Indonesia
NovelToon NovelToon

Dokter Plenger Itu Milik Tuan Kailendra

Bab 1

Brak...

Sebuah vas bunga pecah tepat di pinggir seorang wanita cantik dengan jas dokternya. Penyebabnya tentu saja sebuah tembakan yang dilepaskan oleh tuan muda Kailendra. Tapi apakah dokter itu gentar? Oh tentu saja tidak, dengan pandangan mata tajam dan gerakan yang sangat cekatan dia melempar pisau bedahnya tepat di depan kursi roda Kailendra.

"Sorry ada kecoa" ucapnya acuh. Dan benar saja seekor kecoa sudah terbelah di depan Kailendra.

Pria tampan itu waspada. Sosok wanita cantik di hadapannya tidak bisa dia remehkan. Sedangkan Asisten Kailendra, yaitu Alan, tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi di dalam hatinya ia sangat bahagia karena ada yang bisa mengimbangi sifat tuan mudanya.

"Langsung saja, berapa mereka membayarmu, akan aku bayar double" ucap Kailendra dingin.

"No.no.no, walaupun saya suka uang tapi saya tidak punya komitmen dengan apa yang sudah saya sepakati. Gini aja, saya beresin dulu kesepakatan saya dengan ayah anda untuk menyembuhkan kaki anda, setelah selesai baru kita buat kesepakatan baru dengan nominal yang anda ucapkan tadi, deal?"

"Cih, aku menyuruhmu untuk pergi bukan untuk tinggal, apa kau tidak mengerti bahasa manusia?"

"Ya ya ya terserah anda saja tuan muda, yang pasti saya hanya melalukan tugas saya dengan baik" jawab Lynn dengan santainya dan tak lupa memberikan senyum super cantik kepada Kailendra. Sejenak pria itu pun terpana namun segera menepisnya.

"Oya namaku dr. Temmy Lynn. Anda bisa memanggil saya Temmy atau Lynn" ucapnya. Kailendra tersenyum sinis.

"Aku sudah sangat sering menemukan wanita sepertimu, berpura-pura merawat tapi akhirnya mencari kesempatan untuk naik ke ranjangku". Pria itu berharap dokter cantik itu akan tersinggung dan pergi tapi semua itu tinggal harapan. Wanita itu malah sibuk memperhatikan setiap sudut ruangan dengan seksama.

"Badjingan, ternyata mereka juga menggunakan ilmu hitam untuk melukainya, pantas saja dari tadi aku merasakan energi yang sangat kuat dan hitam di sini" ucapnya dalam hati.

"Apa kau tuli?" Geram Kailendra.

"Apa? Kau bilang apa barusan?" tanya Lynn. Kailendra mengepalkan tangannya. Amarahnya sudah memuncak.

"Aku tidak mengerti bagaimana jalan fikiran tua bangka itu. Dia mengirim wanita bodoh dan tuli sepertimu untuk merawatku. Jangan pernah bermimpi untuk bisa menyentuhku karena sebelum itu terjadi peluruku sudah menembus kepalamu"

"Hahaha.. Ya terserah kau sajalah tuan muda, atur sesukamu, lagian aku sudah sering mendengar omongan seperti itu. Oya jangan lupa kalau kau merasa yakin pelurumu bisa menembus tubuhku, jangan lupa aku juga punya pisau bedah yang bisa merobek tubuhmu itu" ujar Lynn sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

"Oya hari ini nikmati saja kebebasanmu, besok aku akan mulai pengobatanmu" lanjutnya lagi.

"Jangan mimpi"

"Aku tidak bermimpi, aku bekerja. Ayahmu membayarku 5 milyar untuk bisa menyembuhkanmu, kalau aku bisa menyembuhkanmu dalam waktu 3 bulan, bonus 2 milyar menantiku, tapi melihatmu yang seperti ini aku hanya butuh waktu 2 bulan"

"Wah kepercayaan dirimu dan khayalanmu sangat tinggi nona"

"Bukan khayalan, itu namanya doa, manifesting juga. Dah lah aku mau tidur, tolong tunjukan kamarku mas Alan" pintanya. Alan pun langsung menunjukan dimana kamar Lynn.

