Namaku Nisya. Aku seorang Ibu dengan 3 orang anak. Aku dan suamiku menikah genap 10 tahun.
Awalnya pernikahan kami baik-baik saja. Aku dan suamiku hidup rukun dengan gaji cukup yang suamiku dapatkan, tapi setelah pernikahan tahun ke tiga suamiku mulai berulah.
Awalnya hanya mabuk-mabukan, lalu merembet ke permainan judi sampai akhirnya mulai bermain wanita. Aku yang mengetahui semua itu awalnya meminta cerai, tapi suamiku terus meminta maaf dan meyakinkan aku jika ia tidak akan mengulangi hal yang sama.
Aku yang saat itu sudah memiliki dua orang anak. Satu berusia tiga tahun dan satu lagi berusia lima bulan pun memaafkan kesalahan suamiku. Naif, iya! Aku mengalah disaat hati benar-benar merasa sakit atas penghianatan. Tapi, semua itu aku lakukan karna anak-anakku. Melihat keduanya masih teramat kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtua.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak akan mengulangi hal yang sama" Ucapnya pada saat itu. Aku menganggukkan kepala.
"Jangan berjanji. Aku hanya minta kamu membuktikan, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan pada anak-anak jika kamu tetap melakukan hal itu. Rasa sakit yang kamu kasih bukan hanya menimbulkan luka, tapi juga trauma secara psikis. Aku hidup dalam ketakutan jika hal itu akan terulang kembali" jawabku. Suamiku menundukkan kepala.
"Iya, aku janji akan membuktikannya sama kamu. Aku minta maaf sekali lagi" katanya menggenggam tanganku.
Setelah hari itu, semuanya kembali seperti semula. Tidak ada mabuk, tidak ada judi, juga tidak ada lagi chat-chat dari perempuan yang menjadi simpanan suamiku. Kami mulai menata hidup, bersama kedua anak kami pada saat itu. Hingga anak kedua kami berumur satu tahun, kami diberikan rezeki oleh Allah SWT. Kami mulai mengambil KPR Rumah yang Non-Subsidi.
"Alhamdulillah, kita bisa punya rumah sendiri. Walaupun masih cicilan, Insyaallah ini akan jadi jalan" kata Gani. Suamiku dengan senyum mengembang, aku membalas senyumnya.
"Aamiin... Ini rezeki anak-anak, semoga dengan adanya rumah ini kehidupan kita menjadi jauh lebih baik" kataku.
"Aamiin, Tapi aku minta maaf kalau cicilan rumah ini terlalu besar. Mungkin akan menguras uang gaji dan membuat kamu harus berhemat" kata Mas Gani.
"Aku sama sekali tidak masalah Mas, insyaallah sisanya akan aku cukupkan untuk keperluan kita."jawabku dengan senyuman.
"Terimakasih kamu sudah mau mengerti dan mau membantuku mengurus semuanya" katanya dengan senyum lembut.
"Sama-sama Mas. Sebaiknya sekarang kita bereskan pakaian anak-anak dan barang-barang yang lain, untuk sementara kakak Dila tidak apa-apa pakai kasur kecil dulu. Nanti kalau ada rezeki lagi baru kita belikan kasur yang agak besar" kataku sambil menyusun beberapa parabot di kamar anak pertamaku.
"Iya Insyaallah nanti Ayah akan sambil ngojek online biar kita ada tambahan pemasukan" kata Mas Gani dengan senyum mengembang.
Dari pukul sepuluh pagi hingga hari menjelang sore kami berupaya membereskan semua barang-barang ketempatnya masing-masing, sesekali aku berhenti untuk membeli makanan untuk kami atau menyusui anakku yang kedua.
"Kamu istirahat saja. Sisanya biar aku yang bereskan, ini tinggal masang gas aja sama nyapu ngepel biar rumahnya makin bersih" kata Mas Gani. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Kemudian, aku mengambil handuk dan membersihkan diri kedalam kamar mandi. Kedua anakku sudah mandi dan juga makan, kini keduanya berada di dalam kamarku yang sudah dingin karna Ac yang sudah di pasang sejak kemarin.
