Indonesia
NovelToon NovelToon

Mawar di Pinggangnya

Episode 1

Bab 001

Suami yang Tak Kukenal

"Ki, pulang bareng gue aja. Udah malam."

Kiara Song baru saja mematikan komputer kantor ketika Cici muncul dari balik sekat meja dengan ransel menggantung di satu bahu. Ruang redaksi Kota Barat Post tinggal menyisakan lampu putih yang terlalu terang, gelas kopi kosong, dan suara pendingin ruangan yang berdengung seperti orang kelelahan.

"Nggak usah, Ci." Kiara memasukkan notes kecil, pulpen, dan ponsel ke tote bag kanvasnya. "Aku dijemput."

Alis Cici langsung naik.

"Dijemput siapa?"

Pertanyaan itu membuat jari Kiara tersangkut sebentar pada resleting tas. Di layar ponselnya, notifikasi WhatsApp dari nomor yang tidak pernah memakai foto profil muncul singkat.

Rayhan Tan:

Aku di depan.

Hanya tiga kata. Tanpa emotikon. Tanpa panggilan sayang. Bahkan tanpa tanda tanya.

Tiga kata itu tetap membuat dada Kiara seperti diketuk dari dalam.

"Tetangga," jawab Kiara cepat.

Cici memicingkan mata. "Tetangga yang tiap malam bisa muncul tepat waktu kayak sopir pribadi?"

"Kebetulan aja."

"Kebetulan terus selama enam bulan?"

Kiara pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil kartu pers magang dari meja, lalu melirik tumpukan tagihan rumah sakit yang tadi sengaja ia lipat kecil dan simpan di sela notes. Nama Kevin Song tercetak jelas di bagian atas. Empat tahun koma, empat tahun angka di kertas itu terus tumbuh, seperti tanaman liar yang tidak pernah mati.

Sebelum Rayhan masuk ke hidupnya, setiap dering telepon dari rumah sakit selalu membuat lutut Kiara lemas. Sebelum Rayhan, setiap suara motor berhenti di depan kontrakan membuatnya takut Pak Song atau penagih utang kembali datang.

Lalu enam bulan lalu, di sebuah ruang kecil di Rumah Besar keluarga Tan, Rayhan berdiri di sampingnya dengan kemeja putih dan wajah sedingin kaca.

Pemberkatan sederhana. Opa Tan sebagai saksi. Kevin terbaring di rumah sakit, hanya namanya yang disebut dengan suara berat oleh pendeta. Setelah itu, Kiara menjadi istri Rayhan Tan.

Istri secara agama.

Rahasia bagi dunia.

Dan orang asing di rumah sendiri.

"Ki?" Cici melambaikan tangan di depan wajahnya. "Lo pucat. Mau gue pesenin Grab?"

Kiara tersenyum kecil. "Beneran nggak apa-apa. Kamu pulang duluan. Besok kan masih harus ikut rapat Bu Ratna."

Cici tampak belum puas, tapi akhirnya menghela napas. "Oke. Tapi kalau tetangga misterius itu nyebelin, chat gue. Gue siap jadi saksi hidup."

Kiara hampir tertawa. "Saksi apa?"

"Saksi kalau lo diculik cowok ganteng."

Panas naik ke pipi Kiara sebelum ia sempat menahannya. Ia cepat-cepat mematikan lampu meja dan berjalan keluar. Di lift, bayangannya di pintu stainless tampak kecil dengan blus krem murah, rok hitam, dan rambut yang diikat asal. Di pinggang kirinya, tersembunyi di balik kain, ada rahasia lama yang kadang terasa lebih panas setiap kali nama Rayhan disebut.

Rahasia yang bahkan suaminya sendiri tidak tahu.

Lobi kantor sudah sepi. Satpam mengangguk ketika Kiara lewat. Di luar, hujan tipis baru saja berhenti, meninggalkan bau aspal basah dan lampu jalan yang memantul di genangan kecil.

Fortuner hitam berhenti tepat di bawah kanopi.

