Indonesia
NovelToon NovelToon

Malam Pertama Dengan CEO

BAB 1 DIHINATI TUNANGAN

“Damar… Damar, kamu di mana?” panggil Kayla dengan suara bergetar.

Malam itu seharusnya menjadi malam paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia mengenakan gaun pesta merah model A-line yang anggun, bagian bahunya terbuka sehingga kulit putihnya tampak semakin bersinar. Rambut bergelombangnya jatuh rapi hingga melewati bahu, membuat siapa pun yang melihatnya akan mengakui kecantikannya. Namun, di balik penampilan sempurna itu, hatinya dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Malam itu adalah malam pertunangan dirinya dengan Damar. Semua tamu sudah mulai berdatangan. Musik lembut memenuhi ruangan.

Kayla terus menyusuri lorong rumah mewah itu. Ia membuka satu per satu pintu ruangan, berharap menemukan lelaki yang beberapa jam lagi akan menyematkan cincin di jarinya. Namun, tidak ada jawaban. Keheningan justru membuat perasaannya semakin tidak tenang.

Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari dalam sebuah ruangan. Kayla menghentikan langkahnya. Di atas meja, ia melihat ponsel milik Damar yang masih menyala. Awalnya ia berniat mengabaikannya, tetapi layar yang terus berkedip membuat rasa penasarannya muncul.

Tangannya gemetar ketika tanpa sadar mengambil ponsel itu. Dadanya terasa sesak, seolah ada firasat buruk yang memaksanya melihat isi layar. Begitu layar terbuka, jantungnya langsung berdetak semakin cepat. Percakapan dengan sebuah nomor tanpa nama memenuhi layar.

Kayla mulai menggulir isi percakapan itu perlahan. Semakin banyak ia membaca, semakin pucat wajahnya. Ada beberapa foto perempuan berpakaian terbuka yang dengan sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya. Perempuan itu berpose menggoda di dalam kamar hotel.

Tak hanya foto, terdapat pula pesan singkat yang membuat napas Kayla tercekat.

[Short time 500.000]

[Long time 1.000.000]

Hotel dan akomodasi ditanggung kamu.

Jari Kayla membeku ketika membaca balasan Damar.

"Oke. Asal kamu puaskan aku. Aku kasih bonus satu juta."

Rasanya seperti ada pisau yang menghujam tepat di tengah dadanya. Lelaki yang selama ini ia percaya ternyata sedang memesan perempuan lain, bahkan di hari pertunangan mereka.

Belum sempat ia menenangkan diri, sebuah pesan suara masuk. Dengan tangan yang masih bergetar, Kayla menekan tombol putar.

Suara perempuan yang terdengar manja langsung memenuhi ruangan.

“Oke, sayang. Aku tunggu kedatangan kamu, ya.”

Suara itu terdengar begitu jelas. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa perempuan itu memang sedang menunggu Damar. Air mata Kayla mulai menggenang. Dunia yang sejak tadi terasa indah seketika runtuh tanpa sisa.

Selama ini ia percaya Damar adalah lelaki terbaik yang dipilihkan Tuhan untuknya. Ia membayangkan kehidupan rumah tangga yang hangat dan penuh kasih. Namun, semua impian itu hancur hanya dalam hitungan menit.

“Kenapa kamu melihat ponsel aku, Kayla?”

Suara berat seorang lelaki membuat Kayla tersentak. Ia menoleh perlahan sambil masih menggenggam ponsel itu erat-erat.

Di hadapannya berdiri Damar dengan wajah sedikit terkejut. Lelaki itu mengenakan jas hitam dipadukan kemeja putih bersih, dasi biru tua, celana hitam yang pas di badan, serta jam tangan mahal yang selalu dibanggakannya. Penampilannya begitu rapi, seolah benar-benar siap menghadiri acara pertunangan.

Sayangnya, bagi Kayla, semua itu kini hanyalah topeng yang menutupi wajah asli Damar.

“Kenapa kamu masih main perempuan, padahal malam ini kita mau bertunangan?”

