Indonesia
NovelToon NovelToon

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Episode 1

Bab 001

Dunia yang Salah

Kiara membuka mata dengan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang baru saja menariknya dari dasar air.

Langit-langit kamar itu asing.

Warna putih gading. Lampu gantung kristal kecil. Aroma diffuser mahal yang terlalu manis. Di samping ranjang, ponsel yang terjatuh masih menyala, menampilkan puluhan notifikasi dari portal hiburan.

Kiara Tanuwijaya kembali bikin masalah?

Adik aktris Wenny Tanuwijaya disebut cemburu, rebut kontrak endorsement keluarga sendiri.

Netizen: anak kandung kok kalah elegan dari Wenny?

Jari Kiara bergetar saat mengambil ponsel itu.

Nama itu.

Wenny Tanuwijaya.

Hendra Tanuwijaya.

Lina Tanuwijaya.

Purnawan Group.

Satu demi satu nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan. Semalam, sebelum tidur, ia masih membaca sebuah novel romansa gelap yang ia maki habis-habisan karena tokoh samping bernama Kiara Tanuwijaya terlalu menyedihkan. Anak kandung keluarga kaya yang tertukar sejak kecil, pulang ke rumah sendiri hanya untuk diperlakukan seperti tamu yang tak diinginkan. Semua cinta keluarga jatuh ke Wenny, anak palsu yang sudah lebih dulu mereka besarkan.

Dalam novel itu, Kiara Tanuwijaya akhirnya hancur.

Kariernya dirampas. Namanya busuk. Keluarganya membuang muka. Bahkan sebelum pria paling berbahaya di cerita itu benar-benar turun tangan, hidup Kiara sudah lebih dulu remuk oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Sekarang, wajah di cermin kamar mandi menatap balik dirinya.

Mata bulat yang masih basah. Rambut cokelat muda berantakan di bahu. Wajah kecil pucat dengan bibir merah yang digigit sampai hampir berdarah.

Cantik sekali.

Dan rapuh sekali.

Kiara menekan dada kirinya. Jantung itu berdetak cepat, tapi lemah, seperti burung kecil yang terperangkap di dalam sangkar.

"Tidak mungkin," bisiknya.

Pintu kamar diketuk tiga kali.

"Kiara." Suara perempuan dewasa terdengar dari luar. Lembut, tapi dinginnya menembus pintu. "Kamu sudah bangun? Papa menunggu di bawah."

Mama.

Tidak. Lina Tanuwijaya.

Kiara memejamkan mata sebentar. Potongan ingatan milik tubuh ini masuk seperti hujan pecahan kaca. Lina yang memeluk Wenny saat Wenny menangis. Hendra yang memarahinya karena membuat Wenny tertekan. Makan malam keluarga yang selalu menyiapkan makanan kesukaan Wenny, sementara alergi Kiara dianggap rewel.

Ia membuka pintu.

Lina berdiri di koridor dengan blus sutra rapi dan kalung mutiara. Tatapannya langsung turun ke wajah Kiara yang pucat, lalu ke ponsel di tangan putrinya.

"Kamu lihat berita itu?" tanya Lina.

Kiara mengangguk pelan.

Bukannya bertanya apakah ia baik-baik saja, Lina justru menarik napas panjang.

"Mama sudah bilang, jangan bersaing dengan Wenny di depan publik. Kamu baru masuk rumah ini beberapa tahun, orang-orang belum mengenalmu. Kalau kamu terlalu memaksa, yang malu bukan hanya kamu, tapi keluarga kita."

Kiara menatap perempuan itu.

Dalam novel, setiap kalimat seperti ini membuat Kiara asli menangis, meminta maaf, lalu semakin ingin membuktikan diri. Makin ia mengejar kasih sayang, makin murah harga dirinya di mata keluarga ini.

Kiara menurunkan pandangan ke kuku jarinya yang pucat.

"Jadi Mama percaya aku merebut kontrak itu?"

Lina terdiam sebentar.

Jawaban itu sudah cukup.

Dari lantai bawah, suara Wenny terdengar manis.

"Mama, Kiara belum turun? Papa nanti telat meeting."

Lina segera menoleh ke arah tangga. Wajahnya yang tadi tegang langsung melunak.

"Sebentar, Sayang."

Sayang.

Kiara hampir tertawa.

