah dalam tiga detik."

"Hari ini aman."

"Aman buat kerja, belum tentu aman buat hidup percintaan."

Langkah Naomi berhenti setengah detik. "Fel."

Felicia memasang wajah paling polos. "Apa?"

Naomi menatap sahabatnya curiga. "Kong Kong ngomong apa ke lo?"

"Nggak banyak." Felicia menariknya masuk melewati koridor menuju halaman belakang. "Cuma bilang belakangan ini beliau sering ngobrol sama Kong Tai Wijaya."

Nama Wijaya membuat dada Naomi bergerak kecil.

Pagi tadi, nama itu masih berdiri di bawah pohon kamboja dengan kantong doa di tangan. Sekarang, nama yang sama muncul di rumah Felicia, di tengah aroma steak panggang dan kue ulang tahun.

"Kong Tai?" Naomi mencoba terdengar biasa. "Mereka memang kenal lama."

"Iya. Tapi kali ini konteksnya menarik." Felicia merendahkan suara, matanya berkilat. "Kong Kong lo lagi cari calon buat lo, kan?"

Naomi menarik napas pelan. "Kong Kong cuma bilang kalau aku harus mulai serius memikirkan pernikahan."

"Itu bahasa kakek-kakek untuk, cucuku akan dijodohkan."

"Felicia."

"Apa? Di keluarga kita hal begitu masih normal. Lagipula lo sudah dua puluh enam, dokter, cantik, tidak punya pacar, dan punya Kong Kong yang terlalu sayang untuk membiarkan sembarang laki-laki mendekat."

Naomi tidak bisa membantah bagian terakhir. Kong Kong lembut, tetapi jika menyangkut hidup Naomi, beliau bisa berubah menjadi tembok batu.

"Jadi menurut lo siapa?" tanya Naomi, akhirnya ikut terbawa.

Felicia tersenyum menang. "Kalau dari keluarga Wijaya, pilihan paling masuk akal ya Daniel."

Naomi langsung membayangkan wajah Daniel Wijaya. Beberapa kali bertemu di acara keluarga, dokter bedah itu selalu ramah, tidak terlalu banyak bicara, dan jelas lebih mudah didekati dibandingkan kakaknya.

"Daniel dokter juga," lanjut Felicia. "Umurnya juga nggak jauh dari lo. Cocok, kan? Dokter sama dokter."

"Cocok di atas kertas belum tentu cocok di hidup nyata."

"Wah." Felicia menyipitkan mata. "Jawaban orang yang pernah kepikiran menikah."

"Jawaban orang yang terlalu sering melihat pasien menangis karena keluarga ikut campur."

Felicia tertawa sambil menggandeng Naomi ke halaman belakang. "Tenang, malam ini gue nggak akan jual lo. Ini ulang tahun Patrick, bukan bursa jodoh."

Halaman belakang sudah dipenuhi tamu. Kebanyakan teman bisnis Patrick dan Felicia, beberapa wajah keluarga, beberapa lagi orang yang Naomi hanya kenal dari media sosial. Patrick berdiri dekat meja minuman, tertawa bersama dua pria. Saat melihat Naomi, dia mengangkat tangan.

"Dokter Naomi akhirnya datang!" serunya.

Beberapa kepala menoleh.

Naomi tersenyum sopan. "Selamat ulang tahun, Patrick."

"Terima kasih. Hadiahnya mana?"

"Titip di Felicia."

"Berarti aman. Kalau titip di gue, bisa hilang."

"Memang," Felicia menyahut cepat. "Makanya gue yang urus semua."

Patrick menaruh tangan di dada seolah tertusuk. "Di hari ulang tahun sendiri pun tetap dihina istri."

Tawa kecil menyebar. Naomi ikut tertawa, merasa suasana pelan-pelan menariknya keluar dari pikiran pagi tadi.

Sampai matanya menangkap Reynard.

