Indonesia
NovelToon NovelToon

Garis Darah Naga Purba

bab 1:naga yang tertidur.

klan ye adalah salah satu klan besar.

meski salah satu dari ke 5 klan besar, tapi kehidupan di dalamnya tak seindah di permukaan.

heh...

heh....

 heh.....

 seorang pemuda tampak penuh keringat, di depannya puluhan boneka kayu hancur di depannya.

 "masih kurang"

 pemuda itu kembali maju, menebas satu per satu boneka kayu dengan pedang kayu.

 dia adalah ye Chenlong, putra patriark sekte klan ye.

 yen Chenlong terus menebas beberapa boneka kayu.

 namun saat hendak mengayunkan pedangnya lagi, ia merasakan aura lain dari belakangnya.

 sebilah pedang melesat langsung ke arahnya.

 dengan sigap ye chenlong mengayunkan pedang kayunya, namun pedang kayu tetaplah pedang kayu.

 dengan muda pedang kayu itu terbelah.

 wus.....

 sring......

 bilah pedang lewat tepat di pipinya membuat goresan tipis di sana.

 jleb....

 pedang itu berhenti saat menancap di patung kayu.

 ye Chenlong menatap pedang di patung kayu.

 getaran samar terlihat, tak lama pedang itu melesat kembali.

 ye Chenlong menatap kepergian pedang.

 pedang itu mendarat ke seorang pemuda seusia dengannya.

 melihat pemuda itu ye Chenlong menyipitkan matanya.

 "ye hao"

 "buat apa kau ke sini?"

 ye Hai berjalan santai, senyum tipis terbit di bibirnya.

 "kenapa kak..."

 "bukankah ini area klan"

 "aku juga merupakan anggota klan bukan"

 ye Chenlong tak menanggapi, ia mengambil barangnya dan melangkah pergi.

 tapi...

 saat melewati ye hao, langkahnya terhenti, karena tangannya di cekal.

 "ada apa kak..."

 "kenapa buru buru"

 "kenapa tidak berlatih berdua saja, siapa tau kita akan berkembang bersama"

 ye Chenlong tak menjawab, ia menarik tangannya, dan kembali melangkah.

 ye hao melengkungkan bibirnya melihat ekspresi ye Chenlong.

 "kakak, jangan lupa 1 minggu lagi adalah acara kedewasaan" teriaknya.

 ye Chenlong tak menoleh, bahkan ia tak memperlambat langkahnya sedikitpun.

 "ingat kakak, di sana bakat kita akan di uji, jangan lupa datang" teriaknya lagi.

 setelah masuk rumah, ye Chenlong menaruh peralatannya.

 ia masuk ke kamar, ye Chenlong duduk bersila.

menyebarkan kekuatan jiwanya sesaat, lalu masuk kembali ke tubuhnya.

seketika ye Chenlong berpindah tempat.

walau tak memiliki kultivasi, tapi ye Chenlong tak lemah dalam kekuatan jiwa.

dengan ini ia berhasil memasuki pusat merediannya sendiri.

tempat ini tampak seperti pulau terapung, dengan seekor naga tertidur di sana.

ye Chenlong mendekat, menatap Naga itu dalam dalam.

"apa garis darahku memang selemah ini, bahkan tak sanggup bangun" gumamnya.

di dunia ini setiap orang akan memiliki garis darah bawaan, termasuk ye Chenlong.

tapi biasanya mereka bisa membangunkan garis darahnya dengan berlatih dan meminum pil, untuk membangun kekuatan kultivasi.

ye Chenlong sudah mencoba cara yang sama beberapa kali, tapi ia sama sekali tak bisa membangunkan Naga ini.

ye Chenlong menatap lebih tajam ke arah Naga itu, tanpa aba aba dia melesat, memukul Naga.

berharap garis darahnya ini bisa terbangun dengan paksa.

namun, saat tinjunya akan menyentuh tubuh Naga, ledakan qi menyapu.

membuat dia terpental mundur lagi.

ye Chenlong tak menyerah, ia mencoba beberapa kali.

namun selalu berakhir sama.

tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari demi hari telah berlalu.

kini aula klan ye di penuhi para murid, hari ini adalah hari kedewasaan bagi murid yang telah berusia 16 tahun.

tak ketinggalan, ye Chenlong juga ada di sana, menatap altar batu penguji.

