Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Episode 1 Saling Ejek.

Pagi itu, langit masih berwarna biru muda ketika gerbang SMA Negeri mulai dipadati para siswa. Satu per satu sepeda motor memasuki area parkir dengan suara klakson terdengar begitu berisik.

Sementara beberapa siswa yang berjalan kaki terlihat tergesa-gesa karena takut terlambat. Suara klakson kendaraan, sapaan antarteman, dan pengumuman dari pengeras suara sekolah bercampur menjadi satu, menciptakan suasana pagi yang riuh dan penuh kehidupan.

"Hey, suara motor knalpot kamu besok jangan seperti ini lagi!"

"Ampun-ampun pak!" salah satu murid pria tertangkap guru yang tampak mengawasi gerbang sekolah yang saat ini menjewer telinganya di saat knalpotnya diubah dengan suara yang berisik mengganggu ketenangan para murid.

"Sekolah tempat belajar bukan untuk bergaya!" tegas guru tersebut semakin mengeraskan jewerannya

"Iya-iya, pak!" sahut pria itu dan kemudian izinkan untuk masuk.

"Ayo cepat, 3 menit lagi bel akan berbunyi. Baju kamu di rapikan!"

"Jangan diperlihatkan poninya jika memakai hijab!"

Sejak tadi guru pria itu sembari memegang rol panjang berbahan kayu tampak mengawasi para siswa-siswi yang memasuki sekolah.

Kelakuan anak SMA yang masih labil memang tidak pernah lepas dari namanya yang tidak menaati peraturan sekolah.

"Selamat pagi bapak tampan!" salah satu murid tampak centil memberikan ucapan selamat.

"Selamat pagi, jangan lupa langsung ke kelas ya!" ucap Pak Budi.

"Siap, Pak!" jawab beberapa siswa serempak.

Jika murid-murid SMA Negeri 1 Cendrawasih sudah mulai buru-buru memasuki sekolah sebelum mendapat masalah karena terlambat.

Lain dengan tiga gadis dengan menggunakan seragam putih abu-abunya, menaiki motor mereka masing-masing tampak berkendara dengan berjejer seolah-olah atau milik nenek moyang mereka.

"Pak Budi hari ini piket, kita bisa terlambat dan akan dihukum!" Chika sudah mulai panik dengan mengendarai motornya yang berada di sebelah kiri.

"Benar, aku tidak ingin membersihkan toilet yang baunya minta ampun," sahut Chaca berkendara di sebelah kanan.

"Tidak boleh panik saat berkendara, kita tidak akan sampai ke sekolah dan yang adanya kita hanya akan memperburuk keadaan," sahut Celia yang berada di tengah-tengah keduanya.

"Lihat penantian kita sudah di depan mata, kita harus bersiap tepat waktu sampai!" lanjut Celia melihat pada lurusan sekolah tersebut tampak di SMA mereka sudah berada di depan mata dan banyak kemungkinan bahwa mereka tidak akan terlambat.

"Siap!" sahut Chika dengan menundukkan kepala seolah-olah ingin bersama-sama lebih melajukan motor mereka.

Tin-tin-tin-tin-tin

Ketiga gadis tersebut tampak kaget dan bahkan mendadak merem dan untung saja masih bisa mengendalikan kondisi yang membuat motor mereka tidak tersungkur.

2 mobil mewah melewati mereka yang membuat tiga perhatian gadis cantik itu melihat ke arah mobil berwarna hitam dan merah merona itu.

"Jalan bukan punya nenek moyang kalian!" seorang pria tampak membuka jendela kaca dan memberi ejekan kepada mereka.

"Huhhhhh, ini jalanan juga bukan punya kalian!" teriak Chika.

"Issss mentang-mentang punya mobil," umpat Celia.

"Sudah-sudah, waktu kita hanya tinggal 2 menit lagi. Ayo buruan!" Chaca mengingat bahwa mereka sudah mengabaikan sisa waktu mereka untuk hal yang tidak penting dan akhirnya ketiga murid itu kelempangan dengan melajukan motornya dengan kecepatan sampai tidak terkendali.

