Brak!!
Suara pintu yang ditutup dengan keras membuat Zalina dan ibunya, Mariana, tersentak ketika sedang menonton televisi bersama.
Pandangan mereka seketika beralih, menatap sosok pria yang berjalan goyah ke arah mereka. Pria itu tampak lesu, gurat-gurat kelelahan terlukis jelas di wajahnya yang mulai menua. Tatapannya yang getir, seolah sedang menunjukkan beban berat yang kini sedang ia pikul di bahunya.
Rayhan menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan keras. Ia menyandarkan kepalanya di atas sandaran sofa. Matanya terpejam, bukan karena mengantuk, melainkan karena menahan lelah yang teramat besar.
"Ada apa, Mas?" tanya Mariana dengan wajah penuh kekhawatiran. "Apa pinjaman kita ditolak lagi?"
Rayhan mengangguk lemah. Ia tampak lelah.
Sudah seminggu terakhir ini, ia mencoba mencari pinjaman dana ke beberapa relasi dan juga teman-teman dekatnya. Perusahaan tekstil miliknya yang sudah berdiri puluhan tahun, kini berada di ambang kebangkrutan.
Mesin-mesin tua yang tidak lagi efisien, pesanan yang terus menurun, serta tekanan dari produk impor yang harganya jauh lebih murah, membuat keuangan perusahaan semakin tercekik. Hutang mulai menumpuk, para investor mulai kehilangan kepercayaan mereka, dan pada akhirnya keputusan pahit itu tidak bisa dihindari. Perusahaan harus ditutup.
Hari penutupan itu menjadi hari paling kelam dalam hidup mereka. Ribuan buruh bahkan berdemo di depan, gerbang pabrik, menuntut hak mereka yang belum dibayarkan beberapa bulan. Teriakan, tangisan dan amarah para buruh bercampur menjadi satu.
Membuat Rayhan merasa begitu terpukul. Perusahaan yang diwariskan turun-temurun kepadanya, tak mampu ia jaga. Ia kini harus kehilangan usahanya, sekaligus harga diri di hadapannya para pekerja yang menggantungkan hidup pada perusahaannya.
Ia sudah mencoba meminjam uang ke mana-mana, namun mereka menolak permohonannya. Padahal, banyak di antara perusahaan itu yang pernah ia bantu sebelumnya. Namun, ketika ia jatuh, tidak seorang pun yang bisa menolongnya.
Bahkan rumah mewah yang ia tempati, kini sudah ia jadikan jaminan ke bank, untuk membayar hutang pada investor dan juga membayar gaji karyawan yang tertunggak beberapa bulan.
"Apa pabrik itu benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi, Ayah?" tanya Zalina hati-hati.
"Tidak, Nak. Kita sudah benar-benar bangkrut. Bahkan rumah ini, mungkin akan disita oleh bank sebentar lagi karena hutang kita pada bank yang sudah jatuh tempo." jelasnya lirih, terdengar begitu memilukan.
Zalina duduk di samping ayahnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia meraih pundak ayahnya, mencoba untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Yah. Ayah sudah berusaha semampu Ayah."
Ucapan itu seperti angin segar yang membawa sedikit rasa tenang di dalam hati Rayhan. Ia sangat beruntung memiliki seorang putri yang pengertian dan tidak pernah menuntut apapun darinya.
"Terima kasih, Nak." ucapnya tulus.
Sementara Mariana yang berdiri di hadapannya mereka, tampak kesal. Wajahnya seketika memancarkan kemarahan yang tidak bisa lagi ia tahan.
"Rumah ini akan di sita?" Mariana mengulang kata itu dengan penuh penekanan.
"Iya, sayang. Maafkan aku." sahut Rayhan.
"Lalu... kita semua akan tinggal di mana, Mas?" tanyanya kesal.
