Bab 001
Malam yang Mengubah Segalanya
Kevin Tanuwijaya tertawa tepat ketika Louisa Hartono berhenti di depan pintu ballroom.
Suara tawa itu tidak keras. Hanya cukup jelas untuk menembus musik jazz, denting gelas kristal, dan percakapan para tamu yang berbalut parfum mahal. Namun bagi Louisa, suara itu seperti ujung sendok yang mengetuk dasar gelas kosong, kecil, dingin, dan membuat dadanya bergetar tanpa suara.
Di bawah cahaya chandelier Hotel Langham Jakarta, Kevin berdiri dengan setelan hitam yang bahunya jatuh sempurna. Di sampingnya, Yvonne Lim mengenakan gaun champagne yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul rendah, lehernya dihiasi kalung berlian tipis, dan tangan Kevin sedang berada di dekat tengkuknya.
"Biar aku bantu," ucap Kevin.
Yvonne menunduk sedikit. "Kev, nanti orang lihat."
"Biarin. Pengaitnya miring."
Louisa menggenggam clutch kecilnya lebih erat.
Tadi sore, Kevin sendiri yang mengirim pesan kepadanya.
Lulu, tolong cek seating arrangement untuk meja tamu VVIP. Yvonne nggak makan udang. Jangan sampai kitchen salah.
Pesan itu masih ada di layar ponselnya. Ia bahkan membalas dalam waktu kurang dari satu menit, seperti biasa.
Oke, aku urus.
Dan sekarang, perempuan yang ia pastikan tidak akan terkena alergi udang sedang tertawa pelan saat Kevin merapikan kalungnya dengan jari yang begitu hati-hati. Jari yang dulu pernah Louisa tatap diam-diam saat Kevin menandatangani proposal kerja. Jari yang ingin ia genggam, tapi tidak pernah berani.
Sepuluh tahun.
SMA Penabur, ruang seni yang bau cat air, halte Transjakarta saat hujan deras, koridor UI, kantor Tanuwijaya Group dengan lampu yang selalu menyala sampai malam. Sepuluh tahun Louisa menaruh namanya di tempat yang sama, di bagian paling sunyi dari hatinya.
Malam ini, tempat itu retak.
"Lulu?"
Louisa tersentak. Steven Oei muncul dari samping, membawa dua gelas sparkling water. Ia menatap wajah Louisa, lalu mengikuti arah pandangnya. Dalam satu detik, ekspresi Steven berubah.
"Kamu baru datang?" tanyanya pelan.
Louisa mengangguk. Bibirnya bergerak membentuk senyum kecil yang terlalu rapi. "Iya. Macet dari Kelapa Gading."
Steven menyerahkan satu gelas. "Mau duduk dulu?"
"Nggak perlu. Aku harus cek tamu dari Surabaya sudah datang atau belum."
"Lulu."
Panggilan itu membuat langkahnya tertahan.
Steven jarang memakai nada seperti itu. Tidak memaksa, tapi tahu terlalu banyak.
Louisa menatap permukaan minuman di gelasnya. Gelembung kecil naik dan pecah satu per satu, cepat, tidak meninggalkan bekas.
"Aku baik-baik aja, Steve."
"Kamu selalu bilang begitu."
Louisa ingin tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas tipis. "Karena memang harus begitu."
Sebelum Steven sempat menjawab, suara pembawa acara memenuhi ballroom. Gala tahunan Tanuwijaya Group dimulai. Para tamu bertepuk tangan. Kevin naik ke panggung, berdiri di belakang podium dengan tenang, seperti seseorang yang sejak lahir sudah disiapkan untuk dilihat banyak orang.
Louisa berdiri di barisan belakang.
Ia tahu isi pidato Kevin bahkan sebelum pria itu bicara. Ia yang menyiapkan drafnya, memperbaiki kalimat pembuka, memastikan nama sponsor tidak terlewat. Ia hafal jeda yang harus Kevin ambil setelah kalimat tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Ia hafal bagian ketika Kevin harus tersenyum ke arah kamera media.
Yang tidak ia hafal adalah cara Kevin menoleh sekilas ke arah Yvonne sebelum mengucapkan, "Terima kasih juga untuk rekan-rekan yang selalu berada di sisi saya."
Yvonne tersenyum dari meja depan.
Tepuk tangan kembali pecah.
Louisa ikut bertepuk tangan. Telapak tangannya bertemu berkali-kali, tapi ia tidak merasakan apa pun selain perih kecil di kulit.
Di ujung ballroom, seorang pria berdiri di dekat pilar marmer.
Louisa tidak langsung mengenalinya. Ia hanya menangkap sosok tinggi dengan setelan gelap, wajah tenang, dan mata hitam yang tidak ikut tersenyum bersama ruangan. Saat pandangan mereka bersinggungan, pria itu tidak segera berpaling.
Nathanael Susanto.
Nama itu muncul di benak Louisa bersama ingatan yang samar. CEO PT Nusatek Mandiri. Salah satu undangan penting malam ini. Konglomerat muda yang jarang muncul di media, tapi setiap kali muncul, kolom bisnis mendadak ramai.
Ia pernah melihatnya beberapa kali di acara industri. Mereka tidak dekat. Paling jauh hanya saling mengangguk, bertukar sapaan singkat, lalu kembali ke dunia masing-masing.
Namun malam ini, tatapan Nathanael terasa seperti seseorang yang melihat ada retakan di cangkir porselen, meski cangkir itu masih diletakkan rapi di atas meja.
