Indonesia
NovelToon NovelToon

Penguasa Para Dewa

BAB 1: Kebangkitan di Balik Cincin Hitam

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini. Jubah putihnya berkibar pelan, memancarkan aura es yang membuat siapa pun enggan mendekat. Lin Chen hanya bisa menatapnya dalam diam dari balik bayangan pohon besar. Sambil tersenyum getir, ia cuma berpikir dalam hati, "Orang seperti itu, jalannya pasti jauh berbeda dariku.". Di benaknya, jarak antara seorang murid buangan dan bintang langit bersinar itu tak mungkin bisa dijembatani.

Tiba-tiba, suara batuk tua serak memecah keheningan di dalam kepalanya. Sebuah cincin hitam pekat yang melingkar di jarinya memancarkan cahaya redup yang misterius.

Roh kuno yang bersemayam di dalamnya, Tua Hitam, baru saja bangun dari tidur panjangnya yang entah sudah berlangsung berapa abad. Namun, alih-alih memancarkan aura kebijaksanaan seorang tetua kuno atau memberikan petuah kultivasi tingkat tinggi, Tua Hitam malah langsung sibuk mengajari Lin Chen cara merayu wanita.

"Heh, bocah! Tatapanmu itu terlalu kaku dan menyedihkan! Kalau kau mau gadis es di sana itu melirikmu, kau harus pakai gayaku!" omel Tua Hitam dengan nada pongah di dalam benak Lin Chen. "Dulu di zamanku, cukup dengan satu senyuman, dewi-dewi dari enam alam akan berbaris! Maju sana, puji matanya!"

Lin Chen hanya bisa memutar bola matanya malas. Walaupun roh ini adalah sosok kuno, Lin Chen tahu persis bahwa semua ilmu asmara yang diajarkan Tua Hitam itu sangat salah salah dan hanya akan membuatnya terlihat konyol.

Belum sempat Lin Chen menyuruh Tua Hitam diam, semak-semak di belakangnya berdesir keras, mematahkan suasana hening malam itu. Seorang pemuda bertubuh gempal menerobos masuk, terengah-engah dengan wajah berpeluh.

Itu adalah Zhu Da. Ia muncul tiba-tiba di tengah malam buta seperti ini bukan karena khawatir atau ingin berlatih bersama, melainkan cuma gara-gara satu hal: ia sangat ingin makan daging.

"Chen-ge!" bisik Zhu Da setengah berteriak sambil mengusap perut buncitnya. "Kudengar di hutan belakang ada babi tanduk berbulu yang dagingnya sangat empuk! Ayo bantu aku menangkapnya sebelum tetua asrama bangun!"

Melihat sahabat gempalnya yang tidak pernah bisa lepas dari urusan perut itu, Lin Chen hanya bisa menghela napas pasrah. Ia melirik sekilas ke arah tebing tempat Su Qingyue berdiri tadi, namun sosok sedingin es itu sudah menghilang di balik kabut malam.

Tanpa Lin Chen ketahui, langkah kecilnya malam itu di batas Alam Fana tidak hanya akan mengantarkannya melintasi lautan penderitaan, tetapi pada akhirnya akan menuntunnya untuk melawan langit itu sendiri.

"Ayo," jawab Lin Chen singkat, menepuk bahu Zhu Da, sementara Cincin Hitam di jarinya berdenyut hangat mengiringi langkah pertamanya.

BAB 2: Kekuatan Baru dan Babi Tanduk Berbulu

Hutan di belakang sekte pinggiran itu tertutup bayang-bayang pepohonan raksasa. Cahaya bulan purnama hanya mampu menembus celah dedaunan, menciptakan pola di atas tanah yang lembap. Udara malam terasa membekukan tulang, tetapi anehnya, Lin Chen tidak merasakan hawa dingin itu sama sekali.

Sejak kebangkitannya malam ini, ia menyadari dengan pasti bahwa tubuhnya yang selama bertahun-tahun dihina sama sekali bukanlah sampah. Darahnya berdesir hangat, dan untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan energi murni mengalir di bawah kulitnya. Ia telah resmi menginjakkan kaki di ranah kultivasi paling awal, yakni Penempaan Tubuh.

Di depannya, Zhu Da berjalan mengendap-endap sambil memegang sebuah ranting kayu tebal sebagai "senjata". Pemuda bertubuh gempal itu rela menyelinap di tengah malam buta dan menembus hutan berbahaya cuma gara-gara satu hal: ia sangat ingin makan daging.