"Aku akan menjual beberapa perhiasan dan barang-barang yang masih tersisa. Aku rasa itu masih cukup membeli sebuah rumah kecil untuk tempat tinggal kita sementara." jelas Rayhan.
Mariana tampak tersenyum tipis, bukan senyum senang, melainkan senyum pahit yang penuh sesal.
"Jadi, maksudmu kita akan hidup susah di rumah yang sempit dan kecil? Memulai semuanya dari nol lagi?" tanyanya pelan namun penuh penekanan, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Iya. Kita mungkin akan hidup sederhana untuk beberapa tahun. Tapi... aku janji akan segera mencari pekerjaan lain untuk kembali mengumpulkan modal." jelas Rayhan, tampak menenangkan istrinya.
Ia tahu, Mariana mungkin tidak bisa menerima kenyataan pahit ini begitu saja. Istrinya yang terbiasa hidup mewah sejak lahir, mungkin tidak akan siap untuk menerima kehidupan mereka yang akan berputar drastis.
"Tidak. Aku tidak mau hidup miskin denganmu, Mas. Aku tidak mau... aku tidak akan sanggup." bantahnya dengan mata yang memerah, menahan kesedihannya.
Memikirkan hidupnya yang mungkin akan serba berkekurangan, membuat Mariana murka, dan memilih untuk mengakhiri rumah tangganya yang sudah dibina lebih dari dua puluh satu tahun itu.
"Aku ingin bercerai, Mas."
Kata-kata itu seperti tamparan keras yang menghantam dada Rayhan. Bukan hanya bagi pria itu, namun juga bagi putri mereka, Zalina, yang kini tampak membeku di samping ayahnya.
Di tengah masalah yang menumpuk dan keterpurukan yang belum sempat mereka pahami sebelumnya, ibunya dengan mudahnya melontarkan kata "cerai" di hadapan mereka. Kata yang selama ini begitu jauh, namun kini terasa dekat dan begitu nyata. Kata-kata itu terdengar begitu menyakitkan hati.
Wanita yang dahulu penuh kasih sayang, dalam sekejap berubah menjadi wanita asing yang tidak punya rasa empati sedikit pun.
Rayhan yang mendengar perkataan istrinya, seketika merasa dunia yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh tanpa sisa.
Dadanya seketika terasa sesak, bukan hanya karena kehilangan perusahannya, tetapi karena ia pernah menyangka bahwa orang yang selama ini berdiri di sisinya justru memilih pergi disaat ia sedang begitu rapuh.
"Ini bukan saatnya bicara seperti itu, Bu. Tolong mengertilah posisi ayah sekarang. Ayah sedang menghadapi banyak masalah." Zalina menjeda kalimatnya sejenak. Ia tampak menggemskan napas, mencoba untuk menyadarkan ibunya.
"Seharusnya Ibu berdiri di samping Ayah untuk mendukungnya, bukan malah menambah masalah baru seperti ini. Kita ini satu keluarga, Bu. Seharusnya kita saling menguatkan bukan hanya saat kita sedang senang, namun saat kita juga sedang berada dalam kesusahan seperti sekarang."
"Kau tidak tahu apapun tentang keluarga, Zalin. Ibu sudah terbiasa hidup senang sejak kecil. Lalu, apa sekarang Ibu harus belajar untuk hidup susah?" Mariana menggeleng cepat. "Tidak. Ibu tidak mau... Ibu tidak sanggup, Zalin." ucap Mariana, meninggikan suara.
Rayhan tampak tersenyum lebar, bukan senyum hangat melainkan karena senyum getir yang begitu melukai hatinya.
"Jadi... selama ini, semua yang kita jalani tidak berarti apa-apa bagimu?" Rayhan menatap istrinya, matanya penuh luka yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tidak ada jawaban yang menenangkan. Wanita itu hanya mengalihkan pandangannya, seolah enggan menatap lebih lama pada kenyataan yang ia pilih sendiri.