Ia mengikuti Lina turun. Rumah keluarga Tanuwijaya besar dan mewah, tapi setiap sudutnya terasa seperti etalase yang tidak pernah benar-benar menerima dirinya. Foto keluarga memenuhi dinding ruang tengah. Hendra, Lina, Wenny. Liburan ke Eropa. Ulang tahun. Wisuda. Acara amal.

Tidak ada satu pun foto Kiara.

Di meja makan, Wenny duduk dengan gaun putih sederhana yang justru membuatnya tampak bersih dan polos. Begitu melihat Kiara, ia langsung berdiri, wajahnya penuh kecemasan yang terlalu rapi.

"Kiara, kamu baik-baik saja? Aku sudah bilang ke agensiku, berita itu pasti salah paham. Kalau kamu mau, aku bisa unggah klarifikasi."

Klarifikasi.

Dalam novel, klarifikasi Wenny selalu berakhir seperti pisau. Kalimatnya terdengar membela Kiara, tapi membuat semua orang yakin Kiara memang iri, kasar, dan tak tahu diri.

Hendra menaruh cangkir kopi dengan suara keras.

"Tidak perlu unggah apa pun sebelum Papa bicara dengan tim PR. Kiara, duduk."

Kiara duduk di kursi paling ujung. Kursi itu seperti sudah disediakan untuk orang luar.

Hendra menatapnya dari balik kacamata. "Kontrak endorsement itu sejak awal cocok untuk Wenny. Brand ingin citra yang lembut dan bersih. Kamu tahu sendiri reputasimu di luar sana sedang tidak baik."

"Reputasi yang dibuat siapa, Pa?" tanya Kiara pelan.

Ruang makan mendadak sunyi.

Sendok di tangan Wenny berhenti.

Lina mengerutkan kening. "Kiara."

Kiara mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini, suaranya tidak gemetar.

"Aku hanya bertanya."

Wenny menggigit bibir. Matanya langsung berkaca-kaca.

"Kalau kamu merasa aku mengambil milikmu, aku bisa mundur," ucapnya lirih. "Aku tidak mau karena aku, kamu dan Papa Mama bertengkar."

Hendra langsung menoleh pada Wenny. Nada suaranya turun, penuh kasihan.

"Tidak ada yang menyalahkan kamu. Makan dulu."

Lalu kepada Kiara, nadanya berubah lagi.

"Nanti malam ada acara industri film di SCBD. Wenny akan hadir mewakili keluarga. Kamu tidak usah datang. Diam di rumah sampai berita ini reda."

Jadi itu.

Acara itu adalah titik awal novel. Tempat para produser, sutradara, sosialita, dan pewaris konglomerat berkumpul dalam satu ballroom berkilau. Di sana, Kiara seharusnya dipermalukan oleh Wenny. Di sana juga, untuk pertama kalinya, ia akan melihat Rayhan Purnawan.

Villain utama.

Pria yang di novel disebut lebih dingin dari pisau dan lebih berbahaya dari siapa pun di Jakarta.

Kiara menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya.

Kalau ia menghindar, alur tragis itu tetap akan menyeretnya. Kalau ia diam, semua orang akan terus menulis nasibnya dengan tinta yang sama.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Ci Lucy muncul di layar.

Ci Lucy: Kamu masih punya undangan cadangan untuk gala nanti malam. Kalau kamu mau datang, aku jemput jam tujuh. Tapi pikir baik-baik, Kiara. Malam ini bisa jadi kacau.

Kiara menatap pesan itu lama.

Di seberang meja, Wenny masih berpura-pura sedih. Lina sibuk menenangkan Wenny. Hendra sudah kembali membaca laporan bisnis, seolah keputusan tentang hidup Kiara baru saja selesai dibahas bersama menu sarapan.

Kiara mengetik satu balasan.

Jemput aku jam tujuh.

Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel di pangkuan dan mengangkat sendok seolah tidak terjadi apa-apa.

Kali ini, ia tidak akan menjadi Kiara Tanuwijaya yang mati dalam cerita orang lain.

Kali ini, ia akan datang ke ballroom itu dengan matanya sendiri.

Dan jika takdir benar-benar ingin mempertemukannya dengan Rayhan Purnawan, maka ia harus melihat sendiri, monster seperti apa yang sedang menunggunya di ujung malam.

Episode 2

Bab 002

Tatapan Asing

Ujung malam itu ternyata berkilau seperti pisau.

