Malam ini hujan turun begitu lebat,Jendela kaca terlihat kelabu di karenakan rintik-rintik hujan menutupi sebagian pandangan.
Angin berhembus dengan kencang di tambah suara petir dan guntur yang menggelegar membuat rasanya aman dan nyaman untuk bermalas-malasan.
Di dalam kamar yang di dominasi dengan warna Maroon dan poster idol k-pop ada seorang gadis dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya,tampak berbaring tengkurap dengan novel di tangan kirinya dan garpu di tangan kananya.
Dia adalah gadis yang baru saja keluar dari masa labil, biasanya orang-orang memanggilnya Ell usianya 18 tahun siswi akhir SMA dia suka sekali di panggil dengan nama itu namanya Elsa Dui.
Ekspresinya berganti di sertai halaman novel itu yang juga ikut berganti.
"Aissi Shibal sekiyaaa, Malika ck ck
ngapai sih ngejar-ngejar tu protagonis kaya kaga ada cowo lain aja, udah tau tu si laki kaga suka masi aja lu pepet heran." Mukanya terlihat kecewa dan berpikir keras sembari memasukan garpu yang ada buahnya ke dalam mulut.
"Coba aja seumpamannya nih gw jadi lu gak akan mau gue berurusan sama mereka berabe,ini lagi tampangnya aja beh mantap tapi cemen, beraninya bunbun anak orang,bulol banget lagi sampe bunbun si Mali cuman karena si Rara jatuh gak nyari tahu dulu apa dia jatuhnya karena apa.Lah ini malah sotoy gitu nuduh si Malika pelakunya".
"Malika juga sih udah tau tu heremnya Rara pada pisikopat si anjir malah gangguin alhasil mokad deh syukurin tuh cinta, matinya jadi konyol kan karena cinta ceilah.
" Si Raranya juga pikmi bener gak ada angin gak ada ujan jatoh sendiri ke kolam jadinya si malika kan yang kena getahnya jujur gue gedek banget sama karakter Rara ini, buta tu para heremnya apa efek di kasi pentil ama Rara jadinya mereka buta yang ada cuman merem melek gitu"
"Kalau pun gue jadi Malika, cuman ada dua opsi pilihan gue. Antara ngehindar atau pepet heremnya si Rara tapi jangan pake cara sampe nempel kek lintah darat, gue bakal tarik ulur. "
"Ini nih alasanya gue gak pernah suka sama tokoh Protagonis banyak nyusahin sama ribet bener shibal".Setelah merasa lelah membaca serta mood-nya sudah hilang ia memutuskan untuk tidur.
" Gue prihatin banget sama Malika, authornya jahat banget buat cerita begitu sabi kali kasih heremnya si Rara ke dede Malika satu".
"Kalau aja gue masuk tuh ke dalah novel itu, gue ubah alurnya ,kalau gue jadi dede Malika gue terbang tuh ke Korea datengin Jimin atau semuanya aja kali ya ke tujuh-tujuhnya aja sekalian rata kanan tuh heremnya Rara kalah jauh".
Karena terlalu lama ber-Monolog sendiri ia pun kelelahan dan tertidur dengan lelap.
_____________________
Matahari telah muncul dan mulai menebarkan cahaya terangnya yang panas,
terlihat juga Ell yang telah siap untuk menuntut ilmu dengan seragam rapi dan rambut kuncir kudanya.
"Mana tangan kanan mommy" Ujarnya sembari mengulurkan tangan.
"Buat apa lagi Ell, duduk sini sarapan dulu. Nanti kamunya telat".Ibu Ell terlihat bingung sembari memindahkan makanan ke meja makan dan menatanya dengan rapi.
" Salim mommy. "sahutnya sembari mengambil roti yang telah di olesi selai." Lagian ini aku udah mau telat banget Mom." Sahutnya sembari dengan sabar menunggu uluran tangan sang ibu.
Ibunya mengulurkan tangnya yang lansung di salami ole Ell. "Yaudah kalu gitu hati-hati di jalan Mommy udah kasih perintah tuh ke sopirnya untuk nunggu sampe kamu pulang awas kalau mama tau kamu bolos uang kartu kamu mama bekukan".