"Pak buka!" teriak Celia saat Pak satpam menutup gerbang sekolah dan motor mereka tidak sempat memasuki area sekolah.

"Heh, heh, kalian ini, main terobos-terobos aja, bagaimana jika gerbang sekolah roboh karena tertabrak motor kalian!" Pak Budi tampak sudah tidak sabar ingin memberi hukuman kepada tiga murid itu.

"Pak baru juga lewat 10 detik!" sahut Celia.

"Tidak ada alasan, ayo cepat turun dari motor, lewat 1 menit 2 menit 1 detik bahkan lewat sekian-sekian detik juga tetap saja harus dihukum karena terlambat!" tegas pak Budi.

"Yahhhhhh," sahut ketiganya tampak lemas dan tidak bersemangat yang mendapat hukuman dari guru piket yang dikenal begitu galak.

"Pak kita jangan dihukum dong, kita harus mengikuti pelajaran Bu Raya," sahut Celia dengan suaranya yang tampak lesu dengan penuh harapan agar guru piket tidak memberi hukuman kepada mereka.

"Celia, jika tidak ingin ketinggalan pelajaran, maka kamu seharusnya bangun lebih pagi agar tidak terlambat ke sekolah. Ingat sekolah ini memiliki peraturan dan pantang untuk dilanggar tidak terkecuali murid paling pintar di sekolah ini termasuk kamu!" tegas pak Budi.

"Pak nanti kita traktir makan ayam Richeese deh, kalau tidak makan seblak," sahut Chaca.

"Hey, tidak ada penyogokan bagi saya, saya adalah guru yang taat aturan dan non korupsi!" tegas pak Budi.

"Sekarang kalian parkirkan motor kalian, kemudian ambil sapu dan bersihkan selokan dari ujung sini sampai ujung sana, bapak akan kembali lagi dan jika masih ada satu sampah maupun itu daun yang jatuh dari pohon, hukuman kalian akan ditambah!" ucap pak Budi sembari menunjuk pohon memberikan hukuman kepada tiga murid yang terlambat datang ke sekolah.

"Pak....." ketiganya serentak tampak tidak ingin melakukan hukuman yang diberikan oleh guru tersebut.

"Tidak ada toleransi cepat laksanakan sebelum pelajaran di les pertama kali yang berakhir!" tegas pak Budi kemudian langsung pergi.

"Pak, jangan gitu dong pak!"

"Pak!"

Mereka tanpa komplain terhadap Pak Budi yang tidak dipedulikan oleh Pak Budi yang sudah memasuki area sekolah dan menyerahkan untuk mengawasi hukuman pada ketiga murid tersebut kepada satpam.

"Guys, ayo buruan kita kerjain, kita bisa ketinggalan pelajaran Bu Raya nanti!" Celia tidak memiliki waktu untuk protes.

"Pak bantu masukin motor!" titah Celia meminta tolong kepada satpam dan untung saja satpam ingin melakukannya dan Celia kemudian mengambil sapu lidi, kerokan sampah dan alat lainnya dengan membagikan kepada teman-temannya.

"Ayo-ayo cepat kerjakan!" ucap Celia menarik kembali semangat kedua temannya yang tampak lesu.

"Issss, menyebalkan sekali harus membersihkan selokan seperti ini, bau," keluh Chaca terlihat mengambil sampah dari dalam selokan.

"Namanya juga kita terlambat ke sekolah, jadi otomatis kita akan mendapat hukuman," sahut Celia.

"Itu pasti gara-gara mobil tadi, coba saja kalau pengemudinya tidak membuat kita kaget dan otomatis kita tidak akan terganggu konsentrasinya dan akan datang tepat waktu ke sekolah," sahut Chika.

"Benar, mobil itu yang menjadi pelaku utamanya," sahut Celia ikut-ikutan kesal.

"Wah, SMA Negeri memang terbiasa harus menggunakan sebagian murid untuk membersihkan lingkungan sekolah!" Chika, Chaca dan Celia melihat ke arah suara tersebut dan terbuka beberapa murid SMA Bintang yang disebrangan dengan SMA mereka.