"ada apa kak..."

"kenapa melamun, bukankah ini adalah hari baik" ucap ye hao.

ye Chenlong menoleh, tapi tak menanggapi.

tak lama suara penetua terdengar.

"baiklah, karena para murid sudah berkumpul, kita akan memulai acara"

"seperti yang kalian tau, acara ini di adakan setiap tahun untuk memperlihatkan bakat para murid yang telah mencapai usia dewasa. "

satu per satu murid mulai di panggil, saat mereka memegang patung batu.

sinar akan menembak ke langit memunculkan garis darah dan tingkat kultivasi.

di kursi petinggi, para tetua tampak bangga.

wajah mereka tampak penuh kepuasan melihat bakat para murid.

namun di kursi tertinggi, patriark klan berbeda.

wajahnya tampak gelisah menatap ye Chenlong.

sebelum hari ini, dia sempat mampir ke rumah ye Chenlong.

dia tak masuk atau apa, dia hanya menatap ye Chenlong yang tengah berlatih menggunakan pedang kayunya.

tak ingin mengganggu, dia memilih meninggalkan sebuah surat dan sebuah pil, pembangkit kultivasi.

bahkan ye Chenlong kini sedang memegang kertas itu dengan erat.

ia tadi sempat membaca surat itu, dan bahkan isinya masih teringat jelas di kepala.

"chen'er, maafkan ayah. bukan ayah tak sayang padamu, tapi kau tau sendiri walau ayah adalah patriark tapi ayah tak bisa sembarangan mengambil keputusan di klan. di sini ayah meninggalkan pil pembangkit kultivasi tingkat tinggi, ayah harap ini bisa membantumu, jika ini tak juga membantu. lebih baik kamu jangan datang ke acara besok, bukan karena ayah malu, tapi kamu tau sendiri jika belum membangkitkan kultivasi maka kamu akan bagaimana... hanya ini yang ayah sampaikan, ayah sayang kepadamu" isi surat itu.

sesekali ye chen menunduk menatap surat di tangannya, dia tau hal terbaik untuknya adalah tak datang.

tapi jika itu di lakukan maka kesalahan akan di tujukan ke sang ayah.

tak terasa beberapa jam berlalu, kali ini giliran ye hao yang naik ke panggung batu.

beberapa murid menatap kagum ke arahnya.

"akhirnya kakak hao naik" ucap salah satu murid.

bahkan ini mendapatkan anggukan dari teman.

"benar, bukankah kakak hao sudah mulai bisa berkultivasi di usia 12 tahun"

tak hanya para murid, bahkan para tetua menatap ye hao penuh harapan.

ye hao menoleh ke belakang, menatap ye Chenlong dengan senyum penuh ejekan.

ye hao menatap batu di depan, perlahan ia mengulurkan tangannya.

saat tangan menempel ke batu, langit yang cerah tiba tiba gelap.

awan awan menutupi langit.

dentuman petir terdengar di sana.

cahaya merah pekat, menyebar di batu itu, sebelum menembak cepat ke atas.

semua orang menatap ke langit.

"apakah ini garis darah tingkat raja"gumam banyak orang hampir serentak.

menyebabkan keributan di sana.

dari awan gelap itu, tekanan qi besar menyesakkan muncul, menyesakkan dada yang melihatnya.

di awan tampak sesosok yang melayang seakan berenang di balik awan.

saat sosok itu muncul dari balik awan, tekanan yang lebih besar, menerpa ke bawah. beberapa orang lemah langsung pingsan, beberapa lagi langsung berlutut.

beruntung para tetua dan patriark sekte langsung berdiri, mereka membentuk segel tangan.

perlahan pilar pilar patung batu di pinggir aula memancarkan sinar.

membentuk formasi pelindung yang menutupi tempat itu.

merasakan ini, ye hao menatap sombong ke sekitar.

namun ada satu orang yang membuatnya berhenti.

ye Chenlong...

di saat yang lainnya tertekan, dia sama sekali tak merasakan apapun.

bahkan ia masih bisa berdiri dengan tenang.

bahkan tanpa sepengetahuan ye Chenlong, Naga di merediannya sempat membuka mata dan menatap jijik ke arah naga petir di langit.

BAB 2: putus pertunangan.

Setelah ye hao turun, beberapa murid mulai di panggil satu per satu.