"Untuk pertama kalinya tuan muda bicara sebanyak ini dengan 0rang lain. Nona jangan masukkan ke dalam hati. Sebenarnya tuan muda orang yang sangat baik. Jadi saya mewakili tuan muda meminta maaf kepada anda" ujar Alan. Lynn menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu meminta maaf dan tidak usah begitu segan kepadaku, santai saja, chill bro..! Oya selain kalian bertiga siapa saja yang tinggal di sini?"

"Kalau yang tinggal di rumah hanya kami bertiga, kalau para pengawal mereka ada mess di bagian belakang rumah ini jadi mereka hampir tidak pernah ke sini kecuali kalau dipanggil" jelas Alan. Lynn menganggukan kepalanya mengerti.

"Apa kau sudah lama bekerja dengannya? Aku perlu informasi sedetail mungkin dengan orang-orang disekitarnya"

"Sudah cukup lama nona, sekitar 5 tahun yang lalu. Tuan muda Kailendra lah yang menyelamatkan saya ketika saya hampir mati dibunuh para preman, sejak saat itu saya berjanji untuk selalu berada di sisi tuan muda"

"Bagus, aku butuh banyak orang untuk membantuku karena kita tidak hanya akan menghadapi musuh dunia nyata tapi juga dunia astral. Kelihatannya mereka benar-benar ingin menghancurkan tuan muda mu itu sampai ke dasarnya, dan mau tidak mau suka tidak suka aku pun akan terlibat. Sialan..!" maki Lynn geram. Alan melongo mendengar ucapan Lynn.

"Maksud nona?"

"Orang yang mencelakai tuan mudamu itu juga menggunakan ilmu hitam agar kesehatan tuan mudamu tambah buruk, nanti kau akan tahu sendiri. Oya usahakan jangan tinggalkan sholat dan baca ayat Alqur'an tiap hari. Ah bajingan..!! Aku harus minta bayaran extra ini mah" Lynn masuk kamar meninggalkan Alan yang masih bengong sendiri.

Sebenarnya Alan juga memang merasakan hal yang aneh semenjak tinggal di sini. Padahal dulu ia sering menginap sendiri di sini tapi tidak pernah ada hal yang aneh. Tapi semenjak Kailendra kecelakaan dan tinggal di sini, hawanya sangat tidak nyaman dan sering kali membuat merinding. Alan sempat beberapa kali melihat sesuatu yang mengerikan tapi saat itu ia tidak percaya dan menganggap halusinasi karena lelah bekerja.

Lynn mengambil gawainya dan menghubungi seseorang.

"Bilang sama tante lu, bayaran gue tambah ya"

"Assalamualaikum dulu pe'a, terus nanti gue jawab waalaikumsalam baru lu boleh nyerocos" jawan seseorang di sebrang telfon.

"Udah lu wakilin dan lu jawab juga. Pokokya gue gak mau tau ya, bayaran gue kudu ditambah, gila aja gue gak cuma ngobatin orang sakit eh kudu ngelawan bangsa dedemit kiriman juga, najiss..!!"

"Hahaha... Makanya gue rekomendasiin elu ke om sama tante gue, lu kan avatar dunia nyata, menguasai 2 elemen dunia, dunia nyata sama dunia ghaib"

"Gue serius ya Langit, ngit, ngit,"

"Iya tar gue bilangin"

"Dah lah gue mau istirahat, besok siap perang sama ngadepin sepupu tiri lu yang sok kejam itu"

"Okay. Gue serahin dia ke lu ya, gue yakin lu bisa nyembuhin dia"

"Gampang asal ada cuan mah beres"

Lynn merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Baru saja dia ingin memejamkan matanya, tampak sosok seorang wanita cantik dengan wajah bulenya dan baju ala Noni belanda jaman dulu sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Raut mukanya terlihat sangat sedih dan ketakutan. Bukannya takut, Lynn bergegas menghampirinya.

"Ada apa?" tanya gadis itu.

"Tolong lindungi dia, hanya kau yang bisa menyingkirkan mereka semua" jawabnya.

"Siapa namamu?"

"Briana"

"Kau menyukai Kailendra?" tanya Lynn curiga.

Briana membulatkan matanya kaget.

"Tentu saja tidak, aku sudah melihatnya dari semenjak dia dilahirkan. Aku juga yang menjaganya dan bermain dengannya ketika dia masih balita. Sampai dengan hari dimana dia kecelakaan aku tidak dapat melindunginya karena kekuatan mereka terlalu besar" jawab Lynn dengan wajah sedihnya.