"Siap komandan." Ia berdiri tegap sembari memberi hormat "Mommy cal cal dede nanti ok. "ucapnya sembari memperagakan tangan dengan ibu jari dan kelingkingnya ke arah telinga "See u mommy luv u. "
"Ell hati-hati di jalan ya" Ibunya berteriak lagi memperingati "Jangan bandel si sekolah. "Wanti-wanti ibunya lagi.
Ell tidak mengidahkan teriakan ibunya, ia langsung memasuki mobil.
Ia di antar oleh sopir keluarga menuju Sekolahnya di tangannya masih tersisa roti yang belum habis dimakan, di perjalanan Sesekali ia menunduk, mengecek ponsel, lalu kembali menatap jalan di depan.
Sedikit lagi ia akan tiba di sekolah, sialnya di pertengahan jalan terjadi kemacetan.
"Mang turun aja saya di sini sekolahnya juga deket kok" ujarnya karena ia melihat jam tanganya yang hampir menunjuk pukul 07:15 dia merasa sudah sangat telat.
"Ga papa neng turun di sini, nanti nengnya kenapa-napa. Saya teh udah di wanti-wanti si ibu buat antar neng sampe tujuan kalau kaya gini mah mamang yang gak kompeten neng, mamang takut di potong gaji sama ibunya neng"
"Ga papa mang ini teh saya keburu telat kalau nunggu,lagian sekolahnya itu gak terlalu jauh dari sini.Mamang gak liat itu macet parah. Nanti kalau saya telat saya di hukum, aman aja gak bakal Mommy tau asal mamang sama saya gak bocor. "Ia membuka pintu mobil dan keluar.
Di tepi jalan, kendaraan berlalu-lalang. Klakson bersahut, sepeda motor melintas cepat, dan pejalan kaki lain sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ia menarik tali tasnya hingga lebih rapat ke bahu, lalu mempercepat langkah menuju zebra cross.
Lampu lalu lintas baru saja berganti. Kendaraan di jalur sebelah mulai melambat. Setelah memastikan jalan di depannya tampak aman, ia mulai menyeberang.Ia sempat berhenti sejenak. Menoleh ke arah seberang jalan.mungkin sekadar memastikan arah. Lalu ia melangkah lagi.
Gerbang sekolah sudah tampak dari kejauhan. Beberapa siswa berjalan berkelompok, sebagian lagi berlari kecil karena takut terlambat.
Ia berjalan sembari memainkan ponselnya,Tiba-tiba terdengar suara klakson panjang yang memecah atensi orang-orang.
Sebuah kendaraan melaju lebih cepat daripada arus lalu lintas di sekitarnya. Pengemudinya berusaha mengendalikan laju kendaraan dan menginjak rem sekuat tenaga.
Suara gesekan ban dengan aspal memekakkan telinga.
Orang-orang di sekitar spontan berteriak.
"Hei, awas!"
Ia menoleh karena terkejut.
Namun semuanya terlambat
tubuhnya terpental cukup jauh, tas sekolahnya terpelanting jauh dari badanya,Sepatu yang tadi dikenakannya terlepas dan berhenti beberapa meter dari zebra cross.
Tubuhnya terhempas ke permukaan jalan. Seragam putih abu-abunya yang beberapa menit lalu masih tampak rapi kini dipenuhi noda merah yang terus merembes
dan menyebar di sekitar tubuhnya, telinganya terasa berdengung dan sekitar tampak kabur perlahan ia memejamkan netranya.
Seorang ibu menutup mulutnya dengan tangan, sementara seorang pengendara lain segera menghubungi layanan darurat.
Sirene mulai terdengar dari kejauhan. Di tengah kerumunan, tak seorang pun sanggup mengucapkan sepatah kata. Yang terdengar hanyalah tangis, suara langkah kaki yang tergesa-gesa, dan keheningan yang terasa jauh lebih memekakkan.
Petugas ambulans tiba beberapa menit kemudian. Kerumunan yang semula memenuhi bahu jalan perlahan diminta mundur agar proses evakuasi dapat dilakukan.
