Indonesia
NovelToon NovelToon

Gadis yang Terbuang

Episode 1

Bab 001

Gadis dari Surabaya

Pintu gerbang hitam itu lebih tinggi dari semua keberanian Seline.

Taksi daring yang membawanya dari Stasiun Gambir berhenti tepat di depan pagar besi rumah tua di kawasan Menteng. Dari balik kaca mobil, Seline melihat halaman luas yang teduh, pohon-pohon besar, lampu taman yang belum menyala, dan bangunan putih bergaya kolonial yang berdiri jauh di dalam sana seperti tempat yang tidak akan pernah bisa disentuh orang biasa.

Di pangkuannya, ponsel murahnya bergetar lemah karena baterai tinggal enam persen. Pesan terakhir dari Tante Chen masih terbuka.

Kalau sudah sampai, bilang ke satpam. Tante sedang sibuk.

Hanya itu. Tidak ada nomor lain. Tidak ada instruksi lain. Bahkan tidak ada kalimat, Seline, Tante tunggu.

"Kak," bisik Darren dari sampingnya.

Anak laki-laki sebelas tahun itu memeluk ransel hitam yang sudah pudar warnanya. Matanya yang biasanya keras kepala kini bergerak cemas dari gerbang ke wajah Seline.

"Ini benar rumah Tante?"

Seline menelan ludah. Lehernya terasa kering setelah perjalanan panjang dari Surabaya, tapi ia tetap mengangguk.

"Benar. Alamatnya sama."

Sopir taksi melirik mereka lewat kaca spion. "Mbak, saya turun di sini ya? Kalau masuk ke dalam, biasanya harus lapor dulu."

Seline hampir mengoreksi panggilan itu. Ia bukan mbak dalam rumah ini, bukan siapa-siapa. Tapi di luar pagar tinggi itu, panggilan sederhana dari sopir taksi terasa lebih ramah daripada semua kemewahan yang sedang menatapnya diam-diam.

"Iya, Pak. Terima kasih."

Ia membayar ongkos dengan uang tunai yang sudah ia pisahkan di saku jaket. Setelah menghitung kembalian dua kali, ia baru berani keluar. Udara Jakarta sore itu lembap, bercampur bau aspal panas dan wangi tanah dari halaman besar di balik pagar. Seline menarik dua koper tua dari bagasi, satu biru kusam miliknya, satu cokelat kecil berisi pakaian Darren.

Begitu taksi pergi, suara jalan seakan menjauh.

Yang tersisa hanya mereka berdua, dua koper, dan sebuah gerbang yang membuat dada Seline terasa semakin sempit.

"Kakak yang bicara," kata Seline pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada Darren. "Kamu berdiri dekat Kakak. Jangan panik."

Darren mengangguk, tapi jemarinya mencengkeram ujung jaket Seline.

Seline melangkah ke pos satpam. Dua penjaga berseragam hitam berdiri di sana. Salah satunya, pria berusia sekitar empat puluhan dengan name tag bertuliskan Agus, menatap mereka dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada koper tua, lalu pada sandal Darren yang ujungnya mulai mengelupas.

"Mau ke mana?" tanya Pak Agus.

"Saya Seline. Ini adik saya, Darren. Kami diminta datang oleh Tante Chen. Beliau tinggal di sini."

"Tante Chen?" Satpam yang lebih muda menoleh ke dalam pos. "Maksudnya Nyonya Felicia?"

Seline ragu sesaat, lalu mengangguk. "Iya. Tante Felicia Chen."

Pak Agus tidak langsung membuka gerbang. Ia mengambil buku tamu, membalik beberapa halaman, lalu mengerutkan kening.

"Tidak ada nama tamu dari Surabaya hari ini."

Jari Seline yang memegang ponsel langsung dingin. "Mungkin Tante lupa memberi tahu. Saya punya pesannya."

Ia menunjukkan layar ponsel. Pak Agus membaca sekilas, wajahnya tetap datar.

"Ini cuma pesan. Saya harus konfirmasi ke dalam."

"Silakan, Pak."

