Bab 1 - Terbangun di Dunia Komik
Felicia Winarko membuka mata di langit-langit yang terlalu putih, terlalu bersih, dan terlalu asing.
Detik pertama, tubuhnya tidak bergerak.
Detik kedua, napasnya kembali teratur.
Detik ketiga, ia sudah menghitung lima titik yang bisa dipakai untuk menyerang kalau ada musuh masuk dari pintu.
Lemari kayu di kiri. Kursi belajar di dekat jendela. Gantungan baju besi tipis di belakang pintu. Gelas kaca di meja kecil. Dan sekrup longgar di sisi ranjang yang bisa dicabut kalau jarinya masih sekuat dulu.
Sayangnya, saat Felicia mencoba mengangkat tangan, yang terangkat hanyalah lengan kurus seorang gadis remaja.
"..."
Ia menatap pergelangan tangannya sendiri.
Putih. Halus. Tanpa bekas luka bakar, tanpa bekas gigitan makhluk mutasi, tanpa garis kasar dari latihan senjata selama bertahun-tahun.
Ini bukan tubuhnya.
Kesimpulan itu datang secepat peluru. Tidak ada kepanikan. Tidak ada teriakan. Di dunia lamanya, orang yang membuang waktu untuk panik biasanya sudah menjadi makanan makhluk mutasi sebelum sempat menyesal.
Felicia duduk perlahan. Kepala bagian belakangnya sedikit berdenyut, tetapi rasa sakit itu terlalu ringan dibandingkan pecahan baja yang pernah menembus bahunya saat ia mempertahankan pangkalan utara.
Ia masih ingat bau asap, alarm darurat yang meraung, dan suara bawahannya yang berteriak, "Komandan!"
Lalu cahaya putih.
Sekarang, yang ada hanya kamar sempit dengan seprai bersih, meja belajar kecil, lemari pakaian yang isinya tidak sampai setengah, dan jendela yang menghadap halaman luas. Dari luar terdengar suara burung, bukan raungan monster.
Mewah juga neraka yang baru ini.
Sebuah suara tiba-tiba meletup di kepalanya.
"Tuan Rumah! Akhirnya sadar juga!"
Felicia tidak berkedip. "Keluar."
"Eh?"
"Siapa pun kamu, keluar dari kepalaku."
Suara itu terdengar panik. "Tidak bisa, Tuan Rumah! Sis sudah terikat dengan Tuan Rumah berdasarkan kontrak transmigrasi dari Sistem Dewa Utama. Mulai hari ini, Sis adalah sistem pendamping Tuan Rumah!"
Felicia menurunkan kaki dari ranjang. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. "Transmigrasi."
"Benar!"
"Dewa Utama."
"Benar sekali!"
"Sistem pendamping."
"Iya, iya!"
Felicia diam sebentar, lalu tersenyum tipis. "Jadi aku mati."
Di kepalanya, suara itu mendadak mengecil. "Secara teknis, tubuh lama Tuan Rumah sudah tidak bisa dipakai. Tapi jiwa Tuan Rumah berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke dunia baru. Ini kesempatan kedua yang sangat langka, lho."
"Apa bayarannya?"
"Tuan Rumah tajam banget..."
"Jawab."
Udara di depan Felicia bergetar. Cahaya biru muda muncul seperti layar hologram tipis, melayang setinggi wajahnya. Di tengahnya ada judul yang membuat alis Felicia bergerak sedikit.
Dunia Komik Mary Sue: Akademi Bintang Mulia.
Di bawah judul itu muncul empat bentuk bintang, semuanya gelap. Tidak ada cahaya, tidak ada warna, hanya garis emas pucat seperti perhiasan mahal yang belum dipoles.
"Misi utama Tuan Rumah," kata Sis dengan nada yang berusaha resmi, "adalah membuat empat pemeran utama pria jatuh cinta pada Tuan Rumah sampai bintang mereka menyala penuh. Kalau keempat bintang menyala, Tuan Rumah bisa mendapatkan hak pilihan atas akhir dunia ini."
Felicia menyandarkan bahu ke tiang ranjang. "Empat pemeran utama pria."
"Iya!"
"Jatuh cinta."
"Cinta sejati, bukan sekadar suka. Sistem punya standar yang sangat ketat."
"Dan ini dunia komik?"
