Indonesia
NovelToon NovelToon

Mengejar Cahaya di Musim Panas

Episode 1

Bab 1 - Gadis Baru di Sekolah Elite

Mobil Toyota tua milik Engkong berhenti tepat di depan gerbang SMA Nusantara Unggul saat deretan mobil hitam mengilap menurunkan murid-murid berseragam rapi.

Naomi Tan menahan napas sebentar.

Di kaca jendela mobil, wajahnya terlihat lebih pucat daripada biasanya. Rambut panjangnya sudah diikat rapi, pita seragamnya lurus, sepatu hitamnya sudah dipoles sejak semalam. Tapi tetap saja, di antara mobil Alphard, Mercedes, dan sedan mahal yang berbaris seperti pameran kecil, mobil Engkong yang catnya mulai kusam terlihat terlalu jujur.

"Nao," panggil Engkong dari kursi kemudi.

Naomi menoleh. "Iya, Engkong?"

Lelaki tua itu tersenyum, keriput di sudut matanya menghangat. "Sekolah bagus memang penting. Tapi yang paling penting tetap kepala kamu sendiri. Jangan takut sama gedung besar."

Naomi ingin tertawa, tapi tenggorokannya terasa kering. Ia mengangguk pelan. "Aku nggak takut."

Engkong menatapnya sebentar, seperti tahu cucunya sedang berbohong dengan sopan.

"Kalau takut juga nggak apa-apa," katanya. "Yang penting tetap masuk."

Kalimat itu membuat dada Naomi sedikit lega.

Ia mengambil tasnya, lalu turun. Udara Jakarta pagi itu terasa panas meski matahari belum tinggi. Gerbang SMA NU menjulang di depannya dengan huruf logam besar yang memantulkan cahaya. Di balik pagar, halaman sekolah luas, pohon-pohon dipangkas rapi, dan gedung putih berlantai beberapa terlihat seperti kampus kecil, bukan sekolah menengah.

Naomi baru dua hari tinggal di Jakarta. Dua hari lalu, ia masih duduk di teras rumah Ema di Semarang, mendengar suara motor lewat, mencium aroma ikan steam dari dapur, dan membantu Engkong merapikan kuas kaligrafi. Sekarang, ia berdiri di depan sekolah elite yang murid-muridnya berjalan dengan langkah ringan, seolah mereka sudah tahu dunia ini akan selalu memberi tempat terbaik untuk mereka.

"Telepon kalau sudah selesai," pesan Engkong dari dalam mobil.

"Iya. Hati-hati pulangnya."

Engkong mengangkat tangan. Mobil tua itu perlahan menjauh, meninggalkan Naomi bersama suara mesin mahal, tawa asing, dan tatapan-tatapan cepat yang melewati sepatunya, tasnya, lalu wajahnya.

Naomi menggenggam tali tas lebih erat.

Ia baru hendak melangkah ketika tali sepatu kirinya lepas.

"Serius banget sih, hari pertama?" gumamnya pelan.

Ia menepi ke dekat pilar gerbang, berjongkok, lalu mulai mengikat tali sepatu. Di sekelilingnya, sepatu kulit mahal dan sneakers edisi terbatas lewat silih berganti. Naomi menunduk lebih rendah. Jarinya bergerak cepat, tapi ikatan pertama gagal karena tangannya sedikit berkeringat.

Saat itu, aroma mint tipis menyapu udara.

Segar. Dingin. Terlalu bersih untuk pagi Jakarta yang panas.

Sebuah sepatu putih berhenti setengah langkah dari tangannya.

Naomi mengangkat wajah sedikit. Yang pertama ia lihat adalah ujung celana seragam yang tidak sekaku murid lain, lalu tangan panjang yang memegang ponsel, lalu rahang seorang laki-laki yang membungkuk sedikit ke arahnya.

"Tali sepatunya kalah mental?" suara itu terdengar malas, tapi ada tawa kecil di ujungnya.

Naomi mendongak penuh.

