Bab 1
Reuni yang Tak Terduga
Naomi Liem hampir menjatuhkan gelas sampanye di tangannya saat melihat lelaki itu berdiri di seberang ballroom.
Lampu kristal Hotel Aruna Megah memantul di permukaan marmer, memecah cahaya menjadi kilau kecil di antara gaun-gaun mahal, jas hitam, dan senyum para pebisnis yang saling mengukur keuntungan. Di tengah semua kemewahan itu, Darren Wijaya berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana, seolah seluruh ruangan memang diciptakan untuk menjadi latar belakangnya.
Empat tahun.
Selama itu Naomi belajar menata napas setiap kali nama Wijaya Group muncul di berita bisnis, belajar mengalihkan mata setiap kali melihat mobil hitam dengan nomor polisi yang mirip, belajar pura-pura tidak apa-apa saat malam terlalu panjang dan ingatan terlalu kejam.
Namun semua latihan itu runtuh hanya karena sepasang mata rubah yang menatapnya dari jarak beberapa meter.
Darren tidak banyak berubah. Tubuhnya masih tinggi, bahunya masih lebar, wajahnya masih terlalu tampan untuk seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya tanpa hadir di sana. Bedanya, aura di sekelilingnya kini jauh lebih tajam. Dulu dia pemuda ceroboh yang bisa tertawa sambil mencuri kentang goreng dari piring Naomi. Sekarang dia CEO Wijaya Group, nama yang cukup membuat semua orang di ballroom meluruskan punggung.
Naomi memaksa dirinya tersenyum pada klien di hadapannya.
"Maison de Belle bisa menyesuaikan detail payet dengan konsep acara Ibu," ucapnya, suaranya terdengar stabil. "Kalau Ibu menginginkan siluet yang lebih ringan, saya bisa kirimkan dua sketsa tambahan besok pagi."
Wanita paruh baya itu mengangguk puas. "Kamu memang teliti, Naomi. Tidak heran banyak istri direksi mulai pesan gaun di tempatmu."
"Terima kasih, Bu."
Tangan Naomi tetap menggenggam kaki gelas. Jemarinya dingin. Kuku-kukunya hampir memutih karena tekanan yang ia sembunyikan.
Ia tidak boleh panik.
Malam ini penting untuk boutique-nya. Undangan gala itu bukan sekadar pesta, melainkan pintu masuk ke lingkaran klien yang lebih besar. Maison de Belle tumbuh dari tabungan terakhir, cicilan mesin bordir, dan malam-malam tanpa tidur.
Ia tidak akan membiarkan seorang Darren Wijaya merusak malam itu.
"Naomi?"
Suara pria dari sisi kirinya membuat Naomi menoleh. Seorang pria berjas abu-abu berdiri terlalu dekat. Namanya Reza, salah satu vendor event yang sejak awal acara sudah beberapa kali mencoba membuka percakapan.
"Iya, Pak Reza?"
"Jangan terlalu formal begitu." Reza tertawa kecil. Matanya turun sebentar ke bahu Naomi yang terbuka oleh gaun hitam sederhana rancangannya sendiri. "Kita kan hampir seumuran. Panggil Reza saja."
Naomi menggeser tubuhnya setengah langkah, membuat jarak yang sopan. "Baik, Pak Reza. Ada yang bisa saya bantu?"
Senyum pria itu menipis, tetapi ia belum menyerah. "Setelah acara ini, beberapa vendor mau lanjut minum di lounge. Kamu ikut, ya? Sayang sekali kalau malam sebagus ini langsung pulang."
"Terima kasih, tapi saya ada pekerjaan."
"Pekerjaan bisa besok." Reza mencondongkan tubuh. Aroma parfum tajamnya membuat Naomi menahan napas. "Aku bisa antar pulang nanti. Kamu tidak perlu khawatir."
Naomi hendak menjawab ketika bayangan tinggi berhenti di sampingnya.
Udara di sekitar mereka seolah berubah.
"Dia bilang tidak."
Suara itu rendah, tenang, dan malas. Namun di balik kemalasan itu ada tekanan yang membuat Reza spontan meluruskan punggung.
Naomi tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Tubuhnya tahu lebih dulu. Napasnya tersangkut. Jantungnya memukul tulang rusuk seperti hendak keluar.