Setelah membersihkan badan, aku menghampiri keduanya di kamar. Aku membaringkan tubuh disamping kakak Adila yang tengah memainkan ponsel.
"Udah selesai ya bun?" tanya Adila dengan jelas.
"Udah... Kamu bosen jagain adik?" tanyaku sambil membelai kepalanya.
"Nggak lah bun, adik Hawa dari tadi tidur terus. Jadi kakak gak mau berisik, takutnya adik nanti bangun" jawabnya membuatku tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kakak Adila pintar ya jagain adiknya, kakak nanti kalau tidur sendiri dikamar sebelah berani nggak?" tanyaku.
"Berani dong bun, tapi nanti ditemenin dulu kan bun?" tanyanya. Aku tersenyum.
"Iya nanti Bunda temenin dulu kok, lagian di kamar kakak kan juga nyambung Ac nya. Pasti sekarang juga udah dingin kamarnya" kataku mengelus kepala Kakak Adila.
"Emang iya Bun? Kakak kira Ac nya cuma dipasang dikamar Bunda, terus nanti kakak pakai kipas angin" katanya membuatku terkekeh kecil.
"Ya nggak mungkinlah Bunda tega biarin Kakak pakai kipas angin sementara Bunda pakai Ac, kalau pakai kipas angin nanti pasti kakak gak nyaman tidurnya karna anginnya pasti kenceng banget" kataku.
"Iya nanti kakak masuk angin lagi kaya waktu itu pas Ac nya gak dingin" kata Adila.
"Iya makanya Ac nya bunda taruh di tengah biar kamar kakak juga dapat Ac nya, kan jadi sama-sama dingin kamarnya" kataku.
"Iya Bunda. Kakak ngantuk Bun..." katanya sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Nanti dulu ya sabar, sebentar lagi maghrib. Gimana kalau kita nonton tv aja di depan?" kataku mengalihkan agar rasa kantuknya berkurang.
"Boleh deh Bun, masih ada si kembar botak kan ya Bun?" tanyanya. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"masih kok jam segini, Ayok kita kedepan. Sebentar, Bunda pindahin adek dulu ke kasur kecil biar kita bisa ajak didepan. Kakak duluan ya, minta ayah gelarin karpet kita kita duduk gak langsung menyentuh lantai karna pasti dingin banget" kataku yang langsung di angguki oleh Adila.
Adila keluar dari kamar, aku memindahkan Hawa ke kasur kecil yang bisa di gunakan dimanapun. Kemudian keluar dari kamar dan melihat Adila sudah anteng duduk dengan menonton kartun kesukaannya.
"Ayah kemana Dil?" tanyaku.
"Tadi katanya Ayah mau mandi dulu Bun, Oiya kata Ayah malem ini kita mau makan apa?" tanya Adila.
"Apa ya? Kamu mau makan apa malam ini?" tanyaku pada Adila.
"Apa ya Bun? Aku ngga tau, kan kita di sini juga baru jadi belum tau ada makanan apa yang dijual di sekitar sini. Gimana kalau kita jalan-jalan keluar aja nanti?" tanyanya.
"Jalan-jalan keluar? Duuuh, badan Bunda rasanya capek banget loh kak. Kita tungguin yang lewat aja gimana?" tanyaku membuat wajahnya menekuk.
"Udah nggak apa-apa, nanti kakak jalan-jalan keluarnya sama Ayah ya. Nanti kita cari makan kedepan" kata Mas Gani yang sudah berada didekat kami.
"Emang nggak jauh Mas tempatnya?" tanyaku.
"Nggak kok, cuma dibunderan itu loh. Kataya sih, biasanya kalau sore disana itu banyak yang buka jualan. Tadi kamu liatkan kalau sepanjang jalan dibunderan itu banyak ruko-ruko, nah itu katanya jualan macem-macem. Ya kaya semacem jajanan pinggir jalan begitu" kata Mas Gani. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Yasudah kalau begitu nanti kamu keluar sama Ayah aja habis maghrib ya?" kataku pada Adila yang langsung dijawab anggukkan kepala semangat.
