Kos-kosan dinding triplek itu mendadak gempar oleh satu aroma yang mustahil. Wangi mawar premium yang begitu pekat mendadak menguar, seolah ada ratusan buket bunga segar yang baru saja diperas di dalam lorong sempit yang biasanya berbau bumbu dapur dan asap rokok tersebut. Beberapa penghuni kos yang baru bersiap berangkat kerja sempat melongokkan kepala keluar kamar, mengendus udara dengan kening berkerut heran.
Sementara itu, di dalam kamar mandi umum yang pengap di ujung lorong, Alin Hanindya membeku dengan sikat gigi masih menancap di mulutnya. Wajahnya yang semula kusam dan dipenuhi jerawat batu kini memerah padam sampai ke telinga. Jantungnya bertalu hebat melawan dinding dadanya.
Ia baru saja melepas gas lambungnya—alias kentut—dengan suara yang cukup nyaring akibat perutnya yang kembung.
"Kok... wangi?" gumam Alin setelah beberapa detik terpaku. Suaranya bergetar, tercekat di tenggorokan.
Ia mencoba mengendus udara di sekitarnya sekali lagi, memastikan indra penciumannya tidak sedang rusak. Ini benar-benar gila. Biasanya, perutnya yang ringkih karena keseringan makan mi instan dan makanan sisa rumah makan selalu menghasilkan bau gas yang membuat orang mengumpat. Tapi pagi ini, aromanya begitu mewah dan elegan. Wangi itu terasa sangat nyata, mengalahkan parfum ratusan ribu milik Ibu kos yang paling mahal sekalipun.
Sebelum Alin sempat mencerna keanehan medis tersebut, sebuah rasa panas yang membakar tiba-tiba menjalar dari ulu hatinya. Rasa panas itu bergerak cepat seperti cairan lava, naik ke dada, mencengkeram lehernya, lalu meledak ke seluruh pori-pori kulitnya. Alin menjerit tertahan. Kedua tangannya spontan mencengkeram leher yang terasa tercekik. Ia ambruk ke lantai semen yang dingin, menggeliat menahan rasa sakit yang tidak tertahankan. Tubuhnya gemetar hebat, dan keringat dingin mulai bercucuran.
Bfffttt!
Seiring dengan embusan asap tipis transparan yang keluar dari pori-pori tubuhnya, rasa panas membakar itu mendadak hilang tanpa bekas.
Sensasi itu berganti dengan rasa sejuk yang luar biasa meneduhkan, seolah seluruh tubuhnya baru saja dibasuh oleh es murni. Alin terengah-engah di atas lantai semen, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat meremang.
Saat ia mendongak untuk membasuh wajahnya di wastafel, matanya tidak sengaja menangkap pantulan bayangan di sebuah pecahan cermin retak yang digantung di dinding lembap itu. Alin tersentak mundur hingga punggungnya membentur pintu kayu dengan keras.
"I-ini siapa?!" pekik Alin dengan suara tertahan.
Gadis di dalam pecahan cermin itu memiliki kulit seputih susu yang merona sehat, memancarkan kilau alami yang mustahil didapatkan dari perawatan klinik kecantikan mana pun.
Jerawat-jerawat meradang yang selama tiga tahun ini bersarang di wajahnya—yang membuatnya menjadi samsat perundungan paling empuk oleh teman-teman di SMP—kini lenyap tanpa bekas.
Bahkan, tidak ada satu pun flek hitam atau bekas luka yang tersisa. Tulang pipinya tampak lebih tegas dan proporsional, sepasang matanya jernih bak air telaga terdalam, dan bibirnya yang semula pecah-pecah kini sewarna buah ceri yang matang.
Ia tidak lagi terlihat seperti Alin si "Mutiara Dekil" yang selalu menunduk tumpat. Gadis di dalam cermin retak itu adalah seorang dewi, bidadari yang seolah sengaja diturunkan dari khayangan.
