Indonesia
NovelToon NovelToon

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Bab 1

“Sar… pelan-pelan dong bawa motornya. Mau terbang rasanya aku ini!” jerit Tini. Ia mencengkeram kuat ujung jaket Sarah, menahan hembusan angin yang menerpa wajah mereka.

“Kalau aku pelan, yang ada nanti tu anak udah ke terminal. Malas banget tau kalau harus ke terminal. Ntar kita kena catcalling,” balas Sarah setengah berteriak. Fokus matanya tetap lurus menatap jalanan yang berlubang.

“Tapi jangan ngebut banget juga, Sar! Aku baru punya anak lho, ini. Ntar jadi anak piatu anakku kalau kita kecelakaan!” protes Tini. Suaranya bergetar menahan takut.

“Ya paling suami kamu cari ibu baru buat anak kalian,” seloroh Sarah santai.

Plak…!

“Tini… enak aja main geplak-geplak kepala orang!” teriak Sarah di tengah lajunya ia membawa motor. Ia sedikit meringis di balik kaca helmnya.

“Siapa suruh mulut kayak nggak disekolahin gitu!” jawab Tini dengan nada ketus dari kursi penumpang.

“Udah, Tin, pegangan yang kuat. Kita harus buru-buru ini ngejar si Ali. Jangan sampai dia udah ke terminal. Mending kita temui dia di pasar,” ujar Sarah, kembali menstabilkan stang motornya.

Terdengar helaan napas kasar di belakang Sarah. Tini hanya bisa pasrah memeluk erat sahabatnya itu.

“Hah… gini amat, ya, jadi guru,” keluh Tini.

“Siapa suruh jadi guru di daerah terpencil,” jawab Sarah sambil tertawa kencang.

Sarah Aini semakin menarik gas motor maticnya semakin dalam. Ia terus mengejar waktu untuk menghentikan Ali. Hingga akhirnya, setelah memacu motornya selama dua puluh menit, mereka tiba di sebuah pasar yang cukup besar di daerah tersebut.

Sarah dan Tini bergegas membuka helm mereka. Keringat tipis mulai membasahi dahi keduanya karena cuaca yang cukup terik.

“Ayo cepat, Tin. Keburu Ali pergi,” ajak Sarah sambil melangkah lebar.

“Iya, sebentar, Sar. Tasku tersangkut,” jawab Tini setengah berlari mengejar.

Keduanya langsung berjalan masuk ke dalam area pasar yang sangat ramai. Bau khas ikan asin dan sayuran segar langsung menyengat indra penciuman mereka. Keduanya menyusuri area pasar, mulai dari area basah hingga area kering, namun tak jua bertemu dengan yang dimaksud.

“Ali nggak ada, Sar. Apa udah pergi ke terminal?” tebak Tini sambil menyeka keringat di lehernya.

Sarah hanya diam. Matanya fokus menatap ke segala arah. Ia sibuk mencari salah seorang anak muridnya yang sudah tidak masuk sekolah hampir selama sebulan. Sebagai wali kelas, Sarah merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk membawa sang anak kembali ke bangku sekolah.

“Jangan menyerah dulu, Tin. Kita coba cek ke arah deretan kios sayur di sebelah sana,” kata Sarah penuh tekad.

“Tapi kalau di sana nggak ada, kita langsung ke terminal?” tanya Tini ragu.

“Kita cari sampai ketemu, Tin. Ini kesempatan terakhir kita sebelum dia naik bus,” tegas Sarah.

Pandangan Sarah akhirnya tertuju pada sebuah kios yang menjual sayur-mayur di pojok pasar. Dari posisinya berdiri, Sarah merasakan jika dirinya sangat mengenali sosok pemuda di sana. Pemuda itu tengah bersiap memikul karung goni berukuran sedang yang Sarah yakini berisi sayuran.

“Tin, itu Ali!” seru Sarah tiba-tiba.

Ia langsung berlari kencang, meninggalkan Tini yang terengah-engah di belakangnya.

“Sar! Sarah, tunggu! Jangan lari-lari di pasar!” teriak Tini, namun suaranya tenggelam di antara keriuhan para pedagang.

Sarah terus menerobos kerumunan orang hingga langkahnya berhenti tepat beberapa meter di depan kios sayur tersebut. Pemuda yang dipanggil Ali itu baru saja hendak mengangkat karung goni ke atas pundaknya.

“Ali!” panggil Sarah dengan napas yang memburu.