SMA dengan gedung dan fasilitas bagaikan langit dan bumi. SMA Cendrawasih harus berhadapan dengan SMA Bintang dengan jarak aspal yang membentang.

SMA swasta yang dikenal mewah dengan murid-murid berasal dari kalangan orang kaya, memiliki fasilitas yang mewah dan menjadi musuh buyutan dari SMA Negeri cendrawasih.

2 wanita dengan kedua tangannya berada di dadanya tersenyum memberi ejekan, dua pria yang juga tertawa dan terlihat 1 pria tampan dengan wajahnya yang tampak dingin, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya dan melihat ke arah tiga gadis yang saat ini tampak direndahkan.

"Heh apa urusan kalian. Ini sekolah kami dan jangan iri!" sahut Celia.

"Hahhhhh, iri, heh sekolah kampungan, mana mungkin sekolah seperti kita harus iri dengan murid-murid kampungan seperti kalian," sahut wanita itu.

"Sembarangan ngomong kampungan!" Chaca seperti biasa paling mudah tersinggung tidak takut sama sekali menyeberang jalan dengan mengambil sapu ingin memukul 5 murid SMA yang mengganggu mereka.

Bersambung...

...Hay para pembaca setia, saya kembali memberikan karya terbaru saya, Besar harapan saya kalian menyukai karya saya dan karya ini bisa booming dan disukai banyak pembaca....

...Jangan lupa terus mendukung karya-karya saya, sedikit banyaknya yang kalian berikan kepada saya menambahkan motivasi saya untuk terus berkarya....

...Jangan Pernah menabung bab untuk membaca karena setiap episode akan ada hal yang menarik....

...Saya ucapkan terima kasih salam cinta dari saya Author ........

Episode 2 Kesal

"Celia mereka mencari gara-gara!" Chika juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.

"Heh tunggu!" Celia jika tidak ingin kalah, ingin mempertahankan nama sekolahnya yang telah di injak-injak oleh SMA tersebut.

"Apa tadi Lo bilang hah!" Chika sudah mengangkat tangannya yang ingin memukul langsung ke salah satu murid yang muridnya tampak tidak terkontrol.

"Sekolah yang membutuhkan siswanya untuk membersihkan lingkungan sekolah," jawab Kania tampak sampai menjawab.

"Heh jaga itu bacot, biarin kami membersihkan lingkungan sekolah daripada kalian, uang orang tua kalian tidak mampu membersihkan mulut karena dari perkataan kotor," sahut Celia dengan sewot.

"Apa lo bilang!" wanita tersebut tampak tidak terima.

"Apa hah!"

"Apa hah!"

Terjadi perang mulut di antara mereka dan bahkan hampir ingin saling serang satu sama lain baik laki-laki dan perempuan mulutnya sama saja.

Hanya saja seorang pria yang sejak tadi diam dengan ekspresi dasar yang tak lain adalah Alfian menjadi penonton dari kekacauan.

"Celia, Chika, Chaca!" suara pak Budi terdengar kuat bagaikan geledek yang menghentikan keributan tersebut membuat ketiga gadis itu menoleh ke belakang dan sementara musuh mereka tampak mengatur nafas.

"Ayo kembali!"

"Saya menyuruh kalian untuk membersihkan selokan dan bukan tawuran seperti itu! Ayo kembali!" teriak Pak Budi.

"Awas lo semuanya!" umpat Celia.

"Apa lo hah!" sahut Kania.

Celia dan kedua temannya berlalu dari hadapan ke lima murid itu dan kembali menghadapi Pak Budi yang saat ini mereka diceramahi oleh Pak Budi.

"Sudah pak tambah saja hukumannya sekalian membersihkan akhlak pak!" teriak Yogi.

"Benar pak, cewek alay," sambung Diego.

"Dia mulut lo!" Chika tidak sabar jika tidak menyambar omongan dari dua pria yang mulutnya seperti perempuan.

"Sudah cukup!" tegas pak Budi membuat mereka bertiga tampak menunduk.

"Ayo kita pergi!" ajak Alfian membuat teman-temannya tersenyum sinis dan kemudian mereka langsung pergi.