Namun sampai akhirpun, nama ye Chenlong tak di panggil, ye Chenlong menyadari ini tapi ia hanya diam tak menanggapi sedikitpun.

Sampai saat tetua pengawas akan menutup acara, ye hao mengangkat tangannya.

Tetua itu menoleh ke arah ye hao.

"Ada apa tuan muda hao" Tentang tetua itu dengan hormatnya.

"Maaf tetua, kakakku belum di panggil. Berhubung umurnya sudah 16 tahun juga bukankah dia akan ikut acara ini"

Tetua itu, menoleh ke ujung tempat ye Chenlong berada.

Tatapannya berbeda, tak ada tatapan penuh hormat seperti saat menatap ye hao tadi.

"Chenlong, kamu juga naiklah kau juga akan ikut acara ini"

Ye chenlong menunduk sebentar, lalu dengan napas dalam.

"Maaf penetua, aku tak bisa ikut."

Semua murid langsung menatapnya jijik, bahkan ye hao menatap ke ibunya.

Pandangan mereka saling bertemu, bibir keduanya sama sama melengkung hampir bersamaan.

namun, suara kuda memecahkan semuanya.

nona muda klan su turun dari kereta kuda, ia berjalan ke arah patriark klan ye, di ikuti beberapa penjaga klan su.

sampai ke hadapan patriark, nona muda klan su sedikit menunduk sambil menyodorkan sebuah gulungan.

"maaf paman wuchen, aku mungkin mengganggu acara klan ye"

"tapi aku membawa perintah dari ayah, untuk memberikan ini kepada paman"

ye wuchen berdiri, mengambil gulungan itu dan membukanya.

saat membaca isi gulungan, ia terdiam lalu menatap su yuelan.

"apa maksudnya ini"

"bukankah ini sudah di atur oleh leluhur kedua klan"

su yuelan tampak tenang saat melihat ekspresi ye wuchen yang masam.

"maaf paman, bukan bermaksud memutus perintah leluhur."

"tapi klan su kami juga tak ingin memiliki menantu yang tak berguna, dengan bakat yang di miliki ye Chenlong itu sama sekali tak cocok denganku"

"lalu sekarang bagai mana, apa klan su ingin mengingkari perjanjian lama"

su yuelan menggeleng, lalu menunduk.

"aku di sini mewakili klan su, dan kami hanya memutuskan pertunangan kepada ye chenlong. Bukan memutuskan perintah leluhur"

"leluhur hanya meminta pernikahan antar dia klan"

su yuelan berhenti, lalu menatap ke arah ye hao.

"bukankah anda masih memiliki satu putra"

ye hao yang sedari tadi diam, ia maju menghadap patriark.

"maaf ayahhanda, aku tak bermaksud merendahkan kakakku sendiri, tapi memang benar apa yang di katakan nona su yuelan ini."

"lagi pula bakat kakak Chenlong memang tak bisa bangkit, tanpa kultivasi takutnya itu sama saja di anggap penghinaan bagi klan su jika ayah memaksakan pernikahan ini."

"jadi biarkan aku saja yang menggantikan kakak chenlong"

ye wuchen menjatuhkan diri, sedikit menutup matanya sebentar lalu menatap ya Chenlong.

"chen'er kesinilah"

ye Chenlong, langsung melangkah mendekat, sedikit menoleh ke arah su yuelan dan ye chenlong sesaat lalu membungkuk ke ayahnya.

"chen'er..."

"kau juga pihak yang terlibat, jadi apa pendapatmu"

ye Chenlong terdiam, tangan di balik jubahnya mulai mengepal.

buka karena cinta, tapi karena rasa penghinaan hari ini yang ia Terima di depan umum.

"ayah handa, aku menerima semua itu."

"menurutku pernikahan memang tak bisa di paksakan"

"tapi"

ye Chenlong menatap ke arah su yuelan.

"apa tak ada cara lain untuk mengatakan ini, kenapa harus di depan umum"

su yuelan balik menatap ye Chenlong, senyum tipis mengembang, tak lama sebelum ia kembali menatap patriark klan.

"maaf paman, ini mungkin terkesan tak supan."

"tapi, ini adalah cara agar semua anggota klan ye tau apa yang terjadi"

mata su yuelan melirik ke arah ye Chenlong.