Pak Agus masuk ke pos dan mengangkat telepon. Seline berdiri di bawah matahari yang mulai miring, mencoba menjaga punggungnya tetap tegak. Ia tahu seperti apa tampang mereka sekarang. Dua anak dari luar kota, turun dari taksi, membawa koper tua, mengaku punya hubungan dengan keluarga Hartono.

Di Surabaya, rumah kontrakan mereka sempit tapi tidak pernah membuatnya merasa sekecil ini.

Darren menggeser posisi. "Kak, kalau Tante nggak mau terima kita..."

"Jangan bicara begitu."

"Tapi kalau..."

Seline menoleh dan menatap adiknya. "Kita sudah sampai. Kita coba dulu."

Kalimat itu keluar tenang. Terlalu tenang sampai ia sendiri hampir percaya.

Di dalam genggaman kirinya, gantungan kecil di ritsleting koper menyentuh kulitnya. Di balik kain tipis saku dalam jaket, ada liontin giok tua yang selalu ia bawa sejak kecil. Benda itu dingin, seperti sisa rumah yang tidak pernah ia kenal. Ibu angkatnya pernah berkata dengan suara hampir habis, Kalau suatu hari tidak ada tempat untuk pulang, carilah keluargamu di Jakarta.

Jakarta ternyata dimulai dari gerbang yang tidak mau terbuka.

Pak Agus keluar lagi. "Nyonya Felicia belum bisa dihubungi."

Seline merasakan perutnya turun. "Boleh saya menunggu sebentar di sini, Pak?"

"Di luar saja. Aturan rumah tidak mengizinkan orang masuk sebelum ada konfirmasi."

"Tapi kami keluarga," Darren menyela, suaranya naik.

Seline cepat memegang lengannya. "Darren."

"Kakak capek, Pak. Kami dari pagi di kereta. Tante Chen yang suruh kami datang."

Pak Agus menatap Darren, kali ini agak tidak nyaman. Mungkin karena anak itu masih kecil, mungkin juga karena suara Darren terlalu mirip sesuatu yang tidak pantas didengar di depan rumah sebesar ini.

"Saya paham. Tapi saya cuma menjalankan aturan."

Aturan.

Kata itu jatuh seperti pagar kedua.

Seline menarik napas pelan. "Baik, Pak. Kami tunggu."

Mereka berdiri di sisi gerbang, tidak berani duduk di pinggir trotoar karena takut terlihat semakin menyedihkan. Koper biru Seline miring sedikit, roda kirinya rusak sejak di stasiun. Darren berkali-kali menatap gerbang, lalu menunduk, lalu menatap kakaknya lagi.

"Kak, haus."

Seline membuka ransel kecilnya. Botol minum mereka sudah kosong. Ia meremas botol itu sekali, lalu memasukkannya kembali.

"Tahan sebentar. Nanti kalau sudah masuk, Kakak ambilkan air."

"Kalau nggak masuk?"

Seline tidak menjawab.

Sebuah motor melintas, lalu mobil sedan putih, lalu suara kota kembali menyusut ketika jalan di depan rumah itu mendadak lengang. Dari kejauhan, terdengar deru mesin yang halus, berbeda dari kendaraan lain. Pak Agus yang tadi bersandar di pos langsung berdiri tegak.

Gerbang hitam itu bergerak.

Perlahan, tanpa suara keras, dua daun pagar terbuka ke dalam. Seline otomatis menarik koper agar tidak menghalangi jalan. Darren ikut mundur, bahunya menabrak lengan Seline.

Sebuah mobil hitam masuk dari ujung jalan. Bukan mobil yang sekadar mahal, tapi mobil yang membuat orang di sekitarnya tahu harus memberi ruang. Catnya mengilap, kaca jendelanya gelap, bannya berhenti tepat beberapa meter dari pos satpam.

Pak Agus membungkuk sedikit. "Selamat sore, Ko Kevin."

Nama itu membuat Seline mengangkat wajah.

Kaca jendela belakang turun setengah.

Pria di dalam mobil itu menoleh.

