Rasa sakit yang dirasakan Raditya saat ini sebenarnya tidak terlalu megah. Itu adalah rasa perih yang luar biasa di tenggorokan, diikuti oleh benturan keras di bagian belakang kepalanya.
Hal terakhir yang diingat Raditya sebelum semuanya menjadi gelap adalah mata hitam polos milik si Belang—kucing kampungnya—yang menatapnya dengan pandangan menghakimi yang sangat dalam. Mengapa? Karena Raditya baru saja mencoba trik sulap "menelan tutup pulpen" demi mendapatkan perhatian si kucing. Sialnya, tutup pulpen itu benar-benar tertelan, menyangkut di trakea, dan saat dia panik mencari air, dia terpeleset genangan air seninya sendiri (karena kaget) lalu jatuh menghantam mangkuk makanan berbahan keramik milik si Belang.
Kematian yang sungguh... legendaris.
"Jadi... kamu mati karena... ini?"
Sebuah suara malas dan terdengar sangat lelah membuyarkan lamunan Raditya.
Raditya mengerjapkan matanya. Dia tidak lagi berada di lantai kamarnya yang berantakan. Dia kini duduk di sebuah kursi plastik putih—jenis kursi yang biasa ada di warung bakso—di sebuah ruangan yang sepenuhnya berwarna putih tak berujung. Di depannya, ada sebuah meja biro kayu yang tampak tua, dan di balik meja itu duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik yang lengannya digulung, lengkap dengan ID card yang menggantung di lehernya.
Di atas meja, ada papan nama kecil bertuliskan: DEWA ADMINISTRASI REGION IV-A.
"Eh... anu, Pak Dewa," Raditya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit. "Itu... refleks, Pak. Saya cuma mau menghibur kucing saya yang lagi depresi karena diputusin kucing tetangga."
Dewa itu memijat pelipisnya, lalu menghela napas panjang seolah-olah seluruh beban alam semesta baru saja dijatuhkan ke pundaknya. Dia membalik lembaran kertas di map dokumen di depannya.
"Dari sepuluh ribu jiwa yang saya urus minggu ini, kamu adalah yang paling ajaib, Raditya," kata Dewa itu dengan nada datar. "Ada yang mati kena serangan jantung saat maraton, ada yang kena begal, nah kamu? Tersedak tutup pulpen Faster warna hitam saat cosplay jadi pesulap jalanan di depan kucing. Kamu tahu betapa memalukannya menulis laporan kematian ini ke pusat?"
"Maaf, Pak... Tapi pulpennya memang licin—"
"Cukup!" Dewa itu mengangkat tangannya, menghentikan pembelaan Raditya. "Saya tidak mau dengar. Saya sudah burnout, kuota lembur saya bulan ini sudah habis, dan saya mau pulang cepat untuk nonton pertandingan bola antar-dimensi. Intinya, karena ada kesalahan teknis di server akhirat, antrean neraka dan surga sedang down. Jadi, jalan pintasnya: kamu saya lempar ke dunia lain. Paham?"
"Wah, Isekai?!" Mata Raditya langsung berbinar. "Dapat cheat skill kan, Pak? Seperti pedang suci yang bisa membelah bumi? Atau sihir penghancur masal? Atau minimal harem sepuluh elf?"
Dewa itu menatap Raditya dengan tatapan kosong, lalu tersenyum sangat tipis—jenis senyuman yang biasa diberikan oleh HRD sebelum memecat karyawannya.
"Tentu saja. Saya beri kamu sebuah 'Sistem'. Sekarang, berdiri di atas lingkaran lingkaran cahaya itu dan cepat pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran dan melemparmu ke dimensi cacing tanah."
Sebelum Raditya sempat memprotes atau meminta penjelasan lebih lanjut, lantai di bawah kursi plastiknya runtuh. Dia jatuh bebas ke dalam pusaran cahaya pelangi sambil berteriak histeris, meninggalkan Dewa Administrasi yang langsung membuka botol minyak angin dan menggosokkannya ke kening.