"Oke Bunda... Tapi.. Nanti Kakak boleh jajan kan?" tanyanya membuatku memutar bola mata malas.
"Boleh aja.... Minta dengan Ayah" jawabku sambil tertawa.
"Yeee kok minta sama Ayah sih" kata Mas Gani dengan bibir mengerucut.
"Ya iyalah, kan Ayah yang ngajakin kakak beli makanan" kata Adila yang semakin membuatku membulatkan mulut, kemudian tertawa.
"Ahahaha tuh Mas dengerin apa yang anak kamu bilang" kataku menertawakan Mas Gani dengan bibirnya yang mengerucut.
"Iya iya deh terserah kakak aja. Tapi nggak boleh banyak-banyak loh ya, nanti kita liat juga di sana ada jajanan apa aja. Kakak cuma boleh beli satu atau dua, dan sebelum jajannya dimakan kakak harus makan malam dulu" kata Mas Gani.
"Tapi tadi kan aku udah makan Ayah" katanya.
"Beda lagi lah, itu kan tadi makan siang yang terlambat. Kalau sekarang ya makan malam beneran" kata Mas Gani yabg tidak mau kalah.
"Yaudah kalau begitu. Tapi nggak banyak-banyak ya Ayah, nanti keburu kenyang malahan nggak jadi kakak makan jajannya" Kata Adila membuatku terkekeh dengan setiap perkataannya.
"Iya iya nanti kita beli yang sedikit porsi buat kamu. Oiya Bun... Kulkasnya udah nyala ya, besok Bunda bisa belanja buat bahan masakan."kata Mas Gani.
"Iya Mas... Besok aku akan cari tukang sayur yang lengkap biar bisa nyetok bahan makanan dikulkas" jawabku dengan senyum mengembang.
"Iya.. Tapi....."
Bersambungggg.
****
Halooooo selamat beraktifitas, selamat datang kembali di dunia kepenulisan setelah lama sekali fakum karna mengurus baby newborn. Insyallah kali ini aku akan fokus ya guys, mari kita saling mendukung dengan memberikan kritik dan saran ya guys ya...
Jangan lupa juga Like, komen, vote dan juga share kalau kalian suka dengan cerita aku.
BTW... Cerita ini mungkin reality ya guys, jadi kalau ada dari kalian yang mengalami atau mempunyai kisah hidup yang sama kaya novel ini boleh share ke outhor ya... Bisa chat Atau DM ke Ig ya😊🙏
Happy readiiinggggggg😊😊😊😇🥰
"Iya Mas... Besok aku akan cari tukang sayur yang lengkap biar bisa nyetok bahan makanan dikulkas" jawabku dengan senyum mengembang.
"Iya.. Tapi... Apa uang kita cukup sampai nanti Ayah gajian lagi Bun?" tanya Mas Gani dengan wajah khawatir.
"Mas nggak usah khawatir, Insyaallah cukup kok. Mas kan gajian tinggal sepuluh hari lagi, uang yang ada di Bunda cukup kok untuk kita sepuluh hari kedepan. Lagian bulan ini nanti kan kita belum mulai bayar uang cicilan kan? Kita bayar di bulan depan, jadi kita bisa mulai berhemat mulai bulan ini biar nanti kita tidak keteteran. Cicilan tiga juta perbulan itu lumayan besar Mas, jadi kita harus pintar-pintar membagi gaji kamu sampai bisa menutup semuanya" kataku menenangkan Mas Gani yang terlihat khawatir.
"Bener bun, tapi semua aku serahin ke kamu ya. Aku bisa pusing sendiri kalau ngurusin soal uang dan rumah, mudah-mudahan kamu bisa kelola uang gaji aku yang nggak seberapa itu" kata Mas Gani membuatku tersenyum.