Reza menatap Darren, lalu warna wajahnya berubah. "Pak Darren."
Darren hanya meliriknya. Alisnya terangkat sedikit, gaya yang dulu sering membuat Naomi kesal karena selalu tampak seolah ia sedang menertawakan dunia.
"Telingamu bermasalah?" tanya Darren.
Reza kaku. "Maaf, Pak?"
"Wanita ini sudah menolakmu." Darren mengambil gelas dari tangan Naomi yang mulai bergetar, lalu meletakkannya di nampan pelayan yang kebetulan lewat. Gerakannya santai, tetapi posisinya menutup Naomi dari pria itu. "Apa perlu aku belikan alat bantu dengar?"
Beberapa orang di sekitar mulai menoleh. Di gala seperti ini, skandal sekecil apa pun bisa menyebar lebih cepat daripada foto di Instagram Story.
Reza tertawa gugup. "Saya cuma bercanda, Pak. Tidak ada maksud apa-apa."
"Bagus." Darren tersenyum tipis. "Pergi."
Satu kata itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Reza mundur. Pria itu mengangguk berkali-kali, lalu menghilang ke arah meja minuman.
Naomi menatap lantai marmer di depan sepatunya. Ia seharusnya berterima kasih. Ia seharusnya marah. Ia seharusnya pergi.
Namun tubuhnya hanya diam.
"Nao."
Panggilan itu jatuh pelan, hampir terlalu lembut untuk pria yang baru saja mengusir orang dengan satu kata.
Naomi mengangkat wajah.
Darren menatapnya tanpa senyum. Dari dekat, mata rubah itu lebih berbahaya daripada ingatannya. Ada lelah di sana, sesuatu yang gelap dan terlalu dalam. Naomi pernah mencintai mata itu sampai merasa dunia tidak perlu memberinya apa-apa lagi. Ia juga pernah membenci mata itu saat berdiri di pagar jembatan, ketika angin malam memotong kulit dan tidak ada satu pun pesan darinya yang datang.
"Jangan panggil aku begitu," ucap Naomi.
Rahang Darren bergerak pelan. "Kamu masih gemetar."
Naomi cepat menarik tangannya ke belakang tubuh. "Aku baik-baik saja."
"Kamu selalu bilang begitu saat tidak baik-baik saja."
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang Naomi harapkan. Ia tertawa kecil, kering. "Empat tahun tidak bertemu, dan kamu masih merasa mengenalku?"
"Aku memang mengenalmu."
"Tidak." Naomi menatapnya lurus. "Orang yang mengenalku tidak akan menghilang begitu saja."
Untuk pertama kalinya, wajah Darren retak. Hanya sepersekian detik, tetapi Naomi melihatnya. Rasa sakit. Penyesalan. Sesuatu yang hampir membuatnya mundur.
Ia tidak mau peduli.
"Selamat malam, Pak Darren." Naomi memaksakan senyum profesional. "Terima kasih sudah membantu. Saya harus menyapa tamu lain."
Ia berbalik, tetapi Darren menangkap pergelangan tangannya.
Sentuhan itu tidak kasar. Justru terlalu hati-hati, seolah ia menyentuh benda yang pernah pecah di tangannya sendiri.
Tetap saja, seluruh tubuh Naomi menegang.
Darren langsung melepasnya.
"Maaf," katanya.
Naomi menatap bekas sentuhan di pergelangan tangannya. Kulitnya terasa panas. "Jangan lakukan itu lagi."
"Baik."
Jawaban yang terlalu patuh itu membuat dadanya makin sesak. Dulu Darren akan menggoda, merajuk, atau menyelipkan lelucon buruk sampai Naomi menyerah tersenyum. Kini ia berdiri seperti lelaki yang takut salah bernapas.
Naomi membenci kenyataan bahwa bagian kecil di hatinya sakit melihat itu.
"Aku tidak tahu kamu akan datang," ucap Darren.
"Kalau tahu, kamu tidak akan datang?"
"Kalau tahu, aku akan datang lebih cepat."
Naomi menahan napas. "Jangan."
"Jangan apa?"
"Jangan bicara seolah semua masih sama."
