"Haruto! Bangun!"
Sebuah kapur melesat tepat mengenai dahinya.
Tok!
"Aduh!"
Haruto Kazehara tersentak bangun sambil memegangi kepala yang terasa panas. Seluruh kelas langsung tertawa melihat ekspresinya yang masih linglung setengah sadar.
"Akhirnya terbangun juga," ucap guru matematika dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Kalau mau tidur nyenyak, lebih baik pulang saja ke rumah."
Haruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum canggung.
"Maaf, Pak..."
Teman sebangkunya, Kenta, menahan tawa sambil menepuk pundaknya.
"Kau benar-benar hebat. Pelajaran baru dimulai lima menit sudah terlelap."
Haruto hanya mendesah pelan.
"Semalam begadang menyelesaikan misi terakhir game baru."
"Itu urusanmu sendiri, jangan tidur di kelas."
Jam pelajaran terasa berjalan sangat lambat. Haruto menatap langit biru dari balik jendela. Awan putih berarak pelan, sementara angin musim semi menggoyangkan kelopak bunga sakura yang berjatuhan di halaman sekolah.
"Kalau saja hidupku seperti di novel isekai yang kubaca," gumamnya pelan, "bangun-bangun langsung jadi penyihir terkuat yang disegani semua orang."
Kenta mendengar bisikannya dan menggeleng.
"Berhenti berkhayal yang tidak-tidak. Fokuslah pada pelajaran."
Haruto hanya terkekeh pelan.
Tak lama kemudian, bel istirahat akhirnya berbunyi.
Namun rasa kantuk yang menyerang begitu berat membuat Haruto kembali menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Cuma lima menit... sebentar saja..."
Kelopak matanya perlahan tertutup. Suara riuh teman-teman sekelas memudar pelan, langkah kaki di koridor menghilang, dan segalanya berubah menjadi sunyi senyap.
...
Entah berapa lama ia terlelap.
Saat Haruto membuka mata, hal pertama yang ia sadari adalah langit-langit yang sama sekali asing.
"Aneh sekali..."
Warnanya putih kebiruan, dihiasi ukiran rumit bentuk bintang dan kilatan cahaya yang belum pernah ia lihat seumur hidup.
"Hah?"
Ia duduk perlahan. Meja belajarnya hilang. Kursi kayu yang biasa ia duduki lenyap. Papan tulis putih di depan kelas pun tak ada bayangannya.
Sebagai gantinya, ia berada di sebuah ruangan luas yang terbuat dari batu pualam. Pilar-pilar raksasa menjulang tinggi hingga puluhan meter ke atas, seolah menopang langit itu sendiri.
"Ini..."
Haruto mengucek matanya berkali-kali, berharap pemandangan itu berubah kembali menjadi ruang kelas. Namun tidak ada yang berubah. "Aku masih bermimpi?"
Tepat di hadapannya terhampar lingkaran sihir raksasa yang memancarkan cahaya biru lembut. Simbol-simbol asing berputar perlahan di sepanjang garisnya, memancarkan getaran yang membuat bulu kuduk merinding.
"Luar biasa..."
Ia berjalan mendekat dengan hati-hati. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan cahaya itu...
Wuuussh!
Seluruh lingkaran menyala terang menyilaukan mata.
"Apa-apaan ini?!"
Haruto terpental mundur hingga jatuh duduk di lantai batu.
Seketika sebuah suara wanita yang lembut namun berwibawa bergema memenuhi ruangan.
"Selamat datang... wahai pengembara dari dunia lain."
Haruto membeku di tempat.
"Dari... dunia lain?"
Di udara di depannya perlahan muncul sosok perempuan berjubah putih berkilauan, dengan rambut perak panjang yang terurai hingga ke pinggang. Wajahnya cantik bagai pualam, namun sorot matanya tampak dingin dan serius.
"Namaku Asteria. Aku yang memanggilmu ke sini."
Haruto menunjuk dirinya sendiri dengan wajah masih bingung.