Otak Alin langsung berputar cepat, melompati ingatan mundur ke kejadian dua puluh empat jam yang lalu. Ia mengingat kembali hari kelulusannya yang menyedihkan, hari di mana ia hanya bisa memandang sepatu usangnya yang berdebu di taman kota. Ia juga mengingat tabrakan tidak sengaja dengan Nenek Tari di dekat gang kosannya, serta bagaimana ia merelakan satu-satunya nasi bungkus miliknya untuk nenek yang kelaparan itu.
Lalu, matanya terpejam saat mengingat benda terakhir yang diberikan sang nenek: sebongkah ubi jalar misterius berukuran besar yang ia rebus semalam karena perutnya yang kelaparan tak punya uang lagi.
“Jangan ditolak, Cu. Ini rezeki untuk gadis baik sepertimu. Makanlah ubinya,” suara parau Nenek Tari yang mendadak hilang misterius di halte itu kembali terngiang, bergema berulang-ulang di kepala Alin.
Alin meraba pipinya yang kini terasa sehalus sutra dengan jemari yang masih gemetar. "Ubi itu... ubi apa sebenarnya? Kenapa wajahku bisa berubah jadi seperti ini?" bisiknya pada kesunyian.
Tok! Tok! Tok!
"Alin! Kamu mati di dalam ya?! Lama banget! Gantian, aku sudah telat!"
Gedoran kasar di pintu membuyarkan lamunan Alin. Itu suara Mbak Ranti, tetangga kos sebelah yang bekerja sebagai buruh cuci di perumahan depan. Suara gedoran itu terdengar sangat tidak sabaran, disusul oleh hentakan kaki yang menghentak-hentak lantai lorong.
Kepanikan baru yang lebih besar langsung melanda Alin. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan perubahan instan yang ekstrem ini kepada orang lain?
Orang-orang di kosan ini pasti akan mengiranya melakukan pesugihan, memakai susuk, atau melakukan operasi plastik ilegal dalam semalam. Logika manusia tidak akan pernah bisa menerima transformasi magis seperti ini.
Dengan gerakan panik, Alin menyambar handuk loak miliknya yang tergantung di dinding. Ia melilitkannya ke kepala dengan asal, menarik kainnya ke bawah hingga menutupi sebagian besar dahi, pipi, dan hidungnya, hanya menyisakan sepasang matanya yang kini terlihat sangat jernih. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya, Alin membuka selot pintu kamar mandi.
"Maaf, Mbak Ranti... perutku agak tidak enak tadi," ucap Alin pelan, mencoba meniru suara seraknya yang biasa.
Mbak Ranti yang sudah membuka mulut dengan dahi berkerut, siap menyemburkan rentetan omelan kasar, mendadak bungkam seketika. Kalimat makian yang sudah di ujung lidahnya tertahan begitu saja di tenggorokan. Matanya membelalak sangat lebar menatap Alin.
Perempuan itu melangkah mundur satu tapak, tampak terintimidasi oleh sepasang mata jernih dan aura anggun yang mendadak memancar kuat dari tubuh Alin—gadis yang biasanya selalu berjalan membungkuk dan menyembunyikan wajah dekilnya.
"Kamu... benar Alin?" tanya Mbak Ranti. Suaranya mendadak mengecil, kehilangan nada galak yang biasanya menjadi ciri khasnya.
Kulit wajah Mbak Ranti tampak memucat saat mencium aroma mawar yang semakin tajam menguar dari tubuh gadis di depannya. "Kok... bau kamu wangi sekali? Kamu habis menumpahkan satu botol parfum ya? Mahal banget baunya."
"E-enggak pakai apa-apa, Mbak! Permisi, aku duluan!" Alin tidak berani menjawab lebih lama. Ia langsung melesat secepat kilat melewati Mbak Ranti, berlari kecil menyusuri lorong sempit, lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Alin bersandar lemah di balik pintu tripleknya, memandangi ruangan berukuran dua kali dua meter yang pengap tersebut.
Ruangan yang selama ini menjadi saksi isu kemiskinannya, tempat ia meratapi nasibnya yang yatim piatu dan menahan lapar setelah lelah bekerja mencuci piring di rumah makan.
