Indonesia
NovelToon NovelToon

Jatuh Dalam Bara

Episode 1

Bab 001

Lahir Kembali

Angin malam di atap gedung itu berbau hujan, karat, dan beton basah.

Sekar berdiri di tepi pagar pembatas dengan kedua tangan gemetar. Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta tampak seperti ribuan mata yang menonton tanpa mau menolong. Suara klakson dari jalan raya terdengar jauh, pecah oleh desir angin yang makin lama makin dingin.

Di depannya, Om Budi menatapnya dengan wajah yang tidak lagi punya rasa bersalah.

"Sekar, kamu jangan keras kepala," katanya. Nada suaranya masih memakai kelembutan palsu seorang paman, tapi matanya sudah lain. "Surat itu tinggal kamu tanda tangani. Oma kamu sudah tua. Kamu pikir dia sanggup terus melawan kami?"

Tante Rina berdiri di sampingnya sambil memeluk tas branded yang dulu dibeli dari uang warisan ayah Sekar. Bibirnya mengerucut, seolah Sekar yang sedang membuat masalah.

"Anak perempuan sendirian jangan sok kuat," ucap Tante Rina. "Kami ini keluarga. Kalau harta itu jatuh ke tangan orang luar, kamu mau tanggung jawab?"

Orang luar.

Sekar hampir tertawa, tapi tenggorokannya terlalu sakit. Selama bertahun-tahun, mereka datang ke rumah Oma Lien dengan wajah manis, membawa buah, memeluknya di depan tetangga, lalu pulang dengan alasan meminjam uang. Ketika Oma menolak, mereka menyebutnya pelit. Ketika Sekar mulai memblokir akses mereka ke rekening keluarga, mereka menyebutnya anak durhaka.

Malam ini, mereka tidak lagi memakai topeng.

Sekar menggenggam ponselnya erat-erat. Layarnya retak karena terjatuh saat ia ditarik paksa keluar dari lift. Di layar itu masih ada satu panggilan tidak terjawab dari Kevin.

Kev.

Nama itu membuat dadanya tertekan begitu dalam hingga ia sulit bernapas.

Di kehidupan ini, ia bahkan belum sempat mencintainya dengan benar.

Kevin Senja Halim. Lelaki yang dulu hanya ia kenal sebagai anak berambut biru yang sering lewat di koridor sekolah dengan wajah dingin dan anting perak di telinga kiri. Lelaki yang semua orang sebut berbahaya, tidak punya masa depan, tidak pantas didekati.

Sekar juga pernah mempercayai jarak itu.

Ia pernah berjalan melewatinya tanpa berani menoleh terlalu lama. Ia pernah mendengar gosip tentang Kevin berantem di tempat biliar, lalu memilih diam seperti orang lain. Ia pernah berpikir hidup mereka tidak akan pernah bersinggungan.

Sampai semuanya terlambat.

Sampai ia tahu, setelah hidupnya mulai runtuh, bahwa Kevin diam-diam menjaga makam orang tuanya setiap tanggal kematian mereka. Sampai ia mendengar dari Bryan bahwa Kevin pernah menyimpan foto lamanya dari acara tari di televisi, foto seorang gadis kecil dengan riasan panggung dan senyum gugup.

Sampai ia tahu bahwa lelaki yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia itu, ternyata pernah mencintainya begitu lama.

"Serahkan ponselmu," kata Om Budi.

Sekar mundur setengah langkah. Punggungnya menyentuh pagar pembatas yang dingin.

"Nggak," jawabnya.

Tante Rina mendecak. "Lihat? Anak ini memang sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik."

"Aku sudah kirim semuanya ke pengacara," Sekar berbohong. Suaranya tidak setegas yang ia inginkan, tapi ia memaksa dagunya terangkat. "Bukti transfer, pesan ancaman, rekaman kalian. Kalau terjadi sesuatu padaku, semuanya akan sampai ke polisi."

Wajah Om Budi berubah.

Untuk pertama kalinya malam itu, Sekar melihat ketakutan di mata pamannya. Kecil, cepat, tapi nyata.

Namun ketakutan orang serakah tidak membuatnya mundur. Ia justru menjadi lebih nekat.

"Kamu pikir kamu bisa mengancam saya?" Om Budi melangkah maju.

Sekar menekan tombol panggilan ulang dengan ibu jari yang basah oleh keringat. Ia tidak tahu apakah Kevin akan mengangkat. Ia tidak tahu apakah sinyal di atap ini cukup kuat. Ia hanya ingin, untuk sekali saja, suaranya sampai kepadanya.

Panggilan tersambung.

"Sekar?"

Suara Kevin terdengar pecah dari speaker ponsel. Rendah, tegang, seakan ia sudah berlari.