Mobil Ci Lucy berhenti di depan hotel bintang lima di kawasan SCBD tepat pukul delapan kurang sepuluh. Dari balik kaca, Kiara melihat karpet merah membentang di bawah lampu-lampu kamera. Wartawan infotainment berbaris di sisi pembatas, para tamu turun dari mobil mewah dengan senyum yang sudah dilatih, sementara petugas keamanan berjas hitam berdiri di setiap pintu.

Jakarta di malam hari selalu punya cara untuk terlihat cantik, bahkan saat siap menelan seseorang hidup-hidup.

"Kamu masih bisa berubah pikiran," ucap Ci Lucy dari kursi depan.

Kiara menatap undangan hitam keemasan di pangkuannya. Nama acaranya tercetak rapi, gala apresiasi insan film nasional. Dalam novel, kalimat-kalimat tentang acara ini ia baca sambil setengah mengantuk. Sekarang, bau parfum mahal dan suara kamera membuat semuanya terasa terlalu nyata.

"Kalau aku tidak datang, mereka akan tetap membicarakanku," jawab Kiara pelan.

Ci Lucy menoleh. Wajah manajer itu tidak selembut Lina, tapi matanya jauh lebih jujur.

"Kamu sempat pingsan pagi ini?"

Kiara terdiam.

"Mukamu pucat sekali." Ci Lucy menahan napas, lalu mengambil lipstik dari tas kecilnya. "Oke. Kalau begitu jangan berdiri terlalu lama. Jangan minum apa pun dari orang asing. Kalau ada yang memancing, senyum saja. Kita tidak punya tim PR sebesar Wenny."

Kiara menerima lipstik itu dan mengulas sedikit di bibirnya.

Warna merah muda membuat wajah di cermin kecil tampak lebih hidup.

"Aku tidak akan membuat keributan," katanya.

Ci Lucy memandangnya sejenak. "Itu yang justru membuatku takut. Kiara yang dulu pasti menangis duluan."

Kiara menutup cermin.

"Mungkin aku sudah capek menangis."

Mereka turun dari mobil.

Begitu nama Kiara terdengar dari salah satu wartawan, bisik-bisik langsung merambat seperti api kecil. Beberapa kamera berbalik. Ada yang memanggil namanya, ada yang sengaja menyebut Wenny lebih keras, ada pula yang bertanya soal kontrak endorsement yang katanya direbut.

Kiara berjalan pelan di samping Ci Lucy. Gaun satin warna champagne yang dipinjamkan manajernya terasa dingin di kulit. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup anggun untuk membuat orang-orang sadar bahwa ia tidak datang sebagai gadis yang kalah.

"Kiara, benar kamu iri pada Wenny?"

"Apa keluarga Tanuwijaya melarang kamu datang malam ini?"

"Katanya kamu ribut dengan kakakmu sendiri?"

Langkah Kiara berhenti sebentar.

Ci Lucy meremas lengannya, memberi peringatan tanpa suara.

Kiara menoleh ke arah kamera paling dekat. Bibirnya melengkung tipis.

"Malam ini acara film, bukan ruang makan keluarga saya," ucapnya lembut. "Saya datang untuk menghormati para pekerja film."

Beberapa wartawan terdiam sepersekian detik.

Lalu lampu kamera menyala lebih cepat.

Di ambang pintu ballroom, Wenny sudah berdiri bersama Lina. Gaun putihnya berkilau seperti embun, wajahnya tersenyum manis, tangan Lina bertumpu akrab di punggungnya. Keduanya tampak seperti ibu dan putri yang sempurna.

Begitu melihat Kiara, senyum Wenny membeku sesaat.

"Kiara?" Wenny segera mendekat, suaranya cukup keras untuk didengar orang sekitar. "Kamu datang juga? Aku kira kamu sedang kurang sehat."

Kiara menatap tangan Wenny yang seolah ingin menggenggamnya.

Ia mundur setengah langkah.

Gerakan kecil itu membuat Wenny terlihat canggung. Beberapa tamu mulai melirik.

"Aku memang kurang sehat," kata Kiara. "Tapi belum sampai tidak bisa berdiri."

Wenny tertawa kecil, terlalu ringan. "Kamu ini. Aku cuma khawatir."

"Terima kasih."

Hanya dua kata. Sopan, dingin, dan tidak memberi celah.

Wenny tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi suara di pintu utama membuat semua orang menoleh.