"Aaaaakh—gedubrak!"
Raditya mendarat dengan posisi wajah terlebih dahulu menancap ke dalam tumpukan lumut tebal berwarna ungu tua. Bau tanah basah yang asing langsung menusuk hidungnya.
Dia bangkit dengan terbatuk-batuk, meludahkan beberapa helai lumut ungu dari mulutnya. Dia melihat sekeliling. Pohon-pohon raksasa dengan kulit kelabu berkilau biru redup menjulang tinggi di sekitarnya. Kanopi daunnya berwarna merah bata. Suasananya begitu purba, liar, dan... sangat mengerikan.
"Gila, ini beneran dunia lain," bisik Raditya, merinding melihat pohon yang tampak seperti bisa memakan manusia jika dia lengah. "Oke, tenang. Di mana cheat skill-ku? Sistem! Muncul!"
Ding!
Sebuah suara bel yang nyaring—mirip suara bel pintu minimarket—bergema langsung di dalam kepalanya. Sebuah layar hologram transparan berwarna hijau neon muncul di depan wajahnya.
[Sistem Survival Terpaksa v1.0 berhasil diaktifkan!]
[Menganalisis Pengguna...]
Nama: Raditya (Mantan Manusia, Mantan Pesulap Gagal).
Kondisi Fisik: Lemah, Kurang Gizi, Otot Lengan Lembek (Akibat terlalu sering scrolling media sosial).
Atribut Khusus: Kebodohan Alami (Level Maksimal).
[Pesan dari Sistem]: Selamat datang di Aethelgard, wahai jiwa yang mati karena tutup pulpen! Tugas Anda adalah bertahan hidup. Jika Anda mati lagi di sini, roh Anda akan otomatis diubah menjadi pupuk organik untuk kebun Dewa Administrasi. Semangat!
Raditya melongo membaca teks tersebut. "Heh! Sistem kurang ajar! Kenapa deskripsinya ngejek begitu?! Lagian, di mana panel status kekuatanku? Mana sihir api? Mana pedang legendaris?"
Ding!
[Jawaban]: Anda tidak memiliki bakat sihir atau fisik pendekar. Mengharap kekuatan super dengan modal mati tersedak pulpen adalah bentuk halusinasi tingkat tinggi. Silakan andalkan otak Anda yang tersisa 10% itu untuk mencari makan.
"Sialan," umpat Raditya, meraba tubuhnya. Pakaiannya masih sama, kaus oblong dan celana jins. Tapi setidaknya, rasa sakit di kepalanya akibat benturan mangkuk kucing tadi sudah hilang.
Tiba-tiba, perutnya berbunyi dengan sangat nyaring. Kruuuk~ Rasa lapar yang luar biasa langsung menyerang. Wajar saja, sebelum mati dia memang belum sempat makan malam karena sibuk bermain dengan si Belang.
Ding!
[Misi Darurat Pertama: Mengisi Perut yang Kosong]
Tugas: Cari sesuatu yang bisa dimakan dalam radius 50 meter.
Peringatan: 90% tumbuhan di sekitar Anda mengandung racun yang bisa membuat Anda buang air besar tanpa henti selama tiga hari tiga malam.
Hadiah Misi: Alat masak pemula & Poin Waras (+1).
Hukuman Gagal: Diare magis instan.
Raditya menelan ludah. "Diare magis? Di hutan tanpa toilet selembut ini?! Ogah!"
Dengan motivasi takut mencret di dunia lain, Raditya mulai merangkak dan memeriksa tanaman di sekitarnya. Dia mendekati sebuah tanaman bush yang memiliki buah bulat berwarna kuning cerah, tampak sangat menggoda seperti buah beri raksasa.
"Sistem, yang ini bisa dimakan tidak?"