Ia masih muda, tapi ada ketenangan dingin di wajahnya yang membuatnya terlihat jauh dari usia orang biasa. Kemeja putihnya rapi tanpa satu kerut pun. Jam hitam di pergelangan tangannya tampak sederhana, justru karena tidak perlu berteriak mahal. Matanya gelap, datar, dan untuk satu detik yang terlalu panjang, mata itu berhenti pada Seline.

Tidak pada koper rusak.

Tidak pada Darren.

Pada Seline.

Seline tidak tahu harus menunduk atau menjelaskan. Ia hanya berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan karena perjalanan, jaket tipis yang mulai kusut, dan tangan yang masih memegang gagang koper seperti pegangan terakhir agar ia tidak jatuh.

"Ada apa?" suara pria itu rendah.

Pak Agus langsung menjawab, "Ada tamu mengaku keluarga Nyonya Felicia, Ko. Dari Surabaya. Belum ada konfirmasi dari dalam."

Pria itu tidak mengubah ekspresi. "Namanya?"

"Seline, Ko. Adiknya Darren."

Untuk pertama kalinya sejak kaca mobil turun, tatapan pria itu bergeser ke Darren. Darren menegang, tapi tetap berdiri di samping Seline.

Seline cepat berkata, "Maaf mengganggu. Tante Chen yang meminta kami datang. Kalau memang belum bisa masuk, kami bisa menunggu sampai beliau..."

Pria itu menatapnya lagi. Kalimat Seline mati sebelum selesai.

Bukan karena ia membentak. Bukan juga karena ia menunjukkan marah. Justru karena ia tidak menunjukkan apa pun. Tatapannya seperti pintu kaca yang tertutup dari dalam, bening, dingin, dan tidak memberi izin siapa pun untuk mengetuk terlalu lama.

"Biarkan mereka masuk ke ruang tunggu depan," katanya akhirnya.

Pak Agus tampak lega. "Baik, Ko."

Kaca jendela mulai naik.

Seline baru sadar ia belum mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Ko..."

Kaca sudah hampir tertutup ketika pria itu menoleh sekilas, seolah ucapan itu tidak penting. Mobil hitam itu bergerak masuk melewati gerbang, meninggalkan bau samar kulit mahal dan udara dingin dari AC yang sempat bocor keluar.

Darren berbisik, "Kak, itu siapa?"

Seline memandang punggung mobil itu sampai hilang di tikungan halaman.

"Ko Kevin," jawabnya pelan, mengulang nama yang tadi disebut satpam.

Gerbang rumah Hartono akhirnya terbuka untuk mereka, tapi Seline tidak merasa lebih lega. Di balik pagar itu, halaman luas terbentang seperti dunia lain. Pak Agus memanggil petugas lain untuk membantu koper, sementara Darren menarik napas seolah baru saja selamat dari sesuatu.

Seline melangkah melewati garis pagar.

Saat itulah ia menoleh sekali lagi ke arah jalan masuk tempat mobil hitam tadi menghilang.

Tatapan pria itu masih tertinggal di kulitnya, dingin dan ringan, seperti debu yang tidak bisa ditepis.

Tatapan itu bukan belas kasihan, bukan sambutan.

Tatapan itu seperti sedang melihat benda asing yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.

Episode 2

Bab 002

Rumah Besar

Ruang tunggu depan rumah Hartono terlalu dingin untuk dua orang yang baru turun dari perjalanan panjang.

Seline duduk di ujung sofa kulit warna krem, kedua lututnya rapat, tangan masih memegang tali ransel kecil di pangkuan. Darren duduk di sampingnya, punggung tegak seperti anak yang takut salah bernapas. Koper mereka diletakkan di dekat pintu, tampak semakin lusuh di atas lantai marmer yang begitu mengilap sampai bayangan lampu gantung terpantul di sana.

Di luar, matahari sudah turun. Di dalam, semuanya rapi, wangi, dan asing.

Seline mencoba tidak menatap terlalu lama pada vas porselen besar di sudut ruangan. Ia takut harga satu vas itu bisa membayar kontrakan lama mereka selama setahun.

"Kak," Darren berbisik, "boleh minum?"