Laki-laki itu tinggi. Rambut hitamnya agak berantakan, dasinya longgar, dan seragam SMA NU yang seharusnya membuat semua orang terlihat patuh justru tampak seperti sesuatu yang ia pakai hanya karena disuruh. Matanya gelap, jernih, dan terlalu santai untuk seseorang yang hampir membuat Naomi terjatuh karena terkejut.

Di belakangnya, dua murid laki-laki menunggu sambil menahan senyum.

Naomi kembali menunduk, mengikat tali sepatunya dengan cepat. "Nggak. Cuma kurang kerja sama."

Laki-laki itu tertawa pelan.

"Jawaban bagus."

Naomi berdiri. Saat ia menepuk sedikit debu di roknya, laki-laki itu sudah menyingkir setengah langkah, memberi jalan tanpa terlihat benar-benar sopan. Dari dekat, aroma mint itu makin jelas.

"Murid baru?" tanyanya.

Naomi menatapnya sebentar. "Kelihatan banget?"

"Banget." Ia menunjuk papan petunjuk dengan dagunya. "Ruang administrasi ke sana. Jangan sampai masuk gedung olahraga. Kecuali lo mau langsung ikut ekskul basket."

Salah satu temannya tertawa. "Dar, jangan godain anak baru pagi-pagi."

Dar.

Naomi menyimpan potongan nama itu tanpa sengaja.

Laki-laki itu memasukkan ponsel ke saku. "Gue cuma bantu."

"Bantunya aneh," balas Naomi pelan.

Alis laki-laki itu terangkat. Senyumnya melebar sedikit, bukan senyum ramah, lebih seperti seseorang yang baru menemukan hal menarik.

Naomi sadar ia baru saja bicara terlalu berani pada murid yang jelas-jelas bukan tipe aman untuk diajak saling sindir di hari pertama. Ia menelan ludah, lalu cepat-cepat mengangguk kecil. "Permisi."

Ia berjalan melewati mereka.

Di belakangnya, suara laki-laki itu terdengar lagi, lebih rendah dari sebelumnya. "Tali sepatunya udah aman, anak baru."

Panas langsung naik ke telinga Naomi.

Ia tidak menoleh.

Ruang administrasi berada di lantai satu gedung utama. Seorang staf perempuan menyerahkan map biru berisi jadwal, kartu akses, dan denah sekolah. Setelah memastikan data Naomi, staf itu memintanya menunggu di luar ruang guru.

Di sana, Naomi bertemu Prof. Fang, wali kelas yang wajahnya tegas tapi tidak dingin. Perempuan itu membaca berkas Naomi sambil mengangguk beberapa kali.

"Dari Semarang, ya?"

"Iya, Prof."

"Nilai kamu sangat bagus." Prof. Fang menutup map. "Tapi Kelas 12A bukan cuma soal nilai. Anak-anak di sana cepat, kompetitif, dan sebagian besar sudah bersama sejak kelas sepuluh. Kamu mungkin perlu waktu menyesuaikan diri."

Naomi mengangguk. "Saya mengerti."

"Jangan terlalu tegang." Prof. Fang menatapnya dari balik kacamata. "Kalau kamu memang sampai sini karena kemampuanmu sendiri, kamu berhak duduk di kelas itu."

Kali ini Naomi benar-benar tersenyum kecil. "Terima kasih, Prof."

Perjalanan menuju Kelas 12A terasa lebih panjang dari denah yang ia lihat. Koridornya bersih, papan prestasi memenuhi dinding, dan hampir setiap piala di lemari kaca seolah berkata bahwa sekolah ini tidak pernah terbiasa dengan kekalahan.

Saat Prof. Fang membuka pintu kelas, suara obrolan langsung mengecil.

"Pagi. Hari ini kita punya murid baru."

Puluhan pasang mata menoleh.

Naomi melangkah masuk. Ia merasakan tatapan yang menimbang dari kepala sampai kaki. Ada yang penasaran, ada yang biasa saja, ada juga yang langsung kembali menatap layar ponsel seperti murid baru dari Semarang bukan berita penting.

Prof. Fang menulis namanya di papan.