Mata Sekar panas seketika.

"Kev," bisiknya.

Om Budi melihat layar ponsel itu. Detik berikutnya, ia menerjang.

Sekar berusaha menghindar, tetapi Tante Rina menarik rambutnya dari belakang. Rasa sakit menjalar ke kulit kepalanya. Ponsel terlepas dari tangan, terpental ke lantai beton, masih menyala.

"Sekar!" suara Kevin berteriak dari sana.

Om Budi mencengkeram lengan Sekar. "Kamu yang cari masalah sendiri."

"Lepas!" Sekar meronta. Kukunya menggores tangan Om Budi, tapi lelaki itu hanya mengumpat.

Tante Rina menutup mulutnya dari belakang. Bau parfum mahalnya menusuk hidung Sekar, manis dan membuat mual. Kaki Sekar menendang kosong. Ujung sepatunya bergesekan dengan beton basah.

Di lantai, ponselnya bergetar. Suara Kevin masih memanggil namanya. Sekar ingin menjawab, ingin mengatakan jangan datang, ingin mengatakan maaf karena terlambat tahu, maaf karena di hidup ini ia terlalu bodoh untuk melihatnya.

Namun tangan Om Budi sudah mendorong bahunya.

Dunia miring.

Langit Jakarta berputar di atas matanya. Pagar pembatas menghilang dari punggungnya. Untuk satu detik yang sangat panjang, Sekar merasa tubuhnya ringan, seperti kelopak bunga yang terlepas dari tangkai.

Lalu suara Kevin pecah di telinganya.

"SEKAR!"

Ia jatuh.

Tidak ada rasa sakit pada awalnya. Hanya angin yang menghantam wajahnya, rambut yang menampar pipi, dan cahaya-cahaya kota yang berlari naik. Sekar menatap langit hitam dengan mata terbuka. Aneh, di detik terakhir itu, yang ia ingat bukan wajah Om Budi, bukan Tante Rina, bukan rasa takut.

Yang ia ingat adalah seorang anak laki-laki berambut biru di koridor sekolah, berjalan sendirian dengan tangan di saku, seolah seluruh dunia tidak layak ia lihat.

Kev, kalau ada kehidupan lain, aku akan menoleh lebih dulu.

Benturan itu menelan segalanya.

Gelap datang seperti air laut yang menutup kepala.

Namun kematian ternyata tidak langsung sunyi.

Sekar melihat potongan-potongan kejadian seperti kaca pecah yang melayang di ruang gelap. Ia melihat hujan turun di pemakamannya. Oma Lien duduk di kursi roda, wajahnya pucat, kedua tangan menggenggam foto Sekar sampai buku jarinya memutih.

Ia melihat Kevin berdiri di belakang kerumunan dengan kemeja hitam basah. Rambutnya tidak lagi biru, sudah hitam pendek, tapi anting perak itu masih ada. Wajahnya kosong. Terlalu kosong sampai Sekar ingin mengguncangnya.

Jangan seperti itu, Kev. Aku di sini.

Tapi ia tidak punya suara.

Hari berganti. Hujan berhenti. Rumput di makamnya tumbuh lebih hijau. Kevin tetap datang.

Kadang ia datang pagi buta, membawa bunga putih yang dibungkus koran. Kadang ia datang malam, duduk di samping batu nisan tanpa payung meski hujan turun deras. Ia jarang bicara. Ia hanya membersihkan daun kering dari nama Sekar, lalu menempelkan ujung jarinya di batu dingin itu.

"Mereka belum selesai," katanya suatu malam.

Suaranya serak, seperti orang yang sudah lama tidak tidur.

Sekar berdiri di hadapannya, tak bisa disentuh, tak bisa menyentuh. Ia menjerit sampai seluruh dadanya terasa robek, tetapi Kevin tidak pernah mendengar.

Kemudian potongan lain datang.

Om Budi dibawa polisi dengan tangan diborgol. Wajahnya pucat, mulutnya terus berteriak bahwa ia difitnah. Tante Rina pingsan di depan rumah mereka saat wartawan menyorotkan kamera. Tommy menunduk di balik jaket, menghindari sorot publik.

Sekar melihat rekaman suara diputar di ruang interogasi. Melihat bukti transfer, pesan WhatsApp, dokumen palsu, semuanya tersusun rapi seperti pisau yang ditancapkan satu per satu ke kebohongan mereka.

Di ujung ruangan, Kevin berdiri diam.

Bryan ada di sampingnya, menarik lengannya. "Bro, cukup. Mereka sudah masuk. Sekar pasti nggak mau lo hancur begini."

Kevin tidak menjawab.

Matanya hanya menatap kaca ruang interogasi. Di balik kaca itu, Om Budi gemetar.

