Bab 1: Malam Pertama yang Kacau
Felicia Santoso membuka mata tepat ketika seorang pembawa acara berkata, "Silakan kedua mempelai berdiri."
Lampu kristal di langit-langit ballroom Surya Mansion menyilaukan. Aroma bunga lili, parfum mahal, dan kamera yang terus berkedip membuat kepalanya nyaris pecah. Di hadapannya, ratusan tamu berbalut gaun dan jas mewah menatap ke arah panggung utama, seakan sedang menunggu adegan penting dalam sinetron keluarga konglomerat.
Dan Felicia baru sadar bahwa dirinyalah pemeran utama yang paling tidak siap.
Gaun pengantin putih menempel di tubuhnya. Di jarinya ada cincin berlian yang beratnya terasa seperti cicilan rumah. Di sebelahnya berdiri seorang pria tinggi dengan setelan hitam, poni panjang menutupi sebagian wajah, rahang kaku, dan aura sedingin ruang server.
Pembawa acara tersenyum terlalu lebar. "Pak Kevin, Bu Felicia, mohon saling memberi salam kepada keluarga besar."
Kevin?
Felicia menoleh pelan.
Pria itu tidak membalas tatapannya. Bahkan tidak melirik. Ia hanya berdiri tegak, dingin, mahal, dan jauh seperti patung di lobi hotel bintang tujuh.
*Oke. Aku pasti mimpi. Atau kesambet dekor wedding orang kaya.*
Senyum Felicia nyaris retak. Ia tidak ingat datang ke sini. Tidak ingat memakai gaun ini. Tidak ingat menikah dengan siapa pun. Ingatan terakhirnya adalah suara klakson, cahaya lampu mobil, lalu gelap.
Sekarang ia menjadi pengantin perempuan keluarga Surya.
Seorang perempuan paruh baya bergaun merah marun menatapnya dari meja keluarga utama. Senyumnya halus, tapi matanya dingin seperti pisau yang disimpan di balik sutra.
Felicia tidak tahu siapa wanita itu, namun tubuh ini otomatis menegang.
"Mama menunggu," kata Kevin akhirnya.
Suaranya rendah. Dua kata saja, tapi cukup membuat pembawa acara, fotografer, bahkan beberapa tamu di baris depan langsung menahan napas.
Felicia berkedip. "Mama?"
Kevin menatapnya sekilas. Tatapan itu datar. "Cynthia Liem. Panggil Mama di depan tamu."
*Mampus. Jadi aku sudah punya suami es batu, mertua tajam, dan ballroom penuh saksi? Paket lengkap penderitaan premium.*
Felicia memaksa kakinya melangkah. Gaun panjangnya hampir tersangkut, tapi seorang asisten sigap mengangkat bagian belakang gaun. Ia tersenyum pada tamu, menunduk pada para tetua, menerima pelukan formal dari orang-orang yang bahkan namanya tidak ia ketahui.
"Selamat, Bu Felicia."
"Akhirnya keluarga Santoso dan Surya benar-benar bersatu."
"Semoga pernikahan kontrak ini membawa kerja sama yang baik."
Felicia hampir tersedak.
Kontrak?
Ia menoleh ke Kevin, tetapi pria itu sudah menatap lurus ke depan. Dingin. Tenang. Seolah kata kontrak dalam pernikahan mereka bukan bom, melainkan menu makan malam.
Madam Liem mendekat. Wangi parfumnya lembut, tapi kehadirannya menekan seperti pintu lift yang terlalu sempit.
"Felicia," ucapnya manis. "Mulai hari ini kamu membawa nama Surya. Jangan membuat kami malu."
Felicia tersenyum sopan. "Tentu, Mama."
*Baru juga sadar jadi pengantin, sudah dapat ancaman halus. Keluarga ini punya paket sambutan atau apa?*
Sudut bibir Kevin bergerak sangat tipis.
Felicia tidak melihatnya. Ia terlalu sibuk menjaga senyum agar tidak jatuh dari wajahnya.
Acara berjalan seperti mimpi yang diedit terlalu cepat. Foto keluarga. Toast tanpa alkohol yang tetap terasa pahit. Tamu yang memandangnya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Bisik-bisik soal wajahnya yang tertutup makeup tebal, gaun yang terlalu mewah, dan reputasi Felicia Santoso yang katanya bodoh, norak, dan mengejar Kevin sampai keluarga Santoso akhirnya mendapat kontrak pernikahan.