"Ini... acara cosplay?"
Asteria terdiam sejenak.
"Cos... apa?"
"Bukan begitu? Syuting film fantasi?"
"Bukan."
"Taman hiburan dengan tema dunia sihir?"
Asteria menggeleng pelan.
Haruto menarik napas panjang.
"Kalau begitu..."
"Kau telah berpindah ke dunia yang berbeda dari dunasalmu," jawab Asteria tegas.
Sunyi menyelimuti ruangan.
Lima detik berlalu. Sepuluh detik. Lima belas detik.
Tiba-tiba Haruto mengangkat kedua tangannya ke udara sambil berteriak riang.
"YEAAAY!! Akhirnya mimpiku jadi kenyataan!"
Asteria berkedip beberapa kali, tampak bingung.
"Kau... tidak merasa takut atau terkejut?"
"Tak perlu! Aku sudah menunggu momen ini sejak kelas satu SMP!" serunya bersemangat. "Di mana status kekuatanku? Di mana sihir legendaris? Mana pedang pusaka? Dan di mana gadis elf yang cantik?"
Asteria mulai menyesal telah memanggil pemuda ini.
"Tolong tenangkan dirimu dulu."
"Tidak bisa! Ini momen paling membahagiakan dalam hidupku!"
Haruto berlari mengelilingi ruangan sambil tertawa lepas, memandangi setiap ukiran di pilar batu.
"Aku benar-benar masuk ke dunia fantasi yang sesungguhnya!"
Namun karena terlalu asyik bersorak...
Bruk!
Kepalanya menabrak pilar batu yang keras.
"Aduh..."
Asteria memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Apakah semua manusia dari duniamu bertingkah laku seperti ini?"
"Kurasa cuma aku saja," jawab Haruto sambil mengusap benjol di dahi, lalu berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa. "Jadi... sekarang aku adalah pahlawan yang dipanggil untuk menyelamatkan dunia, kan?"
Asteria menggeleng pelan.
"Belum tentu."
"Hah? Tapi biasanya tokoh utama langsung diberi kekuatan setara dewa begitu sampai."
"Dunia ini tidak semudah cerita yang kau baca," jawabnya dengan nada berat.
Belum sempat Haruto bertanya lebih lanjut...
Terdengar suara retakan samar.
Krek...
Retakan halus perlahan menyebar di lantai batu.
"Apa itu?" tanyanya bingung.
Asteria membelalakkan mata ngeri.
"Tidak mungkin..."
Cahaya biru dari lingkaran sihir perlahan meredup.
"Ritual pemanggilanmu belum sempurna! Ada gangguan dari luar!"
"Lho? Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Tidak ada waktu! Cepat lari!"
"Lari ke mana?!"
Lantai di bawah kakinya tiba-tiba runtuh seketika.
"Aaaaaaa!!"
Tubuh Haruto terjatuh ke dalam kegelapan yang tak berdasar.
"Asteriaaaaa!"
Suara gadis itu terdengar semakin samar menjauh.
"Semoga... takdir benar-benar berpihak kepadamu..."
Gelap pekat. Sepi tanpa suara. Tubuhnya terus meluncur jatuh, hingga akhirnya...
Byur!
Ia tercebur ke air yang dingin menusuk tulang.
"Kyaaah! Dingin sekali!"
Haruto berenang sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil merangkak naik ke tepian danau. Sambil batuk-batuk mengeluarkan air yang tertelan, ia menatap sekeliling dengan takjub.
Di hadapannya terbentang hutan hijau yang tak berujung. Burung-burung berwarna pelangi terbang berkelompok di antara ranting pohon raksasa. Kupu-kupu sebesar telapak tangan melintas perlahan tepat di depan hidungnya. Dan di kejauhan, tampak gunung-gunung tinggi yang puncaknya melayang bebas di angkasa.
Haruto terpaku diam.
"...Benar-benar. Ini bukan mimpi. Aku benar-benar berada di dunia lain."