Di sudut kasur busanya yang sudah kempes di bagian tengah, sebuah amplop cokelat besar berlogo SMA Garuda tergeletak rapi. SMA Garuda adalah sekolah elit paling tersohor di kota itu, tempat di mana anak-anak konglomerat, selebriti, dan pejabat berkumpul.
Alin berhasil menembus sekolah itu hanya karena otaknya yang encer, memenangkan beasiswa penuh yang membebaskannya dari seluruh biaya pendidikan.
Kemarin, saat merenung di bangku taman, ia sempat berdoa dengan amat sangat agar tidak dipertemukan lagi dengan teman-teman SMP yang selalu merundungnya. Ia ingin menjadi sosok yang tidak terlihat, fokus belajar, dan lulus dengan tenang tanpa perlu menarik perhatian siapa pun.
Namun sekarang, dengan perubahan fisik yang terlampau sempurna ini, Alin tahu impiannya untuk hidup tenang telah hancur. Masih ada waktu satu minggu lagi sebelum masa orientasi siswa baru dimulai.
Tujuh hari. Waktu yang terasa seperti bom waktu bagi Alin. Bagaimana dia bisa bertahan di kos-kosan ini tanpa ketahuan? Terlebih lagi, sore ini dia harus kembali bekerja di rumah makan untuk menyambung hidup dan mengisi dompetnya yang tinggal menyisakan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
Alin menatap amplop SMA Garuda dengan tatapan bimbang. Wajah barunya bukan lagi sekadar cantik; wajah ini adalah jenis kecantikan yang bisa memicu konflik, membuat orang menoleh dua kali, dan mengundang bahaya.
Alin meremas ujung kaos oversize usangnya dengan cemas. Sambil memandang sisa ubi rebus di atas piring plastik kecil yang berbau manis mawar, ia bergumam pelan, "Bagaimana caranya aku menyembunyikan wajah ini selama satu minggu ke depan?"
Satu minggu. Alin menatap nanar kalender dinding bergambar toko emas yang tergantung di kamarnya. Waktu tujuh hari sebelum masa orientasi di SMA Garuda terasa seperti hitung mundur bom waktu.
Bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan perubahan fisik yang sedrastis ini dari para penghuni kos? Terlebih lagi, isi dompetnya yang mengenaskan memaksa Alin untuk mengesampingkan dulu urusan sihir ubi rebus ini. Ia harus makan siang.
Siang itu, aspal di pinggiran Jakarta terasa seperti wajan penggorengan yang siap mengeksekusi siapa saja yang nekat melintas. Dengan modal nekat berupa selembar uang sepuluh ribu rupiah—sisa kejayaan terakhirnya—Alin melangkah keluar dari kamar kos.
Ia hanya mengenakan kaos putih polos yang kerahnya mulai melar dan celana jeans hitam pudar yang warnanya sudah menyerupai abu-abu monyet akibat terlalu sering dicuci.
Sesuai ritual yang sudah mendarah daging selama tiga tahun, Alin pantang menyentuh cermin. Baginya, benda berlapis raksa itu tak ubahnya musuh bebuyutan yang hanya akan memamerkan parade jerawat batu dan kulit kusamnya.
Alin hanya menyisir rambut panjang cokelat gelapnya secara asal menggunakan jemari, lalu mengikatnya gaya ekor kuda (ponytail).
Ia sama sekali belum menyadari, bahwa di balik kaos belelnya itu, sepasang mata cokelatnya kini berbinar jernih layaknya lensa kamera premium, dibingkai oleh bulu mata yang mendadak lentik sempurna tanpa sentuhan eyelash extension.
Trauma perundungan yang ia telan bulat-bulat selama SMP telah membangun tembok rasa tidak percaya diri yang setinggi Monas di dalam kepalanya.
Lagipula, boro-boro membeli paket skincare mahal di mal, untuk sekadar mengganjal perut di warteg saja ia harus memutar otak setiap hari agar tidak berakhir menjadi pencuci piring gratis.