Felicia mendengar semuanya.
Tubuh ini mungkin milik Felicia Santoso yang lama, tapi telinganya masih berfungsi.
Saat akhirnya ia dimasukkan ke Alphard hitam bersama Kevin, bahunya langsung turun. Sepatu hak tinggi membunuh jari kakinya. Jepit rambut terasa seperti alat penyiksaan.
Mobil bergerak keluar dari Surya Mansion menuju jalan besar Jakarta yang masih basah oleh hujan sore. Lampu kota memantul di kaca, panjang dan kabur.
Kevin duduk di sebelahnya, memandang tablet di tangan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada "kamu baik-baik saja?" Tidak ada "maaf, hidupmu baru saja berubah jadi episode pilot drama keluarga."
Felicia menatap profilnya dari samping. Poni hitam menutupi sisi kiri wajahnya. Garis rahangnya tegas. Bibirnya tipis. Kulitnya pucat, seolah matahari pun perlu izin untuk menyentuhnya.
*Tampan sih. Tapi kenapa vibes-nya kayak freezer daging?*
Jari Kevin yang sedang menggeser layar tablet berhenti.
Felicia menoleh ke jendela, tidak sadar apa pun.
"Kita akan tinggal di The Residence," kata Kevin.
"Bukan di Surya Mansion?"
"Tidak."
"Oh." Felicia mengangguk pelan. "Baik, Mas Kevin."
Kevin menoleh. Kali ini tatapannya lebih lama.
Felicia tersenyum manis. *Ya ampun, manggil Mas aja lidahku hampir keram. Tapi demi bertahan hidup, sopan dulu. Jangan sampai malam pertama berubah jadi malam terakhir.*
Kevin menutup tablet dengan gerakan pelan.
"Kamu ingat isi kontrak?"
Jantung Felicia terperosok.
"Sebagian," jawabnya, memilih aman.
"Tiga tahun. Tidak mencampuri urusan pribadi. Tidak menuntut hubungan suami istri. Kamu mendapat perlindungan Surya. Keluarga Santoso mendapat akses proyek. Setelah tujuanku selesai, kita bisa bercerai."
Kalimat itu jatuh satu per satu, rapi dan dingin.
Felicia menatap cincin di jarinya. Berlian itu memantulkan lampu jalan, berkilau indah, tapi rasanya seperti borgol.
*Oke. Jadi ini bukan romansa. Ini merger perusahaan pakai gaun pengantin.*
"Saya mengerti," katanya.
Kevin mengawasinya. Mungkin ia mencari tangis, protes, atau drama kecil seperti pengantin lain yang baru sadar dirinya hanya pion.
Felicia tidak memberinya itu.
Ia terlalu sibuk berpikir bagaimana cara pulang ke kehidupannya sendiri.
The Residence berdiri di kawasan elite yang sunyinya tidak wajar untuk ukuran Jakarta. Gerbang otomatis terbuka setelah pemindai wajah mengenali mobil Kevin. Jalan masuknya panjang, diapit pohon palem dan lampu taman. Rumah itu bukan sekadar vila, melainkan benteng modern berlapis kaca, batu alam, CCTV, dan penjaga yang menunduk serempak saat mobil berhenti.
Seorang pria tua berseragam rapi menyambut mereka di pintu.
"Selamat malam, Pak Kevin. Selamat malam, Bu Felicia. Saya Budi, kepala rumah tangga di sini."
Felicia menghela napas lega karena akhirnya ada manusia yang terdengar normal. "Selamat malam, Pak Budi."
Pak Budi tampak terkejut sejenak, lalu senyumnya menghangat. Mungkin Felicia Santoso yang lama jarang bicara sopan pada staf.
"Kamar utama sudah disiapkan," katanya.
Felicia membeku.
Kevin berjalan lebih dulu. "Ikut."
*Kamar utama. Tentu saja. Karena semesta belum puas menertawakanku.*
Kamar utama di lantai dua luasnya hampir sebesar apartemen studio. Ada ranjang besar, sofa panjang, balkon menghadap taman, dan kamar mandi marmer yang bisa dipakai rapat kecil. Di meja rias, koper Felicia sudah tersusun rapi.
Kevin melepaskan jasnya dan menggantungkannya di kursi.