Darren menunduk sedikit, cukup dekat hingga suara pesta di sekitar mereka terdengar menjauh. "Tidak ada yang sama, Nao. Aku tahu."
Naomi merasakan matanya memanas. Ia segera memalingkan wajah ke arah panggung, tempat pembawa acara mulai mengumumkan sesi lelang amal. Tepuk tangan memenuhi ballroom, menyelamatkannya dari keharusan menjawab.
Darren tidak bergerak dari sisinya.
Selama beberapa menit berikutnya, Naomi berpura-pura memperhatikan lelang. Ia bertepuk tangan saat orang lain bertepuk tangan, tersenyum saat kamera event mengarah, dan menolak menoleh meskipun ia bisa merasakan Darren menatapnya.
Seorang pelayan datang membawa kartu nama dari calon klien. Naomi menerimanya dengan kedua tangan, mencatat permintaan gaun malam warna champagne untuk acara bulan depan. Ia bekerja seperti biasa. Rapi. Tenang. Tidak bercela.
Hanya saja, setiap kali Darren bergeser sedikit, tubuhnya bereaksi seolah ada badai di sampingnya.
Ketika acara memasuki sesi networking bebas, Naomi tahu ia harus pergi sebelum pertahanannya habis. Ia mengirim pesan singkat kepada asistennya, lalu mengambil clutch dari meja.
Darren muncul di pintu keluar ballroom lebih dulu.
"Sopirmu belum datang," katanya.
Naomi berhenti. "Kamu mengawasi aku?"
"Aku memastikan kamu pulang aman."
"Aku sudah hidup empat tahun tanpa kamu, Darren. Aku bisa pulang sendiri."
Senyum Darren muncul tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Aku tahu. Itu yang paling membuatku takut."
Naomi menggenggam clutch lebih erat. "Kamu tidak punya hak takut untukku."
"Aku tahu."
Lagi-lagi jawaban itu. Tenang, menerima, dan membuat Naomi kehilangan tempat untuk melempar kemarahannya. Ia lebih mudah menghadapi Darren yang arogan. Darren yang begini membuat luka lama bergerak di bawah kulit.
"Berhenti mengikutiku," ucapnya.
"Tidak bisa."
Naomi menatapnya tajam.
Darren memasukkan kedua tangan ke saku. Sikapnya kembali malas, tetapi suaranya serak. "Aku sudah mencoba berhenti selama empat tahun. Gagal."
Naomi tidak sanggup mendengar lebih banyak. Ia berjalan melewatinya dengan langkah cepat. Di luar ballroom, koridor hotel terasa lebih dingin. Suara pesta tertinggal di belakang.
Ia tidak melihat ke belakang.
Lift turun terlalu lambat. Bayangannya di dinding stainless tampak pucat, bibirnya kehilangan warna. Naomi menekan kalung kecil di dadanya, liontin bertuliskan Hal Baik Akan Datang yang selalu ia pakai sejak ayahnya memberikannya bertahun-tahun lalu.
"Hal baik," bisiknya nyaris tanpa suara.
Pintu lift terbuka.
Naomi melangkah ke lobi, menyerahkan tiket valet, lalu menunggu di bawah kanopi hotel. Hujan gerimis turun tipis, membuat udara Kota Megah berbau aspal basah dan bunga dari dekorasi acara. Mobil-mobil mewah datang bergantian. Kilatan lampu kamera masih sesekali muncul dari pintu utama.
Mobil putih Naomi akhirnya berhenti di depannya.
Ia masuk dengan cepat, ingin segera menutup dunia. Namun begitu pintu terbuka, tubuhnya membeku.
Di kursi penumpang depan terbaring sebuket mawar putih.
Bukan mawar merah yang biasa dikirim pria-pria untuk menggoda. Bukan bunga mahal yang dipilih asal oleh sekretaris. Mawar putih. Bunga yang dulu ia sukai karena ayahnya selalu membeli satu tangkai saat Naomi kecil.
Di antara kelopak yang masih basah, ada sebuah kartu kecil.
Tangan Naomi gemetar saat mengambilnya.
Tulisan di kartu itu rapi, hitam, dan sangat Darren.
Aku sudah menunggu 4 tahun.
Napas Naomi berhenti sejenak.