Pria itu berdiri tidak jauh dari pintu kaca ruang makan, berbicara dengan Daniel. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya digulung sampai siku. Ia tampak berbeda dari pagi tadi, tetapi tetap memiliki ketenangan yang sama. Di tengah orang-orang yang tertawa dan bergerak, Reynard seperti titik diam yang tidak perlu berusaha menarik perhatian.

Daniel yang lebih dulu melihat Naomi. Dia tersenyum ramah dan mengangguk.

Naomi membalas anggukan itu.

Reynard menoleh setelahnya.

Pandangan mereka bertemu.

Hanya sebentar. Terlalu singkat untuk disebut percakapan. Namun cukup lama untuk membuat Naomi tiba-tiba ingat lantai batu dingin di vihara dan kantong merah tua di tangan pria itu.

Reynard tidak menunjukkan tanda terkejut. Ia hanya mengangkat dagu sedikit, sopan, seperti orang yang menyapa kenalan keluarga.

Naomi melakukan hal yang sama.

Tidak dekat, katanya lagi dalam hati.

"Nah, itu Daniel." Felicia berbisik di telinganya. "Lumayan, kan?"

"Fel, jangan mulai."

"Gue cuma observasi."

"Observasi lo selalu berujung gosip."

"Namanya juga sahabat."

Mereka baru mengambil minuman ketika seorang pria dengan kemeja biru muda mendekat. Naomi mengenal wajah itu samar dari beberapa acara keluarga besar, tetapi butuh beberapa detik untuk mengingat namanya.

Ferry Gunawan.

"Naomi Liem, ya?" Ferry tersenyum terlalu lebar. "Lama nggak kelihatan. Makin cantik saja."

Naomi tersenyum singkat. "Halo."

"Sekarang kerja di rumah sakit mana?"

"RS Permata Harapan."

"Oh, dokter sungguhan." Ferry tertawa, seolah profesi Naomi barusan adalah lelucon kecil yang lucu. "Hebat. Tapi pasti sibuk banget. Kapan ada waktu buat pacaran?"

Felicia yang berdiri di samping Naomi langsung mengangkat alis. "Ferry, baru datang sudah wawancara?"

"Santai, Fel. Cuma ngobrol." Ferry mengangkat kedua tangan, tetapi matanya tetap pada Naomi. "Aku dengar kamu baru balik Jakarta. Kalau butuh teman jalan, bilang saja. Aku tahu tempat bagus."

"Terima kasih, tapi saya jarang punya waktu."

"Justru itu. Orang sibuk perlu refreshing."

Naomi mundur setengah langkah, berniat mengambil piring kecil di meja sebelah. Ferry malah ikut bergerak dan, dengan gerakan yang tampak seolah akrab, meletakkan tangannya di bahu Naomi.

Tubuh Naomi langsung menegang.

Sentuhan itu tidak kasar, tetapi terlalu tiba-tiba dan terlalu dekat. Aroma parfum Ferry yang tajam menabrak hidungnya. Naomi menahan napas, tangan kanannya mencengkeram gelas es teh sampai dinding gelas terasa licin oleh embun.

"Ferry," Felicia berkata dingin. "Tangannya."

Ferry tertawa. "Aduh, Fel, jangan galak. Naomi kan teman lama."

"Saya tidak ingat kita sedekat itu," kata Naomi.

Suaranya tenang, tetapi bahunya sudah kaku. Dia baru hendak menyingkir ketika sebuah tangan lain muncul, menahan pergelangan Ferry tanpa terlihat terburu-buru.

"Kalau tidak dekat, jangan menyentuh."

Suara Reynard rendah. Tidak keras. Justru karena itu, beberapa orang di sekitar mereka langsung diam.

Ferry menoleh, senyumnya berubah canggung. "Rey. Gue cuma bercanda."

Reynard tidak tersenyum. "Bercanda harus membuat dua orang merasa lucu."

Tangan Ferry perlahan terlepas dari bahu Naomi.

Naomi menarik napas yang tanpa sadar ia tahan. Bahunya masih menyimpan sisa tekanan telapak tangan Ferry, tetapi keberadaan Reynard di sampingnya seperti dinding yang tiba-tiba muncul. Bukan ramai. Bukan dramatis. Cukup ada, dan ruang di sekitarnya langsung berubah.

