Bab 1: Pintu yang Tertutup
Kartu akses apartemen Kevin Jiang masih bisa dipakai.
Lampu kecil di samping pintu menyala hijau, bunyinya pelan sekali, tapi cukup membuat jantung Chua Yulin turun sampai ke perut. Sudah dua minggu Kevin bilang dia sibuk magang, sibuk tugas, sibuk membantu keluarganya. Sibuk sampai chat Yu hanya dibalas dengan stiker lelah dan kalimat pendek, "Nanti aku telepon."
Malam itu, Yu datang tanpa memberi kabar.
Di tangan kirinya ada paper bag berisi bubur ayam yang mulai dingin. Di tangan kanan, dia menggenggam strap tas sampai buku-buku jarinya memutih. Koridor apartemen di Jakarta Selatan itu terlalu rapi, terlalu wangi, terlalu tenang untuk sebuah firasat buruk.
Begitu pintu terbuka, suara tawa perempuan meluncur dari ruang tengah.
Yu berhenti.
Tawa itu bukan suara televisi. Bukan suara video pendek. Dia mengenal suara itu sejak SMA, suara manis yang selalu terdengar seolah tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.
Ling Meilin.
"Kev, jangan geli-geli, nanti tumpah."
Yu berdiri di ambang pintu. Paper bag di tangannya mengayun pelan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat sepatu hak warna krem di dekat sofa, tas kecil berantai emas di atas meja, dan kemeja Kevin yang tergeletak di sandaran kursi.
Kemeja yang tadi siang Kevin bilang masih dipakai di kantor.
Kevin muncul dari arah dapur dengan gelas di tangan. Senyumnya masih ada, tapi langsung pecah begitu melihat Yu.
"Yu?"
Meilin menoleh dari sofa. Rambutnya tergerai, bibirnya merah, bahu kirinya terlihat karena blouse itu melorot sedikit. Wajahnya sempat pucat sepersekian detik, lalu ia cepat-cepat menarik kain ke atas.
"Yulin?" ucap Meilin, seakan Yu yang salah masuk rumah orang.
Yu menatap mereka bergantian. Tidak ada adegan dramatis yang selama ini ia baca di novel, tidak ada petir, tidak ada musik latar, tidak ada air mata yang langsung jatuh. Yang ada hanya bubur ayam yang masih hangat di telapak tangannya, bau parfum Meilin yang bercampur dengan aroma sabun Kevin, dan suara AC yang terlalu dingin.
"Katanya kamu lembur," kata Yu.
Kevin menaruh gelas terlalu cepat sampai airnya tumpah sedikit ke meja. "Aku bisa jelasin."
"Jelasin dari bagian mana?" Yu melangkah masuk satu langkah. Pintu di belakangnya belum tertutup, angin koridor menyentuh punggungnya. "Dari sepatu Meilin? Dari baju kamu? Atau dari chat kamu yang bilang kamu belum makan, jadi aku bela-belain datang bawa bubur?"
Meilin berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca dengan cepat, terlalu cepat.
"Yu, kamu jangan salah paham. Aku cuma mampir karena Kevin lagi banyak pikiran."
Yu menoleh padanya.
"Dengan blouse kebuka?"
Wajah Meilin memerah. "Kamu kasar banget ngomongnya."
"Oh, maaf." Yu mengangguk pelan. "Harusnya aku lebih sopan waktu memergoki pacarku bersama perempuan lain di apartemennya."
Kevin mendekat. "Yu, dengar dulu. Ini nggak seperti yang kamu lihat."
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Yu retak dengan suara yang nyaris lucu. Ternyata orang benar-benar mengatakan kalimat setua itu ketika ketahuan.
"Aku lihat apa, Kev?"
Kevin berhenti. Ia menatap paper bag di tangan Yu, lalu wajahnya melembut seperti sedang mencari jalan paling mudah untuk keluar.
"Aku salah. Oke? Aku salah. Tapi kita bisa bicara baik-baik. Hubungan kita sudah tiga tahun, Yu. Jangan hancurkan cuma karena satu malam."
Satu malam.
Yu mengulang kata itu dalam kepalanya. Satu malam yang baginya cukup untuk merobohkan tiga tahun. Satu malam yang bagi Kevin rupanya hanya noda kecil di meja, bisa dilap dengan tisu, lalu dianggap tidak pernah ada.
"Berapa lama?" tanya Yu.
Kevin mengerutkan kening. "Apa?"
"Berapa lama kalian begini?"
Meilin membuka mulut, tapi Kevin lebih cepat menjawab, "Nggak lama."