Louisa menurunkan pandangan lebih dulu.
Setelah pidato selesai, ia memaksa diri bergerak. Mengecek meja tamu, menyapa sponsor, memanggil staf hotel untuk mengganti wine glass yang salah. Ia melakukan semuanya seperti biasa. Senyum. Angguk. Catatan kecil di ponsel. Permintaan maaf yang sopan.
Sampai Kevin memanggilnya.
"Lulu."
Louisa berhenti di samping meja dessert.
Kevin datang bersama Yvonne. Yvonne membawa piring kecil berisi panna cotta, sementara Kevin memegang ponsel. Wajahnya serius, tapi bukan karena melihat Louisa. Ia sedang membaca sesuatu di layar.
"Kamu sudah kasih tahu kitchen soal Yvonne, kan?" tanya Kevin tanpa basa-basi.
Louisa menatapnya beberapa detik. "Sudah."
"Good. Tadi dia hampir ambil canapé yang ada udangnya."
Yvonne tersenyum manis. "Untung ada kamu, Louisa. Kevin selalu bilang kamu paling bisa diandalkan."
Paling bisa diandalkan.
Bukan paling penting.
Bukan paling ia cari.
Bukan perempuan yang ia lihat ketika ruangan penuh orang.
Hanya bisa diandalkan.
Louisa menelan sesuatu yang terasa tajam di tenggorokannya. "Sama-sama."
Kevin akhirnya mengangkat wajah dari ponsel. "Kamu pucat."
Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu hampir membuat Louisa kalah. Hampir saja ia bertanya, kalau aku pucat, kamu baru sadar sekarang?
Tapi ia hanya tersenyum.
"Mungkin kurang makan."
"Ya udah, makan dulu. Jangan sampai pingsan, nanti repot."
Nanti repot.
Louisa mengangguk pelan. "Iya."
Yvonne menyentuh lengan Kevin. "Kev, Om Herman cari kamu."
"Sekarang?"
"Katanya soal tamu dari Singapura."
Kevin menoleh kepada Louisa. "Kalau ada apa-apa, kabari Ray. Aku ke depan dulu."
Ia pergi begitu saja.
Seperti biasa, Kevin selalu pergi dengan keyakinan bahwa Louisa akan tetap berada di tempat yang sama ketika ia kembali.
Louisa menatap punggungnya sampai hilang di antara tamu.
Lalu ia meletakkan gelas sparkling water yang belum diminum ke meja terdekat.
"Bu, wine putih satu."
Staf bar tersenyum sopan. "Baik, Bu."
Louisa hampir mengoreksi panggilan itu, tapi kemudian membiarkannya. Mungkin malam ini ia memang terlihat seperti seseorang yang lebih tua dari usianya. Seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.
Gelas pertama turun dengan rasa asam di lidah.
Gelas kedua membuat ujung jarinya hangat.
Gelas ketiga membuat suara ballroom terdengar jauh, seperti berasal dari balik kaca tebal.
Steven menemukannya di dekat balkon samping, saat ia sedang menatap lampu SCBD yang basah oleh gerimis tipis.
"Lulu, cukup."
Louisa menoleh. "Aku nggak mabuk."
"Orang mabuk selalu bilang begitu."
"Aku cuma capek."
Steven mengambil gelas dari tangannya. "Aku antar pulang."
"Jangan." Louisa cepat menggeleng. Terlalu cepat, sampai lantai terasa bergeser sedikit. Ia menggenggam railing balkon. "Aku bisa sendiri."
"Kamu nggak bisa sendiri malam ini."
Louisa menatap Steven. Mata sahabatnya penuh khawatir. Untuk sesaat, ia hampir ingin menangis di sana. Di depan orang yang tahu ia pernah menunggu Kevin di bawah hujan. Di depan orang yang mungkin sejak lama ingin bilang, cukup, jangan hancurkan dirimu lagi.
Tapi Louisa sudah terlalu terlatih untuk tidak merepotkan siapa pun.
"Steve, tolong. Aku cuma butuh udara."
Steven ragu. "Aku tunggu di dalam. Lima menit."
Louisa mengangguk.
Namun begitu Steven masuk kembali, ia berjalan ke arah pintu keluar.
Langkahnya tidak lurus. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan ritme kacau. Ia melewati koridor hotel, melewati cermin besar yang memantulkan wajahnya. Lipstiknya masih rapi. Rambutnya masih rapi. Gaun satin warna mawar pucatnya masih jatuh indah di tubuh.
Hanya matanya yang berantakan.
Di lift, ia menekan tombol lobi. Angka-angka turun perlahan. Tiga puluh dua. Dua puluh sembilan. Dua puluh lima.
Ponselnya bergetar.
Kevin: Kamu lihat Ray?
Louisa menatap pesan itu lama.
Tidak ada pertanyaan kamu di mana.
Tidak ada kamu sudah makan?
Tidak ada kamu pulang dengan siapa?
Hanya Ray.
Pintu lift terbuka.
Louisa keluar ke lobi hotel yang luas. Aroma bunga segar dan kopi dari lounge bercampur dengan udara dingin AC. Di tengah lobi, rangkaian mawar putih melati berdiri tinggi di dalam vas kristal.
Louisa berhenti.
Mawar putih melati.