"Baiklah... jika itu yang kau inginkan. Aku tidak punya hak untuk memaksamu tinggal." ucapnya lirih, tanpa menoleh ke arah Mariana. "Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya."
Zalina tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis, melihat keputusan kedua orang tuanya yang membuat ia sakit hati.
"Apa kau akan ikut bersama Ibu, atau tinggal bersama Ayahmu, Zalina?"
Pertanyaan itu membuat dada Zalina terasa semakin sesak. Ia dipaksa untuk memilih sesuatu yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya. Pilihan itu terlalu sulit baginya. Namun, ibunya tidak mengerti dan tidak peduli.
"Aku akan tetap di sini, bersama dengan ayah. Jika Ibu ingin pergi, maka pergilah." sahut Zalina dingin, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.
Mariana tampak menghela napas sejenak. Ia lalu pergi setelah membawa beberapa perhiasan yang masih tersisa dari rumah itu.
Wanita itu pergi begitu saja, tanpa memperdulikan dua orang yang selama ini selalu ada untuknya.
Hari itu, bukan hanya rumah yang terasa runtuh, namun juga keluarga yang selama ini mereka percaya akan selalu utuh.
🥀🥀🥀
Halo jumpa lagi dengan novel terbaruku.
Absen dulu yuk! Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca untuk mendukung karya ini.
Setahun kemudian...
Zalina dan ayahnya kini tinggal di sebuah rumah petak sederhana di pinggiran kota. Rumah itu memang tidak besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali. Ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi di luar. Juga, area dapurnya cukup luas, walaupun jauh dari ukuran dapur di rumahnya dulu.
Reyhan menjual beberapa perhiasan dan jam tangan miliknya untuk membeli rumah itu. Uang hasil penjualan juga tersisa cukup banyak, hingga mereka bisa memenuhi kebutuhan hingga setahun ke depan.
Namun, Reyhan tidak begitu saja bersantai di rumah. Ia pergi ke beberapa tempat untuk melamar pekerjaan.
Untungnya, ia punya skill menjahit yang cukup mumpuni, sehingga ada sebuah rumah usaha yang memperkerjakan dirinya sebagai tukang jahit pakaian.
Rumah itu memproduksi berbagai macam seragam skala besar, dan sedang membutuhkan tambahan pekerja di bagian produksi.
Reyhan bersyukur karena di usianya yang tidak lagi muda, ia masih mampu menghasilkan uang. Walaupun gaji yang ia hasilkan tidak sebesar penghasilan yang ia hasilkan dari pabriknya dulu, namun uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Apalagi Zalina tidak banyak menuntut darinya. Ia bisa menerima kondisinya saat ini dengan hati yang lapang.
Terkadang, Reyhan selalu merasa bersalah ketika melihat putrinya yang dulu ia banjiri dengan kemewahan, kini harus hidup sederhana. Bahkan sudah beberapa bulan terakhir sejak mereka tinggal di rumah ini, Zalina tidak pernah lagi membeli pakaian baru. Ia merasa gagal sebagai seorang ayah.
Apalagi, gadis itu kini selalu bangun lebih pagi, untuk menyiapkan sarapan untuknya.
Gadis itu tidak pernah sekalipun terdengar mengeluh. Ia selalu memberikan senyuman hangat pada Reyhan. Hal itu, kerap kali membuat Reyhan menangis di kamarnya, meratapi kebodohannya karena tidak mampu menjaga apa yang sudah diwariskan kepadanya.
Tetapi tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Karena semuanya tidak akan kembali lagi padanya.
Namun, ada satu hal yang tidak ia beritahukan pada Zalina. Ia tidak hanya berhutang pada bank, tetapi juga pada seorang rentenir.
Hutang itu akan segera jatuh tempo, dan jumlahnya juga tidak sedikit. Ia bahkan baru berhasil mengumpulkan seperempat dari jumlah hutangnya, dan itu belum termasuk bunga yang setiap bulannya selalu bertambah.