Seline baru hendak menjawab ketika seorang perempuan berseragam abu-abu masuk membawa nampan. Di atasnya ada dua gelas air putih dan sepiring kecil biskuit.

"Silakan, Nona," ucap perempuan itu.

Seline berdiri sedikit karena kaget. "Terima kasih, Bi."

Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Panggil saya Bi Zheng."

Nama itu diucapkan dengan lembut, tapi ada sesuatu yang membuat Seline merasa tidak sepenuhnya sendirian. Ia mengangguk.

"Terima kasih, Bi Zheng."

Darren mengambil gelas dengan dua tangan. Ia minum pelan, menahan diri agar tidak tampak terlalu haus. Seline melihat itu, lalu hatinya seperti diremas. Anak itu biasanya menenggak air tanpa pikir panjang. Di rumah ini, bahkan minum pun terasa harus dihitung.

Langkah sepatu terdengar dari lorong.

Seorang perempuan berusia empat puluhan masuk dengan dress sutra warna hijau tua, rambut disanggul rendah, wajahnya tersenyum sebelum matanya benar-benar sampai pada Seline. Itulah Tante Chen, atau Felicia Chen, adik dari ibu angkat Seline yang selama ini hanya hadir lewat telepon singkat dan kiriman uang yang makin jarang.

"Seline," katanya hangat. "Aduh, kalian sudah sampai dari tadi? Tante sibuk sekali di belakang. Maaf ya."

Seline berdiri. Darren ikut berdiri setelah melihat kakaknya.

"Tidak apa-apa, Tante. Kami juga baru sampai."

Kebohongan kecil itu keluar tanpa dipikirkan. Ia tidak ingin mengawali hari pertama dengan membuat Tante Chen malu di depan pelayan.

Tante Chen melangkah mendekat dan menyentuh bahu Seline, ringan sekali, seperti takut kusut karena terlalu lama menempel.

"Kamu makin besar ya. Terakhir Tante lihat kamu masih kecil sekali."

Seline tersenyum sopan. "Iya, Tante."

Padahal ia tidak ingat pernah benar-benar bertemu Tante Chen. Yang ia ingat hanya suara perempuan itu di telepon saat ibu angkatnya sakit, terdengar sibuk, tergesa, dan sedikit kesal karena diminta membantu.

Tatapan Tante Chen turun ke Darren.

"Ini Darren? Sudah tinggi juga."

Darren membungkuk canggung. "Selamat sore, Tante."

"Anak pintar." Tante Chen tersenyum, lalu menoleh ke Bi Zheng. "Koper mereka bawa ke kamar tamu belakang. Yang dekat koridor taman itu."

Bi Zheng tampak ragu sesaat. "Kamar belakang, Nyonya?"

"Iya. Di depan penuh. Michelle sedang menyiapkan acara, banyak keluarga datang beberapa minggu ini."

Seline menangkap jeda kecil dalam suara Bi Zheng. Kamar belakang. Koridor taman. Ia belum tahu artinya, tapi dari cara Tante Chen mengucapkannya, itu bukan tempat untuk tamu yang benar-benar ditunggu.

"Tante, kami tidak mau merepotkan," ujar Seline cepat. "Kamar mana pun tidak apa-apa."

"Memang tidak merepotkan," jawab Tante Chen, tetap tersenyum. "Tapi kamu harus tahu, rumah ini besar, aturannya juga banyak. Selama tinggal di sini, ikuti saja apa kata Tante. Jangan sungkan, tapi juga jangan sembarangan."

Seline mengangguk. "Saya mengerti."

"Pertama, makan malam keluarga biasanya pukul tujuh. Kalau tidak dipanggil, kamu makan di pantry sayap belakang. Kedua, jangan masuk ke lantai dua sayap utama tanpa izin. Itu area Oma dan keluarga inti. Ketiga, taman belakang ada beberapa rumah kecil. Jangan jalan-jalan ke sana, terutama yang paling ujung. Itu tempat Ko Kevin."

Nama itu membuat ujung jari Seline bergerak tanpa sadar.

Pria di mobil hitam tadi.