Pada hari kelulusan SMA, ia pernah membeli bunga seperti itu untuk Kevin. Ia menyimpannya sampai sore, menunggu kesempatan yang tepat. Lalu Kevin pergi lebih dulu karena ada urusan keluarga. Bunga itu akhirnya layu di kamar Louisa, kelopaknya jatuh satu per satu ke meja belajar.
Ia tertawa kecil.
Tawa itu pecah menjadi isak yang segera ia tahan dengan punggung tangan.
"Louisa."
Suara rendah itu datang dari sisi kiri.
Louisa menoleh.
Nathanael Susanto berdiri beberapa langkah darinya. Jasnya sudah terbuka, dasinya sedikit longgar, tapi wajahnya tetap tenang. Tidak ada rasa ingin tahu yang kasar di matanya. Tidak ada kasihan yang membuat orang ingin menghilang.
Hanya perhatian yang terlalu diam.
"Kamu sendirian?" tanyanya.
Louisa mengerjap. "Pak Nathanael."
"Nathanael saja."
"Aku..." Ia mencoba berdiri lebih tegak. "Aku lagi nunggu mobil."
"Kamu sudah pesan?"
Louisa membuka ponsel. Layar menyala, tapi ia lupa apa yang ingin ia lakukan. Aplikasi Grab ada di halaman kedua. Jarinya berhenti di atas layar tanpa menekan apa pun.
Nathanael tidak mengambil ponselnya. Ia hanya berdiri di sana, memberi jarak yang sopan.
"Aku bisa minta sopirku mengantar kamu pulang," ucapnya.
Louisa menggeleng. "Nggak usah. Aku nggak mau merepotkan."
"Tidak merepotkan."
Cara pria itu mengucapkan kalimat sederhana membuat Louisa menatapnya. Ada sesuatu di sana. Bukan basa-basi ballroom. Bukan keramahan bisnis. Seperti kalimat itu sudah lama disimpan, lalu akhirnya menemukan waktu untuk keluar.
"Kita kenal?" tanya Louisa pelan.
Nathanael terdiam sejenak.
Di belakangnya, pintu otomatis lobi terbuka. Udara malam Jakarta masuk membawa bau aspal basah. Suara klakson dari jalan terdengar jauh.
"Kita pernah satu sekolah," jawab Nathanael.
Louisa mengerutkan kening, mencoba mencari wajah itu di antara ingatan SMA yang penuh Kevin. Koridor, lapangan, kantin, hujan. Tidak ada yang jelas.
"Maaf," bisiknya. "Aku nggak ingat."
Nathanael menunduk sedikit. Senyumnya hampir tidak terlihat. "Tidak apa-apa."
Entah mengapa, jawaban itu membuat dada Louisa lebih sakit daripada jika pria itu tersinggung.
Ia melihat lagi rangkaian mawar putih melati di tengah lobi. Kelopaknya segar, putih, bersih, seolah tidak pernah tahu rasanya menunggu sampai layu.
"Aku bodoh, ya?" gumamnya.
Nathanael menatapnya. "Kenapa bilang begitu?"
"Sepuluh tahun suka sama orang yang bahkan nggak pernah lihat aku." Louisa tertawa pelan, kali ini tanpa tenaga. "Malam ini aku baru sadar. Selama ini aku bukan tokoh utama di ceritanya. Aku cuma orang yang dia hubungi kalau butuh sesuatu."
Nathanael tidak langsung menjawab.
Kesunyian di antara mereka anehnya tidak membuat Louisa malu. Mungkin karena wine sudah membuat kepalanya ringan. Mungkin karena pria di depannya terlalu asing untuk menghakimi, tapi terlalu tenang untuk ditakuti.
"Kalau begitu," ucap Nathanael perlahan, "berhenti berdiri di cerita orang yang tidak memilihmu."
Louisa mengangkat wajah.
Matanya panas. Namun kali ini, air mata tidak jatuh. Ia menatap pria yang nyaris tidak ia ingat, pria yang suaranya tidak memerintah, hanya membuka pintu kecil yang selama ini tidak pernah ia lihat.
"Kalau aku berhenti," bisiknya, "aku harus ke mana?"
Nathanael memandangnya lama.
"Ke tempat yang membuatmu tidak perlu memohon untuk dilihat."
Kalimat itu menghantam bagian paling lelah dalam diri Louisa.
Ia ingin tertawa, ingin menangis, ingin pulang, ingin menghapus sepuluh tahun dari kulitnya. Di luar, hujan mulai turun lebih deras, menepuk kaca lobi dengan suara rapat. Di ponselnya, pesan Kevin masih belum dibalas.
Louisa mematikan layar.
Lalu ia maju setengah langkah ke arah Nathanael.
"Nathanael."
"Ya?"
"Kamu belum menikah, kan?"
Sorot mata Nathanael berubah. Sangat halus, tapi Louisa melihatnya.
"Belum."
"Punya pacar?"
"Tidak."
"Bagus."
Nathanael menahan napas. "Louisa, kamu mabuk."
"Sedikit."
"Aku antar kamu pulang dulu."
Louisa menggeleng lagi. Kali ini lebih pelan. Ia menatap mawar putih melati, lalu menatap pria di hadapannya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak ingin kembali ke ballroom. Tidak ingin menunggu Kevin. Tidak ingin menjadi orang yang selalu tersedia.
Ia ingin melakukan satu hal gila.
Satu hal yang bukan untuk Kevin.
Satu hal yang mungkin akan ia sesali besok pagi, tapi malam ini terasa seperti satu-satunya cara untuk keluar dari cerita lama.
