"Biar saya saja yang menikahi, Mbak Pev!" sebuah suara yang membuat keluarga besar melongo. Bagaimana tidak, Kalandra, seorang pemuda berusia 18 tahun, yang merupakan keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani, segera maju untuk menggantikan posisi sang pengantin pria. Jelas keluarga besar tak percaya atas penawaran pemuda yang baru lulus SMA itu.
Mama Kala, panggilan Kalandra, langsung menarik lengan sang putra, "Kamu ngomong apa, Kala?" sentak beliau dengan mengeratkan gigi dan mata melotot. Sebagai ibu jelas beliau tak terima anak sulungnya tanpa ada angin tanpa ada hujan mau menikah, sebagai suami pengganti lagi. Masa depan Kala masih panjang, dan tak ada perintah untuk nikah muda juga.
"Kamu mau masuk kuliah, Kala. Kok berani menikahi anak orang segala!" papa Kala ikut berkomentar, tak enak juga pada sang kakak yang merupakan ibu tiri Pevita. Bukan tak suka pada Pevita hanya saja keputusan menjadi suami pengganti bukanlah ide yang baik untuk masa depan mereka.
"Mama gak setuju!" bisik mama Kala dengan tegas.
"Papa juga!"
"Saya juga tidak setuju, dia masih terlalu kecil untuk membina rumah tangga. Kejar masa depan kamu, Kala. Om menghargai keputusan kamu, tapi belum tentu Om terima juga!" sahut papa Pevita, dokter Adi.
"Selama saya tinggal di rumah Om Adi, saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama Mbak Pevita," ya Allah air mata Pevita rasanya disuruh masuk lagi, nih bocah cilik bisa-bisanya mengungkapkan perasaan di depan keluarga besar. Duh, dia yang confess, Pevita yang malu.
"Meski Mbak Pevita hanya menganggap aku, sebagai ponakan Tante Lily (ibu tiri Pevita) tapi aku menyukai Mbak Pevita. Mungkin ini jawaban dari doaku selain diterima di kampus impian, sekaligus dapat jodoh. Semua tidak ada yang kebetulan, harusnya aku ngekos, ternyata malah diajak Tante Lily tinggal, anggap saja mendekati jodohku!" Kala bicara dengan sangat tenang, dan serius. Kedua orang tuanya menunduk frustasi, sangat paham bagaimana putra sulungnya kalau sudah punya keinginan, bakal diwujudkan dengan segala cara.
"Gimana Pa?" tanya Tante Lily, pada sang suami, tampak masih mencerna situasi sekarang. "Kak, gimana?" tanya Tante Lily pada Pevita, dan gadis itu hanya terdiam dengan tatapan kosong. Wajar masih shock, sang calon pengantin pria bilang gak bakal datang, eh dapat kabar lebih mengejutkan lagi diajak nikah bocah cilik. Mimpi apa Pevita tadi malam.
"Apa yang Om pertimbangkan? Usia saya? saya belum bekerja?" tanya Kala pada Om Adi, bahkan Kala tak meminta pendapat kedua orang tuanya sama sekali.
"Kala, kamu masih belum dewasa, Nak. Usia kamu masih cocok untuk main," Om Adi berusaha menyadarkan Kala bahwa pemuda itu masih 18 tahun, dan baru saja melepas seragam putih abu-abunya. Sebagai orang tua, Om Adi jelas ragu. Pria sematang, Refan (calon Pevita) saja bisa lepas tanggung jawab saat hari H, apalagi Kala yang masih sangat muda. Bagaimana dengan menjalani rumah tangga mereka. Ah Om Adi tidak punya bayangan sama sekali.
"Kadang usia belum tentu menunjukkan kedewasaan Om, percayalah sama saya. Meski saya masih bocah, urusan tanggung jawab saya sangat bisa diandalkan, apalagi untuk orang yang saya sukai," harusnya ungkapan ini sangat membahagiakan bagi perempuan yang menjadi tujuan hidup Kala, tapi terdengar menggelitik, bagi keluarga besar. Anak semuda ini, bisa seserius ini bilang di hadapan semua orang soal tanggung jawab.
"Gimana Dharma?" tanya Tante Lily sebagai orang yang masih waras, untuk menengahi masalah ini.
Papa Kala angkat tangan, "Aku menyerah, Mbak. Ponakanmu ingin kawin muda," celetuk beliau sembari angkat tangan.