Tiba-tiba perutnya berbunyi keras.
"Kruuuk..."
Ia tersenyum tipis dan mengepalkan tangan dengan tekad kuat.
"Baiklah. Petualangan pertamaku dimulai sekarang!"
Belum sempat kakinya melangkah...
Semak-semak di sampingnya bergoyang hebat.
Sesosok makhluk kecil berwarna biru bulat sebesar bola tenis melompat keluar, lalu memantul-pantul di hadapannya.
"Pyuu?"
Haruto memiringkan kepala bingung.
"Slime?"
Makhluk itu menatapnya dengan mata bulat hitam berbinar. Haruto membalas menatapnya lekat-lekat.
Lima detik berlalu. Sepuluh detik.
Haruto tersenyum lebar.
"Lucu sekali!"
Ia perlahan mengulurkan tangan. Slime itu justru mendekat, lalu menyentuh jari Haruto dengan tubuh lunaknya.
"Lembut juga," gumamnya sambil mengelus kepala makhluk itu.
Namun tiba-tiba...
"Hap!"
Slime itu menggigit ujung jarinya dengan cepat.
"Aduh!" Haruto melompat mundur sambil menggoyangkan tangannya. "Kecil-kecil galak sekali ya!"
Slime itu justru memantul-pantul riang, seolah sedang menertawakan ekspresi kaget Haruto.
Pemuda itu menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, lalu menghela napas panjang sambil tersenyum.
"Sepertinya... hidup di dunia ini sama sekali tidak akan membosankan."
Angin sejuk berembus pelan, menyibakkan dedaunan hijau setinggi manusia yang berdesir lembut. Sinar matahari menembus celah dedaunan pohon raksasa, menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan di permukaan air danau yang tenang.
Haruto masih berdiri terpaku di tepian air, menatap makhluk biru bulat yang baru saja menggigit ujung jarinya. Ia mengibas-ngibaskan tangan sambil meniup bagian yang memerah.
"Aduh... sakit tahu! Kau ini tidak tahu terima kasih ya!"
Sementara itu, slime kecil itu justru memantul-pantul di atas batu datar seolah sedang menari riang.
"Pyoo! Pyoo!"
"Jangan cuma bilang 'pyoo-pyoo'! Kau yang duluan menggigitku tanpa alasan!"
Haruto mengambil sebatang ranting kering di dekat kakinya, lalu mengulurkannya perlahan.
"Nah, dengarkan baik-baik. Kalau kau mengangguk tanda minta maaf, kita damai saja. Tidak perlu bermusuhan."
Slime itu memiringkan tubuh bulatnya ke samping, kepala kecilnya condong bingung.
"Pyu?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti!" Haruto menghela napas panjang hingga dadanya terasa lega. "Aku bahkan belum lima menit berada di dunia ini, sudah digigit monster. Benar-benar awal yang menyedihkan."
Ia membuang ranting itu ke semak, lalu duduk di atas batu pipih yang hangat terkena sinar matahari. Belum sempat ia beristirahat sejenak, perutnya kembali berbunyi nyaring meminta isi.
"Kruuuk..."
Haruto memegangi perutnya yang terasa kosong melompong.
"Astaga... lapar sekali rasanya."
Tangannya merogoh saku seragam sekolah yang masih ia kenakan. Jari-jarinya menyentuh bungkusan kertas yang agak kusut. Matanya seketika berbinar terang.
"Syukurlah! Masih ada sisa roti melon yang belum sempat kumakan saat istirahat tadi."
Ia mengangkat roti itu setinggi wajah, seolah memandang harta karun paling berharga di dunia.
"Inilah penyelamat hidupku. Makanan pertama di dunia fantasi."
Baru saja ia membuka bungkusnya dan aroma manis tercium ke hidung...
Blur!
Sesuatu berwarna biru melesat secepat kilat melewati lengannya.
"Hah?!"
