Terlihat 30 orang mengintari kawasan rumah pondok pengungsi tengah malam di Nottinghamshire (wilayah lapang luas dan melalui perhutanan, berjarak sekitar 3 jam dari London, pusat Inggris/Britania Raya) dengan membawa pistol masing masing.
Ada juga yang sudah berada di atap pondok siap siap menerobos ke dalam rumah.
Listrik satu kawasan itu dimatikan dan suara tembakan mulai terdengar.
Doorrr!!!
Door!!! Door!!!
Brak!!
Pintu dibuka secara paksa oleh beberapa orang berpakaian militer inggris.
Suara tembakan bertubi tubi menembus setiap pondok rumah dalam hutan tersebut, karena gelap tidak jelas siapa yang ditembak yang terpenting tidak ada yang boleh selamat dari penyergapan ini, kecuali anak anak dan wanita.
Berdiri seorang pria dengan rompi militer berlapis. Dalam kegelapan, iris mata birunya memancarkan cahaya. Ia menatap kedua orang yang sudah tak bernyawa diatas ranjang. Seorang pria dan wanita.
"Begini akhirnya nasib pembunuh kedua orang tuaku. Setelah 3 tahun mencari kalian, semudah ini kalian tak bernyawa dihadapanku" lirihnya.
Door!! Door!!
Ia menembakkan pelurunya tepat di masing masing dahi pembunuh orang tuanya. Ternyata si pemberontak memilih membunuh diri mereka sendiri saat merasakan sergapan dari musuh.
"KOMANDAN!!!" teriak prajurit lain.
"ADA BEBERAPA PEMBERONTAK YANG MELAWAN! MEREKA MEMILIKI GRANAT!" lanjutnya.
Pria beriris mata biru itu segera keluar pondok pembunuh orang tuanya menuju api yang membara.
"Door!!"
Ada balasan peluru kearah para militer.
"LINDUNGI DIRI KALIAN!!" teriak si komandan.
dari pintu pondok rumah yang tadi ditinggalkan pria beriris mata biru itu, berdiri seorang wanita dengan pistol di tangannya.
"AWAS KOMANDAN!!" teriak salah satu prajurit yang melihat wanita itu mengarahkan pistol kearah atasannya.
Namun terlambat, kecepatan peluru berhasil menyentuh punggung si Komandan.
Door!! Dooor!! Door!!
3 peluru langsung menancap di punggung komandan itu.
"KOMANDAN LEOOOO!!!!"
"SIR LEOOO!"
Teriak para prajurit sambil berlari menuju pria bernama Leo itu.
Wanita itu langsung ingin menembakkan dirinya sendiri namun peluru telah habis. Keburu disergap oleh prajurit.
"Jangan bunuh dia!" perintah Leo, si komandan.
Komandan yang tertembak 3 peluru di punggungnya, seperti mati rasa. Dirinya tidak jatuh maupun terlihat kesakitan. Prajuritnya pun heran dengan kekebalan tubuh sang pimpinan.
"Kalian sudah tau jika aku tidak akan kesakitan meskipun tertembak berapapun. Jangan alay" omelnya kepada prajurit yang berteriak menghampirinya tadi.
"Ka..kami..kami lupa bahwa anda memang bertubuh besi, Sir" sahut sang prajurit.
Leo tidak menyahuti prajuritnya dan mrmilih berjalan kearah wanita yang sudah dipegang oleh dua prajutit lainnya.
"BAJINGAN!! KALIAN MEMBUNUH ORANG TUAKU!!" teriak wanita itu tanpa takut.
Leo tersenyum menyeringai.
"Membunuh orang tuamu? Anda terlalu optimis nona. Orang tua mu memilih mati dengan mudah dan aku tidak puas" sahut pria itu.
"KAMI WARGA SKOTLAND HANYA INGIN HIDUP DAMAI!!" teriak wanita itu.
"Damai? Hahahahaa omongan pemberontak yang begitu menipu" ujar Leo.
Pria itu pun mendekatkan wajah didepan wanita sanderanya.
"Orang tuamu sudah membunuh orang tuaku. Sudah 3 tahun aku membiarkan kalian hidup tenang dan damai tanpa rasa bersalah. Sekarang giliranku untuk menghilangkan pemberontak Skotland dari Britania Raya" jelas Leo.
