Indonesia
NovelToon NovelToon

Obsesi Adik Ipar

Episode 1

Bab 001

Pria Itu Kembali

Pintu utama rumah keluarga Liem terbuka tepat ketika lilin di depan foto Kevin hampir padam.

Yola baru saja menangkupkan kedua tangan, belum sempat menyelesaikan doa pendek yang selalu ia ucapkan setiap sore. Aroma dupa tipis menggantung di ruang memorial, bercampur dengan wangi pear blossom dari saputangan putih di pangkuannya. Di luar, suara roda koper berhenti di teras. Setelah itu, rumah yang biasanya tenang seperti menahan napas.

Sari yang berdiri tidak jauh dari ambang pintu menoleh lebih dulu. Wajahnya berubah tegang.

"Nona Yola," bisiknya, "Tuan Muda sudah sampai."

Jari Yola meremas saputangan itu.

Tuan Muda.

Selama lima tahun menjadi bagian keluarga Liem, Yola hanya mendengar sebutan itu dari mulut para staf. Rayhan Liem, adik kedua Kevin. Pria yang pergi ke Kalimantan sebelum pernikahan Yola dengan Kevin benar-benar menjadi kehidupan rumah tangga. Pria yang namanya selalu disebut dengan suara pelan, seolah rumah ini punya aturan khusus untuk tidak mengganggu bayangannya.

Kevin pernah tersenyum ketika menceritakan adiknya.

"Rayhan keras, tapi dia menjaga keluarga lebih baik dari siapa pun."

Waktu itu, Yola percaya karena Kevin mengatakannya dengan mata lembut.

Sekarang, ketika langkah berat terdengar mendekat dari koridor marmer, kalimat itu terasa seperti peringatan yang terlambat.

"Yola?"

Suara Mama Liem datang dari arah ruang tengah. Yola segera berdiri, melipat saputangan Kevin, lalu menyelipkannya di sela buku puisi bersampul biru tua di atas meja memorial.

"Iya, Mama."

Ia keluar dari ruang memorial dengan langkah tenang. Setidaknya, ia berusaha terlihat tenang. Masa berkabung sudah berjalan satu tahun, tetapi tubuhnya masih hafal cara menjadi janda Kevin: berjalan pelan, bicara lembut, tidak membuat suara yang bisa mengganggu orang lain.

Di ruang tengah, semua staf berdiri berjajar di belakang Pak Wahyu. Mama Liem berdiri di dekat sofa, matanya basah, bibirnya bergetar menahan senyum.

Dan di ambang pintu utama, seorang pria berdiri dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku.

Rayhan Liem tidak mirip Kevin.

Itu pikiran pertama yang menghantam Yola.

Kevin selalu tampak seperti cahaya pagi yang jatuh di atas buku. Pucat, hangat, rapuh, dan penuh kata-kata lembut. Rayhan seperti pintu besi yang baru ditutup dari luar. Tinggi, bahunya lebar, garis wajahnya tegas. Kulitnya lebih gelap karena matahari Kalimantan, dan matanya tidak mencari sambutan siapa pun.

Matanya memeriksa rumah seperti memeriksa aset.

Lalu berhenti pada Yola.

Napas Yola tersangkut.

Tidak ada rasa terkejut di wajah pria itu. Tidak ada sapaan keluarga, tidak ada senyum untuk istri almarhum kakaknya. Tatapannya turun sekilas ke baju hitam sederhana yang dikenakan Yola, naik ke wajahnya, lalu berhenti terlalu lama di matanya.

Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang sudah lama ia dengar.

"Rayhan," Mama Liem memanggil dengan suara bergetar.

Baru saat itu tatapan Rayhan lepas dari Yola.

Ia berjalan mendekati ibunya. Para staf menunduk serempak. Bahkan Pak Wahyu, yang sudah bekerja untuk keluarga Liem lebih dari dua puluh tahun, tampak menahan tubuhnya agar tidak terlalu kaku.