Di luar kaca mobil, di bawah cahaya lampu hotel yang pecah oleh gerimis, Darren berdiri tidak jauh dari pintu lobi. Ia tidak mendekat. Ia hanya menatapnya, seolah seluruh jawaban yang tidak pernah ia terima selama empat tahun tersangkut di antara mereka.
Naomi meremas kartu itu di dadanya.
Untuk pertama kalinya malam itu, air matanya jatuh tanpa sempat ia tahan.
Bab 2
Lelaki Bermata Rubah
Kartu kecil itu tetap berada di dada Naomi bahkan setelah mobilnya meninggalkan Hotel Aruna Megah.
Aku sudah menunggu 4 tahun.
Kalimat itu terlalu pendek untuk menampung empat tahun kesunyian. Terlalu ringan untuk semua malam ketika Naomi terbangun dengan napas patah, meraba ponsel, lalu mengingat tidak ada lagi nama Darren di sana. Nomornya hilang. Pesannya hilang. Jalan pulang ke masa itu pun hilang.
Gerimis menempel di kaca mobil seperti bekas air mata. Sopir valet yang tadi mengantar mobilnya sudah kembali ke hotel, dan Naomi mengemudi sendiri dengan kedua tangan menggenggam setir. Mawar putih di kursi penumpang membuat ruang mobil terasa sempit.
Di lampu merah, ia memejamkan mata sebentar.
Empat tahun lalu, hujan juga turun.
Naomi berdiri di tepi jembatan Kota Megah dengan pakaian basah, rambut menempel di pipi, dan dada yang terasa kosong. Malam itu ia baru saja meninggalkan apartemen kecil yang dulu menjadi tempat ia dan Darren merencanakan hal-hal bodoh. Liburan setelah Darren selesai rapat. Kafe kecil yang ingin mereka coba. Gaun putih sederhana yang pernah ia gambar sambil bercanda.
Semua rencana itu hancur dalam satu hari.
Kevin Halim datang dengan wajah berat, suara tertahan, dan kalimat yang sampai sekarang masih bisa Naomi dengar.
"Pergilah dari hidup Darren. Kalau kamu benar-benar menyayanginya, jangan membuatnya kehilangan segalanya."
Naomi tidak ingat semua kata setelah itu. Yang ia ingat hanya rasa malu. Rasa kecil. Rasa tidak pantas yang menutup tenggorokannya. Ia menelepon Darren berkali-kali, tetapi nomornya tidak tersambung. Pesan-pesannya tidak terkirim. Di apartemen, barang-barang kecil miliknya sudah ditata dalam kardus, seolah hidupnya bisa dikemas dan dibuang begitu saja.
Di jembatan itu, pikirannya tidak lagi jernih.
Ia tidak melompat karena cinta itu indah. Tidak. Ia melompat karena saat itu ia terlalu lelah untuk mencari pintu lain. Dunia terasa gelap, dan ia membuat keputusan paling buruk dalam hidupnya.
Air sungai menghantam tubuhnya seperti ribuan batu kecil.
Setelah itu hanya dingin, suara orang berteriak, lampu ambulans, dan tangan asing yang menariknya kembali.
Naomi membuka mata dengan napas tersengal.
Klakson dari belakang membuatnya sadar lampu sudah hijau.
"Maaf," gumamnya, meski tidak ada yang mendengar.
Ia menepikan mobil sebentar di depan minimarket dua puluh empat jam, menunduk di atas setir, lalu memaksa dirinya bernapas. Satu. Dua. Tiga. Ia masih di sini. Ia bukan gadis di jembatan itu lagi. Ia punya Maison de Belle, punya pegawai yang menunggu gaji, punya klien yang memercayai tangannya, punya Tiffany yang akan memarahinya kalau ia pulang dengan mata sembap.
Ia menyeka pipi, mengambil mawar putih itu, lalu meletakkannya di kursi belakang.
"Kamu tidak boleh masuk lagi semudah ini," bisiknya. Entah kepada Darren, entah kepada kenangan.
Keesokan paginya, Naomi datang ke Maison de Belle lebih awal dari biasa.
Boutique itu berdiri di sudut jalan komersial Kota Megah, dengan jendela kaca tinggi dan papan nama hitam emas yang selalu ia bersihkan sendiri. Di dalam, manekin memakai gaun champagne pesanan klien, rak kain tertata menurut warna, dan aroma kopi dari mesin kecil di pantry bercampur dengan wangi bunga segar.