Pemuda itu tertegun. Ia menoleh lambat-lambat ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok guru wali kelasnya berdiri di sana dengan wajah kemerahan, matanya langsung membelalak kencang. Ali refleks menurunkan kembali karung goninya ke tanah.

“Bu… Bu Sarah? Kok bisa di sini?” tanya Ali terbata-bata. Ia tampak sangat terkejut sekaligus salah tingkah.

“Kenapa? Kamu kaget melihat Ibu di sini?” tanya Sarah, melangkah mendekat sembari mengatur napasnya.

Tini akhirnya tiba di samping Sarah dengan napas yang tidak kalah habisnya.

“Aduh, Ali… kamu ini ya. Guru kamu sampai ngebut kayak pembalap cuma buat nyari kamu ke pasar ini.”

Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani menatap langsung mata kedua gurunya. Kedua tangannya yang tampak kasar karena bekerja berulang kali meremas ujung bajunya yang kotor.

“Maaf, Bu…” lirih Ali.

“Ali, Ibu mau tahu langsung dari mulut kamu sendiri. Kenapa kamu sudah hampir sebulan ini tidak masuk sekolah tanpa kabar sama sekali?” tanya Sarah dengan nada yang melembut, tidak lagi menggebu-gebu seperti saat mengejarnya tadi.

Ali terdiam sejenak. Ia melirik karung goni di dekat kakinya sebelum menjawab. “Saya harus bekerja, Bu. Ibu saya lagi sakit di rumah, dan adik-adik butuh makan. Saya nggak bisa kalau cuma diam dan tetap sekolah.”

Tini menghela napas panjang, merasa iba mendengar penuturan muridnya itu.

“Ali, kami paham kondisi keluarga kamu. Tapi kenapa kamu nggak bicara baik-baik sama sekolah?”

“Saya malu, Bu. Saya juga mikir kalau saya sekolah terus, saya nggak bisa menghasilkan uang buat beli beras,” jawab Ali dengan suara yang mulai serak.

Sarah melangkah satu tapak lagi hingga jaraknya sangat dekat dengan Ali. Ia menyentuh pundak remaja itu dengan lembut.

“Ali, dengar Ibu. Kamu sekarang sudah kelas sembilan. Perjalanan kamu di sekolah ini tinggal beberapa bulan lagi. Sebentar lagi kamu akan menghadapi Ujian Nasional. Apa kamu nggak sayang dengan perjuangan kamu selama hampir tiga tahun ini?” tanya Sarah serius.

Ali tetap bergeming, air matanya mulai menggenang di sudut mata.

“Tapi sekolah butuh biaya, Bu. Saya juga sudah banyak tertinggal pelajaran. Pasti saya nggak akan lulus.”

“Siapa yang bilang kamu nggak akan lulus? Kamu itu anak yang cerdas, Ali. Soal pelajaran yang tertinggal, Ibu dan guru-guru lain siap bantu kamu kejar materi lewat les tambahan,” sela Sarah cepat, berusaha membesarkan hati muridnya.

“Benar, Ali. Sekolah juga punya program bantuan untuk murid yang kurang mampu. Masalah biaya sekolah, jangan kamu jadikan alasan untuk mundur. Biar kami para guru yang bantu urus ke kepala sekolah,” tambah Tini, meyakinkan.

Ali mendongak, menatap Sarah dan Tini bergantian dengan pandangan tidak percaya.

“Apa benar begitu, Bu? Saya masih boleh kembali ke sekolah?”

“Tentu saja boleh, Ali. Ibu ke sini khusus untuk menjemput kamu. Ibu nggak mau melihat salah satu murid terbaik Ibu putus sekolah di tengah jalan, apalagi pas mau ujian nasional seperti sekarang. Tanggung, Ali. Tinggal sedikit lagi kamu lulus,” ujar Sarah sambil tersenyum hangat.

Ali mengusap air matanya yang sempat menetes dengan punggung tangannya. Kehangatan dan perhatian dari kedua gurunya meruntuhkan tembok keputusasaan yang sempat menguasai pikirannya selama sebulan terakhir.

“Tapi… pekerjaan saya di kios ini gimana, Bu? Pemilik kios sudah baik mau kasih saya kerjaan harian,” tanya Ali lagi, masih menyisakan sedikit keraguan.

“Kamu bisa bicarakan ini dengan pemilik kios. Kamu bisa tetap bantu di sini setelah jam pulang sekolah atau saat hari libur. Yang paling utama, pagi hari kamu harus ada di dalam kelas, belajar bersama teman-teman kamu. Gimana? Kamu mau, kan, kembali sekolah?” tanya Sarah, mengulurkan tangannya di depan Ali.