Yu tertawa pelan. Suaranya asing bahkan untuk telinganya sendiri. "Nggak lama itu dua hari, dua minggu, atau sejak reuni SMA bulan lalu?"
Kevin diam.
Diam itu menjawab lebih jujur daripada semua penjelasan.
Yu menaruh paper bag di atas meja. Plastik beningnya berembun, mangkuk bubur di dalamnya bergeser miring. Ia pernah membayangkan memberi Kevin kejutan kecil seperti ini akan membuat mereka kembali dekat. Bodoh sekali. Ternyata yang perlu ia lihat hanya satu pintu yang terbuka.
"Kita selesai," kata Yu.
Kevin mengangkat tangan, hendak menyentuh lengannya. "Yu, jangan gini."
Yu mundur begitu cepat sampai tasnya membentur pinggir lemari sepatu.
"Jangan sentuh aku."
Kevin berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar berubah.
Sentuhan orang yang salah selalu meninggalkan rasa lengket di kulit Yu. Sejak kecil, tubuhnya punya caranya sendiri untuk mengingat hal-hal yang ingin ia lupakan. Ia tidak akan membiarkan tangan Kevin menambah satu lagi bekas.
Meilin menggigit bibir. "Kalau kalian mau bicara, aku bisa pulang dulu."
"Nggak perlu," kata Yu. "Kamu sudah cukup nyaman di sini."
"Yu," Kevin menekan suaranya. "Jangan mempermalukan aku."
Yu menatapnya, lama.
Di situlah sisa rasa sayangnya jatuh, bukan karena Kevin selingkuh, melainkan karena setelah semua ini, yang ia takutkan masih rasa malunya sendiri.
"Kamu mempermalukan dirimu sendiri."
Kevin menegang.
Yu berbalik menuju kamar kecil yang selama ini menyimpan beberapa barangnya. Setiap akhir pekan ia sering menginap di sini, membawa baju ganti, beberapa buku kuliah, charger cadangan, hoodie abu-abu, dan satu mug ikan kecil yang dibelikan Lily karena katanya Yu terlalu sering lupa minum.
Tangannya bergerak cepat. Baju masuk tas. Buku masuk tote bag. Charger ia cabut dari dekat meja. Mug ikan kecil sempat ia pegang lebih lama.
Kevin berdiri di pintu kamar. "Kamu mau ke mana malam-malam begini?"
"Ke mana saja asal bukan di sini."
"Yu, ini Jakarta. Jangan keras kepala."
Yu memasukkan mug itu ke dalam tas, dibungkus hoodie agar tidak pecah. "Aku keras kepala karena belajar dari orang yang selalu bilang sibuk, padahal cuma pandai bohong."
Kevin mengusap wajahnya. "Aku minta maaf."
"Aku dengar."
"Aku serius."
"Aku juga."
Ia menarik ritsleting tas. Suaranya tajam, seperti garis terakhir yang ditarik di antara mereka.
Ketika Yu keluar kamar, Meilin masih berdiri di ruang tengah. Perempuan itu memeluk lengannya sendiri, matanya basah, tetapi Yu sudah terlalu lelah untuk memeriksa apakah itu rasa bersalah atau akting.
"Aku benar-benar nggak berniat mengambil dia darimu," bisik Meilin.
Yu berhenti di depan pintu.
"Ambil saja."
Meilin tertegun.
Yu menatap Kevin untuk terakhir kali. Laki-laki itu pernah menjadi tempat ia pulang setelah kelas panjang, pernah mengirim pesan selamat pagi, pernah menggenggam tangannya di depan bioskop karena ia tahu Yu tidak suka keramaian. Semua kenangan itu masih ada, tapi malam ini warnanya berubah kusam, seperti foto yang terlalu lama terkena matahari.
"Tapi jangan kembalikan kalau sudah rusak," lanjut Yu.
Kevin memanggil namanya sekali lagi.
Yu menutup pintu.
Kali ini dari luar.
Koridor apartemen menyambutnya dengan dingin yang sama. Yu berjalan sampai lift, menekan tombol turun, lalu baru sadar lututnya gemetar. Paper bag bubur tertinggal di meja Kevin. Bagus. Biarkan mereka makan. Biarkan malam itu punya rasa hambar yang pantas.
Di dalam lift, pantulan dirinya terlihat pucat. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya kering, mata bulatnya terlalu tenang. Ia ingin menangis, tapi air mata seperti tersangkut di suatu tempat yang lebih dalam.
Begitu keluar dari lobby, udara Jakarta memukul wajahnya dengan lembap. Jam hampir sebelas malam. Hujan baru berhenti, menyisakan aspal basah dan bau tanah yang naik dari pot tanaman di depan gedung.