Ia sudah berusaha untuk meminjam uang dari beberapa teman dekat yang dulu pernah ia tolong, namun mereka tidak bisa membantunya. Mereka malah langsung memblokir nomornya begitu ia selesai menelpon.
Padahal ketika mereka meminta bantuan padanya dulu, ia dengan sukarela memberi pinjaman pada mereka.
Memang benar, di saat kita sedang di uji, kita baru bisa melihat mana orang-orang yang tulus pada kita.
Pagi itu, Zalina tampak menata dua piring nasi goreng dan teh hangat di atas meja makan mereka yang kecil. Wajahnya tampak ceria seperti biasa, penuh ketulusan dan keikhlasan.
Dada Reyhan seketika terasa sesak ketika melihat putrinya yang begitu tulus merawatnya. Sementara istri yang seharusnya menjadi rumah bagi putrinya itu, dengan tega meninggalkannya.
"Ayo, Yah. Sarapannya sudah siap." ucap Zalina dengan sikap tenang.
Gadis itu baru berusia dua puluh dua tahun, tapi sikapnya bahkan jauh lebih dewasa dari dirinya. Mungkin karena ia terlahir sebagai anak tunggal. Dan ia terbiasa melakukannya semua sendiri sejak dulu. Bahkan di saat mereka memiliki asisten rumah tangga.
"Iya, Nak. Terima kasih." ucap Reyhan, dengan senyum tipis yang menenangkan.
Mereka lalu duduk bersama dan mulai sarapan.
"Ini enak sekali, Nak. Ayah bisa bertambah gemuk jika setiap hari makan hidangan yang lezat seperti ini." ucapnya dengan menyelipkan gurauan di dalamnya.
Zalina terkekeh kecil. "Kalau begitu aku akan lebih semangat belajar masak, agar aku bisa menghidangkan berbagai macam menu untuk ayah. Katakan saja ayah mau makan apa. Aku akan belajar untuk membuatnya."
Reyhan tersenyum lirih. "Apapun yang kau masakkan untuk Ayah, pasti akan Ayah makan, Nak." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia menggenggam tangan putrinya yang sedikit terasa kasar. Bukti bahwa selama ini ia sudah bekerja keras untuk menerima kehidupannya yang sekarang.
Setelah sarapan pagi, Reyhan berpamitan padanya untuk berangkat kerja. Tak lupa, Zalina membawakan bekal makan siang untuknya.
Setelah memastikan sepeda motor yang dikendarai ayahnya tidak terdengar lagi, Zalina cepat-cepat masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Satu-satunya hal yang ia sembunyikan dari ayahnya adalah pekerjaannya.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Zalina meminta bantuan pada temannya yang seorang pemilik kafe untuk memberikannya pekerjaan. Untungnya ia bisa bekerja sebagai pelayan di salah satu coffee shop miliknya.
Zalina yang baru saja lulus kuliah, tidak bisa segera mendapatkan pekerjaan. Banyak lamaran pekerjaan yang sudah ia masukkan ke beberapa perusahaan, namun semua perusahaan itu menolaknya karena mereka menginginkan karyawan yang punya pengalaman kerja minimal setahun.
Untungnya ia punya seorang sahabat yang bisa ia andalkan ketika ia sedang berada dalam masa sulit seperti ini.
Walaupun awalnya Diandra, sahabatnya itu tidak begitu yakin menerima Zalina untuk bekerja sebagai pelayan di kafenya. Mengingat bagaimana kehidupannya dulu yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar seperti menjadi pelayan.
Zalina yang punya tekad kuat, mampu belajar dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia kini tampak mahir melakukannya.
Sesampainya di depan kafe, Zalina yang berjalan terburu-buru, tidak sadar menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja menabrak Anda." pinta Zalina dengan wajah panik.
"Berhati-hatilah, Nona. Kau bisa melukai seseorang jika berjalan dengan terburu-buru seperti itu." ucapnya dingin.