Felicia langsung mundur setengah langkah. "Mas Kevin, soal tidur malam ini..."
"Kamu pakai ranjang." Kevin menunjuk sofa. "Aku di sana."
Felicia menatap sofa itu. Panjang, mahal, tapi tetap sofa.
"Tidak perlu. Saya bisa di sofa."
"Kamu akan mengeluh besok."
"Saya tidak manja."
Kevin melirik sepatu hak tinggi yang membuat kakinya merah. "Kakimu sudah berdarah."
Felicia menunduk. Benar. Tumitnya lecet. Sedikit darah menempel di tali sepatu.
Ia tidak sadar.
Kevin membuka laci, mengambil kotak obat kecil, lalu meletakkannya di meja tanpa banyak bicara. "Pakai."
Setelah itu ia masuk ke kamar mandi lain di sisi ruang ganti, menutup pintu.
Felicia berdiri sendirian di kamar asing, dalam gaun pengantin yang terlalu berat dan hidup yang terlalu tidak masuk akal.
Baru ketika suara air terdengar, kekuatan di lututnya hilang. Ia duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang.
"Apa-apaan ini..." gumamnya.
Seketika, suara ceria meledak di kepalanya.
***"Selamat datang, Host! Sistem Kepo berhasil aktif!"***
Felicia nyaris jatuh dari ranjang.
"Siapa?!"
***"Aku Si Kepo, partner gosip, penyelamat hidup, dan asisten misimu mulai malam ini. Tepuk tangan dulu dong!"***
Felicia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membesar ke arah pintu kamar mandi. Kevin masih di dalam.
"Aku gila," bisiknya. "Pasti aku gila."
***"Bukan gila, Host. Kamu mengalami perpindahan jiwa ke tubuh Felicia Santoso. Detail teknisnya panjang, nanti kita bahas kalau kamu sudah tidak terlihat mau pingsan."***
Felicia menatap kosong ke udara.
***"Misi utama: dalam tiga tahun, bantu Kevin Surya menjadi penguasa Surya Group. Bonus misi tambahan: buat cowok es batu itu jatuh cinta padamu. Kalau gagal..."***
"Kalau gagal apa?"
***"Yah, anggap saja kamu tidak mau tahu sekarang."***
Felicia memejamkan mata.
*Tamat. Riwayatku tamat. Aku masuk novel keluarga konglomerat, dapat suami freezer, mertua nenek sihir, dan sistem gosip yang kedengarannya hobi nonton infotainment.*
Pintu kamar mandi terbuka.
Felicia langsung duduk tegak.
Kevin keluar dengan kemeja hitam, rambut sedikit basah, dan handuk di tangan. Ia berhenti di ambang pintu.
Matanya menatap Felicia.
Terlalu tajam.
Terlalu lama.
Felicia berdeham. "Ada apa?"
Kevin tidak menjawab.
Karena di kepalanya, suara Felicia tadi masih menggema jelas.
*Suami freezer.*
*Mertua nenek sihir.*
*Sistem gosip.*
Kevin menggenggam handuknya lebih erat.
Untuk pertama kalinya sejak pesta pernikahan dimulai, wajah dinginnya retak sedikit.
Ia mendengar semuanya.
Bab 2: Dia Bisa Dengar Suara Hatiku?!
Ia mendengar semuanya.
Kevin Surya berdiri diam di ambang ruang ganti, masih memegang handuk, sementara Felicia menatapnya dengan wajah paling polos yang pernah ia lihat malam itu.
"Mas Kevin?" Felicia memiringkan kepala. "Ada yang salah?"
Salah?
Kevin hampir tertawa dingin.
Dalam dua menit terakhir, istrinya yang baru dinikahi karena kontrak itu sudah menyebutnya suami freezer, menyebut Madam Liem nenek sihir, dan mengaku mendengar sistem gosip di kepalanya. Kalau ada yang salah, seluruh malam ini salah.
Namun wajah Felicia tidak menunjukkan tanda sedang bercanda. Matanya justru waspada, seperti anak kecil yang ketahuan memecahkan vas tapi belum tahu vasa mana yang pecah.
Kevin menatapnya lebih tajam.
*Kenapa dia lihat aku begitu? Jangan-jangan dia curiga aku ngomong sama udara. Senyum, Cia. Senyum. Kamu normal. Kamu pengantin baru normal yang tidak punya AI infotainment di otak.*
Jari Kevin menegang.