"Mama." Rayhan menunduk sedikit saat Mama Liem memeluknya.

Pelukan itu hanya berlangsung sebentar. Mama Liem yang memeluk erat, Rayhan yang membiarkan. Tangannya menyentuh punggung ibunya satu kali, singkat, seperti orang yang tidak terbiasa menunjukkan rindu.

"Kamu kurus," kata Mama Liem sambil menatap wajah putranya. "Kalimantan tidak memberimu makan?"

"Pekerjaan memberi cukup."

"Jawabanmu masih sama saja." Mama Liem menghela napas, lalu menoleh pada Yola. "Yola, sini, Nak."

Kaki Yola bergerak sebelum pikirannya selesai menolak.

Ia berhenti di samping Mama Liem, memberi jarak yang pantas. Jarak yang seharusnya aman. Jarak antara seorang janda kakak dan adik iparnya.

"Ini Yola," ujar Mama Liem, suaranya melembut. "Istri Kevin."

Rayhan menatapnya lagi.

Yola menunduk sedikit. "Selamat datang kembali, Pak Rayhan."

Ada jeda.

Jeda kecil yang membuat suara hujan di luar terdengar lebih jelas.

"Pak Rayhan?" ulangnya pelan.

Yola mengangkat mata, lalu langsung menyesal. Dari dekat, mata Rayhan lebih gelap daripada yang ia kira. Bukan hanya dingin. Ada sesuatu di sana yang tajam dan terlalu diam.

"Saya tidak tahu harus memanggil Anda apa," jawab Yola, tetap sopan.

Sudut bibir Rayhan bergerak sedikit. Bukan senyum.

"Kamu istri kakakku."

Kalimat itu seharusnya menjelaskan posisi mereka. Seharusnya membuat Yola merasa lebih aman.

Namun cara Rayhan mengucapkannya membuat tengkuk Yola meremang.

"Maka panggil aku seperti keluarga."

Yola merasakan tangan Mama Liem menyentuh lengannya, lembut, memberi isyarat agar ia tidak terlalu tegang.

"Kak Rayhan," kata Yola akhirnya.

Tatapan Rayhan tidak berubah. "Kaku sekali."

Yola tidak menjawab.

Mama Liem tersenyum canggung, berusaha menghangatkan ruangan. "Kalian baru pertama kali bertemu. Wajar masih kaku. Rayhan, istirahat dulu. Perjalananmu pasti melelahkan. Pak Wahyu sudah siapkan kamar lamamu."

"Nanti." Rayhan melepas jam tangannya dan menyerahkannya kepada Ardi yang berdiri di belakangnya. "Aku ingin melihat ruang memorial."

Mama Liem terdiam sesaat.

Yola ikut terdiam.

Tidak ada yang salah dengan permintaan itu. Kevin adalah kakaknya. Ia berhak masuk, berhak berdoa, berhak mengenang. Tapi entah mengapa, mendengar Rayhan menyebut ruang memorial membuat Yola merasa pintu kecil yang selama ini ia jaga rapat-rapat akan didobrak tanpa izin.

"Tentu," kata Mama Liem akhirnya. "Yola setiap hari merawatnya. Semua barang Kevin masih rapi."

Rayhan melirik Yola. "Setiap hari?"

"Iya," jawab Yola.

"Masih?"

Satu kata itu menampar lebih keras daripada pertanyaan panjang.

Wajah Mama Liem berubah. "Rayhan."

Rayhan tidak menoleh kepada ibunya. Ia tetap menatap Yola, seolah hanya jawaban Yola yang penting.

Yola menahan ujung jarinya agar tidak gemetar. "Kevin suami saya. Satu tahun tidak menghapus kewajiban saya untuk mendoakannya."

Untuk pertama kalinya, sesuatu lewat di mata Rayhan.

Cepat sekali. Hampir tidak terlihat.

"Suami," gumamnya.

Nada itu rendah, tetapi cukup untuk membuat Sari menunduk lebih dalam.

