Indonesia
NovelToon NovelToon

Saat Asa Berkahir Duka

Chapter 1

Sosok gadis yang tengah terbaring di kasur pesakitan perlahan membuka mata. Satu tangannya secara reflek mengucek mata yang terasa tidak nyaman. Dia menatap bingung ke setiap sudut ruangan yang tidak lain adalah ruang rawat.

"Hanya ada aku." Valeska berusaha mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Kaivandra.

"Kok bisa ya, anaknya lagi sakit, malah nggak dijenguk?" tanya Valeska entah pada siapa.

Bang, Kaivandra.

|Bang, kapan pulang? Adek nggak mau di ruangan sendiri, takut bang. Di tempat lain, Kaivandra terkejut saat membaca pesan dari adiknya.

|Lho, mama sama papa memangnya belum ke sana? Abang kira, mereka udah nyampe rumah sakit.

|Kayak nggak tau aja, mereka sibuk, mana ada nyempetin waktu buat adek. Masih di dalam kelas, Kaivandra meraup wajahnya kesal.

"|Astaga, yaudah abang ke sana sekarang. Adek jangan khawatir, di sini ada abang, ok?

|Siap, hati-hati ya, jangan ngebut.

Kaivandra ingat betul dengan pesan yang dia kirim pada kedua orang tuanya. Tidak mungkin mereka tidak membaca, orang tanda bacanya sudah terlihat.

Harapan Kaivandra, sewaktu dia masuk kuliah hari ini, ada yang menemani adiknya, tapi ternyata tidak. Mereka benar-benar memprioritaskan pekerjaan daripada anaknya.

"Tahu gitu, gue jagain Valeska. Nggak usah masuk kuliah sekalian!" umpat Kaivandra dalam hati.

Mamaku.

|Send a pictures.

|Sudah dua hari adik demam tinggi, dan dirawat inap. Bisa ke sini sekarang?

|Ya ampun. Maafin mama,

|Mama bisa ke sini sekarang? Kasihan adik,

|Aduh gimana ya, masalahnya mama lagi ada kerjaan di kantor.

Lagi dan lagi soal kerjaan, rasanya Kaivandra ingin marah saat sebuah kerjaan dijadikan alasan agar tidak menemui anak-anaknya.

|Ke sini sebentar, nggak bisa? Lagian rumah sakitnya nggak jauh dari apartemen abang. Ma, please. Ini adik sakit lho, abang udah minta papa buat ke sini, tapi nggak bisa juga,

|Bang, ini mama juga lagi sibuk. Ini mama lagi di luar kota,

|Sebentar aja nggak bisa?

|Nggak bisa, sayang. Nomor rekening kamu, masih sama'kan? Biar mama transfer uang, buat kamu dan adik.

Kaivandra semakin di buat emosi saat sang mama mengirimkan pesan demikian.

|Nggak butuh. Uang abang masih banyak, kita hanya butuh kehadiran kalian aja.

Di tempat lain, Delina yang merupakan ibu kandung Kaivandra dan Valeska, sedang berjalan menuju ruang meeting. Dia benar-benar tidak peduli pada anaknya.

"Begitu mudahnya, para orang tua berkata seperti itu. Seakan-akan semua bisa diselesaikan dengan materi."

Lirih Kaivandra, sebelum keluar dari dalam kelas.

Tubuhnya sudah sangat lelah, ditambah dengan rasa bersalah karena seharian Valeska di rumah sakit seorang diri. Kaivandra masih ingat betul dengan sumpah serapah yang dikeluarkannya untuk seorang papa.

Dia tidak peduli terhadap dosa yang telah diperbuatnya, karena dirinya lebih peduli terhadap perasaan Valeska. Dengan berat hati, dia mengemis soal perhatian pada papanya.