Tatapan Kayla begitu tajam. Air matanya masih mengalir, tetapi suaranya terdengar jauh lebih tegas daripada sebelumnya.

Damar buru-buru merebut ponsel itu dari tangan Kayla. Wajahnya berubah canggung. Ia tampak gugup sesaat, tetapi ekspresi itu segera menghilang, berganti dengan wajah dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Kayla, ini baru pertunangan, bukan pernikahan. Jadi wajar kalau aku masih main-main sama perempuan.”

Kalimat itu keluar begitu santai, seolah perselingkuhan adalah hal biasa.

Belum selesai, Damar kembali melanjutkan ucapannya.

“Lagipula hasil tes kesehatan sebelum pertunangan juga bilang kalau kamu mandul. Jadi menurutku wajar kalau aku cari hiburan di luar.”

Kayla menatap lelaki itu dengan tidak percaya. Dadanya terasa semakin sesak. Kata-kata yang keluar dari mulut Damar terdengar lebih menyakitkan daripada isi percakapan yang baru saja ia baca.

Padahal yang tidak diketahui Kayla, semua hasil pemeriksaan itu telah dipalsukan oleh Damar. Lelaki itu sengaja menyuap petugas laboratorium agar hasil tes menunjukkan bahwa Kayla mandul. Dengan begitu, Kayla menjadi wanita tidak berharga dan dia adalah lelaki penyelematnya dan dia dia bisa membenarkan hoby dia yang suka yaitu main perempuan.

“Jadi karena aku dianggap mandul, kamu merasa bebas selingkuh?”

Suara Kayla bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena hatinya benar-benar hancur.

“Iya. Memangnya kenapa?” Jawab Damar

Jawaban itu membuat Kayla akhirnya mengambil keputusan.

“Kita batalkan pertunangan ini.”

Ucapan itu keluar tegas tanpa keraguan sedikit pun.

Damar justru tertawa kecil. “Kayla, coba pikir baik-baik. Memangnya masih ada laki-laki yang mau menikahi perempuan mandul seperti kamu?”

Ucapan itu terdengar sangat merendahkan.

“Terus kalau kamu batalkan pertunangan ini, apa kamu pikir keluargamu bakal setuju? Aku sudah kasih mereka uang dua puluh juta. Mereka pasti lebih memilih uang daripada membela kamu.”

Kalimat terakhir membuat wajah Kayla memucat.

Ia memang tahu keluarganya sering mengutamakan uang. Namun, ia tidak pernah menyangka Damar sudah memanfaatkan kelemahan keluarganya sejauh itu.

Kayla tidak mengatakan apa pun lagi.

Ia membalikkan badan, lalu berlari meninggalkan ruangan.

Saat Damar selesai berbicara dan menoleh ke belakang, perempuan itu sudah tidak ada.

“Ah, sialan!”

Damar mengepalkan tangan kesal.

Namun, beberapa detik kemudian senyum licik muncul di bibirnya.

“Kamu pikir bisa lepas dariku? Keluargamu sendiri cuma menganggapmu mesin uang.”

Setelah itu, Damar kembali membuka aplikasi pesan dan membalas chat perempuan yang sebelumnya ia pesan. Baginya, batal atau tidaknya pertunangan bukan masalah besar. Selama ia masih bisa mendapatkan apa yang diinginkan, ia tidak peduli dengan perasaan siapa pun.

Sementara itu, Kayla berlari keluar rumah dengan napas terengah-engah. Air matanya tidak berhenti mengalir. Dunia yang selama ini ia bangun bersama Damar benar-benar runtuh malam itu.

Baru beberapa langkah keluar dari lorong utama, ia bertemu dengan ibunya, Saraswati, bersama kedua kakak laki-lakinya, Niko dan Arif. Ketiganya sudah mengenakan pakaian pesta dan terlihat sibuk menyambut tamu.

“Mau ke mana kamu?” tanya Saraswati sambil mengernyit.

Kayla mencoba menghapus air matanya.

“Mah... pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan. Damar selingkuh.”

Belum selesai ia menjelaskan, Niko langsung memotong dengan nada tinggi.