Ali menatap uluran tangan Sarah. Setelah ragu beberapa saat, ia akhirnya mengangguk kuat dan menyambut tangan gurunya.

“Iya, Bu. Saya mau sekolah lagi. Saya janji akan belajar sungguh-sungguh buat ujian nanti,” ucap Ali dengan nada tegas penuh haru.

Sarah dan Tini saling berpandangan lalu tersenyum lega. Lelah karena harus kejar-kejaran menggunakan motor matic dengan kecepatan tinggi tadi seketika menguap tanpa bekas.

“Bagus! Kalau begitu, besok pagi Ibu tunggu kamu di kelas. Jangan sampai terlambat, ya!” seru Sarah bersemangat.

“Siap, Bu Sarah! Terima kasih banyak sudah mau nyari saya sampai ke sini,” jawab Ali, kini dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

Bab 2

Setelah berhasil membujuk Ali untuk kembali bersekolah, Sarah dan Tini berjalan kembali ke tempat motor matic mereka yang diparkir di depan pasar. Suasana pasar yang tadinya terasa sangat menegangkan bagi Sarah, kini terasa jauh lebih santai. Beban berat di pundaknya sebagai wali kelas seolah terangkat sebagian setelah melihat senyuman di wajah Ali.

Keduanya memasang helm masing-masing ke kepala mereka. Sarah naik ke atas jok kemudi, sementara Tini perlahan naik ke kursi penumpang di belakangnya. Kali ini, Sarah tidak lagi memacu motornya ugal-ugalan seperti saat mereka berangkat tadi. Ia menarik gas dengan sangat santai, membiarkan motor maticnya berjalan lambat membelah jalanan aspal yang lengang di daerah terpencil tersebut.

Di tengah perjalanan yang tenang itu, Tini tiba-tiba menggeser posisi duduknya. Ia memegangi perut bagian bawahnya sembari meringis kecil.

“Aduh, Sar… pelan-pelan juga dong lewat jalan yang berlubang itu. Ngilu banget ini,” keluh Tini dengan suara agak merintih.

Sarah melirik dari kaca spion motornya. “Kenapa lagi sih, Tin? Ini udah pelan banget lho. Perasaan jalannya juga nggak seberapa rusak dibanding pas berangkat tadi.”

“Jahitan bekas secarku, Sar. Ngilu banget rasanya sekarang karena tadi kamu bawa motornya kayak kesurupan pas berangkat,” sahut Tini sambil terus memegangi perutnya.

Sarah berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya di balik kaca helm. “Lebay banget, padahal kan udah tujuh bulan juga semenjak kamu melahirkan.”

Tini langsung menepuk pundak Sarah agak keras, membuat Sarah sedikit terkejut di atas motor.

“Heh, sembarangan kamu kalau ngomong! Makanya cepat nikah, terus hamil, terus melahirkan, biar kamu tahu sendiri gimana rasanya perut diiris-iris! Mau udah tujuh bulan juga kadang masih suka kerasa ngilu tahu!” omel Tini tidak terima.

Sarah mendengus geli mendengar omelan sahabatnya itu.

“Enteng banget itu mulut nyuruh orang nikah. Memangnya aku mau nikah sama siapa? Calonnya aja belum kelihatan batang hidungnya.”

“Ya makanya dicari, jangan ditungguin aja,” balas Tini dari belakang. “Lagian sebenarnya aku tuh heran banget sama kamu, Sar. Aku yang wajahnya pas-pasan dan biasa aja gini bisa dapat jodoh cepat. Nah, kamu yang mukanya bening, kulit putih, pintar lagi, kok lama amat dapat jodohnya? Umur udah dua puluh sembilan tahun tapi belum juga nikah. Kamu pasti banyak milih ya?”

“Enak aja!” jawab Sarah dengan nada tinggi, menolak tuduhan Tini. “Aku nggak banyak milih, ya. Belum dapat yang pas aja di hati.”

Tini tertawa kecil di balik helmnya. “Milih baju kali, Sar, harus dipaskan dulu ke badan baru dibeli.”

Mendengar analogi Tini, Sarah langsung memasang wajah serius. Walaupun matanya tetap fokus ke jalanan di depan, nadanya beralih menjadi lebih mendalam.