Tante Chen memperhatikan reaksinya, lalu tertawa kecil. "Kamu sudah bertemu dia di depan?"

"Hanya sebentar," jawab Seline.

"Ko Kevin memang begitu. Jangan dimasukkan hati kalau dia terlihat dingin. Dia bahkan begitu pada keluarga sendiri." Setelah berkata begitu, senyum Tante Chen menipis. "Tapi tetap ingat, jangan mengganggu dia. Dia tidak suka orang asing masuk ke wilayahnya."

Orang asing.

Seline menunduk sedikit. "Baik, Tante."

Darren membuka mulut, mungkin ingin membela kakaknya, tapi Seline lebih dulu menyentuh punggung tangannya. Anak itu diam dengan wajah kaku.

Bi Zheng memanggil pelayan laki-laki untuk membawa koper. Seline ingin mengambil sendiri koper birunya, tapi Tante Chen menghentikannya.

"Biarkan. Kamu sekarang tinggal di rumah Hartono. Tidak enak dilihat kalau tamu menarik koper sendiri."

Kalimat itu terdengar seperti kebaikan. Namun Seline merasakan duri kecil di dalamnya. Tamu. Bukan keluarga.

Mereka mengikuti Bi Zheng melewati lorong panjang. Rumah itu lebih besar dari yang terlihat dari luar. Ada ruang tamu utama dengan sofa besar, ruang makan yang mejanya bisa menampung belasan orang, dinding penuh foto keluarga, dan altar kecil dengan aroma hio yang samar. Beberapa pelayan berpapasan dan menunduk sopan, tapi mata mereka diam-diam melirik Seline dan Darren.

Di salah satu bingkai foto, Seline melihat Kevin berdiri di samping seorang pria setengah baya dan perempuan anggun. Wajah Kevin di foto itu sama datarnya seperti saat di mobil. Hanya posisi tubuhnya yang sedikit condong ke arah seorang wanita tua berambut putih di kursi tengah.

"Itu Oma Mei," kata Bi Zheng pelan, seolah tahu Seline sedang melihat. "Besok mungkin Nona dipanggil menghadap."

"Menghadap?" Darren mengulang, terdengar gugup.

Bi Zheng tersenyum. "Maksud saya, bertemu. Oma suka tahu siapa saja yang tinggal di rumah ini."

Seline menyimpan informasi itu baik-baik.

Kamar belakang yang diberikan pada mereka berada di ujung koridor yang lebih sepi. Jendelanya menghadap taman samping, bukan halaman utama. Ruangan itu bersih, tapi jelas jarang dipakai. Ada tempat tidur single, sofa panjang yang bisa dibuka menjadi ranjang kecil, lemari kosong, meja tulis, dan kipas angin tambahan meski AC sudah terpasang.

Darren meletakkan ranselnya di sofa. "Aku tidur di sini?"

"Untuk sementara," jawab Seline. "Nanti Kakak rapikan."

Bi Zheng membantu menaruh koper di dekat lemari. Ia sempat melirik pintu kaca kecil yang mengarah ke jalur taman.

"Nona, kalau malam sebaiknya jangan keluar lewat pintu itu. Jalan itu menuju bagian belakang."

"Bagian Ko Kevin?" tanya Darren polos.

Bi Zheng tidak langsung menjawab. "Salah satunya."

Seline mengangguk. "Kami tidak akan keluar tanpa izin."

Setelah Bi Zheng pergi, kamar itu menjadi hening. Heningnya berbeda dari rumah kontrakan mereka di Surabaya. Di sana, hening berarti tetangga belum pulang kerja atau listrik padam. Di sini, hening seperti dinding yang sengaja dibangun agar orang tahu tempatnya masing-masing.

Darren duduk di sofa, menatap sekeliling. "Kak, Tante Chen baik nggak?"

Seline membuka koper dan mengeluarkan handuk untuk Darren. "Kita baru datang. Jangan cepat menilai."

"Tapi dia bilang kita tamu."

Tangan Seline berhenti sebentar.

"Memang sekarang kita tamu."

"Sampai kapan?"