Pria itu mengusap ringan bagian lengannya yang sempat tersenggol. Sorot mata di balik kaca mata beningnya itu tampak dingin, menatap Zalina dengan pandangan merendahkan.
Zalina menunduk dalam, jemarinya saling menggenggam gugup. "Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Aku sedang terburu-buru..."
Pria itu mendengus pelan, lalu menatap Zalina dengan pandangan penuh penilaian yang terkesan merendahkan. Begitu angkuh dan arogan.
Ia lalu melengos pergi dan masuk ke dalam butik pakaian mewah di samping kafe tempatnya bekerja.
"Dasar pria sombong." Zalina tampak menggerutu pelan setelah kepergian pria itu.
Ia lalu bergegas masuk ke dalam kafe karena sudah hampir terlambat.
"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" tanya Diandra begitu melihat Zalina masuk dengan wajah masam.
"Ada serangga yang menyebalkan tadi." jawabnya asal.
"Serangga mana yang berani mengganggu kucing betina galak sepertimu, hem?" tanya Zalina lagi sengaja menggodanya.
Zalina mendengus pelan, lalu menyambar gelas kopi yang dibawanya, meneguknya cepat tanpa permisi. Diandra hanya menatapnya heran.
"Serangga mahal." gumamnya kemudian, menatap sahabatnya itu dengan malas.
Diandra mengangkat satu alis, sudut bibirnya tertarik geli. "Oh? Dari spesies apa itu? Jangan bilang... tipe yang pakai jas rapi, turun dari mobil mewah dan bersikap arogan."
Zalina langsung menatap tajam. "Jangan bilang kau mengintip tadi, ya?"
Diandra terkekeh pelan. "Aku cuma menebak. Tapi jika dilihat dari reaksimu... sepertinya tebakanku benar."
Zalina memalingkan wajahnya kesal.
"Apa wajahnya tampan?" tanya Diandra lagi.
"Entahlah..." gadis itu tampak mengangkat bahu. Lalu melengos pergi dari hadapannya.
Diandra hanya geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya itu.
🥀🥀🥀
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..🤗
Di gedung Velora Foods Group.
Seorang pria paruh baya sedang bicara serius dengan asistennya, juga seorang wanita paruh baya.
"Novatex Global ditutup?" tanya pria itu, tampak memastikan. Dahinya berkerut dalam, menatap istrinya dengan penuh keterkejutan.
"Bukankah itu pabrik tekstil milik Reyhan?" tanya istrinya.
"Ya, itu memang pabrik milik Reyhan." pria itu, Zafran Pradipta, tampak memegang dahinya, lalu menggeleng pelan. Merasa tak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar dari asistennya.
"Pabrik itu mengalami kebangkrutan total setahun yang lalu. Rumah Pak Reyhan Aditya juga sudah di sita oleh bank karena tidak sanggup membayar hutang yang menumpuk." lanjutnya memberi laporan.
"Bagaimana dengan Reyhan? Apa kau mendapatkan kabar tentangnya? Atau... di mana mereka tinggal sekarang?" cecar Zafran pada asisten kepercayaannya itu.
"Saya dengar, kini mereka tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Saya juga sudah mendapatkan alamat pastinya, Tuan." Bima, menyerahkan amplop coklat ke hadapan Zafran.
Sebuah amplop yang berisi data terbaru Reyhan dan putrinya, juga alamat rumah tempat tinggal mereka sekarang.
Belinda, istri Zafran tampak berkaca-kaca ketika mendengar kabar itu. Ia benar-benar tidak menyangka, bahwa orang yang berjasa besar pada keluarganya, kini harus merasakan keterpurukan yang sempat mereka rasakan dulu.
Roda kehidupan memang selalu berputar, tanpa kita tahu kapan akan berhenti. Tapi, kenapa harus orang baik seperti Reyhan yang merasakannya.