Yu duduk di bangku dekat pos satpam. Tas besar di sebelahnya, tote bag di pangkuan, ponsel di tangan. Ia membuka chat Lily, mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Lil, aku putus.
Ia menatap kalimat itu beberapa detik, lalu menghapusnya.
Kalau ia mengirim sekarang, Lily pasti datang, marah-marah, menyeretnya pulang, lalu membuat dunia ribut. Yu belum sanggup mendengar siapa pun mengasihani dirinya.
Ia membuka aplikasi pencari kos dan apartemen.
Harga-harga di Jakarta Selatan muncul seperti ejekan. Delapan juta. Tujuh setengah. Enam juta belum termasuk listrik. Yu menggeser layar dengan jari yang mulai dingin, sampai satu iklan membuatnya berhenti.
Apartemen share, Jakarta Selatan.
Rp 4.000.000/bulan.
Khusus perempuan. Bersih. Tenang. Tidak merokok. Tidak bawa teman sembarangan.
Foto-fotonya terlihat hampir terlalu rapi. Lantai putih mengilap, sofa abu-abu tanpa noda, dapur kecil yang seperti tidak pernah dipakai. Lokasinya hanya beberapa stasiun dari UI. Deposit masuk akal. Pemilik meminta penyewa bisa pindah cepat.
Yu menelan ludah.
Terlalu bagus untuk benar.
Ia membuka kolom komentar. Beberapa orang menulis tempatnya nyaman. Ada yang bilang pemiliknya jarang muncul. Ada yang memuji kebersihannya.
Lalu satu komentar paling bawah membuat jari Yu berhenti.
Kayaknya yang punya unit cowok deh. Aku pernah lihat ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi. Tapi admin bilang khusus cewek. Aneh.
Yu menatap layar lama sekali.
Di atas kepalanya, sisa hujan menetes dari kanopi lobby, jatuh satu-satu ke lantai. Malam itu, semua pintu yang ia kenal sudah tertutup. Mungkin pintu berikutnya juga berbahaya. Mungkin lebih aneh. Mungkin lebih buruk.
Tapi Yu tetap menekan tombol kirim pesan.
Halo, unitnya masih tersedia?
Bab 2: Pukul Dua Pagi
Balasan itu masuk kurang dari satu menit.
Masih. Kalau cocok, bisa pindah besok. Unit kosong malam ini.
Yu menatap layar ponsel sampai huruf-hurufnya terasa kabur. Di sekitarnya, lobby apartemen Kevin sudah mulai sepi. Satpam menguap di pos. Satu mobil hitam menurunkan penumpang, lalu pergi lagi, meninggalkan suara ban yang menggesek aspal basah.
Unit kosong malam ini.
Empat kata itu terdengar seperti jebakan, tapi juga seperti satu-satunya papan kecil yang terapung di tengah air. Yu mengusap layar dengan ibu jarinya, lalu membalas sebelum keberaniannya habis.
Saya mau lihat unitnya besok pagi.
Admin hanya membalas dengan alamat, nomor tower, dan kalimat singkat: Bawa KTP untuk data penghuni. Khusus perempuan, ya.
Yu hampir tertawa. Di kolom komentar, orang bilang ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi. Admin bilang khusus perempuan. Hidupnya baru saja hancur karena laki-laki, dan sekarang ia mungkin akan menyerahkan deposit pada iklan yang bahkan tidak bisa menentukan jenis kelamin penghuni.
Tapi malam itu, pilihan Yu tidak banyak.
Ia memesan GrabCar ke kos sementara milik teman sekelas yang sedang pulang ke Bekasi, tidur hanya dua jam di atas kasur tipis, lalu pagi harinya pergi melihat unit itu dengan mata sembap dan kepala berat.
Apartemen itu berada di Jakarta Selatan, tidak jauh dari akses MRT dan masih masuk akal untuk perjalanan ke UI. Gedungnya tinggi, lobby-nya wangi kopi dari kafe kecil di sudut, dan lift-nya terlalu cepat naik sampai perut Yu sedikit mual.
Admin unit, seorang perempuan muda bernama Rani, menyerahkan kartu akses sambil tersenyum profesional.
"Penghuni satunya jarang di rumah, Kak. Orangnya bersih banget, jadi tolong jaga kebersihan juga, ya."
"Penghuni satunya perempuan?" tanya Yu.
Senyum Rani berhenti setengah detik.
"Data di sistem begitu, Kak. Unit ini terdaftar untuk penyewa perempuan."
Jawaban itu tidak menjawab apa pun.