Suara itu masuk ke kepalanya dengan jelas. Bukan dari mulut Felicia. Bibir perempuan itu tertutup rapat, bahkan tersenyum manis.
"Tidak ada," kata Kevin.
Felicia langsung menghela napas lega.
*Aman. Si freezer tidak sadar. Untung mukanya memang datar, jadi susah tahu dia curiga atau cuma hidup tanpa ekspresi.*
Kevin menutup mata sekejap.
Si freezer.
Perempuan ini benar-benar tidak takut mati.
"Pakai obatnya," katanya pendek.
"Iya."
Kevin berjalan ke sofa, mengambil selimut tipis dari lemari, lalu duduk dengan punggung kaku. Ia bisa saja keluar dari kamar. Ia bisa tidur di ruang kerja. Tapi rasa penasaran menahannya di sana.
Felicia membuka kotak obat dengan gerakan hati-hati. Gaun pengantinnya masih mengembang seperti awan yang salah tempat di kamar modern itu. Ia melepas sepatu, meringis saat kapas menyentuh tumit lecetnya, lalu menggigit bibir agar tidak bersuara.
Kevin memperhatikan dari sudut mata.
*Sakit juga ternyata. Tapi jangan manja. Baru hari pertama jadi istri kontrak, masa sudah drama gara-gara sepatu.*
"Kalau sakit, bilang Pak Budi," ucap Kevin.
Felicia mendongak. "Saya bisa urus sendiri."
"Keras kepala."
"Hemat tenaga, Mas. Saya baru pindah dunia, eh, maksud saya pindah rumah."
Kevin menatapnya.
Felicia membeku.
*Bodoh! Mulut, kerja sama dong sama otak!*
Kevin bisa merasakan sudut bibirnya ingin naik. Ia menahannya dengan susah payah.
"Tidur," katanya.
Felicia mengangguk cepat, lalu menyeret gaun pengantinnya ke ruang ganti. Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan piyama satin sederhana yang sudah disiapkan staf. Makeup tebalnya belum dihapus, rambutnya masih penuh jepit, dan ekspresinya sudah setengah mati lelah.
Kevin mematikan lampu utama. Hanya lampu tidur di sisi ranjang yang tersisa.
Malam pertama mereka berakhir tanpa canggung romantis. Yang ada hanya ranjang terlalu besar, sofa terlalu mahal, dan rahasia terlalu tidak masuk akal.
Kevin berbaring di sofa, satu lengan menutup mata.
Di ranjang, Felicia berguling pelan.
*Sistem? Si Kepo? Kamu masih ada?*
***"Ada dong, Host. Aku standby dua puluh empat jam. Mau tutorial malam pertama?"***
Felicia hampir tersedak.
*Jangan ngomong aneh-aneh! Dia di sofa!*
Kevin membuka mata.
Tutorial apa?
***"Oke, oke. Aku sopan. Untuk malam ini, saran survival: jangan percaya siapa pun di keluarga Surya, terutama Madam Liem dan Brandon."***
*Brandon siapa lagi?*
***"Kakak tiri suamimu. Playboy, toxic, dan merasa dirinya pewaris utama."***
Felicia menarik selimut sampai dagu.
*Besok saja. Otakku sudah penuh. Kalau ada tombol skip episode, aku pencet sekarang.*
Kevin menatap langit-langit.
Jadi suara kedua itu memang bukan halusinasi Felicia. Ada sesuatu yang berbicara dengannya. Sebuah sistem.
Dan ia satu-satunya orang yang bisa mendengar pikiran Felicia.
Pagi datang dengan bau kopi hitam dan roti panggang.
Felicia membuka mata, butuh lima detik untuk mengingat bahwa kamar mewah ini bukan hotel, melainkan rumah suami kontraknya. Butuh tiga detik lagi untuk melihat sofa sudah kosong.
Ia duduk mendadak.
"Mas Kevin?"
Tidak ada jawaban.
Di meja kecil dekat ranjang, ada segelas air hangat dan plester luka baru. Di sampingnya, secarik catatan dengan tulisan rapi.
Pakai. Jangan infeksi.
Felicia memegang catatan itu agak lama.
*Hah. Cowok es batu punya fitur perhatian juga? Ini bug atau update terbaru?*
Di ruang makan lantai bawah, Pak Budi sudah menunggu dengan sarapan lengkap. Bubur ayam, telur setengah matang, buah potong, dan teh tawar hangat tersusun rapi.