"Insyaallah Mas, tapi selama ini alhamdulillah gaji kamu selalu lebih dari cukup untuk kita. Buktinya kita bisa ambil rumah yang cukup besar ini kan?" kataku dengan senyuman.
"Iya.. Tapi kali ini beda, kan kali ini cicilannya juga besar. Belum lagi untuk cicilan motor kita, terus listrik rumah ini, belum kebutuhan Adila dan Hawa, belum kebutuhan kamu. Nanti kedepannya juga Adila akan sekolah, pasti perlu biaya tambahan" kata Mas Gani.
"Mas... Setiap anak itu punya rezekinya masing-masing, kalau kemarin-marin gaji kamu lebih dari cukup untuk kita karna kita masih mengontrak. Insyallah kali ini Allah SWT pun akan cukupkan gaji kamu untuk kita, meskipun tidak lebih tapi aku yakin Allah SWT tidak akan membiarkan kita kekurangan" kataku dengan senyum lembut.
"Masyaallah... Beruntungnya aku dapat istri seperti kamu Bun... Terimakasih ya sudah mau memberikan Ayah kesempatan waktu itu, Ayah nggak tau apakah Ayah akan mendapatkan wanita sebaik kamu ketika Ayah kehilangan kamu saat itu" kata Mas Gani.
"Yang lalu biarlah berlalu Mas, kita tidak perlu mengingat nya lagi. Aku sudah bersyukur kalau kamu sudah mau berubah dan semoga kamu tidak kembali ke jalan yang salah" jawabku dengan senyum kecil.
"Iya.. Aku janji nggak akan ngelakuin hal itu lagi. Udah Adzan, Ayo kita sholat maghrib. Ayo kakak" kata Mas Gani mengajak kami untuk sholat berjamaah.
Kami bergantian mengambil Air wudhu, kemudian kembali keruang tv untuk sholat setelah aku gelarkan sejadah dan aku siapkan keperluan sholat mereka sebelumnya.
Setelah selesai sholat, Mas Gani mengajak Adila untuk membeli makan malam. Aku berdua dengan Hawa dengan pintu yang sedikit terbuka.
"Ayo kak kita beli makanan sama jajan, sekalian kita lihat-lihat daerah sini. Kayanya banyak jajan yang akan kamu suka deh" kata Mas Gani tersenyum penuh arti pada Adila.
"Ayo ayo Ayah... Kakak udah nggak sabar buat jalan-jalan, tapi Ayah... Kayanya di sini sepi banget loh Ayah" kata Adila.
"Nggak kok, kata siapa sepi? Di sini rame kok, cuma kan sekarang lagi musim liburan makanya mungkin orang-orang lagi nggak dirumah. Oiya rumah kita ini deket banget sama masjid, sekolah TK dan juga sekolah SDN loh. Jadi kalau kita tinggal di sini, nggak perlu jauh-jauh kalau cari sekolah. Masih dilingkungan kita juga, kecuali sekolah SMP sama SMA ya udah di luar dari lingkungan kita. Tapi masih deket juga, masih di dalam komplek" kata Mas Gani membuatku berbinar senang.
"Kalau begitu, berarti di sini udah ada minimarket dong Ayah? Udah ada supermarket buat belanja kebutuhan kita?" tanyaku pada Mas Gani yang tengah bersiap menggunakan jaket.
"Kalau supermaket kayanya belum ada Bun... Kita harus keluar perumahan buat ke supermarket, tapi kalau minimarket ada di depan yang dideket bunderan itu juga. Pas jalan tadi, Bunda nggak engeh ya ada minimarket?" kata Mas Gani yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"Nggak, aku nggak engehin kalau ada minimarket tadi. Kalau tukang sayur itu jauh nggak ya Mas?" tanyaku.
"Kalau itu... Ayah juga kurang tau ya Bun" katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yasudah kalau begitu besok aku cari sajalah.. Mudah-mudahan ngga jauh dari sini ada tukang sayur, Masa iya komplek seluas ini ngga ada tukang sayur" kataku di angguki Mas Gani.