"Dia mati sendirian," kata Kevin pelan. "Gue telat."

Bryan terdiam.

Sekar ingin menangis, tapi arwah tidak punya air mata.

Tidak, Kev. Kamu tidak telat. Aku yang terlambat menemukanmu.

Potongan terakhir datang dengan warna senja.

Di atap gedung yang sama, Kevin berdiri sendirian. Angin mengangkat ujung jaket hitamnya. Anting perak di telinganya berkilat sebentar terkena cahaya matahari yang hampir tenggelam.

Di tangannya ada sebuah foto lama. Sekar mengenal foto itu. Dirinya saat kecil, mengenakan kostum tari tradisional, pipinya merah karena riasan, senyumnya kaku di depan kamera televisi.

Kevin menatap foto itu lama sekali.

"Sekar," ucapnya.

Hanya namanya. Tidak ada kalimat panjang, tidak ada tangis keras. Justru karena itu, hati Sekar seperti diremas sampai hancur.

Jangan.

Sekar berlari, atau setidaknya ia merasa berlari. Ia menerobos angin, menerobos tubuhnya sendiri yang tidak lagi memiliki bentuk. Ia mengulurkan tangan ke arah Kevin.

Kev, jangan!

Kevin menutup mata.

"Kali ini gue yang datang ke lo."

Tubuhnya bergerak melewati pagar.

Sekar menjerit tanpa suara.

Gelap kembali menelan semuanya, lebih dingin dari sebelumnya. Ia merasa dirinya jatuh lagi, tetapi kali ini tidak ke tanah. Ia jatuh ke dalam suara, ke dalam cahaya putih, ke dalam bunyi bel sekolah yang nyaring dan menusuk.

Kring!

Sekar membuka mata.

Cahaya matahari menyerbu pandangannya. Bukan langit malam. Bukan atap gedung. Bukan makam basah.

Plafon putih. Kipas angin berputar pelan. Bau kapur tulis dan lantai yang baru dipel memenuhi hidungnya. Di luar jendela, terdengar suara anak-anak berseragam tertawa, kursi digeser, sepatu berdecit di koridor.

Sekar terengah.

Tangannya mencengkeram tepi meja.

Meja?

Ia menunduk. Di bawah telapak tangannya ada buku tulis bersampul biru muda. Di sudut kanan atas, tertulis namanya dengan tinta hitam.

Sekar Ayu Raganari.

Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik.

Lalu ia melihat seragam putih abu-abu yang ia kenakan. Rok sekolah. Lencana SMA di dada. Rambutnya masih panjang, diikat rapi dengan pita hitam. Di pergelangan tangan, tidak ada bekas infus, tidak ada luka jatuh, tidak ada dingin kematian.

Di papan tulis, Bu Wati baru saja menulis jadwal pembagian kelas awal semester.

"Sekar?"

Suara Yola terdengar dari samping. Gadis itu mencondongkan tubuh, alisnya berkerut. Wajahnya jauh lebih muda dari ingatan Sekar, pipinya masih bulat, matanya masih penuh rasa ingin tahu anak SMA.

"Lo kenapa? Pucat banget. Sakit?"

Sekar menatapnya tanpa berkedip.

Yola. Masih memakai jepit rambut kecil warna kuning. Masih hidup dalam hari-hari yang belum dihancurkan oleh apa pun.

Bibit tangis naik ke tenggorokan Sekar. Ia hampir memeluk Yola, hampir menangis di tengah kelas. Namun suara Bu Wati membuatnya tersadar.

"Anak-anak, mulai besok ada beberapa siswa pindahan kelas yang akan bergabung. Saya harap kalian bisa menjaga suasana belajar tetap kondusif. Kalian sudah kelas dua belas, bukan anak kecil lagi."

Kelas dua belas.

Sekar menatap kalender kecil yang tergantung di dinding kelas.

September.

Hari pertama semester baru.

Napasnya tercekat.

Ini bukan mimpi biasa.

Ini hari itu. Hari saat hidupnya pernah berjalan ke arah yang salah. Hari ketika ia masih belum mengenal Kevin, belum tahu tentang Om Budi, belum tahu bahwa orang yang akan paling mencintainya justru orang yang paling ia jauhi.

Sekar mencubit punggung tangannya keras-keras.

Sakit.

Rasa sakit itu begitu nyata hingga matanya langsung basah.

"Sekar, serius, lo mau ke UKS?" Yola makin panik.

Sekar menggeleng pelan. Ia menekan telapak tangan ke dada, merasakan jantungnya berdetak cepat, hidup, hangat, keras kepala.

Ia kembali.