Papaku.

|Pa, tadi pagi aku nyuruh papa ke rumah sakit, kenapa nggak datang?

|Papa nggak ada waktu, memangnya kamu nggak bisa nemenin Valeska?

|Abang kan ada kelas pagi nyampe sore, mana bisa pa,

|Kai, Valeska sudah besar, biarkan dia mandiri. Ini bukan masalah kecil yang harus diperdebatkan.

|Dia sudah besar, tapi dia lagi sakit!

|Pa, adik lagi butuh papa. Coba luangkan waktunya sebentar, meskipun sudah besar, tapi peran seorang ayah masih harus dipenuhi. Papa jadi orang tua jangan egois, jangan mementingkan urusan sendiri. Valeska butuh papa!

|Kaivandra Girga! Sekali lagi kamu bicara seperti itu, papa nggak akan kasih uang bulanan buat kamu!

Di depan kelas, Kaivandra terkekeh ringan saat membaca pesan dari sang ayah.

|Kenapa? Kok marah? Merasa gagal ya jadi orang tua?!

Karena merasa kesal setelah membaca pesan dari putranya. Tanpa banyak mikir, Girga pun menelpon Kaivandra, tapi naasnya diabaikan oleh anak sulungnya.

|Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk seperti itu pada orang tua.

Percuma, pesan tersebut hanya dibaca. Kaivandra berpamitan pada teman-teman dekatnya, dia melangkah tergesa-gesa hingga sampai diparkiran.

Kaivandra tidak sempat menjawab satu persatu pertanyaan temannya, saat ini kunci motor sudah berada digenggamannya. Kebetulan malam ini kondisi jalan tidak begitu ramai, hanya ada suara motor miliknya yang melaju kencang menerjang waktu.

20 menit kemudian, Kaivandra sampai di lobi rumah sakit. Keringat membasahi pelipis, begitupun dengan napas yang masih tersengal saat melepaskan helm full face.Tanpa menunggu lama, dia langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 3. Melewati tangga rasanya lebih lambat untuk hati yang sedang kalut.

 Langkahnya beradu dengan suara detak jantung bersamaan dengan emosi yang mulai naik saat mengingat orang tuanya tidak datang. Pintu kamar didorong dengan cemas. Di sana, hanya ada tubuh kecil Valeska yang sedang terbaring lemah, bahkan wajahnya masih terlihat pucat dengan selang infus menggantung di samping tempat tidur.

Sesekali, Valeska mendesah pelan, karena merasa jenuh dengan segala notifikasi yang terus berdatangan diponsel abangnya. Namun, Valeska memilih diam daripada menegur. Di sofa, Kaivandra hanya diam menatap layar ponsel dengan mata sendu, seakan bertanya tanpa suara.

"Kenapa jadi seperti ini?"Hingga akhirnya, kesunyian itu terpecah saat Valeska bertanya pada Kaivandra.

 "Bang, Mama sama Papa nggak bisa ke sini?"

'Lagi pada sibuk, dek. Gapapa, kan di sini masih ada abang," Valeska mengangkat kepala perlahan dan pandangannya bertemu dengan mata Kaivandra.

Dalam tatapan itu, ada lelah, tapi juga ada kasih yang tak pernah berubah. Relung hati Valeska tersentak. Tangannya terulur kemudian meraih tangan sang abang, lalu menggenggamnya erat.

"Maaf, Bang ..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Kaivandra hanya tersenyum tipis, seolah ingin mengatakan bahwa semua sudah dimaafkan sejak awal, karena bagi Kaivandra, kehadiran Valeska di sisinya saja sudah lebih dari cukup.

Chapter 2

Tak lagi sepaket. (Grup keluarga).

|Anak-anak, ayok turun sekarang waktunya makan malam,

|Ini mama masak banyak, kesukaan abang sama adik,

|Ada nasi goreng seafood kesukaan abang,

|Ada juga ayam kecap kesukaan adik,

|Papa sama mama udah di bawah, tinggal nunggu kalian berdua.

|Andai saja, bisa kenyataan.