"Mas, jangan gitu dong. Anak kita masih mau kuliah, Mas. Aku gak mau dia nikah muda," protes mama Kala agar sang suami bertindak, entah melakukan apa agar menghalau keinginan kuat si sulung. Bahkan mama Kala kembali memegang tangan sang putra untuk berhenti menawarkan diri.
"Percuma, Ma. Mama tahu kan kalau keinginan Kala dilarang, dia bakal bagaimana?" papa menyadarkan sang istri untuk menyetujui sajalah, bocah cilik itu seperti tidak takut akan pernikahan.
"Tapi, Pa. Kala, mama mohon, Nak. Pernikahan tidak semudah yang kamu bayangkan, Nak. Tidak hanya soal cinta, tapi butuh kesabaran dan kontrol emosi yang sangat kuat. Nikah tidak setahun dua tahun, Nak. Mama mohon, untuk kali ini saja, Nak. Jangan gegabah." Namanya seorang ibu, tentu tak mau anak laki-lakinya sampai menyakiti seorang istrinya, bila emosi dan finansialnya belum tertata. Beliau tak mau, Kala hidup susah. Orang yang menikah dalam keadaan mapan saja bisa keteteran saat menjalani pernikahan, apalagi Kala. Duh, mama kalau boleh sujud ke Kala, bakal sujud, memohon agar si sulung membatalkan penawarannya.
"Ma, Pa. Percaya sama Kala. Kala bisa menjadi suami yang baik, Ma!" wanita cantik itu hanya tertunduk lesu, ia sangat mengenal sang putra, kalau sudah memutuskan sesuatu, bakal ia jalankan sebaik mungkin.
"Sudahlah, Ma!" papa Kala benar-benar angkat tangan, karena percuma juga dibujuk. Daripada Kala nanti mogok bicara, dan melakukan hal aneh, lebih baik pasrah saja. Benar kata orang, percuma menasehati orang yang sedang jatuh cinta karena pasti keras kepala.
"Saya yang tidak mau," ujar Pevita pada akhirnya. Nyawanya sudah terkumpul, dan dia juga berhak memutuskan tawaran itu. "Bukan meragukan Kala atau meremehkan usianya, tapi menjalani pernikahan tanpa cinta juga tidak baik ke depannya. Apalagi kita baru kenal 3 mingguan, biarlah saya menanggung malu. Biar saya tanggung sendiri batalnya pernikahan ini!" ucap Pevita kemudian menangis lagi.
Gadis itu tak menyangka Refan setega ini, membatalkan pernikahan setengah jam yang lalu tanpa penjelasan yang jelas, hanya memberi clue saya masih mencintai seseorang yang pernah singgah di hatiku dulu. Andai saja, dia jujur masih mencintai mantannya, harusnya tak perlu melanjutkan hubungan dengan Pevita sampai ke jenjang serius begini. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi perasaan dan menanggung malu.
Pevita dan Refan kenal karena papa Adi. Refan adalah calon dokter di bawah bimbingan papa Adi. Melihat karakter Refan yang santun, cerdas, dan pekerja keras, Papa Adi pun mengenalkan Refan pada sang putri. Ternyata mereka cocok dan berlanjut ke hubungan yang serius. Usia mereka juga tak terpaut jauh, saat dikenalkan Pevita masih 19 tahun, dan Adi 23 tahun. Memang keduanya niat menikah muda, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat pergaulan anak zaman sekarang yang bikin elus dada.
"Papa juga sanggup menanggung malu di depan rekan kerja di rumah sakit nanti," ucap papa Adi yang langsung memeluk putrinya itu. Pada moment inilah, hati Pevita langsung terenyuh. Pelukan sang papa menunjukkan beliau sangat sedih, dan sangat kecewa. Ah Pevita tak tega sebenarnya.
"Papa, maafkan aku!"
"Bukan salahmu, Nak. Papa yang telah mengenalkan kamu dengan Refan, ini semua salah papa!" ucap Papa Adi dengan mengusap air mata Pevita.
Semua melihat interaksi papa dan anak itu, bahkan Kala pun melihatnya dengan senyum tipis. Hatinya sudah siap dengan segala resiko, termasuk penolakan. "Papa bahagia kalau Pev menikah dengan bocil itu?" tanya Pevita pelan, siapa tahu dengan cara ini, sang papa tidak perlu menutup telinga di dekat rekan kerjanya nanti.
"Dia serius, dan laki-laki yang baik akan memegang ucapannya," ujar papa Adi.
"Ya udah aku terima, agar papa tak perlu mendengar hujatan orang akibat ulah Refan!" sambung Pevita setuju.