Entah surga mengasihaninya, entah waktu runtuh, entah doa Kevin sampai ke tempat yang paling jauh. Ia tidak tahu. Ia hanya tahu satu hal.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan Om Budi menyentuh Oma Lien.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan Tante Rina tersenyum di depan makamnya.

Dan kali ini, ia tidak akan melewati Kevin Senja Halim seolah lelaki itu hanya bayangan di koridor sekolah.

Sekar menunduk, menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh ke halaman buku tulisnya. Setitik, dua titik, membuat tinta namanya sedikit melebar.

Yola menyodorkan tisu dengan bingung.

"Lo habis mimpi buruk?"

Sekar menerima tisu itu. Ujung jarinya masih gemetar, tetapi bibirnya perlahan bergerak membentuk senyum kecil.

"Iya," jawabnya lirih. "Mimpi yang panjang banget."

"Tentang apa?"

Sekar menatap keluar jendela.

Di koridor, beberapa siswa laki-laki lewat sambil tertawa. Tidak ada rambut biru di antara mereka. Belum. Kevin belum muncul hari ini. Menurut ingatannya, ia baru akan masuk ke kelas sebelah besok pagi, terlambat, dengan seragam berantakan, anting perak di telinga, dan tatapan dingin yang membuat semua orang otomatis memberi jalan.

Dulu, Sekar menunduk saat ia lewat.

Besok, ia akan menatapnya.

Besok, ia akan memanggil namanya.

Besok, kehidupan kedua Sekar benar-benar dimulai.

Episode 2

Bab 002

Pertemuan Kembali

Pagi berikutnya, Sekar datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

Langit Jakarta masih pucat. Lapangan sekolah belum ramai, hanya ada beberapa siswa piket yang menyapu daun kering di dekat parkiran motor. Udara pagi membawa bau tanah basah dan sabun pel dari koridor. Semuanya terlalu biasa, terlalu hidup, sampai Sekar beberapa kali harus menekan kuku ke telapak tangannya untuk memastikan ia benar-benar ada di sini.

Semalam ia tidak tidur.

Di rumah, Oma Lien sempat mengetuk pintu kamarnya dua kali. Pertama membawa susu hangat, kedua membawa minyak kayu putih karena mengira cucunya masuk angin. Sekar hampir menangis ketika melihat tangan Oma yang keriput menaruh gelas di meja.

Di kehidupan sebelumnya, tangan itu menggenggam fotonya di pemakaman.

Sekar tidak berani memikirkan lebih jauh. Ia hanya memeluk Oma Lien lama-lama, sampai Oma tertawa bingung dan menepuk punggungnya.

"Anak ini kenapa? Baru kelas dua belas sudah melankolis."

Sekar menjawab dengan suara kecil, "Kangen Oma."

Oma mengomel, tapi matanya lembut.

Pagi ini, bekas hangat pelukan itu masih terasa di dadanya. Namun begitu ia melewati gerbang sekolah, seluruh pikirannya kembali pada satu nama.

Kevin.

Menurut ingatan Sekar, Kevin akan datang terlambat sekitar lima belas menit setelah bel pertama. Ia tidak akan masuk lewat gerbang utama, melainkan dari sisi parkiran motor dekat lapangan basket. Rambutnya masih biru gelap, agak berantakan seolah disisir dengan jari. Seragamnya tidak pernah rapi. Kemeja putihnya sering keluar sedikit dari pinggang celana abu-abu, dasinya longgar, dan di telinga kirinya ada anting perak kecil yang membuat guru BK sakit kepala.

Dulu, gambaran itu hanya bagian dari gosip sekolah.

Hari ini, bagi Sekar, itu seperti janji hidup.

"Lo serius nggak mau ke UKS?" Yola menjatuhkan tas di kursi sebelahnya begitu masuk kelas. "Kemarin lo pucat kayak habis lihat hantu. Sekarang mata lo bengkak. Jangan-jangan lo putus sama orang yang belum gue tahu?"

Sekar yang sedang menatap koridor langsung menoleh.

"Aku nggak punya pacar."

"Nah, itu lebih parah. Belum punya pacar tapi tampang lo udah kayak ditinggal nikah."

Sekar hampir tertawa.

Yola selalu seperti ini. Mulutnya cepat, perhatiannya juga cepat. Di kehidupan sebelumnya, Yola menjadi salah satu orang pertama yang curiga pada Om Budi, tapi waktu itu Sekar terlalu takut melibatkan siapa pun.

Kali ini, ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

"Yol," panggil Sekar pelan.

"Hmm?"

"Kalau suatu hari aku cerita sesuatu yang terdengar aneh, lo percaya sama aku nggak?"

Yola mengerjap. "Aneh kayak apa dulu? Kalau lo bilang alien turun di Monas, gue butuh bukti video."