Di akhir pesan, Valeska menambahkan emoticon ketawa sembari menangis. Kaivandra terkejut saat menerima pesan dari grup keluarga, bernama tak lagi sepaket. Grup tersebut sengaja dibuat oleh Valeska. Dengan tujuan, agar dirinya bisa merasakan apa itu kasih sayang, ya ... walaupun bibit tersebut belum tumbuh.

|Dek, are you okey?

|Yes, i'm fine. Don't worry.

Balas Valeska, diakhiri emoticon berpelukan.

|Dek, ini bentar lagi abang pulang. Mau pesen apa? Belum makan malam 'kan?

|Nggak perlu bang, adek udah masak kok buat kita berdua makan. Ini masakannya udah jadi, tinggal nunggu abang pulang

|Serius? Ini abang lagi di parkiran kampus, hujannya belum reda. Bentar ya, dek.

|Kai, papa sudah transfer buat kalian berdua makan. Kalau habis bilang aja.

Kaivandra memutar bola matanya malas, dia hampir lupa jika di dalam grup chat ini ada Girga. Kaivandra maupun Valeska, langsung menghentikan percakapannya sesaat. Dan mengabaikan pesan yang dikirim oleh papa mereka.

|Abang masih lama? Adek udah laper banget, kayak mau meninggal aja, astaga, adek butuh makan,

|Hus! Bicaranya, jangan ngasal!

|Ini udah mau pulang, kalau laper, makan duluan aja. Kata dokter adek harus makan banyak,

|Kai, itu adik kamu udah kelaperan. Pulang cepat!

|Ya ampun, dek. Makan duluan aja, abang masih di jalan kayaknya.

|Abang hati-hati jangan ngebut, kalau udah di depan kasih tahu yaa. Okey abang?!

Bukannya merespon pesan dari papa mamanya, Valeska justru mengabaikannya. Sama seperti yang dilakukan oleh Kaivandra.

***

Kaivandra berjalan menuju motornya yang terparkir di ujung sana, syukurnya hujan yang sejak tadi turun deras mengguyur sebagian kota, sudah reda. Hanya menyisakan aroma tanah basah serta udara sejuk.

Dia merapatkan jaketnya, meskipun dingin mulai berkurang, memakai jaket saat berkendara tetaplah wajib.Kaivandra menghela napas panjang sebelum memakai helm full face nya, senang akhirnya bisa pulang setelah seharian berkutat dengan tugas perkuliahan.

Kaivandra sedikit tergesa-gesa lantaran sudah tidak sabar untuk makan malam bersama adiknya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Jalan raya sudah ramai kembali, dengan pengendara yang juga baru pulang dari kampus. Beberapa genangan air masih tampak jelas di tengah jalan membuat sebagian pengendara lebih berhati-hati agar tidak terkena pada orang yang sedang berjalan kaki.

Hanya butuh 25 menit, Kaivandra pun sudah sampai di depan apartemen. Dia berjalan santai melewati lobi, sekaligus menyapa sekilas satpam yang sedang berjaga, kemudian masuk ke dalam lift dengan perasaan senang saat mengingat Valeska sudah memasak untuknya.

Begitu pintu apartemen terbuka, aroma familiar langsung menyambutnya. Kaivandra menyimpan ranseln, lalu menggantungkan kunci motor di tempat biasa. Setelah mengambil minum dari dispenser, Kaivandra bertanya.

"Dek, kata dokter kemarin apa?"

"Jangan capek-capek, makan yang banyak. Gitu aja sih, emang kenapa?"

"Itu tahu, abang nggak nyuruh kamu buat masak. Lagian uang kita banyak, kenapa nggak beli aja?"

"Pengen masak aja, lagian adek masaknya yang simpel."

"Abang semalem begadang lagi?" tanya Valeska.

Hanya dari anggukan abangnya, yang sedang mengambil nasi, Valeska sudah mendapatkan jawaban.

"Banyak tugas memangnya?"

"Beuuh jangan ditanya, dek. Bukan banyak lagi, tapi buanyak," jawab Kaivandra.