"Semua mohon memberi ruang," ujar salah seorang petugas dengan suara tegas.
Selembar kain penutup dibentangkan dengan hati-hati. Orang-orang yang semula mencoba melihat dari kejauhan perlahan menundukkan kepala.
para petugas mengangkat jasadnya ke atas tandu. Suara sirene kembali mengudara ketika pintu ambulans ditutup perlahan. Kendaraan itu bergerak meninggalkan lokasi.
Di atas aspal, hanya tersisa garis polisi, beberapa bekas barang yang telah dibereskan, dan puluhan pasang mata yang masih terpaku ke arah ambulans hingga kendaraan itu menghilang di ujung jalan.
____________
Cerita ini bertema Herem, ya jadi jangan aneh kalau bisa banyak pasangannya.
Ini kali pertama saya buat cerita semoga suka luv u💐.
Rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan seakan menghilang, di gantikan tubuhnya yang terasa enteng. Anehnya di saat ia menuntaskan atensinya pada sekitaran yang ia lihat hanya ruangan putih kosong.
Sesaat kemudian, permukaan kehampaan tersebut beriak seperti air yang tersentuh angin.
Satu demi satu, potongan kilas balik kehidupan yang bukan miliknya muncul di hadapannya.
Kilas Balik Malika asli dari dia kecil hingga dia dewasa, terpampang di hadapanya.Sebuah kilas hidup hingga wajah-wajah asing yang dipenuhi kebencian mulai menghakiminya tak memberinya celah untuk membela diri hingga munculah keinginan untuk di akui,untuk di perhatikan dan menjadi pusat perhatian.
"Bukankah kau terus mengeluhkan akhir cerita itu?"
Suara tersebut tidak berasal dari arah mana pun.seolah bergema langsung di dalam benaknya, suara seorang perempuan.
"Ya iyalah gue judge, orang ceritanya aja kaya gitu berat sebelah.sahut Ell sembari berkacak pinggang " Lo siapa Malika ya?. "
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Bukankah kau menganggap hidup tokoh itu tidak adil."
"Pake nanya, coba kalo lo di posisi itu pasti lo ngerasa ga adil,Malika di benci semua orang, untung aja Ayahnya gak nyalahin dia karena kematian ibunya, tapi dia di benci sama keluarga mendiang ibunya karena mereka Nganggap kelahiran malika itu kesialan."
Keheningan kembali menyelimuti.
Lalu, suara itu terdengar sekali lagi.
"Kalau begitu... hiduplah sebagai dirinya."
" Lah si kocak kenapa harus gue kan bisa yang lain. " protesnya.
"Karena kamu yang terpilih, pilihanya hanya ada dua, Kamu akan menjadi hantu atau hidup kembali dengan lingkungan yang asing dan tidak kamu kenal karena tubuhmu yang asli sudah mati. " sahut suara itu.
Belum sempat ia memperotes lagi,kesadaranya di tarik ke permukaan begitu saja.
Perlahan kelopak matanya terbuka memperlihatkan netranya yang di penuhi riak kebingungan.
Kepalanya yang terasa amat berat, ia mencoba menudukan diri dan bersandar pada sandaran ranjang sembari memijit pelipisnya.
"Ini kok bukan kamar gue. " Ia menatap bingung sekelilingnya yang terasa berbeda "Oh iya lupa gw kan ber transmigrasi, aduh mana interiornya pink semua lagi. Tubuh ini kayanya cewe kue deh dari interior kamarnya ini. " Ia asik bermonolog sendiri dan sibuk memperhatikan apa saja yang ada di ruangan itu yang membuatnya seakan lupa akan pusing yang di alaminya tadi
Ia melangkah turun dari kasurnya dan berjalan-jalan melihat-lihat barang di sekitar hingga langkahnya berhenti di meja rias Ia mulai meleburkan atensinya pada kaca yang memperlihatkan dirinya, sosok itu cantik sekali, rambut sebatas pinggang dengan bangs yang menutupi dahinya, tahi lalat di sudut bawah matanya menambahkan kesan yang manis.
Asik mengagumi raga barunya sampai tak sadar ada orang yang ingin memasuki kamarnya.