Dalam sekejap, roti di tangannya lenyap begitu saja. Di hadapannya kini berdiri slime kecil dengan pipi yang menggembung besar, sisa bungkus roti melayang jatuh ke tanah.
"Mmph... pyoo..."
Haruto membeku. Mulutnya terbuka lebar tak percaya.
"...Kembalikan rotiku!"
"Pyoo!"
Slime itu langsung melompat kabur menuju balik semak-semak, membawa sisa roti berharganya.
"Hei! Berhenti! Itu milikku!"
Haruto tanpa pikir panjang langsung berlari mengejarnya masuk ke dalam hutan lebat.
Kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama. Slime kecil itu ternyata jauh lebih lincah dari yang terlihat. Ia melompat tinggi melewati akar pohon yang menjulang, menyelinap cepat di balik rimbunnya tanaman merambat, lalu muncul kembali di batang kayu mati sambil mengunyah sisa rotinya dengan santai.
"Pyoo!"
"Itu makanan penyelamatku! Berikan sedikit saja!"
Haruto melompati batang pohon tumbang yang cukup tebal. Namun kakinya tak sengaja tersangkut akar yang menjulur keluar tanah.
"Whoaa!"
Ia kehilangan keseimbangan dan terguling beberapa meter di tanah berlumut, sebelum akhirnya menghantam semak berduri kecil.
"Aduh... aduh... aduh... lututku, sikuku, punggungku..."
Ia meringis kesakitan sambil perlahan duduk kembali.
Slime itu tiba-tiba berhenti memantul. Ia berbalik perlahan, lalu melompat mendekati Haruto dengan langkah pelan.
"Pyu?"
Haruto mengangkat kepalanya, menatap makhluk kecil itu dengan pandangan curiga.
"Kau datang mau mengejekku ya? Senang sekali melihatku jatuh kan?"
Namun slime itu tidak menjawab. Ia justru mengeluarkan sisa potongan roti terakhir yang masih tersimpan di dalam tubuh gelatinnya, lalu mendorongnya perlahan ke arah lutut Haruto.
Haruto menatap potongan roti itu. Hanya tersisa seukuran dua gigitan kecil.
"...Kau menyisakan ini untukku?"
"Pyoo," jawab slime itu lembut, seolah mengangguk pelan.
"Dasar rakus," gumam Haruto sambil tersenyum tipis. Rasa kesal di hatinya perlahan luntur berganti rasa hangat yang aneh. "Sudahlah. Setidaknya kau tidak pelan-pelan menghabiskannya semua."
Ia mengambil potongan roti itu dan memakannya perlahan. Rasa manis dan lembut di lidah membuat rasa laparnya sedikit berkurang, meski belum sepenuhnya hilang.
Slime itu masih berdiri di dekatnya, menatap dengan mata bulat berbinar. Haruto mengulurkan tangannya perlahan.
"Kita mulai dari awal ya. Namaku Haruto Kazehara."
Slime itu memantul satu kali pelan.
"Pyoo."
"Hmm..." Haruto menunduk berpikir sejenak. "Aku tidak tahu nama slime dalam bahasa monster di sini. Kalau begitu, aku beri nama baru ya."
Ia menunjuk makhluk kecil itu dengan jari telunjuknya.
"Mulai sekarang namamu Pochi. Cocok kan dengan tubuhmu yang bulat gemuk?"
Slime itu diam beberapa detik, seolah merenungi nama itu. Lalu tiba-tiba melompat sangat tinggi hingga menyentuh daun rendah di atasnya.
"Pyoooo! Pyoo!"
"Wah, sepertinya kau suka ya," Haruto tertawa lepas. "Mulai sekarang kita teman seperjalanan."
Begitu kata "teman" keluar dari mulutnya, Pochi langsung melesat naik dan mendarat tepat di atas kepala Haruto.
"Hei! Apa-apaan ini!"
Tubuh lunak Pochi menutupi seluruh wajahnya, membuat pandangannya gelap gulita.