"Naomi Tan. Pindahan dari Semarang. Mulai hari ini, dia belajar bersama kalian di Kelas 12A."

Naomi membungkuk sedikit. "Halo. Aku Naomi. Mohon bantuannya."

Beberapa murid menjawab singkat. Di barisan tengah, seorang gadis berambut sebahu melambaikan tangan dengan senyum cerah. Naomi belum tahu namanya, tapi senyum itu membuat kelas terasa sedikit kurang asing.

"Naomi, kamu duduk di kursi kosong dekat jendela," kata Prof. Fang.

Naomi mengikuti arah tangan Prof. Fang.

Kursi dekat jendela itu memang kosong dari tas dan buku. Letaknya paling bagus, tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang, dengan cahaya pagi yang jatuh lembut di atas meja. Naomi baru saja ingin melangkah ketika seluruh kelas mendadak hening dengan cara yang aneh.

Senyum gadis berambut sebahu tadi membeku sebentar.

Naomi berhenti.

Di kursi yang disebut kosong itu, seorang laki-laki sedang tidur dengan kepala bertumpu pada lengan. Dasi longgarnya jatuh ke samping. Rambut hitamnya menutupi sebagian mata. Satu tangannya menggantung di tepi meja, dan aroma mint yang sama, samar tapi jelas, kembali menyentuh udara.

Jantung Naomi mencelos.

Laki-laki dari gerbang itu membuka mata perlahan, menatapnya, lalu tersenyum miring seolah baru saja menemukan hiburan baru.

"Oh," gumamnya. "Anak baru ternyata sekelas."

Episode 2

Bab 2 - Teman Sekamar

"Oh," gumamnya. "Anak baru ternyata sekelas."

Naomi berdiri di depan kelas dengan map biru masih dipeluk di dada. Seluruh Kelas 12A mendadak seperti menahan napas bersama. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada bisik-bisik yang sempat muncul beberapa detik lalu.

Prof. Fang mengetuk meja satu kali.

"Darren Lim."

Laki-laki di kursi dekat jendela itu mengangkat alis, seolah baru ingat bahwa di kelas ada guru. "Iya, Prof?"

"Itu kursi kosong."

Darren melirik kursi yang ia duduki, lalu melirik Naomi. "Kosong tadi."

Beberapa murid menahan tawa. Naomi menundukkan wajah sedikit, berharap lantai kelas terbuka dan menelannya sebentar saja.

Prof. Fang tidak ikut tertawa. "Bangun."

Darren akhirnya berdiri. Gerakannya malas, tapi anehnya tidak terlihat terburu-buru atau canggung. Ia mengambil tas hitam dari bawah meja, lalu berjalan ke kursi belakang yang masih kosong. Saat melewati Naomi, aroma mint itu kembali menyentuh udara.

"Silakan, anak baru," katanya pelan.

Naomi menatapnya sekilas. "Namaku Naomi."

Senyum Darren muncul lagi. "Gue tahu. Tadi ditulis besar-besar di papan."

Naomi tidak membalas. Ia berjalan ke kursi dekat jendela, meletakkan tas, lalu duduk dengan punggung setegak mungkin. Dari samping, cahaya pagi masuk lembut, tapi ia tetap merasa wajahnya panas.

Pelajaran pertama dimulai. Prof. Fang membahas jadwal ujian bulanan, aturan kelas unggulan, dan target UTBK yang ditempel jelas di papan belakang. Naomi mencatat semuanya dengan rapi, berusaha tidak memikirkan laki-laki yang duduk dua baris di belakangnya.

Usahanya gagal ketika sebuah kertas kecil jatuh di sudut mejanya.

Naomi menoleh pelan.

Gadis berambut sebahu yang tadi tersenyum padanya menunjuk kertas itu sambil mengedip.

Naomi membukanya.

`Halo, aku Chelsea Song. Kalau butuh teman makan siang, angkat alis kanan. Kalau butuh diselamatkan dari cowok ngeselin di belakang, kedip dua kali.`

Naomi hampir tertawa.

Ia menulis balasan singkat.