Kiara mengenali mobil itu bahkan sebelum kaca depannya turun. Mobil itu terlalu bersih untuk seseorang yang bekerja di unit reskrim. Terlalu mahal untuk seorang polisi biasa. Tapi Rayhan memang tidak pernah benar-benar bisa disederhanakan hanya dengan satu kata.

Ia polisi.

Ia cucu Opa Tan.

Ia pria yang menandatangani hidup Kiara tanpa pernah menyentuhnya.

Pintu sisi penumpang terbuka dari dalam.

"Masuk," kata Rayhan.

Suara itu rendah. Tidak keras, tapi cukup membuat Kiara otomatis melangkah.

Rayhan masih memakai seragam dinas cokelat. Lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan garis otot di bawah kulit sawo matang. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena hujan atau karena ia baru pulang dari lapangan. Wajahnya campuran tajam yang selalu membuat orang lain menoleh, rahang tegas, hidung tinggi, mata gelap yang seperti selalu tahu lebih banyak dari yang ia ucapkan.

Kiara duduk, menarik sabuk pengaman, lalu menyadari Rayhan menatap tangannya.

"Kamu gemetar."

"AC kantor dingin."

Rayhan tidak langsung menyalakan mobil. Matanya turun ke tote bag Kiara yang terbuka sedikit, ke sudut kertas tagihan yang menyembul.

Kiara cepat-cepat menutup tasnya.

"Aku sudah transfer ke RS Harapan sore tadi," kata Rayhan.

Jantung Kiara jatuh pelan.

"Kak Rayhan..." Suaranya mengecil. "Aku kan sudah bilang, gaji magangku masuk minggu depan. Tagihan Kak Kevin biar aku cicil."

"Kevin tanggung jawabku juga."

Kiara menoleh. "Kenapa?"

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari pikirannya.

Rayhan menatap jalan di depan mereka. Hujan meninggalkan garis air di kaca. Wiper bergerak sekali, lambat, seperti memotong hening di antara mereka.

"Karena dia teman satu angkatanku."

Jawaban itu masuk akal. Terlalu masuk akal sampai Kiara tidak punya alasan untuk kecewa.

Tentu saja karena Kevin.

Bukan karena dia.

Kiara menunduk, memainkan ujung lengan blusnya. "Terima kasih."

Rayhan akhirnya menjalankan mobil. Sepanjang jalan menuju Perumahan Graha Perwira, mereka hanya ditemani suara ban di atas aspal basah dan siaran radio yang volumenya sangat kecil. Kiara ingin bertanya apakah Rayhan sudah makan. Ingin berkata bahwa ia melihat bekas luka baru di punggung tangan Rayhan. Ingin tahu kenapa pria itu selalu tahu jam pulangnya, tapi hampir tidak pernah bertanya tentang harinya.

Namun seperti biasa, semua pertanyaan itu berhenti di tenggorokan.

Di mata orang lain, Rayhan Tan mungkin suami yang sempurna. Ia menjemput, membayar tagihan, memberi rumah aman di cluster dengan security dua puluh empat jam. Ia tidak pernah membentak. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah mempermalukan Kiara.

Tapi di dalam rumah besar mereka yang terlalu rapi, ada dua kamar tidur yang selalu tertutup.

Ada meja makan yang sering hanya dipakai satu orang.

Ada status suami istri yang terasa seperti jas hujan, melindungi dari luar, tetapi dingin menempel di kulit.

Ketika mobil masuk ke garasi rumah, jam di dashboard menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Kiara turun lebih dulu. Udara malam Perumahan Graha Perwira berbau rumput basah dan bunga kamboja dari taman depan. Rumah itu menyala hangat, tetapi setiap kali Kiara berdiri di depannya, ia masih merasa seperti tamu yang terlalu lama menginap.

Rayhan membuka pintu utama dengan kartu akses, lalu menyalakan lampu foyer.

"Aku mandi dulu," kata Kiara.