Yu berdiri di depan pintu unit sambil menggenggam strap tasnya. Bekas semalam masih terasa di tubuhnya, seperti lelah yang tidak mau lepas. Ia sudah mengirim pesan ke Lily, tapi hanya menulis bahwa ia pindah tempat sementara dan tidak perlu dijemput. Lily membalas dengan dua puluh panggilan tidak terjawab, lalu satu pesan panjang penuh huruf kapital.
Yu belum sanggup membukanya.
Pintu unit terbuka.
Hal pertama yang Yu rasakan adalah bau bersih.
Bukan sekadar wangi ruangan. Ini bau lantai yang baru dipel, kaca yang baru dilap, dan udara yang tidak memberi ruang untuk debu. Sepatu rumah tersusun lurus di rak dekat pintu. Sofa abu-abu di ruang tengah tidak punya lipatan berantakan. Meja makan kosong, kecuali satu kotak tisu yang posisinya tepat di tengah. Di dapur, botol sabun cuci piring menghadap ke arah yang sama dengan botol hand sanitizer.
Yu melepas sepatu dengan hati-hati, tiba-tiba merasa dosanya bertambah hanya karena membawa koper roda dua yang tadi melewati trotoar becek.
"Ini... rapi sekali," gumamnya.
Rani tertawa kecil. "Iya, Kak. Penghuni satunya agak perfeksionis. Tapi tenang, kamarnya masing-masing. Area pribadi nggak akan diganggu."
"Dia pulang kapan?"
"Biasanya nggak tentu. Kadang malam, kadang subuh. Tapi jarang berisik kok."
Subuh.
Komentar jam dua pagi itu kembali muncul di kepala Yu.
Ia melihat kamar yang ditawarkan. Ukurannya tidak besar, tapi cukup untuk kasur, meja belajar, lemari, dan satu jendela menghadap gedung sebelah. Yang paling penting, pintunya bisa dikunci dari dalam. Setelah semalam, fakta sesederhana itu terasa seperti kemewahan.
"Saya ambil," kata Yu.
Rani berkedip. "Kakak yakin? Nggak mau pikir-pikir dulu?"
Yu menatap koper di dekat kakinya. Hoodie abu-abu masih membungkus mug ikan kecil di dalam tas. Semua barang yang ia punya malam itu muat di dua tas dan satu koper. Lucu sekali, tiga tahun hubungan ternyata bisa ditinggalkan dengan barang sebanyak itu.
"Saya yakin."
Sore harinya, Yu resmi masuk.
Ia menghabiskan beberapa jam untuk membersihkan kamar yang sebenarnya sudah bersih. Ia menyusun buku kuliah di meja, menaruh laptop di sudut kanan, menggantung dua kemeja, lalu meletakkan mug ikan kecil di dekat jendela. Mug itu retak sedikit di bagian bawah karena perjalanan, tapi masih bisa berdiri.
Di luar kamar, apartemen tetap sunyi.
Sunyi yang aneh.
Tidak ada suara penghuni lain. Tidak ada sandal bergeser. Tidak ada piring dicuci. Tidak ada batuk, tidak ada musik, tidak ada tanda bahwa ada manusia lain pernah hidup di tempat itu, kecuali jejak kerapian yang terlalu disiplin.
Yu keluar untuk mengambil air. Di dapur, ia melihat satu catatan kecil tertempel di pintu kulkas.
Jangan taruh makanan berbau tajam tanpa tutup.
Tidak ada tanda tangan.
Yu membaca catatan itu dua kali, lalu membuka kulkas. Isinya membuatnya terdiam. Botol air mineral tersusun berdasarkan ukuran. Telur berada di kotak transparan dengan label tanggal. Sayur dibungkus rapi. Bahkan saus sambal pun berdiri seperti ikut upacara bendera.
"Oke," bisik Yu. "Aku tinggal sama robot."
Ia membuat teh hangat, kembali ke kamar, dan berusaha mengerjakan tugas struktur data. Tiga baris kode membuat kepalanya sakit. Lima menit kemudian, ia malah membuka chat Kevin tanpa sengaja.
Ada tujuh pesan baru.
Yu, jawab.
Aku khawatir.
Jangan kekanak-kanakan.
Kita perlu bicara.
Yu menutup chat itu sebelum pesan berikutnya terbaca. Ia mematikan notifikasi, menaruh ponsel telungkup, lalu menarik napas panjang.
Kulit di lengannya terasa tidak nyaman.