Gak usah dibayangkan ada adegan romantis layaknya pengantin baru, big no. Pevita sudah menunggu suami brondongnya keluar dari kamar mandi, akan ada kesepakatan yang harus tuntas malam ini. Begitu Kala keluar dengan kaos dan celana pendek, serta mengusap rambut dengan handuk. Pevita memasang wajah garang.
"Cil, aku mau ngomong!" ujar Pevita tak ada sopan-sopannya pada sang suami brondongnya.
"Yang sopan dong kalau panggil suami," protes Kala diawali decakan sebal.
"Apaan, gak usah ngarep berlebihan deh. Gue mau nikah sama lo, agar papa gak malu aja, biar teman-teman papa gak menghujat aku gak laku nikah aja!" semprot Pevita dengan nada jutek.
"Terserah, yang jelas aku menikahi Mbak Pev karena aku cinta pada pandangan pertama sama Mbak Pev!" ungkap Kala sekali lagi, dan Pevita menghela nafas pelan. Pernikahan macam apa ini, seorang istri dipanggil Mbak, ya Allah tolong, Pevita pening tiba-tiba.
"Bisa gak, gak usah panggil Mbak?" pinta Pevita.
"Bisa juga gak, gak usah panggil bocil?" Pevita memejamkan mata, kesal, karena suaminya ikut membalas panggilannya.
"Suka-suka gue!"
"Ya udah suka-suka aku juga si, Mbak!"
"Heh, lo tuh ya!"
"Yang sopan sama suami," beginilah Kala meski usianya 2 tahun lebih muda daripada Pevita, tapi dia punya harga diri sebagai suami, dan ia tak mau istrinya tak sopan padanya. Tiba-tiba saja ia mendekatkan wajah ke Pevita, bahkan hembusan nafas gadis itu terasa di wajah Kala.
"Panggil yang benar, atau kalau enggak," ancam Kala dengan seringai nakal. Pevita mendorong pundak Kala, namun pundak lelaki itu terlalu kuat, tak bergeser sama sekali.
"Kalau enggak apa?" masih jutek juga Pevita, bahkan tak takut kalau Kala semakin mendekatkan wajahnya.
Tak perlu banyak kata, Kala langsung menempelkan bibirnya pada bibir sang istri, hanya menempel, sebagai peringatan agar Pevita sopan padanya. Bagaimana Pevita? Matanya melotot dan jangan ditanya degup jantungnya, dag dig dug ser pokoknya.
"Sialan!" omel Pevita dengan mendorong Kala sekuat mungkin. Pemuda itu tertawa lepas.
"Makanya yang sopan sama suami. Coba Mbak Pevita panggil Mas Kala," malam ini Pevita harus beli stok sabar tanpa batas. Selama Kala tinggal di sini untuk mengikuti ujian masuk kampus dan bimbel, Pevita mengira dia anak pendiam. Tapi ternyata mesum dan usil juga.
"Ogah. Lo tuh bocil, tetap saja bocil!" omel Pevita tak belajar dari kejadian sebelumnya, dan Kala pun makin berani, merasa ditantang. Dengan satu dorongan saja, ia langsung mengungkung tubuh langsing Pevita ke ranjang dan melumat bibir ceriwis itu.
Pundak Kala dipukul sekuat mungkin, tapi lelaki itu tak peduli, ia terus melumat bibir manis milik Pevita agar tahu ini namanya resiko tak mematuhi aturan sang suami.
Meski ini ciuman pertama bagi Kala, tapi ia cukup lihai menguasai bibir Pevita, hingga penolakan darinya luntur, dan mungkin terpancing hingga Pevita membalas ciuman Kala, sampai-sampai ia memejamkan mata dan mengalungkan tangan ke leher sang suami. "Sekarang?" tanya Kala ambigu, karena gejolak laki-lakinya muncul.
Pevita mengerutkan kening, "Apanya yang sekarang?" tanya Pevita dengan nafas ngos-ngosan.
"Malam pertamanya," bisik Kala sembari mencium pipi Pevita. Spontan gadis itu bangun dari kasur, dan menendang kaki Kala.
"Jangan mimpi, ciuman ciuman aja gak usah berharap lebih," ujar Pevita langsung beranjak menjauh dari Kala. Bahaya. Sedangkan Kala malah tertawa ngakak, sengaja tidur di ranjang berbantal lengan.
"Bisa duduk gak, gue mau bicara!" ujar Pevita dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Bocah cilik itu malah mencari posisi enak, dengan menata bantal.