"Nggak apa-apa, bang. Baru mencapai stres sekian persen, belum nyampe gila, semangat." Gadis yang masih duduk di bangku SMA kela X itu, langsung merebahkan badannya di sofa. Menunggu Kaivandra makan, sambil bermain dengan kucing kesayangannya yang bernama Molly.

***

Melihat Valeska terdiam, Kaivandra yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya, langsung mencubit pelan pipi sang adik yang amat gembul.

"Lagi mikirin apa?" Valeska menggeleng kecil.

"Lagi pengen mikir ini, bang. Kenapa ya selama enam belas tahun adek hidup di dunia, adek belum nemuin orang yang jual jus buah salak?" Kaivandra refleks mengangkat sudut bibirnya, kemudian terkekeh ringan.

"Kenapa setelah pulang dari rumah sakit kamu jadi random kayak gini, dek?"

"Adek penasaran aja, setiap cafe atau tempat makan yang kita kunjungi, menu jus buah salak nggak terdaftar di menu. Misteri yang belum terpecahkan,"

"Ouh ya? Benar juga apa kata adek. Masih menjadi misteri, dan kenapa sekarang pikiran adek itu random?Dan lebih banyak bicara? Kayaknya, sehari adek berbicara ngabisin lima ribu kata, ngoceh terus kayak burung kakak tua." Kaivandra beranjak dari meja belajar sambil membawa satu gelas air mineral dan membantu adik kesayangannya untuk minum.

Valeska berdecak sebal, "Abang nyamain adek sama burung? Jahat banget! Benar-benar sialan, gara-gara Prisha, adek jadi kepikiran sama jus salak!"

"Argh ... abang, engap." Valeska merintih saat mulutnya dibekam oleh Kaivandra.

"Ouh, sekarang adek bisa mengumpat? Diajarin sama siapa?" tanya Kaivandra, sedikit marah.

"Prisha yang ngajarin, bang. Maaf ya, adek keceplosan, janji nggak akan lagi." Lanjutnya dengan memberikan tanda piss. Kalau Kaivandra suda marah, Valeska tidak berani menatapnya. Karena bagi dirinya, Kaivandra itu sangat menyeramkan saat marah. Molly saja, langsung patuh kalau melihat Kaivandra marah padanya.

Di malam yang sama, Girga mengambil ponsel di saku celana. Pria dewasa itu berniat mengirimkan pesan kepada Delina, sampai sekarang keduanya berpisah rumah entah karena alasan apa lagi.

Delina, mama anak-anak.

|Anak-anak butuh seorang ibu!

|Lebih tepatnya, mereka butuh keduanya!

|Saya sibuk, Delina! Kenapa kamu nggak urus mereka, dan ajak tinggal bareng?

Di dalam kamar, Delina mencengkram ujung kasurnya demi menyalurkan semua emosi yang sudah meletup-letup. Dan akhirnya, Delina pun membalas pesan dari Girga disajikan fakta yang ada.

|Lho, kok gitu? Saya juga sibuk, Girga! Saat mereka diberikan pilihan, Kaivandra dan Valeska, memilih untuk hidup mandiri. Karena mereka nggak mau menyakiti perasaan orang tuanya, tapi kita sebagai orang tua?

Balasan pesan bentuk pertanyaan yang sengaja dibikin menggantung, berhasil membuat Girga berpikir. Dan akhirnya, Girga mematikan ponsel tersebut kemudian dimasukkan kembali ke dalam saku. Dalam hati, Girga ingin sekali mencaci maki Delina, karena sudah membuat dirinya mati kutu. Tapi di sisi lain, dia pun tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi kedua anaknya lantaran secara finansial mereka terpenuhi.

Chapter 3

Setelah beberapa hari izin karena sakit, akhirnya Valeska kembali ke sekolah. Pagi itu, kondisi cuaca sangatlah cerah, dan udara terasa menyegarkan bagi Valeska lantaran dia sudah lama tidak keluar apartemennya.