Ia baru melangkah dua anak tangga ketika suara Rayhan menghentikannya.

"Kiara."

Kiara menoleh. "Iya?"

Rayhan berdiri di bawah tangga, satu tangan masih memegang kunci mobil. Tatapannya naik ke wajah Kiara, lalu turun sebentar ke bibirnya yang tanpa sadar ia gigit sejak tadi.

"Kamu belum makan, kan?"

Kiara membeku.

"Aku makan roti di kantor."

"Jam berapa?"

Kiara diam.

Rayhan melepas jam tangan, meletakkannya di meja dekat pintu, lalu berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal dua anak tangga. Posisi itu membuat wajah Kiara hampir sejajar dengan wajahnya. Terlalu dekat. Aroma hujan, sabun maskulin, dan sedikit bau kopi pahit dari tubuh Rayhan membuat napas Kiara tersangkut.

Ia mundur setengah langkah, tetapi tumitnya menyentuh anak tangga berikutnya.

Rayhan mengangkat tangan.

Kiara refleks menahan napas.

Jari Rayhan tidak menyentuh wajahnya. Hanya berhenti di sisi pipinya, mengambil sehelai rambut yang menempel basah di sana, lalu melepaskannya dengan hati-hati.

"Ganti baju," katanya pelan. "Aku masak."

"Kak Rayhan nggak perlu..."

"Perlu."

Satu kata itu jatuh rendah, tegas, dan anehnya hangat.

Kiara menatapnya, lupa bagaimana caranya berkedip.

Rayhan sedikit menunduk. Bayangannya menutup cahaya lampu di belakang Kiara, membuat dunia di sekeliling mereka mengecil hanya menjadi napas dan detak jantung.

"Kamu belum makan, kan?"

Episode 2

Bab 002

Dapur Miliknya

"Kamu belum makan, kan?"

Pertanyaan itu masih menggantung ketika perut Kiara memilih berkhianat.

Bunyinya tidak keras, tapi cukup jelas di antara mereka berdua. Kiara langsung menunduk. Panas naik sampai telinganya, lebih memalukan daripada ketahuan menangis.

Rayhan menatapnya selama dua detik.

Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

Hanya sedikit. Tapi karena wajah Rayhan biasanya seperti laporan kasus pembunuhan, perubahan kecil itu terasa seperti lampu seluruh rumah tiba-tiba menyala.

"Ganti baju," katanya. "Lima belas menit."

"Aku bisa bikin mi sendiri."

"Aku tidak bilang kamu tidak bisa."

"Terus?"

"Aku bilang aku masak."

Kiara kehabisan kalimat. Dengan sisa harga diri yang tipis, ia berbalik dan naik ke lantai dua. Di kamar, ia bersandar pada pintu sebentar sambil menekan dada.

Ini cuma makan malam.

Rayhan memang begitu. Ia praktis. Ia terbiasa mengurus orang. Ia membayar tagihan Kevin karena Kevin teman satu angkatannya. Ia memasak karena mungkin tidak tega melihat manusia kelaparan berdiri di tangga.

Tidak ada yang spesial.

Ponsel Kiara bergetar di dalam tas.

Cici:

Udah sampai belum, Ki?

Cici:

Tetangga misterius aman?

Cici:

Jangan-jangan duda tajir?

Kiara menggigit bibir agar tidak tertawa keras.

Kiara:

Aman.

Cici:

Jawaban singkat \= mencurigakan.

Kiara:

Besok aku cerita.

Cici:

JANJI. Kalau ganteng, gue harus tahu.

Kiara menatap layar beberapa saat, lalu mengunci ponsel. Kalau Cici tahu tetangga misterius itu bukan hanya ganteng, melainkan suami sah Kiara, mungkin satu kantor bisa mendengar teriakannya.

Ia mengganti blus kantor dengan kaus putih longgar dan celana panjang rumah. Sebelum keluar, matanya jatuh ke cermin. Wajahnya masih terlihat lelah. Di bawah mata ada bayangan tipis. Rambutnya yang tadi diikat asal kini ia biarkan terurai sampai bahu.