"Selamat pagi, Bu Felicia."
"Selamat pagi, Pak Budi. Mas Kevin?"
"Pak Kevin ada di ruang kerja. Beliau meminta Ibu sarapan dulu."
Felicia duduk. "Pak Budi, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu, Bu."
"Di rumah ini ada aturan khusus yang harus saya tahu?"
Pak Budi tampak berpikir sejenak. "Pak Kevin tidak suka suara berisik pada malam hari. Ruang kerja beliau tidak boleh dimasuki tanpa izin. Area garasi bawah khusus staf keamanan. Selain itu, Ibu bebas menggunakan rumah ini."
"Termasuk dapur?"
"Tentu."
Felicia tersenyum. "Bagus. Saya tidak bisa bertahan hidup cuma dengan makanan cantik."
Pak Budi tertawa pelan, lalu cepat menunduk seolah takut terlalu akrab. "Baik, Bu."
Felicia menyendok bubur, tapi matanya menangkap sebuah bingkai foto di rak samping ruang keluarga. Di foto itu, Kevin berdiri bersama seorang pria muda berjas putih, lengannya dirangkul santai dari belakang. Pria itu tersenyum lebar, terlalu dekat, terlalu nyaman.
Felicia mengunyah lebih lambat.
*Lho. Ini siapa? Kok akrab banget?*
Ia berdiri dan mendekati foto itu. Kevin dalam foto terlihat lebih muda, wajah kirinya tetap tertutup rambut, tapi tubuhnya tidak sekaku sekarang. Pria di sebelahnya tampak cerah seperti matahari yang nyasar ke kutub.
Di bagian bawah bingkai tertulis: Kevin & Jason, Singapore, 2019.
Felicia menyipit.
*Jason. Oke. Sahabat? Atau... ehem. Jangan-jangan ini alasan dia bikin kontrak tidak menuntut hubungan suami istri?*
Di lantai dua, Kevin yang sedang membaca laporan berhenti.
Pensil di tangannya patah.
*Aku paham. Kevin mungkin tidak tertarik sama perempuan. Mungkin dia terpaksa menikah demi keluarga. Ya ampun, plot twist-nya masuk akal banget.*
Kevin berdiri.
Di ruang makan, Felicia masih memandang foto itu dengan ekspresi serius.
*Kalau benar dia gay, aku harus hati-hati. Jangan sampai aku ganggu hidup orang. Tapi kalau Jason pacarnya, kenapa fotonya dipajang di rumah? Ini bukan red flag, ini neon sign.*
"Felicia."
Suara Kevin membuatnya hampir menjatuhkan bingkai.
Ia berbalik cepat. "Mas Kevin! Pagi."
Kevin berdiri beberapa langkah darinya, wajah tanpa ekspresi, tapi matanya gelap.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Lihat foto."
"Taruh kembali."
Felicia menurut. "Maaf. Saya tidak tahu itu pribadi."
Kevin berjalan mendekat, mengambil bingkai itu, lalu meletakkannya agak terbalik di rak. "Jason teman."
Felicia mengangguk terlalu cepat. "Tentu. Teman."
*Teman yang rangkulannya kayak punya saham di badan kamu, Mas.*
Kevin menatapnya tajam.
"Teman," ulangnya, lebih dingin.
Felicia tersenyum. "Saya tidak bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang banyak."
*Gawat. Apakah wajahku sejelas itu?*
Kevin hampir menjawab, lalu menahan diri.
Ia tidak boleh terlihat tahu.
Ponsel Kevin bergetar. Nama Jason Setiawan muncul di layar. Felicia melihatnya sekilas, dan matanya langsung membesar.
Kevin mengangkat telepon sebelum perempuan itu sempat membuat teori baru.
"Apa?"
Suara Jason terdengar samar tapi ceria dari speaker yang tidak sengaja terlalu keras. "Bro! Pengantin baru! Masih hidup? Gimana malam pertama?"
Felicia tersedak tehnya.
Kevin mematikan speaker dengan ibu jari. "Diam."
Jason tertawa di seberang. "Gue mau mampir siang ini. Mau kenalan sama istri kontrak lo."
"Tidak perlu."
"Justru perlu. Gue penasaran sama perempuan yang bikin keluarga Surya ribut satu ballroom."