"Aku tidak bisa melihat! Turunlah dulu!"
Haruto panik sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Untungnya Pochi segera melompat turun dan mendarat di bahu kanannya dengan santai.
"Pyoo."
"Kau memang makhluk paling aneh yang pernah kutemui," keluh Haruto sambil tersenyum pasrah.
Mereka pun melanjutkan perjalanan perlahan menembus hutan lebat. Belum berjalan jauh, telinga Haruto tiba-tiba menangkap suara geraman rendah yang berat.
Grrrr...
Haruto langsung berhenti melangkah. Jantungnya seketika berdegup kencang.
"Pochi... kau dengar itu?"
Pochi juga berhenti memantul, tubuhnya menegang sejenak di bahu Haruto.
Suasana hutan yang tadi hidup dan riuh berubah seketika menjadi sunyi senyap. Burung-burung yang tadi berkicau riang kini terbang menjauh dengan sayap yang berdesir cepat. Daun-daun bergoyang pelan seolah menahan napas. Angin yang tadi sejuk kini terasa dingin menusuk tulang.
Lalu...
Dari balik rimbunnya semak berduri dan pohon besar, muncul sesosok makhluk raksasa.
Itu adalah seekor serigala hitam sebesar sapi dewasa. Bulu-bulannya tampak kasar dan hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Matanya menyala merah menyala penuh amarah, taringnya panjang dan tajam berkilauan di bawah cahaya matahari. Di sekujur tubuhnya, terdapat garis-garis bercahaya berwarna ungu gelap yang berdenyut perlahan seperti denyut nadi.
Haruto menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa lemas seketika.
"Itu... itu apa..."
Serigala itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, lalu menggeram keras mengguncang tanah di bawah kaki mereka.
"GRAAAARRR!"
Haruto langsung berbalik badan tanpa berpikir dua kali.
"Lariiiii!"
Ia berlari sekuat tenaga memacu kakinya yang masih terasa lelah. Pochi melompat turun dari bahunya dan berlari memantul-pantul tepat di sampingnya.
"Hari pertamaku di dunia ini sudah dikejar monster buas! Ini sama sekali bukan isekai impian yang kubaca di novel!"
Serigala itu mengejar dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap kali kakinya menghentak tanah, terdengar suara berat yang mendekat. Dalam hitungan detik, jarak antara mereka tinggal beberapa meter saja. Bau anyir dan napas panas makhluk itu sudah mulai tercium di belakang lehernya.
Haruto melirik ke samping dan melihat sebuah pohon besar dengan dahan yang cukup rendah.
"Aku harus memanjatnya! Itu satu-satunya jalan!"
Ia melompat setinggi mungkin dan tangannya berhasil mencengkeram dahan kayu itu dengan kuat. Namun...
Krek!
Suara kayu retak terdengar jelas. Dahan itu ternyata sudah lapuk dimakan usia.
"Aaaaaaaaa!"
Haruto jatuh telentang ke tanah yang keras. Punggungnya terasa nyeri hebat.
Serigala hitam itu sudah berdiri tepat di hadapannya, membuka mulut lebar siap menerkam. Haruto memejamkan mata erat, pasrah pada nasibnya.
"Selesai sudah hidupku di dunia baru ini..."
Namun tiba-tiba...
"PYOOOO!"
Sebuah suara melengking terdengar di udara. Pochi melompat setinggi-tingginya dan mendarat tepat di wajah serigala itu.
Plak!
Serigala itu panik seketika. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan liar, mengaum bingung karena tubuh lunak Pochi menempel erat tepat di hidung dan matanya, menutup seluruh pandangannya.
Haruto melongo tak percaya.
"Pochi?!"
"Pyoooo! Pyoo!"
Pochi terus bergerak lincah di wajah makhluk raksasa itu, membuat serigala itu makin bingung dan marah namun tak bisa berbuat apa-apa.
Kesempatan emas itu tidak disia-siakan Haruto. Ia segera bangkit berdiri, meraih tubuh Pochi dengan cepat, lalu berlari kembali sekuat tenaga.