Louisa menarik napas. Ujung jarinya masih dingin, tapi suaranya keluar jelas.
"Nikah sama aku, ya?"
Bab 002
Bangun Tidur Sudah Punya Suami
Nathanael tidak langsung menjawab.
Louisa menunggu dengan kepala ringan dan dada yang terlalu penuh. Di belakang punggung pria itu, hujan mengetuk kaca lobi semakin rapat. Rangkaian mawar putih melati di tengah ruangan tampak buram, seperti dilihat dari dasar air.
"Nikah sama aku, ya?" ulang Louisa, lebih pelan.
Kali ini, Nathanael bergerak.
Ia melepas jasnya, lalu menyampirkannya di bahu Louisa tanpa menyentuh kulitnya. Gerakannya hati-hati, seolah satu gerakan yang salah bisa membuat perempuan di depannya pecah.
"Louisa," ucapnya rendah, "kamu sedang mabuk."
"Sedikit."
"Cukup banyak."
Louisa menunduk melihat jas hitam di bahunya. Aroma bersih yang samar menempel di kain itu, campuran cedar dan udara malam. Berbeda dari aroma wine yang pahit di napasnya.
"Kalau aku sadar, aku mungkin nggak berani bilang," gumamnya.
Mata Nathanael bergerak sedikit. "Kalau begitu, tunggu sampai kamu sadar."
"Terus kamu pergi?"
"Aku antar kamu pulang."
"Aku nggak mau pulang ke ballroom."
"Bukan ke ballroom." Nathanael mengeluarkan ponselnya, menekan satu kontak, lalu berbicara singkat kepada sopirnya. Setelah itu ia menatap Louisa lagi. "Ke tempat tinggalmu."
Louisa ingin menolak, tapi lantai lobi seperti naik turun. Ia menggenggam pinggir jas Nathanael, bukan karena ingin dekat, melainkan karena tubuhnya mendadak tidak bisa dipercaya.
Nathanael melihat jari-jarinya yang memucat.
"Boleh aku pegang tanganmu? Supaya kamu nggak jatuh."
Pertanyaan itu membuat Louisa mengangkat wajah.
Selama sepuluh tahun, ia terlalu sering berada di dekat orang yang mengambil bantuannya tanpa bertanya. Malam ini, ada seseorang yang bahkan meminta izin hanya untuk menahan tangannya.
Matanya panas.
"Boleh," jawabnya hampir tidak terdengar.
Nathanael mengulurkan tangan. Telapak tangannya hangat, kuat, tapi tidak menggenggam lebih erat dari yang diperlukan.
Saat mereka berjalan menuju pintu lobi, ponsel Louisa kembali bergetar.
Kevin: Report sponsor sudah kamu kirim ke Ray?
Louisa berhenti.
Nathanael ikut berhenti, tetapi tidak menoleh ke layar.
Ia membiarkan Louisa melihat pesan itu sampai layar meredup sendiri.
"Aku mau ganti cerita," bisik Louisa.
"Besok pagi," kata Nathanael. "Kalau kamu masih mau mengganti cerita itu, hubungi aku."
"Kalau kamu berubah pikiran?"
Untuk pertama kalinya malam itu, Nathanael tersenyum kecil. Bukan senyum sopan di acara bisnis, tapi senyum yang membuat matanya tidak sedingin tadi.
"Aku tidak mudah berubah pikiran."
***
Louisa bangun dengan kepala seperti dihantam pintu lift.
Cahaya pagi masuk melalui celah tirai apartemen kecilnya di Kuningan. AC masih menyala. Gaun satin warna mawar pucat terlipat sembarangan di kursi. Di atas tubuhnya, ia sudah memakai kaus putih dan celana tidur, entah kapan ia menggantinya. Rambutnya berantakan, tenggorokannya kering, dan rasa wine semalam masih tertinggal pahit di lidah.
Ia menatap langit-langit selama beberapa detik.
Lalu ingatan itu jatuh satu per satu.
Kevin merapikan kalung Yvonne.
Pesan tentang report sponsor.
Mawar putih melati di lobi hotel.
Nathanael Susanto.
Nikah sama aku, ya?
Louisa langsung duduk.
"Aduh..."
Dunia berputar. Ia menutup mulut dengan satu tangan, menahan mual dan rasa malu yang naik bersamaan. Setelah napasnya lebih stabil, ia meraba kasur, mencari ponsel.
Ponselnya tergeletak di nakas, baterai tinggal dua belas persen.
Ada enam belas notifikasi.
Tiga dari Steven.
Dua dari Raymond.
Empat dari grup kantor.
Satu dari Kevin.
Dan satu percakapan WhatsApp baru yang namanya membuat jantung Louisa berhenti sesaat.
Nathanael Susanto.
Tangannya gemetar saat membuka chat itu.
02.13
Louisa: Ini nomorku. Jangan hilang.
02.14
Louisa: Aku serius.
02.14
Louisa: Kalau besok aku malu, kamu jangan pura-pura lupa.
02.17
Nathanael Susanto: Tidur dulu, Louisa. Kita bicara saat kamu sudah sadar.
02.18
Louisa: Aku mau nikah.
02.20
Nathanael Susanto: Aku tahu.
02.20
Nathanael Susanto: Aku akan datang pukul sepuluh, kalau kamu mengizinkan.
Louisa menutup matanya.
