Jemari Davira gemetar hebat hingga kertas putih di genggamannya kusut parah. Lorong rumah sakit yang biasanya terasa sunyi, mendadak menjelma menjadi ruang hampa udara yang mencekik lehernya. Pandangan matanya mengabur, tertuju pada deretan kalimat formal bersetempel dokter spesialis onkologi yang baru saja dia tinggalkan.
Karsinoma Serviks Stadium 3. Rekomendasi tindakan medis: Histerektomi Total (Pengangkatan rahim).
"Nggak... ini nggak mungkin..." bisik Davira lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Dia mencengkeram dadanya yang terasa dihantam godam besar. Sakit. Begitu sesak hingga air matanya luruh tanpa suara, membasahi pipinya yang kian tirus. Tiga tahun. Sudah tiga tahun dia mengarungi bahtera rumah tangga bersama Arka Narendra, seorang CEO muda yang tampan namun berhati sedingin es. Pernikahan mereka terjadi bukan karena untaian cinta, melainkan karena balas budi dan belas kasihan.
Tepat tiga tahun lalu, perusahaan properti milik ayah Davira hancur lebur dihantam kebangkrutan. Seluruh aset disita, menyisakan tumpukan utang yang tak masuk akal. Di tengah badai itu, ayah Arka yang merupakan sahabat karib ayah Davira datang mengulurkan tangan. Beliau melunasi sebagian utang dan meminta Arka menikahi Davira demi melindunginya.
Namun, perlindungan itu hanyalah status di atas kertas. Tak lama setelah pernikahan mereka, ayah Davira meninggal dunia akibat serangan jantung karena stres berat. Seolah belum cukup, adik laki-laki Davira satu-satunya memilih pergi ke luar negeri untuk mencari peruntungan demi membantu sang kakak. Sialnya, setelah menginjakkan kaki di negeri orang, adiknya justru hilang kontak sama sekali, bagai ditelan bumi.
Di dunia yang kejam ini, Davira sebatang kara. Dia hanya memiliki Arka.
Selama tiga tahun ini, Davira menelan semua sikap abai Arka. Pria itu jarang berbicara padanya, jarang menyentuhnya, dan selalu memperlakukannya bagai pajangan rumah yang tak bernyawa. Tapi Davira tidak pernah menyerah. Dia selalu tersenyum, memasak makanan kesukaan Arka, dan merawat rumah dengan saksama. Di dalam hatinya yang paling dalam, Davira memelihara satu harapan kecil. Suatu saat nanti, jika dia bisa melahirkan seorang anak, hati Arka pasti akan melunak.
Namun hari ini, selembar kertas putih di tangannya baru saja mematikan harapan itu sebelum sempat tumbuh. Rahimnya harus diangkat. Dia tidak akan pernah bisa hamil. Dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu. Dan dia... tidak akan pernah bisa memiliki alasan untuk membuat Arka mencintainya.
Dengan lutut yang lemas dan tubuh yang terus menggigil, Davira melangkah keluar dari rumah sakit. Pikiran dan hatinya kosong. Di tengah keputusasaan yang merajam jiwa, nama Arka kembali terlintas. Dia butuh suaminya. Dia butuh pelukan, atau setidaknya kata-kata penenang dari pria yang memegang janji pada almarhum ayahnya untuk menjaganya.
"Arka... tolong kuatkan aku kali ini saja," isak Davira dalam taksi yang membawanya pulang.
Sore hari yang mendung menyambut kedatangan Davira di depan gerbang rumah mewah bernuansa Eropa modern milik Arka. Dengan langkah gontai, dia membuka pintu utama. Davira berharap suasana rumah yang sepi bisa memberikannya ruang untuk menenangkan diri sebelum berbicara pada Arka nanti malam.
Namun, harapannya langsung sirna begitu kakinya melangkah ke area ruang tamu. Di atas sofa beludru mewah, telah duduk dua orang wanita yang selama tiga tahun ini menjadi mimpi buruk dalam hidup Davira. Siska, ibu mertuanya, dan Maya, adik iparnya.
