"Adel....."
"Siap dokter."
"Pasien di kelas satu ruang Rinjani tolong di ganti perban luka operasinya."
"Siap dokter."
"Pasien atas nama Karel Imanuel Barnabas."
Sudah enam bulan Adel melakukan praktek lapangan di rumah sakit polri. Dan ini adalah hari terakhir dia di rumah sakit ini.
Adel Emanuella Sanjaya tahu, bahwa pasien yang akan dia ganti perban lukanya adalah pasien dokter Wibowo yang adalah dokter bedah terkenal dan merupakan dokter senior yang Adel idolakan.
Dengan perlengkapan lengkap, Adel datang keruang Rinjani untuk menganti perban luka operasi. Di ruangan itu ternyata sangat ramai. Namun Adel memberanikan diri untuk masuk ruangan ini.
"Permisi......."
"Silahkan suster."
Orang di ruangan ini mengira Adel adalah seorang suster. Mereka tidak tahu bahwa adel adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang sedang melakukan praktek dirumah sakit ini.
"Permisi pak Karel aku mau mengantikan perban luka operasi."
Karel memperhatikan Adel dari atas sampai ke bawa. Sangat intens. Sehingga membuat Adel merasa malu.
"Kamu suster di rumah sakit ini."
"Tidak pak, saya mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang sedang praktek disini."
"Oooo mahasiswa, saya kira kamu suster atau dokter."
"Selamat sore iptu Karel. Mohon maaf, saya tugaskan calon dokter terbaik kami untuk menganti perban luka operasinya."
"Rekomendasi dokter Wibowo sangat bagus. Saya percaya sama pilihan dokter."
"Terima kasih. Adel kamu boleh menganti perban ini."
"Siap dokter."
Akhirnya Adel tahu, bahwa yang mau di ganti perban luka operasi adalah seorang iptu bernama Karel. Maka dengan hati - hati Adel menganti perban itu.
"Siapa nama kamu??"
"Adel pak."
"Kok pak sih, masih muda begini. Panggil aku mas." Adel melihat ke arah Karel. "Kamu tidak keberatan kan??"
"Ah... Tidak mas."
"Kamu kuliah di universitas mana??"
"Indonesia mas."
"Anak Jakarta??"
"Tidak. Aku dari Indonesia Timur."
"Ambon??? Papua???NTT???"
"Ambon besar di Bali."
Selesai menganti luka itu Adel langsung meninggalkan ruangan tempat Karel di rawat.
Karel Imanuel Barnabas, terkenal di antar lettingnya playboy. Karena perawakannya yang ganteng. Nyong Ambon besar Jakarta ini sangat di idolakan oleh kaum hawa diantara lettingnya.
"Bro, Ambon bro satu suku. Cantik juga mahasiswa kedokteran."
Karel hanya senyum - senyum saja. Dia akui sih bahwa Adel cantik dan manis. Namun sayangnya dia tidak bisa kenal banyak siapa itu Adel. Ternyata sore ini Iptu Karel Imanuel Barnabas sudah di ijinkan pulang oleh dokter Wibowo. Ini kesempatannya untuk mencari informasi tentang Adel.
"Kemu kenal dengan Adel mahasiswa kedokteran yang sedang praktek di rumah sakit ini??"
Karel sedang berada di resepsionis rumah sakit di loket depan. Pegawai di rumah sakit Polri ini kenal siapa itu Iptu Karel Imanuel Barnabas. Di lingkungan kepolisian semua orang tahu tentang dia.
"Maksud Komandan Adel Emanuella Sanjaya??"
"Adel Emanuella Sanjaya namanya. Keren juga namanya."
"Ini hari terakhir dia bersama teman - temannya praktek komandan."
"Terakhir???"
"Iya, dan tadi pihak kampus sudah datang menarik mahasiswanya."
"Nomor kontaknya ada??"
Sebenarnya itu privasi Adel tidak bisa di bagikan. Namun yang meminta komandan intel ini maka mereka pun memberikan kepada Iptu Karel.
"Bagaimana??"
"Hari terakhir di rumah sakit ini bro??"
Reza yang adalah sahabat Karel tertawa, karena dia baru melihat wajah kecewa Karel sahabat lettingnya ini.
"Masa intel hanya segitu informasinya."
"Bangke loe."
"Mereka juga menjaga rahasia dia lah."