"Kalau tentang keluargaku."

Candaan di wajah Yola pelan-pelan hilang. Ia menurunkan suaranya. "Om Budi lagi?"

Sekar tidak menjawab langsung. Nama itu saja membuat perutnya dingin, tetapi ia memaksa diri tetap tenang.

"Belum sekarang," katanya. "Nanti aku cerita. Tapi kalau aku minta bantuan, jangan tanya terlalu banyak dulu."

Yola menatapnya beberapa detik. Lalu gadis itu mengangguk.

"Oke. Tapi lo juga jangan sok kuat sendirian. Gue sahabat lo, bukan hiasan kelas."

Sekar tersenyum tipis. "Iya."

Bel pertama berbunyi.

Kelas menjadi lebih ramai. Bu Wati masuk membawa map hijau dan langsung mengatur suasana. Di papan tulis, ia menuliskan beberapa pengumuman awal semester. Sekar mencoba mendengarkan, tetapi setiap detik terasa panjang.

Lima menit.

Delapan menit.

Sepuluh menit.

Jari Sekar meremas ujung rok sekolahnya. Ia tahu Kevin akan muncul. Ia sudah melihatnya dalam ingatan berkali-kali. Namun menunggu orang yang pernah mati untuknya berjalan kembali ke dunia hidup ternyata jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Suara motor terdengar dari arah parkiran.

Tidak keras, hanya deru pendek yang berhenti tiba-tiba. Namun tubuh Sekar langsung menegang.

Di luar kelas, beberapa siswa yang sedang berdiri dekat jendela menoleh.

"Itu dia datang," bisik salah satu anak laki-laki.

"Kevin?"

"Siapa lagi? Anak biliar itu."

"Gila, rambutnya makin biru aja."

Bu Wati berhenti menulis. Wajahnya berubah lelah sebelum orangnya bahkan muncul.

Sekar tidak bisa menahan diri. Ia menoleh ke arah pintu.

Langkah kaki terdengar di koridor. Lambat, tidak terburu-buru, seolah bel sekolah bukan urusannya. Beberapa siswa yang tadi bergerombol otomatis menyingkir. Lalu Kevin Senja Halim muncul di depan kelas mereka.

Untuk sesaat, dunia Sekar benar-benar berhenti.

Ia ada di sana.

Bukan bayangan di makam. Bukan tubuh yang jatuh dari atap senja. Bukan suara pecah dari telepon. Kevin berdiri hidup-hidup di bawah cahaya pagi, mengenakan seragam putih abu-abu yang berantakan, tas hitam disampirkan di satu bahu.

Rambut birunya lebih mencolok daripada ingatan Sekar. Warna itu gelap seperti langit sebelum hujan, jatuh sedikit menutupi alis. Di telinga kirinya, anting perak kecil memantulkan cahaya matahari. Wajahnya masih muda, lebih tajam, lebih dingin, dengan tatapan yang membuat orang lain memilih pura-pura sibuk.

Sekar menggigit bagian dalam pipinya.

Sakit.

Tetapi sakit itu tidak cukup menahan air matanya.

Kevin melirik ke dalam kelas, hanya sekilas, karena kelasnya ada di sebelah. Tatapannya melewati deretan meja, melewati Bu Wati, melewati Yola yang sedang berbisik "seram banget", lalu berhenti sekejap pada Sekar.

Hanya sekejap.

Namun sekejap itu membuat dada Sekar seperti dihantam ombak.

Matanya sama.

Tatapan yang dulu ia lihat di pemakaman. Tatapan yang menatap batu nisannya tanpa berkedip. Bedanya, sekarang mata itu belum mengenalnya. Belum mencintainya. Belum kehilangan apa pun karena dirinya.

Sekar berdiri tanpa sadar.

Kaki kursinya menggesek lantai, membuat beberapa kepala menoleh. Bu Wati mengangkat alis.

"Sekar?"

Sekar tidak mendengar.

Kevin juga menoleh lagi, kali ini benar-benar melihatnya. Alisnya bergerak sedikit, bukan karena kenal, melainkan karena heran melihat siswi teladan tiba-tiba berdiri seperti orang kehilangan napas.

Jarak mereka hanya beberapa meter.

Sekar membuka mulut.

Nama itu sudah berada di ujung lidahnya. Ia pernah meneriakkannya tanpa suara di atap gedung. Ia pernah memanggilnya dalam mimpi sepanjang malam. Sekarang Kevin berdiri di depannya, dan ia punya kesempatan untuk mengucapkannya dengan benar.

"Ke..."

Suara Sekar patah.

Yola langsung menyentuh lengannya. "Sekar, lo kenapa?"