"DENGARKAN PERINTAHKU!! TANGKAP SEMUA WANITA DAN ANAK ANAK YANG MASIH HIDUP DAN BUNUH SEMUA PRIA BAIK TUA MAUPUN MUDA! JANGAN ADA SISA!" teriaknya kemudian.
"SIAP KOMANDAN!" sahut para prajurit serentak.
Dari sudut gelap lainnya, ada seorang pria yang menatap kearah wanita itu dengan amarah dan kepalan tangan. Dadanya mengucurkan darah dan dia tidak bisa nekat menyelamatkan kekasihnya secara langsung.
"Maafkan aku, Agatha. Aku tidak bisa menolongmu sekarang. Tapi aku janji akan segera menolongmu secepatnya. Tunggu aku. Aku akan mengumpulkan pasukan baru kita" lirih pria itu.
"AGATHAAAAA TUNGGU AKUUUU!!! AKU AKAN MENYELAMATKAN MU!" lalu ia berteriak dan langsung membuat wanita itu sadar jika apa yang diteriakan oleh sang kekasih adalah pesan untuknya.
"Callum, aku akan menunggu mu menyelamatkan ku" batin wanita yang dipanggil Agatha itu.
Leo pun mencari sumber teriakan itu dan menginstruksikan beberapa prajurit untuk mencari pria yang berteriak.
"JANGAN BIARKAN PRIA ITU SELAMAT!" perintah Leo.
Wanita itu tertawa kecil membuat Leo kembali fokus kepadanya.
"Dia kekasih mu?" tanya Leo.
"Hmm..tidak penting untukmu" jawab si wanita
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Leo lagi penasaran.
"Karena kamu tidak akan bisa menangkapnya" jawab wanita itu meremehkan.
Leo hanya memberi senyuman smirk.
"Oh begitu ya? Baiklah. Jika aku tidak bisa menangkapnya, setidaknya aku bisa menangkap kekasihnya" ujarnya lalu memerintahkan prajurit yang memegang si wanita untuk dibawa kedalam pondok mengikutinya.
Ternyata Leo membawa wanita itu didalam kamar orang tua si wanita.
"Lepaskan dia lalu pakaikan borgol dan tinggalkan kita berdua disini. Jangan ada yang masuk keruangan ini sebelum aku perintahkan. Berjagalah didepan pondok" perintah Leo kepada kedua prajuritnya.
"SIAP KOMANDAN!" seru para anak buah si Leo.
Setelah memasang borgol di kedua tangan sang sandera, para prajurit keluar kamar dan menutup pintu.
Cahaya dari luar pondok menebus sela sela ventilasi kamar hingga jenazah kedua orang tua wanita itu terlihat jelas di mata sang putri meskin remang remang.
Air matanya seketika menetes.
Leo memperhatikan wanita ini.
"Namamu Agatha kan? Kekasihmu meneriakkan namamu tadi?" celetuknya memecah keheningan.
Wanita itu memilih tak menjawab.
"Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena aku memberikan kesempatannu untuk berpamitan kepada mereka. Tidak sepertiku. Selain orang tuaku, orang tuamu sudah merusak keamanan dan kenyamanan warga inggris di London beberapa tahun ini dengan serangan kecil yang rutin" lanjut Leo.
"Meskipun kalian berhasil mendapatkan kehidupan di hutan Nottinghamshire tapi ancaman serangan tidak berhenti" lanjutnya.
"Cih! Orang Inggris seperti kalian yang merusak kehidupan kami" sahut wanita itu.
"Hahahhaa boleh juga. Kamu sungguh berani menjawabku, Agatha" ujar Leo.
"Aku akan melawanmu sampai nafas terakhirku. Ingat itu. Jadi bunuh aku sekarang agar hidup dan misi balas dendammu selesai" pancing wanita yang bermama Agatha itu. Wanita berambut coklat kemerahan ciri khas orang Skotlandia dengan mata cerahnya. Berbeda dengan Leo yang beriris mata biru, iris mata Agatha terlihat lebih cerah keabu abuan.
"Hahahhahahahhaa..tidak semudah itu. Orang tuamu sudah mati semudah ini, maka dari itu kamu yang menanggung dosa mereka" balas Leo.