Klek.
Suara engsel pintu yang di buka, membuat atensi gadis itu teralihkan pada sosok yang akan masuk.
Tap... tap.... tap
Langkah itu terasa tegas, dan terkesan tergesa-gesa.
Di balik celah pintu yang terbuka, cahaya rameng-rameng masuk, memperlihatkan Siluet seorang Wanita
Seorang wanita paruh baya melangkah masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.Langkahnya terburu-buru tetapi sorot matanya liar mencari sosok lain di kamar itu dan atensinya langsung mengarah ke arah gadis yang juga menatap ke arahnya.
Gadis itu menautkan alisnya, kebingungan menyergap benaknya.
'Siapa wanita lanjut usia ini, apa dia ibuku,? aishhh shibal sebenarnya di raga mana jiwaku ini.'
Wanita itu menatapnya tanpa sedikit pun kelembutan, seolah keberadaan gadis di hadapannya hanyalah beban yang terpaksa ia toleransi.
"Bangunlah Gadis pemalas, apa tidak ada rutinitas yang kamu lakukan sehinggga kerjamu hanya tidur saja? " Wanita lanjut usia itu berkacak pingggang angkuh.
"Emang gak ada, kok masih nanya sih?. Udah tau aku ada di kasur bobo enak, masih aja nanya rutinitas apa yang harus aku lakukan? jawabanya sudah pasti molor".
" Mana sopan santunmu sebagai seorang anak Malika,saya ibu kamu".Terlihat amaran menggebu-gebu terlihat di wajah wanita lanjut usia itu.
'Oh jadi ceritanya gue transmigrasi ke tubuh si dede Malika,dan wanita rempong yang ada di depanku ini adalah ibu tirinya yang jahat itu, tenang dede Malika gw sikat nih rempong sampe keluar dari rumah kita liat aja.'
"Emang masalahnya buat lo apa?,kalo gue gak ada sopan-santun sans aja kali, dan apa tadi ibu? bwahahaha ibu gue udah di tanah noh dan cuman satu gak ada yang kedua. "
"Kamu memang kurang di ajari sopan santun Malika, akan saya laporkan kamu pada Ayahmu".'Sejak kapan anak ini mulai berani padaku, selama ini dia selalu memunduk dan takut ck sialan'. Wanita lanjut usia itu membatin.
Tiba-tiba saja wanita yang diketahui bernama Madona itu menarik rambut Malika.
"Hey-hey apa-apaan lo narik rambut gw shibal. " Tak ingin kalah Malika pun menarik rambut Madona tak kalah keras Satu tangannya ia gunakan untuk menampar pipi Madona.
"Anak tidak tahu di untung kamu,seharusnya kamu menyusul ibumu ke neraka."Ujar kesal Madona dengan nafas yang ngos-ngosan
" Jangan bawa-bawa ibu gue Jalang, seharunya yang di tanah itu lo, lo itu cuman wanita kurang belayan yang mengusahakan banyak cara buat dapetin bokap gue dan beraninya lo mau menggeser posisi gue mimpi lo ketinggian".Saut Malika dengan kesal
" Lo berharap banget dapet harta bokap gue ya makanya lo usahain buat melengserkan kedudukan gue di rumah ini sebagai anak tercintanya. "
"Well,well, well.Gak akan gue biarin. " wlee Ia julurkan lidahnya seolah mengejek dengan wajah tengil.
Ia melepas cengkramanya di rambut Madona
"Keluar sekarang eneg gue liat lu!. "
Madona yang terlihat kesakitan masih saja ngeyel ingin menerjang Malika.
"Keluar bangsat, lu ngerti bahasa gue gak sih!. "
Madona dengan berat hati berjalan ke luar arah pintu dengan memegangi kepalanya yang sudah menyerupai rambut singa itu.
_________
Malika kini terlihat tengan duduk di kasurnya
sembari memakan semangkok buah-buahan segar di temani jus Avocado.
"Gimana caranya biar gue selamat dari mereka, apa gue ngehindar atau gue pepet? " Ia kembali terdiam selama beberapa detik.