Tiffany Lin sudah ada di sofa pelanggan, menyilangkan kaki sambil memegang paper bag roti.
"Lo telat tujuh menit dari jadwal orang gila lo sendiri," kata Tiffany tanpa menoleh. "Berarti ada sesuatu."
Naomi menggantung tasnya. "Aku cuma kurang tidur."
Tiffany menoleh. Matanya langsung menyipit. "Mata lo bengkak."
"Alergi."
"Alergi mantan?"
Naomi terdiam.
Tiffany langsung berdiri. "Serius? Dia muncul?"
Naomi belum sempat menjawab ketika Tiffany sudah menarik lengannya ke ruang fitting paling dalam, menutup tirai, lalu menatapnya seperti polisi interogasi.
"Ceritain. Dari awal. Jangan sensor bagian yang bikin gue pengin lempar sepatu."
Maka Naomi bercerita. Tentang ballroom, Reza, Darren yang mengusir pria itu, suara rendah yang memanggilnya Nao, dan mawar putih di mobil.
Tiffany mendengar sampai akhir dengan ekspresi makin gelap.
"Empat tahun dia hilang, sekarang datang bawa bunga? Enak banget hidupnya." Tiffany berkacak pinggang. "Dia pikir hati lo paket COD? Tinggal muncul, kasih kartu, selesai?"
Naomi hampir tersenyum. "Tiff."
"Jangan Tiff-Tiff-in gue. Gue masih sopan ini." Tiffany menunjuk tirai fitting. "Kalau dia datang ke sini, gue gulung pakai kain tule."
"Dia tidak akan datang."
Ucapan itu terbukti salah sebelum jam makan siang.
Pukul sebelas, seorang kurir berseragam rapi datang membawa satu vas besar mawar putih. Kartu kecilnya hanya berisi satu kalimat.
Jangan lupa sarapan.
Naomi menatap kartu itu lama. Di bawahnya ada kotak makanan dari restoran bubur ayam langganannya, lengkap dengan cakwe ekstra yang dulu selalu Darren rebut dari mangkuknya.
Tiffany membaca kartu itu dari bahunya. "Oke. Level stalker romantis. Gue benci harus bilang ini, tapi dia ingat detail."
"Kita kembalikan."
"Betul." Tiffany mengambil vas itu dengan kedua tangan. "Biar gue yang kembalikan ke neraka asalnya."
Namun sebelum ia sempat bergerak, pintu boutique terbuka lagi.
Pria bertubuh agak berisi masuk dengan napas terburu-buru. Wajahnya ramah, kemejanya rapi, dan kedua tangannya memegang buket tambahan seolah sedang membawa bom.
"Permisi, Bu Naomi?" tanyanya.
Naomi menatapnya. "Iya. Anda?"
"Saya Billy Huang, asisten Pak Darren." Pria itu tersenyum gugup. "Bos minta saya memastikan bunganya sampai dan sarapannya dimakan selagi hangat."
Tiffany maju satu langkah. "Oh, jadi lo kaki tangan lelaki bermata rubah itu?"
Billy berkedip. "Maaf?"
"Dengar, Billy." Tiffany mengambil buket dari tangannya, lalu menyodorkannya kembali ke dada Billy. "Bilang ke bos lo, Naomi bukan showroom mobil. Enggak bisa dia kunjungi kapan pun dia kangen."
Billy memeluk buket itu seperti tameng. "Saya cuma menjalankan tugas, Ci."
"Gue bukan Ci lo."
"Baik, Kak."
"Jangan Kak juga."
Naomi menahan tawa kecil untuk pertama kalinya sejak semalam. Billy tampak semakin panik.
"Pak Darren juga bilang," lanjut Billy hati-hati, "kalau Bu Naomi tidak mau makan, saya harus berdiri di sini sampai beliau makan."
Tiffany memutar mata. "Bagus. Lo bisa berdiri di luar. Di bawah matahari. Sambil merenungi dosa bos lo."
Naomi menyentuh lengan Tiffany. "Tiff, jangan menyiksa orang yang cuma kerja."