`Kalau butuh dua-duanya?`

Kertas itu kembali ke tangan Chelsea. Gadis itu membacanya, lalu menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras. Beberapa detik kemudian, balasan datang lagi.

`Fix. Kita cocok.`

Entah kenapa, kalimat pendek itu membuat pundak Naomi yang sejak pagi tegang mulai turun.

Saat istirahat, Chelsea benar-benar menariknya ke kantin. "Lo harus coba pangsit kuah di sini. Mahal, tapi setidaknya nggak menipu. Banyak makanan sekolah elite yang cuma menang piring."

Naomi mengikuti langkah cepat Chelsea sambil menahan senyum. "Kamu selalu ngomong secepat ini?"

"Kalau lapar, iya. Kalau lihat drama, lebih cepat lagi."

"Drama?"

Chelsea menoleh, matanya berbinar. "Beb, lo masuk Kelas 12A di semester akhir. Itu artinya lo masuk akuarium penuh ikan mahal yang suka pura-pura nggak berenang."

Naomi tidak langsung mengerti, tapi nada Chelsea membuatnya tertawa kecil.

Di kantin, Naomi mulai melihat peta sosial SMA NU dengan lebih jelas. Ada meja anak-anak OSIS, meja atlet basket, meja murid yang selalu membuka laptop bahkan saat makan, dan satu meja yang anehnya tidak perlu diberi papan nama karena semua mata sesekali melirik ke sana.

Darren duduk di sana bersama beberapa murid laki-laki. Salah satunya bicara sambil tertawa keras, satu lagi sibuk memainkan botol minum. Darren sendiri bersandar santai, mendengarkan tanpa banyak reaksi.

"Yang rambutnya rapi itu Brandon Seng," bisik Chelsea. "Anak Seng Group. Tenang, baik, tapi kalau sudah bareng Darren, otaknya ikut rusak sedikit."

Naomi menahan tawa.

"Yang berisik itu Jason Yang. Kalau sekolah punya alarm manusia, dia orangnya. Yang kalem pakai kacamata itu Kevin Tjoa. Jangan salah, dia pinter banget."

"Dan Darren?"

Chelsea berhenti mengaduk es tehnya. "Nah. Itu topik berbahaya."

Naomi mengambil sendok. "Aku cuma tanya."

"Semua korban awalnya juga cuma tanya."

Naomi mengangkat mata. "Korban?"

Chelsea mendekat, suaranya turun dramatis. "Darren Lim. Ranking atas, basket jago, muka kriminal karena terlalu ganteng, keluarga Lim Corporation, dan reputasinya..." Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas. "Dia ganti pacar lebih cepat daripada orang ganti outfit buat pergi ke PIK."

Sendok Naomi berhenti di udara.

"Oh."

"Iya. Oh." Chelsea menunjuknya dengan sedotan. "Jadi kalau dia mulai senyum miring, ngomong pelan, atau tiba-tiba baik, lo jangan langsung percaya. Itu bukan tanda takdir. Itu tanda bahaya."

Naomi teringat aroma mint di gerbang, suara malas yang meledeknya, dan senyum kecil saat Prof. Fang menyebut namanya. Ia cepat-cepat menunduk, meniup kuah pangsit yang masih panas.

"Aku baru pindah hari ini," katanya. "Nggak ada rencana dekat siapa-siapa."

"Bagus." Chelsea tampak puas. "Fokus belajar, makan enak, berteman sama gue. Hidup lo aman."

Sayangnya, hidup Naomi tidak sepenuhnya aman.

Sore itu, setelah urusan kelas selesai, ia diantar petugas asrama ke gedung putri di belakang kompleks sekolah. Asrama itu bersih dan modern, dengan kartu akses, ruang belajar bersama, dan lorong yang wangi pewangi lantai. Kamar Naomi berada di lantai tiga.

Saat pintu dibuka, Chelsea sudah berdiri di dalam sambil mengangkat dua bantal.

"Surprise! Kita sekamar!"

Naomi terkejut. "Serius?"

"Serius. Ini takdir yang benar, bukan yang model Darren Lim."

Naomi akhirnya tertawa.