"Kalau gak salah di cerita aslinya, Malika itu punya dua sahabat tapi dia jauhin mereka karena berusaha sadarin dia kalau cintanya itu cinta sepihak yang buat mereka kasian liat dia berusaha banget buat dapetin tokoh Protagonis tapi gak di hargain jadinya hubungan persahabatan mereka merenggang?. "
"Besok gue harus ngebujuk mereka buat temenan lagi sama gue,cuman mereka yang bener-bener tulus sama Malika, gue gak boleh kehilangan mereka".
Ia kembali menusuk buah pada garpu dan memakanya, sembari terus berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan esok.
"Gimana ya tubuh gue di kehidupan gue yang dulu,sekarang Mommy pasti sedih karena dia cuman sendiri,aku sama Papi udah gak bisa sama Mommy lagi".Ia menundukan kepalanya menyembunyikan isak tangis kerinduan pada Mommynya.
for you💐.
( Kita panggil tokoh Elsa Dui yang masuk ke raga Malika, Malika aja biar gak ribet).
Malika menuruni tangga dengan malas, menuju meja makan. Menarik kursi lalu menudukan bokongnya di situ.
Malika hari ini tak seperti biasanya karena jika biasanya ia menggunakan make-up tebal maka hari ini tidak, dia hanya memakai lipbalm di bibir saja
Wajah Madona berkerut tak suka yang sangat kentara saat melihat malika. Sementara itu Cuba Ayah Malika tengah mengunyah roti, menatap Malika penuh minat.
"Nanti ke sekolahnya sama Papa atau di antar sopir Mali ?."
"Bawa mobil sendiri aja deh pah, Mali mau nyetir".Saut Mali sembari memperagakan tanganya seolah menyetir.
"Nyetir?.
" Iya kenapa emang gak boleh?. "
"Kamu emang bisa nyetir Mali tapi, papa masih belum mau ngelepas kamu ke jalanan. Bahaya Mali!. "
"Papa ku yang paling guanteng izinin Mali ya ya ya. " Mali mengeluarksn jurus terakhirnya puppy eyes pada tuan Cuba.
"Mali kamu ga biasanya seperti ini loh sayang, biasanya Mali itu nurut banget sama Papa. "
"Aduh pi Mali udah mau telat nih, mana kuncinya mali mau berangkat please Pi percaya sama mali. "
Dengan berat hati tuan Cuba memberikan Kunci mobil itu pada Malika.
Sementara gadis itu malah Jingkrak-jingkrik karena terlalu terbawa euphoria.
Mendekati ayahnya lalu mencium kening ayahnya "Mali suka deh Papi gini, papi makin ganteng. Tapi, tapi, tapi kegantengan Papi jadi minus dikit gegara si lampir, Mali doakan Semoga Papi cepat duda Amin. Mali pergi dulu see you. "
Belum sempat tuan Cuba menyemprotkan dakwahnya, Mali sudah berlari cukup jauh.
Tapi sebelum keluar ia layangkan flying kisses pada ayahnya saat Tuan Cuba menunduk Ia menjulurkan lidah pada ibu tirinya.
Di bawah carport, sebuah sedan berwarna hitam metalik terparkir rapi,Ia berjalan ke arah kendaraan itu, lalu Jemarinya menyentuh gagang pintu. Bunyi pelan terdengar ketika sistem pengunci terbuka.
Setelah ia masuk ia Menarik pintu hingga tertutup rapat, kemudian meletakkan tas sekolah di kursi penumpang.
Bunyi klik sabuk pengaman terdengar pelan ketika ia memasangnya.Malika menginjak pedal rem sebelum menekan tombol Start/Stop Engine.mesin mobil menyala.
Jarum pada panel instrumen bergerak perlahan, sementara layar di dashboard menampilkan berbagai informasi kendaraan.
Kedua telapak tangannya menggenggam kemudi, mencoba memastikan jaraknya terasa pas
Setelah memastikan tidak ada kendaraan maupun pejalan kaki yang melintas, Malika memindahkan tuas transmisi ke posisi D, melepaskan rem tangan, kemudian mengangkat kakinya perlahan dari pedal rem.
Mobil mulai bergerak membelah jalanan canada.