"Siapa yang mengirim mereka?" Briana menggelengkan kepala nya.

"Tolong sampaikan kepada Kailendra, jangan percaya siapapun selain Alan dan kedua orang tuanya. Tak jarang orang yang menusuk kita adalah orang yang paling kita percaya" setelah itu Briana langsung menghilang.

Belum sempat Lynn membalikan badannya, satu sosok yang menyeramkan muncul. Dengan wajah yang hitam, kuku panjang, dan banyak bulu di semua bagian tubuhnya.

"Sebaiknya kau pergi jangan mencampuri urusan kami, atau kau akan menyesal, manusia" ancamnya.

"Gak usah ngancem gue, kita liat aja nanti" jawab seraya berjalan menuju tempat tidurinya.

"Aahh nyaman sekali" tak butuh waktu lama gadis itu langsung terlelap.

Bab 2

Udara segar di pagi hari menjadi mood buster bagi Lynn untuk memulai pagi. Dia sudah bangun dari jam 4 subuh. Setelah melaksanakan kewajibannya, gadis itu melangkah ke dapur untuk membuat sarapan. Hari ini dia akan mulai pengobatannya.

"Pagi bi" sapanya kepada bi Wati.

"Pagi non, wah rajinnya udah bangun pagi-pagi gini"

"Udah dari sebelum subuh bi, biasa menghadap dulu sama pemilik alam semesta" canda Lynn.

"MashaAllah, paket lengkap ini mah, cocok sama tuan muda"

"Gak minat Bi, aku mah cuma peduli sama duit. hehe.."

"Justru itu yang bikin cocok, tuan muda kan jago banget nyari duit, walaupun keadaannya lagi kaya sekarang tapi kontrol perusahaan tetap di bawah dia, cocok sama non Lynn yang mata duitan" jelas Bi Wati panjang lebar.

"Ralat ya Bi, bukan mata duitan tapi normal, realistis"

"Iya iya terserah non aja, intinya mah duit. Hahaha" Tak butuh waktu lama bagi Bi Wati dan Lynn untuk akrab. Pembawaan Lynn yang supel membuat siapa saja menyukainya apalagi ditunjang dengan otak encernya dan wajah yang super cantik, tapi ya itu omongannya kadang gak disaring.

"Bi mulai hari ini, makan tuan muda saya yang handle ya, saya mau mulai pengobatan hari ini"

"Iya non, semoga tuan cepet sembuh ya"

"Aamiin.. Kalau tuan muda sembuh bonus saya cair, nanti saya traktir gelang emas 5gram deh"

"Hahaha.. Bibi baru denger traktir orang pake gelang emas, biasanya makanan"

"Emak-emaknya ditawarin makanan banyak nawar, udah kasih emas aja yang paling bener dan gak akan nolak"

"Bener tau aja kesukaan emak-emak. Hahaha.."

Berbeda jauh dengan Lynn, Semenjak pindah ke sana Kailendra tidak bisa tidur nyenyak, dia selalu bermimpi buruk sampai sampai hanya bisa tidur satu atau 2 jam tiap harinya. Mendengar suara ramai di dapur, Kailendra pun memutuskan untuk keluar kamarnya. Bertepatan juga dengan Alan yang juga baru keluar dari kamarnya.

"Lho tuan sudah keluar, ini masih setengah 6"

"Aku tidak bisa tidur, sepertinya aku butuh menghirup udara segar" Jawab Kailendra.

"Ayo tuan, kita keluar" Alan pun mendorong kursi roda Kailendra.

Sejenak pandangan Kailendra tertuju kepada Lynn yang berada di dapur dengan Bi Wati. Lynn terlihat sangat cantik dengan bareface nya.

"Sial kenapa dia terlihat begitu cantik" rutuk Kai dalam hati. Kai mengakui kalau gadis itu memang gadis tercantik yang pernah dia temuin. Tapi sayang kelakuannya sangat menyebalkan.

"Tuan Kai sudah bangun, mau bibi buatkan kopi?" tanya Bi Wati.

"Nanti saja bi saya mau ke taman belakang dulu" jawab Kai.

Lynn melihat kearah Kailendra. Penampilannya acak-acakan, kantung matanya hitam dan wajahnya sangat kusut.