[Analisis]: Buah Peledak Kentut (Farting Berry). Jika dimakan, tidak mati, tapi bokong Anda akan mengeluarkan gas bertekanan tinggi yang bisa terdengar hingga radius 2 kilometer. Sangat bagus jika Anda ingin mengundang semua predator malam untuk makan malam (di mana Anda adalah menunya).
Raditya langsung menarik kembali tangannya dengan panik. "Ogah! Pilihan lain, pilihan lain!"
Dia berjalan berjingkat, menghindari tanaman berlendir atau yang tampak mencurigakan. Setelah beberapa menit mencari dengan keringat dingin mengalir, dia melihat sejenis jamur besar berwarna cokelat polos yang tumbuh di sela-sela akar pohon raksasa. Jamur itu terlihat sangat membosankan, mirip jamur tiram di Bumi.
"Kalau yang ini?"
[Analisis]: Jamur Batu Tawar. Tidak beracun, tidak berasa, nutrisinya setara dengan makan kardus basah. Tapi aman untuk perut lembek Anda.
"Yes! Kardus basah lebih baik daripada mencret!" Raditya dengan gembira langsung mencabut jamur itu.
Ding!
[Misi Darurat Selesai!]
Evaluasi: Anda berhasil menemukan makanan paling membosankan di seluruh hutan ini. Selamat atas seleranya yang payah.
Hadiah dikirim ke Inventaris: 1x Korek Api Awet, 1x Panci Kecil Aluminium, dan +1 Poin Waras (Sekarang tingkat kewarasan Anda: 11/100, masih dalam kategori agak gila).
Sebuah panci kecil dan korek api tiba-tiba jatuh dari udara, tepat menghantam kepala Raditya.
"Aduh! Bisa tidak hadiahnya ditaruh pelan-pelan?!" protes Raditya sambil mengusap kepalanya. Namun, senyumnya kembali mengembang saat melihat panci dan korek api itu. "Tapi lumayan, minimal aku bisa masak jamur kardus ini."
Kegembiraan Raditya tidak berlangsung lama. Malam mulai jatuh dengan cepat di hutan Aethelgard. Pendaran tanaman neon mulai menyala, dan dari kejauhan terdengar suara lolongan aneh: "Auuu~ Ngoook~"—suara yang terdengar seperti perpaduan serigala dan babi hutan yang sedang bersin.
Raditya merinding. "Sistem... suara apa itu?"
[Pemberitahuan]: Itu adalah Babi Serigala Bertaring Dua (Boarwolf). Mereka biasanya berburu dalam kelompok dan sangat menyukai daging manusia yang empuk dan kurang olahraga. Disarankan untuk segera memanjat pohon atau menggali kuburan Anda sendiri.
"Hei! Kasih solusi yang bener dong!" teriak Raditya panik, langsung memeluk batang pohon raksasa di dekatnya dan mencoba memanjatnya dengan gaya seperti koala yang ketakutan.
Petualangan survival Raditya di dunia lain baru saja dimulai, dan modal utamanya hanyalah sebuah panci, jamur rasa kardus, dan Sistem yang hobi menghujatnya.
"Sistem! Demi apa pun, celana jins ini tidak didesain untuk menjepit batang pohon sekasar ini!"
Raditya berbisik dengan nada super panik, sementara kedua paha dan lengannya memeluk erat kulit kayu keperakan dari pohon raksasa Aethelgard. Posisi tubuhnya saat ini sudah berada sekitar empat meter di atas tanah. Panci aluminium hadiah dari misi sebelumnya tergantung menyedihkan di ikat pinggangnya, sesekali berdenting pelan menabrak gesper.
Di bawah sana, di antara semak-semak neon yang menyala biru, muncullah tiga ekor makhluk yang tadi disebut Sistem sebagai Boarwolf.