Mama Liem menarik napas. "Yola, Nak, bantu Mama cek dapur. Rayhan biar diantar Pak Wahyu."

Yola mengangguk. Ia tahu Mama Liem sedang menyelamatkan suasana. "Baik, Mama."

Ia baru berbalik ketika suara Rayhan menghentikannya.

"Kak Yola."

Panggilan itu terdengar benar, tetapi terasa salah di telinganya.

Yola menoleh pelan. "Iya?"

Rayhan berjalan melewatinya menuju ruang memorial. Saat bahunya hampir sejajar dengan Yola, wangi hujan, kopi hitam, dan kulit yang terkena matahari menyentuh hidungnya. Berbeda jauh dari aroma obat dan buku lama yang dulu melekat pada Kevin.

"Jangan pindahkan apa pun dari ruangan itu," katanya.

Yola menatap punggungnya. "Saya tidak pernah memindahkan barang Kevin tanpa izin Mama."

Rayhan berhenti di depan pintu ruang memorial. Kepalanya menoleh sedikit, cukup untuk membuat garis rahangnya terlihat keras.

"Aku tidak bicara tentang izin Mama."

Ruangan mendadak sunyi.

Sebelum Yola sempat bertanya, Rayhan masuk ke ruang memorial. Pak Wahyu buru-buru mengikuti, tetapi Rayhan mengangkat tangan.

"Tinggalkan aku."

Pak Wahyu berhenti. "Baik, Tuan Muda."

Pintu ruang memorial tidak ditutup. Dari tempatnya berdiri, Yola bisa melihat Rayhan berhenti di depan foto Kevin. Punggung pria itu tegak, tak bergerak. Ia tidak menangkupkan tangan. Tidak menunduk. Hanya berdiri, lama sekali, seperti sedang berhadapan dengan orang yang masih hidup.

Yola baru sadar ia menahan napas ketika Mama Liem menggenggam tangannya.

"Jangan masukkan ke hati," bisik Mama. "Rayhan memang seperti itu."

Yola mencoba tersenyum. "Saya mengerti, Mama."

Ia tidak mengerti.

Sama sekali tidak.

Beberapa menit kemudian, Rayhan keluar. Wajahnya tetap datar. Tidak ada bekas duka, tidak ada mata merah, tidak ada tanda bahwa ia baru saja berdiri di depan foto kakaknya yang meninggal setahun lalu.

Yola menunduk untuk memberi jalan.

Saat itulah ia melihat sesuatu.

Buku puisi Kevin di atas meja memorial terbuka sedikit. Saputangan putih yang tadi ia selipkan di sana tidak terlihat.

Jantung Yola jatuh.

Ia melangkah kecil ke arah ruangan, tetapi Rayhan sudah berdiri di depannya.

"Mencari ini?"

Di antara jari panjangnya, saputangan putih itu terlipat rapi.

Wajah Yola memucat. "Itu milik Kevin."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, tolong kembalikan."

Rayhan menatap saputangan itu, lalu menatap Yola. "Kenapa kamu yang menyimpannya?"

Pertanyaan itu membuat pipi Yola panas. Bukan karena malu, melainkan karena cara Rayhan mengiris batas yang seharusnya dihormati.

"Karena Kevin memberikannya kepada saya."

"Semua yang Kevin miliki kembali ke keluarga Liem setelah dia meninggal."

Mama Liem terkejut. "Rayhan, jangan bicara seperti itu."

Yola menatap pria di depannya. Kali ini ia lupa menunduk.

"Saya juga keluarga Liem," katanya pelan.

Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang mengisi ruang tengah.

Rayhan memasukkan saputangan itu ke saku kemejanya.

"Kalau begitu," katanya, suaranya rendah, "mulai sekarang ingat baik-baik kamu berada di rumah siapa."

Yola berdiri kaku.

Pria itu berbalik dan berjalan menuju tangga, meninggalkan aroma hujan yang dingin di udara.