"Hal pertama yang akan aku lakukan adalah menikmatimu didepan jenazah mereka" lanjutnya dengan senyuman smirk.
Leo mendekat dan Agatha yang kedua tangannya diborgol hanya bisa melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding.
"JANGAN SENTUH AKU!! BUNUH AKU!!" teriak wanita yang tak berdaya ini.
Tendangan diberikan namun karena tenaganya yang sudah lemah, hanya seperti gerakan anak kecil didepan Leo.
Sang komandan hanya tersenyum kecil.
"Jangan banyak tingkah. Kamu sudah menjadi milikku untuk rasa sakit kehilangan orang tua ku karena pemberontak seperti kalian" ujar Leo dengan tatapan tajam. Warna iris mata birunya membuat Agatha tak berkutik.
Grep!
Leo menahan pinggang Agatha untuk bersandar di dinding.
Agatha berusaha meronta ronta namun kedua tangan Leo ditubuhnya lebih kuat.
Tiba tiba bibir sang komandan sudah menempel di bibir mangsanya.
*latar belakang cerita ini berada di Inggris, Kerajaan Inggris di tahun 1630-an saat dipimpin oleh Raja Charles I. Hanya mengambil latar waktu dan tempat saja, semua isi cerita fiktif dan sebagai hiburan semata
"Aaaakh!! LEPASKAN AKU BAJINGAN!!" teriak Agatha saat berusaha melepaskan diri dari kungkungan Leo di dinding.
"Jangan harap" lirih Leo dengan senyuman smirk lalu membungkam lagi bibir wanita itu dengan bibirnya.
Gret!
"Awwk! Berani sekali kamu mengigit bibirku" gumam Leo sambil menyentuh bibirnya yang berdarah.
Bukannya marah, namun pria ini malah tertawa.
"Hahahahahahhaa...sepertinya wanita pemberontak sepertimu suka dengan yang kasar kasar" ucapnya, kembali mendekat lalu kedua tangannya mencengkram rahang Agatha kuat hingga wanita itu kesakitan.
Gret!
Leo membalas menggigit bibir Agatha hingga berdarah sepertinya.
"BRENGSEK!!!" teriak wanita itu.
"Hahahaa memang aku brengsek dan aku pastikan akan semakin brengsek jika bersamamu" sahut Leo.
Bruk!
Leo mendorong tubuh Agatha jatuh ke lantai lalu ia melepas sabuk celananya, membuka resletingnya.
Wanita didepannya memundurkan diri hingga bersandar di dinding.
"JANGAN MENDEKAT AKU BILANG!!" teriak Agatha.
"Tenagamu sungguh luar biasa ya..dari tadi berteriak tiada habisnya" sindir Leo yang sudah terlihat menurunkan celana seragam militernya hingga lutut dan menampakan kain pembungkus senjata pribadi miliknya.
Leo semakin mendekat. Agatha semakin mendelik ngeri saat pria didepannya mulai menurunkan kain yang tadi tersisa saat celana seragam turun.
Lalu wanita itu memilih memalingkan wajah kesamping saat senjata pribadi milik Leo sudah terlihat jelas didepannya.
"Kenapa diam hah? Berteriak lah lagi" suruh Leo yang masih berdiri didepan Agatha dengan bagian tubuh bawahnya sudah terpampang jelas didepan mangsa.
"SIALAN!! BRENGSEK! BAJINGAN!!" teriak Agatha.
Leo tersenyum smirk lalu jongkok didepannya.
"Ya, terima kasih atas pujiannya" ucapnya lalu tanpa aba aba, tangannya yang kuat menolehkan wajah Agatha lagi dengan mencengkram wajah cantik wanita itu.
Lalu yaaa begitulah, mulut Agatha dibungkam oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa berteriak.
Leo benar benar membungkam mulut wanita itu sekaligus merasakan sensasi baru yang belum pernah ia coba.
Selama hidup dewasa diusia 20 tahun, Leo fokus membangun karir di militer Inggris hingga mengejar pemberontak dan tidak peduli dengan wanita manapun termasuk tunangannya sejak setahun lalu.
Apalagi saat orang tuanya dibunuh, semakin dingin dan mati rasa kehidupannya.