Kevin menatapnya dengan ekspresi datar. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ingatan tentang bunga putih, makam basah, atau janji untuk datang menyusulnya.

Di belakang Kevin, seorang guru piket muncul dari ujung koridor.

"Kevin! Jam berapa ini?"

Kevin mengalihkan pandangan dari Sekar, seolah ia hanya melihat sesuatu yang aneh sebentar lalu kehilangan minat.

"Masih pagi, Bu," jawabnya datar.

"Masih pagi dari mana? Masuk kelas sekarang."

Kevin tidak membantah. Ia hanya memasukkan satu tangan ke saku celana, lalu berjalan melewati pintu kelas Sekar menuju kelas sebelah. Saat melewati ambang pintu, bahunya hampir menyentuh kusen. Aroma samar rokok, sabun murah, dan udara jalanan tertinggal sebentar di koridor.

Sekar masih berdiri.

Ia melihat punggung Kevin sampai lelaki itu menghilang di balik pintu kelas sebelah. Setelah itu, suara kursi ditarik terdengar, disusul gumaman beberapa siswa.

"Sok banget."

"Tapi ganteng, ya?"

"Ganteng sih, tapi nyusahin."

Bu Wati mengetuk papan tulis dengan spidol.

"Sekar, duduk. Kalau tidak enak badan, nanti istirahat di UKS."

Sekar menelan napas yang terasa seperti pecahan kaca. Pelan-pelan ia duduk kembali. Lututnya lemas. Tangannya dingin. Di bawah meja, Yola menyelipkan tisu ke genggamannya tanpa banyak bertanya.

"Lo kenal dia?" bisik Yola.

Sekar menatap pintu kelas sebelah.

Di balik dinding tipis itu, Kevin sedang duduk entah di bangku mana. Mungkin menunduk tidur. Mungkin menatap keluar jendela. Mungkin sama sekali tidak memikirkan gadis aneh dari kelas sebelah yang hampir memanggil namanya.

Sekar meremas tisu itu sampai kusut.

"Belum," jawabnya.

Yola mengerutkan dahi. "Belum?"

Sekar menunduk, menyembunyikan matanya yang kembali panas.

Belum, karena di hidup ini mereka memang belum saling mengenal.

Belum, karena Kevin baru saja melewatinya dengan dingin, seperti ia melewati semua orang.

Belum, karena baginya Sekar Ayu Raganari hanyalah siswi rapi dari kelas sebelah yang tiba-tiba berdiri dan menatapnya terlalu lama.

Tetapi Sekar ingat semuanya.

Ia ingat tangan Kevin yang membersihkan daun dari batu nisannya. Ia ingat suara Kevin yang mengatakan mereka belum selesai. Ia ingat senja di atap gedung, anting perak yang berkilat, dan kalimat terakhir yang menghancurkan hatinya.

Kali ini gue yang datang ke lo.

Sekar menutup mata sebentar.

Tidak, Kev.

Kali ini aku yang akan datang kepadamu lebih dulu.

Episode 3

Bab 003

Mendekati

Kali ini aku yang akan datang kepadamu lebih dulu.

Kalimat itu terus berputar di kepala Sekar sepanjang dua jam pelajaran pertama. Di papan tulis, angka-angka matematika berbaris rapi. Bu Wati menjelaskan materi dengan suara tegas. Yola sesekali menyikutnya karena Sekar menatap buku terlalu lama tanpa benar-benar menulis apa pun.

"Lo hari ini aneh banget," bisik Yola.

Sekar baru sadar ujung pulpennya berhenti di satu titik sampai tinta melebar seperti noda kecil.

"Maaf."

"Jangan minta maaf ke gue. Minta maaf sama buku lo. Itu udah lo tusuk dari tadi."

Sekar menunduk. Di sudut halaman, tanpa sadar ia menulis satu nama.

Kevin.

Ia cepat-cepat menutupnya dengan telapak tangan.

Yola melihat gerakan itu. Matanya menyipit. "Oke. Jadi benar karena anak rambut biru itu?"

Sekar tidak menjawab.

Yola menarik napas panjang, lalu berbisik lebih pelan. "Sekar, gue tahu lo bukan tipe yang gampang suka cowok cuma karena muka. Tapi Kevin itu beda. Dia sering berantem, sering dipanggil guru, dan setengah sekolah takut sama dia. Kalau lo cuma penasaran, jangan."

Sekar menatap papan tulis. Kapur putih meninggalkan debu tipis di ujung jari Bu Wati.

"Aku bukan cuma penasaran."

"Terus?"

Sekar menutup buku perlahan ketika bel istirahat berbunyi. Suara kursi bergeser memenuhi kelas. Anak-anak langsung berhamburan ke kantin.

"Aku mau kenalan."