“Eh, Tin, nikah itu sekali aja seumur hidup. Tentu kita harus cari yang pas, satu visi, dan sepaham biar nanti nggak kawin cerai di tengah jalan. Memangnya kamu mau kalau rumah tangga hancur cuma karena kita terburu-buru nikah tanpa mikirin kecocokan?” kata Sarah membela prinsip hidupnya.

Tini menghela napas panjang, tampaknya malas jika harus berdebat soal filosofi pernikahan dengan Sarah yang terkenal idealis.

“Eh, udah, udah. Terserah kamu deh, Sar. Kita harus cepat balik ke sekolah sekarang. Jam kelima aku ada kelas soalnya, jangan sampai anak-anak terlantar karena gurunya telat masuk,” kata Tini yang tiba-tiba panik mengingat jam dinding digital yang sempat ia lihat di pasar tadi.

Sarah menggerutu kesal. “Tadi katanya suruh pelan-pelan karena perutnya ngilu, sekarang malah minta ngebut. Mau kamu apa sih, Tin?”

“Ya pelan tapi jangan kayak bebek jalan juga dong, Sar! Udah, cepetan ditarik itu gasnya. Pantesan aja kamu jomblo, lambat banget mutusin sesuatu!” ejek Tini sambil tertawa puas.

“Diem, ah! Bawel amat jadi orang!” ketus Sarah. Namun ia tetap menuruti permintaan Tini dengan menambah sedikit kecepatan motor maticnya.

Mereka kembali menyusuri jalanan lurus yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Jarak antara pasar dan sekolah mereka memang agak jauh, melewati batas wilayah kecamatan yang sepi. Namun, saat motor mereka hampir mencapai sebuah pertigaan besar yang menuju ke arah sekolah, Sarah memperlambat laju kendaraannya.

Dari kejauhan, nampak di ujung jalan ada rombongan polisi yang sedang berdiri di tepi jalan. Beberapa motor juga terlihat sedang diberhentikan di bahu jalan.

Melihat kerumunan aparat berseragam cokelat tersebut, Tini langsung menyenggol pinggang Sarah dengan bersemangat.

“Eh, Sar, lihat tuh di depan! Kali aja jodoh kamu salah satu polisi yang ada di situ,” goda Tini dengan nada bercanda.

Sarah melirik sekilas ke kerumunan polisi di depan lalu memutar bola matanya malas.

“Tin, jangan asal deh kalau ngomong. Mana tahu mereka semua itu udah pada punya istri atau minimal punya pacar. Tega apa kamu ngelihat sahabatmu ini dipanggil pelakor sama orang-orang?”

“Ya kali aja dari sekian banyak polisi itu, ada satu yang masih jomblo dan lagi nyari spek bu guru kayak kamu,” jawab Tini sambil terkekeh geli.

Namun tawa Tini mendadak terhenti ketika motor mereka semakin dekat dengan pertigaan. Ia menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan. Di sana terdapat papan plang berwarna merah yang diletakkan di tengah jalan.

“Eh, tunggu dulu, Sar… itu kok kayak lagi razia, ya?” tanya Tini dengan nada suara yang tiba-kira berubah cemas.

Sarah ikut mengamati situasi di depan dengan saksama. “Eh, iya, Tin. Lagi ada razia kendaraan kayaknya.”

Tini langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat ke telinga Sarah.

“Surat-surat kendaraan kamu lengkap, kan, Sar? STNK sama SIM aman?”

Suasana di atas motor mendadak menjadi hening sesaat. Sarah tidak langsung menjawab pertanyaan Tini. Tangannya yang memegang stang motor tiba-tiba terasa dingin, dan laju motornya semakin melambat secara drastis.

“Sar?” tegur Tini yang mulai menangkap gelagat aneh dari sahabatnya. “Kok kamu diam aja sih?”

“Aku… aku nggak punya SIM, Tin,” jawab Sarah dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

Mata Tini langsung membelalak sempurna di belakang Sarah. “Mampus! Bisa-bisanya kamu punya motor tapi nggak punya SIM, Sarah Aini!”

“Ya kan waktu di kota asal, aku jarang banget bawa motor sendiri, Tin! Biasanya naik angkutan umum atau ojek online. Pas pindah tugas ke sini baru beli motor matic ini,” bela Sarah yang suaranya terdengar panik.

“Lagian aku nggak tahu kalau di daerah terpencil kayak gini bakalan ada razia juga. Aneh banget, kota kecil gini masih juga ada razia polisi.”