Tapi saat bertemu Agatha, anak pemberontak yang membunuh orang tuanya, kebengisan dan kemurkaannya seketika memuncak. Seakan akan menemukan mangsa yang pas untuk ia nikmati sampai puas.
Hingga beberapa saat Leo mengerang puas dan menarik kembali senjata pribadinya.
"Uhuk uhuuuk...hoeeeeek" Agatha langsung batuk dan muntah setelah mulutnya terbuka.
"Ayo berteriak lah lagi dan aku akan terpuaskan olehmu lagi" pancing Leo.
Agatha yang sudah sangat marah tapi tidak bisa ia luapkan, matanya berkaca kaca dan memerah, menatap tajam kearah pria didepannya.
"Mungkin saat ini aku hanya bisa diam dan tidak memprovokasi pria bajingan ini lagi" batin wanita itu.
"Aku harus bisa menaklukkannya untuk membalaskan dendam" lanjutnya dalam hati.
Beberapa saat tak ada tanggapan dari Agatha, membuat Leo semakin terpancing untuk menyiksa wanita itu.
Langsung saja ia menyingkap dress Agatha dan mulai mengarahkan senjata pribadinya di tempat yang semestinya. Kedua tangan Agatha yang diborgol diangkat keatas oleh Leo.
"Baiklah kalau kamu memilih diam. Memang diam lebih baik daripada kamu berteriak tidak guna" ujar Leo
"Biar aku rasakan milikmu apakah sering dipakai kekasihmu" lanjutnya sebelum melancarkan aksi sepenuhnya.
"Maafkan aku Callum, aku tidak bisa menjaga diriku sepenuhnya untukmu" batin Agatha dengan tangisan yang tak terlihat.
Ia buat dirinya mati rasa dengan semua perlakukan dari musuh.
Tapi saat miliknya dibobol oleh Leo, ternyata tubuhnya tidak bisa mati rasa.
Ia mengingit bibirnya agar tidak bersuara apalagi berteriak, meremas kedua tanggannya kuat.
"Apakah wanita ini masih gadis?" batin Leo dalam diam saat merasakan beberapa detik sebelumnya ia merasakan seperti merobek sesuatu dibawah sana.
"Ka..kamu.." lirihnya sambil menatap Agatha yang memalingkan wajahnya ke samping sambil menggigit bibir hingga berceceran darah.
Beberapa detik saat sadar bahwa wanita yang dibawahnya ini benar benar masih perawan, Leo langsung menarik kembali senjata pribadi miliknya, membenarkan celananya hingga memakai kembali sabuk.
Leo menatap Agatha yang meringkuk dilantai san enggan menatapnya.
Terngiang ngiang perkataan sang ibu sebelum meninggal saat mereka sedang bersantai di rumah.
"Kamu harus menghargai dan menghormati wanita, Leo. Ibu tidak ingin kamu menjadi bajingan yang menyia nyiakan wanita, meskipun kepada pemberontak sekalipun. Lebih baik kamu membunuhnya daripada menghina atau merendahkan seorang wanita jika dia musuhmu" pesan sang ibu (Abigail Elliot-Davarza) 3 tahun lalu, ketika Leonardo Davarza berumur 24 tahun saat setelah dilantik menjadi komandan pasukan militer muda.
"Apa aku harus membunuhnya?" batin Leo mendadak melow dan berperasaan.
Tapi seperkian detik, ucapan ayahnya gantian terngiang ngiang di otak serta hatinya.
"Kamu adalah calon jenderal, komandan senior militer Inggris. Kamu akan menggantikan ayah memimpin pasukan kerajaan. Jangan mudah iba atau melemahkan diri sendiri dengan perasaan kasian. Jika ada pemberontak yang melawanmu, beri mereka pelajaran hingga menyesali perbuatannya. Jangan bunuh mereka dengan mudah" pesan ayah Leo (Lazuar Davarza) saat putranya semata wayang menyelesaikan prajurit militer diusia 20 tahun.
Leo langsung menghilangkan perasaan iba dihatinya. Ia tidak peduli jika harus mengabaikan pesan sang ibu karena memang tugas negara sekaligus misi balas dendam terselesaikan.
Ia pun mengabaikan pandangannya saat melihat bercak darah dibagian dress bawah Agatha yang ia yakini juga darah itu berada di senjata miliknya.