“Dibatalkan? Jangan gila, Kayla! Semua tamu sudah datang. Jangan bikin malu keluarga!”

Arif ikut menimpali tanpa sedikit pun memperhatikan kondisi adiknya.

“Uang dua puluh juta dari Damar juga sudah habis. Jangan harap kami mau mengembalikan uang dari Damar?”

Kayla memandang kedua kakaknya bergantian.

Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Tidak ada yang marah kepada Damar. Yang mereka pikirkan hanya uang.

“Kamu jangan macam-macam, Kay. Cepat kembali ke ruang pesta.”

“Aku enggak mau!” jawab Kayla sambil menangis. “Aku enggak mau menikah dengan lelaki tukang selingkuh.”

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kayla.

Saraswati menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

Kayla memegang pipinya yang terasa panas. Air mata kembali mengalir semakin deras. Bukan tamparan itu yang paling menyakitkan, melainkan kenyataan bahwa ibunya sendiri memilih membela uang dibandingkan putrinya.

“Kalian... tidak pernah menganggap aku keluarga.”

Suara Kayla terdengar lirih penuh kepedihan.

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik lalu berlari meninggalkan rumah. Beberapa menit sebelumnya ia sudah memesan taksi online. Tepat ketika ia keluar dari gerbang, mobil itu telah menunggu.

“Kayla!” teriak Niko.

Namun, Kayla tidak menoleh sedikit pun.

“Kay... kembali!” teriak Saraswati dari belakang.

Semua teriakan itu tidak lagi mampu menghentikan langkahnya.

Pintu mobil tertutup. Taksi perlahan meninggalkan rumah

Tidak lama kemudian, Damar keluar dari dalam rumah dengan wajah penuh amarah. Tatapannya langsung mengarah kepada Niko, Arif, dan Saraswati.

“Mana Kayla?”

Tidak ada yang berani menjawab.

Suasana mendadak sunyi.

Damar mengembuskan napas panjang sebelum berbicara dengan suara dingin.

“Baiklah. Aku enggak peduli ke mana dia pergi. Tapi ingat, dalam waktu dua minggu uang dua puluh juta itu harus kembali ke tanganku. Kalau tidak, kalian tahu sendiri bagaimana marahnya ayahku.”

BAB 2 MABUK

Perasaan Kayla benar-benar kacau. Dadanya sesak seperti ditindih batu besar. Hatinya remuk oleh pengkhianatan yang datang dari orang yang paling dia percaya. Selama perjalanan di dalam mobil, dia hanya mampu menggigit bibir, menahan tangis yang berkali-kali hampir pecah. Air mata itu seperti memaksa keluar, tetapi dia terus menahannya sampai mobil berhenti di depan hotel tempatnya bekerja.

Kayla adalah seorang karyawan hotel yang tinggal di asrama karyawan. Sejak dulu dia memang memilih tinggal di sana daripada pulang ke rumah setiap hari. Bukan karena tidak sayang pada keluarganya, melainkan karena dia lelah. Sepulang bekerja, tubuhnya sudah terkuras. Jika masih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian, tenaganya benar-benar habis tanpa sisa.

Malam itu langkahnya justru mengarah ke sebuah bar yang berada di lantai bawah hotel. Tempat itu sebenarnya jarang sekali dia datangi. Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali dia pernah duduk di sana. Namun malam ini berbeda. Dia tidak ingin memikirkan apa pun. Dia hanya ingin melarikan diri dari rasa sakit yang terus menggerogoti dadanya.

Segelas wine datang di hadapannya. Kayla mengangkat gelas itu, lalu meneguknya perlahan. Setelah satu gelas habis, dia kembali memesan gelas berikutnya. Seteguk demi seteguk cairan merah itu mengalir ke tenggorokannya. Entah kenapa dia berharap rasa pahit alkohol bisa menghapus luka yang jauh lebih pahit di dalam hatinya.