Rasanya ia ingin melempar ponsel ke bawah bantal, pindah kota, lalu memulai hidup baru sebagai penjual martabak di tempat yang tidak mengenal jaringan internet.
Pukul berapa sekarang?
Ia membuka mata.
09.36.
"Mati."
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini Steven.
Louisa menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Halo?"
"Kamu hidup?" suara Steven langsung masuk tanpa salam.
Louisa memijit pelipis. "Secara teknis, iya."
"Semalam kamu menghilang dari ballroom. Aku cari sampai lobi. Staf hotel bilang kamu pulang sama tamu pria."
"Steve..."
"Tolong bilang pria itu bukan Kevin."
"Bukan."
Steven diam dua detik. "Syukurlah."
Dalam keadaan lain, Louisa mungkin akan tertawa. Sekarang ia hanya jatuh kembali ke bantal.
"Itu Nathanael Susanto," ucapnya pelan.
Di ujung sana, Steven terbatuk. "PT Nusatek Nathanael Susanto?"
"Iya."
"Kenapa kamu pulang sama dia?"
Louisa menggigit bibir. Di layar ponsel, chat dengan Nathanael masih terbuka. Kalimatnya sendiri menatap balik tanpa belas kasihan.
"Karena aku minta dia nikah sama aku."
Sunyi.
Sangat sunyi.
"Steve?"
"Aku sedang memastikan kupingku masih normal."
"Aku mabuk."
"Jelas."
"Aku mau bilang ke dia kalau itu cuma omong kosong."
"Lulu." Suara Steven turun. "Kamu semalam hancur. Aku lihat. Tapi jangan ambil keputusan cuma karena Kevin."
Nama itu membuat Louisa memejamkan mata.
"Justru karena Kevin aku sadar aku harus berhenti."
"Berhenti boleh. Menikah dengan orang yang nyaris nggak kamu kenal itu lain cerita."
"Aku tahu."
"Kamu yakin dia orang baik?"
Louisa teringat jas di bahunya. Pertanyaan sederhana, boleh aku pegang tanganmu? Jarak sopan di lobi. Pesan pukul dua pagi yang tidak memancingnya, tidak menggoda, tidak mengambil keuntungan.
"Aku nggak tahu," jawabnya jujur. "Tapi semalam dia lebih menghormati aku daripada orang yang kukenal sepuluh tahun."
Steven menghela napas panjang.
"Kalau kamu butuh aku datang, bilang."
"Aku akan telepon lagi setelah bicara sama dia."
"Jangan matikan share location."
"Iya, Steve."
Setelah panggilan selesai, Louisa membuka pesan dari Kevin.
Kevin: Kamu pulang duluan? File vendor yang aku minta ada di laptop kamu?
Tidak ada pertanyaan tentang keadaannya.
Louisa menatap pesan itu sampai matanya perih. Lalu ia mengunci layar.
Bel pintu berbunyi tepat pukul sepuluh.
Louisa belum sempat mandi. Ia hanya mencuci muka, mengikat rambut asal-asalan, dan mengganti kausnya dengan kemeja linen putih. Wajahnya masih pucat. Di bawah matanya ada bayangan tipis, bukti bahwa menangis tanpa benar-benar menangis juga bisa membuat seseorang tampak lelah.
Ia membuka pintu.
Nathanael berdiri di koridor apartemen dengan kemeja biru muda dan celana bahan gelap. Di tangannya ada paper bag dari toko roti, satu botol air mineral besar, dan map kulit cokelat.
Louisa menatap map itu lebih lama daripada menatap wajahnya.
"Pagi," ucap Nathanael.
"Pagi."
"Boleh masuk?"
Louisa mundur satu langkah. "Silakan."
Apartemennya tidak besar. Ruang tamu, dapur kecil, satu kamar tidur, satu meja kerja yang penuh cat air dan kertas sketsa. Nathanael meletakkan paper bag dan air mineral di meja, lalu tidak duduk sebelum Louisa menunjuk sofa.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
"Belum."
"Roti tawar dan bubur kacang hijau. Aku tidak tahu kamu biasa sarapan apa. Untuk hangover, setidaknya jangan minum kopi dulu."
Louisa menatap paper bag itu.
Perhatian kecil itu datang terlalu pagi. Ia belum siap menerimanya.
"Pak Nathanael..."
"Nathanael saja."
"Aku minta maaf soal semalam."
Nathanael duduk tegak, kedua tangannya bertaut longgar di depan lutut. "Untuk bagian mana?"
"Semuanya." Louisa menarik napas. "Aku mabuk. Aku bicara aneh. Aku bikin kamu repot. Tolong anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa pun."
"Aku tidak bisa."
Louisa menatapnya.
Nada Nathanael tidak keras. Justru karena terlalu tenang, kalimat itu terasa tidak bisa digeser.
"Kenapa?"
"Karena aku mendengarnya."
"Tapi aku mabuk."
"Karena itu aku tidak menjawab semalam." Nathanael menatapnya lurus. "Aku mengantar kamu pulang, memastikan pintumu terkunci, lalu pergi setelah kamu masuk. Aku tidak menganggap keputusan orang mabuk sebagai persetujuan."
Telinga Louisa terasa panas.
"Terima kasih."
"Sekarang kamu sadar."
"Iya."
"Dan aku akan menjawab sekarang." Nathanael berhenti sebentar. "Aku serius."
Ruangan kecil itu mendadak sangat sunyi.