Felicia menatap Ferry dengan wajah yang jelas menahan marah. "Cari minum sana."

Ferry mengangkat tangan lagi, kali ini tanpa tawa. "Oke, oke. Sensitif banget."

"Ferry." Reynard memanggil namanya sebelum pria itu benar-benar pergi.

Ferry berhenti.

"Minta maaf."

Udara di halaman belakang terasa turun satu derajat.

Ferry menelan ludah. Mungkin karena di dekat mereka ada Patrick, Daniel, dan beberapa tamu lain yang sudah memperhatikan. Mungkin juga karena tidak ada orang waras yang ingin menantang Reynard Wijaya di hadapan publik.

"Maaf, Naomi," katanya akhirnya. "Gue nggak bermaksud bikin nggak nyaman."

Naomi menatapnya dua detik. "Saya terima. Tolong jangan ulangi."

Ferry mengangguk cepat, lalu pergi.

Felicia langsung menyentuh lengan Naomi. "Lo nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa." Naomi meletakkan gelasnya di meja, baru sadar telapak tangannya sedikit gemetar. "Cuma kaget."

Reynard berdiri di sisi lain, jaraknya sopan, matanya turun sebentar ke tangan Naomi sebelum kembali ke wajahnya.

"Kalau mau pulang, saya bisa panggilkan mobil," katanya.

Naomi terdiam. Nada suaranya tidak memaksa. Tidak seperti orang yang ingin terlihat sebagai pahlawan. Lebih seperti seseorang yang sudah menimbang kemungkinan paling praktis.

"Tidak perlu," jawab Naomi. "Saya datang untuk ulang tahun Patrick."

Mata Reynard bergerak sedikit. "Baik."

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan berlebihan. Tidak ada nasihat. Tidak ada komentar tentang Ferry yang bisa membuat Naomi semakin malu.

Anehnya, sikap itu justru membuat tenggorokan Naomi terasa lebih lega.

Patrick datang beberapa saat kemudian, wajahnya campuran marah dan bersalah. "Naomi, sorry. Gue nggak tahu Ferry bakal kurang ajar begitu. Dia teman bisnis sepupu gue, bukan tamu inti."

"Sudah selesai," kata Naomi.

"Tetap saja. Kalau lo nggak nyaman, Fel bisa temani di dalam."

"Aku baik-baik saja."

Felicia menatap Naomi seperti ingin memastikan, lalu menghela napas. "Oke. Tapi lo duduk dekat gue nanti."

"Iya, Bu Felicia."

"Jangan bercanda. Gue masih emosi."

Suasana pesta perlahan kembali bergerak. Musik terdengar lagi, orang-orang mulai bicara, tetapi Naomi tahu sebagian tamu masih melirik ke arah mereka. Dia mencoba tidak peduli. Dalam keluarga besar dan lingkaran bisnis seperti ini, kejadian kecil bisa menjadi bahan percakapan panjang, tetapi sikap terbaik selalu sama: berdiri tegak, jangan terlihat goyah.

Naomi mengambil piring kecil berisi buah, lalu duduk sebentar di kursi dekat kolam. Felicia menemaninya, sesekali mengumpat pelan soal Ferry. Daniel datang membawa air mineral.

"Ci Naomi, minum dulu," katanya.

Panggilan itu membuat Naomi tersenyum lebih mudah. "Terima kasih, Daniel."

"Ferry memang sering kebanyakan gaya. Jangan dipikirkan."

"Aku tidak memikirkannya."

Felicia langsung menyahut, "Dia bohong. Tapi kita hargai usahanya."

Daniel tertawa kecil. Dari sudut mata, Naomi melihat Reynard kembali berbicara dengan Patrick. Wajahnya tetap tenang, tetapi Patrick mengangguk beberapa kali dengan ekspresi serius. Entah apa yang mereka bicarakan.

Tidak lama kemudian, makan malam dimulai.