"Komik Mary Sue populer. Tokoh-tokohnya tampan, kaya, pintar, kuat, dan dikelilingi drama. Tubuh yang Tuan Rumah pakai sekarang adalah Felicia Winarko, gadis yatim piatu yang tinggal di Paviliun F4 Akademi Bintang Mulia."
Begitu nama itu disebut, potongan ingatan asing menusuk masuk.
Koridor sekolah yang panjang. Seragam mahal. Tawa merendahkan. Sebuah tangan mendorong bahu kecilnya sampai membentur loker. Suara perempuan yang berkata, "Anak pungut juga mau tinggal di Paviliun F4?"
Lalu kamar ini. Sunyi. Sempit. Terasing di dalam bangunan paling eksklusif di sekolah.
Felicia menyentuh pelipisnya.
Pemilik tubuh ini lemah. Bukan karena tubuhnya kecil, tetapi karena ia terlalu lama dipaksa percaya bahwa dirinya tidak punya tempat untuk berdiri.
Kasihan.
Tapi rasa kasihan tidak mengubah dunia. Kekuatan yang mengubahnya.
Felicia mengangkat tangan ke arah gelas kaca di meja. Biasanya, cukup satu tarikan pikiran, benda seringan itu akan melayang ke telapak tangannya.
Gelas itu tetap diam.
Ia mencoba lagi, kali ini dengan dorongan lebih kuat. Tidak ada gerakan. Bahkan air di dalam gelas pun tidak bergetar.
Sis batuk kecil di kepalanya. "Tentang itu... kekuatan telekinetik Tuan Rumah sementara disegel. Karena tubuh ini tidak sanggup menerima kekuatan penuh. Kekuatan akan kembali bertahap seiring kemajuan misi."
Felicia menatap layar bintang. "Persentase?"
"Saat ini nol persen."
"Hebat."
"Tapi Tuan Rumah tidak perlu khawatir! Tubuh ini memang lemah, tapi sangat cantik. Menurut data komik, wajah Felicia termasuk tipe imut menggoda yang mudah menarik perhatian pria."
Felicia turun dari ranjang dan berjalan ke cermin kecil di pintu lemari.
Gadis di pantulan kaca memiliki rambut hitam panjang yang agak berantakan, mata bening yang ujungnya sedikit naik, bibir merah muda, dan wajah mungil yang tampak tidak berbahaya.
Tidak berbahaya.
Felicia menyukai lelucon itu.
Ia membuka lemari. Seragam Akademi Bintang Mulia tergantung rapi: kemeja putih, blazer navy dengan bordir lambang emas, rok lipit gelap, dasi kecil, dan sepatu kulit yang jelas harganya bisa membeli persediaan beras untuk satu pos pengungsian di dunia lamanya.
Di sudut bawah lemari ada tas sekolah lusuh. Dalam kantong depannya, Felicia menemukan kartu identitas.
Felicia Winarko.
Kelas F.
Penghuni sementara Paviliun F4.
"F4 itu siapa?" tanya Felicia sambil mengganti pakaian.
Layar biru berkedip. Empat nama muncul satu per satu di bawah bintang gelap.
Nathan Salim.
Calvin Tanuwijaya.
Jayden Hartono.
Sebastian Widjaja.
"Empat pewaris keluarga konglomerat terbesar di akademi," jelas Sis. "Mereka adalah target misi. Masing-masing punya bintang cinta. Saat ini semuanya kosong."
"Kosong berarti belum tertarik."
"Belum ada data cinta. Tapi jangan sedih, Tuan Rumah. Dengan wajah ini dan bantuan Sis, kita pasti bisa mulai pelan-pelan..."
Felicia mengikat dasi di depan cermin. Gerakannya rapi, cepat, tanpa ragu. Tubuh ini memang tidak punya otot yang layak, tetapi koordinasinya masih bisa dilatih. Paling tidak, untuk menghadapi anak sekolah, ia tidak membutuhkan telekinesis.
"Sis," panggilnya.
"Iya, Tuan Rumah?"
"Di dunia lamaku, aku memimpin pangkalan berisi tiga ribu orang. Aku memilih siapa yang hidup di tembok, siapa yang turun ke medan, dan siapa yang tidak pantas memegang senjata."
Sis mendadak diam.
Felicia mengambil tas, lalu membuka pintu kamar.
Cahaya pagi dari koridor Paviliun F4 jatuh ke wajahnya. Di kejauhan, sekolah elit itu mulai hidup. Suara mobil mahal, tawa remaja kaya, dan langkah terburu-buru para staf bercampur menjadi musik baru yang jauh lebih ringan daripada sirene perang.