Rasa itu datang pelan, seperti semut halus bergerak di bawah permukaan. Biasanya, setelah pertengkaran besar atau keramaian yang membuatnya tertekan, tubuh Yu mulai mencari sentuhan aman. Dulu, kalau Ko Darren ada di dekatnya, cukup satu tepukan di kepala atau pelukan sebentar dan semua beres. Di Jakarta, ia hanya punya dirinya sendiri.
Ia melipat tangan di dada, mencoba menekan rasa gelisah itu.
"Nggak apa-apa," bisiknya. "Tidur saja."
Menjelang tengah malam, hujan turun lagi. Tetesnya memukul kaca jendela dengan ritme kecil yang lama-lama membuat mata Yu berat. Ia sempat berpikir untuk mengunci pintu kamar dua kali, lalu tiga kali. Setelah memastikan kunci benar-benar masuk, ia berbaring dengan lampu meja masih menyala.
Entah jam berapa ia tertidur.
Yang jelas, ia terbangun karena bunyi pintu utama terbuka.
Ceklek.
Mata Yu langsung terbuka.
Kamar masih remang. Ponselnya menunjukkan pukul 02.03. Dari luar, terdengar suara langkah berat, teratur, lalu bunyi sesuatu diletakkan di dekat pintu. Bukan langkah Rani. Bukan langkah perempuan yang pulang diam-diam setelah lembur.
Yu duduk perlahan. Jantungnya memukul tulang rusuk.
Komentar itu benar.
Ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi.
Sekarang laki-laki itu masuk.
Yu meraih penggaris besi dari meja belajar. Benda itu konyol sebagai senjata, tapi tangannya membutuhkan sesuatu untuk digenggam. Ia membuka pintu kamar sedikit, cukup untuk melihat ruang tengah.
Lampu foyer menyala.
Seorang laki-laki berdiri di dekat rak sepatu.
Tinggi. Sangat tinggi sampai ruangan itu terlihat lebih sempit. Ia mengenakan jaket balap hitam dengan garis putih di lengan, rambutnya sedikit basah oleh hujan, dan di tangannya ada helm full-face. Dari tubuhnya tercium campuran hujan, kulit jok mobil, dan aroma bensin yang tajam namun bersih.
Laki-laki itu mengangkat kepala.
Tatapannya langsung menemukan Yu.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Yu dengan penggaris besi di tangan. Laki-laki itu dengan helm di satu tangan dan sarung tangan balap di tangan lain.
Wajahnya terlalu bagus untuk situasi seburuk ini.
Garis rahangnya tajam, kulitnya pucat dingin di bawah lampu, matanya gelap dan tenang. Tenang yang bukan ramah, melainkan seperti seseorang yang terbiasa membuat orang lain lebih dulu menjelaskan diri.
"Kamu siapa?" tanyanya.
Suaranya rendah, datar, dan sama sekali tidak terdengar seperti orang yang baru membobol rumah.
Yu hampir tertawa karena takut. "Harusnya aku yang tanya begitu."
Alis laki-laki itu bergerak sedikit.
"Ini unitku."
"Admin bilang ini unit share khusus perempuan."
"Admin salah."
Jawaban itu begitu pendek sampai Yu ingin melempar penggarisnya.
"Aku sudah bayar deposit," katanya.
"Aku nggak terima pemberitahuan."
"Itu bukan masalahku."
"Sekarang jadi masalahku."
Udara di antara mereka mengeras. Yu merapatkan pintu kamar dengan bahunya, tapi ia tidak mundur. Kalau mundur, ia akan terlihat seperti penyusup. Padahal dia yang baru putus, baru pindah, baru mencoba hidup tanpa drama. Kenapa hidup malah mengirim laki-laki 189 cm berbau bensin ke ruang tengahnya pada pukul dua pagi?
Laki-laki itu menatap penggaris di tangannya.
"Kamu mau mukul aku pakai itu?"
"Kalau perlu."
"Penggaris?"
"Besi."
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih mirip penghinaan kecil yang terlalu tampan.
Yu makin kesal.
"Aku akan telepon admin," katanya.
"Besok." Laki-laki itu melepas jaketnya dengan gerakan rapi. Di baliknya, kaus hitam menempel pada tubuh yang jelas tidak dibentuk oleh hidup santai. "Sekarang aku mau mandi."
"Hei, tunggu. Kita belum selesai bicara."
Ia berjalan melewati ruang tengah menuju lorong. Yu, yang panik melihat orang asing menuju area kamar, refleks keluar dari kamarnya dan menghalangi sedikit.
Kesalahan besar.
Mereka bergerak pada saat yang sama.
Lengan Yu tersentuh punggung tangan laki-laki itu.
Hanya sebentar.
Kulit bertemu kulit.
Yu membeku.