Kebetulan satu arah dengan kampus tempat sang abang berkuliah, jadilah mereka berangkat bareng. Kaivandra tampak menunggu Valeska di depan dengan motor yang siap melaju.

"Semangat banget, dek. Pasti kangen sama suasana sekolah ya, udah lama juga nggak ketemu temen-temen," ucap Kaivandra, kemudian membantu Valeska naik ke atas motor.

Di perjalanan, Valeska banyak berpikir karena khawatir tidak bisa mengejar pelajaran yang tertinggal. Dia tidak sanggup membayangkan berapa banyak tugas yang akan dia kejar, secara, sekolahnya itu pasti saja setiap hari ada tugas. Kalau dalam sehari ada 4 pelajaran, nah dalam setiap mata pelajaran pasti ada tugas.

"Tegang amat, dek. Semangat dong, yang penting kamu sehat dulu. Urusan pelajaran, bisa dikerjain pelan-pelan," ucapnya lagi setelah paham apa yang dipikirkan oleh adiknya.

Valeska hanya mengangguk,sembari tersenyum manis. Sampai di gerbang sekolah, Valeska disambut ramah oleh pak satpam dan 3 teman dekat yang sejak tadi menunggu dirinya di depan sana. Mereka tampak senang, terlihat dari raut wajahnya.

"Ya ampun, anak ini, perasaan sakit mulu deh," ujar Parisha, sembari menggandeng tangan Valeska.

"Bukan keinginan, Prisha!" timpal Anaya sedikit sewot.

"Masuk kelas aja yuk, bentar lagi bel masuk." Usul Laksha, yang langsung disetujui oleh mereka bertiga.

Setelah memastikan adiknya masuk ke dalam kelas, Kaivandra mulai meninggalkan area sekolah tempat sang adik belajar sambil berkata.

"Kalau kayak ginikan, enak. Adek sehat, abang bahagia."

Hari pertama Valeska masuk sekolah, cukup membuat dirinya senang. Meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi dia merasa lebih baik karena memiliki teman dekat yang perhatian kepadanya.

***

Sementara di kampus Kaivandra. Satya baru saja tiba di kelas dan langsung duduk di antara ketiga temannya. Tidak jauh darinya, terlihat Kaivandra yang sedang sibuk dengan ponsel yang dia miliki. Dia sedang berbalas pesan dengan Valeska. Satya berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan sembari menunggu kelas terakhir pada hari ini.

"Apa persamaan anak elektro, dengan baterai?" tanya Satya, membuat mereka mengernyitkan dahi.

"Mulai-mulai," jawab Arjuna.

"Apaan ege? Gue males mikir!" sahut Vikara, kesal.

"Ah, nggak seru!"

"Mampus ahahah." Tiba-tiba saja Kaivandra menyahut diakhiri dengan gelak tawa. Jujur saja, Vikara sangat kepo dari pertanyaan Satya barusan. Hanya saja dirinya tidak mau berusaha dulu sebelum menjawab,

"Cepet apaan, Satya?" tanya Vikara terlihat frustasi. Satya menyentil dahi Vikara, yang kebetulan berada di sampingnya.

"Makanya mikir, bodoh." Celetuknya sembari tersenyum meremehkan. Kaivandra menggeleng lelah diikuti dengan helaan napas.

Senyum dari bibir kecilnya masih belum pudar, bahkan dia merangkul Satya lalu berkata, "Sesama bodoh, jangan saling membully." Arjuna bertepuk tangan merasa setuju dengan perkataan Kaivandra.

Sepersekian detik, dia pun menjawab, "Eh gila, ngena banget, Kai. Ang ang ang,"

"Si Juna, demam tektok," ujar Vikara.

"Jawaban dari pertanyaan lo tadi, apa Satya?" tanya Arjuna.

"Tau deh, gue pundung. Mau ngadem aja di DPR," lanjutnya ketus. Vikara menarik tangan Satya saat hendak berdiri.