Felicia tersenyum.
"Empat cowok? Cuma itu?"
Ia melangkah keluar.
Bab 2 - Akademi Bintang Mulia
Koridor Paviliun F4 ternyata lebih panjang dari yang Felicia kira.
Lantainya marmer hitam mengilap, dindingnya dipasang panel kayu gelap, dan lampu gantung kecil berderet rapi seperti hotel bintang lima. Di setiap sudut ada kamera keamanan. Di ujung koridor, seorang staf berseragam abu-abu menunduk begitu melihatnya keluar.
"Selamat pagi, Nona Felicia."
Nada perempuan itu sopan, tetapi matanya bergerak cepat dari tas lusuh Felicia ke sepatu kulit yang masih tampak terlalu baru.
Felicia balas menatapnya.
Staf itu langsung menunduk lebih rendah.
"Pagi," jawab Felicia ringan, lalu berjalan melewatinya.
Di kepalanya, Sis berbisik heboh, "Tuan Rumah, itu staf Paviliun F4. Di sini semua orang tahu Tuan Rumah tinggal karena status khusus, tapi mereka juga tahu Tuan Rumah bukan bagian dari F4. Jadi... perlakuannya agak rumit."
"Rumit berarti mereka ingin merendahkan, tapi belum berani terang-terangan."
"Kurang lebih begitu."
"Membosankan."
Sis terdiam dua detik. "Tuan Rumah benar-benar tidak takut, ya."
Felicia turun melalui tangga lebar. Dari pintu kaca utama, seluruh Akademi Bintang Mulia terbentang seperti kota kecil milik orang kaya.
Gedung kelas berdiri dengan fasad putih dan aksen emas. Lapangan upacara luas berada di tengah, garisnya bersih, rumputnya dipotong terlalu rapi untuk sekolah biasa. Di sisi kanan ada aula besar dengan pilar tinggi, di kiri tampak kantin modern yang lebih mirip food court mal. Beberapa siswa berjalan sambil membawa kopi susu bermerek, sebagian lain duduk di bawah kanopi sambil menggulir layar ponsel.
Di parkiran depan, deretan mobil membuat Felicia sempat berhenti.
Alphard hitam. Porsche Cayenne putih. BMW sport berwarna abu-abu. Bahkan ada satu mobil listrik mahal yang pintunya terbuka ke atas, membuat dua siswi berfoto sambil tertawa kecil.
"Anak SMA?" tanya Felicia.
"Anak konglomerat, pejabat, artis, dan keluarga lama," jawab Sis cepat. "Akademi Bintang Mulia punya sistem kelas berdasarkan prestasi dan kontribusi keluarga. Kelas paling atas adalah Kelas Olimpiade. Lalu Kelas A sampai E. Yang paling bawah..."
"Kelas F."
"Iya. Kelas Tuan Rumah."
Felicia menyesuaikan tali tas di bahunya. "Tempat pembuangan."
"Secara resmi disebut kelas pembinaan."
"Tempat pembuangan dengan nama lebih halus."
Sis tidak membantah.
Felicia mulai berjalan mengikuti arus siswa. Seragam mereka sama, tetapi cara memakainya berbeda. Anak Kelas Olimpiade yang lewat di dekat aula memakai blazer rapi, pin prestasi, dan wajah seolah dunia sudah menunggu mereka jadi pemimpin. Anak Kelas A bergerombol sambil membahas rencana OSIS. Di sisi lain, beberapa siswa Kelas F yang ia lihat dari bordir kecil di lengan lebih banyak menunduk, berjalan cepat, atau sengaja tidak menatap siapa pun.
Yang kuat memilih tempat.
Yang lemah diberi tempat.
Aturan di dunia ini ternyata tidak jauh berbeda dari dunia lamanya. Hanya saja, di sini senjatanya bukan pisau atau peluru, melainkan nama keluarga, uang sekolah, followers, dan gosip.
Saat Felicia melewati lapangan, beberapa bisikan mulai mengikutinya.
"Itu Felicia, kan?"
"Kok dia keluar dari Paviliun F4?"
"Masih hidup ternyata."
"Kemarin bukannya hampir pingsan di gudang olahraga?"
Felicia memperlambat langkah.