Yola menatapnya seolah ia baru mengumumkan ingin pindah ke planet lain.

"Sekar."

"Iya?"

"Lo sadar dia tadi pagi bahkan nggak senyum?"

"Sadar."

"Dan itu nggak bikin lo mundur?"

Sekar mengambil dompet kecil dari tasnya. Di kehidupan sebelumnya, ia mundur terlalu sering. Ia menunduk saat harus menatap, diam saat harus bicara, takut saat harus meminta tolong. Semua itu berakhir dengan tubuhnya jatuh dari gedung dan Kevin menyusulnya ke kematian.

Tidak lagi.

"Nggak."

Yola membuka mulut, menutupnya lagi, lalu akhirnya berdiri. "Gue ikut."

"Nggak usah."

"Justru harus. Kalau dia nyakitin lo, minimal ada saksi."

Sekar ingin tertawa, tapi dadanya terlalu hangat. Ia membiarkan Yola berjalan di sampingnya sampai kantin.

Jam istirahat selalu membuat kantin SMA mereka seperti pasar kecil. Suara sendok beradu dengan piring, bau nasi goreng dan ayam kecap bercampur dengan es teh manis, murid-murid berebut kursi sambil tertawa keras. Namun ada satu sudut dekat jendela belakang yang lebih sepi dari bagian lain.

Kevin duduk di sana.

Ia tidak sendiri. Di depannya ada seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah cerah dan ekspresi paling santai di dunia. Laki-laki itu sedang mengaduk mi ayam sambil bicara tanpa henti, sementara Kevin hanya bersandar di kursi, satu kaki diselonjorkan, mata setengah menatap halaman belakang.

Bryan Tanuwijaya.

Sekar mengenalinya dari kehidupan sebelumnya. Saudara angkat Kevin. Orang yang selalu berdiri di samping Kevin bahkan saat seluruh dunia meninggalkannya. Orang yang kelak menangis di rumah sakit karena Kevin memakai tubuhnya sendiri untuk melindunginya dari kecelakaan.

Melihat Bryan hidup, sehat, dan masih bisa bicara begitu banyak membuat tenggorokan Sekar kembali sesak.

"Itu Bryan," bisik Yola. "Temannya Kevin. Sama-sama rusuh, tapi Bryan lebih banyak omong."

"Aku tahu."

Yola menoleh cepat. "Lo tahu dari mana?"

Sekar pura-pura tidak mendengar. Ia menuju etalase kantin dan membeli dua roti isi cokelat serta dua susu kotak. Tangannya sempat gemetar saat menerima kembalian, tetapi kali ini ia tidak mundur.

Ketika Sekar berjalan ke arah meja Kevin, beberapa siswa di sekitar kantin langsung melambat. Bisikan bergerak seperti angin.

"Itu Sekar, kan?"

"Ngapain dia ke meja Kevin?"

"Jangan-jangan mau negur karena tadi Kevin telat?"

"Gila, berani banget."

Kevin menyadari perubahan suasana sebelum Sekar sampai di hadapannya. Ia mengangkat mata. Tatapannya dingin, waspada, dan sedikit tidak sabar.

Bryan berhenti mengaduk mi.

"Bro," katanya pelan, tapi cukup terdengar, "ada bidadari nyasar."

Kevin tidak tertawa. "Diam."

Sekar berhenti di sisi meja. Jarak mereka tidak sampai satu meter. Dari dekat, ia bisa melihat noda kecil di ujung manset Kevin, goresan tipis di buku jarinya, dan anting perak yang bergerak saat ia memiringkan kepala.

Jantung Sekar berdetak begitu keras sampai ia takut semua orang mendengarnya.

Namun suaranya keluar lebih tenang dari yang ia kira.

"Kamu Kevin, kan?"

Kevin menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, bukan dengan cara tidak sopan, melainkan seperti sedang menilai apakah ia membawa masalah.

"Kalau iya?"

Yola yang berdiri dua langkah di belakang Sekar langsung menarik napas.

Bryan menyeringai. "Galak amat, Bro. Cewek nanya nama, bukan nagih utang."

Kevin mengabaikannya.

Sekar meletakkan satu roti dan satu susu kotak di atas meja Kevin. Satu set lagi ia taruh di depan Bryan.

"Aku Sekar. Kelas sebelah."

Bryan langsung duduk lebih tegak. "Oh, jadi ini Sekar. Anak ranking atas itu?"

Sekar tersenyum tipis. "Halo, Bryan."

Bryan hampir tersedak.

Kevin juga berhenti bergerak.

Beberapa detik berlalu. Suasana di meja itu berubah. Kevin menatapnya lebih tajam.

"Lo kenal dia?" tanya Kevin.