"Bapak menyuruh kalian untuk membersihkan selokan dan buka aduh bacot seperti itu!" tegas pak Budi.

"Mereka duluan pak, mereka mengejek kita karena membersihkan sekolah, mereka mengatakan sekolah kita kekurangan biaya," sahut Celia.

"Benar pak, mulut anak-anak swasta itu memang harus diberi pelajaran," sambung Chika.

"Apapun itu, seharusnya kalian bertiga sebagai murid-murid paling terpelajar dan seharusnya kalian itu bisa menjaga emosi dan jangan terpancing oleh mereka. Ayo kalian lanjutkan pekerjaan kalian sebelum Bapak menambah hukuman untuk kalian!" tegas pak Budi.

"Ahhhhhhhhhh!" ketiganya tampak kembali lesu.

******

Celia, Chika dan Chaca berada di kantin terlihat sedang menikmati Indomie kuah.

"Anak-anak SMA Bintang memang tidak bisa membayar guru budi pekerti agar mulut mereka di bimbing," ucap Chika terlihat menikmati pedasnya Indomie kuah tersebut.

"Sok mengejek kita, mereka saja di jam pelajaran bisa keluar sekolah yang artinya sekolah mereka tidak memiliki aturan, sudah pasti mereka berlima cabut dengan nongki-nongki," sahut Chaca.

"Memang tidak ada akhlak," Celia juga ikut kesal.

"Apalagi cewek itu yang bernama Valerie, rasanya aku ingin menarik rambutnya," sahut Valery

"Valery yang mana?" tanya Celia.

"Wanita yang mukanya culas itu yang kabar-kabarnya dia adalah kekasih dari Alfian Antara, yang merupakan ketua geng dari mereka," sahut Chika.

"Aku tidak mengenal mereka," sahut Celia

"Lihat ini, akun sosial mereka dan bahkan mereka memiliki akun Instagram untuk geng mereka!" Chaca tanpa semangat menunjukkan Celia.

"Wihhhhh, banyak juga followers mereka," Celia tampak tertarik stalking orang-orang tersebut.

"Ini hanya followers di grup mereka dan lihatlah akun sosial mereka masing-masing, followernya sampai puluhan ribu," Chaca juga memperlihatkan kepada Celia.

"Mereka artis atau influencer?" tanya Celia.

"Bisa dikatakan influencer yang sering membuat konten dan lihat saja followersnya begitu banyak, belum lagi mereka adalah orang-orang yang paling disegani di sekolah itu, orang tua mereka pada kaya raya, donatur terbesar di sekolah SMA Bintang," jawab Chaca memang paling update dari berita dari sisi apapun itu.

"Alah sudah ketebak sekolah orang kaya seperti itu untuk gaya-gayaan saja biar terlihat keren, otak mereka hanya seujung kuku, bisa dilihat tadi bagaimana mereka berbicara dengan sesuka hati mereka seperti orang tidak terpelajar," sahut Celia.

"Benar Celia, mereka hanya mengandalkan duit orang tua, alah paling juga di dalam sekolahnya murid-muridnya memiliki hobi pamer satu sama lain, terus saling bully," sahut Chika tidak kalah sewot jika sudah membicarakan murid-murid SMA Bintang.

"Kecuali Rafa...." sahut Caca

"Siapa Rafa?" tanya Celia.

"Dia itu sangat terkenal sebagai murid paling pintar di SMA Bintang, selain pintar dia juga juga sopan dan memiliki akhlak dan kamu tahu tidak dia seorang pelukis yang dan terlebih lagi agamanya juga sangat kuat," ucap Chaca menceritakan begitu excited.

"Benarkah," sahut Celia.

"Yes!" jawab Chaca.

"Ohhhhhh," sahut Celia.

"Hanya oh saja," sahut Chaca.

"Sudahlah selera makan kita akan berkurang jika membicarakan orang-orang seperti mereka, kita lanjutkan saja menikmati Indomie kuah yang benar-benar lezat ini," sahut Celia.

Jika Celia dengan gengnya kembali menikmati Indomie kuah yang menjadi makanan favorit mereka, lain dengan Alfian dan juga teman-temannya tampak nongkrong dengan minuman kaleng bersoda di atas meja.