"Aku akan memberikan waktu 5 menit berpamitan kepada orang tuamu" ucap Leo lalu keluar kamar dan membiarkan pintu terbuka.
Agatha berusaha untuk berdiri dan mendekat kearah orang tuanya.
"Aku akan bertahan untuk membalaskan dendam kalian. Ayah Ibu tenanglah di keabadian. Tunggu aku untuk merayakan kemenangan kita" batinnya dengan meneteskan air mata yang tadi sempat tertahan untuk menyembunyikan kelemahan didepan musuh.
Saat prajurit yang berjaga di depan pondok mengetahui komandannya sudah keluar kamar, ia pun berlari menghampiri untuk memberikan laporan.
"Lapor komandan! Misi sudah hampir selesai. Hampir semua pondok sudah terbakar dan hanya tinggal pondok ini yang belum di bumihanguskan. Semua pria sudah dieksekusi lalu wanita dan anak anak sudah kami berikan obat bius" ucap prajurit tersebut.
"Bagus. Pastikan lagi di bawah tanah atau didalam lemari dan tempat tempat yang bisa dijadikan persembunyian para pemberontak" perintah Leo.
Klotak!
Terdengar suara di kamar sebelah. Leo, prajurit, dan Agatha langsung fokus kesuara itu.
"CARI SUARA APA ITU!" suruh Leo kepada sang prajurit.
Agatha langsung panik, ia berdiri dengan sisa tenaganya dan menghampiri Leo didepan kamar.
"Jangan! Jangan cari apapun di kamar itu!!" serunya makin membuat Leo curiga.
Brak!!!
Terdengar suara keras barang jatuh di kamar lainnya.
"KAKAK!!! TOLONG AKUUU!!!" teriak seorang anak perempuan yang ditemukan oleh prajurit.
Agatha hendak berlari menuju kamar sebelah namun tubuhnya ditahan oleh Leo.
"BAWA DIA KESINI, BETRAND!" teriak sang komandan kepada prajuritnya.
Prajurit yang bernama Betrand itu keluar kamar sambil menyeret anak perempuan yang kira kira berusia 10 tahunan.
"KAKAK!!" teriak anak itu.
"Komandan, ternyata memang ada anak yang bersembunyi di pondok ini" jelas Betrand.
"Suruh semua prajurit memastikan lagi tidak ada seorang pun yang lolos dari setiap pondok yang terbakar! Pastikan tidak ada pemberontak yang tersisa di wilayah ini" perintah Leo.
"Siap Komandan!" seru Betrand mengikuti arahan pimpinannya lalu keluar pondok dan menginfokan hal yang sama kepada prajurit lainnya, sedangkan prajurit yg masih berjaga didepan pondok tetap memastikan pandangannya terfokus kearah sang komandan di dalam pondok.
Leo melepaskan cekalannya di tubuh Agatha dan membiarkan wanita itu memeluk anak perempuan yang baru ditemukan.
"Lepaskan dia, aku mohon" permintaan Agatha tiba tiba sambil menangis pilu bersama sang adik.
"Dia adikmu?" tanya Leo memastikan.
"Ya dia adikku. Dia tidak mengerti apa apa tentang semua ini. Tolong lepaskan dia" jawab Agatha.
Leo malah tersenyum menyeringai.
Agatha sudah sangat ketakutan jika adiknya akan dibunuh oleh Leo karena hanya tinggal sang adik keluarga yang bisa ia lindungi.
Namanya juga Komandan pasukan senior militer Inggris yang berhati dingin dan penuh taktik, Leo tidak semudah itu kasihan dengan musuhnya apalagi tidak menguntungkannya.
Entah kenapa Leo ingin sekali memanfaatkan Agatha untuk pelampiasan balas dendam. Wanita ini seakan akan mengikat dirinya.
"Apa yang kudapatkan jika membiarkan anak musuh tetap hidup?" tanya Leo kepada Agatha.
"Aku akan melakukan apapun untukmu. Biarkan aku yang menanggung semua dosa dan kesalahan orang tuaku" jawab Agatha dengan raut wajah benar benar mengiba.
Sang adik hanya bisa menangis dipelukannya.