Ingatan tubuh ini bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Ujung jarinya dingin, dada kecilnya menegang, seolah terbiasa menerima bahaya dari suara-suara seperti itu.
Felicia menekan reaksi tubuh itu sampai diam.
"Gudang olahraga?" tanyanya dalam hati.
Sis menjawab hati-hati, "Pemilik tubuh lama pernah dikunci di sana oleh beberapa siswa. Bukan sekali. Mereka menganggap Tuan Rumah terlalu lemah untuk melawan."
"Mereka benar."
"Tuan Rumah..."
"Pemilik tubuh lama memang tidak melawan. Aku bukan dia."
Koridor menuju gedung Kelas F lebih sempit dan lebih ramai. Cat dindingnya tetap mahal, tetapi suasananya jelas berbeda. Poster kegiatan OSIS sudah mengelupas di salah satu sudut. Dari kantin dekat belakang, aroma mie ayam dan es teh manis terbawa angin.
Felicia baru sampai di depan pintu kelas ketika sebuah tangan menutup jalan.
Pemilik tangan itu siswi berambut bob dengan lip gloss terlalu tebal. Dua temannya berdiri di belakang, satu memegang ponsel dalam posisi siap merekam.
"Wah, Felicia akhirnya masuk," kata siswi itu manis. "Kirain masih trauma. Kemarin di gudang gelap banget, ya?"
Beberapa siswa di dalam kelas langsung menoleh. Ada yang menahan tawa, ada yang pura-pura sibuk membuka buku, ada yang jelas menunggu tontonan.
Felicia menatap tangan yang menghalangi pintu.
"Minggir."
Siswi berambut bob tertawa kecil. "Galak amat. Tinggal di Paviliun F4 sehari langsung ngerasa jadi nona besar?"
Temannya yang memegang ponsel mendekat. "Ulang dong. Biar kelihatan kalau anak pungut juga bisa sombong."
Felicia mengangkat mata.
Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa malu. Tidak ada air mata yang mungkin diharapkan tubuh lama untuk keluar.
Hanya tatapan datar, seperti seseorang sedang menilai benda rusak yang perlu disingkirkan dari jalan.
Siswi berambut bob berhenti tertawa.
Felicia tersenyum sedikit.
Senyum itu kecil, nyaris lembut, tetapi tiga siswa di depannya mundur setengah langkah tanpa sadar.
"Tanganmu," kata Felicia pelan, "atau ponsel temanmu. Pilih satu yang mau rusak duluan."
Koridor mendadak sunyi.
Sis berteriak dalam kepalanya, "Tuan Rumah! Kekuatan masih nol persen!"
"Aku tahu."
"Kalau berkelahi sekarang, tubuh ini bisa cedera!"
"Aku juga tahu."
Felicia masih tersenyum.
Justru karena kekuatannya nol, ia harus membuat mereka percaya sebaliknya.
Siswi itu menelan ludah. Entah apa yang ia lihat di mata Felicia, bahunya mendadak kaku. Tangan yang menghalangi pintu turun perlahan.
Ponsel temannya juga ikut turun.
"Cuma bercanda," gumam salah satu dari mereka.
"Aku belum tertawa," jawab Felicia.
Tidak ada yang menjawab.
Felicia masuk ke kelas.
Bangku paling belakang dekat jendela tampak kosong. Ia berjalan ke sana tanpa bertanya. Beberapa siswa otomatis menarik kaki mereka dari lorong kecil, memberi jalan seolah tubuh mereka punya naluri yang lebih pintar daripada mulut mereka.
Saat ia duduk, bisikan berubah nada.
"Dia beda."
"Serem banget matanya."
"Jangan-jangan benar ada yang backing dia di F4."
Kata itu muncul lagi.
F4.
Felicia meletakkan tas di meja. "Mereka seberisik itu?"
Sis langsung semangat. "F4 adalah empat siswa paling berpengaruh di Akademi Bintang Mulia. Mereka tinggal di paviliun yang sama dengan Tuan Rumah, tapi lantai dan area mereka terpisah. Biasanya mereka jarang masuk bersamaan, kecuali ada rapat OSIS atau urusan keluarga donor."
"Dan hari ini?"
Bel sekolah berbunyi.
Sebelum Sis menjawab, suara dari koridor menghilang satu per satu. Bukan mengecil. Menghilang.
Seolah seseorang menekan tombol mute di seluruh lantai.