Untuk apa rapi-rapi?

Pertanyaan itu muncul tepat ketika tangannya mengambil sisir.

Kiara diam, lalu meletakkan sisir kembali.

Tetap saja, ia merapikan rambut dengan jari.

Aroma bawang putih dan mentega sudah memenuhi lantai bawah ketika Kiara turun. Dapur rumah itu terbuka ke ruang makan, semua permukaannya bersih, putih, dan mahal. Namun di tengah ruangan yang terlalu modern itu, Rayhan berdiri seolah dapur memang wilayah kekuasaannya.

Ia sudah melepas seragam. Kaos hitam polos melekat di bahunya, mempertegas punggung lebar dan lengan yang bergerak tenang saat mengaduk wajan. Rambutnya sedikit basah setelah mandi cepat. Di pergelangan tangannya tidak ada jam, hanya urat halus yang muncul ketika ia memegang spatula.

Kiara berhenti di dekat meja makan.

Rayhan tidak menoleh. "Duduk."

"Aku bisa bantu."

"Duduk, Kiara."

Nada itu bukan marah. Lebih seperti polisi yang terbiasa memberi perintah di TKP. Tubuh Kiara, entah kenapa, lebih cepat patuh daripada pikirannya. Ia menarik kursi dan duduk, lalu menyaksikan Rayhan memecahkan telur dengan satu tangan.

Sial.

Bahkan memecahkan telur pun bisa terlihat berbahaya kalau Rayhan yang melakukan.

"Besok kamu masuk jam berapa?" tanya Rayhan.

"Jam sembilan. Tapi Bu Ratna minta aku datang lebih pagi buat rapat liputan."

"Liputan apa?"

"Belum tahu. Mungkin kasus kriminal kecil atau acara pemerintah kota. Aku masih magang, jadi biasanya kebagian yang orang lain nggak mau."

Rayhan menuang nasi ke wajan. "Kamu suka?"

"Suka apa?"

"Kerjamu."

Kiara terdiam. Tidak banyak orang menanyakan itu. Kebanyakan hanya bertanya berapa gajinya, kapan jadi pegawai tetap, atau kenapa perempuan muda harus repot mengejar berita malam-malam.

"Suka," jawabnya pelan. "Kalau tulisanku naik, rasanya... seperti aku punya suara."

Gerakan tangan Rayhan melambat sepersekian detik.

"Bagus."

Hanya itu.

Satu kata, tetapi dada Kiara terasa hangat dengan cara yang menyebalkan. Ia cepat-cepat mengambil gelas dan menuang air putih untuk dirinya sendiri.

"Kak Rayhan sendiri?" tanya Kiara sebelum keberaniannya habis. "Suka jadi polisi?"

Rayhan mematikan kompor. "Tidak selalu."

Kiara mengangkat wajah.

"Tapi ada orang yang harus ditangkap," lanjutnya. "Ada orang yang harus dipulangkan dengan selamat. Jadi suka atau tidak, aku tetap kerja."

Kalimat itu jatuh sederhana. Tidak dibuat keren. Tidak seperti pidato. Justru karena itu, Kiara mendadak melihatnya dengan cara lain.

Pria ini bukan hanya dingin.

Ia berat.

Seolah ada banyak hal yang ia bawa sendirian dan tidak pernah ia letakkan di meja siapa pun.

Rayhan menyajikan nasi goreng ke piring, menambahkan telur ceplok dengan bagian kuning yang masih setengah matang, lalu meletakkannya di depan Kiara. Di sisi piring ada irisan timun dan kerupuk yang entah kapan ia siapkan.

"Makan."

Kiara menatap piring itu. "Kak Rayhan nggak makan?"

"Nanti."

"Nanti itu kapan?"

"Setelah kamu selesai."

"Kenapa harus nunggu aku?"

Rayhan menarik kursi di seberangnya, duduk, lalu menyandarkan lengan di meja. "Karena kalau aku tidak lihat, kamu cuma makan tiga suap dan bilang kenyang."