"Dia kerja untuk sumber masalah."
Billy langsung mengangguk. "Saya paham posisi saya memang sulit."
Kalimat polos itu membuat Tiffany hampir kehilangan galaknya. Ia mendengus, mengambil kotak bubur, lalu menaruhnya di meja kerja Naomi.
"Lo makan," katanya pada Naomi. "Bukan karena dia. Karena gue nggak mau lo pingsan dan bikin gue harus urus orderan gaun sendirian."
Naomi menatap bubur itu. Aroma hangatnya naik perlahan. Perutnya memang kosong sejak semalam.
Akhirnya ia membuka tutupnya.
Billy menghela napas lega.
Tiffany menunjuk pintu. "Nah, saksi sudah melihat korban makan. Pergi."
"Tapi Bos bilang saya harus menunggu konfirmasi foto."
"Lo mau gue foto lo diusir?"
Billy tidak menunggu ancaman kedua. Ia membungkuk cepat pada Naomi, lalu mundur sampai hampir menabrak pintu kaca.
Sepanjang siang, Darren tidak muncul. Tapi jejaknya ada di mana-mana.
Kopi tanpa gula diantar pukul dua, tepat saat Naomi biasanya mulai pusing karena menatap sketsa. Payung hitam baru muncul di depan pintu ketika langit mendung. Bahkan sopir Grab yang dipesan salah satu pegawai bercerita, ada mobil hitam berhenti lama di seberang jalan sejak pagi.
Naomi tahu itu Darren.
Ia membenci caranya mengingat semua hal kecil. Lebih membenci lagi karena hatinya, yang sudah ia paksa membatu, masih bisa berdenyut oleh hal sekecil bubur hangat.
Sore turun bersama hujan tipis.
Naomi berdiri di balik kaca boutique, memandangi jalan yang basah. Tiffany sedang di pantry, mengomel pada supplier kain lewat telepon. Pegawai lain sudah pulang lebih dulu. Maison de Belle menjadi sunyi, hanya tersisa suara jarum mesin jahit yang berhenti dan aroma kain baru.
Sebuah mobil sport hitam berhenti di depan boutique.
Naomi tidak bergerak.
Pintu mobil terbuka. Darren keluar dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, rambut sedikit basah oleh hujan, dan satu tangan masuk ke saku. Di bawah lampu jalan, mata rubahnya tampak lebih terang, seolah seluruh kota boleh gelap asal ia tetap bisa menemukan Naomi.
Tiffany keluar dari pantry dan langsung mengumpat pelan. "Nah. Bos besar sok romantisnya datang sendiri."
Darren bersandar di sisi mobil, menatap Naomi melalui kaca.
Lalu ia tersenyum, kecil dan nakal, seperti empat tahun tidak pernah berdiri di antara mereka.
"Nao," ucapnya ketika Naomi membuka pintu, suaranya menembus gerimis. "Kamu mau terus menghindariku sampai kapan?"
Bab 3
Bekas Tunangan Palsu
"Kamu mau terus menghindariku sampai kapan?"
Pertanyaan Darren menggantung di antara suara gerimis dan aroma kain baru dari dalam Maison de Belle.
Naomi berdiri di ambang pintu, satu tangan masih memegang handle kaca. Di belakangnya, Tiffany sudah bersiap seperti penjaga keamanan pribadi, hanya kurang pentungan. Sementara Darren bersandar di mobil sport hitamnya dengan wajah terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyerbu hidup orang lain sejak pagi.
"Sampai kamu mengerti arti kata berhenti," jawab Naomi.
Darren mengangkat alis. "Aku mengerti. Aku hanya tidak setuju."
"Itu bukan jawaban normal."
"Aku memang tidak pernah normal kalau urusannya kamu."
Tiffany mengeluarkan suara muntah kecil. "Pak CEO, kalau mau gombal, sewa billboard. Jangan halangi pintu usaha orang."
Darren meliriknya. "Tiffany Lin."
"Wah, tahu nama gue. Menakutkan."
"Aku tahu kamu sahabat Naomi."
"Bagus. Berarti kamu juga tahu aku punya hak moral untuk mengusir kamu."
Naomi memijit pelipis. "Tiff."