Sekar sadar ia melakukan kesalahan kecil. Di kehidupan ini, ia seharusnya belum tahu nama Bryan. Namun ia tidak panik. Ia menunjuk ke kartu nama OSIS kecil yang tergantung di lanyard Bryan, kartu yang menampilkan nama lengkap untuk panitia acara awal semester.

"Tertulis di situ."

Bryan menunduk melihat dadanya sendiri. "Oh. Pantes."

Kevin tidak langsung percaya. Matanya tetap pada Sekar.

"Ada urusan apa?"

"Mau kenalan," jawab Sekar.

Jawaban itu terlalu sederhana untuk semua bisikan di kantin. Bryan menutup mulut dengan punggung tangan, jelas menahan tawa. Yola di belakangnya berbisik, "Ya Tuhan, dia beneran."

Kevin menatap roti dan susu di meja.

"Gue nggak minta."

"Aku tahu."

"Terus kenapa dikasih?"

"Karena kamu belum makan."

Bryan mengangkat alis. "Wah. Perhatian."

"Bryan," Kevin memperingatkan.

"Iya, iya, gue makan aja bagian gue." Bryan langsung mengambil roti yang di depannya, lalu bergumam, "Kalau perhatian begini tiap hari, gue rela jadi saksi."

Kevin tidak menyentuh roti itu. Ia hanya menatap Sekar, seolah gadis di depannya adalah soal ujian yang tidak masuk akal.

"Lo salah orang," katanya. "Kalau mau main drama anak baik nyelamatin anak nakal, cari yang lain."

Kantin mendadak lebih sunyi bagi Sekar. Kalimat itu tajam, tapi tidak menyakitinya. Ia tahu Kevin sedang membuat pagar. Dulu pagar itu berhasil menjauhkan semua orang.

Hari ini, Sekar berdiri tepat di depannya.

"Aku nggak mau menyelamatkan kamu," katanya.

Kevin menyipit.

Sekar menarik napas pelan. "Aku cuma mau kenal kamu."

Untuk pertama kalinya, wajah Kevin kehilangan jawaban selama satu detik.

Satu detik itu cukup bagi Sekar.

Ia mendorong susu kotak sedikit lebih dekat. "Kalau nggak mau, buang aja. Tapi jangan kasih Bryan. Dia sudah dapat satu."

Bryan yang sedang menggigit roti langsung menunjuk dirinya sendiri. "Loh, kenapa gue dibawa-bawa?"

Sekar berbalik sebelum keberaniannya habis. Ia melewati Yola yang masih mematung, lalu berjalan keluar dari kantin dengan punggung tegak. Baru setelah sampai di koridor sepi dekat tangga, napasnya pecah.

Yola mengejarnya.

"Sekar Ayu Raganari."

Sekar berhenti.

"Lo baru saja ngasih roti ke Kevin Senja Halim di depan setengah kantin."

"Aku tahu."

"Dan lo bilang cuma mau kenal dia."

"Iya."

Yola memijat pelipis. "Gue butuh es teh."

Sekar akhirnya tertawa kecil.

Tawanya belum selesai ketika suara langkah terdengar dari arah kantin. Sekar menoleh. Kevin keluar lebih dulu, tas hitam sudah tersampir di bahu. Bryan berjalan di sampingnya sambil masih mengunyah roti.

Roti yang diberikan Sekar untuk Bryan sudah hampir habis.

Roti yang diberikan untuk Kevin tidak terlihat.

Namun susu kotak itu ada di tangan Kevin.

Belum dibuka.

Hanya dipegang.

Kevin melewati mereka tanpa berhenti. Sekar juga tidak memanggil. Ia hanya menatap susu kotak di tangan Kevin, lalu menatap wajahnya.

Saat jarak mereka tinggal selangkah, Sekar berkata pelan, "Sampai ketemu lagi, Kevin."

Langkah Kevin berhenti.

Yola membeku. Bryan perlahan menurunkan roti dari mulutnya.

Kevin menoleh. Kali ini tatapannya tidak sesingkat tadi pagi. Ia melihat Sekar lama, seolah baru menyadari bahwa gadis ini bukan sekadar siswi kelas sebelah yang aneh.

"Lo selalu begini?" tanyanya.

"Begini bagaimana?"

"Datang ke orang yang nggak lo kenal."

Sekar menahan senyum yang hampir muncul.

"Nggak," jawabnya. "Cuma ke kamu."

Bryan tersedak roti.

Kevin tidak langsung pergi. Matanya masih tertahan pada Sekar, dinginnya belum hilang, tapi ada sesuatu yang berubah di sana. Bukan lagi sekadar bingung. Bukan lagi sekadar waspada.

Untuk pertama kalinya di kehidupan ini, Kevin benar-benar melihatnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!