Rasa semut halus yang sejak tadi merayap di bawah lengannya mendadak berhenti. Bukan berkurang pelan-pelan, bukan ditenangkan dengan usaha, melainkan hilang begitu saja, seperti seseorang mematikan suara bising di dalam tubuhnya. Napasnya, yang sejak tadi pendek dan cepat, turun perlahan.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak ia membuka pintu apartemen Kevin, tubuh Yu benar-benar sunyi.
Laki-laki itu juga berhenti. Ia melihat bagian tangan mereka yang tadi bersentuhan, lalu menatap Yu dengan dahi sedikit berkerut.
"Apa?"
Yu menarik lengannya cepat-cepat, seolah baru tersadar.
"Nggak."
"Kamu pucat."
"Kamu masuk rumah jam dua pagi. Tentu saja aku pucat."
Ia menatap Yu satu detik lebih lama, lalu mengambil satu langkah mundur, menjaga jarak dengan cara yang terlalu sadar. "Kamar mandi di ujung. Aku pakai lima belas menit. Setelah itu kita bicara kalau kamu masih mau ribut."
"Aku nggak ribut."
"Kamu pegang penggaris besi."
Yu menurunkan penggarisnya sedikit.
Laki-laki itu berjalan ke kamar mandi. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekilas.
"Sim Zhenyu."
Yu berkedip.
"Apa?"
"Namaku." Ia mendorong pintu kamar mandi. "Kalau mau lapor admin, sebut nama yang benar."
Pintu tertutup.
Suara shower menyala beberapa detik kemudian.
Yu masih berdiri di lorong, penggaris besi di tangan, jantung di dada, dan kulit lengannya yang tiba-tiba terasa terlalu tenang. Dari celah pintu kamar mandi, aroma bensin perlahan kalah oleh wangi sabun.
Ia menatap punggung tangannya sendiri.
Satu sentuhan tidak sengaja.
Satu detik saja.
Dan seluruh dunianya, yang sejak semalam berisik dan pecah, mendadak diam.
Bab 3: Sepuluh Juta
Lima belas menit ternyata benar-benar lima belas menit.
Begitu suara shower berhenti, Yu langsung mundur ke dekat pintu kamarnya, seolah jarak dua meter bisa menyelamatkan harga dirinya. Ia sudah menaruh penggaris besi di atas meja, tetapi matanya masih beberapa kali turun ke punggung tangan sendiri.
Tidak gatal. Tidak panas. Tidak gelisah.
Kulitnya tenang.
Terlalu tenang.
Pintu kamar mandi terbuka. Sim Zhenyu keluar dengan kaus putih bersih dan celana training hitam. Rambutnya masih basah, handuk kecil tersampir di leher. Aroma bensin yang tadi melekat padanya sudah hilang, digantikan wangi sabun mint yang dingin.
Ia berhenti ketika melihat Yu masih berdiri di lorong.
"Masih mau ribut?"
Yu mengangkat dagu. "Aku mau kejelasan."
"Bagus." Zhen berjalan ke ruang tengah, mengambil ponselnya dari meja, lalu duduk di sofa paling ujung. Sebelum duduk, ia mengelap permukaan sofa dengan tisu basah yang entah muncul dari mana.
Yu menatap gerakannya. "Kamu selalu begitu?"
"Selalu apa?"
"Mengelap sofa sendiri."
"Kalau ada orang asing baru masuk rumahku jam dua pagi, iya."
"Aku yang orang asing?"
Zhen menatapnya datar. "Aku yang tinggal di sini duluan."
Yu hampir membalas, tapi ponsel Zhen sudah tersambung ke admin. Rani menjawab dengan suara panik yang terlalu jelas terdengar karena Zhen menyalakan speaker.
"Kak Zhen, maaf banget. Data sistem dari pemilik lama memang tertulis penyewa perempuan untuk kamar kedua. Saya baru tahu Kakak belum menerima pemberitahuan."
"Saya menerima pemberitahuan sekarang," kata Zhen.
Yu menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum. Nada Zhen begitu datar sampai terdengar lebih tajam daripada orang marah.
Rani cepat-cepat menjelaskan bahwa kamar kedua sudah kosong tiga bulan, pemilik unit meminta segera disewakan, dan semua dokumen Yu sudah lengkap. Kalau salah satu pihak keberatan, kontrak bisa dibatalkan besok pagi.
Zhen menatap Yu. "Mau batal?"
Yu terdiam.
Harga sewa itu paling masuk akal. Lokasinya aman. Kamar bisa dikunci. Dan yang paling memalukan, tubuhnya masih mengingat satu detik sentuhan tadi seperti menemukan obat yang tidak sengaja jatuh dari langit.