"Ayo kabur sekarang juga!"
Mereka berdua kembali berlari menembus belantara hutan yang tak berujung. Di belakang mereka, raungan kemarahan serigala hitam itu terus menggema, memecah keheningan hutan.
Petualangan Haruto di dunia sihir ternyata baru saja dimulai, dan hari pertamanya sudah dipenuhi kekacauan yang bahkan jauh lebih gila daripada semua cerita isekai yang pernah ia baca. Namun ia belum tahu, di balik pepohonan gelap yang semakin lebat itu, sepasang mata lain sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan penuh rasa ingin tahu—dan bukan sekadar satu pasang mata.
"Hah... hah... hah..."
Napas Haruto memburu hingga terasa sesak di dada. Kakinya terasa berat seolah tertanam di lumpur, namun ia terus memaksakan diri berlari sekuat tenaga menembus belantara hutan purba. Cabang-cabang pohon berduri mencambuk wajah dan lengannya, meninggalkan rasa perih yang samar, tetapi rasa takut jauh lebih kuat daripada rasa sakit itu. Ia tidak berani berhenti sedetik pun.
Di belakangnya, suara langkah kaki berat yang menghantam tanah terus mendekat. Semakin dekat. Semakin menggetarkan.
GRAAAARRR!!
Serigala hitam raksasa itu kembali mengaum panjang, suaranya bergema memantul di antara pepohonan hingga membuat dedaunan bergetar. Mata merah menyala makhluk itu menembus kegelapan, seolah menatap langsung ke dalam jiwa Haruto. Taring-taringnya yang panjang dan tajam berkilau basah di bawah sela cahaya matahari yang menembus kanopi hutan.
"Kenapa kau lari tak kenal lelah?!" teriak Haruto panik, suaranya nyaris pecah. "Aku cuma orang baru di sini!"
Pochi memantul lincah di sampingnya, bergerak seirama dengan langkah larinya.
"Pyoo! Pyoo!"
"Jangan cuma teriak 'pyoo-pyoo'! Bantu aku cari jalan atau ide lain!"
Belum sempat mereka berpikir lebih jauh, deretan pohon di depan tiba-tiba berakhir. Haruto terpaksa menghentikan langkahnya mendadak hingga ia hampir terjatuh.
"Hah?"
Di hadapannya terbentang jurang dalam yang gelap, tebing batu curam menjatuh puluhan meter ke bawah tanpa ada jalan turun yang aman. Angin kencang bertiup dari dasar jurang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Di belakang mereka, bayangan gelap perlahan muncul dari balik pepohonan rimbun. Serigala hitam itu berdiri tegak di sana, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
Kini benar-benar tidak ada jalan kabur.
Haruto menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering kerontang.
"Selesai sudah... terpojok di hari pertama," gumamnya pelan.
Serigala itu melangkah perlahan mendekat. Setiap kali kakinya menghentak tanah, terdengar bunyi berat yang membuat seluruh tubuh Haruto ikut bergetar. Matanya menatap tajam ke arah mereka berdua, seolah sudah memastikan mangsanya tak akan lari ke mana-mana.
Haruto melirik sekeliling dengan pandangan putus asa. Ke kanan dinding batu yang tak bisa dipanjat. Ke kiri semak berduri yang tak bisa dilewati. Ke belakang jurang maut. Dan di depan... kematian yang menggeram lapar.
Ia menarik napas panjang dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.
"Kalau begini caranya..."
Matanya menangkap sebatang ranting kayu keras sepanjang satu meter yang tergeletak di tanah berlumut. Ia segera memungutnya, lalu menggenggam erat dengan kedua tangan. Ujung ranting itu menunjuk lurus ke arah serigala.
"Setidaknya aku tidak akan mati tanpa mencoba melawan."
Pochi yang berdiri di samping kakinya memiringkan tubuh bulatnya, tampak bingung melihat gerakan Haruto.