"Butek banget tuh muka kaya selokan mampet" Ledek Lynn. Kai melototkan matanya tak percaya apa yang dia dengar. Belum ada 5 menit dia memuji gadis itu dan sekarang dia menyesalinya. Sedangkan Alan dan Bi Wati berusaha menahan tawanya, baru kali ini ada yang berani melawan majikan mereka itu.

"Kau.." Kai terlihat menahan amarahnya.

"Kenapa? Gak bisa tidurkan? Mimpi buruk yang sama dengan makhluk yang sama setiap malamnya?" Lynn menatap ke arah Kai. Kai sendiri terkejut dari mana gadis itu mengetahui apa yang dia alami, sedangkan dia sendiri tidak menceritakannya kepada siapa-siapa.

"Benar begitu tuan?" Tanya Alan. Kai tidak mengiyakan tapi tidak juga membantahnya, pria itu hanya diam, Alan dan Bi Wati sudah tahu kalau seperti itu berarti yang diucapkan Lynn benar.

"Makanya sebelum tidur itu baca doa, sholat dlu kalau bisa jadi tidur bawa wudhu"

"Aku tidak butuh ceramahmu" ujar Kai tidak suka.

"Ini bukan ceramah, kalau ceramah aku udah bawa kutipan ayat Alqur'an sama Hadits. Ini mah sharing sebagai sesama muslim. Oya mulai sekarang aku yang menyiapkan makanan dan obatmu, jam 9 kita mulai terapi" terang Lynn. Kai mau membantah tapi Lynn terlebih dahulu memotong ucapannya.

"Suka tidak suka, mau tidak mau, aku tetap melaksanakan tugasku, walaupun aku harus pakai berbagai macam cara"

"Aku tidak peduli dan aku tidak berminat"

"Terserah, oya kppimu aku ganti dengan jus, sebentar lagi aku buatkan"

"KAU TIDAK BERHAK MENGATURKU, INGAT ITU, SEGERA PERGI DARI SINI ATAU AKU YANG AKAN MELEMPARMU KELUAR" Ancam Kai. Lynn tidak menjawab tapi gadis itu menatap tajam mata Kai sampai Kai dibuat salah tingkah.

"Setidaknya untuk melemparku keluar kakimu harus sembuh dulu, mau mengandalkan para bodyguardmu itu? Sayang sekali mereka bukan tandinganku, jadi berhenti keras kepala"

Kai tersenyum sinis.

"Kau tidak tahu apa-apa tentangku dan hidupku"ucapnya dingin.

"Jangan terlalu mendramatisir seolah dunia paling kejam terhadapmu, sebagai seorang dokter aku banyak bertemu dengan orang keadaannya jauh lebih buruk darimu, tapi satu perbedaan yang sangat menonjol antara kau dan mereka, Bersyukur, itu lah yang tidak pernah kau lalukan selama ini, kau tidak pernah bersyukur dengan apa yang kau punya" Keheningan menyelimuti dapur. Hati kecil Kai tersentil. Selama ini dia selalu menyalahkan Tuhan kenapa begitu kejam kepadanya, sampai-sampai dia memilih meninggalkan Tuhannya.

"Sudahlah Alan, bawa tuan mudamu keluar buat menghirup udara segar, siapa tahu otaknya agak bener dikit" Tak menunggu lama, Alan pun mendorong kursi Roda Kai menuju taman belakang.

"Kasian tuan muda, semenjak ibunya meninggal hidupnya semakin susah, bahkan ketika SMA dia diusir dari kediaman keluarga besar Winata, bahkan ayahnya sendiri tidak bisa membelanya"

"Kita tidak tahu apa rencana Allah untuk umatnya Bi, bisa jadi itu adalah cara Allah untuk menyelamatkannya, kadang apa yang kita yakini ternyata berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Yang penting saat ini tuan Kailendra harus pulih terlebih dahulu" Bi Wati mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Lynn.

Jam 7 sarapan sudah siap. Hidangan kali ini terlihat sangat berbeda. Walau tampilannya menarik dan menggugah selera tapi tetap merupakan makanan sehat. Sejujurnya Kai pun tergiur tapi dia gengsi mengakuinya.