"3 Wanita dari SMA Cendrawasih itu memang selalu heboh dan membuat berisik mana-mana," sahut Yogi.

"Kamu mengenal mereka?" tanya Valery.

"Gue sering melihat mereka nongkrong di jalan jendral Sudirman dengan pakaian mereka seperti jemuran warna-warni tidak jelas dan benar-benar cegil super alay," sahut Yogi.

"Suaranya saja cempreng," tambah Diego.

"Sudahlah anak-anak SMA Cendrawasih itu hanya iri dengan sekolah kita, lihat aja mereka selalu memakai motor yang super berisik, motor tanpa rangka, dengan warna yang tidak jelas dan sementara kita ke sekolah diantara sopir pribadi, menggunakan mobil mewah, sekolah kita juga memberikan fasilitas mewah kepada kita yang tidak bisa didapatkan anak-anak Cendrawasih," sahut Alfian sembari menghembuskan asap dari rokok elektrik yang telah dia hisap.

"Benar-benar kampungan, cara berpakaian benar-benar norak dan tidak tahu stylish, apa dia pikir ini zaman tahun 90-an dengan pakaian complang seperti itu," sahut Valery.

"Oh guise jangan lupa hari minggu besok kita harus datang lebih awal ke konser Exo," sahut Kania.

"Sudah pasti. Tiket VVIP yang sudah aku pesan satu bulan sebelumnya dan menjadi pemesan pertama tanpa kita berlima," sahut Kania.

"Kita ber-5, maksud lo, kita juga akan ikut?" tanya Alfian menunjuk dirinya.

"Wes sudah pasti, thanks Kania, sebagai orang yang selalu bisa diandalkan," sahut Diego.

"Gue nggak tertarik untuk ikut, lo aja yang pergi," sahut Alfian.

"Alfian come-on, ini juga boyband favorit lo bukan, lo suka stell lagu-lagunya," sahut Valery.

"Menyukai dan bukan berarti harus ikut menonton konser, sudah pasti di sana berisik dan kebanyakan cewek-cewek, sorry gue tidak tertarik sama sekali," sahut Alfian.

"Alfian, aku sudah membeli tiket untuk kita berlima dan artinya kita berlima yang akan pergi. Kamu aneh jika sampai tidak ikut dengan kita dan padahal, kalau lo mau pergi ke manapun kita selalu ikut," sahut Kania.

"Sudah-sudah. Alfian pasti ikut, jadi sudah pasti aman," sahut Yogi yang ternyata mengambil alih untuk memastikan semuanya.

Bersambung.....

...Hay para pembaca setia, saya kembali memberikan karya terbaru saya, Besar harapan saya kalian menyukai karya saya dan karya ini bisa booming dan disukai banyak pembaca....

...Jangan lupa terus mendukung karya-karya saya, sedikit banyaknya yang kalian berikan kepada saya menambahkan motivasi saya untuk terus berkarya....

...Jangan Pernah menabung bab untuk membaca karena setiap episode akan ada hal yang menarik....

...Saya ucapkan terima kasih salam cinta dari saya Author ........

Episode 3 Perang Di Konser

Celia sore-sore keluar dari kamarnya, terlihat sudah cantik menggunakan rok berwarna pink dipadukan dengan blouse berwarna biru dengan hijabnya berwarna coklat. Penampilan anak ABG zaman sekarang dengan trend hijab yang sering dijuluki anak-anak cegil.

"Anak Bunda sore-sore begini sudah harum sekali, tumben cepat mandi dan biasanya mandi selalu malam," tegur seorang wanita memakai hijab memperhatikan penampilan putrinya.

"Celia mau jalan sama Chaca dan Chika," jawabnya.

"Mau jalan ke mana sore-sore seperti ini?" tanya Bunda.

"Nonton konser Exo," jawabnya tampak semangat.

"Konser, artinya akan pulang malam hari?" Bunda mencoba untuk menyelidiki putrinya.

"Konser dimulai jam 07.00 malam. Nanti Celia dan teman-teman akan sholat magrib di area konser, disediakan kok, terus pulang sebelum jam 09.00 malam," jawab Celia meyakinkan bundanya.