Di luar jendela, suara motor dari jalan bawah terdengar samar. Kulkas berdengung pelan. Louisa bisa mendengar detak jam dinding yang biasanya tidak pernah ia perhatikan.
"Kamu bahkan nggak kenal aku," katanya.
"Aku mengenalmu lebih lama dari yang kamu ingat."
Kalimat itu membuat Louisa menegang.
Nathanael seolah menyadari ia sudah membuka terlalu banyak pintu. Tatapannya turun sesaat, lalu kembali tenang.
"Maksudku, kita pernah satu sekolah. Dan aku tahu cukup banyak untuk tidak menganggapmu orang asing."
"Itu tetap bukan alasan untuk menikah."
"Benar."
"Lalu kenapa?"
Nathanael memandangnya lama. Tidak seperti Kevin yang sering menatap layar sambil bicara, Nathanael menatap seolah setiap kata Louisa harus diterima utuh sebelum ia menjawab.
"Karena kamu meminta jalan keluar. Dan aku bisa memberimu jalan yang legal, jelas, dan tidak akan merugikanmu."
Louisa hampir tertawa. "Pernikahan sebagai jalan keluar?"
"Perjanjian pranikah bisa melindungi hartamu. Status menikah denganku bisa membuat Kevin berhenti menganggap kamu selalu tersedia. Kalau satu tahun kemudian kamu ingin bercerai, kita bisa mengurusnya lewat Pengadilan Negeri secara baik-baik."
Satu tahun.
Kata itu anehnya membuat napas Louisa lebih teratur. Ada batas. Ada pintu keluar. Ada aturan.
Ia menatap map kulit cokelat di meja.
"Itu apa?"
Nathanael membuka map tersebut.
Di dalamnya ada dua lembar formulir kosong dari Kantor Catatan Sipil, daftar dokumen yang dibutuhkan, salinan contoh perjanjian pranikah, dan dua bolpoin hitam yang diletakkan sejajar.
Louisa menahan napas.
Di bagian atas formulir, tercetak jelas kolom permohonan pencatatan perkawinan dan draft akta nikah.
"Aku tidak akan memaksamu menandatangani apa pun hari ini," ucap Nathanael.
Louisa mengangkat wajah.
Nathanael mendorong dua lembar formulir kosong itu sedikit ke arahnya.
"Tapi kalau kamu masih ingin menikah," katanya pelan, "kita mulai dari sini."
Bab 003
Perjanjian Pranikah
Louisa tidak langsung menyentuh formulir itu.
Dua lembar kertas putih di atas meja tampak terlalu bersih untuk keputusan yang lahir dari malam paling berantakan dalam hidupnya. Kolom nama masih kosong. Kolom tempat lahir, tanggal lahir, agama, alamat, tanda tangan saksi, semuanya menunggu diisi.
Menunggu.
Kata itu membuat ujung jari Louisa dingin.
Ia sudah terlalu lama menunggu orang yang salah. Menunggu Kevin membalas pesan. Menunggu Kevin menoleh. Menunggu hari ketika Kevin sadar bahwa ia selalu ada. Sekarang, di hadapannya, ada jalan keluar yang justru meminta ia berhenti menunggu dan mulai memilih.
"Kalau aku tanda tangan," ucap Louisa, "apa yang sebenarnya kamu dapat?"
Nathanael menatapnya dari sofa seberang. "Status."
"Status?"
"Suami."
Jawaban itu terlalu singkat, terlalu tenang. Louisa tidak tahu harus tertawa atau takut.
"Kamu bicara seolah itu hal kecil."
"Bukan hal kecil." Nathanael menurunkan pandangan ke map. "Karena itu semua harus jelas dari awal."
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen lain, lebih tebal dari formulir Catatan Sipil. Di halaman pertama tertulis draft perjanjian pranikah. Bahasa hukumnya rapi, kering, tidak romantis sama sekali.
Aneh, justru bagian itu membuat Louisa sedikit lega.
Kertas hukum tidak berjanji akan mencintainya. Kertas hukum hanya menulis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Setelah sepuluh tahun hidup dari harapan yang tidak pernah diucapkan, sesuatu yang dingin dan jelas terasa lebih aman.
Nathanael meletakkan dokumen itu di antara mereka.
"Aku minta pengacara keluargaku menyiapkan draft dasar. Belum sah. Nanti harus dibaca notaris, lalu disesuaikan dengan keputusanmu."
"Keputusanku?"
"Pernikahan ini dimulai dari permintaanmu. Jadi syarat utamanya harus melindungimu."
Louisa menatapnya lama.
Ponselnya bergetar di meja.
Nama Kevin muncul di layar.
Kevin Tanuwijaya.
Jantung Louisa masih bereaksi. Ternyata tubuh memang lebih lambat belajar daripada pikiran. Selama bertahun-tahun, satu panggilan dari Kevin selalu membuatnya bergerak sebelum sempat berpikir. Mengangkat telepon, membuka laptop, mencatat jadwal, pergi menjemput, membatalkan urusan sendiri.
Hari ini, jarinya hanya berhenti di udara.
Nathanael tidak melihat layar. Ia menatap cangkir kosong di meja, memberi ruang seolah panggilan itu bukan urusannya.
"Kamu perlu angkat?" tanyanya.
Louisa menelan ludah. "Nggak."
Panggilan itu berhenti.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Kevin: Lulu, file vendor. Sekarang.
Louisa membaca kata terakhir itu.
Sekarang.
Tidak ada tolong. Tidak ada kamu di mana. Tidak ada semalam kamu kenapa pulang tanpa kabar.