Felicia pura-pura tidak mendengar, tapi telinganya jelas memerah.
*Si Jason mau datang? Oke. Ini kesempatan. Aku harus observasi langsung. Kalau mereka benar pasangan, aku harus jadi istri kontrak yang suportif. Modern problem needs modern solution.*
Kevin memejamkan mata.
Rasanya ia ingin membenturkan kepala ke dinding.
"Jangan datang," katanya pada Jason.
"Wah, makin mencurigakan. Sampai nanti, Kev!"
Telepon terputus.
Felicia menatap Kevin dengan senyum yang terlalu sopan.
"Jason mau datang?"
"Tidak."
"Tapi dia bilang sampai nanti."
"Dia tidak diundang."
"Oh."
*Makin mencurigakan. Drama cinta rahasia konglomerat. Aku harus cari tahu kebenarannya sebelum salah langkah.*
Kevin menatap istrinya yang baru sehari dikenal, lalu mengerti satu hal dengan sangat jelas.
Kemampuan membaca pikiran ini bukan berkah.
Ini hukuman.
Sementara Felicia menyesap teh dengan wajah polos, dalam hatinya ia sudah membuat misi pribadi pertama di dunia baru ini.
Ia harus menyelidiki siapa sebenarnya Jason Setiawan.
Bab 3: Sistem Kepo Aktif!
Ia harus menyelidiki siapa sebenarnya Jason Setiawan.
Rencana itu baru terbentuk tiga detik di kepala Felicia ketika Kevin menatapnya dari seberang ruang makan seolah ia baru saja mengumumkan rencana kudeta.
"Jangan."
Felicia yang sedang memegang cangkir teh berkedip. "Jangan apa?"
"Menyentuh barang pribadiku."
"Saya tidak menyentuh apa-apa."
"Foto."
Felicia tersenyum kecil. "Sudah saya taruh kembali."
Kevin jelas tidak percaya. Ponselnya kembali bergetar, kali ini bukan panggilan, melainkan pesan. Ia membaca sebentar, mengetik balasan singkat, lalu memasukkan ponsel ke saku.
Di kepala Felicia, alarm gosip langsung berbunyi.
*Pasti Jason. Pasti dia membatalkan janji karena Kevin panik. Hmm. Makin mencurigakan.*
Kevin menarik napas pelan.
"Aku ada rapat daring," katanya. "Jangan naik ke lantai tiga."
"Baik, Mas Kevin."
*Lantai tiga dilarang. Foto Jason dilarang. Suami ini hidupnya lebih banyak password daripada aplikasi bank.*
Kevin berhenti selangkah, lalu menoleh. "Sarapanmu habiskan."
Ia pergi sebelum Felicia sempat menjawab.
Pak Budi muncul dari arah dapur sambil membawa jus jambu merah. "Bu Felicia ingin tambah bubur?"
"Tidak usah, Pak. Terima kasih." Felicia menunggu sampai langkah Kevin benar-benar hilang di tangga, lalu menurunkan suara. "Pak Budi, lantai tiga itu apa?"
Pak Budi tersenyum sopan. "Ruang kerja pribadi Pak Kevin, Bu. Hanya Pak Kevin, Pak Adi, dan tim keamanan tertentu yang boleh masuk."
"Oh. Rahasia perusahaan?"
"Kurang lebih begitu."
Felicia mengangguk. "Baik. Saya tidak akan naik."
*Untuk sekarang.*
Pak Budi pura-pura tidak melihat sorot mata majikan barunya yang terlalu penasaran. Ia hanya menunduk dan kembali ke dapur.
Begitu sendirian, Felicia menghabiskan teh, lalu membawa dirinya ke kamar utama. Ia mengunci pintu, menutup tirai, dan duduk bersila di atas ranjang.
"Si Kepo," bisiknya. "Keluar."
***"Hadir, Host tersayang! Akhirnya dipanggil juga. Aku kira kamu lebih tertarik investigasi pacar rahasia suami daripada tutorial survival."***
"Jangan mulai." Felicia menunjuk udara kosong. "Aku butuh penjelasan. Lengkap. Tapi jangan bikin kepalaku meledak."
Sebuah panel transparan muncul di depan matanya. Tulisan biru muda berkedip seperti layar game, tapi tidak ada proyektor, tidak ada gawai, tidak ada apa pun.