"Bahaya Nak, harus naik motor malam-malam pulang," ucap Bunda.

"Kan bareng-bareng sama Chika dan Chaca," sahut Celia.

"Ya sama aja kalian bertiga ini cewek," sahut Bund.

"Celia ayo buruan!"

Tin-tin-tin -tin-tin

Suara klakson motor yang khas itu sudah terdengar beserta suara teriakan yang terdengar begitu nyaring.

"Bunda Celia pamit dulu. Assalamualaikum!" Celia buru-buru mencium punggung tangan sang Bunda dan kemudian langsung pergi.

"Iya-iya hati-hati," sahut Bunda.

"Om!" Celia juga mencium punggung tangan seorang pria sekitar berusia 40 tahunan yang baru saja memasuki rumah.

"Hati-hati naik motornya!" teriak Darius pada keponakannya itu yang sudah mengendarai motornya begitu cepat bersama dengan teman-temannya.

"Anak ABG zaman sekarang benar-benar tidak ada takutnya," ucap Darius geleng-geleng kepala.

"Kamu sudah pulang Darius?" tanya Bunda Ratih.

"Sudah. Mbak, mau ke mana Celia dengan teman-temannya?" tanya Darius.

"Nonton konser katanya, Mbak juga lupa bertanya konser apa," jawab Ratih.

"Mbak sudah mengatakan kepada Celia tentang kemarin?" tanya Darius.

"Darius, Celia itu masih SMA, usianya masih muda dan masih labil jika harus membicarakan masalah pernikahan. Mbak juga tidak tahu harus memulai cerita dari mana, masa iya anak-anak yang sedang menikmati masa muda dan fokus pada sekolahnya tiba-tiba harus membicarakan perjodohan," sahut Ratih.

"Mas Argantara juga tidak meminta untuk mereka menikah, ini hanya perjodohan dan bertunangan biasa, dan mereka juga akan dinikahkan ketika usia mereka sudah benar-benar matang dan siap, lagi pula seperti apa yang saya katakan kemarin bahwa ini juga demi kebaikan Celia, bukankah pendidikannya harus lanjut dan Mbak juga memiliki biaya untuk memasukkan pada sekolah kedokteran?" sahut Darius.

Ratih terdiam mengingat banyaknya impian dari putrinya dan lagi-lagi orang yang berkecukupan seperti mereka hanya bisa mendengarkan keinginan dari anak-anak yang memiliki impian yang tinggi.

"Ya sudah, nanti Mbak akan bicarakan dengan Celia," sahut Ratih.

"Ya lebih baik lebih cepat untuk dibicarakan," sahut Darius.

******

Lokasi konser menjelang magrib tampak dipenuhi dengan pengunjung yang buru-buru melewati pintu menuju konser dengan pemeriksaan yang sangat ketat mulai dari tiket dan printilan-printilan lainnya.

2 mobil seperti biasa sudah berhenti di parkiran yang luas yang telah disediakan pihak panitia konser.

Satu persatu terlihat kaki yang sudah menapak bumi, terlihat betapa keren-kerennya anak remaja tersebut dengan penampilan mereka yang menarik di acara konser. Valery khas menggunakan rok mini lipat sepanjang pahanya.

Penampilan yang tidak jauh berbeda dengan Kania dan sementara Alfian dengan kedua temannya selalu menggunakan jaket dengan brand terkenal.

"Kok sepi!" ucap Diego melihat di sekelilingnya.

"Apa kita telat?" tanya Valery.

"Tidak mungkin, konser dimulai pukul 7, baru setengah 7, jadi mana mungkin telat," jawab Kania dengan yakin.

"Pak ayo dong pak izinkan kita masuk!"

"Iya. Pak, kita sudah menabung satu tahun sebelumnya untuk membeli tiket konser ini!"

"Pak!"

"Pak!"

Suara berisik yang terdengar begitu nyaring membuat fokus mereka hilang dengan melihat beberapa meter dari tempat mereka berdiri tampak tiga gadis berhijab yang mencoba memaksa untuk memasuki area pagar yang dihalangi 2 satpam.