"Pyuu?"
"Kalau nanti aku kalah... kau lari saja selagi bisa. Jangan ikut aku," bisik Haruto pelan.
Namun bukannya pergi, Pochi justru melompat ke depan, berdiri tegak tepat di hadapan Haruto seolah ingin menjadi tameng.
"Hei! Jangan sok berani melindungiku! Kau kecil begitu!"
Serigala itu tidak memberi waktu lagi. Ia merendahkan tubuhnya, otot-otot di kakinya menegang kuat, lalu seketika melesat menerjang ke depan dengan kecepatan kilat.
"GRAAA!!"
Haruto mengayunkan rantingnya sekuat tenaga ke arah kepala makhluk itu.
Plak!
Ujung ranting menghantam tepat di dahi serigala.
Serigala itu bahkan tidak bergeming sedikit pun. Hanya terdengar bunyi tumpul, lalu matanya semakin menyala penuh amarah.
Haruto tersenyum kaku, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Hehe... ternyata... tidak sakit ya?"
Krakk!
Serigala itu membuka mulut lebar, menggigit batang ranting di tangan Haruto, lalu dengan mudah meremukkannya hingga patah menjadi dua bagian tak berdaya.
Haruto menatap potongan kayu yang tersisa di tangannya, lalu melepaskannya perlahan jatuh ke tanah.
"Yah... setidaknya aku sudah berusaha sekuat tenaga."
Serigala itu kembali mengangkat cakar depannya yang besar dan tajam, siap menyambar tubuh Haruto.
Saat itulah sesuatu yang tak terduga terjadi.
Pochi melompat tinggi ke udara, jauh lebih tinggi dari biasanya. Tubuh gelatinnya yang berwarna biru cerah tiba-tiba mulai bersinar terang, memancarkan cahaya kebiruan yang lembut namun menyilaukan mata.
"Pyooooo!"
Tubuh mungilnya bergetar hebat seolah sedang meluruhkan bentuk aslinya.
Haruto melongo lebar, matanya tak berkedip sedikit pun.
"Pochi? Apa yang kau lakukan?"
Gelatin biru itu perlahan memanjang dan berubah bentuk. Muncul sepasang tangan, sepasang kaki, kepala dengan rambut hitam pendek, hingga akhirnya terbentuklah sosok yang mengenakan seragam sekolah abu-abu putih persis seperti yang Haruto kenakan saat ini.
Beberapa detik kemudian, di samping Haruto berdiri seseorang yang wajahnya, tingginya, hingga potongan rambutnya sama persis satu banding satu dengan dirinya sendiri.
Haruto membeku di tempat. Mulutnya terbuka lebar tak percaya.
"...Hah?!"
Sosok tiruan itu mengangkat tangannya perlahan, lalu melambaikan tangan dengan senyum polos.
"Pyoo."
Haruto menunjuk wajahnya sendiri, lalu menunjuk sosok di sebelahnya.
"Tunggu sebentar... kenapa kau berubah jadi aku?!"
Pochi yang kini berwujud persis seperti dirinya hanya mengangguk pelan.
"Pyoo."
"Bahkan suaramu masih tetap 'pyoo' meski sudah berubah bentuk!" seru Haruto hampir berteriak. "Ini terlalu aneh untuk dimengerti!"
Serigala itu pun tampak kebingungan. Ia menghentikan langkahnya, memiringkan kepala raksasanya, lalu mengendus-endus udara berulang kali. Matanya berpindah-pindah dari Haruto yang asli ke sosok tiruan di sebelahnya, seolah sulit membedakan mana yang mana.
Haruto dan Pochi saling berpandangan sekilas.
Haruto tersenyum tipis. "Aku dapat ide."
Pochi memiringkan kepala lagi.
"Pyu?"
"Nanti saat aku bilang lari, kita berlari ke arah yang berbeda. Buat dia bingung sepenuhnya."
Pochi mengangguk mantap.
"Pyoo!"