Bukan Karel namanya jika dia tidak mengetahui dimana Adel tinggal. Sebagai intel, alat lacak semua dia gunakan.
Sementara itu Adel yang baru selesai mandi, sedang merampungkan laporan dan skripsinya yang besok pagi akan dia bawa ke kampus.
Sebagai mahasiswa berprestasi, Adel tidak bermain dengan usaha orangtuanya yang menginginkan dia menjadi dokter. Makanya selesai kuliah dia akan langsung mendaftar untuk koas satu setengah sampai dua tahun. Agar mama dan papanya bangga kepada dirinya.
Adel mendapat telepon dari nomor yang tidak dia kenal. Dia tidak mengangkatnya. Karena itu kebiasaan Adel. Namun tiba - tiba ada pesan masuk yang mengancam Adel.
"Selamat malam, saya Karel pasien yang tadi siang kamu ganti perbannya. Saya minta tanggung jawab kamu, karena saya lihat luka saya kembali berdarah."
Setelah membaca pesan itu Adel kaget. Dia tidak menyangka bahwa ada pasien yang menghubunginya.
"Selamat malam seharusnya bapak sebelum keluar rumah sakit sampaikan kepada perawat di rumah sakit."
"Bapak??? Emang kamu anak saya."
"Eh sori .....mas."
Karel tersenyum membaca pesan balasan dari Adel. Dia yakin bahwa Adel sudah mulai terjebak dalam permainannya.
"Kamu harus bertanggung jawab."
"Bagaimana bisa mas."
"Ya bisa saja, besok waktu kamu kosong jam berapa."
"Saya besok ada konsultasi skripsi di kampus jam sepuluh."
"Saya jemput kamu jam dua belas di kampus."
Malam ini, Adel tidak bisa tidur. Karena ini kali pertama dalam hidupnya dia mengalami masalah. Sedari kecil dia selalu berusaha untuk tidak membuat masalah dengan orang lain. Karena sifatnya yang introvert.
Sehingga pagi ini, dia kekampus dengan muka pucat karena kurang tidur dan ketakutan menjadi satu. Sebelum ke kampus dia memberi obat - obatan untuk luka operasi dan perlengkapan lainnya.
"Selamat pagi, mba Dian cantik."
"Selamat pagi Adel manis. Kamu kenapa sayang, kok mukanya pucat."
"Ngak bisa tidur mba Dian." Adel yang terbiasa manja dengan Dian. Langsung dipeluk oleh Dian.
"Apa yang kamu takutkan. Semua dosen di fakultas ini sayang sama kamu."
"Adel ngak takut lagi."
Adel bisa berkata begitu, karena dia baru saja mendapat informasi berupa pesan dari Karel, bahwa dia tidak bisa mampir ke kampus Adel untuk meminta pertanggung jawaban karena ada tugas negara. Namun masih saja ada pesan mengancam dari Karel "Bukan berarti kamu lolos dari tanggung jawabmu Adel Emanuella Sanjaya." Ternyata polisi itu tahu nama lengkapnya. Namun Adel kembali cuek, setidaknya hari ini dia tidak mengalami kesulitan.
Prinsip hidupnya tentang hidup, bahwa kesulitan hari ini, cukup untuk hari ini itu yang menjadi kekuatannya untuk bisa melalui hari - hari hidup.
Seminggu berlalu tidak ada kabar dari iptu Karel, kemudian sebulan pun berlalu. Adel merasa senang, dan dia terus berdoa semoga tidak ada pesan dari beliau.
Adel mulai disibukan dengan ujian skripsinya. Dan tepat dua bulan setelah selesai praktek lapangan, Adel melakukan ujian skripsi. Dia angkatannya dia adalah mahasiswa pertama yang ujian skripsi. Semua persiapan sudah dilakukan. Pagi - pagi dia bangun siap dengan jas berwarna hitam dan tas kuliah berisi laptop, ipad dan handponenya. Skripsinya sudah berada di tangannya.
Pukul delapan pagi, Adel Emanuella Sanjaya sudah berada di ruang ujian nomor satu. Hati ini dia akan mempertanggung jawabkan semua kuliahnya selama tiga tahun setengah lewat skripsinya. Dua dosen pembimbing dan tiga dosen penguji, bersama dengan petinggi kampus hadir dalam ujian hari ini, saat ini. Hanya untuk melihat mahasiswa terbaik mereka menyelesaikan studinya.