Meja panjang di ruang makan sudah disusun dengan rapi. Patrick, sebagai tuan rumah yang terlalu senang mengatur orang, berdiri di ujung meja sambil menunjuk kursi satu per satu.

"Fel di sini. Naomi, lo sebelah sini."

Naomi baru hendak duduk ketika Patrick menahan kursi di sampingnya.

"Kebetulan," kata Patrick sambil tersenyum seolah tidak menyadari apa pun, "tempat di sebelah Rey masih kosong."

Naomi melihat kursi itu.

Lalu melihat Reynard yang sudah berdiri di sisi lain meja, satu tangan di sandaran kursi, menunggu dengan sabar.

Jantung Naomi berdetak sekali, sedikit lebih keras dari seharusnya.

Episode 3

Bab 3

Bukan Urusanku

Naomi akhirnya duduk di kursi yang ditunjuk Patrick.

Reynard menarik kursi di sebelahnya dengan gerakan tenang. Tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh. Jarak di antara mereka cukup sopan untuk makan malam keluarga, tetapi setelah insiden Ferry, keberadaan pria itu membuat sisi kanan tubuh Naomi terasa terlalu sadar.

"Minum?" Reynard bertanya pelan.

Di depan Naomi sudah ada gelas kosong. Sebelum dia sempat menjawab, Reynard menuangkan air putih dari botol kaca ke gelasnya. Gerakannya biasa saja, seperti sesuatu yang memang pantas dilakukan orang di meja makan.

"Terima kasih," kata Naomi.

"Sama-sama."

Hanya dua kata. Setelah itu Reynard kembali diam.

Naomi seharusnya merasa lega. Dia tidak perlu berbasa-basi panjang. Tidak perlu menjelaskan kenapa tangannya sempat gemetar. Tidak perlu menerima tatapan kasihan yang membuat peristiwa kecil menjadi besar.

Tetapi justru karena Reynard tidak bertanya apa pun, Naomi menjadi lebih sulit mengabaikan kehadirannya.

Patrick meniup lilin dengan gaya berlebihan, Felicia memotong kue sambil mengomel karena suaminya hampir menjatuhkan pisau, Daniel bercerita pendek tentang pasien yang menelan tusuk gigi tanpa sengaja, dan tawa kembali memenuhi ruang makan.

Naomi ikut tertawa di saat yang tepat.

Sesekali, dia menangkap Reynard mendengarkan percakapan tanpa banyak ikut campur. Ketika Patrick meledek Daniel soal jodoh, Reynard hanya mengangkat gelas. Ketika Felicia sengaja menyebut nama Kong Kong dan Kong Tai dalam satu kalimat, Reynard tetap terlihat tenang, tetapi Naomi merasa ujung matanya sempat bergerak ke arah dirinya.

Naomi pura-pura tidak melihat.

Pesta berakhir mendekati pukul sepuluh. Beberapa tamu sudah pulang lebih dulu. Ferry tidak terlihat lagi sejak makan malam dimulai, dan Naomi tidak berniat mencari tahu ke mana pria itu pergi.

Di teras depan, Felicia memeluk Naomi erat. "Besok kabarin gue kalau sudah sampai rumah, ya."

"Fel, apartemenku cuma Kelapa Gading, bukan luar kota."

"Tetap kabarin. Gue masih kesel soal Ferry."

Patrick berdiri di samping istrinya dengan wajah bersalah. "Gue sudah minta orang cek. Dia pulang dari tadi. Tapi tetap, gue minta maaf lagi."

"Sudah, Pat. Aku baik-baik saja."

"Kamu pulang naik apa?" tanya Felicia.

"Aku pesan Grab saja."

"Jam segini?"

"Masih ramai."

Felicia baru membuka mulut untuk membantah ketika suara rendah terdengar dari belakang Naomi.

"Saya antar."

Naomi menoleh.

Reynard berdiri dua langkah di belakangnya. Kunci mobil ada di tangannya. Kemejanya masih rapi, tetapi lengan yang digulung membuatnya terlihat lebih santai daripada saat pertama kali Naomi melihatnya di pesta.