Baru setelah langkahnya menghilang di lantai atas, Yola menyadari telapak tangannya kosong.

Dan untuk pertama kalinya sejak Kevin meninggal, rumah keluarga Liem terasa bukan seperti tempat berlindung, melainkan seperti pintu kandang yang baru saja dikunci dari dalam.

Episode 2

Bab 002

Bayangan di Malam Hari

Yola tidak bisa tidur karena telapak tangannya masih mengingat bentuk saputangan itu.

Kain putih kecil itu hanya sepotong benda tua bagi orang lain. Bagi Yola, ia adalah suara Kevin di hari-hari terakhirnya, saat pria itu terlalu lemah untuk berjalan ke taman tetapi masih berusaha tersenyum setiap kali Yola datang membawa teh manis hangat.

"Simpan saja," kata Kevin waktu itu, napasnya pendek. "Kalau suatu hari kamu menangis, setidaknya jangan pakai tisu kasar."

Kevin mengatakannya sambil bercanda.

Yola menerimanya sambil menahan air mata.

Malam ini, saputangan itu berada di saku kemeja Rayhan.

Pikiran itu membuat dadanya sesak.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh ketika Yola akhirnya turun dari tempat tidur. Di luar kamar, rumah sudah sunyi. Hanya lampu koridor yang menyala remang, memantulkan warna kuning pucat di lantai marmer.

Ia mengambil cardigan tipis dari kursi, lalu membuka pintu pelan.

Sari yang duduk di kursi kecil dekat ujung koridor langsung berdiri. Matanya masih berat, tetapi tubuhnya sigap.

"Nona Yola? Mau ke mana?"

Yola menahan langkah. "Kamu belum tidur?"

"Saya takut Nona butuh sesuatu. Sejak Tuan Muda pulang, rumah rasanya..." Sari menggigit bibir, tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Rasanya berbeda," sambung Yola pelan.

Sari mengangguk cepat. "Nona mau saya temani?"

"Tidak perlu. Aku hanya ingin ke ruang memorial sebentar."

Wajah Sari langsung cemas. "Malam-malam begini?"

Yola tersenyum tipis. "Aku biasa ke sana."

"Tapi sekarang Tuan Muda ada di rumah."

Kalimat itu keluar terlalu cepat. Setelah menyadarinya, Sari menunduk. "Maaf, Nona. Saya lancang."

"Tidak." Yola menatap koridor yang panjang dan sepi. "Kamu hanya mengatakan apa yang semua orang pikirkan."

Sari tidak menjawab. Ia hanya memegang ujung seragamnya, gelisah.

Yola menyentuh bahunya sebentar. "Tidurlah. Kalau Mama tahu kamu berjaga sampai larut, nanti kamu yang dimarahi."

"Saya tunggu di sini saja."

Yola tidak memaksa lagi. Ia berjalan menuruni tangga, menjaga langkah agar tidak menimbulkan suara.

Rumah keluarga Liem tidak pernah benar-benar gelap. Ada lampu kecil di setiap sudut, kamera keamanan di dekat pintu samping, dan staf jaga di pos belakang. Namun malam ini, semua itu tidak membuat Yola merasa aman. Justru semakin banyak lampu, semakin jelas bayangan yang mengikuti sudut matanya.

Saat ia melewati ruang tengah, ia melihat koper Rayhan masih tersisa satu di dekat tangga. Hitam, kokoh, tanpa gantungan nama. Di atasnya ada jas gelap yang tadi ia pakai, terlipat begitu saja seperti benda yang tidak punya nilai.

Yola mempercepat langkah.

Pintu ruang memorial terbuka sedikit.

Ia berhenti.

Sore tadi, setelah Rayhan keluar, Pak Wahyu sendiri yang menutup pintu itu. Yola melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Sekarang pintu itu terbuka selebar telapak tangan.

Udara dari dalam ruangan terasa lebih dingin. Aroma dupa lama masih tersisa, tetapi ada aroma lain yang asing: kopi hitam dan hujan. Aroma yang sama dengan pria yang mengambil saputangan Kevin.