Adel Emanuella Sanjaya dinyatakan lulus dengan nilai terbaik. Satu jam Adel berada di ruang ujian itu. Penuh dengan ketakutan karena dia di uji bukan hanya oleh dosen penguji, namun petingi kampus juga ikut mengujinya.
Mba Dian orang pertama yang menyambut dia. Karena Dian sudah menganggap Adel sebagai adiknya. Kelegaan dirasakan oleh Adel waktu bisa keluar dari ruangan ujian. Rekan satu tingkat dia sudah menanti dengan selempang bertuliskan nama lengkapnya dengan gelas yang baru saja dia peroleh Adel Emanuella Sanjaya, S. Ked. Juga hadiah kecil berupa coklat dan bunga.
Sukacita Adel bersama teman - temannya dibagikan lewat media sosialnya. Reza yang sedang bertugas di Bali bersama Karel tidak sengaja melihat postingan itu lewat berandanya.
"Bro, gebetan kamu si Adel sudah selesai ujian. Sarjana kedokteran bro."
Karel menatap postingan itu dengan senyuman terus dia menyentuh lukanya yang sudah sembuh itu. Iptu Karel Imanuel Barnabas sedang bertugas di pulau Bali mengejar bandar narkoba di pulau ini. Dan semalam mereka sudah menggerebek markas mereka, namun pelaku utama melarikan diri. Malam ini rencana mereka akan kembali ke Jakarta bersama dengan pelaku yang di tangkap dengan pesawat khusus. Karena informasi yang mereka dapat bandar utamanya ada di Jakarta.
Karena mau wisuda, oleh mamanya Adel di minta untuk mencari kain untuk di buat kebaya baginya dan mamanya. Maka yang menjadi tempat yang akan dia kunjungi di pagi ini adalah pasar tanah abang. Disana banyak sekali penjual kain, baik lokal maupun import.
Adel akan keluar menggunakan baju casualnya. Dia akan menggunakan transportasi umum agar sampai di tempat tujuan. Agar dia tidak berdesakan di transportasi umum itu, dia memilih pagi sekali agar tidak berdesakan dengan orang kantor.
Sedang asiknya memilih kain. Ternyata didalan toko itu ada segerombolan orang menggunakan senjata lengkap masuk kedalam toko itu yang bersebelahan dengan toko mas. Semua pengunjung yang berada di kedua toko itu disandera. Adel ada bersama beberapa orang yang di sandera. Dan sialnya Adel Emanuella Sanjaya yang terpilih memakai rompi yang ternyata adalah bom. Pasukan khusus polri sudah tiba di tempat kejadian.
"Bro, kamu lihat perempuan yang menggunakan baju kaos berwarna putih yang sedang berjongkok."
"Bro itu Adel."
Setelah sebulan lamanya tidak bertemu akhirnya Karel dan Adel dipertemukan dengan cara seperti ini. Aksi tembak menembak pun terjadi. Adel tidak bisa bergerak, karena jika tangannya berpindah dari rompi itu maka alat pemicu bom bejalan, dan sewaktu - waktu bisa meledak. Adel tahu itu. Karena hobinya menonton filem action. Karel sudah berada disamping Adel. Tatapan mata Karel, memberi ketenangan buat Adel, karena dia yakin bahwa dia mau diselamatkan. Orang - orang yang mau merampok toko itu sudah tertangkap. Tetapi melewati aksi tembak menembak. Dan sekarang Adel sedang berada dalam genggaman tangan Karel. Mereka sedang berusaha menjinakan bom. Tatapan karel tidak berpindah dari tatapan Adel. Sambil tim penjinak bom melakukan tugasnya.
"Tidak bisa disini komandan. Ini tempat padat orang kita harus membawanya ke kesatuan."
"Dia ketakutan Reza."
"Tugas kamu menenangkannya."
"Hai lihat aku. Kita akan keluar dari tempat ini. Untuk menjinakan bomnya. Kamu paham kan."
Adel hanya bisa menganggukan kepalanya. sambil terus menangis. Dia tahu bahwa ada banyak orang disini. Karel yang melihat Adel merasa kasihan.
"Jangan kamu takut. Kamu tidak sendiri ada aku bersama kamu."
Adel dibawa keluar dari pasar itu, namun tetap dalam pantauan Karel. Sementara tim penjinak bom, Reza dan kawan - kawan sedang berusaha untuk mempelajari bom apa yang di pasang di badan seorang calon dokter. Reza membicarakan semua rencana atau strategi mereka kepada Karel. Dan dia mengerti bahwa dia yang bergerak lebih cepat seratus kali dari pada Adel.