"Mungkin ada Bun, tapi keliling gitu..." jawabnya. Aku membenarkan dalam hati.
"Kalau begitu kita sekarang ke supermarket aja Mas, kita cari supermarket buat beli Ayam, ikan, daging-dagingan atau frozenan. Biar nanti kalau ada tukang sayur itu tinggal beli sayur freshnya" kataku yang langsung berdiri setelah memberikan ide untuk berbelanja malam itu juga.
"Hah? Yang bener kamu bun? Kamu ngga capek emang, kita belum tau loh supermarket itu jauh atau nggak dari perumahan ini" kata Mas Gani.
"ck... Sekarang Ayah cek di google, cari lokasi supermarket terdekat dari lokasi kita atau cari pasar terdekat. Nggak apa-apa kita cari sekarang, biar sekalian capeknya. Sekalian kita beli makan malam atau makan diluar" kataku yang langsung masuk kedalam kamar dan berganti pakaian. Mas Gani pun menganggukkan kepala terpaksa.
"Iya iya baiklah kalau begitu" katanya sambil membuka ponsel dan mencari yang aku perintahkan.
"Nah.. Ada supermarket dan juga pasar tradisional yang letaknya berhadapan nih Bun.. Gimana?" tanya Mas Gani.
"Nah.. Kebetulan tuh, kalau gitu kita ke supermarket dulu buat cari frozenan dan bumbu-bumbu instan habis itu kita ke pasar tradisionalnya untuk beli perdagingan dan juga bumbu mentahnya. Gimana Mas?" tanyaku.
"Tapi... Emang nggak apa-apa bun? Nggak kasian sama anak-anak?" tanya Mas Gani.
"Mas, kita sebentar aja kok. Cuma beli bahan-bahan yang kita perluin selama seminggu aja, nggak lama-lama. Adila pasti seneng kalau jalan-jalan, iyakan kak?" kataku yang meminta persetujuan Adila.
"Boleh bun... Tapi... Adila nanti es krim ya" kata Adila yang langsung aku acungi jempol.
"Okelah kalau begitu, Ayo kita jalan" kata Mas Gani. Aku langsung menggendong Hawa dalam dekapanku setelah membawa dompet dan memakai kerudung instan.
Mas Gani mengunci pintu dan membuka gerbang rumah, aku menunggu didepan. Memang perumahan ini tergolong sepi jika malam, untungnya masih tertolong dengan adanya masjid yang lumayan besar yang hanya berjarak dua puluh meter dari rumahku.
"Di sini beneran sepi ya Ayah? Liat deh, kesana aja sepi banget. Di sini ketolong sama Masjid itu makanya keliatan agak ramai" kataku pada Mas Gani sambil menunjuk jalan yang berada di gang rumah.
"Iyaa.. Kesana itu ada Tk sama SD yang aku bilang tadi, deketkan?" kata Mas Gani. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Lumayan deket sih, kakak nanti kalau mulai sekolah bisa lah jalan sendiri ya?" kataku pada Adila yang duduk didepan Ayahnya.
"Boleh aja... Kan nanti pasti ada temannya Bun, nggak mungkin kan kakak cuma jalan sendirian" kata Adila.
"Iya... Pinter banget kakak, tahun depan ya kakak sekolah?" tanya Mas Gani pada Adila yang menganggukkan kepala.
"beberapa bulan lagi juga udah bisa ikut sekolah kok Mas, kan sekarang Adila udah empat tahun." kataku.
"Nanti masuk SD nya terlalu cepat atau nggak kalau masuk Tk nya sekarang?" tanya Mas Gani di sela perjalanan.
"Nggak sih Mas, hitungan aku itu kalau Adila sekolah tahun ini nanti dia masuk ke Sd nya itu sekitar enam tahun enam bulan. Udah cukup untuk masuk SD untuk di daerah kaya disini" kataku.