"Sat, jawab jujur. Lo, nggak mungkin datang ke gedungnya'kan? Ini cuma candaan doang,"

"Di bawah pohon rindang. Gitu aja kagak tahu, huh! Bodoh!" Tidak lama dari situ, seorang dosen pun masuk ke dalam kelas. Suara langkahnya terdengar jelas, bersamaan dengan suara pintu saat ditutup kembali, membuat semua orang yang berada di dalam kelas mendadak hening.

Kaivandra mulai mengambil iPad dari dalam ransel saat dosen memulai pembelajaran, beliau menjelaskan terkait elektronika dasar, dan elektromagnetika dengan jelas dan rinci. Kaivandra tampak fokus, pandangannya menatap layar iPad dan sesekali menatap ke depan. Jari jemarinya begitu lihai saat mencatat materi yang dirasa penting.

Dia menggunakan aplikasi khusus untuk mencatat agar terlihat rapi dan terstruktur. Di dalam kelas, hampir semua orang menggunakan iPad, tapi ada juga yang memakai buku catatan dengan pena. Sedangkan Kaivandra lebih nyaman menggunakan iPad karena merasa lebih canggih.

Di tempat lain, Valeska berkumpul di dalam kelas bersama teman dekatnya. Valeska sangat menikmati jam istirahat terakhir, dia memilih menu paling best seller di kantinnya, yaitu menu mie goreng spesial, dan minumnya es jeruk agar menetralkan tenggorokan.

Es jeruk yang Valeska pesan, tanpa gula, dia memangsuka dengan rasa asam khas dari jeruk.

"Waktu di rumah sakit, gue nggak sengaja lihat abang lo, Val. Mau nyamperin, tapi gue agak segan," ucap Prisha, memberikan informasi sesuai kejadian beberapa hari pada teman-temannya.

"Mukanya kalut banget, kayak orang banyak pikiran," lanjutnya.

"Lo, mau ngapain ke rumah sakit?" tanya Valeska, santai. Sebetulnya dia paham, mengapa abangnya seperti itu.

"Waktu itu, mau nganterin berkas yang ketinggalan di rumah. Dan kebetulan, ayah gue lagi dipindah tugas kerumah sakit tersebut," jelas Prisha yang awalnya Laksha dan Anaya sedang menghabiskan mie, langsung terhenti begitu saja.

Keduanya menatap ke arah Valeska dengan ekspresi terkejut. Valeska yang kebetulan duduk di depan mereka, jelas menyadari tatapan tersebut. Dengan cepat, Valeska berkata.

"Jangan gitu, kemarin cuma demam biasa. Lagian, gue nggak tahu ayah Prisha,"Laksha dan Anaya, memakan mie nya kembali. Seakan tidak terjadi apa-apa.

"Gitu ya," jawabnya singkat.

"Nanti, lo nggak usah makan mie lagi. Gue perhatiin, dalam sebulan ini lo, sering bulak balik rumah sakit. Entah karena demam, atau hal lain," jelas Prisha memberikan saran dengan nada santai.

Valeska hanya mengangguk, tapi di dalam hatinya, dia sangat berterima kasih pada teman-temannya karena sudah peduli pada dirinya.

***

Langit sore mulai merekah keemasan, Valeska melangkah keluar gerbang sekolah dengan napas lelah. Setelah seharian berkutat dengan beberapa mata pelajaran, membuat tubuhnya terasa terkuras. Dia hanya ingin pulang dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Namun, di antara banyak kerumunan teman-teman yang saling berpencar, sosok Girga melambai-lambaikan tangan. Valeska melihat sang papa kemudian menghampirinya. Sebelumnya Girga mengirimkan pesan pada Valeska, untuk makan malam di sebuah restoran yang sering mereka kunjungi. Jujur saja Girga rindu pada putri bungsunya.

"Berangkat sekarang aja," ucap Valeska, seakan mengejar waktu.

Girga tampak terkejut, seakan waktu putrinya itu sangat berharga. "Ya udah, ayok. Adek pasti udah laper, nanti makan yang banyak ya, Dek."