"Aku tidak mau makanan ini, ganti dengan yang biasa"

"Tidak ada, kalau kau tidak mau ya paling kelaparan, karena Bi Wati tidak masak" jawab Lynn enteng.

"Ayo duduk Alan, kita sarapan, Bibi juga aya sini" ajaknya.

"Eh tidak usah non, bibi belum lapar"

"Ayo bi, aku bikin buat kita berempat" Seru Lynn. Bi wati melirik ke arah Kai, Kai pun mengangguk, lalu wanita paruh baya itu menurutinya.

"Wah ini terlihat enak, terima kasih nona Lynn" ucap Alan. Gadis itu pun mengacungkan jempolnya.

"Wah nona, ini sandwich terenak yang pernah saya makan" Alan memakannya dengan sangat lahap. Kai menelan ludahnya tapi dia gengsi. Lynn memberikan isyarat kepada Alan, pria itu pun mengerti.

"Tuan yakin tidak mau memakannya, kalau begitu saya saja yang menghabiskannya" Namun tangan Kai lebih dulu mengambilnya.

"Aku terpaksa memakannya daripada kelaparan" Ia pun langsung memasukan potongan sandwich itu ke mulutnya.

"Sialan, makanannya benar-benar enak" ucapnya dalam hati. Mereka berempatpun makan dengan lahap.

"Lumayan tapi jauh dari kata enak" ucap Kai tiba-tiba.

"Limiyin tipi jiih diri kiti inik, Prett ah" ucap Lynn meledek Kai.

"Kau?"

"Apa?" Lynn pun beranjak mengambil ramuan yang sudah ia seduh. Bau rempah dan obat menusuk indra penciuman, aromanya sangat strong tapi menenangkan.

"Obatmu, minumlah" Kai tidak bergeming tapi dengan satu gerakan tangan dia menyapu mangkok obat tersebut, tapi ternyata Lynn juga tak kalah cepat. Dia mengambil mangkok tersebut dan entah bagaimana sekarang posisinya sudah meminumkan obat tersebut ke mulut Kai. Pria itu mencoba melawan dengan memuntahkannya, namun ternyata tenaga Lynn lebih kuat.

"Kalau kau muntahkan, percayalah aku akan meminumkan obat tersebut dengan caraku, mouth to mouth, kau mau mencobany?." Kai dan yang lainnya melongo tak percaya apa yang baru saja mereka lihat.

^^^"Wow.." kata Bi Wati^^^

"Kejadiannya teelalu cepat, otakku belum mampu mencernanya, Bibi ngerti?" Bi Wati hanya menggeleng sambil menyaksikan drama di depannya."Demi uang 7M di depan mata, gue rela ngasih first kiss gue sama elu, ngerti?" Seperti disihir Kai pun tidak menolaknya.

"Bagus, nanti siang ada lagi obat, gak usah banyak drama kaya gini, Be a good boy, dah saya mau mandi dulu. Bye" ujarnya langsung meninggalkan mereka semua.

'

Bab 3

Lynn mengelilingi sekitar pekarangan rumah untuk menghirup udara segar. Sudah lama ia tidak libur. Banyaknya "tawaran" pekerjaan kepadanya menjadikan ia tak punya waktu luang untuk dirinya sendiri. Untung saja dia mengambil job yang ditawarkan Langit, dengan bayaran yang sangat besar dan tempat di pedesaan yang masih asri membuatnya betah di sini walaupun ada drama menghadapi Kailendra tapi itu bukan hal yang sulit.

"Ah.. Nyamannya" ujar Lynn merentangkan tangannya dan menghirup udara pagi yang masih segar. Dia melihat terdapat pohon jambu batu di depan mess pengawal, gadis itu pun mendatanginya dan memetik beberapa buah yang sudah matang.

"Selamat pagi dokter Temmy" ucap salah seorang pengawal.

"Selamat pagi" balas Lynn ramah.

"Dokter kalau mau di belakang ada beberapa pohon strawberry dan mangga yang sudah matang, ambil saja dok" ujar pengawal itu lagi.

Mendengar itu Lynn berbinar.

"Benarkah? Aku boleh mengambilnya?"

"Tentu saja dok, anggap rumah sendiri. Kami yang merawatnya sendiri" terang pengawal tersebut.

"Okay kalau begitu aku tidak akan sungkan, ayo tunjukan padaku" Sang pengawal itu mengantar Lynn ke tempat tujuan.