Di dekat jendela, seorang gadis lain sedang merapikan buku di rak. Rambutnya panjang, wajahnya tenang, dan gerakannya sangat pelan. Chelsea langsung memperkenalkan.

"Ini Susan Lin. Susan, ini Naomi. Anak baru yang tadi hampir direbut kursinya sama Darren."

Susan menoleh. Senyumnya kecil. "Halo."

"Halo," jawab Naomi.

Susan menatapnya sebentar lebih lama daripada yang diperlukan, lalu kembali menyusun buku. "Kamu dari Semarang, ya?"

"Iya."

"Jauh juga."

Nada Susan tidak kasar, tapi Naomi menangkap sesuatu yang sulit ia beri nama. Mungkin hanya canggung. Mungkin karena mereka baru kenal.

Malamnya, setelah Naomi selesai menata pakaian dan mengirim pesan WA pada Engkong bahwa ia baik-baik saja, Chelsea duduk di ranjang bawah sambil makan keripik. Susan membaca di meja belajar, tapi sesekali matanya bergerak ke arah ponsel yang menyala.

"Nao," panggil Chelsea tiba-tiba.

"Hmm?"

"Gue serius soal Darren tadi."

Naomi yang sedang melipat seragam berhenti. "Kenapa kamu khawatir banget?"

Chelsea mengunyah pelan, lalu menatapnya dengan wajah yang jarang serius. "Karena lo kelihatan baik. Dan anak baik biasanya gampang percaya kalau cowok kayak Darren tiba-tiba kelihatan beda."

Naomi ingin membantah, tapi jendela kamar mereka menghadap lapangan basket samping gedung. Lampu-lampu lapangan sudah menyala. Di bawah sana, beberapa murid laki-laki baru selesai latihan.

Di antara mereka, Darren berdiri dengan satu tangan memegang botol air.

Seolah merasakan tatapan dari lantai tiga, ia mendongak.

Mata mereka bertemu.

Chelsea masih berbicara di belakangnya, "Pokoknya, jauhi Darren Lim. Dia itu masalah."

Tapi Naomi sudah melihatnya.

Darren Lim sedang menatap tepat ke arahnya.

Episode 3

Bab 3 - Nilai Sempurna

Darren Lim sedang menatap tepat ke arahnya.

Malam itu, Naomi akhirnya menarik tirai kamar dengan gerakan terlalu cepat.

Chelsea yang masih duduk di ranjang langsung menyipitkan mata. "Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Nao."

"Aku cuma mau tidur."

"Jam delapan lewat sepuluh."

Naomi pura-pura tidak mendengar. Ia naik ke ranjang, menarik selimut sampai dada, lalu menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka. Dari balik tirai, cahaya lapangan basket masih menyelinap tipis. Ia tidak tahu apakah Darren masih di bawah sana atau sudah pergi.

Yang jelas, peringatan Chelsea terus berputar di kepalanya.

Jauhi Darren Lim. Dia itu masalah.

Naomi baru mengenalnya sehari. Tapi masalah yang punya aroma mint, senyum miring, dan cara menatap seolah dunia selalu punya tempat untuknya, ternyata jauh lebih sulit diabaikan daripada yang seharusnya.

Dua minggu kemudian, SMA NU mengadakan ujian bulanan pertama.

Kelas 12A berubah seperti ruang perang yang rapi. Tidak ada lagi tawa keras Jason saat bel berbunyi. Chelsea yang biasanya cerewet pun menempelkan sticky notes di seluruh buku catatannya. Susan belajar diam-diam di sudut kamar sampai lewat tengah malam. Naomi mengikuti ritme itu tanpa banyak bicara.

Baginya, ujian bukan hal baru.

Di Semarang, ia sudah terbiasa belajar setelah membantu Ema mencuci piring, membaca soal sambil mendengar Engkong mengulang latihan kaligrafi, dan menghafal rumus ketika listrik rumah sempat turun. Di SMA NU, perpustakaannya lebih besar, meja belajarnya lebih terang, dan murid-muridnya lebih percaya diri. Tapi angka tetap angka. Soal tetap soal. Kalau dikerjakan pelan-pelan, semuanya bisa dibuka satu per satu.