"Kita harus segera menolong mereka, Mas." ucap Belinda tajam.
"Ya, kau benar. Kita harus secepatnya menemui mereka." sahut Zafran, penuh keyakinan."
*
*
Sementara itu, di kafe, tempat Zalina bekerja.
Sore ini, kafe sedang ramai. Banyak anak muda dan juga para pekerja yang menghabiskan waktu sore mereka di kafe ini. Suasana kafe yang nyaman, dengan akses Wi-Fi tanpa batas, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.
Lokasi kafe ini memang cukup strategis, terletak di pusat kota dan dekat dengan perkantoran juga universitas.
"Hei, kenapa malah melamun di sini?" tanya Diandra, mengejutkan Zalina yang tampak mematung di meja kasir.
"Aku tidak sedang melamun." jelasnya, menoleh singkat ke arah Diandra.
Gadis itu menyerahkan segelas kopi dingin untuknya. "Nah, minumlah dulu."
Zalina menyambut uluran gelas kopi itu. "Terima kasih."
Ia lalu menghela napas pelan sejenak, kembali menatap anak-anak muda yang tengah asyik bercengkrama di meja tamu.
"Aku hanya teringat, pernah berada di posisi anak-anak muda di meja itu." ucapnya lirih. "Minum kopi di kafe sambil mengerjakan tugas kuliah, bersenang-senang tanpa memikirkan besok apa yang harus ku masak, atau kapan aku gajian." ia tertawa hambar.
"Kehidupan seseorang memang tidak bisa ditebak. Rasanya seperti bangun dari mimpi yang indah."
Diandra tentu saja mengerti bagaimana perasaannya. Ia tahu bagaimana kehidupan gadis itu dulu. Ia hidup dalam kemewahan, namun dalam sekejap harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
Namun, Zalina bukanlah gadis manja yang hobi menghamburkan uang. Ia juga suka menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu anak-anak kurang mampu yang ia temui di jalan.
Kenapa orang-orang baik, selalu diuji dengan kesusahan? Tapi, ia yakin jika Zalina sanggup menghadapi semua ini, karena ia bukan gadis yang lemah.
"Bersabarlah." ucap Diandra, menyemangatinya.
Zalina hanya mengangguk.
"Bagaimana kabar ibumu? Apa dia... pernah menelponmu?" tanya Diandra, tampak hati-hati.
Zalina hanya mengangkat bahu singkat. "Aku tidak tahu. Ibu tidak pernah sekali pun menghubungiku setelah saat itu."
"Oh, begitu." sahut Diandra, tak bisa berkata-kata.
Mengapa ibunya tega meninggalkan Zalina dan ayahnya di saat-saat seperti ini. Padahal, yang ia tahu, ibunya adalah seseorang yang berhati lembut dan penyayang. Uang bisa mengubah segalanya dalam sekejap.
*
*
Reyhan pulang ke rumah dengan wajah yang lelah. Zalina yang sudah pulang lebih dulu dari ayahnya, menyambut kedatangan pria itu dengan senyum lebar yang menenangkan hati.
Raut wajah Reyhan seketika menjadi cerah kembali. Ia tahu, putrinya masih ada bersamanya.
"Ayah sudah makan?" tanya Zalina, merangkul tangan ayahnya itu.
"Sudah, Nak. Ayah sudah makan di tempat kerja." jawabnya. Ia lalu menyerahkan sebungkus sate ayam bumbu kacang kepada putrinya. "Tadi bos ayah mengadakan syukuran kelahirannya, ia membelikan sate ayam untuk seluruh pekerja. Karena satenya masih tersisa banyak, jadi ayah minta sebungkus untuk di bawa pulang." jelasnya tampak antusias.
Namun, Zalina tahu kalau ayahnya tidak pandai berbohong. Sate ini jelas bukan sisa makanan, namun sate bagiannya yang sengaja ia bawa pulang agar Zalina bisa memakannya.