Namun, keanehan langsung menyengat Alin begitu ia menginjakkan kaki di gang. Langkah kaki gadis itu mendadak kaku. Suasana warung nasi langganannya di sudut jalan tampak lebih ramai, beradu dengan bisingnya knalpot motor dan aroma tumis kangkung.
Masalahnya, setiap kali ia melewati kerumunan orang, pasang mata di sepanjang jalan seolah tertancap, mengunci pergerakannya dengan tatapan tak berkedip.
"Apa ada yang salah dengan bajuku? Apa karena kaosku sudah belel?" batin Alin gelisah, buru-buru menyilangkan tangan di dada.
Ia mempercepat langkah, memesan sepiring nasi dengan lauk ala kadarnya yang penting pas dengan anggaran mepetnya, lalu segera menyelinap ke pojok warteg yang paling gelap dan tersembunyi.
Tak jauh dari posisinya, di meja panjang bagian tengah, sedang berkumpul lima pemuda yang auranya kontras dengan kebulan asap warteg.
Pakaian mereka necis, bersih, dan memancarkan aura anak orang kaya yang tersesat. Mereka adalah geng 5 R, geng cowok paling populer dari sekolah elit bernama SMA GARUDA yang sedang bosan dengan menu kafetaria mahal mereka.
Geng yang beranggotakan lima orang itu yang tak lain adalah Rakha Pratama Bagaskara, Rayi Arjuna Bagaskara, Reno Alvarez, Raditama Abraham dan Rahsya Adipta.
"Bro, bro! Pembatasan sosial bubar! Lihat tuh... aya anu geulis, bodas, mulus deui!" celetuk Reno, si buaya darat blasteran Sunda-Jakarta, hampir tersedak es teh manisnya. Tangannya menyikut lengan temannya dengan brutal, matanya melotot lurus ke arah Alin yang sedang menunduk kaku.
"Halah, lo mah ada yang bening dikit langsung amnesia. Lama-lama gelas kaca buram di warteg ini juga lo taksir kalau dipakein jilbab, Ren!" sahut Adit sambil mengunyah kerupuk dengan berisik.
"Ya kali gelas, Dit! Sekalian aja lo bawa sama nampan dan abang wartegnya kalau lo emang sehina itu!" timpal Rahsya disusul tawa membahana yang membuat seisi warung menoleh.
Sementara itu, dua pemuda di ujung meja, si kembar Rakha dan Rayi, awalnya tampak tidak peduli. Rakha yang memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kanan dan Rayi yang memiliki postur sedikit lebih jangkung, masih sibuk menggeser layar ponsel mereka, mengabaikan hiruk-pikuk Jakarta.
"Lo berdua ngapain sih pacaran sama HP terus? Lihat dulu nih, beneran 'cuci mata' di tengah debu Jakarta yang sesungguhnya! Ini mah spek dewi!" paksa Reno, menarik bahu si kembar.
"Hmm..." Rayi hanya bergumam malas. Namun, begitu ia dan Rakha mendongak serempak menghadapi telunjuk Reno—
Deg!
Suasana warteg mendadak seperti dijatuhi bom waktu. Hening seketika. Mulut kelima pemuda itu kompak menganga lebar. Jika ada lalat Jakarta yang terkenal gesit lewat, mungkin sudah bisa membuat sarang di dalam rongga mulut mereka.
Tangan Reno mendadak lemas, bahkan ponsel berlogo apel tergigit milik Rakha hampir saja terjun bebas berciuman dengan lantai warteg yang berminyak.
Mereka terpaku, terhipnotis oleh kecantikan Alin yang memancarkan cahaya murni, seolah-olah dia adalah bidadari yang baru saja turun dari angkot—begitu bersinar di tengah kumuhnya lingkungan sekitar.
"Mingkem, woy! Eta lamun aya laleur asup kana baham kumaha? Rek ditelen, hah?!" sentak Reno, mendadak panik sendiri saking kagetnya melihat target buruannya yang terlampau indah.
Alin yang menyadari aura intimidasi dari meja tengah mulai merasa risih. Jantungnya berpacu kencang, dag-dig-dug tak karuan. Ia buru-buru menyuap makanannya dengan tergesa-gesa, membiarkan helai rambut cokelatnya jatuh menutupi wajah.