Yola menelan ludah.

"Pak Wahyu?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu.

Lilin di depan foto Kevin sudah padam, menyisakan asap tipis di ujung sumbu. Cahaya dari koridor hanya masuk sebagian, membuat wajah Kevin dalam bingkai foto terlihat setengah terang, setengah tenggelam.

Yola masuk perlahan.

Buku puisi Kevin masih berada di tempatnya. Sisi sampulnya sedikit miring. Saputangan itu tentu saja tidak ada.

Yola menyentuh sampul buku dengan ujung jari. Dingin.

"Kak Kevin," bisiknya, memakai panggilan yang jarang ia ucapkan keras-keras sejak menjadi istrinya. "Maaf. Hari ini rumah jadi berisik."

Ia mengambil korek dari laci kecil, menyalakan lilin baru, lalu menangkupkan tangan. Doanya pendek. Bukan karena ia tidak ingin berdoa lebih lama, melainkan karena tenggorokannya terlalu sempit untuk menyimpan banyak kata.

"Semoga kamu tenang," ucapnya. "Semoga aku juga bisa tetap tenang."

"Kamu bicara dengan orang mati setiap malam?"

Korek di tangan Yola jatuh ke lantai.

Tubuhnya membeku.

Suara itu datang dari belakangnya. Rendah, dekat, dan tidak memiliki sedikit pun rasa bersalah karena telah mengagetkannya.

Yola memejamkan mata sesaat, lalu berbalik.

Rayhan berdiri di dekat rak kayu, sebagian tubuhnya tertutup bayangan. Ia sudah mengganti kemejanya dengan kaus hitam polos, tetapi aura yang melekat padanya tidak menjadi lebih santai. Justru dalam cahaya temaram, wajahnya tampak lebih keras.

"Pak Rayhan," kata Yola, berusaha menjaga suaranya stabil. "Saya tidak tahu Anda di sini."

"Karena kamu tidak melihat."

"Ruangan ini biasanya kosong pada jam ini."

"Biasanya aku tidak ada di rumah."

Yola tidak punya jawaban untuk itu.

Rayhan melangkah mendekat. Tidak cepat, tetapi cukup untuk membuat Yola mundur satu langkah. Punggungnya hampir menyentuh meja memorial.

Mata Rayhan turun ke buku puisi Kevin. "Kamu menjaga semuanya seolah dia akan pulang."

"Saya menjaga karena dia tidak bisa pulang."

Untuk sesaat, ekspresi Rayhan berhenti bergerak.

Yola sadar kalimat itu terlalu jujur. Ia menggenggam sisi cardigan, mencoba menenangkan tangan.

"Anda mengambil saputangan Kevin," katanya. "Saya minta dikembalikan."

"Untuk apa?"

"Itu pemberiannya."

"Aku juga tahu itu."

"Kalau tahu, seharusnya Anda mengerti kenapa saya memintanya kembali."

Rayhan menatapnya lama. "Kamu selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Tenang saat marah."

Yola terdiam.

Rayhan berhenti satu langkah di depannya. Jarak mereka tidak bersentuhan, tetapi cukup dekat untuk membuat Yola mencium aroma sabun dingin dan kopi dari tubuhnya.

"Kevin suka perempuan yang lembut," katanya.

Dada Yola berdenyut. "Jangan bicara seolah Anda mengenal saya."

"Aku mengenal Kevin."

"Tapi Anda tidak mengenal pernikahan kami."

Kalimat itu keluar sebelum Yola sempat menahannya.

Mata Rayhan menggelap.

Yola langsung tahu ia menyentuh sesuatu yang tajam. Bukan hanya duka. Ada luka lain di sana, lebih tua, lebih rumit, dan entah mengapa mengarah kepadanya.

"Pernikahan," ulang Rayhan.

Ia mengucapkan kata itu seperti menguji rasa pahit di lidah.