"Aku mau kita saling menghormati akan status masing-masing, mau bagaimana pun Mbak Pev istriku, yang harus patuh sama suami. Toh aku juga gak nyuruh Mbak Pev, ke hal yang buruk. Cuma bicara sopan aja!" jelas Kala sembari memejamkan mata. Kelakuan bocah cilik ini semakin memancing emosi Pevita.
"Lo tuh bocil, sok-sok an mau menikahi gue!" gerutu Pevita dengan cekatan mengambil air, menetralkan emosi yang sudah tersulut akibat cueknya Kala.
"Namanya juga jodoh, gak bakal salah alamat!" masih saja Kala yakin bahwa ini adalah jalan jodoh bagi keduanya, Pevita sampai malas menanggapinya.
"Sekarang mau lo apa?" tanya Pevita ingin segera tidur, tapi sudah harus memiliki kesepakatan bersama dengan Kala.
Diberi tawaran itu, otak sebagai laki-laki yang baru saja mendapat makanan pembuka tentu langsung berpikir ke kegiatan panas lah. Kok ditanya segala?
"Ibadah suami istri," ceplos Kala dengan senyum manisnya. Pevita langsung mengambil bantal, dan membekap wajah ganteng Kala dengan bantal, tawa meledek dari bocah itu semakin menambah kekuatan Pevita untuk membungkamnya.
"Ngomong yang bener, bocah kok mesum terus pikirannya!" ucap Pevita gemas, namun Kala tak mau menyia-nyiakan moment ini, ia langsung mengapit tubuh langsing Pevita dengan kaki. "Ih, apaan, lepas-lepas!" tekanan bantal di wajah Kala berhenti, Pevita sibuk mengurai kaki Kala yang tak sopan.
"Makanya jangan mancing terus, udah sih gak ada salahnya Mbak Pev bersikap sopan sama aku, biar kita segera tidur. Janji deh gak ngapa-ngapain, aku juga belum beli kond*m." Hidung Pevita kembang kempis, nih cowok usia 18 tahun pikirannya perlu disapu kalau perlu dipel sekalian saja.
"Otak lo!"
"Coba ulangi dong, kamu dan aku!"
"Ogah! Gak ada kamu dalam diri gue nurut sama bocah brondong kayak lo!"
"Ya udah, jangan salahkan aku kalau aku kasih pelajaran agar istriku sopan!"
"Lo mau apa?" Pevita ketar-ketir, tangan Kala hendak melepas celana boxernya. Waduh, Pevita hanya garang di mulut, kalau tindakan Kala seperti ini dia juga takut, cuma gak ditunjukkan saja.
"Mau kasih nafkah batin sama istriku," nih jawaban santai seorang bocah cilik tapi otaknya sudah traveling ke mana-mana.
"Ya Allah Gusti, ampuni hamba punya suami semesum ini padahal usianya masih 18 tahun. Curiga kalau lo sebenarnya udah sering melakukan sama cewek lain, dih besok kayaknya lo harus ke rumah sakit buat tes HIV!" Pevita pun ikut curiga, tak mau lah dia tertular, karena bagaimana pun suatu saat dia sadar akan memberi hak Kala juga.
"Mikirnya kejauhan, Mbak. Aku cuma berani sama istri aku doang, di luar aku tuh brandingnya cowok alim," Pevita langsung mengerucutkan bibirnya.
"Alim dari Hongkong!" sewot Pevita.
"Udah yuk," ajak Kala sembari menyelimutkan tubuh.
"Ogah."
"Ya udah kalau gak mau tidur!"
Pevita memejamkan mata, ia pikir Kala mengajak ibadah suami istri ternyata mengajak tidur, duh otak Pevita ikut traveling lama-lama ngomong sama Kala. Memalukan.
"Ck, bisa gak sih kita bicara dulu. Kita tuh belum membuat komitmen tentang pernikahan kita, please dong bisa kerja sama bentar!" mohon Pevita.
"Panggil aku Mas, atau Sayang, lalu gak pakai lo gue. Bisa?"
"Ck, gak janji!"
"Coba dong sekarang!"
"Ngelunjak lo ya lama-lama!"
"Ya udah aku tidur."
"Sayang, ayo kita bicara soal komitmen dalam rumah tangga, yuk!" rasanya Pevita ingin muntah, bicara selembut ini pada Kala.
Cup,
Kala mencium sekilas bibir Pevita, tak perlu aba-aba, hingga Pevita tak sempat menghindar. "I love you Sayang," balas Kala dan berhasil membuat Pevita terpaku sambil memegang bibirnya.