Keramaian yang sejak tadi berisik mendadak menipis, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan udara.

Seorang pria masuk ke ballroom.

Setelan hitamnya sederhana, tapi justru membuat orang lain terlihat berlebihan. Tinggi, wajah tajam, kulit pucat di bawah cahaya lampu, mata gelap yang tidak perlu mencari perhatian karena perhatian seluruh ruangan sudah jatuh padanya. Di belakangnya, seorang asisten muda berjalan setengah langkah lebih jauh dengan ekspresi tertutup.

Rayhan Purnawan.

Nama itu muncul di kepala Kiara seperti alarm.

Dalam novel, pria ini bukan pangeran penyelamat. Ia adalah lubang hitam. Orang yang tersenyum pada rapat bisnis sambil membuat lawannya kehilangan segalanya sebelum makan malam selesai. Pewaris Purnawan Group yang bahkan para pengusaha senior pun tidak berani panggil dengan nama depan.

Kiara pernah membaca adegan-adegan tentangnya.

Keji. Dingin. Tidak punya belas kasihan.

Tapi saat mata pria itu berhenti pada dirinya, semua kata dalam ingatan Kiara mendadak kehilangan bentuk.

Rayhan tidak melihat Wenny.

Tidak melihat Lina.

Tidak melihat para sosialita yang berusaha tampak tenang.

Ia hanya melihat Kiara.

Tatapannya tidak dingin.

Justru terlalu lembut.

Seperti seseorang yang akhirnya menemukan barang paling berharga setelah kehilangan begitu lama. Seperti ia takut jika berkedip, Kiara akan menghilang dari hadapannya.

Dada Kiara berdenyut nyeri.

Jantungnya berdetak cepat, lebih cepat dari suara kamera, lebih cepat dari langkah Rayhan yang kini mendekat.

"Bos," bisik asisten di belakangnya, nyaris tak terdengar. "Pak Gunawan menunggu di ruang VIP."

Rayhan tidak menjawab.

Ia berhenti tepat di depan Kiara.

Aroma kayu cendana yang samar menyentuh hidungnya. Bersih, dingin, dan entah kenapa membuat lutut Kiara hampir kehilangan tenaga.

Kiara tahu ia harus menunduk sopan. Atau menyapa dengan jarak aman. Atau pura-pura tidak mengenal nama besar di hadapannya.

Tetapi tatapan itu menahan semua geraknya.

Rayhan mengulurkan tangan.

Di telapak tangannya, ada anting kecil milik Kiara yang rupanya terlepas entah sejak kapan.

"Punyamu," katanya.

Suaranya rendah.

Kiara menerima anting itu. Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit Rayhan yang dingin.

Napasnya tersangkut.

"Terima kasih, Pak Rayhan."

Mata Rayhan sedikit berubah saat mendengar panggilan itu. Bukan marah. Lebih seperti terluka oleh jarak yang terlalu jauh.

"Rayhan saja."

Bisik-bisik di sekitar mereka langsung pecah lebih halus. Wenny menatap dengan wajah yang hampir tidak sempat ia rapikan. Lina juga membeku.

Kiara menggenggam anting itu sampai menusuk telapak tangannya.

Pria di depannya adalah villain. Ia harus mengingat itu.

Namun Rayhan menatapnya seolah seluruh ballroom lenyap, seolah tidak ada dunia lain selain dirinya.

"Kamu datang," ucapnya pelan.

Kiara mengangkat wajah.

"Anda menunggu saya?"

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Rayhan bergerak sedikit.

Senyum itu terlalu indah untuk seseorang yang seharusnya kejam.

"Lebih lama dari yang kamu kira."

Episode 3

Bab 003

Dia Terus Memperhatikanku

"Lebih lama dari yang kamu kira."

Kalimat itu jatuh begitu pelan, tapi Kiara merasa seolah seluruh ballroom ikut mendengarnya.

Ia menatap Rayhan, berusaha mencari jejak candaan di wajah pria itu. Tidak ada. Mata gelap itu terlalu tenang, terlalu serius, dan justru karena itu membuat bulu kuduknya meremang.

"Pak Rayhan," panggil Adi dari belakang, kali ini sedikit lebih tegas. "Om Gunawan sudah menunggu."

Rayhan masih melihat Kiara beberapa detik lagi sebelum akhirnya menarik kembali tangannya.

"Jangan berdiri terlalu lama," ucapnya.