Siswa yang tadi berdiri di depan kelas buru-buru menepi. Dua guru yang sedang berbicara di ujung lorong langsung merapikan pakaian. Bahkan siswi berambut bob yang baru mengganggu Felicia menunduk, wajahnya pucat karena gugup.
Dari balik jendela pintu kelas, Felicia melihat koridor panjang yang mendadak kosong di tengah.
Langkah kaki mendekat.
Empat bayangan jatuh di lantai marmer.
Sis berbisik, kali ini tidak heboh sama sekali.
"Tuan Rumah... F4 datang."
Bab 3 - Empat Bintang
"Tuan Rumah... F4 datang."
Kalimat Sis baru selesai ketika pintu kelas yang setengah terbuka didorong dari luar.
Tidak ada yang menyuruh siswa Kelas F diam. Mereka memang sudah diam. Bahkan napas beberapa orang terdengar ditahan, seolah udara di ruangan itu mendadak menjadi milik empat orang yang baru muncul di ambang pintu.
Felicia tetap duduk di bangku belakang dekat jendela.
Bagus.
Target bergerak sendiri ke arahnya.
Orang pertama yang masuk adalah Nathan Salim.
Rambut pirangnya tidak terlihat murahan. Warna itu jatuh rapi di bawah cahaya pagi, cocok dengan mata emasnya yang tenang. Seragamnya sempurna, blazer tanpa kerut, dasi pada sudut tepat, pin Ketua OSIS berkilau kecil di dada kiri. Ia berjalan dengan cara orang yang terbiasa diberi jalan tanpa perlu meminta.
Beberapa siswi menunduk sambil pura-pura mencari buku.
"Wali kelas belum datang?" tanya Nathan pada ketua kelas dengan suara rendah.
Ketua kelas Kelas F langsung berdiri gugup. "Belum, Nathan. Mungkin masih di ruang guru."
Nathan mengangguk. Senyumnya sopan, hampir lembut. "Kalau begitu, kami tunggu sebentar."
Sopan. Terlatih. Berbahaya karena semua orang merasa aman di dekatnya.
Felicia menilai garis bahunya, ritme langkahnya, dan cara ia menahan pandangan agar tidak terlalu lama menempel pada siapa pun.
Tipe yang suka dikendalikan tanpa sadar, pikirnya.
Di belakang Nathan, seorang cowok dengan rambut ikal cokelat masuk sambil membawa sketchbook hitam di bawah lengan. Wajahnya lebih manis daripada Nathan, mata cokelat mudanya tampak hangat, tetapi senyum kecil di bibirnya memberi rasa tidak aman yang berbeda.
Calvin Tanuwijaya.
Begitu nama itu muncul di layar kecil Sis, serpihan ingatan tubuh ini ikut bergerak.
Rumah besar keluarga Tanuwijaya. Sebuah makan malam yang dingin. Anak laki-laki itu duduk di seberang meja, memiringkan kepala sambil menggambar sesuatu di sudut buku. Ia pernah memanggil pemilik tubuh ini dengan suara malas, "Ci," seolah panggilan itu lelucon dan rahasia sekaligus.
Hubungan mereka rumit.
Felicia tidak tertarik merapikannya sekarang.
Calvin berhenti sebentar di dekat pintu. Matanya menyapu kelas, tidak cepat, tidak lambat. Seperti pelukis memilih warna yang ingin disimpan.
Ketika pandangannya hampir sampai ke bangku belakang, Felicia mengangkat alis.
Calvin belum melihatnya. Ia sudah keburu ditabrak bahu oleh orang ketiga.
"Minggir dikit, Cal. Koridornya sempit banget," gerutu Jayden Hartono.
Jayden membawa panas masuk ke kelas.
Rambut hitamnya sedikit berantakan, tindik kecil di bibir bawahnya menangkap cahaya, dan lengan yang terlihat di balik seragam jelas milik orang yang lebih sering berada di lapangan daripada perpustakaan. Ia tidak berjalan. Ia menerobos, seperti energi di tubuhnya terlalu banyak untuk ditahan.
Beberapa siswa laki-laki otomatis menegakkan punggung.
"Ini Kelas F, bukan garasi lo," kata Calvin santai.
Jayden mendecih. "Garasi gue lebih luas dari kelas ini."
Ada tawa kecil yang langsung ditelan takut.
Felicia menyandarkan dagu di tangan.
Energi berlebihan. Perlu disalurkan.