MISI UTAMA
Bantu Kevin Surya menjadi penguasa Surya Group dalam 3 tahun.
MISI AFEKSI
Naikkan Love Meter Kevin Surya sampai 100.
STATUS HOST
Poin: 50
Inventory: Level 1
Shop: Terkunci sebagian
Felicia menatap layar itu dengan mulut setengah terbuka.
"Love Meter?" ulangnya.
***"Betul! Saat ini Love Meter Kevin untukmu berada di angka..."***
Angka muncul.
5/100
Felicia tersinggung. "Cuma lima?"
***"Itu sudah bagus, Host. Tadi malam sebelum kamu menyebutnya freezer, nilainya dua."***
"Dia tidak tahu aku menyebutnya begitu."
Di lantai tiga, Kevin yang baru duduk di depan laptop langsung mengangkat kepala.
Tahu.
Sangat tahu.
Felicia menggulir panel dengan jari, walau ia sendiri tidak yakin menyentuh udara itu masuk akal. "Kenapa harus Kevin jadi penguasa Surya Group?"
***"Karena kalau bukan dia, Surya Group akan jatuh ke tangan Brandon dan Madam Liem. Dalam lima tahun, perusahaan runtuh, banyak orang hancur, dan kamu termasuk korban pertama."***
Senyum Felicia hilang.
***"Kevin adalah pewaris paling kompeten, tapi posisinya ditekan sejak kecil. Madam Liem ingin Brandon naik. Liem family sudah menanam orang di hampir semua divisi penting."***
"Kenapa Hendrik Surya diam?"
***"Pak Hendrik kuat, tapi tua dan terlalu percaya pada istrinya. Dia juga punya rasa bersalah rumit terhadap Kevin."***
Felicia memeluk bantal. "Rasa bersalah apa?"
Panel berubah menjadi file berjudul PROFIL RISIKO: KEVIN SURYA.
Foto Kevin muncul. Lebih muda, wajah kiri penuh perban, tubuh kecil berdiri di halaman rumah besar yang tidak ia kenali.
Dada Felicia terasa tertarik.
***"Usia delapan tahun, Kevin dikirim ke Singapore dengan alasan pendidikan. Faktanya, Madam Liem memakai koneksi Wijaya Group untuk menyingkirkannya."***
Felicia diam.
***"Di sana dia dikurung, dipukul, dan diberi paparan racun saraf dosis kecil. Luka di wajahnya berasal dari serangan anjing penjaga. Setelah empat tahun, Om Hendra menemukan dan membawanya kembali."***
"Berhenti." Suara Felicia mengecil.
Ia menatap foto anak kecil itu. Poni dalam foto belum cukup panjang untuk menutupi luka, jadi separuh wajahnya terlihat. Mata anak itu kosong, seperti sudah terlalu lelah untuk meminta tolong.
*Dia masih delapan tahun...*
Di lantai tiga, napas Kevin tertahan.
Tidak banyak orang tahu detail itu. Bahkan di keluarga Surya, cerita resminya hanya kecelakaan saat sekolah di luar negeri.
Bagaimana Felicia bisa tahu?
Atau lebih tepat, bagaimana sistem aneh di kepalanya tahu?
Felicia mengusap wajah. "Jadi racun itu masih ada?"
***"Iya. Chronic neurotoxin. Gejalanya muncul setiap tahun: demam tinggi, nyeri saraf, tubuh kaku, kadang mimpi buruk ekstrem. Belakangan ada indikasi dosis tambahan dari pihak internal."***
"Madam Liem?"
***"Dugaan kuat. Bukti belum cukup."***
Felicia meremas bantal sampai buku jarinya putih.
*Pantas dia kayak tembok. Kalau hidupku dari kecil begitu, mungkin aku bukan tembok lagi, sudah jadi bunker.*
Kevin menunduk perlahan. Jari-jarinya menekan tepi meja.
Ia seharusnya marah karena rahasianya dibongkar. Ia seharusnya memanggil Adi dan menyelidiki Felicia detik itu juga.
Namun suara hati Felicia tidak terdengar mengejek.
Untuk pertama kalinya, ia mendengar iba yang tidak dibuat-buat.
"Si Kepo," Felicia berkata pelan. "Apa bisa disembuhkan?"