Darren justru tersenyum kecil. "Aku tidak akan masuk kalau Naomi tidak mengizinkan."
"Bagus," kata Naomi cepat. "Aku tidak mengizinkan."
"Kalau begitu aku tunggu di luar."
"Darren."
"Aku punya payung."
Seolah membuktikan, Billy yang entah sejak kapan muncul dari mobil belakang segera berlari membawa payung hitam besar. Wajahnya tampak pasrah. "Bos, hujannya makin deras."
Darren tidak mengambil payung itu. Matanya tetap pada Naomi. "Kamu belum makan malam."
"Itu bukan urusanmu."
"Perutmu sakit kalau telat makan."
Naomi membenci cara tubuhnya bereaksi pada kalimat itu. Ia memang belum makan sejak bubur siang tadi. Perutnya kosong, tetapi yang lebih mengganggu adalah dada yang terasa penuh.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Aku tahu." Darren menatapnya dengan suara lebih pelan. "Tapi aku ingin ikut mengurus."
Naomi hampir goyah.
Hampir.
Sebelum ia sempat menjawab, suara mobil lain berhenti mendadak di tepi jalan. Sebuah sedan merah masuk terlalu dekat ke depan boutique, membuat Billy cepat mundur. Pintu terbuka, lalu seorang perempuan turun dengan gaun krem mahal, rambut cokelat tertata sempurna, dan tas desainer menggantung di lengan.
Vanessa Shen.
Naomi mengenal wajah itu dari foto-foto acara amal dan majalah bisnis. Putri Vincent Shen, sosialita yang selalu tersenyum seperti hidup tidak pernah menolak permintaannya.
Malam itu, senyumnya tajam.
"Darren," panggil Vanessa, suaranya cukup keras untuk didengar beberapa orang yang berteduh di depan ruko sebelah. "Jadi ini alasan kamu menolak makan malam dengan keluargaku?"
Tiffany menoleh pada Naomi. "Siapa lagi ini?"
Naomi tidak menjawab. Matanya tertuju pada tangan Vanessa yang langsung meraih lengan Darren dengan akrab.
Gerakan itu sederhana. Namun bagi Naomi, rasanya seperti ada pintu lama yang dibuka paksa.
Empat tahun.
Mungkin selama itu Darren memang tidak sendirian.
Mungkin semua pesan yang hilang, semua telepon yang tidak tersambung, semua malam ketika ia hampir mati karena merasa dibuang, hanya berarti satu hal: Darren sudah memilih hidup lain.
Naomi menegakkan punggung. Ia tidak akan hancur di depan perempuan ini.
Darren menurunkan pandangannya ke tangan Vanessa di lengannya. Ekspresinya berubah dingin.
"Lepas."
Vanessa membeku sesaat, lalu tertawa manis. "Kamu marah? Aku hanya khawatir. Tante bilang kamu sibuk sekali belakangan ini, ternyata sibuk mengejar perempuan lain."
Beberapa orang mulai berbisik. Di dalam boutique, dua pegawai yang belum pulang menatap dari balik rak kain. Tiffany maju setengah langkah, tetapi Naomi menahannya.
Vanessa melihat Naomi dari ujung kepala sampai kaki. Senyumnya melebar.
"Kamu Naomi, kan?" katanya. "Aku sering dengar namamu. Ternyata benar, kamu cantik. Tidak heran Darren punya nostalgia."
Kata nostalgia diucapkan seperti sesuatu yang sudah lewat masa berlakunya.
Naomi tersenyum tipis. "Terima kasih sudah datang ke toko saya. Kalau mau pesan gaun, silakan buat janji lewat admin."
Tiffany hampir tertawa.
Wajah Vanessa mengeras, tetapi ia cepat menutupinya. "Aku tidak datang untuk pesan gaun. Aku datang menjemput tunanganku."
Kalimat itu jatuh seperti kaca pecah.
Tunanganku.
Naomi merasakan ujung jarinya dingin. Ia tidak menatap Darren. Ia takut matanya akan bertanya sebelum mulutnya sempat membangun tembok.
Darren bersuara lebih dulu.
"Vanessa."
Hanya satu nama, tetapi nadanya membuat Billy menunduk dan Tiffany berhenti bergerak.