Jayden menoleh seolah merasakan penilaian itu. Matanya tajam, liar, siap menantang siapa saja yang berani menatap terlalu lama. Saat pandangannya hampir bertemu Felicia, sosok terakhir masuk dan membuat seluruh kelas menegang dengan cara berbeda.
Sebastian Widjaja tidak perlu suara.
Ia tinggi, rapi, dan bersih dengan tingkat yang nyaris tidak manusiawi. Rambut hitamnya tertata tanpa sehelai pun keluar jalur. Mata biru gelapnya dingin, seperti kaca yang baru dicuci. Di tangan kanannya ada sapu tangan putih, bukan untuk gaya, tetapi untuk membuka pintu tanpa menyentuh gagangnya langsung.
Seorang siswa di baris depan buru-buru menarik siku dari meja yang mungkin akan dilewati Sebastian.
Sebastian meliriknya sekilas. "Terima kasih."
Dua kata. Datar. Tidak kasar, tetapi cukup membuat orang merasa sedang diuji.
Felicia tersenyum tipis.
Otak cerdas, hati tertutup.
Satu kelas, empat pusat gravitasi.
Nathan berdiri di dekat meja guru seperti pewaris yang sedang menunggu rapat dimulai. Calvin bersandar di kusen jendela depan sambil membuka sketchbook. Jayden duduk di tepi meja kosong tanpa peduli tatapan guru imajiner. Sebastian memilih berdiri, jaraknya tepat dari semua orang, seolah ia sudah menghitung area kontaminasi aman.
"Tuan Rumah," bisik Sis, suaranya gemetar sekaligus antusias. "Ini mereka. Empat target utama. Nathan Salim, Calvin Tanuwijaya, Jayden Hartono, Sebastian Widjaja."
Layar biru muncul di samping meja Felicia, hanya terlihat olehnya.
Empat bintang gelap kembali berbaris.
Nathan Salim: 0%.
Calvin Tanuwijaya: 0%.
Jayden Hartono: 0%.
Sebastian Widjaja: 0%.
Kosong semua.
Di bawah angka itu, Sis membuka empat kartu data kecil.
Nathan menguasai OSIS, koneksi guru, dan sebagian besar kegiatan resmi sekolah. Calvin punya akses ke keluarga Tanuwijaya dan lingkaran seni yang membuat banyak anak kaya ingin terlihat dekat dengannya. Jayden memegang dunia olahraga, balapan, dan kelompok siswa yang lebih suka menyelesaikan masalah dengan badan daripada aturan. Sebastian, meski jarang bicara, adalah nama pertama di papan peringkat akademik dan alasan Kelas Olimpiade nyaris tidak pernah dipertanyakan.
Empat jalur kekuasaan.
Administrasi. Keluarga. Fisik. Intelektual.
Dalam pangkalan lamanya, Felicia akan menaruh empat orang seperti ini di unit berbeda, bukan karena mereka bisa dipercaya, tetapi karena potensi mereka terlalu mahal untuk dibiarkan lepas.
"Peringatan kecil," tambah Sis. "Kalau salah satu dari mereka benar-benar membenci Tuan Rumah, akses hidup Tuan Rumah di akademi bisa jadi jauh lebih sulit."
"Mereka belum membenciku."
"Belum."
"Berarti masih banyak ruang."
Sis seperti takut Felicia kecewa. "Tidak apa-apa, Tuan Rumah. Semua misi besar mulai dari nol. Kita bisa pilih pendekatan paling aman dulu. Misalnya, berteman, cari kesamaan, bantu mereka saat ada masalah kecil..."
"Aman?"
"Iya. Pelan-pelan. Supaya mereka tidak curiga."
Felicia hampir tertawa.
Di dunia lamanya, ia tidak bertahan hidup dengan menjadi aman. Ia bertahan karena tahu kapan harus membiarkan musuh percaya mereka sedang memegang kendali, lalu mengambil seluruh papan permainannya.
Empat bintang kosong itu bukan masalah.
Itu undangan.
"Baiklah, Sis," gumam Felicia. "Ayo mulai."
Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat siswa di meja depan menoleh. Gerakan kecil itu menarik satu reaksi berantai. Jayden melirik. Sebastian mengangkat mata. Nathan berhenti berbicara dengan ketua kelas.
Dan Calvin akhirnya melihatnya.
Untuk sesaat, senyum malas di wajah Calvin tetap ada.
Lalu mata cokelat mudanya melebar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!