Seline menutup koper perlahan. "Sampai Kakak bisa berdiri sendiri dan kamu sekolah dengan baik."

Darren ingin menjawab, tapi suara ketukan terdengar dari pintu.

Seline membuka pintu.

Seorang gadis berdiri di luar kamar, mungkin seumuran atau sedikit lebih tua darinya. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya jatuh rapi di bahu, dan dress merah muda yang ia pakai terlihat sederhana hanya karena tubuhnya sudah terbiasa memakai barang mahal. Matanya tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke bagian paling dalam.

"Jadi kamu Seline?" tanyanya.

"Iya." Seline menahan pintu tetap terbuka setengah. "Kamu..."

"Vivian Liu." Gadis itu melirik ke dalam kamar, lalu ke koper tua di lantai. "Aku juga tinggal di sini. Bisa dibilang kita sama-sama keluarga luar."

Kalimat itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sengaja diarahkan.

Seline tersenyum sopan. "Senang bertemu denganmu."

Vivian tertawa kecil. "Kamu sopan sekali. Dari Surabaya ya?"

"Iya."

"Jauh juga." Vivian melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Matanya menyapu kamar, sofa Darren, koper, lalu berhenti pada jaket Seline. "Tante Chen pasti repot mengurus kalian. Rumah ini memang besar, tapi bukan berarti semua orang bisa bebas bergerak."

Darren berdiri. "Kakakku tidak akan merepotkan siapa pun."

"Darren," tegur Seline.

Vivian menatap Darren, lalu tersenyum manis. "Lucu. Adikmu berani."

Seline melangkah sedikit di depan Darren. "Kalau ada aturan yang perlu kami tahu, kamu bisa bilang. Kami akan hati-hati."

Vivian mendekat sampai jarak mereka tinggal satu langkah. Wangi parfumnya lembut, tapi kehadirannya membuat udara kamar terasa lebih sempit.

"Bagus kalau kamu cepat mengerti." Vivian menurunkan suara, cukup pelan agar hanya Seline dan Darren yang mendengar. "Di sini, kamu harus tahu posisimu."

Episode 3

Bab 003

Oma

Seline tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di depan Darren, masih memegang pintu lemari yang belum sempat ditutup. Di depannya, Vivian Liu tersenyum tipis, menunggu reaksi seperti seseorang yang baru saja melempar jarum dan ingin melihat apakah jarum itu menancap.

Kalau Seline marah, ia akan terlihat tidak tahu diri. Kalau ia membalas, hari pertamanya di rumah Hartono akan dimulai dengan keributan.

Maka Seline hanya menundukkan kepala sedikit.

"Terima kasih sudah mengingatkan," katanya pelan. "Saya akan hati-hati."

Vivian tampak tidak puas. Ia mengira Seline akan tersinggung atau membela diri. Namun yang ia dapat hanya suara tenang dan mata yang tidak cukup rendah untuk disebut takut.

"Bagus," ucap Vivian akhirnya. Ia melirik Darren sekali lagi. "Ajari juga adikmu. Di rumah besar, anak kecil pun harus tahu cara bersikap."

Darren mengepalkan tangan, tapi Seline menggenggam pergelangan tangannya dari belakang. Tidak keras. Cukup untuk mengingatkan bahwa malam itu mereka belum punya tempat selain kamar ini.

Vivian pergi tanpa menutup pintu rapat-rapat.

Seline baru menghela napas setelah langkah gadis itu menjauh.

"Kenapa Kakak diam saja?" Darren langsung bertanya, suaranya tertahan marah. "Dia menghina kita."

Seline menutup pintu, lalu berbalik. "Karena dia ingin Kakak terlihat salah."

"Tapi memang dia yang salah."

"Di rumah orang lain, belum tentu orang yang benar langsung menang."

Darren terdiam. Wajahnya masih panas oleh kesal, tapi ia menahan diri. Seline mendekat dan merapikan rambut adiknya yang berantakan.

"Kita tinggal dulu. Kita lihat dulu. Setelah itu baru kita tahu harus melangkah ke mana."

"Aku tidak suka dia."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, Seline hampir tersenyum.