Ia membalik ponsel hingga layarnya menghadap meja.
"Tulis syaratnya," ucap Louisa.
Nathanael mengambil bolpoin, tapi tidak langsung menulis. "Kamu yakin tidak mau istirahat dulu?"
"Kalau aku istirahat, aku mungkin kembali takut."
"Takut tidak selalu buruk."
"Tapi aku sudah terlalu sering memakai takut sebagai alasan untuk tetap di tempat yang sama."
Untuk pertama kalinya sejak ia datang pagi itu, ekspresi Nathanael berubah jelas. Ada sesuatu yang menghangat di matanya, cepat sekali lalu menghilang.
"Baik," ucapnya.
Ia menarik satu lembar kertas kosong dari map.
"Satu. Pernikahan berlangsung satu tahun. Setelah itu, kalau kamu ingin berpisah, aku akan mengurus perceraian secara baik-baik lewat Pengadilan Negeri."
Louisa mengangguk. "Kalau kamu yang ingin bercerai sebelum satu tahun?"
"Aku tidak akan mengajukan lebih dulu."
"Kenapa?"
"Karena aku yang menawarkan perlindungan. Tidak masuk akal kalau aku menariknya saat kamu belum siap."
Louisa menatap bolpoin di tangan Nathanael. Tangan itu stabil. Tidak seperti tangannya sendiri yang masih sesekali bergetar.
"Tulis saja, kedua pihak berhak mengajukan pembatalan kesepakatan kalau terjadi kekerasan, pemaksaan, atau pelanggaran berat," katanya.
"Setuju."
Nathanael menulis tanpa memperdebatkan.
"Dua," lanjut Louisa. "Pisah harta. Semua asetmu tetap milikmu. Semua penghasilanku tetap milikku."
"Aku tambahkan tidak ada kewajiban saling menanggung utang pribadi."
"Iya."
"Tiga?"
Louisa mengalihkan pandangan ke meja kerjanya. Ada sketsa setengah jadi di sana, gambar seorang perempuan berdiri di halte saat hujan. Ia membuatnya beberapa bulan lalu setelah menunggu Kevin pulang dari meeting, hanya untuk diberi tahu bahwa pria itu sudah makan malam dengan Yvonne.
"Kita pasangan nominal," katanya pelan. "Tidak perlu..."
Ia berhenti.
Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
Nathanael meletakkan bolpoin. "Tidak ada kewajiban fisik apa pun tanpa persetujuan dua pihak."
Wajah Louisa panas.
"Iya. Itu."
"Aku tulis jelas."
Nathanael menulis dengan tenang, tanpa membuatnya merasa kotor karena menyebut batas tubuhnya sendiri. Louisa menatap sisi wajah pria itu. Garis rahangnya tegas, bulu matanya menurunkan bayangan tipis. Ia tampak seperti seseorang yang terbiasa memutuskan kontrak miliaran, tetapi pagi ini ia menulis kalimat paling sederhana: tidak ada sentuhan tanpa persetujuan.
Dada Louisa melunak sedikit.
"Empat," ucap Nathanael setelah selesai. "Kamu bebas bekerja, melukis, bertemu teman, dan tinggal di tempat yang kamu pilih. Aku tidak akan mengatur kehidupanmu."
"Kalau nanti kita harus terlihat sebagai suami istri?"
"Kita sepakati jadwalnya. Acara keluarga, acara publik, kebutuhan legal. Di luar itu, tidak ada paksaan."
"Kamu juga bebas."
"Aku tidak punya hubungan lain."
Jawaban itu terlalu cepat.
Louisa berkedip. "Maksudku, pekerjaan, keluarga, teman."
"Aku tahu." Nathanael menutup sedikit bibirnya, seolah sadar ia menjawab bagian yang tidak ditanya. "Iya, tulis juga untukku."
Louisa hampir tersenyum.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, hanya pesan berturut-turut.
Kevin: Ray bilang kamu belum kirim.
Kevin: Kamu sakit?
Kevin: Kalau sakit, kirim file dulu, nanti izin ke HR.
Kalimat terakhir itu membuat senyum yang nyaris muncul di bibir Louisa menghilang.
Nathanael akhirnya menoleh ke ponsel, bukan untuk membaca, hanya karena getarnya tidak berhenti.
"Kamu boleh memblokirnya sementara."
"Aku masih kerja di perusahaannya."
"Kalau kamu ingin resign, aku bisa bantu cari pengacara ketenagakerjaan."
"Belum." Louisa menarik napas. "Aku mau keluar dengan caraku sendiri."
Nathanael mengangguk. "Baik."
Tidak ada "aku urus saja". Tidak ada "kamu tidak perlu bekerja di sana". Tidak ada rasa memiliki yang menindih.
Hanya baik.
Louisa mengambil ponsel, membuka chat Kevin, lalu mengetik perlahan.
File vendor ada di folder kantor. Aku cuti sakit hari ini. Tolong minta Ray ambil dari server.
Ia menatap kalimat itu. Tidak ada kata maaf.
Untuk pertama kalinya, ia mengirim pesan kepada Kevin tanpa meminta maaf.
Centang dua muncul.
Louisa meletakkan ponsel lagi. Tangannya masih bergetar, tapi kali ini bukan karena takut sepenuhnya. Ada rasa asing yang kecil dan tajam, seperti udara masuk ke kamar yang terlalu lama tertutup.