Saat ini mereka sudah berada di lapangan kompleks polri. Ditengah lapangan sedang berdiri Adel dan Karel. Adel tidak mengetahui bahwa yang bersama dia adalah Iptu Karel. Karena wajah Karel di tutupi. Langkah - langkah apa yang akan dilakukan oleh tim sudah disampaikan oleh Reza.
"Jadi, bapak ini yang mengantikan posisi saya."
"Iya nona."
"Berarti nanti dia mati dong. Kasihan keluarganya. Pak polisi tidak ada yang cara lain??"
"Hanya ini cara satu - satunya. Rompi di tubuh ada sudah terbuka. Ingat hitungan ketiga kamu menunduk dan berlari. Mengerti!!!"
"Iya menunduk dan berlari. Baru bagaimana dengan bapak polisi ini."
"Dia yang mengantikan posisi kamu." Kembali Adel menangis.
"Hai, jangan menangis. Kami sudah terlatih. Aku akan lebih kuat dari kamu. Mohon kerjasamanya. Apa yang harus nona lakukan?"
"Menunduk dan berlari."
"Oke konsentrasi. Saya akan mengantikan posisi tangan kamu. Jika tangan saya tepat maka bom ini tidak aktif. Tetapi jika meleset seper sekian detik, bomnya aktif. Ingat menunduk dan lari."
"Oke tim siap??"
"Kamu harus percaya kamu pasti selamat. Kita mulai. Satu .... Dua.... Tiga."
Perpindahan tangan terjadi, namun itu meleset. Maka bom aktif. Karel dengan cepat membuang rompi bom itu kedalam wadah baja yang sudah dia siapkan. Langsung dengan cepat menyusul Adel menarik tangannya bersama Reza dan bom itu meledak. Adel berada dibawa tubuh Karel. Percikan serpihan bom itu luas karena bunyi dan getaran yang sangat besar. Adel pingsan dan dibawa oleh tim medis ke rumah sakit polri bersama Karel dan Reza juga dua rekan lainnya. Mereka bisa bernafas namun ada luka akibat kena percikan ampas bos itu.
Dokter Wibowo yang menolong mereka semua. Hanya luka - luka ringan bagi anggota polisi. sedangkan Adel hanya mengalami syok, tidak ada luka karena tubuhnya di lindungi oleh Karel.
"Hallo, Adel. Kamu sudah sadar??" adel masih mengumpulkan nyawanya.
"Dokter??"
"Iya Adel. Bagaimana keadaan polisi - polisi yang menolong saya??"
"Iptu Karel dan rekan - rekan hanya luka ringan."
"Iptu Karel???"
"Iya dia yang melindungi tubuh kamu dengan tubunya."
"Dokter, maksud iptu Karel yang perna dokter operasi??"
"Iya Adel."
Adel senang dia selamat. Artinya Tuhan masih mempercayainya agar bisa menjadi dokter. Namun disisi lain, dia takut Iptu Karel akan menuntut tanggung jawab double.
"Masih ingat saya??" Adel kaget karena orang yang baru saja dia cerita dalam hati sudah berada di ruangannya dengan luka ringan di tubuhnya. Mukanya kembali pucat.
"Kamu takut???"
"Sedikit."
"Kamu selamatkan. Tidak ada luka, aku yang banyak lukanya. Jadi....."
"Kamu bertanggung jawab atas luka saya." Adel melanjutkan perkataan Karel. Dan Iptu Karel hanya tersenyum.
"Kamu pintar."
"Kenapa masih sakit sudah jalan ke tempat saya."
"Saya takut kamu melarikan diri."
"Saya akan bertanggung jawab. Tetapi saya kan tidak salah. Saya kebetulan ada di tempat itu."
"Lalu saya yang salah?? Karena mengantikan posisi kamu."
"Bukan maksud saya begitu. Iya saya janji mas akan mengobati mas."
"Bagus."
Adel sudah diperbolehkan pulang. Namun sebelum pulang, Karel membawa dia ke kamarnya. Karena barang belanjaan Adel dan barang lainnya ada dikamar Adel.
"Kamu hanya bisa membawa barang yang penting yang lainnya saya tahan. Takut kamu tidak bertanggung jawab."