“Razia itu ada di mana-mana juga, Sarah! Nggak mandang kota besar atau daerah terpencil!” keluh Tini dengan frustrasi. “Aduh, gimana ini? Mau putar balik juga udah nggak bisa, di belakang kita banyak kendaraan lain. Pasti langsung dicurigai sama polisi di depan.”

“Terus kita harus gimana, Tin?” tanya Sarah yang mulai berkeringat dingin. Jantungnya berdegup kencang seiring jarak mereka yang hanya tinggal belasan meter dari garis razia.

“Udah, berdoa aja sekarang supaya kita nggak diberhentiin sama mereka. Pasang muka yang tenang, jangan tegang kayak orang bersalah! Anggap aja kita ini warga lokal yang cuma mau lewat,” instruksi Tini, berusaha memberikan strategi instan.

Sarah mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia menegakkan punggungnya dan mencoba tersenyum sealami mungkin, berpura-pura tidak memiliki beban dosa apa pun terkait kelengkapan berkendara.

Namun, takdir tampaknya sedang tidak berpihak pada kedua ibu guru ini. Belum sempat mereka melewati barisan polisi pertama, seorang petugas berbadan tegap yang berdiri di tengah jalan mendadak menoleh ke arah mereka. Pandangan polisi itu mengunci pergerakan motor matic Sarah.

Priiiiiiit!

Suara peluit yang melengking nyaring seketika memecah keheningan di antara mereka. Polisi tersebut mengacungkan tangan kanannya, memberikan isyarat tegas agar Sarah mengarahkan motornya ke tepi jalan.

Sarah langsung lemas, sementara Tini di belakang hanya bisa menepuk jidatnya dengan pasrah.

Bab 3

“Selamat pagi, Bu.”

“Iya, selamat pagi, Pak,” jawab Sarah dengan sikap tenang, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mulai menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.

“Bisa dilihatkan surat-suratnya?” tanya polisi berompi hijau neon yang memberhentikan Sarah. Tangannya sudah memegang papan klip dan siap mencatat.

Sarah terdiam, sementara Tini di belakang sudah diam membeku, tidak berani menggeser posisi duduknya sedikit pun. Atmosfer di atas motor matic itu mendadak berubah menjadi sangat canggung.

“Maaf, Pak. Ketinggalan di sekolah tas saya,” jawab Sarah, mencoba memberikan alasan yang terdengar paling logis dengan senyuman sekilas.

Mendengar jawaban itu, pinggang Sarah langsung dicolek dari belakang oleh Tini dengan ketus. Tini mencondongkan badannya demi bisa berbisik pelan, namun tetap nadanya penuh penekanan.

“STNK juga kamu nggak bawa?” tanyanya memastikan.

Sarah sedikit menoleh ke belakang dan menggeleng lemah. “Aku cuma bawa ponsel di saku baju.”

“Terus kalau ada apa-apa di jalan, gimana? Nggak bawa uang juga,” omel Tini setengah berbisik, mulai gemas dengan kelalaian sahabatnya itu. Pikiran tentang keterlambatan masuk kelas jam kelima kini bertambah pelik dengan urusan tilang.

“Aku bawa uang cash, kok, dua puluh ribu. Bisalah buat isi angin atau tambal ban semisal bocor di jalan. Kalau bensin aku juga udah full,” jawab Sarah enteng, berusaha membela diri meski tahu posisinya sangat lemah di mata hukum saat ini.

Tini geram dengan temannya itu. Ia hanya bisa menghembuskan napas panjang sembari memutar bola matanya pasrah. Mengapa perjalanan pulang dari pasar setelah menemukan Ali harus berujung seperti ini?

Polisi yang memeriksa mereka tampak tidak terpengaruh dengan perdebatan kecil kedua ibu guru tersebut. Ia mencatat sesuatu di kertasnya lalu menunjuk ke arah sebuah area di dekat pertigaan jalan.

“Karena nggak bawa surat-surat, silakan ke posko sana ya, Bu. Didata dulu,” kata polisi itu dengan nada tegas namun tetap sopan.

Mau tidak mau, Sarah membawa motornya ke sebuah tenda besar yang berlogo polisi di pinggir jalan. Di sana mereka melihat beberapa orang pengendara yang juga sedang mengalami nasib serupa, berdiri mengantri sembari memegang lembaran surat tilang. Ada beberapa polisi juga dengan berbagai usia yang berjaga dan bertugas mencatat administrasi.

“Tambah satu lagi ini,” ucap polisi yang tadi memberhentikan mereka, menyerahkan data awal kepada rekannya yang berada di dalam tenda.