"Lima tahun," lanjut Yola, lebih pelan. "Saya berada di rumah ini sebagai istri Kevin. Saya tidak pernah meminta lebih dari tempat untuk mendoakannya."

"Dan sekarang?"

"Sekarang saya masih keluarganya."

"Keluarga siapa?"

Pertanyaan itu sama seperti sore tadi, hanya lebih rendah. Lebih berbahaya.

Yola mengangkat dagu sedikit. "Keluarga Liem."

Rayhan menatapnya.

Lilin di belakang Yola bergerak karena angin dari pintu. Bayangannya jatuh di dada Rayhan, bergetar sebentar sebelum hilang.

"Kalau begitu, berhenti bertingkah seperti tamu yang bisa pergi kapan saja."

Yola mengerutkan kening. "Saya tidak pernah berkata ingin pergi."

"Kamu tidak perlu mengatakannya."

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Rayhan merogoh saku celananya. Untuk satu detik, Yola mengira ia akan mengeluarkan saputangan itu. Namun yang keluar hanya ponsel. Layarnya menyala singkat, memperlihatkan pesan dari Ardi yang tidak sempat Yola baca.

Rayhan mematikan layar, lalu memasukkannya kembali.

"Besok pagi, kemasi barangmu."

Yola menatapnya. "Apa?"

"Mama, Denny, staf inti. Semua pindah ke mansion Menteng."

"Mansion Menteng?" Suara Yola nyaris hilang. "Kenapa tiba-tiba?"

"Karena aku memutuskan begitu."

"Ini rumah Kevin."

"Ini rumah Liem."

Yola merasakan darahnya mendingin.

Rayhan menunduk sedikit, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Dan di rumah Liem yang baru, Kak Yola, tidak ada pintu yang bisa kamu kunci dariku."

Lilin di belakang Yola padam oleh angin.

Episode 3

Bab 003

Pindah ke Jakarta

Pagi belum benar-benar datang ketika buku-buku Kevin sudah masuk ke dalam kotak cokelat.

Yola duduk bersimpuh di lantai ruang memorial, menyusun buku puisi terakhir di atas tumpukan yang lain. Lilin semalam sudah diganti. Sumbu barunya belum dinyalakan. Setelah Rayhan pergi dari ruangan itu, Yola tidak sempat berdoa lagi. Sari menemukannya berdiri kaku di depan foto Kevin, lalu menuntunnya kembali ke kamar tanpa banyak bertanya.

Sekarang, rumah lama keluarga Liem bergerak terlalu cepat.

Koper diturunkan dari lantai dua. Kardus diberi label. Pak Wahyu berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain sambil membawa tablet dan daftar barang. Di luar, tiga mobil hitam sudah berjajar di halaman, mesin menyala pelan.

Semua orang tahu ini perintah Rayhan.

Tidak ada yang bertanya terlalu keras.

"Nona, buku yang ini ikut semua?" tanya Sari dari dekat rak kayu.

Yola menoleh. Di tangan Sari ada buku catatan kecil bersampul abu-abu. Kevin pernah menulis daftar obatnya di sana, lalu berhenti di tengah halaman karena tangannya gemetar.

"Ikut," jawab Yola.

"Kalau foto?"

Yola memandang foto Kevin di atas meja. Senyum pria itu tetap sama seperti hari pemakaman, tenang, seolah tidak keberatan ditinggalkan. Justru itu yang paling menyakitkan.

"Foto utama biar Pak Wahyu yang bawa," kata Yola. "Aku bawa buku-bukunya."

Sari mengangguk, lalu melirik ke arah pintu. "Tuan Muda bilang barang memorial akan ditempatkan di ruangan khusus di Menteng."

Jari Yola berhenti di tepi kotak. "Dia sudah menentukan ruangan?"

"Iya, Nona."

Tentu saja.