Lagi lagi Leo menampakkan senyuman tipis yang mengerikan.
"Kamu menyerahkan hidupmu demi menyelamatkan adikmu?" pancingnya kemudian.
"Benar. Aku akan menyerahkan diriku padamu agar adikku selamat dan tidak mendapatkan penyiksaan" sahut Agatha.
"Kakak...kakak jangan tinggalkan aku" mohon sang adik.
"Kamu harus selamat terlebih dahulu" lirih Agatha kepad adiknya.
"Siapa nama adikmu?" tanya Leo.
"Apakah perlu aku menjawabnya. Aku hanya minta kamu selamatkan dia dan jauhkan dari masalah ini" jawab Agatha kembali berani.
"Aku tidak akan menyelamatkannya jika tidak tau namanya" sahut Leo.
"Bianca" pada akhirnya Agatha menjawab.
"Bianca...Agatha dan Bianca, kedua putri seorang pemberontak Skotlandia" sarkasme Leo.
Betrand pun kembali dan memberikan laporan lanjutan.
"Semua pondok yang terbakar sudah kami pastikan tidak ada orang yang tersisa didalamnya, komandan. Jika ada pun mereka akan mati terbakar" lapor sang prajurit.
"Baiklah. Misi selesai. Tinggalah bersama 10 prajurit disini sampai api padam dan pastikan lagi tidak ada yanb tersisa" perintah Leo.
"Siap Komandan!" seru Bertrand lalu pergi lagi keluar pondok.
"Stevanus, BBM bawa anak perempuan ini keluar dan jadikan satu dengan tawanan yang lain" perintah Leo kepada prajurit didepan pondok.
"Siap Komandan!" sahut prajurit yang terpanggil.
"KAKAK!!! JANGAN TINGGALKAN AKUU!!!" teriak Bianca.
Agatha hanya bisa merelakan adiknya dibawa oleh prajurit agar bisa berkumpul dengan sandera yang lain. Setidaknya, adiknya tidak sendiri.
"Bertahanlah..kamu adalah anak perempuan hebat, Bianca" hanya kata kata semangat ini yang ia berikan kepada sang adik.
"KAKAK!!!!" teriak bocah itu hingga keluar pondok meninggalkan Leo dan Agatha kembali berdua.
"Kamu sendiri yang menyerahkan jiwa ragamu kepadaku. Jika kamu mengkhianati atau menipuku, adikmu akan jadi jaminan" ucap Leo.
Agatha pun memberikan tatapan menurut kearah pria didepannya.
Eksekusi pemberontakan Skotlandia di Nottinghamshire, selesai.
Para prajurit yang ditugaskan menyelesaikan misi tetap tinggal dan sisa nya membawa wanita serta anak anak dari pemberontak ke London.
Termasuk Agatha yang dibawa Leo secara terpisah dengan yang lain.
Keduanya duduk berdampingan.
Tidak ada suara manusia dan hanya ada suara ban mobil serta kendaraan di jalan.
Hingga sampailah, di sebuah rumah minimalis berlantai 1 dengan halaman luas yang jarak pagar tinggi kerumahnya cukup jauh.
"Kamu akan tinggal disini, melayaniku dan tidak ada penolakan. Jangan banyak tingkah atau niat untuk melarikan diri" peringatan Leo.
"Baiklah" sahut Agatha.
Leo pun turun dari mobil. Agatha yang tangannya masih diborgol dibukakan pintu oleh driver setia Leo yaitu Zane yang juga seorang militer.
"Buka borgolnya, Zane" perintah Leo.
"Siap, Sir!" sahut Zane lalu menjalankan perintah.
Memang Leo memiliki beberapa panggilan dari anak buahnya. Yang memanggilnya komandan berarti ciri khas bahwa orang itu berasal dari asli militer sejak awal, sedangkan yang memanggilnya Sir sudah mengenal Leo sejak sebelum masuk militer karena terhubung dari kerabat atau kenalan keluarga ataupun teman masa sekolah.
Zane adalah salah satu kenalan Leo dari masa sekolah dan juniornya.
Setelah borgol dilepaskan, terlihat garis merah di pergelangan tangan Agatha.
"Ikuti aku" perintah Leo kepada wanita itu.
Agatha menurut tanpa membantah.