Kiara membuka mulut untuk membantah, tapi gagal karena itu benar.

Ia mengambil sendok. Suapan pertama masuk ke mulutnya, hangat, gurih, sedikit pedas. Perutnya langsung mengendur seperti akhirnya berhenti bertengkar dengan tubuhnya sendiri.

Rayhan memperhatikan wajahnya. "Terlalu pedas?"

Kiara menggeleng cepat. "Enak."

"Jangan cuma sopan."

"Beneran enak." Ia menyendok lagi, kali ini lebih banyak. "Aku nggak nyangka Kak Rayhan bisa masak."

"Aku hidup sendiri sejak Akpol."

"Aku pikir anak keluarga Tan tinggal tunjuk, semua datang."

"Di rumah Opa, iya. Di Akpol, kalau cuma bisa tunjuk, yang datang hukuman."

Kiara tertawa kecil sebelum sempat menahan diri.

Rayhan menatapnya.

Tawa Kiara berhenti perlahan. "Apa?"

"Tidak apa-apa."

Tapi tatapan Rayhan tidak segera pergi. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak dingin, tidak juga sekadar sopan. Kiara menunduk, pura-pura fokus pada piring.

Ponselnya menyala lagi. Kali ini dari grup magang redaksi.

Cici:

Besok semua wajib datang 08.00. Bu Ratna ngamuk karena draft Dimas typo judul wali kota.

Dimas:

Ci, jangan sebut nama.

Cici:

Udah terlanjur.

Kiara tersenyum sendiri.

"Cici?" tanya Rayhan.

"Iya. Dia selalu heboh."

"Dia tahu kamu tinggal di sini?"

Sendok Kiara berhenti.

"Nggak. Aku bilang tinggal di tempat saudara."

"Bagus."

Kiara mengangkat wajah. "Bagus?"

"Semakin sedikit orang tahu, semakin aman."

Aman. Kata itu seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa, malam itu terdengar seperti dinding. Kokoh, tinggi, dan membuat Kiara berdiri di sisi yang tidak bisa ia pilih sendiri.

"Sampai kapan?" tanyanya.

Rayhan diam.

Kiara menyesal begitu pertanyaan itu keluar. Ia cepat-cepat menyendok nasi lagi, tapi ada sebutir nasi menempel di sudut bibirnya.

Rayhan bergerak sebelum Kiara sadar.

Jari telunjuknya menyentuh sudut bibir Kiara, ringan, hangat, terlalu dekat. Ia mengambil butir nasi itu, tetapi tidak langsung menjauh. Ujung jarinya menyapu bibir bawah Kiara selama satu detik yang terasa terlalu panjang.

Napas Kiara berhenti.

"Maaf," kata Rayhan.

Suaranya datar.

Namun matanya, gelap dan tenang, sama sekali tidak tampak menyesal.

Episode 3

Bab 003

Pria Berbahaya di Club

Sepanjang rapat pagi, Kiara masih bisa merasakan sentuhan jari Rayhan di sudut bibirnya.

Sialnya, perasaan itu muncul di saat yang paling tidak tepat, yaitu ketika Bu Ratna sedang mengetuk meja dengan pulpen dan menatap seluruh anak magang seperti hendak mengirim mereka ke medan perang.

"Malam ini kalian ikut gathering redaksi," kata Bu Ratna. "Bukan untuk hura-hura. Kalian belajar cara membangun jaringan. Wartawan yang tidak punya sumber berita akan mati pelan-pelan."

Cici menyenggol siku Kiara. "Dengar tuh, Ki. Malam ini kita resmi boleh karaoke atas nama karier."

Kiara menahan senyum. "Kamu dari tadi cuma nunggu bagian karaoke, kan?"

"Jelas. Kalau ada gratisan, jiwa jurnalistik gue bangkit."

Bu Ratna menatap mereka. Cici langsung duduk tegak dengan wajah paling polos yang pernah Kiara lihat.