Yola menutup kotak itu pelan. Rayhan bahkan belum satu hari penuh pulang, tetapi rumah ini sudah bergerak mengikuti napasnya. Seperti seluruh lantai, pintu, staf, dan jadwal makan sejak awal memang hanya menunggu ia kembali untuk tunduk.

"Nona Yola."

Denny berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan dan hoodie abu-abu. Matanya masih mengantuk, tetapi wajahnya terlihat tidak senang.

"Denny?" Yola mencoba tersenyum. "Kamu sudah siap?"

"Siap apanya? Kak Rayhan pulang, terus tiba-tiba kita semua harus pindah." Denny masuk, lalu menatap kotak di depan Yola. Suaranya melembut. "Barang Kak Kevin juga?"

"Iya."

"Mansion Menteng itu besar banget." Denny duduk di kursi kecil dekat pintu, menendang lantai pelan dengan ujung sepatunya. "Tapi dingin. Aku nggak suka."

Yola mengikat kotak dengan pita kain cokelat. "Mungkin nanti terasa berbeda kalau sudah ditempati."

Denny menatapnya. "Kak Yola bisa bilang jujur kalau nggak mau pindah."

Yola tersenyum tipis. Anak itu masih terlalu muda untuk mengira kejujuran selalu punya tempat di meja keluarga konglomerat.

"Keputusan Kak Rayhan untuk keluarga," jawabnya.

"Berarti Kak Yola juga nggak mau."

Sari pura-pura merapikan rak.

Yola tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kotak itu ke pangkuannya. Beratnya tidak seberapa, tetapi dadanya terasa seperti ikut tertindih di bawah semua halaman yang pernah disentuh Kevin.

Langkah berat berhenti di depan pintu.

Denny langsung berdiri. "Kak Rayhan."

Rayhan berdiri di sana dengan jas gelap dan ponsel di tangan. Tatapannya melewati Denny, melewati Sari, lalu berhenti pada kotak di pangkuan Yola.

"Mobil sudah siap."

Yola bangkit perlahan. "Saya masih menunggu Pak Wahyu selesai mencatat barang memorial."

"Tidak perlu. Aku sudah kirim daftar ke Ardi."

"Ini barang Kevin."

"Aku tahu."

Denny menoleh dari Rayhan ke Yola, lalu kembali ke Rayhan. "Kak, kenapa buru-buru banget sih?"

"Karena rumah ini tidak lagi efisien."

"Rumah bukan gudang proyek."

Udara di ruangan langsung menegang.

Yola menatap Denny cepat. "Denny."

Rayhan tidak marah. Itu justru lebih buruk. Ia hanya memandang adiknya dengan mata datar.

"Masuk mobil Mama."

"Aku bisa naik sendiri."

"Aku tidak sedang bertanya."

Denny mengatupkan mulut. Ia tampak ingin membantah lagi, tetapi Yola menggeleng pelan. Akhirnya Denny keluar dengan langkah keras.

Sari membawa dua kotak kecil keluar setelah mendapat isyarat dari Pak Wahyu. Tinggallah Yola dan Rayhan di ruang memorial yang setengah kosong.

Rayhan melangkah masuk.

Yola mengencangkan pelukan pada kotak buku Kevin.

"Takut aku ambil juga?" tanyanya.

Punggung Yola menegang. "Kalau saya bilang iya, apakah Anda akan mengembalikan saputangan itu?"

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Yola mengangkat mata. "Kenapa?"

Rayhan menatapnya lama. "Karena kamu terlalu sering memegang benda orang mati."

Wajah Yola memucat.

"Kevin bukan sekadar orang mati."

"Aku tahu. Dia kakakku."

"Kalau tahu, jangan gunakan kata-kata seperti itu."

Untuk pertama kalinya pagi itu, rahang Rayhan mengeras. Namun suaranya tetap rendah.

"Kalau kamu terus hidup di ruangan ini, Yola, kamu akan ikut dikubur bersamanya."

Yola terdiam.