"Chen-ge, kau yakin lewat sini?" bisik Zhu Da dengan suara gemetar, perut buncitnya berbunyi nyaring memecah keheningan. "Babi tanduk berbulu itu biasanya ganas. Kalau kita ketahuan tetua asrama, kita bisa dihukum gantung terbalik di gerbang!"

Lin Chen hanya tersenyum tipis. "Tenanglah, Zhu Da. Malam ini, biar aku yang mengurusnya."

Tiba-tiba, dengusan keras terdengar dari balik semak belukar di sebelah kanan mereka. Seekor babi hutan berukuran sebesar anak sapi dengan sepasang gading melengkung tajam melompat keluar. Matanya merah menyala menatap Zhu Da yang langsung memucat.

"Hahaha! Makhluk rendahan macam apa ini?" Suara pongah Tua Hitam kembali menggema di benak Lin Chen. Roh kuno yang baru saja bangun dari tidur panjangnya itu mendengus remeh."Di zamanku, babi kurus seperti ini hanya dipakai untuk mengganjal meja! Bocah, cepat habisi dia! Setelah itu, pamerkan ototmu ke gadis es yang kau lihat tadi. Wanita suka pria berdarah-darah!"

Lin Chen mengabaikan celotehan roh kuno di kepalanya. Ia tahu persis bahwa semua ilmu asmara yang diajarkan Tua Hitam itu sangat salah kaprah dan hanya akan membuatnya terlihat konyol. Lagipula, gadis yang ia lihat tadi, Su Qingyue, sangat dingin seperti es dan menganggap semua orang sama saja. Pamer otot di depannya hanya akan memancing tatapan jijik.

Babi tanduk berbulu itu mengais tanah dengan kuku kakinya, lalu menyeruduk lurus ke arah Zhu Da.

"Huaaa! Chen-ge, tolong!" Zhu Da menjatuhkan ranting kayunya dan jatuh terduduk, menutup mata rapat-rapat.

Namun, sebelum gading tajam itu menyentuh perut Zhu Da, sesosok bayangan melesat ke depan. Lin Chen menanamkan kakinya kuat-kuat ke tanah. Mengandalkan ranah Penempaan Tubuh yang baru saja ia sadari, ia mengepalkan tangan kanannya dan meninju tepat di antara kedua mata babi tersebut.

BAM!

Suara retakan tulang terdengar keras. Babi raksasa yang sedang berlari kencang itu terhenti seketika, terangkat ke udara sejenak, lalu jatuh terlempar ke tanah. Debu mengepul. Binatang buas itu kejang sesaat sebelum akhirnya tak bergerak lagi. Hanya dengan satu pukulan fisik murni!

Zhu Da perlahan membuka matanya. Rahangnya jatuh nyaris menyentuh tanah. Ia menatap babi yang sudah mati itu, lalu menatap Lin Chen seolah sedang melihat hantu.

"Chen... Chen-ge... kau... kau tidak lemah lagi?" kata Zhu Da, air liur menetes dari sudut bibirnya bukan karena takjub, tapi karena membayangkan daging panggang.

Lin Chen melihat kepalan tangannya sendiri. Tenaga ini nyata. Meridiannya benar-benar telah terbuka. Jalan kultivasinya baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injaknya lagi.

"Cepat kumpulkan ranting kering," ucap Lin Chen sambil menepuk debu dari bajunya, nada suaranya tenang. "Kita makan besar malam ini."

Satu jam kemudian, aroma daging panggang yang luar biasa lezat menguar di udara. Zhu Da mengunyah daging dengan rakus, melupakan semua ketakutannya tadi. Sementara itu, Lin Chen hanya memakan sebagian kecil. Pandangannya kembali tertuju pada puncak tebing tempat ia melihat Su Qingyue sebelumnya.

Gadis itu mungkin tidak mengenalnya sekarang. Bagi gadis secantik dan sedingin itu, Lin Chen merasa jalan mereka pasti jauh berbeda. Namun, memandang langit berbintang di atas sana, sebuah tekad yang jauh lebih panas dari api unggun mulai menyala di dada Lin Chen. Ia akan mendaki hingga ke puncak, langkah demi langkah, melampaui semua ekspektasi, hingga suatu hari nanti, tidak ada satu pun orang bahkan langit sekalipun yang berani memandang rendah dirinya.