Gathering itu diadakan di sebuah tempat karaoke kelas atas di pusat Kota Barat. Bukan tipe ruang karaoke yang biasa dipakai mahasiswa untuk melepas stres, melainkan lounge dengan karpet tebal, lorong remang, dan pelayan yang tersenyum terlalu rapi. Dimas dan Galih sudah sibuk memilih lagu. Dewi memotret makanan untuk story. Cici langsung mengambil mikrofon seolah panggung itu warisan keluarganya.

Kiara duduk di ujung sofa, memegang segelas teh lemon. Ia mengirim pesan singkat kepada Rayhan sebelum acara dimulai.

Kiara:

Malam ini ada gathering kantor. Pulang mungkin agak telat.

Balasan Rayhan datang kurang dari satu menit.

Rayhan:

Lokasi.

Kiara menatap layar.

Kiara:

Karaoke pusat kota. Sama orang kantor.

Rayhan:

Share live location.

Tidak ada "hati-hati". Tidak ada "baik". Hanya perintah singkat yang membuat Kiara mendengus pelan, tapi tetap membagikan lokasi.

Cici melirik layar ponselnya. "Tetangga misterius?"

"Bukan."

"Lo makin nggak bisa bohong."

Kiara memasukkan ponsel ke tas. "Nyanyi aja sana."

Satu jam pertama berjalan normal. Terlalu normal, malah. Galih menyanyikan lagu patah hati dengan nada berantakan. Cici tertawa sampai hampir tersedak. Bu Ratna hanya bertahan tiga puluh menit sebelum pamit karena ada rapat daring dengan redaktur nasional.

Setelah Bu Ratna pergi, beberapa orang dari ruangan sebelah mulai masuk. Mereka teman Dimas, katanya. Anak-anak muda berjam tangan mahal, parfum tajam, tawa keras. Salah satunya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit.

Brandon Lie.

Kiara mengenal wajah itu dari beberapa berita gaya hidup. Putra salah satu pemilik grup properti, sering muncul di acara amal, sering juga muncul di gosip klub malam. Tubuhnya tinggi, kemejanya terbuka dua kancing, dan matanya terlalu lama berhenti pada kaki perempuan.

"Wah, anak Kota Barat Post ternyata cantik-cantik," ujar Brandon sambil mengambil gelas dari meja tanpa permisi. "Siapa namamu?"

Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Kiara.

Cici yang duduk di sebelah Kiara langsung menjawab, "Dia sudah punya pacar."

Kiara hampir tersedak teh.

Brandon tertawa. "Aku cuma tanya nama. Pacarnya polisi?"

Cici membuka mulut, tapi Kiara lebih cepat menahan lengannya.

"Kiara," jawab Kiara singkat.

"Kiara." Brandon mengulang namanya seperti sedang mencicipi sesuatu. "Nama yang manis."

Kiara tersenyum sopan, lalu mengalihkan pandangan ke panggung kecil. "Permisi, aku mau ke toilet."

Cici langsung berdiri. "Gue ikut."

"Nggak usah. Kamu lanjut nyanyi. Aku sebentar."

Keputusan itu terbukti bodoh dalam waktu kurang dari dua menit.

Lorong menuju toilet lebih remang daripada ruang karaoke. Musik dari beberapa ruangan bercampur menjadi suara berat yang berdenyut di dinding. Kiara baru saja mencuci tangan ketika melihat Brandon berdiri di dekat pintu keluar, bersandar dengan senyum malas.

"Sendirian?"

Kiara menjaga jarak. "Teman-teman saya menunggu."

"Santai. Aku tidak gigit."

Orang yang merasa perlu mengatakan itu biasanya justru berbahaya.

Kiara berusaha melewatinya, tapi Brandon menggeser tubuh dan menutup jalan. Bau alkohol dari napasnya menyentuh wajah Kiara.

"Kamu reporter?" tanyanya.

"Magang."

"Bagus. Reporter suka cerita, kan? Aku punya banyak cerita."