"Duh, apa di wajahku ada sisa ubi rebus semalam? Atau belepotan sambal? Begini nih akibatnya kalau anti-ngaca!" batin Alin dongkol.
Saat ia tak sengaja mendongak untuk mengelap bibir, matanya langsung bertabrakan dengan tatapan intens lima pemuda tadi. Panik, Alin langsung menyambar plastik makanannya, melempar uang pas sepuluh ribu ke meja kasir, dan melesat pergi secepat kijang.
"Yah, kabur! Padahal gue belum minta nomor WhatsApp-nya!" keluh Reno terpukul, memandangi kursi kosong Alin dengan nelangsa.
"Gue juga mau kali, spek bidadari begitu masa dilewatkan begitu aja!" sahut Rahsya, menepuk jidatnya.
Rakha dan Rayi hanya terdiam, namun di dalam dada mereka, ada getaran aneh yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dari gadis-gadis modis di sekolah mereka.
"Menarik... semoga kita ketemu lagi di kota sepadat ini," batin Rayi sambil menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti.
****
Langkah kaki Alin baru melambat saat ia sampai di depan pagar kosannya. Namun, pelariannya langsung dijegal oleh sosok bertubuh subur yang hobi memakai daster motif macan tutul. Bu Sinta, sang pemilik kosan, berdiri dengan kedua tangan di pinggang dan wajah penuh selidik.
"Maaf ya adek cantik, situ siapa ya? Kok main nyelonong mau masuk ke kamarnya Alin? Kamu siapanya dia? Alinnya mana? Kok kunci kamarnya bisa ada di tangan kamu?!" tanya Bu Sinta bertubi-tubi dengan nada tinggi khas ibu-ibu pemilik kontrakan Jakarta yang siap memanggil RT.
Alin mengernyitkan dahi, bingung dengan intonasi galak tersebut. "Ibu aneh banget sih. Jelas-jelas yang ada di hadapan Ibu ini ya Alin. Masa siluman?"
Bu Sinta langsung mengucek matanya berkali-kali sampai maskaranya sedikit luntur. "Ini beneran kamu, Alin?! Jangan bohong ya! Alin yang saya kenal itu mukanya madesu, kusam, kagak bening begini! Jangan-jangan kamu sindikat penculik anak ya? Jawab! Kamu punya mulut, kan?!" Bu Sinta merangsek maju, hidungnya kembang-kempis menahan emosi.
Alin menghela napas lelah. "Kalau aku bukan Alin, ngapain aku balik ke kosan pengap ini, Bu? Aku sudah setahun lebih tinggal di sini. Aku betah karena Bu Sinta sebenarnya baik—meski kalau lagi nagih uang kos suka mirip komodo galak."
Bu Sinta masih sangsi, matanya memicing meneliti kulit Alin yang sehalus porselen. "Kalau kamu beneran Alin, kenapa muka kamu bisa glow up brutal dalam semalam?! Kamu pakai filter dunia nyata merek apa, hah?!"
"Kalau kamu beneran Alin, kenapa muka kamu bisa glow up brutal dalam semalam?! Kamu pakai filter dunia nyata merek apa, hah?!"
Melihat situasi yang mulai mengundang perhatian tetangga kos lain, Alin memutar otak. Ia melangkah maju, memangkas jarak, lalu berbisik pelan tepat di telinga Bu Sinta.
"Ibu masih nggak percaya? Ingat tidak, waktu pertama kali Alin datang survei kosan ini setahun lalu? Alin dengar suara 'ledakan' dari perut Ibu di kamar mandi umum. Terus pas Ibu keluar buru-buru karena ada telepon, ada... anu... 'lele kuning' yang menempel di bagian belakang daster macan Ibu akibat Ibu lupa cebok bersih karena diare. Ingat?"
Mata Bu Sinta seketika membelalak sempurna setara ukuran jengkol. Wajahnya yang tadi merah akibat emosi, kini berubah menjadi merah padam menembus ubun-ubun akibat malu yang luar biasa.