_______
Memakan waktu sekitar 20 menit hinggga ia sampai di sekolahnya dan untungnya saja dia tidak terlambat.
Gerbang besi yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan halaman luas yang telah dipenuhi para siswa. Tawa mereka saling bersahutan, berpadu dengan suara mesin kendaraan yang terus berdatangan.
Malika memperlambat laju mobilnya. Ia memberi jalan kepada sekelompok siswa yang sedang menyeberang, lalu membelokkan kemudi menuju area parkir.
Mobil berhenti dengan sempurna.
Ia memindahkan tuas transmisi ke posisi P, menarik rem parkir, kemudian mematikan mesin.
Dengusan halus terdengan dari bibirnya, dia
Malika menatap bangunan sekolah di balik kaca depan selama beberapa detik.
Dia terdiam cukup lama.
"Gue pernah mati tragis tapi setidaknya gue gak konyol kaya Malika sampe rela mati karena Cinta, Gue ga mau ambil resiko untuk sekarang gue harus tahu siapa-siapa aja tokoh yang mungkin bisa jadi ancama pokoknya gue harus jauh-jauh dari mereka. "
Entah mengapa, ada perasaan ganjil yang mengusik dadanya pagi itu. Sulit dijelaskan, seolah udara membawa firasat yang tak mampu ia terjemahkan.
Ia menggeleng pelan, menganggapnya hanya perasaan sesaat,sabuk pengaman dilepaskan,Tas sekolah diraih.
Pintu mobil terbuka, hembusan angin pagi kembali menyapa wajahnya, membuat beberapa helai rambut bergoyang lembut. Malika menutup pintu mobil, menguncinya, lalu melangkah menuju gerbang sekolah.
"Northcrest Academy ya, Elite semua Cok yang sekolah di sini muridnya juga banyak So bukan hal yang sulit buat ngehindar. "
Ia mengayunkan tungkainya menuju ke dalam Gedung sekolah, baru beberapa saat suara sorakan terdengar menggema dari murid lain.
Malika melihat sumber yang memicu suara gaduh itu teryata di sana Soren terlihat gagah postur tubuh tinggi tegap, wajah menawan yang memancar kan aura tegas satu kata dari Malika Mantap.
"Eh busett Pemeran utamanya se cogan ini pantas Si Mali jadi bulol, tapi mines sih gantang-ganteng sikopet. Mendingan Jimin humoris eak, tipenya Mali Kaya cuek gitu orangnya, gue gak sanggup, kalau gue ngajak bercanda juga pasti gak nangkap. "
________
Di kelas Malika di hujami tatapan bingung semua murid,ia yang di tatap malah cengo.
"Annyeong, kalian kenapa natap gue gitu, gue mirip Jisoo Blackpink ya. " Ujarnya
"Kamu siapa, murid baru ya? ".
Salah satu murid pria menimpali sembari mendekat ke arah Malika.
" What the hell bro, I'am Malika"
"M-malika?. " bagaimana bisa seorang malika yang di kenal angkuh, haus validasi, suka menempel pada soren Cs dan suka ber make-up tebal itu secantik ini? mereka menolak untuk percaya.
"Ya gue Malika, udah kan sekarang minggir gue mau duduk. "Dengan ketus dia melewati para murid tadi dan duduk di bangkunya dan menyiapkan peralatan tulisnya.
"Mali?,Lo kerasuka makhluk astral ya? ." Seorang gadis memegang bahunya dan mengguncang tubuhnya.
Malika sempat terdiam beberapa saat, setelah itu tubuhnya berhenti diguncang dan gadis itu menatap malika lekat.
Malika mengedip-ngedipkan matanya.Gadis itu yang melihat Ekspresi bingung di wajah Malika pun merasa aneh.
"Ini langka setelah sekian abad, akhirnya gue ngeliat lo gini Li, maafin kami dua Ruka ya waktu itu kami kebawa emosi. Itu karena lo ga mau denger masukan kami Li".gadis itu menunduk sembari menggenggam salah satu tangan Malika.
'oh ini Aira Khazalea salah satu sahabat gue
kalo gini mah gue gak perlu repot-repot buat ngebujuk'.