"Hanya karena aku mandul... kamu memilih selingkuh, Damar?" gumamnya lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh dentuman musik yang memenuhi ruangan. Setelah itu dia kembali mengangkat gelas, menghabiskan isinya tanpa ragu sedikit pun.

"Sejak kapan harga diri seorang wanita cuma diukur dari fungsi reproduksinya?" ucapnya dengan suara mulai tidak jelas. Kepalanya sudah terasa ringan. Dia bahkan tertawa pelan sebelum tiba-tiba bernyanyi sembarangan. "Sejak dulu kala... wanita dijajah kaum... priiiaaa...."

Bartender yang sejak tadi memperhatikan tingkah Kayla hanya menggeleng pelan. Dia sudah sering melihat orang mabuk karena patah hati, tetapi perempuan yang duduk sendirian di depannya malam itu terlihat benar-benar kehilangan arah.

"Kau kenapa senyum-senyum begitu, ha?" tanya Kayla sambil menunjuk bartender itu. Matanya yang mulai sembab menatap lelaki tersebut dengan pandangan sayu. Namun sang bartender memilih diam. Dia kembali melayani pelanggan lain, membiarkan Kayla meluapkan emosinya sendiri.

Lampu remang-remang memenuhi ruangan. Aroma parfum para pengunjung bercampur dengan bau alkohol yang menguar di udara. Musik terus mengalun pelan, sementara Kayla masih menenggak minuman demi minuman. Padahal dia tahu, ketahanan tubuhnya terhadap alkohol sangat buruk. Beberapa gelas saja sudah cukup membuat pikirannya melayang.

"Ting...."

Suara notifikasi dari ponselnya memecah lamunannya. Hari itu gajinya sebagai karyawan hotel baru saja masuk, tepat delapan juta rupiah. Biasanya tanpa berpikir panjang dia akan mengirim tujuh juta kepada Saraswati. Sisanya hanya dia sisakan untuk kebutuhan pribadinya. Sementara dua kakak laki-lakinya yang menganggur tetap hidup dari uang judi dan terus bergantung pada hasil kerja kerasnya.

"Kalian juga tidak pernah membelaku dari pria brengsek itu," racau Kayla dengan suara bergetar. Dia menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum tertawa hambar. "Malam ini... aku akan menghabiskan semua uangku. Aku mau minum sampai lupa semuanya."

Kayla tertawa pelan. Beberapa detik kemudian tawanya berubah menjadi tangis. Setelah menangis, dia kembali tertawa lagi seperti orang yang kehilangan kewarasan. Dikhianati oleh calon suami sudah cukup menghancurkan hatinya. Yang lebih menyakitkan lagi, keluarganya sama sekali tidak berdiri di sisinya. Malam itu dia bahkan memesan sebotol minuman mahal yang harganya hampir menghabiskan setengah dari gajinya.

"Si Damar bisa selingkuh, bisa main perempuan sesuka hati. Kenapa aku tidak bisa?" bisiknya pelan. Kepalanya semakin berat. Logikanya mulai kabur diterpa alkohol. "Malam ini... aku juga mau tahu bagaimana rasanya bersama laki-laki...."

"Nona, kami akan segera tutup."

Suara kasir membuyarkan lamunannya. Kayla mengangkat kepala dengan susah payah. Pandangannya sudah berkunang-kunang, bahkan wajah orang di depannya tampak berbayang menjadi dua.

"Sudah jam berapa memang?" tanyanya dengan lidah yang mulai kelu. "Perasaan... ini masih jam delapan pagi. Kenapa sudah tutup?"

Kasir hanya menghela napas sambil menggeleng pelan. Perempuan itu masuk ke bar sekitar pukul sepuluh malam. Sekarang waktu sudah jauh melewati tengah malam. Jelas bukan pagi seperti yang dibayangkan Kayla.

"Sudah hampir jam satu malam, Nona," jawab kasir lembut sambil menyerahkan tagihan pembayaran.

"Tulis saja jumlahnya... nanti tempelkan jariku ke ponsel," ucap Kayla sembari menyodorkan ponselnya. Suaranya semakin pelan, sementara matanya sudah sulit fokus melihat angka-angka di layar.