Zalina menatapnya sekilas, lalu menghela napas sejenak. "Zalina juga baru saja selesai makan, Yah. Zalin tidak akan sanggup kalau menghabiskan semuanya seorang diri. Hmm... kita makan berdua saja, ya?" usulnya pada Reyhan.
Reyhan tersenyum. Ia tahu bagaimana sifat putrinya itu. Ia lalu mengangguk mengiyakan.
Senyum lebar yang tulus seketika mengembang di wajahnya.
Mereka lalu makan sate itu sepiring berdua. Pemandangan yang sederhana, namun kehangatan di antara mereka terasa seperti sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang, sebanyak apapun.
🥀🥀🥀
Keesokan harinya, Reyhan berangkat kerja seperti biasa. Namun sebelum ia pergi ke kantor, ia lebih dulu singgah di ATM untuk membayar cicilan hutangnya.
Ia tak pernah sekalipun telat untuk membayar, karena itu mungkin akan beresiko dan membuat Zalina mengetahui hal tersebut.
Reyhan lalu melanjutkan perjalanan menuju tempatnya bekerja. Namun, sebuah sepeda motor yang kebut-kebutan dari arah belakang, menabrak sepeda motornya hingga membuat Reyhan jatuh ke aspal.
Darah segar mengalir dari tangan dan kakinya. Pandangan pria itu mulai tampak mengabur, hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
*
*
Di rumah, Zalina tampak bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Ia baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya.
Setelah itu, ia pergi bekerja seperti biasa dengan ojek online. Tak sampai lima belas menit. Ia tiba kafe, seperti biasa.
Namun lagi-lagi, ia menabrak seseorang karena melangkah dengan tergesa-gesa.
"Kau... sepertinya memang sengaja ingin menabrakku, nona." suara bariton seorang pria yang terdengar familiar, membuat Zalina langsung mendongak.
Ternyata pria itu adalah pria yang sama, yang ia tabrak kemarin.
"Serangga mahal." gumam gadis itu tanpa sadar.
Pria itu tampak mengernyit halus. "Kau bilang apa?" tanyanya, karena tidak mendengar perkataannya dengan jelas.
Zalina berdeham pelan, setelah menyadari perkataannya. "Maksud ku... aku benar-benar minta maaf, Tuan. Aku tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk menggodamu." ucapnya dingin tanpa berkedip sedikit pun. "Aku tidak punya waktu untuk itu."
Pria itu lalu tersenyum tipis ke arahnya, bukan senyum hangat, melainkan senyum yang terlihat seperti meremehkan.
"Hah... semua wanita sama saja."
Ia lalu berlalu dari hadapannya tanpa menunjukkan sikap yang jelas.
Zalina benar-benar merasa geram dengan sikapnya yang aneh itu. Ia bahkan terlihat melayangkan sebuah tinju ke udara tepat mengarah ke punggung pria itu yang menghilang di balik pintu butik di samping kafe.
"Apa dia pegawai butik itu? Tapi... pakaiannya tampak mahal. Mungkin dia owner?" tebaknya. Ia lalu mendengus kesal dan langsung masuk ke dalam kafe.
Zalina lalu bekerja seperti biasa. Namun, ketika ia sedang melayani pelanggan yang datang, ia mendapatkan sebuah telepon dari nomor yang tidak di kenal. Ia tidak segera menjawab, ia malah mengabaikan dan kembali melayani pelanggan.
Setelah siap dengan pesanan pelanggan tersebut, ponselnya kembali berdering. Ia dihubungi oleh nomor telepon yang sama, dengan penelepon sebelumnya.
"Siapa, ya?" tanyanya. Lalu, ia menjawab panggilan itu karena mengira mungkin itu sebuah panggilan yang penting.
Ketika ia menjawab panggilan tersebut, ekspresi wajahnya seketika berubah pucat. Ia membeku sejenak di tempatnya.
🥀🥀🥀
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!