"Gue maafin, bukan salah kalian berdua juga ko. Gue juga salah karena gak dengerin kalain berdua padahal kan kalian gitu karena kalian perduli sama gue. " Malika balik menggenggam tangan Aira sembari tersenyum hangat padanya.
Aira yang melihat itu terlihat haru di matanya karena Malika belum pernah seperti ini padanya. Malika tidak pernah menatapnya seperti itu.
Matanya mulai berembun tanda-tanda akan mengeluarkan bulir air mata
"Lo ga papa kan Li?. " Tanyanya lagi mencoba memastikan.
"Emangnya aku kenapa Ra?" Malika menjawab.
"Lo kan gak sekolah kemaren, karena kepala lo kepentur bola,mimisan,sama lo pingsan Li jadinya lo dipulangin".Mendengan itu Malika mengertit bingung pantas saja kepalsnya terasa sakit kemaren.
" Ruka sampe marah sama Soren dan teman-temanya dia juga marah Sama Rara karena Soren yang lempar tu bola baskes ke arah lo keras banget Li, gara-gara lo nyenggol bahunya Rara. Aira menjelaskan para Malika dengan wajah kesal yang kerntara.
'Aira sama Ruka sebaik ini sama lo, lo buta Malika seandainya temen gue di kehidupan sebelunya itu mereka gue bersyukur.lo gak pernah di hianatin temen lo aja lo seharusnya bersyukur'. Malika menatap Aira dengan cengiran.
"Gue ga papa kok santai aja, oh ya Ruka di mana? . "
"Loh Li, lo lupa Kelas Ruka sama kita beda. " Jawab Aira dengan bingung.
"Oh mungkin efek pala gue kena bola makanya gue lupa,amnesia dikit. " dia tertawa cengengesan.
Tak lama Soren masuk bersama dengan Rara
terlihat Rara yang menempel bak lintah darat pada Soren.
Soren dan Rara berhenti tepat di samping Malika dan Aira, membuat Malika was-was ada apa gerangan.
"Loh Malika kamu duduk di sini?. "Rara bertanya pada Malika dengan nada pelan yang menguatkan sikap sok polosnya itu.
" Iya, memangnya kenapa kalau gue duduk di sini, ada masalah?. "Timpal Malika tanpa sedikitpun menoleh ke arah Soren.
" Lo bisa gak sih ga usah caper ke gue"Mendengar penuturan Soren Malika semakin bingung.
Awalnya sih ingin diam saja tapi jiwa-jiwa ingin menempeleng Soren sangat besar
"Seriusan lo ngomong gitu, lo siapa anjir?. Siapa lo sampe gue harus caper sama lo jangan mentang-mentang gue pernah suka sama lo. Lo seenaknya ngomong gitu!. " dengan napas menggebu-gebu ia menunjuk wajah Soren.
"Malika kamu jangan gitu, Soren bilang gitu karena kursi aku kamu dudukin. Tempat kamu duduk itu kursi aku sama Soren".Rara mencoba menjadi penengah antara keduanya.
"Malika bener loh Rara, kan kalian bisa bilang baik-baik sama Mali, tapi kalianya malah ngegas sama bilang dia caper ya jeleas dia marah. " Aira membela Malika dengan wajah tidak sukanya.
" Oh ini kursi kalian berdua, si paling couple. Kan bisa ngomong baik-baik ke gue gak perlu lo nuduh gue caper shibal,ayo Ra pindah. "
Malika lansung mengambil tasnya dan berjalan sembari menggandeng tangan Aira ke bangku lain yang kosong tanpa sedikitpun menoleh pada Soren.
'Apa itu strategi baru untuk bermain tarik ulur denganku, ck aku tidak akan tertarik dengannya. 'Soren bermonolog dalam hati.
"Soren kamu terlalu keras sama Malika, Malika kan ga ada niat jahat dia cuma salah paham Soren. "tutur Rara.
" Kamu jangan percaya siasatnya dia itu licik, dan bisa lakuin banyak cara agar berhasil menarik perhatianku".
_________
See you guys
for you luv🌺.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!