"Bagus ya! Jam segini baru pulang. Istri macam apa kamu, Davira?!" Cemoohan ketus dari Maya langsung menyengat telinga Davira. Wanita muda itu bersedekap dada, menatap Davira dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
Davira buru-buru menyembunyikan kertas hasil laboratoriumnya ke dalam tas jinjingnya. Dia berusaha mengulas senyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. "Maaf, Ma, Maya... Davira tadi ada urusan sebentar di luar."
Siska, yang sedang menyesap teh hangatnya, meletakkan cangkir porselen itu ke meja dengan dentingan keras yang sengaja dibuat. Matanya menatap tajam, penuh kilat kebencian.
"Urusan apa? Keluyuran tidak jelas?" sindir Siska berapi-api. "Tiga tahun, Davira! Tiga tahun kamu hidup menumpang di rumah anakku. Perusahaan ayahmu sudah bangkrut, kamu tidak membawa mas kawin atau keuntungan apa pun untuk keluarga kami, dan sampai detik ini kamu bahkan belum bisa memberikan Arka seorang anak! Kamu itu mandul, atau memang sengaja ingin memutus garis keturunan keluarga Narendra, hah?!"
Kalimat "mandul" itu menusuk tepat di luka yang baru saja menganga di hati Davira. Air mata yang sudah dia bendung sekuat tenaga kini kembali mendesak keluar.
"Ma, Davira tidak mandul... Davira hanya belum dikasih kepercayaan..." lirih Davira, suaranya bergetar hebat. "Dan hari ini, Davira sebenarnya baru saja dari rumah sakit karena..."
"Halah! Jangan cari-cari alasan dengan pura-pura sakit!" potong Maya ketus, ia berdiri dan menghampiri Davira dengan tatapan sinis. "Kami sudah bosan mendengar keluhanmu. Kak Arka itu pria terpandang, CEO sukses. Dia butuh istri yang sempurna, yang bisa mendampinginya ke acara bisnis dan memberikannya ahli waris. Bukan wanita pembawa sial yang keluarganya hancur berantakan seperti kamu!"
"Maya, jaga bicaramu... aku ini kakak iparmu," ucap Davira, mencoba mempertahankan harga dirinya yang sudah terkikis habis.
"Kakak ipar? Ck, kamu tidak lebih dari sekadar wanita benalu yang dititipkan di sini karena rasa kasihan!" balas Maya sengit.
"Cukup!"
Sebuah suara berat, berwibawa, namun terasa begitu dingin tiba-tiba menggema dari arah pintu depan. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Davira menoleh dengan cepat. Jantungnya berdesir kencang. Arka. Suaminya telah pulang.
"Arka..." gumam Davira, ada secercah harapan di matanya. Dia berharap Arka akan membela dirinya seperti beberapa bulan lalu saat sang ibu mulai menuntut cucu.
Namun, langkah kaki Arka tidak terdengar sendirian. Di samping pria bertubuh tegap berbalut setelan jas mahal itu, berdiri seorang wanita lain. Wanita itu berwajah sangat cantik, dengan riasan wajah yang sempurna dan gaun terusan yang longgar. Yang membuat darah Davira mendadak berhenti mengalir adalah tangan wanita itu yang menggelayut manja di lengan Arka.
Dan yang paling mengerikan... perut wanita itu tampak sedikit membuncit.
Davira mundur selangkah, napasnya memburu. "Arka... siapa dia? Kenapa dia memegang tanganmu seperti itu?"
Arka menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Davira. Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Tatapannya lurus, datar, dan begitu asing.
"Dia Sheila," ucap Arka dengan nada suara yang teramat santai, seolah mengenalkan rekan bisnis biasa. "Dan dia sedang mengandung anakku. Usia kandungannya sudah berjalan lima bulan."
DUARRR!
Bagai disambar petir di siang bolong, dunia Davira runtuh seada-adanya. Kepalanya mendadak pening, dan dadanya terasa sesak luar biasa hingga dia lupa bagaimana cara bernapas. Lima bulan? Jika usia kandungan wanita itu sudah lima bulan, ditambah proses pendekatan dan hubungan mereka, itu artinya... Arka sudah berselingkuh di belakangnya selama lebih dari enam bulan! Selama setengah tahun ini, di saat Davira berjuang melawan rasa sakit di perutnya sendirian, suaminya justru memadu kasih dan menanam benih di rahim wanita lain.