Sudah seminggu, Adel mengurus luka Iptu Karel. Padahal status mereka tidak ada hubungan apapun. Dan Adel tidak sedang praktek. Rencana dua bulan lagi baru dia akan mengikuti koas setelah wisuda sarjana kedokteran.
Karena urusan di kampus harus dia selesaikan untuk wisuda nanti. Sehingga sore hari baru Adel bisa ke rumah sakit menganti perban luka Iptu Karel. Adel merasa terbebani karena tubuh Karel ini yang membuat dia terhindar dari luka akibat bom.
"Maafkan saya, baru bisa datang sore."
"Ners biar calon istri saya menganti perban ini."
Dua ners yang berada di ruangan itu hanya tersenyum. Sedangkan Adel sudah merah wajahnya menahan malu dan marah.
"Jangan asal bicara ya pak polisi. Saya disini bukan sebagai istri kamu. Saya ada karena kamu memaksa saya."
"Ooo....jadi karena terpaksa."
"Saya tulus mau membantu hanya saya tidak suka pak polisi berbicara bahwa saya calon istri bapak."
"Bapak????"
"Maaf mas."
"Iya saya mohon maaf. Saya tidak mau mereka berpikir macam - macam tentang kamu, makanya saya berbicara seperti itu."
Adel yang tidak mau berdebat, takut nanti pulangnya kemalaman ke tempat kosnya memilih langsung menganti perban luka akibat bom itu. Karel menikmati setiap sentuhan lembut Adel.
"Kapan kamu wisuda??"
"Masih dua minggu lagi mas."
"Orangtua kamu datang??"
"Iya."
"Oooooo....."
"Kenapa oooooo....."
"Aku sedang berpikir, mau ajak calon mertua ku makan dimana???"
"Calon mertua??" Karel tersenyum.
"Jangan gede kepalanya. Bukan orangtuamu yang aku maksud."
"Syukurlah. Berarti mas punya pacar ya. Kenapa ngak minta pacarnya datang mengurus mas."
"Yang salah itu kamu, bukan dia. Kenapa harus dia datang mengurus kamu."
"Saya mohon pak polisi yang terhormat, hidup saya sedang baik - baik saja saat ini. Saya tidak mau tiba - tiba ada cewek yang bertemu saya dan langsung memukul saya."
"Kenapa bisa??"
"Karena pacarnya gatal. Saya pamit ya pak polisi." Adel Emanuella Sanjaya sudah keluar dari ruangan Iptu Karel Imanuel Barnabas di rawat. Karel tersenyum melihat Adel marah. Terus terang Karel sangat senang sekali, ketika Adel datang merawatnya.
Semenjak pembicaraan itu. Adel sudah tidak datang mengunjungi Karel lagi. Setelah tujuh tahun berlalu Adel dan Karel sudah tidak perna berkomunikasi. Karena Karel kembali di tugaskan dan disekolahkan ke laur negeri dan di tambah dengan sekolah kenaikan pangkatnya. Sekarang pangkat Karel Imanuel Barnabas adalah Ajun Komisaris Polisi(AKP) dengan lambang tiga balok emas. Dia masih bertugas sebagai intel polisi. Sementara Adel Emanuella Sanjaya sudah menjadi dokter bahkan sudah mendapat gelar dokter spesilis bedah saraf dan pembulu. Dan sekarang dia bertugas di rumah sakit polri. Dia bukan polwan, dia adalah dokter sipil yang di tempatkan di rumah sakit polisi.
Baru satu minggu dokter Adel bekerja sebagai pegawai sipil di rumah sakit ini. Selama ini dia bekerja di rumah sakit swasta yang ada di Bali. Lewat dokter Wibowo, dia mengikuti seleksi penerimaan dokter di badan kementrian pertahanan dan keamanan dan dia di tempatkan di rumah sakit polri. Adel resmi mendapat salah satu ruangan buat praktek kliniknya.
Hari ini ada pemeriksaan kesehatan lengkap bagi seluruh polisi yang ada di markas besar kepolisian ini. Semua polisi dari tamtama sampai perwira. Dan dokter Wibowo sebagai kepala rumah sakit dengan pangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) dengan lambang pangkat dua melati. Sudah mengerahkan seluruh tenaga medisnya mengambil bagian dalam pemeriksaan ini. Dokter Adel Emanuella Sanjaya bertugas memeriksa semua perwira polisi pertama. Nama - nama polisi perwira pertama sudah ada di mejanya. Dan Adel bersyukur ners Arman dan Dita yang bertugas di poli bedah saraf dan pembulu. Kedua ners ini sangat Adel kenal sejak dia praktek kerja lapangan. Jadi selama seminggu sudah dia bekerja resmi di rumah sakit inu, dia tidak merasa canggung.