Ia mengikuti langkah panjang dan cepat seorang Leonardo Davarza.
Leo berjalan disamping rumah, tidak masuk rumahnya menuju bagian rumah yang ternyata masih halaman luas dan lapang.
Di bagian paling belakang terlihat halaman luas yang cukup gelap.
Semakin berjalan menjauh dari rumah utama dan berjalan cukup lama, mulai terlihat sebuah pondok kecil dari kayu. Leo berjalan kearah sana.
Agatha lagi lagi diam dan hanya bisa memandang sekitar sambil mengamati situasi tempat yang akan ia tinggali. Meskipun kakinya berjalan tanpa alas, ia tidak berhenti dan mengikuti Leo.
Sesampainya didepan pondok kayu itu, Leo membuka pintunya.
Saat pintu terbuka, debu debu didalam pondok berhembus keluar.
"Ini adalah tempat tinggalmu. Sekali lagi aku peringatkan jangan macam macam disini. Kalau pun kau memilih membunuh dirimu sendiri, adikmu juga akan menyusul mu, jadi jaga nyawamu" peringatan Leo.
"Ya, aku mengerti. Aku hanya ingin adikku selamat. Jika ternyata kamu yang mengkhianati ku atau menipu, ku tidak segan segan mengorbankan nyawaku untuk membunuhmu" peringatan balik Agatha.
Leo tersenyum menyeringai.
"Aku adalah seorang komandan militer Inggris yang bermartabat, tidak akan mengingkari apa yang telah disepakati" ujarnya.
"Bermartabat brengsek iya" batin Agatha mengumpat.
"Dan kamu pun jangan lupa kamu sudah memberikan jiwa dan ragamu kepadaku, jadi setiap saat aku ingin kamu layani, kamu harus siap" lanjut Leo dan wanita tawanannya menganggukan kepala mengiyakan.
"Jangan pernah masuk kerumah utama tanpa seizinku atau keluar dari pondok ini. Setiap hari ada mata mataku yang selalu berjaga" jelas Leo.
"Banyak omong juga pria ini" ejek Agatha lagi lagi dalam hati.
Seperti bisa membaca pikiran dan hati Agatha, Leo mengeluarkan suaranya lagi.
"Aku tau jika aku banyak omong, tapi lebih baik aku seperti ini daripada saat aku diam seribu bahasa, mungkin yang ada hanya ada teriakanmu".
Agatha terdiam.
"Bersihkan pondok ini sendiri atau jika ingin langsung tidur silahkan saja tidur dengan debu. Kamar mandi ada didalam, semoga airnya menyala" ujar Leo lagi lalu tanpa menunggu sahutan wanita itu, ia pergi dari pondok berjalan kearah rumahnya.
Melihat punggung Leo yang tidak terdampak sama sekali setelah ia menembak 3 peluru disana, Agatha benar benar tak percaya.
"Bagaimana ada manusia yang bisa kebal dengan tembakan peluru? Apa pria bajingan ini bukan manusia?" lirihnya.
Tak ingin memikirkan hal tidak penting itu, Agatha memilih untuk memikirkan cara bertahan agar dirinya bisa melalui ini dengan rencana pembalasan yang sepadan.
Namun setelah beberapa saat ia berdiri didepan pondok hingga Leo tidak ada di pandangannya lagi, air mata terkujur deras.
Ia masuk ke pondok yang penuh debu itu dan gelap lalu menangis disana.
"Maafkan aku, ayah ibu. Aku belum bisa menjaga Bianca" lirihnya.
"Maafkan aku, Callum. Aku sudah menjadi wanita hina" lanjutnya.
Bayangan kedua orang tuanya yang tidak bernyawa membuatnya semakin sakit di hati. Teriakan Bianca yang meminta tolong juga semakin menyayat hatinya. Ditambah teriakan Callum yang akan menyelamatkannya juga membuat hatinya teriris.
"Lebih baik, Callum tidak menemukan atau menyelamatkan ku karena aku tidak pantas ia selamatkan lagi" gumamnya.
Setelah puas menangisi kehidupannya, Agatha pun tanpa sadar tertidur kelelahan di lantai penuh debu itu. Meringkuk dan menahan sakit di seluruh tubuh maupun hati serta pikirannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!