Bentuk mereka benar-benar merusak estetika dunia fantasi. Tubuhnya gemuk berbulu lebat seperti babi hutan seberat dua ratus kilogram, tetapi moncong dan kakinya panjang berotot layaknya serigala purba. Dua taring besar mencuat ke atas dari rahang bawah mereka, tampak berkilau tajam tertimpa pendaran cahaya lumut.
"Ngoook~ Auuu~"
Salah satu Boarwolf yang berukuran paling besar mulai mengendus-endus akar pohon tempat Raditya bersembunyi. Makhluk itu mendongak, mata kuningnya yang tanpa pupil langsung mengunci posisi Raditya.
Ding!
[Pemberitahuan]: Target telah mengunci posisi Anda. Air liur Boarwolf mengandung asam lambung tinggi yang bisa mencerna tulang. Mereka sedang berdiskusi apakah Anda lebih enak dimakan mentah atau ditunggu sampai jatuh sendiri akibat kelelahan.
"Diskusi ndasmu! Mereka itu binatang, Sistem! Jangan bikin narasi yang makin bikin mental saya turun!" balas Raditya lewat pikiran, takut suaranya memancing monster itu untuk melompat.
Boarwolf terbesar itu mulai mundur beberapa langkah. Detik berikutnya, makhluk itu berlari kencang dan... DUBRAK! Kepala kerasnya menghantam batang pohon raksasa itu dengan kekuatan penuh.
Pohon itu bergoyang. Raditya menjerit tanpa suara, matanya terpejam rapat saat tubuhnya merosot setengah meter ke bawah akibat getaran hebat tersebut. Kulit pohon yang kasar menggesek dadanya, membuat kaus oblongnya hampir robek.
"Sistem! Tolong! Kasih saya misi kek, kasih saya senjata kek! Ini darurat!"
Ding!
[Misi Darurat: Bertahan dari Malam Pertama]
Tugas: Jangan jatuh dari pohon sampai matahari terbit (Sisa waktu: 8 jam 42 menit).
Saran Sistem: Bernyanyilah di dalam hati agar tidak bosan, atau mulailah menulis surat wasiat menggunakan air liur Anda sendiri.
Hadiah Misi: 50 Poin Survival, Pembukaan Fitur [Toko Sistem Terbatas], dan 1x Poin Upgrade Sistem.
Hukuman Gagal: Menjadi camilan tengah malam yang renyah.
Melihat hadiahnya yang melibatkan Poin Upgrade, mata Raditya sedikit melebar di tengah rasa takutnya. "Oke... oke... 8 jam lebih? Aku harus bertahan memeluk pohon ini selama itu? Otot lenganku bisa copot!"
Boarwolf di bawah tampaknya tidak menyerah. Melihat targetnya tidak jatuh, dua ekor babi-serigala lainnya ikut mundur dan bersiap melakukan hantaman kombinasi.
DUBRAK! DUBRAK!
Pohon raksasa itu kembali bergetar. Pegangan tangan Raditya mulai licin karena keringat dingin. Dalam kepanikan tingkat tinggi, otak Raditya yang biasanya lambat mendadak berputar cepat. Dia melihat panci aluminium di pinggangnya, lalu melihat jamur rasa kardus yang tadi sempat dia kantongi di saku celana.
"Jamur Batu Tawar! Sistem, kalau jamur ini keras, apa bisa dilempar?"
[Analisis]: Jamur Batu Tawar memiliki kepadatan seperti karet ban bekas jika belum dimasak. Menggunakannya sebagai senjata pelempar memiliki efektivitas sebesar 0,01% untuk melukai target, tapi memiliki efektivitas 99% untuk membuat target makin marah.
"Aku tidak mau melukai mereka, aku mau mengalihkan perhatian!"
Raditya melepas satu tangannya dari pohon—sebuah tindakan nekat yang membuat tubuhnya hampir merosot—lalu merogoh saku, mengambil jamur cokelat itu, dan melemparnya sekuat tenaga ke arah semak-semak berduri yang berjarak sepuluh meter dari pohon.