Kiara belum sempat bertanya bagaimana pria itu tahu ia tidak kuat berdiri lama. Rayhan sudah berbalik, berjalan menuju ruang VIP dengan langkah yang membuat orang-orang otomatis menyingkir.

Begitu punggungnya menjauh, udara di sekitar Kiara seperti kembali bergerak.

Wenny tersenyum lebih dulu. "Wah, Kiara. Kamu kenal Pak Rayhan?"

Nada itu ringan, tapi matanya menempel pada wajah Kiara seperti jarum.

"Tidak," jawab Kiara.

"Tapi beliau kelihatan sangat mengenalmu."

Kiara memasang kembali antingnya dengan jari yang masih dingin. "Mungkin Pak Rayhan memang sopan pada semua orang."

Di sebelah Wenny, Lina tampak tidak percaya. Bagaimana mungkin pewaris Purnawan Group berhenti di depan Kiara, mengembalikan antingnya sendiri, lalu memintanya memanggil nama depan? Untuk keluarga Tanuwijaya yang selama ini lebih suka menyembunyikan Kiara, perhatian sekecil itu sudah cukup membuat wajah mereka berubah.

Ci Lucy segera menarik Kiara ke sisi lain ballroom.

"Kamu yakin tidak kenal dia?" bisiknya cepat.

"Tidak."

"Kiara, orang seperti Rayhan Purnawan tidak mengambil anting artis kecil dari lantai hanya karena sopan."

Kiara menatap gelas-gelas champagne yang disusun di meja bundar. Pantulan lampu di permukaannya bergetar seperti pecahan emas. Dadanya masih berdebar, bukan hanya karena gugup, tapi karena kalimat terakhir Rayhan terus berputar di kepala.

Lebih lama dari yang kamu kira.

Dalam novel, Rayhan Purnawan baru benar-benar terlibat setelah banyak kekacauan terjadi. Ia tidak seharusnya menatap Kiara seperti itu malam ini. Apalagi dengan kelembutan yang hampir membuatnya lupa bahwa pria itu adalah villain.

"Jangan bengong." Ci Lucy menyerahkan segelas air putih, bukan champagne. "Minum ini."

Kiara baru menyentuh gelas ketika seorang produser paruh baya mendekat. Senyumnya ramah, tapi tatapannya berhenti terlalu lama pada wajah Kiara.

"Kiara Tanuwijaya, ya? Saya sering lihat namamu di berita."

Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian.

Ci Lucy langsung tersenyum profesional. "Pak, Kiara baru saja menyelesaikan workshop akting untuk proyek period drama. Kalau ada casting yang cocok, kami sangat terbuka."

Produser paruh baya itu tertawa kecil. "Untuk period drama, citra publik penting. Sekarang penonton cepat sekali menilai. Kalau ada isu rebutan kontrak dengan keluarga sendiri, produser jadi pikir-pikir."

Tangan Kiara yang memegang gelas mengencang.

Sebelum ia menjawab, Wenny muncul di belakang produser itu dengan ekspresi cemas yang pas sekali.

"Pak, jangan begitu. Kiara sebenarnya anak baik, cuma memang kadang belum bisa mengontrol emosi."

Satu kalimat.

Lembut di telinga, busuk di dalam.

Beberapa orang di dekat mereka mulai menoleh. Kiara bisa melihat mata-mata yang sedang menilai, menghitung, lalu memutuskan cerita versi mana yang lebih menarik untuk dibawa pulang.

Kiara meletakkan gelasnya di meja.

"Terima kasih sudah membelaku, Wenny," katanya pelan. "Tapi kalau membela berarti memberi kesan aku memang bersalah, sebaiknya tidak usah."

Wenny membeku.

Ci Lucy hampir tersedak.

Produser itu mengangkat alis, seperti baru pertama kali melihat Kiara benar-benar punya suara.

"Saya tidak merebut kontrak siapa pun," lanjut Kiara. "Kalau ada brand yang memilih Wenny, silakan. Kalau ada yang ingin menilai kemampuan saya, saya siap audisi. Saya hanya tidak mau karier saya diputuskan dari gosip meja makan."

Sunyi tipis menyebar.

Tidak lama, seorang staf hotel mendekat dengan langkah sopan.

"Nona Kiara, kami sudah menyiapkan tempat duduk untuk Anda di area depan. Silakan."

Ci Lucy menoleh, kaget. "Area depan?"