"Lima bulan...?" bisik Davira dengan suara yang nyaris hilang. "Kamu... kamu selingkuh di belakangku, Arka? Di saat aku menunggumu pulang setiap malam, kamu tidur dengan wanita lain?!" Ditumpahkannya seluruh air mata yang sejak tadi dia tahan. Tas di genggamannya terjatuh, membuat kertas hasil laboratorium rumah sakit mencuat keluar di lantai, namun tak ada satu pun orang yang peduli.
Arka menghela napas kasar, tampak terganggu dengan histeria Davira. "Jaga bicaramu, Davira. Aku tidak berselingkuh. Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku sebagai seorang pria. Hak untuk memiliki keturunan."
"Tapi kamu berjanji pada almarhum ayahmu untuk menjagaku dan setia padaku! Kamu berjanji di depan makam ayahku, Arka!" teriak Davira histeris, kehilangan seluruh energinya.
"Mas Arka sudah menjagamu dengan sangat baik selama tiga tahun ini, Davira!" Siska menyela dengan senyum kepuasan yang merekah lebar di wajah keriputnya. Ia berjalan mendekati Sheila, lalu mengelus perut wanita itu dengan penuh kasih sayang—hal yang tidak pernah dia lakukan pada Davira.
"Pernikahan tanpa anak itu hambar. Lagipula, perusahaan ayahmu sudah tidak ada. Kamu tidak punya nilai apa-apa lagi. Sudah sepantasnya Arka mencari wanita yang subur seperti Sheila. Sheila ini wanita dari keluarga baik-baik, suci, bukan pembawa sial!" timpal Siska memprovokasi.
Maya pun ikut tertawa mengejek. "Benar! Lihat saja penampilanmu sekarang, Davira. Pucat, kurus, mirip mayat hidup. Mana sudi Kak Arka menyentuhmu? Dibandingkan dengan Kak Sheila yang cantik dan sedang mengandung pewaris keluarga Narendra, kamu sama sekali bukan tandingannya!"
Davira memandang mereka bertiga bergantian. Ibu mertua yang selalu menghujatnya, adik ipar yang selalu menghinanya, dan wanita selingkuhan yang kini menatapnya dengan senyum kemenangan yang tersirat. Di tengah kepungan manusia-manusia kejam itu, Davira menatap Arka, mencari sisa-sisa kemanusiaan di mata suaminya.
"Arka... tolong dengarkan aku dulu," pinta Davira, merosot berlutut di lantai, memegang ujung celana kain Arka. "Aku sedang sakit... aku baru pulang dari rumah sakit, Arka. Rahimku... rahimku harus diangkat karena kanker..."
Mendengar hal itu, Arka sempat tertegun sesaat. Ada kilat keterkejutan di matanya, namun sebelum pria itu bersuara, Sheila langsung memotong dengan suara yang dibuat selembut mungkin, memelas manja.
"Mas Arka... tiba-tiba perutku rasanya agak kram. Aku takut bayinya kenapa-napa karena mendengar suara teriakan di sini," ucap Sheila sambil mengerutkan keningnya, bersandaran erat pada dada Arka.
Mendengar keluhan Sheila, atensi Arka langsung teralih sepenuhnya. Rasa terkejutnya lenyap, digantikan oleh raut wajah cemas yang luar biasa. Raut wajah yang belum pernah Davira lihat ditujukan untuk dirinya selama tiga tahun pernikahan mereka.
Arka menunduk, menatap Davira yang masih bersujud di kakinya dengan tatapan dingin dan penuh rasa jijik. Dengan kasar, Arka menarik kakinya hingga pegangan tangan Davira terlepas.
"Cukup drama menyedihkanmu, Davira. Berhenti mengarang cerita sakit hanya untuk mencari simpati dan menutupi kekuranganmu yang tidak bisa hamil," kata Arka kejam, setiap katanya bagai belati yang menguliti kulit Davira hidup-hidup.
"Aku tidak bohong, Arka! Ini kenyataan!" jerit Davira di sela tangisnya.
"Aku tidak peduli," potong Arka mutlak. "Aku tidak bisa menceraikanmu sekarang karena amanat mendiang Papa. Aku akan tetap memberimu tempat tinggal dan uang bulanan. Tapi, Sheila akan tinggal di rumah ini mulai hari ini sebagai istri keduaku. Anak di dalam kandungannya adalah prioritas utamaku sekarang."