"Kalau begitu kamu atur aja Bun... Aku ikut aja apapun keputusan kamu, aku serahin semua urusan rumah dan anak-anak sama kamu. Aku percaya kamu pasti berikan yang terbaik untuk mereka" kata Mas Gani membuatku tersenyum lembut.
"Tentu saja Mas, aku nggak mungkin asal-asalan memberikan pendidikan untuk anak. Aku udah lama memikirkan kapan Adila harus mulai sekolah, kapan umur yang pas" kataku dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah kalau begitu, nanti Mas akan usahakan biayanya. Kamu ngga perlu khawatir" kata Mas Gani. Aku tersenyum.
"Iya... Aku percaya!" jawabku.
Bersambungggg.
****
Haloooo novel udah bisa di cari ya guys. Jangan lupa like, komen, vote dan juga share ya😊🙏 aku tunggu kritik kalian, ingat ya aku ngga pernah baper sama semua kritik kalian asal kalian juga bisa jaga bicara kalian kalau mengkritik😊🙏
"Tentu saja Mas, aku nggak mungkin asal-asalan memberikan pendidikan untuk anak. Aku udah lama memikirkan kapan Adila harus mulai sekolah, kapan umur yang pas" kataku dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah kalau begitu, nanti Mas akan usahakan biayanya. Kamu ngga perlu khawatir" kata Mas Gani. Aku tersenyum.
"Iya... Aku percaya!" jawabku.
Dalam perjalanan itu hanya ada kehangatan, Adila terus tersenyum sepanjang jalan. Bahkan sesekali dia menunjuk sebuah stand yang ingin ia coba.
"Ayah liat disana ada mochi, Kakak mau mochi" katanya menujuk salah satu stand mochi di bundaran perumahan tempat kami tinggal.
"Iya nanti kita beli ya pas arah pulang, sekarang kita kepasar dulu temani Bunda beli keperluan rumah" kata Mas Gani pada Adila yang langsung di jawab anggukkan.
"Ternyata di sini udah rame juga ya Mas" Kataku.
"Iya, kan aku udah bilang kalau di sini itu udah ramai. Mungkin emang pas di blok kita aja yang udah sepi" kata Mas Gani.
"Iya ya. Mungkin karna ini bukan perumahan baru kali ya Mas, ini kan perumahan lumayan lama juga. Terus mungkin pemiliknya juga sudah agak tua" jawabku.
"iya.. nah kalau didepan depan ini kayanya penghuninya masih agak muda, makanya masih banyak anak-anak kecil. Atau mungkin ini cucu-cucu dari pemilik rumah yang anaknya tinggal bareng" jawab Mas Gani. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Sambil bercengkrama, tak terasa kami sudah sampai di supermarket yang letaknya tidak begitu jauh dari perumahan.
"Alhamdulillah... Ternyata yang jauh itu keluar gerbang perumahannya, setelah keluar dari perumahan mah semuanya deket ya. Ada klinik, ada pasar, ada supermarket, ada juga minimarket" kataku yang di angguki Mas Gani.
"Iya Bun.. Mas juga baru tau kalau keluar dari perumahan lewat jalur depan itu sejauh itu, lumayan lah ya ada dua kilo meter mah" kata Mas Gani sambil memarkirkan motor di halaman supermarket.
"Iya Mas bener, nanti ke pasar parkirnya di sini dulu aja Mas. Kayanya lebih aman karna ada penjaganya" kataku.
"Iya, lagian ngga mungkin kita bawa-bawa belanjaan ke dalam pasarkan. Pasti berat, apalagi nanti kita bawa belanjaan dari pasar juga" kata Mas Gani.
"Iya Mas, Ayo masuk" kataku sambil menggandeng Adila.
"Ayah... Gendong" kata Adila yang sudah berada didepan Mas Gani.
"Yaampun, udah gede kok minta gendong sih" kata Mas Gani, namun tetap menggendong Adila yang memang sudah lumayan berat.