Pagi ujian matematika, Chelsea memegang lengan Naomi sebelum masuk kelas.

"Kalau gue pingsan setelah lihat soal, bilang ke Brandon gue mati terhormat."

Naomi tertawa kecil. "Kamu belum lihat soalnya."

"Justru itu yang bikin takut."

Dari belakang, Jason menyahut, "Chel, kalau lo mati, titip password akun novel lo. Gue mau tahu ending CEO dingin yang ternyata bucin itu."

"Sentuh akun gue, gue bangkit dari kubur."

Brandon yang berdiri di samping Jason menghela napas. "Jangan ribut. Belum ujian saja sudah bikin Prof. Fang sakit kepala."

Darren datang paling akhir, seperti biasa. Dasi longgar, satu tangan di saku, mata masih terlihat mengantuk. Tapi saat melewati Naomi, langkahnya melambat setengah detik.

"Tali sepatu aman?" tanyanya pelan.

Naomi menunduk spontan. Tali sepatunya rapi.

Ketika ia sadar Darren hanya menggodanya, laki-laki itu sudah berjalan ke bangkunya sambil tersenyum.

Chelsea yang melihat dari samping langsung berbisik, "Masalah."

Naomi pura-pura membuka tempat pensil.

Ujian dimulai tepat pukul delapan. Begitu lembar soal dibagikan, kelas benar-benar sunyi. Naomi membaca seluruh soal sekali, menandai dua soal yang perlu dihitung panjang, lalu mulai menulis. Pensilnya bergerak cepat tapi tidak terburu-buru. Ia suka matematika karena tidak peduli siapa keluargamu, mobil apa yang mengantarmu, atau berapa banyak orang yang mengenal namamu. Jawaban benar tetap benar.

Di tengah ujian, ia merasakan ada yang melirik.

Naomi tidak mengangkat kepala. Ia hanya membalik halaman, menulis turunan jawaban, lalu berhenti sebentar untuk memeriksa satu angka. Dari sudut mata, ia tahu Darren duduk miring, satu siku di meja, seolah soal-soal itu terlalu mudah untuk membuatnya duduk tegak.

Tapi ketika waktu tersisa dua puluh menit, Naomi sudah selesai.

Ia memeriksa ulang dari awal sampai akhir. Satu kali. Dua kali. Lalu meletakkan pensil.

Bel selesai ujian berbunyi.

Jason langsung merosot di kursi. "Gue melihat masa depan, dan masa depan gue suram."

Chelsea menepuk dahinya dengan lembar jawaban. "Soal nomor lima itu manusiawi nggak sih?"

Kevin membereskan alat tulis tanpa ekspresi. "Lumayan."

"Lumayan buat lo artinya gue harus doa tujuh hari tujuh malam," kata Jason.

Naomi hanya tersenyum kecil. Ia tidak ingin terlihat terlalu percaya diri, apalagi di hari-hari awalnya di kelas itu.

Tiga hari kemudian, Prof. Fang masuk kelas dengan setumpuk kertas ujian di tangan.

Suasana langsung berubah tegang.

"Hasil matematika bulan ini cukup menarik," kata Prof. Fang.

Kata `menarik` dari seorang guru jarang berarti sesuatu yang aman. Chelsea menegakkan punggung. Jason menutup mata seperti siap menerima vonis. Darren tetap bersandar di kursinya, tapi kali ini matanya terbuka penuh.

Prof. Fang mulai membagikan kertas dari nilai terendah ke nilai tertinggi. Setiap nama dipanggil, ada napas lega, keluhan kecil, atau gumaman kecewa. Chelsea mendapat nilai yang membuatnya hampir mencium kertas. Jason mengangkat dua tangan saat nilainya masih di atas batas aman. Kevin mendapat angka tinggi, seperti yang semua orang duga.

"Darren Lim."

Darren maju.

"Sembilan puluh delapan."