Puk.
Jamur itu mendarat di semak-semak, memicu suara gemerisik daun.
Ketiga Boarwolf langsung menoleh serentak ke arah semak-semak tersebut. Telinga mereka bergerak-gerak. Sebagai predator, insting mereka sangat sensitif terhadap gerakan mendadak. Boarwolf terkecil mengira itu adalah mangsa lain yang mencoba merebut wilayah, lalu berlari menuju semak-semak itu sambil menggeram keras. Dua ekor lainnya, termasuk si bos besar, terdistraksi dan ikut menyusul untuk memeriksa.
"Berhasil!" batin Raditya girang.
Mumpung para monster itu menjauh beberapa meter, Raditya menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk memanjat lebih tinggi, mencari percabangan dahan yang cukup besar agar dia bisa duduk, bukan lagi bergelantungan seperti monyet malas. Setelah perjuangan hidup dan mati selama lima menit yang melelahkan, pantatnya akhirnya berhasil mendarat di atas sebuah dahan pohon yang lebar.
Raditya langsung telentang di atas dahan, napasnya memburu, dadanya kembang kempis.
Ding!
[Pencapaian Terbuka!]
Tindakan: Menggunakan makanan hambar untuk mengelabui monster ber-IQ rendah.
Selamat! Anda mendapatkan Gelar Absurd Pertama Anda: [Gelar: Pelempar Sayur Profesional]
Efek Gelar: Meningkatkan akurasi melempar objek berbasis tumbuhan (sayur, buah, jamur) sebesar 15%. Target yang terkena lemparan akan mengalami efek 'Bingung' selama 0,5 detik karena heran kenapa mereka dilempar makanan.
Raditya membaca hologram itu dengan wajah datar, kelelahan untuk marah. "Pelempar sayur profesional... Gelar macam apa itu? Tapi ya sudahlah, efek akurasinya lumayan kalau nanti aku harus melempar kelapa ke kepala monster."
Malam berjalan dengan sangat lambat. Di bawah pohon, kawanan Boarwolf sempat kembali dan mondar-mandir karena sadar mereka telah ditipu oleh sebutir jamur. Namun, karena Raditya berada terlalu tinggi dan tidak lagi bergerak, monster-monster itu akhirnya bosan dan pergi mencari mangsa lain setelah beberapa jam.
Raditya tidak berani tidur. Dia terus terjaga, memeluk dahan pohon dengan erat sembari mendengarkan berbagai suara mengerikan yang menggema di seisi hutan Aethelgard.
Hingga akhirnya, pendaran tanaman neon mulai meredup, digantikan oleh berkas cahaya fajar berwarna jingga kemerahan yang menembus kanopi daun ungu.
Ding!
[Misi Darurat: Bertahan dari Malam Pertama — SELESAI!]
Evaluasi: Anda terbukti memiliki kemampuan bertahan hidup setingkat kecoak—sangat ulet dalam kondisi ketakutan.
Hadiah: +50 Poin Survival, Fitur [Toko Sistem Terbatas] Terbuka, dan 1x Poin Upgrade Sistem.
[Pemberitahuan]: Anda memiliki 1 Poin Upgrade Sistem. Apakah Anda ingin melakukan upgrade pada Sistem sekarang? (Disarankan: Upgrade-lah, agar hamba tidak terlalu pusing melihat performa Anda yang memprihatinkan).
Raditya duduk tegak di atas dahan, mengusap matanya yang kantuk. "Tentu saja! Upgrade sekarang! Tolong berubah jadi sistem yang lebih berguna dan kurangi kadar sarkasmu itu!"
Layar hologram hijau di depannya tiba-tiba berkedip-kedip hebat, berubah warna menjadi biru langit yang lebih sejuk. Suara bel minimarket di kepalanya kini berganti menjadi suara dentingan harpa yang sedikit lebih elegan.