Vanessa tetap tersenyum, meski bibirnya mulai kaku. "Apa? Aku salah bicara? Bukankah semua orang tahu keluarga kita sedang membicarakan pertunangan?"
"Keluargamu yang membicarakan."
Vanessa memucat.
Darren melangkah mundur dari tangannya, seolah sentuhan tadi meninggalkan noda. "Aku tidak pernah setuju."
"Darren, jangan mempermalukanku di depan orang luar."
"Kalau takut malu, jangan membuat kebohongan di depan umum."
Bisik-bisik di sekitar mereka makin jelas. Seseorang bahkan mengangkat ponsel, tetapi Billy cepat memberi isyarat pada dua pengawal untuk menurunkannya dengan sopan.
Naomi tetap berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang, tetapi dadanya berdenyut sakit. Ia ingin percaya. Ia tidak mau percaya. Dua keinginan itu saling mencakar sampai napasnya terasa tipis.
Vanessa menatap Naomi, lalu mendesis pelan, "Kamu puas? Kamu pikir kamu bisa kembali setelah empat tahun dan mengambil posisi yang bukan milikmu?"
Naomi mengangkat mata. "Saya tidak mengambil apa pun."
"Jangan pura-pura polos."
"Saya juga tidak perlu pura-pura menjadi tunangan seseorang."
Tiffany langsung menutup mulut, tetapi matanya berbinar puas.
Wajah Vanessa merah. "Kamu!"
Ia hendak maju, tetapi Darren sudah berdiri di antara mereka. Tidak menyentuh Naomi, tidak menoleh, tetapi seluruh tubuhnya menjadi dinding.
"Pergi," kata Darren.
Vanessa menatapnya tidak percaya. "Kamu mengusirku demi dia?"
"Aku mengusirmu karena kamu mengganggu istriku."
Naomi membeku.
Tiffany ikut membeku. Billy batuk keras, seperti tersedak udara.
Darren seolah baru menyadari kata yang keluar dari mulutnya. Namun ia tidak menariknya kembali. Matanya tetap dingin pada Vanessa.
Vanessa tertawa pendek. "Istri? Kamu sudah gila?"
"Calon istriku," koreksi Darren, suaranya tetap datar. "Dan satu-satunya perempuan yang akan menerima nama Wijaya dariku."
Naomi menoleh tajam. "Darren."
Darren tidak menatapnya. Ia tahu kalau ia menatap Naomi sekarang, mungkin keberaniannya pecah menjadi permohonan.
Vanessa menggenggam tasnya sampai buku jarinya memutih. "Keluargaku tidak akan tinggal diam."
"Silakan." Darren tersenyum tanpa hangat. "Aku juga sudah terlalu lama diam."
Untuk beberapa detik, Vanessa tampak seperti ingin menampar seseorang. Namun pengawal Darren berdiri tidak jauh, Billy menatapnya dengan wajah minta maaf yang tidak berguna, dan orang-orang sekitar sudah melihat cukup banyak. Akhirnya ia mundur.
"Kamu akan menyesal," katanya pada Naomi.
Naomi menahan tatapannya. "Saya sudah pernah menyesal untuk hal yang jauh lebih besar."
Vanessa masuk ke mobilnya dengan pintu dibanting keras. Sedan merah itu pergi, menyisakan percikan air di aspal dan bisikan yang masih berputar di udara.
Tiffany menghela napas panjang. "Oke. Itu lumayan seru. Tapi bagian calon istri tadi perlu dibahas pakai kursi dan mungkin benda tajam."
Naomi tidak tertawa.
Ia menatap Darren. "Apa maksudmu?"
Darren akhirnya berbalik. Hujan membasahi ujung rambutnya, membuat wajahnya tampak lebih pucat. Semua kenakalan hilang dari matanya.
"Dia bukan siapa-siapa," ucapnya.
"Kamu pikir itu cukup?"
"Tidak." Darren melangkah satu langkah mendekat, lalu berhenti sebelum melewati batas yang tidak Naomi izinkan. "Tapi itu kebenaran pertama yang harus kamu dengar."
Naomi menelan sesuatu yang pahit di tenggorokannya.
Darren menatapnya, suara rendahnya jatuh lebih dalam dari hujan.
"Yang kuinginkan hanya kamu. Selalu."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!