Kiara meremas tali tasnya. "Kalau untuk wawancara, bisa lewat kantor."

Brandon tertawa rendah. "Formal sekali. Aku suka yang begini. Kelihatannya baik-baik, tapi kalau dibawa ke ruangan gelap, biasanya lebih menarik."

Darah Kiara mendingin.

Ia menekan tombol ponsel di dalam tas, membuka perekam suara lewat shortcut yang sengaja ia pasang sejak magang di kriminal. Galih pernah berkata, wartawan tidak boleh mencari bahaya, tapi kalau bahaya datang sendiri, pastikan ada bukti.

"Pak Brandon mabuk," kata Kiara, sengaja membuat suaranya stabil. "Sebaiknya kembali ke ruangan."

"Pak?" Brandon mendecak. "Kamu membuatku terasa tua."

Tangannya bergerak, menyentuh ujung rambut Kiara.

Kiara mundur. Punggungnya hampir menabrak dinding.

"Jangan sentuh saya."

Mata Brandon berubah. Senyumnya tetap ada, tapi sesuatu di baliknya retak.

"Perempuan selalu begitu. Awalnya sok suci. Begitu takut, baru menangis. Suaranya juga sama." Ia mendekat satu langkah. "Dulu ada satu yang teriak terus di klub. Berisik sekali."

Jantung Kiara menghantam tulang rusuk.

Ia tetap menatap Brandon, memastikan ponselnya masih merekam.

"Apa maksudnya?"

Brandon tertawa, kali ini lebih pelan. "Aku cuma menutup mulutnya. Salahnya sendiri melawan. Setelah itu semua orang ribut, bilang dia hilang, bilang dia dibunuh." Ia menunduk ke dekat telinga Kiara. "Padahal kalau dia diam, mungkin aku tidak perlu membuatnya diam selamanya."

Mual naik ke tenggorokan Kiara.

Ini bukan sekadar pelecehan.

Ini pengakuan.

Kiara memaksa tangannya tidak gemetar. "Anda membunuh dia?"

Brandon menatapnya dengan mata berkabut alkohol. "Kamu mau menulis itu?"

"Saya mau lewat."

"Belum."

Tangannya mencengkeram pergelangan Kiara.

Rasa sakit menyengat. Kiara menarik tangan, tapi cengkeraman Brandon lebih kuat. Di ujung lorong, seorang pelayan berhenti, ragu-ragu. Musik dari ruangan sebelah melonjak, menelan suara Kiara ketika ia berkata lebih keras, "Lepaskan saya."

Brandon malah tersenyum. "Gadis kecil, kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?"

Pintu ruang karaoke terbuka. Cici muncul dengan wajah panik.

"Ki!"

Brandon menoleh sebentar. Kesempatan itu dipakai Kiara untuk menghentakkan lututnya ke kaki Brandon. Cengkeramannya longgar. Kiara mundur, tapi Brandon mengumpat dan menariknya lagi, kali ini ke arah dadanya.

"Jangan sok berani!"

Beberapa orang keluar dari ruangan. Dimas mematung. Galih berlari mendekat. Pelayan tadi akhirnya memanggil security lewat handy talky.

Kiara masih menggenggam ponsel di dalam tas. Rekaman itu harus selamat.

Brandon mengangkat tangan, entah untuk menampar atau menarik rambutnya.

Sebelum tangan itu menyentuh Kiara, seseorang mencengkeram pergelangan Brandon dari belakang.

Gerakannya cepat. Keras. Brandon terhuyung mundur dan membentur dinding.

Lorong yang semula ribut mendadak sunyi.

Kiara mengangkat kepala.

Rayhan berdiri di sana dengan seragam dinas yang belum sempat ia ganti. Bahunya lebar menutup cahaya lorong, rahangnya mengeras, dan matanya tidak lagi dingin.

Matanya seperti pisau.

"Siapa," kata Rayhan pelan, satu per satu, "yang berani menyentuhmu?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!