***"Bisa, tapi sulit. Butuh poin tinggi, data medis lengkap, dan akses ke ahli toksikologi tertentu. Shop punya item pendukung, tapi belum terbuka."***
"Berarti tugasku bukan cuma bikin dia jadi CEO."
***"Benar, Host. Kamu harus menjaga dia tetap hidup sampai waktunya."***
Kamar terasa lebih dingin.
Felicia memandangi panel lain. Ada menu Inventory, Toko Sistem, Misi Harian, Arsip Gosip, dan Obat Khusus. Ketika ia membuka Inventory, ruang kosong seperti laci tak terlihat muncul di layar.
***"Inventory Level 1 bisa menyimpan barang kecil sampai total sepuluh kilogram. Waktu di dalamnya berhenti. Cocok untuk dokumen, uang, obat, dan camilan darurat."***
"Camilan darurat penting."
***"Aku tahu kamu Host berkualitas."***
Felicia hampir tertawa, tapi foto Kevin kecil masih membayang di matanya.
Ia membuka menu Obat Khusus. Banyak item terkunci, hanya dua yang menyala redup.
TRUTH SERUM
HAPPY CRAZY PILL
"Nama obatnya kenapa kayak acara komedi?"
***"Branding itu penting, Boss."***
"Efeknya?"
***"Truth Serum membuat target sulit berbohong selama lima menit. Happy Crazy Pill membuat target kehilangan kontrol malu selama beberapa menit. Aman, tidak mematikan, tapi cooldown panjang dan poin mahal."***
Felicia menyandarkan punggung ke kepala ranjang.
Dalam satu jam, dunia barunya berubah dari pernikahan kontrak aneh menjadi perang keluarga, racun kronis, perebutan perusahaan, dan sistem yang menjual obat skandal.
*Oke, Cia. Tarik napas. Kamu cuma harus membantu suami kontrak yang trauma, melawan mertua psikopat, mengalahkan kakak playboy, mengumpulkan poin, menyembuhkan racun, dan mungkin mencari tahu apakah Jason pacarnya. Santai. Super santai. Literally cuma level neraka.*
Di lantai tiga, Kevin menutup laptop.
Ia tidak bisa lagi pura-pura rapat.
Lima menit kemudian, pintu kamar diketuk.
Felicia panik. Panel menghilang.
"Siapa?"
"Aku."
Felicia merapikan rambut yang bahkan tidak berantakan. "Masuk, Mas."
Kevin membuka pintu, berdiri di luar tanpa melangkah masuk. Tatapannya jatuh pada bantal yang hampir penyok di pelukan Felicia, lalu pada wajahnya yang lebih pucat dari tadi.
"Kamu sakit?"
"Tidak."
"Wajahmu pucat."
"Kebanyakan informasi."
Kevin menatapnya lama.
"Informasi apa?"
Felicia hampir menjawab jujur, lalu menggigit lidah.
*Tidak mungkin bilang aku baru tahu masa kecilmu dari AI gosip. Dia bisa lapor rumah sakit jiwa.*
"Soal kontrak," katanya. "Saya baru sadar tiga tahun itu tidak singkat."
Kevin masuk selangkah. "Menyesal?"
Felicia menatapnya.
Wajah dingin itu masih sama. Poni menutup luka. Bahunya tegak, seakan tidak ada yang bisa menyakitinya lagi. Tapi sekarang Felicia tahu, tubuh tinggi itu pernah menjadi anak kecil yang tidak bisa pulang.
"Belum," jawabnya.
Kevin diam.
Felicia memaksakan senyum kecil. "Saya hanya berpikir, kalau kita harus bekerja sama tiga tahun, sebaiknya saya tahu aturan mainnya."
"Aturan pertama," kata Kevin, "jangan percaya keluarga Surya."
"Termasuk kamu?"
Kevin menatapnya tanpa berkedip. "Terutama aku."
Ia berbalik pergi.
Felicia memandangi punggungnya sampai pintu tertutup.
Di kepalanya, Si Kepo berbisik lebih pelan dari biasanya.
***"Host, misi ini memang tidak mudah."***
Felicia menarik napas panjang, lalu melihat cincin di jarinya.
"Aku tahu."
Untuk pertama kalinya sejak bangun di ballroom, ia tidak lagi merasa hanya terseret masuk ke drama orang kaya.
Ia sudah berdiri di tengah pusaran.
Dan cowok es batu itu ternyata jauh lebih retak daripada yang ia bayangkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!