Setelah pembayaran selesai, Kayla bangkit perlahan dari kursinya. Baru satu langkah, tubuhnya langsung limbung. Dunia di sekelilingnya seolah berputar tanpa ampun. Kasir bersama seorang petugas kebersihan buru-buru menghampiri, khawatir wanita itu akan jatuh sebelum sempat mencapai pintu keluar.

Namun Kayla hanya mengangkat satu tangan pelan, memberi isyarat agar mereka tidak mendekat. Senyum tipis dipaksakan menghiasi bibirnya, meski pandangannya mulai kabur. Dengan kepala yang terasa semakin berat dan langkah yang tak lagi seimbang, dia tetap memaksa berjalan seorang diri.

Lorong hotel tampak lengang. Cahaya lampu yang temaram membuat langkah Kayla semakin tidak menentu. Hingga akhirnya...

Bruk!

Tubuhnya menabrak seseorang.

Seorang lelaki bertubuh tegap dengan potongan rambut cepak berdiri tepat di depannya. Aroma parfum mahal yang maskulin langsung memenuhi indra penciuman Kayla. Lelaki itu mengenakan kemeja putih. Dua kancing bagian atas sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit dadanya yang bidang.

Kayla mengangkat wajah perlahan. Tatapannya berhenti cukup lama pada lelaki asing itu.

"Tampan juga..." gumamnya dalam hati, nyaris tanpa suara.

Bukannya menjauh, Kayla justru melangkah semakin dekat. Lelaki itu refleks mundur setengah langkah, menjaga jarak. Namun Kayla terus menghampiri dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.

Tangannya merogoh tas kecil yang masih menggantung di bahunya. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan selembar uang seratus ribu.

Pluk!

Uang itu ditempelkannya tepat di dada lelaki tersebut.

"Hai, tampan... ikut aku," ucap Kayla dengan suara pelan yang terdengar sedikit cadel akibat pengaruh alkohol.

Alis lelaki itu terangkat. Tatapannya tetap tenang, seolah sedang mencoba memahami situasi di hadapannya.

"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanyanya santai.

Kayla tersenyum samar. Tanpa ragu, kedua tangannya melingkar pelan di leher lelaki itu. Tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan hingga tanpa sadar bersandar pada dada bidang pria tersebut.

"Bawa aku..." bisiknya lirih. "Ke tempat yang menarik... lalu lakukan sesuatu menyenangkan untukku”

Lelaki itu terdiam. Tatapannya berubah dalam. Dari jarak sedekat itu, dia bisa melihat jelas mata Kayla yang merah, napasnya yang berbau alkohol, dan kesedihan yang berusaha disembunyikan di balik senyum rapuh wanita itu.

BAB 3 MALAM PERTAMA

Kayla masih menggelayut di leher lelaki asing itu. Tubuhnya yang mungil terasa hangat, sementara kedua lengannya enggan melepaskan pelukan. Wajah cantiknya memerah akibat pengaruh alkohol. Di sisi lain, lelaki itu hanyalah pria normal yang masih berusaha menahan gejolak dalam dadanya.

"Kamu sadar dengan apa yang sedang kamu lakukan?" bisik lelaki itu pelan.

Kayla tidak menjawab. Jemarinya justru mengusap perlahan punggung lelaki itu. Kepalanya bergerak mendekat, lalu berbisik lirih di dekat telinganya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Kamu rewel sekali... cepat lakukan."

Lelaki itu menarik napas panjang. Dadanya naik turun tidak beraturan. Meski keinginannya begitu kuat, masih ada keraguan yang menahan langkahnya untuk melangkah lebih jauh.

"Atas dasar apa?" tanyanya lirih.

"Cinta," jawab Kayla tanpa membuka mata.

Malam itu menjadi awal dari sebuah takdir yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sebuah keputusan yang lahir dari keadaan, tetapi kelak akan mengubah hidup keduanya untuk selamanya.

Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah-celah tirai jendela. Cahaya hangat itu menerpa wajah Kayla hingga membuat kelopak matanya bergerak pelan. Dari arah kamar mandi terdengar suara gemericik air yang memecah keheningan pagi.