Aib "lele kuning" akibat salah makan seblak itu adalah rahasia paling kelam, paling haram, dan paling tabu dalam kariernya sebagai janda bahenol sekecamatan.
"Ka-ka-kamu... kok tahu?!" suara Bu Sinta bergetar, mendadak gagap.
"Makanya, Bu. Percaya kan sekarang kalau aku ini Alin?" Alin tersentak menahan tawa.
"Iya, iya! Saya percaya! Tapi demi Allah jangan kencang-kencang ngomongnya! Mau ditaruh di mana muka saya kalau kedengaran anak-anak kos lain?!"
Bu Sinta merapikan dasternya dengan gerakan super gugup, matanya melirik kiri-kanan ketakutan. "Ya sudah! Kalau kamu nggak percaya dibilang cantik, mending kamu ngaca dulu sana! Saya mau pergi nagih kontrakan sebelah!"
Tanpa menunggu jawaban, Bu Sinta langsung melenggang pergi dengan langkah seribu, menyisakan Alin yang mendengus geli.
"Masa aku dibilang cantik? Ibu kos ada-ada saja efek kurang piknik."
Karena kata-kata Bu Sinta tadi memicu rasa penasarannya, ditambah di kamarnya tidak ada cermin, mata Alin tidak sengaja menangkap sebuah mobil mewah berwarna hitam legam yang terparkir tepat di depan pagar gang kosan.
Mobil itu tampak sangat asing di lingkungan kumuh tersebut—sebuah sedan mewah dengan kaca film super gelap dan mengkilap yang memantulkan cahaya matahari bagaikan cermin darurat kelas satu.
Alin mendekat dengan langkah riang. Begitu bayangan tubuhnya terpantul di kaca mobil samping yang hitam legam itu, langkah Alin mendadak terkunci. Ia mematung. Matanya membulat sempurna sampai hampir melompat dari rongganya.
Ia meraba pipinya yang kini halus tanpa satu pun tonjolan jerawat batu. Ia menyentuh hidungnya yang mendadak mancung mungil berstruktur sempurna, lalu mengelus kulit lengannya yang putih berseri bak susu murni.
Karena terlalu syok, senang, dan sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya (dan terbukti ucapan Mbak Ranti tadi pagi serta Bu Sinta barusan adalah fakta), sirkuit di otak Alin mendadak korslet.
Sifat aslinya yang agak gesrek akibat terlalu lama tertekan batin pun keluar. Alin mulai bertingkah konyol di depan kaca mobil berbiaya miliaran rupiah tersebut.
Ia cengar-cengir sendiri, lalu menekan ujung hidungnya ke atas menggunakan jari telunjuk hingga menyerupai hidung babi, sambil bergaya ngek-ngok dengan ekspresi wajah yang dibuat jelek.
Belum puas, ia menjulurkan lidahnya panjang-panjang, menarik kedua sudut bibirnya hingga lebar, lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seperti sedang melakukan ritual pemanggilan hujan.
Alin tertawa cekikikan sendiri, mengagumi betapa elastisnya wajah barunya. Ia benar-benar mengira kaca mobil mewah itu hanyalah benda mati yang tidak berpenghuni.
Sampai akhirnya... kaca film yang semula hitam pekat itu perlahan-lahan bergerak turun secara otomatis dengan suara mesin yang sangat halus.
Bzzzz...
Di dalam kabin mobil yang sejuk oleh semburan AC mewah, duduk dua orang pria. Yang satu mengenakan setelan jas hitam formal. Pria yang duduk di kursi kemudi—seorang pria paruh baya dengan seragam sopir—sedang menahan tawa sampai wajahnya membiru.
Sementara di kursi belakang, duduk seorang pemuda tampan dengan tatapan mata yang luar biasa tajam namun kini memancarkan ekspresi antara takjub, syok, dan setengah mulas akibat menahan tawa melihat tingkah "bidadari gesrek" yang baru saja melakukan pertunjukan sirkus gratis di jendela mobilnya.