"Kakak juga tidak bilang harus suka."

Malam pertama di rumah Hartono berjalan panjang. Seline tidur di ranjang single, Darren di sofa panjang yang dibuka menjadi tempat tidur kecil. AC berdengung halus. Dari luar jendela, lampu taman membuat bayangan daun bergerak di langit-langit.

Seline tidak benar-benar tidur.

Setiap kali matanya terpejam, ia melihat gerbang hitam, senyum tipis Tante Chen, tatapan Vivian, dan kaca mobil hitam yang menurun setengah. Rumah ini terlalu besar untuk dua anak yang datang tanpa bekal nama keluarga kuat. Tetapi untuk Darren, ia harus belajar bernapas di dalamnya.

Pagi harinya, Bi Zheng mengetuk pintu saat Seline baru selesai melipat selimut.

"Nona Seline," ucapnya dari luar. "Oma memanggil."

Tangan Seline berhenti di atas kain.

Darren yang sedang memakai sepatu langsung menoleh. "Oma yang di foto itu?"

Bi Zheng mengangguk. "Oma Mei. Pemilik rumah ini."

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat punggung Seline menegang. Ia cepat mengganti blusnya dengan kemeja putih paling rapi yang ia punya. Kemeja itu sudah dicuci berkali-kali sampai kainnya mulai menipis, namun kerahnya masih lurus karena ia menyetrikanya hati-hati sebelum berangkat dari Surabaya.

"Aku ikut?" tanya Darren.

"Oma meminta Nona Seline dulu," jawab Bi Zheng lembut. "Tuan kecil bisa sarapan di kamar. Nanti saya antar roti dan susu."

Darren jelas tidak suka ditinggal, tapi Seline menatapnya dengan tenang.

"Kakak hanya sebentar."

"Kalau mereka macam-macam?"

"Di depan Oma, tidak ada yang macam-macam," kata Bi Zheng tiba-tiba.

Nada perempuan itu begitu yakin sampai Darren menutup mulut. Seline menyimpan kalimat itu seperti menyimpan payung sebelum hujan.

Lorong menuju ruang tengah lebih terang daripada malam sebelumnya. Beberapa pelayan bergerak tanpa suara, membawa nampan teh, bunga segar, dan map-map kecil. Rumah Hartono pada pagi hari tampak seperti mesin tua yang mahal. Semua orang tahu posisinya. Semua orang tahu kapan harus menunduk.

Di depan pintu kayu besar, Bi Zheng berhenti.

"Masuklah, Nona. Jangan takut. Oma tidak suka orang pura-pura, tapi beliau juga tidak suka anak yang terlalu takut."

Seline mengangguk, lalu masuk.

Ruang keluarga utama itu luas, tetapi tidak terasa kosong. Jendela tinggi terbuka ke taman, cahaya pagi jatuh di atas lantai kayu mengilap. Di tengah ruangan, seorang wanita tua duduk di kursi berlengan, tubuhnya kecil, rambut putihnya disanggul rapi, matanya jernih seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kebohongan sampai tidak perlu lagi membongkarnya dengan suara keras.

Di sampingnya, Tante Chen duduk dengan senyum sopan. Vivian berdiri agak jauh, memakai dress biru muda. Ada gadis lain di dekat meja teh, wajahnya cerah, matanya langsung menatap Seline dengan rasa ingin tahu yang tidak menyakitkan.

"Seline?" suara wanita tua itu lembut.

Seline mendekat dan menunduk hormat. "Selamat pagi, Oma."

Tante Chen tampak sedikit terkejut mendengar Seline langsung memakai panggilan itu, tapi Oma Mei justru tersenyum.

"Duduk dekat Oma."

Seline mengikuti. Ia duduk di kursi kecil di sebelah wanita tua itu, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Oma Mei mengamatinya lama. Bukan seperti Vivian menilai pakaian atau koper. Tatapan Oma menembus hal lain, seperti sedang membaca bekas perjalanan di wajah Seline, cara ia menahan bahu, dan letak tangan yang terlalu rapi di pangkuan.