Kepala Kayla masih terasa berat. Ia berusaha mengingat kejadian semalam, tetapi semua terasa samar seperti mimpi yang berkabut. Saat duduk di atas ranjang dan menyingkap selimut, matanya langsung membulat. Tidak ada sehelai pakaian pun yang melekat di tubuhnya. Dengan wajah panik, ia segera memunguti gaun merah yang berserakan di lantai.

Dari balik pintu kamar mandi masih terdengar suara air mengalir. Bayangan tubuh seorang lelaki tampak samar di balik kaca buram, membuat jantung Kayla berdetak semakin cepat.

"Ah, sialan... kenapa aku bisa melakukan ini?" gerutunya pelan sambil buru-buru mengenakan gaunnya.

Setelah berpakaian dan mengenakan sepatu, Kayla berniat pergi tanpa meninggalkan jejak. Bagaimanapun juga, mereka hanyalah dua orang asing yang dipertemukan oleh keadaan. Kabur adalah pilihan paling masuk akal menurutnya.

Namun, belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, pintu kamar mandi lebih dulu terbuka. Lelaki itu keluar dengan rambut yang masih basah. Uap air tipis masih menyelimuti tubuhnya. Dada bidang, perut yang terbentuk sempurna, dan kulit putih bersih membuat Kayla sempat terpaku beberapa detik.

"Sempurna sekali..." gumam Kayla dalam hati.

Tatapan mereka akhirnya bertemu. Keheningan memenuhi ruangan sebelum keduanya membuka mulut hampir bersamaan.

"Tadi malam..."

Ucapan itu terhenti di tengah jalan. Suasana kembali canggung. Tidak ada yang tahu harus berkata apa. Lelaki itu akhirnya menunduk dan mengambil dompet kulit hitam yang tergeletak di atas meja.

"Wah... jangan-jangan dia mau memberiku uang. Memangnya aku wanita murahan?" batin Kayla kesal.

Dengan cepat ia mengambil dompet panjang berwarna putih tulang miliknya. Saat membukanya, dadanya langsung sesak. Uang yang tersisa hanya dua lembar pecahan seratus ribu. Jumlah itu bahkan harus cukup untuk memenuhi kebutuhan makannya selama seminggu.

Meski begitu, harga dirinya jauh lebih mahal daripada uang terakhir yang dimilikinya. Kayla menggenggam salah satu lembar uang itu, lalu melangkah mendekati lelaki tersebut.

Pluk!

Uang pecahan seratus ribu itu ditempelkan begitu saja di dada bidang lelaki tersebut. Lelaki itu sampai tertegun, sama sekali tidak menyangka tindakan Kayla.

"Indah dilihat, tapi tidak terlalu berguna," ujar Kayla sinis. "Kemampuanmu biasa saja."

"Apa katamu?" tanya lelaki itu dengan wajah penuh keterkejutan.

"Aku sarankan kamu lebih banyak berlatih sebelum melayani perempuan. Sekarang perempuan lebih mementingkan kualitas daripada sekadar tubuh yang bagus. Jadi, latihan dulu sebelum mencari pekerjaan."

Kayla mengucapkan semua itu tanpa ragu. Ia bahkan berusaha terlihat seperti perempuan kaya yang sudah terbiasa menyewa gigolo, padahal semua kalimat itu hanya ia tiru dari film-film yang pernah ditontonnya.

Lelaki itu terpaku. Harga dirinya terasa diinjak begitu saja. Padahal semalam justru Kayla yang beberapa kali kewalahan menghadapi situasi yang sama-sama baru bagi mereka.

Dengan refleks lelaki itu meraih pergelangan tangan Kayla. Namun, Kayla lebih cepat menepisnya. Ia mengambil kedua sepatunya, lalu berlari keluar kamar sambil menjinjing alas kaki tersebut tanpa sempat memakainya.

Lelaki itu hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Setelah pintu kamar tertutup, pandangannya beralih ke ranjang. Saat menyingkap seprai, matanya menangkap bercak merah yang masih terlihat jelas.