"Wahh.. Banyak sekali" ucap Lynn excited

"Ambil sebanyak yang dokter mau"

"Oya siapa namamu? Kau kelihatan masih sangat muda" tanya Lynn sambil memakan buah strawberrynya.

"Nama saya Rendra dokter, umur saya sekarang 22 tahun, baru sekitar 6 bulan yang lalu saya bergabung di sini" terangnya.

"Ternyata kau masih sangat muda. Bagaimana kau bisa menjadi pengawal di sini?"

"Aku ikut pamanku, kebetulan beliau kepala pengawal di sini. Aku juga bisa beberapa Ilmu bela diri dan juga gajinya besar tentu saja saya tidak menolaknya"

"Kau kuliah?"

"Sudah tamat dokter, saya sarjana ekonomi tapi ya begini lah jaman sekarang sangat susah dapat kerjaan jadi begitu ada peluang langsung saya ambil yang penting halal" Lynn menganggukkan kepalanya mengerti.

Tiba-tiba Lynn menyerang Rendra. Pemuda itu tidak siap apalagi gerakan Lynn sangat cepat. Rendra bangkit dan balik menyerang Lynn, hal itu ternyata di saksikan oleh pengawal yang sedang berada di mess termasuk pak Harun, kepala pengawal Kailendra. Rendra tampak kewalahan sedangkan Lynn masih tenang menangkis setiap serangan Rendra sambil memakan buah strawberrynya.

"Kewaspadaanmu rendah, gerakanmu mudah dibaca lawan, responmu kurang, pukulanmu juga kurang terarah. Kalau melawan preman jalanan kau pasti mudah menang tapi tidak dengan lawan dari kelompok bawah tanah atau yang lainnya" ujar Lynn. Rendra terlihat kehabisan nafas. Harun dan yang lainnya menghampiri mereka.

"Bu dokter ternyata anda sangat hebat, kami masih jauh dibawah anda" ujar Harun menunduk.

"Tidak usah sungkan begitu paman, ini ambil lah, besok aku temani kau berlatih" ujar Lynn sambil melemparkan botol air minum kepada Rendra.

"Terima kasih dokter" ujarnya.

"Boleh aku bertanya paman? Aku harap paman berkata jujur"

"Tentu saja apa itu?"

"Siapa yang mempekerjakan kalian?" tanya Lynn serius.

"Apa itu penting nona?"

"Tentu saja, aku bekerja secara total paman, jujur saja kalau kita tidak di pihak yang sama atau ada yang mempunyai rencana busuk untuk mengacaukan pekerjaanku menyembuhkan tuan Kailendra, aku tidak segan menyingkirkannya" ucap Lynn tajam.

Harun dan yang lainnya menelan ludah mendengar ancaman Lynn.

"Kami dipekerjakan oleh ayah tuan muda Kai, kami tidak mungkin berkhianat apalagi sampai mencelakakannya. Keluarga tuan Kai sangat berjasa bagi kami" ujar Harun.

"Bagus aku pegang ucapan paman, Oya siapa saja yang suka mengunjungi Kai?"

"Hanya nyonya besar dan paman tuan muda Kai, biasanya nyonya besar datang dengan membawa ramuan untuk tuan muda dan kadang beliau menyuruh pengawalnya untuk memotong ayam hitam katanya untuk sop tuan muda, tapi darahnya selalu ditampung dan kami sama sekali tidak boleh mendekat" terang Harun panjang lebar.

Sangat aneh. Begitu fikir Lynn.

"Apa tuan Kai baikan setelah minum obat tersebut?" Harun menggelengkan kepala.

"Kami tidak tahu nona, kami dilarang mendekat bahkan masuk ke rumah oleh nyonya besar maupun tuan Sandy, dan tuan Kai sangat mempercayai nenek dan pamannya itu, karena hanya mereka yang baik kepadanya, bahkan tuan Kai sendiri sangat membenci orang tua dan adik tirinya yaitu tuan muda Elandra. Tuan Kai percaya kalau tuan muda Elandra dan ibu tirinya lah yang mencelakainya, apalagi tuan Elandra sempat merebut pacar tuan Kai.

"Ckckck... Ceritanya lebih dramatis dari pada Drakor ternyata" ujar Lynn.