"Aku sudah bayar deposit," kata Yu akhirnya.
"Deposit bisa dikembalikan," jawab Zhen.
"Aku nggak suka pindah dua kali dalam dua hari."
Zhen memandangnya beberapa detik, lalu berkata pada Rani, "Buat addendum. Area pribadi masing-masing. Jadwal bersih-bersih jelas. Tidak bawa tamu tanpa izin."
Yu berkedip.
Rani terdengar lega. "Baik, Kak. Besok saya kirim."
Telepon ditutup.
Zhen berdiri. "Aturan pertama, jangan sentuh barangku."
"Aturan pertama juga, jangan masuk rumah jam dua pagi tanpa bilang."
"Ini rumahku."
"Sekarang rumah share."
Mereka saling menatap. Di luar jendela, hujan sudah berhenti, tapi udara di ruang tengah masih seperti menyimpan listrik.
Zhen akhirnya mengambil helmnya. "Aku tidur."
"Kamu nggak mau tahu namaku?"
Langkahnya berhenti.
Yu sendiri tidak tahu kenapa ia bertanya. Mungkin karena ia kesal pria itu bisa menyebut aturan panjang tanpa merasa perlu mengenal orang yang harus menaatinya.
Zhen menoleh sedikit. "Chua Yulin. Di KTP tertulis begitu."
Yu tercekat.
"Admin kirim data penyewa," lanjutnya. "Selamat tidur, Chua Yulin."
Ia masuk ke kamar utama dan menutup pintu.
Yu berdiri sendirian di ruang tengah, merasa kalah tanpa tahu pertandingan apa yang baru saja dimulai.
Keesokan paginya, Yu menemukan aturan kedua sampai kelima tertempel di pintu kulkas.
Buang sampah sebelum pukul 20.00.
Lap meja setelah makan.
Jangan meninggalkan rambut di saluran kamar mandi.
Tidak memakai speaker di atas jam 22.00.
Tulisan tangannya rapi, miring tipis, dan menyebalkan.
Yu membaca semuanya sambil memegang gelas air. "Ini bukan roommate. Ini kepala asrama."
Pintu kamar utama terbuka.
Zhen keluar dengan hoodie hitam, tas laptop di bahu, dan wajah orang yang tidur empat jam tapi tetap terlihat seperti iklan skincare mahal. Ia melirik gelas di tangan Yu, lalu wastafel, lalu meja.
"Coaster ada di laci."
Yu melihat dasar gelasnya yang meninggalkan sedikit embun di meja.
Sabar, Yu. Baru hari kedua. Jangan bunuh orang.
Ia mengambil tatakan gelas dari laci dan meletakkannya dengan gerakan yang sengaja pelan.
"Puas?"
"Lumayan."
Zhen membuka kulkas, mengambil botol air, lalu ponselnya menyala di meja. Layar menghadap ke atas. Yu tidak berniat melihat. Sungguh. Tapi nama pengirim muncul besar-besar, dan matanya bergerak sendiri.
Nia Sentul
Z, jadwal malam ini tetap. Transfer Rp 10.000.000 sudah masuk. Jangan telat, ada tamu VIP.
Yu membeku.
Sepuluh juta.
Malam ini.
Tamu VIP.
Otaknya, yang semalam kurang tidur dan masih sakit hati, langsung bekerja ke arah paling salah.
Zhen mengambil ponsel itu sebelum pesan kedua muncul. Ia mengetik balasan singkat, wajahnya tidak berubah.
"Kamu baca?" tanyanya tanpa menoleh.
"Nggak."
"Kamu menjawab terlalu cepat."
"Aku cuma lihat sekilas."
"Sekilas yang panjang."
Yu meneguk air. Salah satu aturan belum tertulis sepertinya harus ditambahkan: jangan kepo pada roommate tampan yang mungkin punya pekerjaan malam misterius.
Zhen memasukkan ponsel ke saku. "Aku keluar. Ada kuliah."
"Kamu kuliah?"
Ia berhenti di dekat pintu, menoleh dengan ekspresi seperti Yu baru bertanya apakah manusia perlu oksigen.
"Menurutmu aku apa?"
Pertanyaan itu seharusnya mudah.
Namun pesan Rp 10.000.000 tadi berputar-putar di kepala Yu. Tinggi 189 cm, wajah seperti model majalah, pulang jam dua pagi, bau bensin yang bisa saja dari mobil klien, ada wanita bernama Nia mengatur jadwal malam, ada tamu VIP, dan bayaran sepuluh juta.
Yu menatapnya dari atas sampai bawah.