Arka mematung sejenak, lalu memberikan kalimat pemungkasnya. "Terima keputusan ini dan hiduplah dengan tenang sebagai istri pertama di kamar belakang, atau... kamu bisa angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, tanpa membawa sepeser pun uang dari aset keluarga Narendra."
"Mas Arka benar! Kalau tahu diri, silakan pergi!" sahut Maya puas.
Melihat tawa kemenangan di wajah ibu mertuanya, keangkuhan adik iparnya, kemesraan Arka yang menggendong Sheila menuju kamar utama di lantai atas, Davira merasakan sesuatu di dalam dadanya pecah berkeping-keping. Rasa sakitnya begitu hebat hingga menembus batas ambang pertahanannya.
Namun, di detik ketika pintu kamar atas tertutup, sesuatu yang aneh terjadi di dalam diri Davira. Tangisnya mendadak berhenti. Air matanya mengering seketika. Rasa sedih, cinta, dan pengabdian yang dia pelihara selama tiga tahun ini menguap, menyisakan ruang hampa yang dingin di hatinya.
Rasa sakit itu kini telah mengkristal menjadi sebuah kebencian yang teramat pekat.
Davira bangkit berdiri dengan perlahan, meskipun seluruh persendiannya terasa ngilu akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. Dia melirik kertas hasil laboratoriumnya yang terinjak oleh bekas sepatu Arka di lantai.
Mereka ingin aku mati dalam kehinaan? batin Davira dengan senyum seringai tipis yang mendadak muncul di wajah pucatnya.
Tidak. Aku tidak akan mati di rumah terkutuk ini. Aku akan hidup. Aku akan mengangkat rahimku, menyembuhkan penyakitku, dan aku bersumpah demi makam ayahku... aku akan kembali untuk menghancurkan kalian semua hingga tak tersisa.
Davira berbalik, melangkah lebar meninggalkan rumah mewah itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Malam itu, badai besar baru saja dimulai.
Malam itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan kepedihan hati Davira. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi jalanan aspal dan menyamarkan air mata yang kembali menetes di pipi wanita itu. Davira berjalan gontai di trotoar, hanya membawa tas jinjing kecil berisi dompet, ponsel, dan lembar hasil laboratorium yang sudah agak lecek. Dia tidak membawa satu pun pakaian atau barang mewah yang dibelikan Arka. Dia ingin keluar dari lingkaran setan itu dengan tubuh sebersih mungkin dari harta keluarga Narendra.
Tubuhnya mendadak menggigil hebat. Rasa nyeri di perut bagian bawahnya kembali menyerang, kali ini jauh lebih hebat hingga membuat Davira terpaksa bertumpu pada tiang lampu jalan. Rasanya seperti ada pisau yang mengiris-iris organ dalamnya.
"Aku harus kuat... aku tidak boleh mati di pinggir jalan seperti ini," bisik Davira pada dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.
Dengan tangan gemetar, dia merogoh ponsel dari tasnya. Davira tahu dia tidak punya banyak uang. Tabungan pribadinya dari sisa peninggalan ayahnya hanya cukup untuk biaya hidup beberapa bulan, jauh dari kata cukup untuk membayar operasi pengangkatan rahim kelas VIP di rumah sakit swasta mewah. Namun, dia teringat pada satu nama. Dokter Sarah, sahabat mendiang ibunya yang bekerja di sebuah rumah sakit umum daerah.
Setelah berjuang menembus dinginnya malam dengan taksi, Davira akhirnya tiba di rumah sakit tempat Dokter Sarah bertugas. Begitu melihat kondisi Davira yang basah kuyup, pucat pasi, dan tak berdaya, Dokter Sarah langsung membawanya ke ruang pemeriksaan.
Satu jam kemudian, Davira sudah berbaring di bangsal perawatan dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Dokter Sarah duduk di sampingnya, menatap Davira dengan pandangan mata yang penuh rasa iba sekaligus marah.
"Davira, kenapa kamu baru datang sekarang? Kondisi kankermu sudah menyebar ke jaringan sekitar serviks. Ini sudah stadium tiga lanjut, Vira!" suara Dokter Sarah terdengar bergetar. "Dan di mana Arka? Kenapa suamimu tidak mendampingimu di saat seperti ini?"