Kami langsung menuju stand frozen, tanpa membuang waktu. Aku memilih beberapa sosis dan naget kesukaan Adila, juga beberapa frozen food lainnya masing-masing satu bungkus.
"Sepertinya ini aja udah cukup Mas, malahan terlalu banyak" kataku pada Mas Gani yang membawa troli belanja dengan Adila didalamnya.
"Yasudah ayok kita ke kasir" kata Mas Gani sambil mendorong troli itu menuju kasir.
Setelah selesai berbelanja di supermarket, kami menuju pasar tradisional yang letaknya tepat berhadapan dengan supermarket itu.
"Kamu masuk sendiri berani ngga Bun? Ayah sama anak-anak tunggu di warung bakso itu, biar ngga kemalaman" kata Mas Gani. Aku terdiam sebentar.
"Boleh Mas, aku nggak lama kok. Beli beberapa lauk dan juga perbumbuan aja habis itu udahan, jangan lupa pesanin Bunda ya?" kataku sambil menyerahkan Hawa pada Mas Gani yang sudah siap menerima.
"Iya.. kaya biasakan pakai mie putih sama bawang goreng aja?" tanyanya, aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Hati-hati ya bun" kata Mas Gani ketika aku mulai melangkah memasuki pasar.
Di dalam pasar. aku membeli satu kilo ayam, satu kilo ikan mujair, satu kilo ikan lele, setengah kilo cumi-cumi, setengah kilo udang yang agak besar, satu kilo telur ayam, lima butir telur asin, satu kilo telur puyuh, setengah kilo cabai, dan satu kilo perbawangan. Tak lupa aku pun membeli bumbu dapur lengkap.
"Kayanya udah semua deh aku beli, untuk sayuran mendingan aku beli setiap hari aja di yang jualan nanti biar lebih fresh" gumamku sambil kembali mengecek barang belanjaanku.
Setelah di rasa semua lengkap, aku kembali menghampiri suami dan kedua anakku. Dalam waktu empat puluh lima menit, aku kembali. Disana, Adila tengah menikmati bakso yang hampir habis. Sementara Mas Gani masih menggendong Hawa yang tertidur di pangkuannya.
"Huh... Capek juga belanja buat stok kaya gini ya, biasanya juga nyetok tapi ngga secapek ini" kataku di hadapan Mas Gani.
"Mungkin karna hari ini kita sudah full beberes setelah pindahan Bun.. Makanya capeknya berasa berkali-kali lipat" kata Mas Gani.
"Bener juga... Eh, kamu udah makannya Mas?" tanyaku yang tidak melihat ada mangkuk di hadapan Mas Gani.
"Belum.. aku baru pesan untuk Adila aja, nunggu kamu lah. Kan ngga tau seberapa lama kelarnya" kata Mas Gani.
"Yaudah kalau gitu aku pesen ya, kamu kaya biasa kan?" tanyaku yang dijawab anggukan oleh Mas Gani. Aku pun memesan dua porsi bakso yang satu campur yang satunya sesuai selera aku, tak sampai sepuluh menit bakso pun terhidang. Aku dan Mas Gani menikmati makanan kami dengan Hawa yang masih dalam pangkuan Mas Gani.
"Ayah nanti kita jadi kan beli mochi pulangnya?" tanya Adila. Mas Gani yang tengah mengunyah makanan pun menganggukkan kepala.
"Iya nanti kita beli" jawab Mas Gani setelah berhasil menelan makanannya.
Lima belas menit kami pun selesai makan, tepat pukul setengah sembilan kami melaju pulang. Sebelum sampai rumah, kami mampir di bundaran perumahan. Ternyata semakin malam justru semakin ramai pedagang.
"Banyak banget tukang jajannya ya?" kataku yang juga di angguki Mas Gani.
"Iyaa Bun... Ramai banget, kaya pasat BKT itu ya jadinya?" kata Mas Gani.
"Iya loh Mas, ini sih kalau ngga masak gampang aja cari makanan ya" kataku dengan senyum mengembang.