"takutnya jika di lakukan di ruangan tertutup, ada orang yang menyebarkan informasi buruk tentang kami, karena tak Terima"

patriark klan ye melambaikan tangan.

"baiklah, pesan ini sudah ku terima."

"su yuelan, aku akan menyetujui pemutusan pertunangan ini, tapi untuk hal lebih lanjut biar aku dan ayahmu sendiri yang memperbincangkannya"

su yuelan menunduk lagi.

"baik paman"

"Terima kasih telah menyambut kami dengan baik."

"aku akan menyampaikan ini kepada ayahanda"

"kalok begitu saya pamit dulu"

ye wuchen mengangguk tipis.

setelah itu su yuelan pergi bersama kelompoknya, sedangkan ye Chenlong hanya diam.

"baiklah, karena acara hari ini telah selesai maka kalian silahkan kembali saja" Ucap ye wuchen.

namun, sebelum mereka benar benar pergi, tetua pertama klan ye berdiri.

"tunggu" Ucapnya.

sontak semua orang yang hendak pergi langsung berhenti, menatapnya dengan hikmat.

"seperti yang kita tahu, hari ini bisa kita lihat sendiri kalau klan sahabat kita klan su hampir tak memberi kita muka karena tuan muda ye Chenlong."

setelah itu tetua pertama menoleh ke arah ye wuchen.

"maaf patriark, bukan aku lancang. Tapi ini demi nama baik klan."

"walaupun dia adalah putra anda, tapi kesalahannya besar, bukankah sesuai aturan klan dia harus keluar"

ye wuchen ingin membantah, tapi tatapan semua orang juga mengartikan hal yang sama dengan kata kata tetua pertama.

tentu sebagai, ketua klan dia tak bisa berbuat banyak, bahkan saat menatap ke arah ye Chenlong, ye Chenlong juga mengangguk tipis.

"tetua pertama, ini akan kita perbincangkan nanti, sekarang biarkan para murid beristirahat terlebih dahulu"

"baik patriark"

setelah sedikit membungkuk, tetua pertama menatap para murid.

"baiklah, karena apa yang ingin ku sampaikan sudah selesai, maka kalian kembalilah"

semua orang bubar, tak kecuali ye Chenlong, ia memilih kembali ke kediamannya.

malam harinya

Tok...

tok....

tok......

ketukan pintu terdengar di pintu kamar ye Chenlong.

namun pintu yak kunjung ada yang membuka.

"chen'er"

"apa kau ada di dalam"

namun tak terdengar jawaban juga.

"ayah masuk"

ye wuchen akhirnya benar benar masuk.

ruangan ini tampak gelap, hanya sedikit cahaya bulan yang masuk.

ye wuchen melambaikan tangan, hanya dengan lambaian ini, seketika batu qu dalam ruangan langsung bersinar, menerangi tempat ini.

Namun ye wuchen sama sekali tak melihat putranya, akhirnya ye Chenlong memutuskan melihat lihat kamar putranya ini.

di sana berjejer rapi pedang kayu di samping tempat tidur, saat menelusuri tempat ini.

ye wuchen tak sengaja menatap ke satu foto.

foto istri pertamanya.

ia mengambil foto itu dan menatapnya penuh kelembutan dan rasa sedih.

tempat sadar matanya mulai mengembun.

"tianxi..."

"maaf, aku tak bisa menjaga putra kita. bukan aku tak mau"

"tapi, kau tau pijakanku tak cukup kuat. jika bisa aku lebih memilih melepaskan jabatan ini dan pergi hidup Damai dengan putra kita."

"sayangnya itu mustahil"

ye wuchen terus bergumam, dengan foto itu.

seakan orang itu benar benar ada di depannya, setelah puas.

ia menaruh kembali foto di tempatnya lalu mengelap air mata.

saat ingin memanggil anaknya lagi tak sengaja, dia melihat sebuah buku yang masih terbuka di samping foto istrinya.

BAB 3:PEDANG USANG DAN CINCIN

saat akan mengambil, tiba tiba ada pelayan masuk.

tentu ye wuchen langsung menatap pelayan itu.

"ada apa"

"kenapa kau terburu buru"

melihat ye wuchen, pelayan itu langsung menunduk.

"maaf patriark."

"saya mendapatkan informasi kalau tuan muda hao dan tuan muda Chenlong sedang dalam pertarungan perjanjian"

mendengar ini kening ye wuchen langsung mengkerut.