"Lima," katanya. "Kita tidak perlu mengumumkan alasan pernikahan ini kepada siapa pun."
"Setuju."
"Kalau keluarga bertanya?"
"Kita bilang keputusan bersama."
"Kalau keluargamu marah?"
Nathanael berhenti menulis. "Mereka tidak akan marah."
"Kamu yakin?"
"Engkong mungkin akan terlalu senang."
Louisa tidak mengerti kenapa kalimat itu terdengar begitu aneh. Terlalu senang? Untuk cucunya yang tiba-tiba menikah dengan perempuan yang baru kemarin mabuk di lobi hotel?
Sebelum ia sempat bertanya, Nathanael sudah kembali ke dokumen.
"Ada lagi?"
Louisa membaca daftar itu dari awal. Satu tahun. Pisah harta. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan. Tidak saling mengatur pekerjaan dan pertemanan. Alasan pernikahan tidak diumumkan. Perceraian bisa dilakukan baik-baik setelah masa kesepakatan selesai.
Semua terdengar seperti pagar.
Pagar yang ia bangun agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
"Kalau dalam satu tahun itu..." Louisa berhenti, lalu memaksa dirinya melanjutkan. "Kalau salah satu dari kita menyukai orang lain?"
Nathanael tidak segera menjawab.
Louisa menatapnya. Pertanyaan itu sebenarnya untuk dirinya sendiri. Ia belum benar-benar bersih dari Kevin. Bayangan pria itu masih ada di sudut-sudut kebiasaannya, di jadwal kerja, di password folder kantor, di memori hujan SMA, di bunga yang layu.
Nathanael memutar bolpoin di antara jarinya sekali.
"Kalau kamu menyukai orang lain," katanya, "kamu boleh memberitahuku. Aku tidak akan menahanmu."
"Kamu?"
"Aku tidak akan menyukai orang lain."
Louisa tertawa pelan, tidak percaya. "Kamu yakin sekali."
"Iya."
"Kenapa?"
Nathanael menatap kertas di depannya. "Aku orang yang kalau sudah memilih, sulit pindah."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, ruangan terasa berubah. Louisa melihat wajahnya yang tenang, tangan yang menahan bolpoin, dan jeda yang terlalu panjang setelah kata memilih.
Ia tidak tahu harus menaruh kalimat itu di mana.
Akhirnya ia hanya berkata, "Tulis saja, kalau salah satu pihak memiliki hubungan serius dengan orang lain, pihak lain harus diberi tahu."
"Baik."
Mereka menyusun draft itu selama hampir satu jam.
Nathanael menghubungi notaris keluarga Susanto melalui pesan singkat, meminta jadwal konsultasi sore ini. Louisa mengirim foto KTP dan akta lahir yang tersimpan di folder digitalnya. Ia juga mencari kartu keluarga Lesmana, lalu berhenti sebentar saat melihat namanya berada di bawah nama Vincent Lesmana dan Renata Tanuwijaya-Lesmana.
Anak angkat.
Status yang sah, tapi selalu terasa seperti tanda kurung di hidupnya.
Nathanael melihat tangannya diam di atas layar.
"Kalau dokumennya belum lengkap, kita bisa tunggu."
"Lengkap." Louisa mengunci ponsel. "Aku cuma..."
"Tidak perlu dijelaskan."
Kebaikan yang tidak memaksa kadang lebih sulit ditahan daripada pertanyaan tajam.
Louisa mengambil bolpoin yang satu lagi.
"Draft sementara saja, kan?"
"Iya. Nanti notaris baca ulang. Kamu juga bisa minta Steven atau pengacara lain memeriksa."
"Aku akan minta Steven baca."
"Bagus."
Louisa membaca halaman terakhir. Di bawah daftar syarat, Nathanael menulis dua baris kosong untuk tanda tangan mereka. Bukan dokumen final, hanya kesepakatan awal yang akan dibawa ke notaris.
Namun tangan Louisa tetap terasa berat.
Jika ia menandatangani, ia tidak lagi bisa berpura-pura bahwa semalam hanya kesalahan mabuk.
Ia akan benar-benar berjalan keluar dari cerita Kevin.
Ponselnya menyala lagi.
Kevin: Sejak kapan kamu cuti tanpa lapor aku dulu?
Louisa menatap pesan itu.
Lalu ia menunduk dan menandatangani namanya.
Louisa Hartono.
Tinta hitam itu mengering cepat di atas kertas.
Nathanael menatap tanda tangan tersebut beberapa detik. Setelah itu, ia mengambil bolpoinnya sendiri.
Gerakannya berhenti tepat sebelum ujung bolpoin menyentuh kertas.
Louisa melihat jeda itu.
Untuk sesaat, ia mengira Nathanael akhirnya sadar betapa gilanya semua ini. Mungkin ia menimbang nama keluarga Susanto, reputasi PT Nusatek Mandiri, Engkong yang akan terlalu senang, dan perempuan di hadapannya yang baru kemarin patah hati karena pria lain.
"Kalau kamu mau mundur, masih bisa," ucap Louisa pelan.
Nathanael mengangkat wajah.
Matanya menatap Louisa dengan sesuatu yang tidak ia mengerti. Terlalu dalam untuk ragu. Terlalu sunyi untuk sekadar nekat.
Louisa tidak tahu, di balik jeda itu, sepuluh tahun hidup Nathanael sedang menahan napas.
Pria itu menunduk.
Lalu menulis namanya di bawah namanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!