[Proses Upgrade Sistem Selesai...]
[Sistem Survival Terpaksa telah naik ke v2.0!]
[Fitur Baru yang Terbuka]:
[Toko Survival]: Anda sekarang bisa menukarkan Poin Survival dengan barang-barang kebutuhan dasar (Contoh: Garam Bumi, Air Bersih, Pisau Berburu Standar).
[Peningkatan Fungsi Analisis]: Jarak pemindaian objek meningkat menjadi 5 meter, dan kini dilengkapi dengan persentase tingkat bahaya lingkungan.
[Pesan Pembaruan Sistem v2.0]: Halo, Pengguna Raditya. Berdasarkan algoritma terbaru, tingkat kelangsungan hidup Anda naik dari 2% menjadi 5%. Saya telah memperbarui modul bahasa saya menjadi lebih 'efisien'. Mohon kerja samanya agar Anda tidak cepat mati dan membuat memori internal saya penuh dengan data kematian konyol.
Raditya menghela napas panjang, bersandar pada batang pohon. "Yah... bahasanya sedikit lebih sopan, tapi intinya tetep saja mengatai aku lemah. Tapi setidaknya sekarang ada Toko Sistem!"
Dengan perut yang kembali berbunyi keroncongan, Raditya bersiap turun dari pohon. Hari kedua di dunia lain telah dimulai, dan dia harus segera mencari sumber air yang aman sebelum dehidrasi mengubahnya menjadi mumi di atas pohon ungu ini.
Menurunkan diri dari pohon raksasa ternyata tidak lebih mudah daripada memanjatnya. Dengan sisa tenaga yang pas-pasan, Raditya merosot ke bawah, mengorbankan bagian depan kaus oblongnya yang kini penuh dengan noda lumut ungu dan robekan kecil. Begitu kedua kakinya kembali menginjak tanah Aethelgard yang empuk, lututnya langsung gemetar seperti jeli.
"Oke, Sistem versi 2.0. Mari kita lihat apa yang bisa dibeli oleh pahlawan kecoakmu ini dengan lima puluh poin," ujar Raditya sambil menyeka keringat di pelipisnya.
Ding!
[Membuka Toko Survival Terbatas v2.0...]
[Daftar Barang yang Tersedia untuk Kantong Kering Anda]:
Air Mineral Kemasan Gelas (Merk: 'AQUA-REVOLUTION') – Harga: 10 Poin (Deskripsi: Air murni dari mata air Pegunungan Bumi asli, dijamin bebas dari bakteri magis yang bisa membuat Anda bertelur).
Garam Dapur Cap Kapal Selam (100 gram) – Harga: 15 Poin (Deskripsi: Penting untuk menjaga elektrolit tubuh agar Anda tidak pingsan saat dikejar monster).
Pisau Kupas Sayur Cap Ayam Jago – Harga: 25 Poin (Deskripsi: Lebih tajam dari pisau lipat mainan Anda. Cocok dikombinasikan dengan Gelar [Pelempar Sayur Profesional]).
Paket Promosi: Roti Sobek Rasa Cokelat Kadaluarsa 2 Hari Lagi – Harga: 20 Poin (Deskripsi: Agak keras, tapi kalori melimpah. Sistem menjamin lambung Anda tidak akan meledak).
Raditya menatap layar hologram biru itu dengan mata menyipit. "Roti sobek kadaluarsa? Serius? Sistem, kamu ini sistem penyelamat hidup atau warung kelontong menderita di ujung gang?"
[Jawaban]: Poin Anda sangat minim. Mengharapkan steik wagyu dengan modal 50 poin adalah bentuk keserakahan yang tidak berdasar. Harap sesuaikan ekspektasi dengan realitas kemiskinan Anda.
Raditya mengurut dadanya, mencoba bersabar. Sistem ini memang sudah berganti versi, tapi bakat alaminya untuk memancing emosi sama sekali tidak berkurang.