"pertarungan perjanjian?"

"benar patriark"

"hamba tak tau apa penyebabnya, tapi saya menerima ini saat berjaga di depan tadi"

pelayan itu menyodorkan sebuah surat, ye wuchen membaca surat itu.

"perjanjian hutan terlarang?"

"kenapa bisa?"

setelah membaca itu, ye wuchen langsung berlari ke arena pertarungan.

Perjanjian hutan terlarang adalah, perjanjian dalam pertarungan turun temurun dari klan ye. biasanya ini adalah perjanjian menggantikan perjanjian hidup dan mati, karena siapapun yang masuk ke hutan terlarang itu tak pernah ada yang berhasil kembali.

saat sampai ke arena, orang orang sudah berkumpul, bahkan ye Chenlong dan ye hao sudah ada di atas panggung batu.

"tunggu" teriak ye wuchen.

menyadari kehadiran ye wuchen semua orang yang ada di sini langsung membungkuk ke arahnya.

dan ye Hao yang pertama berbicara.

"maaf ayah, bukannya aku lancang, tapi ini demi nama baik klan kita"

"nama baik klan?"

"ye Hao, Chenlong masih kakak kandungmu."

"apa hanya dengan nama baik klan kau tega melakukan ini"

mendengar ini, ye hao melirik ke arah tetua pertama, tetua pertama yang menyadari ini dia langsung mengangguk, dan maju.

"maaf lancang patriark"

"tapi yang di katakan tuan muda hao benar, jika tidak melakukan ini, bukankah akan menyinggung klan su."

"mereka akan menganggap kita menghina mereka dengan tak menyingkirkan aib nona muda klan su."

ye wuchen langsung menatap tetua pertama.

"bukankah kita sudah sepakat akan membiarkan Chenlong pergi dari klan dan hidup bebas"

tetua pertama, mengeluarkan satu surat lain.

"maaf patriark, ini adalah surat lanjutan dari klan su"

"di sini mereka sudah mengatakan kalau mereka tak ingin membiarkan ye Chenlong hidup, jika dia masih hidup itu akan menjadi aib besar klan mereka"

"jika anda tak percaya, anda bisa membacanya sendiri, lagi pula pertarungan ini adalah keringanan untuk ye chenlong, dengan memberikan dia kesempatan melawan"

"dan ye Chenlong, juga sudah menandatangani penyataan pertarungan ini"

ye wuchen mengambil surat itu, dan surat pertarungan.

semuanya benar, bahkan ada tanda tangan ye Chenlong di sana, dengan begini dia sama sekali tak bisa menghentikan-nya lagi.

tatapan ye wuchen beralih ke ye Chenlong, namun Chenlong hanya mengangguk.

tak bisa berbuat apa apa lagi, ia hanya bisa melambaikan tangannya, dan duduk di sana.

Setelah ye wuchen duduk, akhirnya semuanya di lanjutkan.

ye chenlong, menatap tenang ke arah ye hao, begitu pula sebaliknya.

DING.....

terlah bunyi ini, ye hau langsung menyerang terlebih dahulu.

ia melesat dan menebas langsung.

namun yang ye hao tak tau, walau Chenlong tak memiliki kultivasi. tapi ia telah berlatih kekuatan jiwa sejak usianya 5 tahun.

jadi, setiap serangan ye Hao dapat dia hindari dengan mudah oleh ye Chenlong.

beberapa tebasan, bahkan tak ada yang mampu mengenai ye chenlong sama sekali.

"kakak, apa kau monyet. hanya bisa melompat sedai dari tadi"

"hao"

"sebagai lelaki kau terlalu banyak berbicara"

ye hao menatap Chenlong dengan penuh kebencian, ia tak menutupinya lagi.

"Chenlong, jangan salahkan aku"

"aku sudah memberimu keringanan sebelumnya"

dalam sekejap jubah ye hao berkibar, kekuatan alam bumi menengah meletus.

kali ini dia menatap ye Chenlong dengan penuh seringaian.

"aku mau lihat"

"bagaimana, sampah sepertimu akan menahan kekuatan tuan muda ini"

beberapa pedang di pinggir arena mulai bergetar satu persatu.

sampai, satu per satu melesat keluar dari sarungnya. terbang langsung dan melayang di dekat ye Hao.

para murid yang menyaksikan ini langsung, melongo bahkan beberapa ada yang bergetar.