Kelas bersuara pelan. Nilai itu nyaris sempurna. Bagi banyak orang, itu sudah seperti mustahil.

Darren menerima kertasnya, melihat sebentar, lalu kembali duduk. Wajahnya biasa saja, tapi Jason langsung mencondongkan badan.

"Dua poin hilang di mana, Bos?"

"Malas nulis langkah terakhir," jawab Darren.

"Sombongnya minta ditampar."

Prof. Fang mengetuk meja lagi.

"Naomi Tan."

Naomi berdiri. Untuk alasan yang tidak ia mengerti, kelas terasa lebih sunyi dibanding saat nama Darren dipanggil.

Ia berjalan ke depan.

Prof. Fang menatapnya, lalu menyerahkan kertas itu dengan sudut bibir yang nyaris tersenyum.

"Seratus."

Untuk sesaat, tidak ada suara sama sekali.

Lalu Jason berteriak, "Hah?"

Chelsea berdiri setengah dari kursi. "Nao!"

Naomi menatap angka merah di sudut kertas. 100. Bulat. Bersih. Tidak ada coretan koreksi di halaman mana pun.

Panas naik ke pipinya, tapi kali ini bukan karena malu. Lebih seperti lega yang datang terlalu cepat.

Prof. Fang menghadap kelas. "Saya ingin kalian lihat ini bukan karena Naomi murid baru, tapi karena jawabannya rapi, lengkap, dan efisien. Kelas 12A tidak butuh kebiasaan lama yang merasa posisi tidak bisa digeser. Di sini, siapa pun yang bekerja paling baik akan berdiri paling depan."

Beberapa murid menoleh ke arah Darren.

Naomi juga tanpa sengaja melihat ke sana.

Darren menatap kertas ujiannya, lalu menatap Naomi. Tidak ada kesal di wajahnya. Justru ada sesuatu yang lebih berbahaya dari kesal, ketertarikan yang terang-terangan.

Ia mengangkat kertasnya sedikit, seperti memberi salam kekalahan.

Naomi buru-buru kembali ke kursi.

Sore itu, Chelsea menyeret Naomi ke kantin kecil dekat asrama. "Perayaan. Wajib."

"Ini cuma ujian bulanan."

"Cuma? Lo mengalahkan Darren Lim, Nao. Itu bukan cuma. Itu sejarah."

Brandon datang membawa dua botol teh dingin. Jason menyusul dengan sekantong gorengan. Kevin duduk paling ujung, meletakkan sekotak pangsit kuah di depan Naomi tanpa banyak bicara.

"Kamu belum makan," katanya.

Naomi tertegun. "Terima kasih."

"Wah, Kev perhatian," goda Jason.

Kevin menatapnya datar. "Lo juga belum makan?"

"Kalau gue dikasih, gue terima."

Brandon menyodorkan gorengan ke Jason agar ia diam. Chelsea tertawa sampai bahunya bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak pindah, Naomi merasa meja makan itu tidak terlalu asing. Mereka ribut, saling memotong kalimat, bertengkar soal jawaban ujian, lalu tertawa lagi. Darren datang belakangan, membeli boba dari konter minuman, lalu meletakkannya di depan Naomi.

"Hadiah," katanya.

Naomi melihat gelas itu. "Untuk apa?"

"Buat orang yang bikin gue turun peringkat."

Chelsea langsung batuk dramatis. Jason bersiul. Brandon menunduk menyembunyikan senyum. Kevin hanya melihat Darren sebentar, lalu kembali makan.

Naomi menyentuh gelas boba yang dingin. "Kamu nggak marah?"

Darren bersandar di kursi seberangnya. "Gue biasanya nggak suka kalah."

"Biasanya?"

Bel masuk kelas malam untuk sesi belajar berbunyi dari kejauhan. Mereka mulai berdiri. Naomi mengambil kertas ujiannya dari meja, tapi Darren berjalan melewati kursinya lebih dulu.

Ia menunduk sedikit, suaranya rendah, hanya cukup untuk Naomi dengar.

"Tapi kalau kalahnya sama lo, rasanya nggak jelek-jelek amat, Naomi."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!