Setelah menimbang-nimbang antara rasa haus yang mencekik dan perutnya yang mulai melilit, Raditya akhirnya mengambil keputusan. "Beli Air Mineral Gelas dua buah, dan Paket Roti Sobek Kadaluarsa satu. Total empat puluh poin. Sisakan sepuluh poin untuk dana darurat."
Ding!
[Transaksi Berhasil!]
Sisa Poin Anda: 10 Poin.
Barang telah ditransfer langsung ke inventaris (atau lebih tepatnya, dijatuhkan dari langit).
Puk! Puk! Plop!
Dua gelas plastik air mineral dan sebungkus roti sobek dengan kemasan plastik transparan jatuh tepat di atas hamparan lumut di depan kakinya. Raditya langsung menyambarnya seolah benda itu adalah bongkahan emas.
Tanpa babibu, dia menusuk sedotan plastik air mineral itu dengan brutal dan meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. Rasa air dingin yang murni mengalir di tenggorokannya, memberikan sensasi segar yang luar biasa hingga ke ujung kaki.
"Ahhh! Hidup! Aku kembali hidup!" serunya bahagia.
Selanjutnya, dia membuka bungkus roti sobek. Seperti deskripsinya, roti itu memang agak keras di bagian pinggirnya, tapi aroma cokelatnya langsung membuat air liurnya menetes. Raditya melahapnya dengan rakus. Di tengah hutan asing berkepompong tanaman neon dan pohon ungu, seorang pemuda Bumi duduk di atas akar raksasa sambil mengunyah roti kadaluarsa dengan ekspresi seolah-olah sedang makan di restoran bintang lima.
Saat dia sedang asyik mengunyah, fungsi pemindaian otomatis dari Sistem v2.0 tiba-tiba menyala. Sebuah garis laser fajar vertikal menyapu area sungai kecil berair perak yang berjarak lima meter di depannya.
Ding!
[Analisis Lingkungan Sekitar]:
Objek: Aliran Air Perak (Aether-Infused Stream).
Kandungan: H2O (70%), Partikel Aether Mentah (25%), Mikroba 'Glow-Worm' (5%).
Tingkat Bahaya: 45% (Sedang).
Catatan Taktis: Air ini mengandung energi murni yang tinggi. Jika diminum langsung oleh manusia lemah seperti Anda, partikel Aether akan mengkristal di dalam ginjal dan membuat Anda kencing batu permata (secara harfiah, dan itu sangat menyakitkan). Namun, jika direbus menggunakan panci aluminium Anda hingga partikelnya menguap, air ini akan berubah menjadi ramuan pemulih stamina tingkat rendah.
Raditya menghentikan kunyahannya. Matanya berbinar melihat catatan taktis tersebut. "Kencing batu permata? Terdengar mewah tapi menyakitkan. Tapi tunggu... kalau direbus pakai panci, bisa jadi ramuan penambah stamina?!"
Dia melihat panci aluminium yang masih tergantung di pinggangnya. Ini adalah kesempatan. Dia tidak bisa terus-menerus mengandalkan Toko Sistem yang menjual barang dengan harga mencekik. Dia harus bisa memanfaatkan sumber daya lokal jika ingin bertahan hidup dalam jangka panjang.
Raditya bangkit berdiri, membersihkan remah-remah roti di bajunya, lalu berjalan mendekati tepi sungai dengan sangat hati-hati. Matanya waspada, memindai semak-semak sekeliling untuk memastikan kawanan Boarwolf atau predator lain tidak kembali untuk minum fajar.
Dia berlutut di tepi sungai, mencelupkan panci kecilnya ke dalam air keperakan tersebut. Air itu terasa sangat dingin, hampir seperti air es, dan saat berada di dalam panci, air itu memancarkan pendaran cahaya kelap-kelip seperti bubuk gliter.
"Sekarang, aku butuh api," gumamnya.