Sarah masuk dengan wajah ditekuk didampingi oleh Tini yang berjalan di sampingnya. Mereka berdua masih berdiri berdampingan, menunggu giliran karena orang sebelum mereka belum selesai didata oleh petugas.

“Aduh, Sar, ini kalau kita ketahuan kepala sekolah bisa panjang urusannya,” bisik Tini cemas, matanya melirik jam tangan yang terus berjalan.

“Udah, tenang dulu, Tin. Yang penting kita ikuti dulu prosedurnya,” sahut Sarah, walau sebenarnya hatinya juga tidak kalah berdebar.

Dari pinggir tenda, Sarah mengalihkan pandangannya untuk mengusir rasa jenuh. Matanya menangkap ada dua orang polisi yang sedang duduk berhadapan dan berbincang santai di balik sebuah meja kayu. Tampaknya mereka sedang beristirahat di sela-sela tugas razia.

“Makanya jangan jomblo terus,” ucap polisi yang badannya cukup berisi, menyenggol lengan rekannya dengan sikut sembari terkekeh.

Rekan polisi yang ada di hadapannya tertawa renyah saat mendengar ejekan temannya untuk dirinya sendiri. Suara tawa itu terdengar berat namun sangat familiar di telinga Sarah.

“Udah, aku lanjut tugas lagi,” ucap polisi itu dan langsung berdiri dari kursinya, membenarkan letak sabuk atribut di pinggangnya.

Sarah sempat mengernyitkan dahi saat mendengar suara polisi tersebut. Ada getaran nada yang membuat memori lamanya berputar kembali.

“Rasanya pernah dengar,” pikirnya, mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah berinteraksi dengan pemilik suara itu.

Dan tubuhnya seketika menegang saat polisi itu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap ke arah antrian. Langkah kaki pria berseragam itu mendadak terhenti. Tidak hanya Sarah yang terkejut, polisi tersebut melakukan hal yang sama. Matanya membulat menatap Sarah yang berdiri di tengah tenda. Namun bedanya, pria itu dengan cepat menguasai dirinya kembali dan mengubah ekspresi terkejutnya menjadi sebuah seringai tipis.

Pria itu melangkah maju dengan tegap, melewati beberapa pengendara lain, dan berhenti tepat di depan Sarah. Ia menatap dalam ke arah Sarah yang masih menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka karena syok. Seseorang dari masa lalunya kini berdiri tegap menggunakan seragam polisi lengkap.

Tini yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung melirik Sarah dengan penuh tanda tanya, namun Sarah terlalu kaku untuk merespons sahabatnya.

Pria itu menatapnya dengan wajah datar, seolah-olah sedang menginterogasi seorang pelanggar hukum yang sangat serius.

“Apa kamu sudah menikah?” tanyanya tiba-tiba tanpa basa-basi, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di tengah-tengah posko razia kendaraan.

Sarah berkedip beberapa kali, merasa pertanyaan itu sangat tidak nyambung dengan pelanggarannya yang tidak membawa SIM. Namun, ia tetap menggeleng.

“Belum.”

Sebuah ekspresi lega yang sangat kentara melintas di wajah pria itu selama sepersekian detik. Ia berdeham kecil, mencoba mempertahankan wibawanya sebelum bertanya lagi.

“Apa kamu punya pacar?” tanyanya, kali ini dengan tatapan yang lebih menuntut jawaban jujur.

Sarah kembali menggeleng, matanya masih menatap tidak percaya pada situasi absurd yang sedang dihadapinya.

“Tidak.”

Kembali sebuah senyuman lega langsung terukir jelas di wajah pria itu. Ketegangan di bahunya runtuh seketika. Ia juga tersenyum simpul, menatap Sarah dengan binar mata yang sangat berbeda dari beberapa detik lalu.

“Oke. Sekarang urus dulu urusan kamu,” katanya dengan nada yang jauh lebih ramah, sambil berlalu keluar dari tenda dengan wajah sumringah dan langkah yang tampak sangat ringan.

Sarah menatap kesal ke arah punggung polisi itu yang berjalan menjauh. Rasa malu, bingung, dan kesal bercampur aduk di dalam dadanya, membuat wajahnya memerah seketika.

Sementara Tini di sebelahnya mulai menahan senyum dan siap menghujaninya dengan ribuan pertanyaan mendalam. Sarah hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Kenapa bisa ketemu sama dia lagi sih,” gumamnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!