"Tidak perlu," kata Naomi cepat. "Saya bisa pesan mobil."

"Ferry tahu kamu belum pulang."

Kalimat itu membuat semua orang diam sesaat.

Felicia langsung menunjuk Reynard. "Nah, ini. Gue setuju sama Rey."

Naomi menatap sahabatnya. "Lo terlalu cepat setuju."

"Untuk urusan keselamatan lo, gue akan setuju sama siapa pun yang masuk akal."

Patrick ikut mengangguk. "Rey lebih aman. Minimal kalau Ferry tiba-tiba balik, dia mikir dua puluh kali."

Naomi ingin berkata bahwa Ferry tidak sebodoh itu. Namun dia juga tahu, mempertahankan argumen hanya akan membuat Felicia semakin sulit.

Dia melihat Reynard. "Merepotkan."

"Tidak."

"Rumahmu tidak searah."

"Malam ini jalanan tidak terlalu padat."

"Pak Reynard," Naomi mulai memakai nada formal, berharap jarak itu bisa menyelamatkannya, "saya benar-benar bisa pulang sendiri."

Reynard menatapnya sebentar. "Kalau kamu tetap ingin pesan mobil, saya tunggu sampai mobilnya datang dan kamu masuk."

Naomi terdiam.

Felicia langsung tersenyum menang. "Nah. Pilih, Na. Diantar Rey atau ditungguin Rey di depan rumah gue kayak satpam mahal."

"Felicia."

"Aku serius."

Patrick tertawa kecil, lalu pura-pura batuk saat Naomi meliriknya.

Akhirnya Naomi menyerah. "Baik. Terima kasih."

Reynard tidak terlihat puas atau menang. Dia hanya mengangguk sekali, lalu berjalan ke arah mobil hitam yang sudah menunggu di depan pagar.

Porsche Cayenne itu tampak mengilap di bawah lampu jalan. Naomi sempat berhenti setengah detik. Mobil itu sama dengan yang tadi pagi berhenti di halaman Vihara Padma Suci.

Kantong doa merah tua kembali muncul di kepalanya.

"Na," panggil Felicia pelan.

Naomi tersadar. "Iya. Aku pulang dulu."

Reynard membukakan pintu penumpang untuknya. Naomi mengucapkan terima kasih lalu masuk. Aroma interior mobil itu bersih, campuran kulit, kayu, dan wangi mint yang samar. Tidak ada musik. Hanya suara pintu tertutup pelan dan mesin yang menyala halus.

Beberapa menit pertama mereka diam.

Jakarta malam bergerak di luar jendela. Lampu ruko, motor yang menyelip, gerobak martabak di pinggir jalan, semuanya lewat seperti potongan gambar. Naomi menaruh tas di pangkuan, kedua tangannya saling menggenggam di atasnya.

"Alamat Apartemen Green Palace, Kelapa Gading?" tanya Reynard.

Naomi menoleh. "Kamu tahu?"

"Felicia pernah menyebut."

Jawaban itu masuk akal, tetapi Naomi tetap merasa ada sesuatu yang terlalu rapi. "Felicia menyebut banyak hal."

"Aku mengingat yang perlu."

Naomi tidak tahu harus menanggapi apa.

Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Di kaca depan, warna merah lampu lalu lintas jatuh di sisi wajah Reynard, membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas.

"Tadi," kata Naomi akhirnya, "terima kasih."

"Untuk Ferry?"

"Iya."

"Dia melewati batas."

"Aku bisa mengurusnya."

"Aku tahu."

Naomi menoleh lagi. "Kalau tahu, kenapa tetap ikut campur?"

Reynard memandang jalan saat lampu berubah hijau. "Karena kamu tidak seharusnya mengurus hal seperti itu sendirian kalau ada orang lain yang bisa membantu."

Kalimat itu terlalu sederhana. Tidak ada nada menggurui. Tidak ada kesan menganggap Naomi lemah. Namun justru karena itu, bantahan yang sudah disiapkan Naomi kehilangan tempat.

Dia menatap jari-jarinya di atas tas. "Kita kan nggak dekat."