Mendengar nama Arka, sudut bibir Davira terangkat, membentuk sebuah senyuman sinis yang terasa sangat asing di wajah lembutnya.
"Arka sedang sibuk menjaga bayi dari wanita lain, Tante," jawab Davira datar, tanpa ada lagi air mata yang menetes. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar rumah sakit yang bernuansa putih pucat.
Dokter Sarah terperangah. "Apa maksudmu? Arka selingkuh?"
Davira mengangguk perlahan. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, tentang Sheila yang hamil lima bulan, tentang ibu mertua dan adik iparnya yang mengusirnya, serta tentang ultimatum Arka yang memintanya menjadi istri pertama yang terbuang di kamar belakang.
"Biadab!" Tangan Dokter Sarah mengepal tinju di atas meja. "Bagaimana bisa keluarga Narendra sekejam itu? Padahal dulu almarhum ayah Arka sangat menghormati ayahmu! Davira, kamu harus menuntut mereka. Jangan biarkan mereka menginjak-injak harga dirimu!"
"Menuntut mereka sekarang hanya akan membuang energi yang aku miliki, Tante," sahut Davira tenang. Ketenangan yang justru terasa mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Sekarang, fokus utamaku adalah hidup. Aku ingin operasi secepatnya. Tolong bantu aku, Tante. Angkat rahim ini dari tubuhku."
Dokter Sarah menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Davira yang terasa sedingin es. "Baik. Tante akan urus jadwal operasimu secepat mungkin. Mengingat kondisimu, kita akan lakukan tindakan minggu depan. Tapi Vira... setelah rahimmu diangkat, kamu tidak akan bisa..." Dokter Sarah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Aku tahu, Tante. Aku tidak akan pernah bisa punya anak," potong Davira dengan tatapan mata yang mendadak berkilat tajam. "Tapi tidak apa-apa. Kehilangan rahim tidak akan membuatku berhenti menjadi seorang wanita yang kuat. Justru dengan ini, tidak akan ada lagi kelemahan yang bisa mereka serang."
Satu minggu berlalu dengan cepat. Selama kurun waktu tersebut, ponsel Davira sangat sepi. Tidak ada satu pun panggilan atau pesan singkat dari Arka. Pria itu benar-benar menganggapnya sudah mati atau tidak peduli lagi ke mana istrinya pergi. Davira tersenyum getir melihat layar ponselnya yang bersih dari notifikasi sang suami. Kebencian di dadanya kian menumpuk, menjelma menjadi bahan bakar yang membuatnya tetap tegak berdiri.
...
Hari operasi pun tiba. Davira dibawa masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dengan lampu besar yang menyorot tajam di atas kepalanya. Di ambang kesadarannya sebelum pengaruh obat bius total bekerja, Davira membatin sebuah janji yang sakral.
Arka, Sheila... nikmatilah kebahagiaan kalian di atas penderitaanku saat ini. Karena ketika aku terbangun nanti, Davira yang lemah dan penurut telah mati bersama rahim yang diangkat ini. Aku akan terlahir kembali sebagai mimpi buruk terbesar dalam hidup kalian.
Operasi berjalan selama empat jam yang menegangkan, namun untungnya berhasil dengan sukses. Seluruh jaringan kanker dan rahim Davira berhasil diangkat. Selama dua minggu masa pemulihan di rumah sakit, Davira berjuang keras untuk segera sembuh. Dia memaksa dirinya makan meski mual, dan belajar berjalan kembali meski perutnya terasa luar biasa perih pasca operasi.
Pada hari dia diperbolehkan pulang, sebuah kejutan besar menantinya. Saat Davira sedang mengemas barang-barangnya di dalam kamar rawat, pintu mendadak terbuka dengan kasar.
Seorang pria muda bertubuh jangkung dengan pakaian kasual namun berantakan masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya dipenuhi peluh, dan matanya memerah menahan tangis.
Davira tertegun, menjatuhkan pakaian di tangannya. Jantungnya berdegup kencang karena tidak percaya dengan penglihatannya.
"Kak Vira..." suara pria itu pecah.
"Reno...?" bisik Davira lirih.