"Bukankah itu gelang cegil alay," ucap Yogi.

"Di mana-mana selalu membuat keributan," ucap Valery dengan geleng-geleng kepala.

"Kalian tidak boleh masuk, tiket kalian calo, tiket tidak benar!" tegas pak satpam tersebut.

"Ya, berarti bukan kesalahan kami pak. Kami membeli dengan harga normal," sahut Celia.

"Tetap saja kalian tidak boleh masuk!" tegas pak satpam.

"Jadi tiketnya calo, tiket palsu!" tiga gadis tersebut membalikkan tubuh.

Celia bersama dengan kedua temannya saling melihat satu sama lain, ketika melihat 5 orang tersebut selalu ikut campur dengan urusan mereka.

"Ya, sekolah saja sekolah negeri yang pas-pasan, mana mungkin mampu membeli tiket konser," ejek Kania.

"Ha-ha-ha-ha-hah!" Diego dan Yogi tertawa terbahak-bahak dan sementara Alfian hanya diam dengan wajah datar.

"Eh nggak usah ikut campur, meski kita sekolah negeri, tetapi kita masih punya uang untuk beli tiket memang kalian aja yang bisa nonton konser hah!" sahut Chaca.

"Buktinya tiketnya calo," sahut Valery dengan tersenyum penuh ejekan mengangkat kedua bahunya.

"Minggir- minggir, kita mau masuk, nanti kita telat lagi," sahut Kania terlihat membuka jalan sampai menggeser tubuh Celia dan juga Chaca yang membuat mereka kesal bagaimana 5 orang itu melewati mereka.

"Issss!" Chaca sudah terpancing emosi dan rasanya ingin meninju orang-orang tersebut.

"Dasar orang kaya sombong!" umpat Chaca.

"Ya, sekarang kita bagaimana dong, kita sudah bersusah payah 1 tahun menabung untuk membeli tiket konser, eh ternyata kita ditipu admin-admin tidak jelas," sahut Celia tampak lesu.

"Ini. Pak, tiket kami berlima. Tiket VVIP yang pasti tidak palsu," Kania dengan percaya diri memberikan tiket tersebut sembari matanya melihat kepada tiga gadis yang saat ini tampak lesu karena mendapatkan tiket yang palsu.

"Saya cek sebentar," pak satpam kemudian mengambil 5 tiket tersebut.

"Maaf Nona, tiket ini juga palsu," ucap pak satpam membuat kelima orang.

"Hah, hah apa!" Kania tidak percaya dengan mata melotot.

"Ya, ini calon dan meski VVIP tetapi tetap saja ini bukan tiket yang asli," jelas pak satpam.

"Mana mungkin!" Kania bersama teman-temannya sudah mulai panik.

"Ha-ha-ha-ha-ha-hah!"

Tiba terdengar suara tawa yang membahana dan siapa lagi jika bukan Celia bersama dengan kedua temannya yang tertawa terbahak-bahak.

"Kehabisan buat nongkrong sih duitnya, makanya kalau mau nonton konser itu duitnya ditabung, eh ternyata beli tiket calo juga," celetuk Chaca dengan sindiran dan mereka tertawa terbahak-bahak.

"Kania apa-apa sih ini!" tanya Valery betapa harga dirinya turun karena tidak bisa melihat konser boyband favoritnya hanya karena permasalahan tiket.

"Ini asli dan tidak mungkin juga aku harus membeli tiket palsu," ucap Kania.

"Ini asli, tidak mungkin juga membeli tiket palsu, bilang aja korupsi uang teman-temannya!" Chaca memang paling pintar menirukan suara Kamis dalam kepanikan dengan ejekannya.

"Eh jaga yang mulut Lo," sambar Kania tidak terima dengan tuduhan yang didapatkan.

"Apa kalian yang yang mulai duluan, ikut campur terus urusan orang lain," sahut Chika.

"Apa Lo semua hah!"

"Apa!"

Geng Celia dan Alfian kembali sama-sama tidak ada yang mau kalah dengan adu bacot satu sama lain dan sementara Alfian paling frustasi jika ada keributan.

Bersambung ....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!