Kata-kata itu keluar pelan, hampir seperti peringatan untuk dirinya sendiri.

Reynard diam.

Naomi menunggu jawaban. Mungkin iya. Mungkin benar. Mungkin permintaan maaf karena terlalu jauh masuk ke urusannya.

Namun yang terdengar hanya napas pendek, lalu dari sudut matanya Naomi melihat Reynard tersenyum tipis.

"Menurutmu begitu?"

Naomi berkedip. "Memang begitu, kan?"

"Kalau begitu, anggap saja aku kebetulan lewat."

"Dua kali dalam sehari?"

Kali ini Reynard benar-benar menoleh sekilas. "Dua kali?"

Naomi langsung menyesal.

Dia tidak berencana menyebut vihara. Tidak ada alasan untuk mengaku bahwa sejak pagi tadi dia memikirkan hal yang sama berulang-ulang. Namun kalimat itu sudah terlanjur keluar.

"Aku melihatmu di Vihara Padma Suci pagi tadi," katanya akhirnya.

Ekspresi Reynard tidak berubah, tetapi tangan kirinya di setir diam setengah detik sebelum kembali bergerak.

"Kamu juga ke sana?"

"Iya. Aku sering ke sana dengan Kong Kong dulu." Naomi berhenti sebentar. "Aku cuma agak kaget melihatmu."

"Kenapa?"

"Entahlah. Kamu tidak terlihat seperti orang yang pergi ke vihara pagi-pagi."

"Aku harus terlihat seperti apa?"

Naomi hampir tersenyum. "Seperti orang yang percaya pada jadwal rapat dan laporan keuangan."

Reynard mengeluarkan tawa kecil. Sangat singkat, hampir hilang di suara mesin, tetapi cukup membuat suasana mobil berubah.

"Itu penilaian yang cukup akurat."

"Jadi tadi pagi untuk apa?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Naomi menyadari ia sudah melewati batas begitu melihat Reynard kembali diam. Dia segera menambahkan, "Maaf. Bukan urusanku."

"Tidak apa-apa."

"Tidak perlu dijawab."

"Suatu hari mungkin aku jawab."

Naomi menoleh, tetapi Reynard sudah kembali menatap jalan. Kalimat itu terdengar seperti janji yang tidak sengaja diberikan.

Untuk beberapa saat, mereka tidak bicara lagi.

Mobil memasuki area Kelapa Gading. Jalanan lebih ramai, tetapi tidak semacet siang hari. Naomi mulai merasa kantuk datang, mungkin karena terlalu pagi ke Bogor, terlalu lama berpesta, dan terlalu banyak menahan canggung. Dia menahan satu kali menguap, gagal pada yang kedua.

Reynard melihatnya dari ekor mata. "Tidur saja. Nanti aku bangunkan."

"Tidak usah. Sudah dekat."

"Masih dua puluh menit."

"Aku tidak enak."

"Tidur tidak merepotkan siapa pun."

Naomi ingin membantah, tetapi kelopak matanya terasa berat. Kursi mobil terlalu nyaman, suhu AC pas, dan suara mesin halus seperti dengung jauh. Dia hanya bermaksud memejamkan mata sebentar.

Dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan mobil melambat di satu belokan. Ada suara klik pelan, mungkin Reynard mengecilkan AC. Lalu sesuatu yang hangat dan ringan jatuh di atas lengannya. Jas pria itu.

Naomi ingin membuka mata, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah.

Samar-samar, dia mendengar suara Reynard. Rendah, hampir seperti gumaman yang ditujukan bukan untuknya.

"Kalau kamu tahu sudah berapa lama..."

Kalimat itu terputus oleh suara motor yang lewat di samping mobil.

Naomi berusaha menangkap lanjutannya, tetapi kantuk menariknya lebih dalam. Yang tersisa hanya wangi mint samar, hangat jas di lengannya, dan perasaan aneh bahwa ada sesuatu yang seharusnya ia dengar malam itu, tetapi lewat begitu saja sebelum sempat sampai ke hatinya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!