Pria itu adalah Reno, adik kandung laki-lakinya yang selama tiga tahun ini menghilang tanpa kabar di luar negeri! Reno langsung berlari dan memeluk erat tubuh kakaknya yang kini terasa jauh lebih kurus.
"Maafkan Reno, Kak... Maaf karena Reno baru tahu semuanya sekarang!" isak Reno di bahu Davira. "Reno baru kembali ke Indonesia kemarin dan langsung mendatangi rumah bajingan itu! Tapi wanita jalang dan ibunya malah mengusirku dan bilang kalau Kakak sudah mati karena mandul!"
Davira membelai punggung adiknya dengan lembut. "Bagaimana kamu bisa tahu Kakak ada di sini?"
"Dokter Sarah yang menghubungi Reno, Kak," jawab Reno sambil melepaskan pelukannya, menatap wajah sang kakak dengan tatapan penuh penyesalan. "Selama tiga tahun ini, Reno bekerja mati-matian di Amerika. Reno sengaja memutus kontak karena Reno terlibat proyek rahasia berskala global dan tidak ingin keluarga Arka tahu sebelum Reno sukses. Sekarang, Reno sudah berhasil, Kak. Reno kembali sebagai salah satu investor utama di perusahaan teknologi terbesar di Silicon Valley. Uang Reno sudah sangat banyak!"
Reno mengepalkan tangannya dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. "Tapi begitu Reno pulang, Reno justru mendapati Kakak menderita seperti ini karena ulah Arka dan keluarganya! Reno tidak akan melepaskan mereka, Kak! Reno akan hancurkan perusahaan Arka sampai dia menjadi pengemis!"
Mendengar penuturan adiknya, Davira terdiam sesaat. Perlahan, sebuah senyuman misterius dan dingin terukir di wajahnya yang pucat. Takdir ternyata masih berpihak padanya. Dia tidak lagi sebatang kara.
Davira memegang pundak adiknya, menatap lurus ke dalam manik mata Reno dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jangan terburu-buru, Reno. Menghancurkan mereka dalam semalam itu terlalu mudah dan tidak menyenangkan," ucap Davira dengan nada suara yang tenang namun sarat akan ancaman. "Kita akan bermain perlahan. Biarkan Arka dan selingkuhannya merasa di atas angin terlebih dahulu. Setelah itu... kita akan jatuhkan mereka dari tempat tertinggi hingga mereka tahu bagaimana rasanya hancur berkeping-keping seperti yang aku rasakan."
Dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, sebuah jet pribadi carteran bersiap lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju New York, Amerika Serikat. Di dalam kabin premium yang mewah, Davira duduk di dekat jendela, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang perlahan mengecil di bawah sana.
Di sampingnya, Reno sedang sibuk dengan laptopnya, mengurus perpindahan seluruh sisa aset mendiang ayah mereka yang berhasil dia selamatkan, sekaligus menyiapkan paspor dan identitas baru untuk kakaknya.
"Semua sudah siap, Kak," kata Reno sambil menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan protektif. "Di Amerika, Kakak tidak akan dikenal sebagai Davira yang malang lagi. Reno sudah menyiapkan identitas baru. Mulai hari ini, nama Kakak adalah Vira Mahendra, CEO dari V-Tech Invesment. Tidak akan ada yang tahu masa lalu Kakak sebelum saatnya tiba."
Davira yang kini ingin dipanggil Vira mengangguk pelan. Dia menyentuh perut bagian bawahnya yang masih menyisakan sedikit rasa ngilu pasca-operasi. Rahimnya memang sudah tidak ada, tetapi kekosongan itu kini dipenuhi oleh ambisi yang membara.
"Arka sudah tahu kalau aku pergi?" tanya Vira datar.
Reno mendengus sinis. "Kemarin aku menyuruh pengacara kita untuk mengirimkan surat gugatan cerai ke kantornya. Dan Kakak tahu apa tanggapan bajingan itu? Dia langsung menandatanganinya tanpa bertanya ke mana Kakak pergi. Dia bahkan menyuruh sekretarisnya mengirimkan pesan bahwa Kakak tidak berhak menuntut harta gono-gini sepeser pun."