"Iya. tuh liat disana ada nasi padang, ada sate, ada ketoprak, ada nasi goreng, bakso... Lengkap bun" kata Mas Gani membuatku menganggukkan kepala.
"Ayah... Itu penjual mochi nya, ayo kesana yah..." kata Adila dengan semangat. Kami pun menghampiri penjual itu dan melihat list harga yang terpampang jelas di sebelahnya. Ternyata harganya sudah perpaket dan tidak dijual satuan.
"Harganya lima belas ribu untuk empat pich ini kak" kataku pada Adila.
"Nggak apa-apa kan Ayah? Empat pich kan bisa buat besok juga, tinggal taruh di kulkas" kata Adila yang di angguki Mas Gani.
"Iya boleh.. Bun, beli ya..." kata Mas Gani memberikan uang pribadi nya padaku.
"Kalau begitu kita beli dua pack ya, ini satu pack uangnya dari Ayah nah Bunda juga belu satu pack. Jadi kita bisa taruh di kulkas buat stok, gimana?" kataku membuat Adila senyum dengan mata berbinar.
"Mau banget Bun... Makasih ya Bunda" kata Adila yang langsung memilih rasa mochi kesukaannya.
"Udah ya.. Kita campur aja" kataku yang pada akhirnya di angguki Adila.
Setelah selesai membeli mochi, tak lupa aku mampir membeli kue pancong kesukaanku dan Mas Gani semenjak kami pacaran.
Setelah selesai membeli dua makanan itu, kami kembali kerumah. Sampai rumah, aku meletakkan belanjaan itu di dapur dan membaringkan Hawa yang sudah tertidur di dalam kamar.
"Kakak, cuci tangan cuci kaki dan sikat gigi ya kalau udah selesai?" kataku pada Adila yang tengah memakan satu mochi coklat.
"Iya Bunda..." jawabnya setelah menghabiskan satu mochi itu, kemudian ia pun berjalan menuju kamar mandi di bagian belakang yang berdekatan dengan dapur.
Sambil membereskan belanjaan, aku memperhatikan bagaimana dia cuci tangan dan juga menyikat giginya.
"Mana Adila Bun?" tanya Mas Gani yang sudah berada di sampingku.
"Itu lagi sikat gigi, Hawa udah pules tidurnya?" tanyaku sambil menyiapkan tupperware untuk tempat di dalam kulkas.
"Ini mau kamu cuci langsung Bun?" tanya Mas Gani.
"Iya Mas, biar langsung bersih taruh dikulkas. Tadi aku juga udah beli jeruk nipis buat marinasi ini supaya bau nya seger" kataku.
"Aku bantu ya? Kamu bersihin itu di wastafel, aku bersihin di kamar mandi. Biar cepat dan kita bisa langsung istirahat" kata Mas Gani. Aku tersenyum.
"Iya Mas. Makasih ya..." kataku.
"Ayah.. Bunda... Aku udah selesai cuci tangan sama sikat giginya, aku tidur ya?" kata Adila.
"Iya sayang... Kamarnya udah dingin kok, tadi Ayah udah nyalahin Ac nya. Kamu tidur sendiri nggak apa-apa kan? Ayah bantuin Bunda dulu bersihin belanjaan" kata Mas Gani.
"Nggak apa-apa Ayah, tapi pintunya aku buka ya? Kakak belum berani tidur sendiri" kata Adila membuatku dan Mas Gani terkekeh kecil.
"Iya nggak apa-apa kok, buka aja pintunya. Nanti kalau udah selesai Ayah temani kakak kok" kataku.
"Aku tidur ya Ayah.. Bunda" katanya sambil berlalu menuju kamarnya sendiri.
"udah besar anak kita ya Bun..."
Bersambuungggggg
****
Haalooo... Ayo dukung novel ku ya guys, aku butuh support kalian semua. Aku nggak masalah view tiap harinya sedikit asal terus berkembang, di banding view stuk di minim. Jujur, itu sangat menyakiti hati penulis seperti outhor😊🙏
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!