"Freelancer?" jawabnya hati-hati.
Alis Zhen naik sedikit.
"Bidang apa?"
"Bidang... jasa."
Keheningan jatuh.
Zhen menatapnya lama sekali, lalu berkata, "Kamu aneh."
Ia pergi sebelum Yu sempat membela diri.
Begitu pintu tertutup, Yu menutup wajah dengan kedua tangan.
"Chua Yulin, otakmu kotor."
Tetapi siang itu, bukti-bukti baru datang sendiri.
Pertama, seorang pet sitter mengantar seekor border collie hitam putih bernama Burger. Anjing itu masuk dengan ekor bergoyang, langsung mengendus koper Yu, lalu duduk manis di depan pintu kamar Zhen seperti prajurit menunggu komandan.
"Kak Zhen pesan grooming kemarin," kata pet sitter itu. "Burger anak baik banget. Cuma kalau Kak Zhen balapan malam, biasanya kami titip antar pagi."
Balapan.
Yu menangkap kata itu, tapi otaknya yang sudah telanjur membuat teori hanya memilih bagian yang cocok.
Tentu saja. "Balapan" mungkin kode. Orang-orang zaman sekarang aneh-aneh.
Burger mendekatinya dan meletakkan dagu di lutut Yu. Mata anjing itu bulat, cerdas, dan terlalu polos untuk rumah penuh rahasia.
"Hai, Burger," bisik Yu, mengusap kepalanya. "Majikanmu kerja apa sih sebenarnya?"
Burger menggonggong sekali.
"Model?" tebak Yu.
Burger menggonggong lagi.
Yu mengangguk serius. "Aku tahu."
Kedua, sore harinya, saat menjemur handuk di balkon kecil, Yu melihat beberapa pakaian Zhen yang sudah tergantung rapi. Semua dipisah berdasarkan warna. Kaus hitam, kaus putih, jaket tipis, lalu satu T-shirt dengan logo mencolok di bagian dada.
Sentul International Circuit.
Di bawahnya ada tulisan kecil: Z Racing Team.
Yu menyentuh ujung jemuran itu dengan dua jari, bukan karena ingin menyentuh barang Zhen, tapi karena tulisan itu terasa seperti petunjuk dalam novel misteri murahan.
Racing team.
Mungkin memang pekerjaan hiburan. Model untuk event otomotif? Umbrella boy? Tidak, biasanya umbrella girl. Tapi dengan wajah seperti itu, apa pun bisa dijual.
Ia membayangkan Zhen berdiri di dekat mobil sport, rambut basah, wajah dingin, lalu orang-orang kaya membayar sepuluh juta untuk ditemani foto atau makan malam setelah acara. Semakin dibayangkan, semakin masuk akal.
Terlalu masuk akal.
Yu menurunkan tangan cepat-cepat ketika Burger menggonggong dari belakang.
"Apa?" bisik Yu. "Aku cuma analisis."
Burger memiringkan kepala.
Malamnya, Zhen pulang sebelum jam sepuluh. Ia membawa kantong belanja berisi makanan anjing, roti gandum, dan cairan pembersih lantai. Sangat tidak cocok dengan teori Yu, tapi teori yang bagus memang harus tahan terhadap gangguan kecil.
Zhen melihat Burger duduk di kaki Yu sambil menikmati usapan kepala.
"Dia biasanya nggak dekat dengan orang baru," katanya.
Yu menarik tangannya, jantungnya aneh sendiri. "Dia yang datang."
"Aku nggak bilang kamu salah."
Kalimat sederhana itu membuat Yu kehilangan jawaban beberapa detik. Zhen berjalan ke dapur, mencuci tangan sangat lama, lalu mulai menyusun belanjaan.
Ponselnya bergetar lagi.
Yu, yang sedang duduk di karpet bersama Burger, melihat layar menyala dari jarak dua meter.
Nia Sentul
Besok malam ada sesi tambahan. Fee sama, Rp 10.000.000.
Yu langsung membuang muka, tapi terlambat.
Zhen menoleh.
"Kamu baca lagi."
"Layar kamu terang sekali."
"Kamu duduk jauh."
"Mataku sehat."
Zhen memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Bagus kalau begitu. Pakai untuk baca aturan kulkas."
Ia mengambil ponsel dan masuk kamar.
Yu menatap pintu kamar itu, lalu menatap Burger.
"Itu pasti pakaian kerja model..." gumamnya, mengingat T-shirt Sentul yang masih tergantung di balkon.
Burger menggonggong pelan, seolah setuju, atau mungkin menertawakan manusia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Yu menghela napas.
Ya. Pasti.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!