"Jadi... itu pertama kalinya baginya," gumam lelaki itu pelan.

Senyum kecil terukir di sudut bibirnya. Ia sadar, semalam bukan hanya Kayla yang baru pertama kali mengalami semuanya. Mereka sama-sama canggung, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa, dan justru itulah yang membuat malam itu terasa begitu ‘membara’

Ketika hendak pergi, pandangannya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas karpet hotel. Sebuah kartu identitas karyawan yang tampaknya terjatuh tanpa disadari pemiliknya.

"Kayla Lesmana... Wakil Manajer Hotel Perdana," ucapnya pelan sambil membaca tulisan pada kartu tersebut.

Tanpa ragu, ia memasukkan name tag itu ke dalam saku jas mahalnya. Setelah selesai berpakaian dengan celana hitam dan kemeja putih yang pas membentuk tubuh atletisnya, ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.

"Aldo, akuisisi semua hotel yang bernama Perdana."

Perintah itu terdengar singkat, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.

Setelah panggilan telepon berakhir, Adrian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, ia keluar dari kamar hotel. Aura dingin yang memancar dari dirinya membuat lorong hotel mendadak terasa sunyi. Beberapa pria dan wanita yang sejak tadi berjaga langsung membungkukkan badan. Wajah mereka pucat, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipis masing-masing.

"Tuan Adrian, maafkan kami. Kami gagal memberikan pengamanan terbaik sehingga ada orang asing yang berhasil masuk ke kamar Anda," ujar salah seorang perempuan dengan suara bergetar. Kepalanya tetap tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang berdiri di hadapannya.

Adrian hanya menganggukkan kepala tipis. Wajah tampannya tetap datar tanpa sedikit pun memperlihatkan amarah. Justru sikap tenangnya itulah yang membuat semua orang semakin diliputi rasa takut.

"Lupakan masalah ini."

Tatapan tajam Adrian beralih kepada seluruh orang yang berdiri di hadapannya. Sorot matanya begitu dingin hingga tidak seorang pun berani mengangkat kepala ataupun membalas pandangannya.

"Rahasiakan kejadian semalam. Jangan sampai ada satu orang pun yang mengetahui apa yang terjadi di kamar ini selain kalian. Jika sampai berita itu bocor, kalian akan menjadi orang pertama yang harus mempertanggungjawabkannya."

Suara Adrian terdengar tenang, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya mengandung ancaman yang begitu jelas. Tidak perlu berteriak atau membentak. Semua orang sudah memahami bahwa pria itu selalu menepati setiap ucapannya.

"Baik, Tuan."

Jawaban mereka terdengar hampir bersamaan. Tidak ada seorang pun yang berani membantah ataupun mencari alasan. Mereka hanya berharap kejadian semalam benar-benar terkubur rapat dan tidak pernah sampai ke telinga siapa pun.

Dalam hati, mereka bahkan memilih untuk tidak mencari tahu siapa perempuan yang berhasil masuk ke kamar Adrian. Semakin sedikit mereka mengetahui rahasia sang tuan, semakin besar pula kesempatan mereka untuk tetap hidup tenang dan mempertahankan pekerjaan.

Adrian kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan mereka. Sepanjang perjalanan menuju lift, hanya ada satu nama yang terus memenuhi isi kepalanya.

Kayla Lesmana.

Tanpa disadari, sudut bibir Adrian perlahan terangkat membentuk sebuah senyum tipis. Senyum yang begitu langka hingga tidak pernah dilihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Sesampainya di depan hotel, sebuah mobil mewah sudah menunggu dengan pintu belakang terbuka. Adrian masuk tanpa sepatah kata. Mobil itu segera melaju membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi aktivitas pagi.

Dari balik jendela berlapis kaca gelap, Adrian memandang deretan gedung yang berlalu begitu saja. Namun, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar. Bayangan wajah Kayla yang keras kepala terus muncul memenuhi benaknya, membuat senyum tipis itu kembali menghiasi wajah dinginnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!