Kalimat itu seharusnya terdengar kejam. Memang kejam. Tetapi di baliknya ada sesuatu yang membuat ia lebih marah lagi, karena terdengar seolah Rayhan peduli, padahal caranya seperti merobek kain dari luka yang belum kering.

"Itu bukan urusan Anda," katanya.

"Semua yang terjadi di rumah Liem urusanku."

"Termasuk saya?"

Rayhan tidak menjawab.

Diamnya menjawab lebih keras daripada kata-kata.

Yola memeluk kotak itu lebih erat, lalu berjalan melewatinya. Saat bahunya hampir bersisian dengan Rayhan, ia menahan napas. Tidak ada sentuhan. Namun ruang di antara mereka terasa terlalu sempit.

Di halaman, Mama Liem berdiri di samping mobil tengah. Wajahnya lelah, tetapi ia tetap tersenyum ketika melihat Yola.

"Nak, kamu satu mobil dengan Mama saja."

Sebelum Yola menjawab, Ardi mendekat dengan sikap formal.

"Maaf, Nyonya. Pak Rayhan mengatur Nona Yola di mobil belakang. Barang memorial ikut bersama Nona."

Senyum Mama Liem memudar. "Kenapa harus terpisah?"

Ardi menunduk. "Instruksi Pak Rayhan."

Yola merasakan semua orang menunggu reaksinya. Pak Wahyu, Sari, dua staf rumah, bahkan Denny yang sudah duduk di mobil depan dengan wajah kesal.

"Tidak apa-apa, Mama," kata Yola akhirnya.

"Yola..."

"Kotaknya biar saya pegang sendiri."

Mama Liem menyentuh pipinya sebentar. "Kalau tidak nyaman, telepon Mama."

Yola mengangguk.

Ia masuk ke mobil belakang. Pintu ditutup dari luar. Kaca jendela tebal membuat suara halaman berubah jauh dan redup. Di pangkuannya, kotak buku Kevin menjadi satu-satunya benda yang masih terasa akrab.

Mobil bergerak meninggalkan rumah lama.

Yola menoleh ke belakang sampai pagar besi tertutup dari pandangan. Di sana ia pernah belajar menjadi istri yang sabar, menantu yang tidak merepotkan, janda yang tidak membuat keluarga malu. Di sana ia pernah menangis diam-diam di depan foto Kevin, lalu percaya bahwa setidaknya satu ruangan di dunia ini tidak akan mengusirnya.

Sekarang ruangan itu masuk ke dalam kotak.

Perjalanan menuju pusat Jakarta terasa panjang meski jalanan pagi belum terlalu padat. Gedung-gedung semakin tinggi. Pohon-pohon tua di tepi jalan Menteng tampak rapi, teduh, dan mahal. Mobil berbelok melewati gerbang besar berwarna hitam dengan lambang Liem di tengahnya.

Liem Mansion, Menteng.

Yola pernah mendengar rumah itu dari percakapan Mama Liem. Rumah warisan Papa Liem yang jarang ditempati karena terlalu besar untuk keluarga yang sedang berduka.

Terlalu besar.

Ketika mobil berhenti di halaman depan, Yola akhirnya mengerti.

Bangunan kolonial tiga lantai itu berdiri megah dengan pilar putih, balkon lebar, dan taman koi yang airnya bergerak tenang. Staf sudah berjajar di tangga masuk. Pintu utamanya tinggi, terbuka seperti mulut yang menunggu.

Rayhan turun dari mobil pertama.

Ia tidak melihat mansion itu dengan kagum. Ia melihatnya seperti melihat sesuatu yang sudah menjadi miliknya sejak lahir.

Lalu ia menoleh ke mobil belakang.

Ke arah Yola.

Yola memeluk kotak buku Kevin sampai tepinya menekan tulang rusuknya.

Rumah itu memang lebih megah.

Lebih luas.

Lebih terang.

Namun saat tatapan Rayhan menembus kaca mobil, Yola tahu satu hal dengan sangat jelas.

Kandang yang lebih besar tetaplah kandang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!