Sialan, lama-lama gue baper sama nih bocah.
Shubuh-shubuh, Kala dibuat kalang kabut saat mendengar isakan tangis. Antara mimpi dan nyata, sempat terpikir kamar Pevita ada hantu yang menangis. Namun saat mata Kala terbuka lebar, ia menoleh ke samping. Ternyata Pevita menangis sesenggukan.
"Kenapa Sayang?" tanya Kala mencoba menjadi suami perhatian, dengan memperhatikan suasana hati dan diri sang istri. Mungkin karena terlalu manis panggilan itu, Pevita langsung melepas genggaman ponsel dan memeluk Kala erat. Kala kaget dengan keintiman yang diciptakan oleh Pevita.
"Dia jahat banget ternyata, Cil!" ya elah, Pevita masih saja memanggil dirinya bocil. Nasib, nasib. Pelukan dari Pevita sempat membuat Kala bahagia eh dipaksa nyungsep dengan panggilan bocil.
"Dia siapa?" tanya Kala masih belum ngeh siapa yang dimaksud.
"Refan lah, siapa lagi!" sewot Pevita dengan melepas pelukan dan mengusap air matanya. Alis Kala naik sebelah.
Hah, cowok itu masih hidup? Kok punya nyali menghubungi Pevita? Batin Kala.
"Dia bilang apa?" tanya Kala penasaran, kok sampai Pevita menangis sepagi ini.
"Bukan dia yang chat tapi mantannya," ujar Pevita makin menjadi isakan tangisnya. Sejenak Kala terdiam, dia tak punya pengalaman mengatasi cewek menangis, hanya bisa mengelus rambut Pevita saja.
"Kemarin Refan hanya bilang kalau dia masih mencintai mantan kekasihnya, tanpa ada penjelasan berlebihan, tapi pagi ini gue mendapat chat dari nomor tak dikenal, dia kirim foto segala, saat Refan tidur di bawah selimut tanpa pakai baju." Pevita mengulang apa yang ia lihat via chat tadi.
"Kok tahu tanpa pakai baju?" tanya Kala polos. Wajar lah dia tanya begitu, otaknya berpikir Pevita mendapat foto bugil Refan, tapi apa mungkin mantan kekasih Refan tega membuka badan orang tercinta dan disebarkan pada Pevita. Make sense aja.
Pevita melirik Kala sebal, kenapa kayak gitu harus ditanyakan segala sih. "Ya cuma kelihatan pundaknya, Cil. Ya Allah, masa' iya telanjang bulat dikirim, gimana sih!" protes Pevita masih bisa mengomel di tengah sakit hatinya.
"Oh," hanya begitu respon Kala. Pevita malas sekali menanggapi respon Kala yang datar itu. "Harusnya Mbak balas saja!"
"Balas gimana? Melabrak? Dih ogah ya, gue gak mau rebutan cowok yang udah dipakai perempuan lain, meski gue cinta sama Refan tapi otak gue masih waras dan gak bodoh, sekali cowok selingkuh maka dia akan mengulanginya lagi. Biarkan gue sakit sekarang tapi gue gak akan menormalisasikan selingkuh!" ujar Pevita berapi-api, dan tahu tanggapan Kala, dia malah bertepuk tangan dengan wajah bantalnya. Semakin menyebalkan bukan, ngapain coba tepuk tangan begitu.
"Aku sangat setuju dengan prinsip Mbak Pev. Gak usah khawatir, aku setia sama Mbak Pev."
"Ngomong sama tembok!" ceplos Pevita angkat tangan deh dengan balasan Kala. Ya maklum, bocah cilik mana tahu pemikiran mendalam dan respon yang pantas untuk perempuan patah hati seperti Pevita saat ini.
"Mbak, Mbak gak mau balas dendam sama cowok itu? Aku bisa bantu kok!"
"Gak ada balas dendam, buat apa. Nanti gue dikira belum move on, males gue. Lebih baik melupakan saja."
"Jangan gitu dong, pengkhianatan dan mempermalukan keluarga Mbak harusnya dibalas lebih kejam, biar dia tidak seenaknya!" Pevita terdiam, apa yang dikatakan Kala ada benarnya, bukan untuk membalas, tapi memberi pelajaran agar tidak berbuat dzalim kepada wanita lain.
"Caranya?" tanya Pevita penasaran.