BAB 3: Pagi di Sekte Pinggiran

Sinar mentari pagi mulai mengintip dari ufuk timur, mengusir sisa-sisa kabut malam yang menyelimuti hutan. Sisa api unggun semalam kini hanya berupa bara kemerahan. Di sampingnya, Zhu Da tertidur pulas dengan dengkuran yang bersahut-sahutan, seolah sama sekali tidak peduli dengan bahaya hutan buas di sekitarnya. Pemuda gempal itu memang rela menyelinap ke tempat berbahaya di tengah malam buta murni hanya gara-gara ia sangat ingin memakan daging.

Sementara itu, Lin Chen sudah duduk bersila di atas bongkahan batu sedari subuh. Ia memusatkan perhatiannya ke dalam diri. Sejak semalam, ia menyadari dengan pasti bahwa tubuhnya yang selama bertahun-tahun selalu dihina ternyata sama sekali bukanlah sampah. Energi murni mengalir jauh lebih lancar, memastikan pijakannya di ranah Penempaan Tubuh, yang merupakan langkah paling awal dalam sistem kultivasi alam semesta.

"Fokuskan napasmu ke pusat Dantian, Bocah!" Suara serak Tua Hitam mendadak bergema lagi di kepalanya, membuyarkan konsentrasi Lin Chen. "Energi spiritual di zaman ini benar-benar tipis seperti kertas. Kalau di zamanku, bernapas sekali saja sudah cukup untuk menghancurkan gunung!"

Lin Chen hanya menghela napas. Roh kuno yang baru terbangun dari tidur panjang di dalam Cincin Hitam itu memang sangat suka menyombongkan diri. Namun, alih-alih memberinya teknik rahasia atau mantra tingkat tinggi yang berguna, Tua Hitam malah kembali mengalihkan pembicaraan ke arah yang sama sekali tidak masuk akal.

"Dengar, Bocah. Kalau kau sudah cukup kuat nanti, kita harus segera kembali ke tebing tempat gadis es itu berada," celoteh Tua Hitam dengan nada menggurui. "Untuk menaklukkan hati wanita cantik, kau tidak boleh memujinya. Kau harus lewat di depannya sambil membawa kepala naga, membusungkan dada, lalu berteriak menantang langit! Dia pasti akan langsung bertekuk lutut kagum padamu!"

Lin Chen memijat pelipisnya perlahan. Su Qingyue adalah gadis yang sangat dingin seperti es dan memandang semua orang sama saja. Melakukan hal bodoh seperti saran Tua Hitam di hadapan gadis itu hanya akan membuat Lin Chen ditendang jatuh dari tebing sebelum sempat mengucapkan satu kata pun.

"Tua Hitam, bisakah kau diam sebentar? Aku harus membangunkan Zhu Da. Kita harus kembali sebelum lonceng asrama luar berbunyi, atau kita akan dihukum menyapu seluruh halaman sekte," balas Lin Chen secara telepati.

Ia lalu menendang pelan kaki Zhu Da. Pemuda gempal itu terlonjak kaget, mengusap air liur di sudut bibirnya, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mencari sisa daging babi tanduk berbulu semalam.

"Ayo kembali," ajak Lin Chen tenang, sambil berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya.

Perjalanan kembali ke asrama sekte pinggiran terasa jauh lebih ringan bagi Lin Chen. Otot-ototnya yang dulu kaku dan lemah kini beresonansi penuh tenaga. Namun, kedamaian pagi itu harus terhenti ketika mereka baru saja melangkah melewati gerbang batu halaman luar.

Tiga orang murid berseragam abu-abu sudah berdiri menghadang jalan. Di tengah mereka, seorang pemuda jangkung dengan senyum meremehkan melangkah maju. Itu adalah Wang Hao, salah satu senior asrama luar yang paling gemar menindas murid-murid lemah untuk merampas jatah pil spiritual bulanan mereka.

"Lihat siapa yang baru kembali dari hutan," cibir Wang Hao, matanya menyipit menatap Lin Chen dan Zhu Da secara bergantian. "Si Sampah Lin dan Si Babi Zhu. Ke mana saja kalian semalaman? Jangan bilang kalian pergi ke hutan untuk mencoba berkultivasi? Hahaha!"

Zhu Da langsung bersembunyi di balik punggung Lin Chen, tubuhnya kembali gemetar ketakutan. Biasanya, dalam situasi seperti ini, Lin Chen akan menundukkan kepala dan meminta maaf demi menghindari masalah yang lebih besar.

Namun, hari ini berbeda.

Lin Chen menatap lurus dan tajam ke arah Wang Hao. Tidak ada lagi keraguan maupun ketakutan di matanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!