"Oya apakah kalian sering menemukan hal janggal yang menurut kalian tidak masuk akal?" lanjut Lynn lagi. Sontak pernyataan Lynn membuat mereka tegang.

"Banyak nona, anda juga mengalaminya?" ujar seorang pengawal bernama.Bayu. Lynn pun mengangguk.

"Kejadian yang tak pernah saya dan teman saya Derry lupakan" Ia menunjuk satu pemuda di sana yang bernama Derry.

"Waktu itu kami bertugas patroli sekitar jam 2 malam. Pas melewati kediaman utama kami melihat sekelebat kain berwarna merah di atas pohon palem besar itu. Kami fikir mungkin ada jemuran yang tertinggal, saya dan Derry berinisitip mengambilnya, tapi belum sempat kami menyentuhnya tubuh kami terhempas lumayan jauh, lalu tiba-tiba kain itu berubah bentuk seperti tubuh manusia namun melayang" Bayu menjeda ucapannya.

"Yang lebih mengerikan lagi kain merah tersebut menjelma menjadi seorang wanita dengan wajah yang sangat menakutkan, bukan hancur seperti yang di film, wajahnya malah utuh namun sorot mata tajamnya seperti menguliti kami. Saya dan Bayu saat itu sudah pasrah karena kami tidak bisa bergerak sama sekali, tapi ketika dia menyerang kami ada yang menghalanginya. Wanita juga dengan gaun birunya, entah bagaimana ketika dia menyuruh kami pergi tiba-tiba kami bisa bergerak dan langsung lari" terang Derry. Lynn mendengarkan dengan seksama.

"Dia sosok penunggu di sini sejak jaman Belanda. Namanya Briana, sosoknya sangat cantik seperti nona Belanda" terang Lynn.

"Nona pernah melihatnya?" tanya Rendra penasaran.

"Bukan hanya melihatnya, kita bahkan ngobrol deep talk, heart to heart antar sesama wanita" ujar Lynn mencairkan suasana.

"Ah nona becanda ya? Hahaha"

"Ih gak percaya, mau aku kenalin? cantik lho dia masih muda, kalian banyak yang masih jomblo kan? Siapa tau cocok, palingan mungkin beda umur doang, dia seumur nenek moyang kalian. Pokoknya dia positive vibes banget deh" Lynn seperti sedang mempromosikan Briana.

"Gak ah makasih non, gak papa gak cantik yang penting manusia" ujar Bayu yang disambut gelak tawa oleh mereka semua.

"Perbanyak ibadah paman, usahakan ngaji dan setel murotal, kalau bisa paman lakukan ruqiah mandiri, paman pasti tahu caranya. Mereka memang kiriman untuk membuat tuan Kai lebih parah. Aku akan menyingkirkan meraka, kalian juga harus waspada, mereka pasti akan bertindak pas tahu ada perlawanan. Baik manusia atau pun yang lainnya. Mulai besok kita berlatih bareng" ujar Lynn dan disambut antusias oleh yang lainnya.

"Permisi permisi gorengan kang Asep sudah siap" ujar seorang pengawal berusia sekitar 38 tahunan bernama Asep.

"Wah wangi banget ini mang Asep" ujar Lynn antusias.

"Iya sok atuh neng dokter harus nyobain gorengan mang Asep, pasti ketagihan, sekali kali makan gorengan mah gak apa-apa" kata mang Asep dengan logat sundanya.

"Saya mah segala masuk mang, asal jangan kayu sama batu aja, gabreskeun lah"

"Aih neng teh orang Sunda?"

"Saya mah orang Sumedang mang, matakan sakapeung jiga tahu.(Saya mah orang Sumedang mang, makanya kadang-kadang mirip tahu)"

Jawaban Lynn disambut gelak tawa mereka semua. Ternyata dari awal interaksi dengan Rendra diam-diam Kailendra memperhatikannya dari balkon kamarnya. Kemampuan bela diri Lynn dan caranya bersosialisasi dengan orang lain membuat Kai terkesan. Tapi pria itu tak lantas bisa menerima Lynn karena ia masih curiga kalau Lynn adalah bagian rencana ayahnya dan juga ibu tirinya untuk menyingkirkan dirinya. Walaupun Alan berani menjamin dengan nyawanya kalau Lynn di sana hanya untuk menyembuhkannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!