"bukan kah, ini"

"ya, ini kan teknik seribu pedang"

"jadi, tuan muda hao sudah menguasainya, padahal teknik ini sangat sulit di kuasai"

mendengar pujian demi pujian ini ye hao mulai melengkungkan bibirnya.

"bagaimana, Chenlong. apa kau sudah tau perbedaan kekuatan kita yang bagai langit dan bumi itu"

ye Chenlong, sama sekali tak merubah ekspresinya.

ia masih menatap Chenlong dengan tenang.

"jika ingin bertarung maka majulah, tak usah banyak berbicara"

"kurang ajar"

"matilah, sampah"

dalam sekejap, pedang yang sedari tadi melayang di sekitarnya, kini melesat cepat, mengarah langsung ke arah ye Chenlong.

menghadapi ini, ye Chenlong menutup matanya kekuatan jiwanya menyebar.

dengan sedikit gerakan, pedang pedang itu lewati tubuhnya, bahkan tak ada satupun pedang yang menyentuh kulitnya.

"apa yang terjadi"

"kenapa sampah itu bisa dengan mudah menghindari serangan tuan muda hao"

"tidak, ini tidak mungkin."

"aku tau"

"tuan muda hao pasti sengaja melakukan ini karena tak ingin membuat malu sampah itu"

"ia, kau benar."

mendengar perbincangan murid ini, ye Hao langsung mengeratkan genggaman pedangnya.

Ia menatap dengan sinis ke arah ye Chenlong.

"bagaimana sampah ini bisa melakukan itu, apakah dia sebenarnya dia memiliki kultivasi" batin ye hao.

namun setelah beberapa saat, ia menggeleng.

"tak mungkin, aku sama sekali tak merasakan lonjakan qi dari tubuhnya"

"pasti ini hanya kebetulan" lanjut dalam hati.

perlahan, lonjakan qi terjadi lagi.

perlahan petir petir kecil terlihat di pedang ye hao.

"sampah, bersyukurlah kau bisa merasakan kekuatan seriusku sebelum kematianmu" batin ye hao.

kali ini, tubuhnya mesat bagai petir.

menghantam langsung ke arah ye Chenlong.

ya chenlong yang menyadari ini, dia buru buru menghindar.

tebasan ye hao langsung menghantam panggung batu.

bom....

qi meletus dari sana, panggung batu yang tenang sedikit bergetar.

bahkan ye Chenlong yang sudah mundur beberapa meter di paksa mundur sampai ke pinggir panggung batu.

namun sebelum dia menyetabil-kan diri, ye hao sudah berada di depannya dengan pedang yang sudah mengayun.

"berhenti"

bom.....

semua orang menatap pedang ye hao yang tertahan dengan dua jari.

"patriark" seru meraka.

ye hao langsung mundur, dan membungkukkan kepala.

sedangkan ye wuchen menaruh tangan di belakang punggungnya.

"hao'er, apa kamu lupa di pertarungan ini di larang membunuh"

"maaf ayah"

"aku terbawa suasana"

patriark klan ye, menatap sekitar.

"sudah, kalian bubarlah, pertarungan sudah selesai"

mereka benar benar bubar termasuk ye chenlong yang kembali ke kamarnya.

saat tengah berkemas, pintu kamarnya di buka.

sang ayah masuk dan langsung duduk di kasur.

"maaf, ayah tak bisa melindungimu"

"bukan ayah tak mau"

"tapi kau tau sendiri bagaimana posisi ayah"

"terimalah ini, walau pedang ini tampak usang dan berkarat. tapi ini adalah peninggalan satu satunya senjata peninggalan leluhur"

"dan, ini adalah cincin penyimpanan yang ia tinggalkan."

ye wuchen menepuk pundak putranya.

"untuk sekarang kau mungkin belum bisa membukanya, tapi ayah percaya suatu saat kau akan mendapatkan kekuatanmu dan membangkitkan garis darahmu"

"hanya itu yang ayah sampaikan, ayah tak bisa lama lama di sini."

"chen'er. kau hanya perlu tau ayah menyayangimu"

setelah mengatakan itu, ye chen langsung pergi tanpa menunggu jawaban.

ye chenlong hanya menatap punggung ayahnya, sembari menggenggam erat pedang dan cincin di tangan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!