Vira tidak terkejut. Dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak menawan namun menyimpan racun mematikan. "Baguslah. Dia pikir dia yang membuangku. Dia tidak tahu bahwa dengan menandatangani surat itu, dia baru saja menyerahkan tiket menuju nerakanya sendiri."
"Lalu, apa rencana kita pertama kali setelah tiba di New York, Kak?"
Vira mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, menembus awan hitam. "Pemulihan fisik. Aku akan menyewa pelatih kebugaran terbaik, ahli gizi, dan dokter kecantikan. Aku ingin menghapus semua jejak wanita lemah, pucat, dan teraniaya yang selama ini mereka injak-injak. Setelah itu, ajari aku semua hal tentang dunia investasi yang kamu geluti, Reno."
Matanya berkilat tajam di kegelapan kabin. "Aku akan kembali ke Jakarta bukan sebagai pengemis cinta, tapi sebagai pemilik takdir mereka."
Sementara itu, di sebuah mansion mewah di kawasan elite Jakarta, atmosfernya justru berbanding terbalik. Pesta perayaan kecil-kecilan sedang digelar. Siska dan Maya tampak tertawa lebar sambil memamerkan perhiasan baru yang dibelikan oleh Arka.
Di sofa utama, Sheila duduk dengan anggun, mengelus perutnya yang kian membesar. Dia tersenyum puas melihat surat cerai Arka dan Davira yang tergeletak di atas meja kaca.
"Akhirnya, Mas... wanita pembawa sial itu pergi juga dari rumah ini," ucap Sheila dengan nada manja, menyandarkan kepalanya di bahu Arka yang baru saja pulang kerja. "Sekarang, anak kita tidak akan punya status anak dari istri kedua lagi. Dia akan menjadi pewaris tunggal yang sah."
Arka terdiam. Matanya menatap tajam ke arah surat cerai tersebut. Entah kenapa, ada secercah rasa hampa yang mendadak menyelinap di sudut hatinya yang paling dalam. Biasanya, begitu dia melangkah masuk ke rumah ini, Davira akan langsung menyambutnya, mengambilkan jasnya, dan menyapanya dengan senyuman tulus meski dia selalu membalasnya dengan ketus.
Malam ini, rumah itu terasa asing. Sambutan yang dia terima hanyalah pameran kemewahan dari ibu dan adiknya, serta tuntutan-tuntutan materi dari Sheila.
"Mas? Kamu kok melamun? Kamu menyesal?" tanya Sheila, nadanya tiba-tiba berubah agak menuntut, matanya menyipit curiga.
Arka tersentak, lalu buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kembali. Dia mengelus rambut Sheila dengan kaku. "Tidak. Untuk apa aku menyesal? Pernikahan itu sejak awal hanya karena kasihan. Sekarang dia sudah pergi, itu pilihannya sendiri."
"Benar itu, Arka!" sahut Siska dari meja makan. "Lagipula, dia itu mandul dan penyakitan. Kemarin adiknya yang gelandangan itu datang ke sini marah-marah, bilang kalau Davira masuk rumah sakit karena kanker rahim. Halah! Paling cuma cari alasan agar kita kasihan dan memberi mereka uang!"
Mendengar kata "kanker rahim", jantung Arka berdegup dua kali lebih cepat. Dia teringat ucapan terakhir Davira malam itu saat bersujud di kakinya: “Rahimku harus diangkat karena kanker...”
Saat itu Arka mengira Davira hanya beralasan. Tapi jika adiknya juga mengatakan hal yang sama... apakah Davira benar-benar sakit parah?
"Arka, sudahlah, jangan dipikirkan," potong Maya sambil asyik berfoto selfie dengan tas barunya. "Wanita seperti dia itu tidak akan bertahan lama di luar sana tanpa uangmu. Paling sebulan lagi dia akan mengemis di depan kantor Kakak."
Arka memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa bersalah yang sialnya mulai mengusik ketenangannya. Ya, Maya benar, pikir Arka. Davira tidak punya siapa-siapa dan tidak punya uang. Dia pasti akan kembali merangkak memohon bantuanku.
Arka tidak pernah tahu, bahwa keputusannya malam itu untuk mengabaikan rasa sakit Davira adalah kesalahan terbesar yang akan menghancurkan seluruh hidupnya di masa depan. Karena Davira yang dia kenal tidak akan pernah kembali.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!