Meskipun tubuhnya sudah lelah, Valeska tidak bisa menolak. Di dalam mobil, aroma familiar dari stela yang sengaja di pajang di dashbord dan suara musik kesukaan Valeska menyelimuti perjalanan.

"Papa, beneran ngasih tahu abangkan?" pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja.

"Udah kok, udah." Jawabnya bohong.

Sebenarnya, sebelum menjemput Valeska, Girga tidak sama sekali menghubungi putra sulungnya. Niat hati, Valeska ingin tidur lebih lama karena sejujurnya dia sangat capek. Namun, baru juga sempat memejamkan mata, Girga sudah memberitahu bahwa sudah sampai di depan restoran khas Jepang.

"Ayok dek," ajak sang papa.

Mereka berjalan masuk dan memesan beberapa menu, Valeska hanya pesan 2 menu, yang membuat papa nya terheran-heran.

"Masa cuma dua, pesan lagi, dek. Makan yang banyak,"

"Nggak Pa, takut nggak abis. Lagian, adek udah jajan banyak waktu di sekolah." Girga hanya mengangguk, entah apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya.

Sejak tadi, Valeska hanya berbicara seperlunya, saat menikmati makanan pun tidak ada gelak tawa yang Valeska ciptakan. Hanya ada keheningan. Di tempat lain, Kaivandra dilanda panik. Dia berusaha menelpon Valeska, tapi panggilannya selalu tidak terjawab.

Seharusnya Valeska menunggu di depan, tapi kenapa tidak ada? Nomor ponselnya mati, dan tak ada pesan yang dikirimkan sejak tadi.

"Dek, kemana sih kamu ini? Kalau kamu pulang duluan, kan biasanya kirim pesan dulu ke abang," ucapnya dalam hati.

Kecemasan kian menjalar cepat, layaknya kabut yang sudah menutup segala arah. Berulang kali dia mencoba mengirimkan pesan pada teman-teman Valeska, namun hasilnya nihil. Jalanan yang ramai, seakan mempermainkan perasaannya sekarang. Membuat Kaivandra kian terjebak dalam kekhawatiran yang membelenggu.

Waktu terus berjalan, dan di tengah menikmati makanannya, Valeska merasa ada sesuatu yang mengganjal.

"Papa, pulang sekarang yuk, abang pasti kesepian di apartemen sendiri," ucap Valeska.

Pandangan Girga seketika menyiratkan terkejut, tapi dia tutupi dengan senyuman tipis. "Papa lupa ngasih tahu jam berapa kita pulang, mau pulang sekarang? Tapi abisin dulu makannya," Valeska menggelengkan kepala pelan,

"Nggak Pa, adek mau pulang sekarang. Kasihan Abang," lanjutnya memohon.

Valeska menyimpan sumpit yang berada di tangannya lalu terdiam. Perasaan bahagia saat makan bersama sang papa digantikan dengan kerisauan. Tanpa banyak pikir, Girga memutuskan untuk pulang.

Valeska diantarkan sampai depan apartemen, dan ternyata Kaivandra berada di sana sampai akhirnya dia melihat Valeska turun dari mobil. Ada tatapan lega bercampur marah ketika melihat papa nya ikut keluar dari mobil.

"Papa kenapa nggak bilang, kalau mau ajak jalan adek?" sergahnya dengan suara yang tertahan oleh rasa sayang yang begitu besar.

Valeska hanya menatap bingung pada papa nya, bukannya sudah izin? Tapi kenapa abangnya itu terlihat marah, dan khawatir? Sementara Girga, pria dewasa itu hanya tertawa kecil.

"Jangan khawatir, Papa cuma pengen makan bareng doang. Kalau begitu, Papa izin pulang." Saat itu juga, Valeska mulai paham apa yang dilakukan oleh papa nya.

"Abang, Papa berbohong? Maafkan adek, pasti Abang nyariin ya?" tanya Valeska.

"Gapapa, sekarang kita masuk, lalu istirahat." Jawabnya dingin.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!