"Dokter siap??"
"Siap???"
"Hari ini kita akan bertemu dengan tingkah nakal perwira - perwira bujang." Adel tersenyum. Adel merasa yakin bahwa sudah tujuh tahun, pasti perwira disini semua muka baru. Tanpa Adel membaca nama - nama perwira itu.
Dari pagi sampai siang, Adel merasa hatinya tenang saja. Jam dua belas adel begitu kaget ketika yang hadir didepannya sosok yang dia kenal tujuh tahun lamanya.
"Selamat siang dokter Adel." Seketika jantung Adel berpacu cepat. Mulai berkeringat. Namun kembali Adel sadar dan konsentrasi.
"Selamat siang pak polisi." Adel mengumpulkan kesadarannya, dia berharap orang yang di depannya bukan polisi yang tujuh tahun mereka perna bertemu. Dia membaca namanya AKP (Ajun Komisaris Polisi ) Karel Imanuel Barnabas. Ternyata dia tidak bermimpi. Betul di depannya polisi menyebalkan tujuh tahun lalu.
"Lama tidak berjumpa dokter." Arman dan Dita tersenyum. Karena kedua ners ini tahu cerita tujuh tahun lalu.
"Iya. Tujuh tahun. Saya pikir tidak akan bertemu dengan pak polisi lagi."
"Malah saya rindu bertemu dengan kamu. Dan kamu tambah manis saja."
"Sudah punya anak berapa pak?"
"Masih mencari rahim yang baik untuk menjaga bibitku yang unggul ini." Adel seperti disambar petir mendengar perkataan Karel. Mukanya merah."
"Oooo semoga mendapatkan apa yang pak polisi impikan."
"Sebenarnya sudah ada di depan saya tetapi dia masih pura - pura tidak tahu." seketika semua di ruangan mendengar teriakkan Karel, karena Adel menyuntiknya tanpa aba - aba. Langsung suntikan itu menarik darah segar untuk diperiksa di laboratorium polri.
"Mohon maaf pak polisi." Kembali lagi Arman dan Dita tersenyum melihat tingkah dokter Adel dan AKP Karel.
"Untung kamu cantik, kalau tidak sudah......"
"Sudah apa tuh??"
Karel Imanuel Barnabas langsung berdiri dan memberi ciuman mesra di kening dokter Adel.
"Ini hukuman kecil buat dokter yang nakal." kemudian dengan senyuman nakalnya dia keluar ruangan Adel. Arman dan Dita hanya bisa tersenyum.
"Ternyata kami masih bisa menyaksikan keunyuan dokter dan pak Polisi Karel."
"Setelah tujuh tahun tidak bertemu. Sepertinya dokter dan polisi Karel berjodoh deh."
"Bisa - bisanya dia mencium aku di ruangan ini. Untung bukan bibir aku. kalau iya dia merebut ciuman pertama pacarku nanti."
Karel masih berada di depan pintu ruangan dokter Adel dan dia mendengar apa yang di katakan oleh Adel. Dia tersenyum. Dan niat jailnya pun datang lagi. Dibuka pintu ruangan itu.
"Saya yang akan mencium bibir itu. Tunggu waktunya." Lalu dia menutup pintu itu lagi.
"Siapa dia??" Arman dan Dita puas sekali melihat muka dokter mereka yang sudah kemerahan.
AKP Karel Imanuel Barnabas memang sengaja diperiksa terakhir untuk hari ini. Karena dia tahu, bahwa yang memeriksanya adalah dokter Adel Emanuella Sanjaya spesialis bedah saraf dan pembulu. Perempuan yang selama tujuh tahun ini terus berada di otak atau pikirannya. Bahkan ketika orangtuanya menjodohkan dia dengan perempuan pilihan mereka, Karel dengan sopan menolak kehadiran perempuan itu dalan hidupnya. Karena selama ini, Adel tidak tahu, bahwa Karel selalu memantau sosial medianya dengan akun samaranya yang bernama Orion Carlos. Itu juga nama tempur Karel Imanuel Barnabas ketika bertugas.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!