"Perjalanan dari Surabaya melelahkan?"

"Sedikit, Oma. Tapi kami baik-baik saja."

"Adikmu?"

"Darren juga baik. Dia hanya masih menyesuaikan diri."

Oma Mei mengangguk. "Anak laki-laki umur sebelas tahun memang begitu. Berani di mulut, tapi matanya gampang ketahuan."

Seline terkejut. Ia tidak tahu Oma sudah mendengar tentang Darren atau hanya menebak. Dari sudut mata, ia melihat Vivian menahan senyum, seolah menunggu Seline salah menjawab.

Namun gadis cerah di dekat meja teh tiba-tiba tertawa kecil.

"Oma memang selalu tahu. Aku dulu juga begitu. Waktu pertama pindah kamar sendiri, aku bilang tidak takut, padahal tiap malam tidur sambil menyalakan semua lampu."

Oma Mei meliriknya. "Jessica, kamu bangga sekali membuka aib sendiri."

Gadis itu, Jessica, mengangkat bahu. "Kalau bisa membuat Seline lebih santai, tidak apa-apa."

Nada bicaranya ringan, tapi Seline menangkap niat baik di sana. Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah Hartono, ada seseorang seusianya yang tidak melihatnya seperti gangguan.

Jessica tersenyum padanya. "Aku Jessica. Panggil saja Jess kalau mau. Nanti kalau bingung di rumah ini, tanya aku. Jangan tanya Vivian, dia suka bikin orang tambah bingung."

"Jess," tegur Tante Chen cepat.

Vivian tersenyum kaku. "Aku juga hanya membantu."

"Membantu orang takut, mungkin," gumam Jessica.

Seline menahan napas. Ia tidak menyangka ada orang yang berani bicara seterang itu di ruang Oma. Namun Oma Mei hanya mengambil cangkir teh, seolah pertengkaran kecil itu tidak layak diberi tempat.

"Cukup," kata Oma.

Satu kata itu membuat ruangan kembali rapi.

Oma Mei lalu membuka kotak kecil dari kayu gelap di meja samping. Dari dalamnya, ia mengeluarkan gelang giok berwarna hijau muda. Permukaannya halus, dingin, memantulkan cahaya lembut.

Tante Chen langsung menegakkan punggung. Vivian juga tidak bisa menyembunyikan perubahan wajahnya.

"Oma," Tante Chen berkata hati-hati, "itu gelang kesayangan Oma."

"Oma tahu barang Oma sendiri," jawab Oma Mei tanpa menoleh.

Seline membeku saat wanita tua itu meraih tangannya.

"Anak perempuan yang datang dari jauh tidak boleh merasa rumah ini hanya punya pintu dan aturan." Oma Mei memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Seline. Ukurannya sedikit longgar, tapi tidak jatuh. "Anggap ini hadiah pertemuan pertama."

"Oma, saya tidak bisa menerima ini." Suara Seline hampir hilang. "Ini terlalu berharga."

"Kalau Oma memberi, kamu menerima."

Tidak ada keras dalam suara itu. Justru karena itulah Seline tidak mampu menolak lagi. Gelang giok itu dingin di kulitnya, berbeda dengan liontin tua yang tersembunyi di balik bajunya. Satu benda berasal dari masa lalu yang tidak jelas. Satu benda baru saja diberikan oleh orang paling berkuasa di rumah ini.

Matanya tiba-tiba panas.

"Terima kasih, Oma."

Oma Mei memandangnya lama. Lalu, tanpa aba-aba, wanita tua itu mengangkat tangan dan menyentuh pipi Seline dengan ujung jari yang hangat.

Gerakan itu begitu lembut sampai Seline tidak sempat mundur.

Di mata Oma Mei, sesuatu bergetar. Bukan sekadar iba. Bukan juga kaget biasa. Seperti ada kenangan lama yang tiba-tiba membuka pintu dari dalam.

"Aneh," bisik Oma Mei.

Ruangan menjadi sunyi.

Seline menahan napas.

Oma Mei menatap wajahnya lebih dekat, lalu berkata pelan, "Kamu mirip seseorang."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!