Staf itu mengangguk. "Atas instruksi panitia."

Kiara tidak perlu menoleh untuk tahu ada sesuatu yang berubah. Beberapa tamu yang tadi memandangnya dengan sinis mulai menahan ekspresi. Area depan berarti kamera bisa menangkap wajahnya dengan jelas. Berarti panitia tidak sedang memperlakukan dia sebagai tamu tambahan.

Wenny tersenyum kaku. "Mungkin ada salah paham. Kursi keluarga Tanuwijaya ada di sebelah sana."

Staf tetap sopan. "Maaf, Nona Wenny. Yang diminta adalah Nona Kiara."

Kali ini, Kiara benar-benar menoleh.

Di balkon kecil lantai atas yang menghadap ballroom, Rayhan berdiri di balik pagar kaca. Satu tangannya masuk ke saku celana. Di sampingnya, Adi berbicara pelan sambil memegang tablet.

Rayhan tidak sedang melihat panggung.

Ia melihat Kiara.

Seolah sejak tadi, bahkan saat Kiara berdebat dengan Wenny, bahkan saat produser itu menyindir kariernya, tatapan itu tidak pernah pergi.

Dada Kiara kembali terasa sesak.

"Kiara?" Ci Lucy menyentuh sikunya. "Kamu pucat."

"Aku tidak apa-apa."

Tapi ia tahu ia tidak sepenuhnya baik-baik saja.

Selama satu jam berikutnya, Kiara mulai menyadari hal-hal kecil.

Saat seorang pelayan hendak memberinya champagne, pelayan lain datang mengganti gelas itu dengan teh hangat. Saat wartawan mencoba mendekat untuk menanyakan skandal kontrak, petugas keamanan tiba-tiba meminta mereka kembali ke area media. Saat seorang aktris senior dengan sengaja menyebut nama Wenny sebagai "putri kesayangan Tanuwijaya" di depan kamera, pembawa acara langsung mengalihkan topik ke nominasi film malam itu.

Semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Dan setiap kali Kiara menoleh, ia selalu menemukan Rayhan di tempat yang sama.

Melihatnya.

Tidak tersenyum. Tidak mendekat. Hanya memperhatikan, dengan kesabaran yang membuat Kiara makin gelisah.

Di lantai atas, Adi menutup tablet.

"Bos, berita tentang Nona Kiara pagi ini didorong oleh tiga akun gosip besar. Dua terhubung ke agensi yang bekerja sama dengan Nona Wenny. Satu lagi memakai buzzer bayaran."

Rayhan tidak mengalihkan pandangan dari Kiara yang duduk di area depan. Gadis itu memegang cangkir teh dengan dua tangan, tubuhnya kecil di antara orang-orang yang jauh lebih siap bertarung di dunia ini. Tapi ketika Wenny berbicara padanya, dagu Kiara tetap terangkat.

Berani.

Jauh lebih berani dari bayangan yang ia peluk ribuan malam.

"Hapus perlahan," kata Rayhan.

Adi terdiam sepersekian detik. "Perlahan?"

"Jangan buat dia takut."

Kali ini, Adi benar-benar menatap bosnya.

Selama bertahun-tahun bekerja untuk Rayhan Purnawan, ia pernah melihat pria itu menghancurkan perusahaan hanya dengan tiga panggilan telepon. Pernah melihat orang memohon di depan meja rapat dan Rayhan bahkan tidak mengangkat mata. Kata hati-hati hampir tidak pernah ada jika menyangkut musuh.

Tapi malam ini, karena seorang aktris kecil bernama Kiara Tanuwijaya, Rayhan meminta sesuatu dilakukan perlahan.

"Baik, Bos."

Rayhan menurunkan pandangan ke gelas di meja, lalu kembali melihat Kiara.

"Mulai malam ini, semua yang menyangkut dia, laporkan langsung padaku."

Adi mengangguk. "Termasuk jadwal kerja?"

"Semua."

Di bawah sana, Kiara tiba-tiba menoleh lagi.

Mata mereka bertemu melintasi cahaya ballroom, musik lembut, kamera, dan semua orang yang tidak tahu apa-apa.

Kiara menggenggam cangkir tehnya lebih erat.

Untuk sesaat, ia merasa bukan sedang diperhatikan.

Ia merasa sedang dijaga.

Dan entah kenapa, pikiran itu jauh lebih berbahaya daripada rasa takut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!