Dia mengumpulkan beberapa ranting pohon mati yang kering dari sekitar sana. Berkat jam tangan digitalnya yang menunjukkan fungsi kompas dasar, dia tahu dia harus tetap berada di dekat sungai agar tidak tersesat. Raditya menumpuk ranting-ranting itu di atas sebidang tanah yang bebas dari lumut ungu.
Dia mengambil korek api awet hadiah dari misinya kemarin. Crik! Api menyala. Dia membakar beberapa lembar daun kering sebagai pemancing, lalu perlahan-lahan menyalakan ranting-ranting kayu tersebut. Dalam beberapa menit, sebuah api unggun kecil berhasil dibuat.
Raditya meletakkan pancinya yang berisi air perak di atas susunan batu yang dia buat mengelilingi api.
Ding!
[Tindakan Survival Terdeteksi]:
Aktivitas: Mengolah sumber daya alam bawah menggunakan teknologi primitif Bumi.
Pencapaian Baru: [Gelar Absurd Baru Terbuka!]
Selamat! Anda mendapatkan Gelar: [Gears of Warung: Ahli Seduh Amatir]
Efek Gelar: Kecepatan merebus air meningkat sebesar 10%. Setiap kali Anda memasak sesuatu yang cair di dalam panci, ada peluang 5% rasa masakan tersebut akan berubah menjadi mirip soto ayam, meskipun Anda hanya merebus air biasa.
Raditya yang sedang meniup api agar tetap menyala langsung tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk! Efek macam apa itu?! Mengubah air rebusan jadi rasa soto ayam?! Sistem, tolonglah, berikan aku gelar yang keren sedikit! Pahlawan Pedang Kegelapan atau Penjinak Naga gitu!"
[Jawaban]: Gelar diberikan berdasarkan kepribadian dan tindakan nyata Pengguna. Mengingat Anda saat ini berjongkok dengan kaus robek-robek sambil menunggui panci aluminium di tengah hutan purba, citra Anda lebih mendekati penjaga warung kelontong daripada seorang pahlawan legendaris. Terima kasih.
"Terserah kamulah, Sistem!" Raditya mendengus pasrah.
Dia kembali fokus pada pancinya. Benar saja, berkat efek gelar barunya, air perak di dalam panci mulai mendidih lebih cepat. Uap air yang keluar dari panci tidak berwarna putih, melainkan keperakan dan beraroma harum... tunggu dulu, aroma ini...
Raditya mengendus uap tersebut. Matanya membelalak. "Bau bawang putih goreng? Bau kaldu ayam? Demi negeriku yang tercinta, efek gelarnya benar-benar aktif! Ini beneran bau soto!"
Air perak di dalam panci perlahan-lahan menyusut dan berubah warna menjadi kuning bening yang berkilauan. Partikel Aether yang berbahaya tampaknya telah larut dan menyatu dengan air berkat proses perebusan dan sedikit keajaiban sistem komedi ini.
Tiba-tiba, dari balik semak-semak di seberang sungai, terdengar suara langkah kaki yang berat dan cepat. Bukan suara Boarwolf. Langkah kaki ini terdengar lebih ritmis, seperti sesuatu yang berjalan dengan dua kaki, tapi ukurannya sangat besar.
Ding!
[PERINGATAN DARURAT!]:
Makhluk Terdeteksi: Ogre Lumut Kelana (Tingkat Bahaya: 75% - Mematikan untuk Pemula).
Deskripsi: Monster setinggi tiga meter yang sangat menyukai makanan berkuah. Aroma rebusan 'Soto Aether' Anda telah menarik perhatiannya dari jarak satu kilometer!
Saran Sistem: Ambil panci Anda, lari secepat mungkin, atau bersiaplah menjadi pelengkap daging di dalam sotonya sendiri!
Raditya langsung melompat berdiri, wajahnya pucat pasi. "Baru juga mau sarapan, kenapa ujian hidup datang lagi?!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!