"Hamil anak aku!" rasanya mendengar ocehan bocah cilik ini, Pevita ingin menabok wajah tanpa dosa tapi dia masih waras karena pria yang berwajah tengil di depannya ini sekarang adalah suaminya.
"Heran deh, gue. Lo masih 18 tahun tapi pikiran lo penuh dengan adegan dewasa. Gak patut sekali, pantas saja pengen nikah muda, takut kalau kebablasan kan lo jaga kelaki-lakian lo itu!"
"Ya elah, Mbak. Sebelum aku sekamar sama kamu, aku tuh cowok polos, yang study oriented banget, ya wajarlah seorang cowok sekamar dengan istrinya, catat istrinya pikirannya ke arah adegan dewasa. Mana gak dikasih jatah entah sampai kapan, harus disinggung terus dong, apalagi kita udah kissing tadi malam," lubang hidung Pevita membesar, nih bocah cilik otaknya perlu dicuci kalau perlu dipemutih sekalian, merinding lama-lama Pevita di depannya. Mainnya sindir nafkah batin terus. "Gimana?"
"Enggak!"
"Kenapa? Mbak malu kalau hamil anakku?"
"Heh, Kala. Lo kira hamil melahirkan merawat bayi itu gampang! Umur kita masih muda banget tahu, kamu juga baru mau menjadi mahasiswa ya kali sudah jadi bapak-bapak! udah deh gak usah mikir aneh-aneh dulu."
"Ya terus sampai kapan aku nahan?" desak Kala.
"Ya Allah, Kala. Kenapa pikiran lo ke situ terus sih, gue masih belum cinta sama lo, gue gak mungkin kan menyerahkan kehormatan gue sama orang yang gak gue cinta."
Kala terdiam, "Segitunya sih, gak cinta sama aku. Misal Mbak jadi nikah sama Refan, Mbak langsung mau malam pertama? Mau punya anak juga?"
Pevita terdiam. "Diamnya Mbak sudah menunjukkan kalau Mbak akan melakukan tugas seorang istri, tapi nyatanya lelaki yang mbak kira mencintai Mbak justru mempermalukan Mbak, sedangkan aku yang tulus mencintai Mbak malah tak diberi kesempatan untuk mereguk hakku sebagai suami. Lucu sih, tapi yah sudahlah, aku tahu Mbak butuh waktu!" ucap Kala serius, kemudian beranjak ke kamar mandi, persiapan sholat shubuh. Sedangkan Pevita hanya terdiam, dalam hatinya ada rasa bersalah karena ia telah mengabaikan tugasnya sebagai istri, cuma dia tak bisa memungkiri tidak ada cinta untuk Kala, dan pikirannya pernikahan ini tidak akan berlangsung lama.
Keluar kamar mandi, Kala pun lebih pendiam. Tak mengusik Pevita dengan ocehan absurdnya, bahkan saat waktu sarapan tiba pun keduanya turun secara terpisah. Tentu saja keluarga besar yang masih menginap di rumah utama, saling pandang, dan memaklumi dinginnya pengantin baru, tak perlu memaksakan keadaan. Apalagi usianya keduanya masih terlalu muda untuk menjalani rumah tangga.
Kaki Pevita disenggol oleh Tante Lily, ibu tirinya, karena di depan mertua, Pevita cuek dan membiarkan Kala mengambil makanannya sendiri, sehingga sang mama yang mengambilkannya. "Maaf, Tante. Saya belum terbiasa," ucap Pevita sungkan, dan mama Kala hanya tersenyum tipis saja.
Nuansa sarapan pagi itu pun terasa sangat kaku, tak ada yang memulai obrolan, bahkan papa Pevita pun hanya diam saja. Pernikahan yang mendadak tentu belum bisa diterima dengan lapang oleh beberapa pihak. Semua sedang mencerna kondisi ini tanpa menyalahkan atau menuntut Kala atau Pevita untuk bersikap layaknya suami istri.
"Kita perlu bicara!" ajak Pevita pada Kala. Pemuda itu hanya mengangguk saja, dan kembali fokus dengan tabletnya.
"Silahkan kalau Mbak Pev mau bicara!"
"Kalau ke cafe?" tawar Pevita meragu.
"Boleh, pakai motor sendiri-sendiri ya!" ujar Kala cuek, kemudian beranjak membuka lemari mengambil jaket. Pevita hanya diam, ingin dia mengomel karena tak suka didiamkan seperti ini.
Harusnya gue senang lah, dicuekin begini. Tapi kok gue sebal juga ya. Gimana sih maunya hati gue ini?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!