Pemuda di kursi belakang itu menurunkan kacamata hitamnya perlahan, menatap Alin yang masih mematung seperti patung pancoran.
"Sudah selesai pertunjukannya... atau mau saya putarkan musik biar lebih menjiwai?"
Suara berat yang sedingin es di kutub utara itu memutus seluruh pasokan oksigen di sekitar gang kosan.
Alin membeku di tempat. Posisinya saat ini benar-benar tidak tertolong oleh estetika mana pun: jari telunjuknya masih menempel di ujung hidung hingga membentuk hidung babi, sementara lidahnya menjulur keluar dengan mata mendelik konyol.
Kalau saja ada sumur di dekat situ, saat ini juga Alin sudah menceburkan diri tanpa pikir panjang. Ah, ralat! Alin sadar dia tidak punya nyali untuk berenang di air sumur yang gelap.
Dan seandainya ada cangkul, Alin mungkin akan menggali lubang sedalam-dalamnya untuk mengubur rasa malunya hidup-hidup. Tapi dipikir-pikir, kalau dia menggali dulu, keburu ubanan dan jadi fosil dong?
Dengan gerakan patah-patah seperti robot kehabisan baterai, Alin menarik tangannya jatuh ke samping tubuh. Wajahnya yang kini seputih susu mendadak bertransformasi menjadi sewarna kepiting rebus yang overmatang.
Tatapan Alin langsung tertuju pada pemuda tampan yang mengenakan kemeja kasual namun mahal. Alisnya tebal, kulitnya bersih, dan ada sebuah tahi lalat kecil di bawah mata kanannya yang memberikan kesan misterius sekaligus mematikan. Rambut hitamnya yang agak gondrong tertata acak-acakan tapi estetik.
Alin mengerutkan kening di tengah rasa malunya.
Tunggu dulu. Wajah ini... bukankah cowok ini adalah salah satu dari pemuda yang tadi duduk di meja tengah warteg?!
"Maaf Tuan Muda Rakha, apakah mau turun sekarang? Atau mau nunggu tahun depan pas ganti kalender masehi?" celetuk pria paruh baya di kursi kemudi bernama Pak Amir. Tangannya masih setia memegang setir, namun matanya melirik jahil lewat spion tengah.
"Bapak bercanda atau mau saya pecat sekarang juga?" sahut Rakha datar tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Alin.
Walaupun ancamannya terdengar ngeri, Pak Amir hanya terkekeh pelan. Pria tua itu sudah mengabdi di keluarga Bagaskara selama dua puluh tahun, paham betul kalau tuan mudanya ini tipe "galak-galak sayang".
Rakha sengaja memilih kos-kosan triplek ini untuk menyamarkan identitas aslinya. Ia sudah muak menjadi "bayangan" di kediaman Bagaskara karena selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Rayi Arjuna Bagaskara, yang lebih jangkung 3 cm dan memiliki kepribadian seceria matahari.
"Maaf Tuan, jangan marah. Saya cuma mau ngetes, jantung Tuan masih fungsi atau sudah jadi batu pas lihat bidadari ngek-ngok," canda Pak Amir lagi, membuat Rakha berdeham kesal demi menyembunyikan fakta bahwa jantungnya memang sedang melakukan maraton akibat bertemu lagi dengan gadis warteg ini.
Rakha membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan postur tinggi tegapnya yang langsung membuat gang sempit itu terasa semakin sesak.
"Lo ngapain halangin pintu mobil gue? Minggir. Gue mau lewat," ucap Rakha ketus, melangkah maju dan sedikit menggeser bahu Alin dengan ujung jarinya.
"Ma-maaf... A-aku... A-aku..."
Alin mendadak kehilangan seluruh kosakata bahasa Indonesia-nya. Lidahnya kelu. Efek ubi rebus semalam rupanya belum memperbaiki saraf bicaranya saat berhadapan dengan makhluk visual seperti Rakha.
"Ah, kelamaan lo! Nungguin lo selesai gagap, keburu bangkotan tuh Pak Amir di dalam mobil!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!