"Sekarang! Lari!"
Keduanya langsung berlari ke arah yang berlawanan dengan cepat.
Serigala itu tertegun sejenak, matanya berputar kiri dan kanan bingung.
Lalu...
"GRAAA!"
Ia akhirnya memilih satu sasaran, dan langsung melesat mengejar Haruto yang asli.
"Eh?! Kenapa malah aku yang dikejar?!" Haruto hampir menangis. "Wajah kami persis sama kok!"
Pochi yang melihat hal itu segera berbalik arah, lalu melompat sekuat tenaga tepat ke punggung serigala.
"Pyoooo!"
Serigala itu mengamuk hebat, melompat ke sana kemari sambil menggeliat liar berusaha melepaskan Pochi yang menempel erat di punggungnya. Namun tubuh slime itu begitu lunak dan lengket sehingga makhluk raksasa itu tak bisa berbuat apa-apa.
Haruto melihat sebuah batu besar yang miring di tepi tebing, tepat di atas jalur lari serigala. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berlari mendekat dan memundurkan bahunya ke batu itu.
"Ayo... bergeraklah... ayo..."
Ia mendorong sekuat tenaga dengan seluruh sisa kekuatannya. Perlahan batu besar itu bergeser, lalu akhirnya menggelinding kencang menuruni lereng tepat ke arah serigala.
Brak!
Batu itu menghantam sisi tubuh serigala dengan keras. Makhluk itu kehilangan keseimbangan, terlempar ke samping dan jatuh terguling di tanah. Pochi pun ikut terpental akibat benturan itu, memantul beberapa kali di tanah sebelum akhirnya berhenti diam.
"Pyuu..."
Haruto segera berlari menghampirinya, lalu berlutut di samping tubuh slime itu.
"Pochi! Kau tidak apa-apa? Jangan buat aku takut!"
Pochi perlahan membuka matanya, lalu mengacungkan jempol kecil dengan susah payah.
"Pyoo."
Haruto mengembuskan napas panjang lega hingga tubuhnya terasa lemas seketika. Ia mengusap kepala tiruan itu dengan lembut.
Namun belum sempat mereka bernapas tenang dan memulihkan tenaga...
Serigala itu kembali berdiri tegak perlahan. Meski kepalanya terluka dan darah segar menetes dari sisi tubuhnya, matanya justru menyala semakin merah terang dibanding sebelumnya. Retakan-retakan cahaya ungu mulai menyebar dari luka di tubuhnya hingga menutupi seluruh kulit dan bulunya.
"Apa lagi yang terjadi sekarang..." gumam Haruto dengan hati yang kembali mencelos.
Tanah di sekitar serigala bergetar hebat, rumput-rumput melayang perlahan terangkat ke udara. Aura dingin dan mengerikan mulai memenuhi ruang di sekitar mereka, membuat napas Haruto terasa berat dan dingin.
Haruto mengepalkan tangannya erat-erat, lalu memasang kuda-kuda sekuat tenaga meski kakinya gemetar.
"Kalau memang harus bertarung sampai di sini..."
Ia menatap tajam ke arah makhluk yang kini terlihat jauh lebih menakutkan dari sebelumnya.
"Ayo kita selesaikan!"
Di sebelahnya, Pochi kembali berubah wujud menjadi tiruan Haruto, lalu ikut memasang kuda-kuda dengan kedua tinjunya diangkat ke udara.
Satu manusia biasa dari dunia lain dan satu slime peniru yang misterius kini berdiri berdampingan, menghadapi monster buas yang kekuatannya baru saja meledak naik berkali-kali lipat.
Pertarungan pertama yang sesungguhnya di dunia sihir ini akhirnya dimulai. Namun Haruto belum tahu, kemampuan aneh Pochi baru sebatas ditunjukkan, dan masih banyak rahasia tersembunyi di balik makhluk kecil yang rakus ini—rahasia yang bahkan mungkin tak dipahami oleh Pochi sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!