Indonesia
NovelToon NovelToon

Pelakor Akan Kurebut Kembali Suamiku

Episode 1 Insiden

Di bawah langit malam terlihat sebuah rumah mewah yang berdiri tegak dan kokoh di kediaman perumahan elit yang dikenal di pusat kota Jakarta. Rumah mewah dengan bangunan klasik eropa, dengan dinding marmer berwarna cerah dan jendela jendela kaca besar yang memantulkan cahaya keemasan senja.

Halaman depan tertata rapi dengan tanaman hijau yang indah, air mancur yang memancarkan gemercik tenang, serta deretan lampu taman yang menyala hangat.

Melalui jendela besar, ruang makan tampak suasana yang begitu elegan. Sebuah meja panjang dihiasi taplak mewah berwarna putih. lilin-lilin dekoratif dan rangkaian bunga besar yang tertata sempurna menciptakan keteladanan meja makan.

Terlihat penghuni rumah dua pria tampan yang sekitar berusia 30 tahunan yang tampak menggunakan pakaian formal dan terlihat satu pria sekitar berusia 50 tahun keatas dengan wanita yang mungkin lebih mudah 2 tahun di bawahnya tampak terlihat elegan dengan penampilannya yang berwibawa.

Wajahnya tegas, meski berumur tetapi penampilannya tetap modis dan elegan. Juga terlihat seorang wanita muda sekitar berusia 20 tahunan keatas yang tidak kalah dengan penampilan elegannya.

Mereka mulai menikmati makan malam tersebut bersama yang terasa hangat namun tetap berkelas dengan lampu kristal yang berada tepat di atas meja makan. Para pelayan berkali-kali menyajikan makanan dan ada pelayan yang juga stand by duduk menunggu tuannya untuk makan.

"Saya akan segera menikah dengan Lavanya," keheningan seketika berubah menjadi suasana menegangkan dengan saraf mata tertuju pada seorang pria yang mulai berbicara.

"Maksudnya bagaimana Damian?" tanya Maria. Wanita yang mana tapi tampak serius dengan suaranya terdengar begitu dingin.

"Saya dan Lavanya sudah menjalani hubungan 2 tahun terakhir ini, kami cukup saling mengenal dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan," jawab Damian terdengar begitu yakin.

"Apa tidak ada wanita lain di dunia ini, kenapa juga harus menikahi gadis miskin seperti itu, cupu dan tidak modis," celetuk Clara tampak mewah dengan mulutnya yang terus semuanya.

"Papa tidak menyuruh kamu untuk berkomentar Clara!" tegur Brahmana.

Clara menghela nafas, sudah pasti pendapatnya tidak diperlukan dalam situasi apapun.

"Kamu yakin akan menikah dengan Lavanya?" tanya Brahmana memastikan.

"Benar. Pa," jawabnya dengan sungguh-sungguh dan tampak ada keraguan sama sekali.

"Damian, kamu harus memikirkan pernikahan yang kamu jalani dengan Lavanya. Lavanya hanya gadis biasa yang tidak setara sosialnya dengan kita, jangan mencari permasalahan memulai hal yang justru menjatuhkan keluarga ini. Ingat Papa kamu tahun depan akan menjadi pemimpin negara ini!" tegas Maria.

"Saya mencintai Lavanya, saya menerima apa adanya, saya pikir menikah dengan gadis setara atau gadis biasa saja tidak akan mempengaruhi apapun," jawab Damian dengan yakin atas keputusannya.

"Baiklah kalau begitu siapkan saja pernikahan kamu," sahut Brahmana ternyata setuju begitu saja.

Maria melihat ke arah suaminya dengan serius memastikan apakah dukungan itu benar-benar diberikan kepada Damian. Sementara Mike pria yang sejak tadi duduk di sebelah Damian tidak berkomentar apapun. Memilih untuk melanjutkan makannya.

****

"Papa serius akan memberi restu atas pernikahan Damian dengan gadis biasa itu?" tanya Maria saat berada di dalam kamar bersama dengan sang suami yang saat ini mengganti pakaiannya dengan pakaian santai untuk beristirahat.

"Kenapa tidak. Lavanya tidak terlalu jelek dan kita juga mengenalnya dengan baik, tidak ada masalah dalam hal itu," jawab Brahmana.

"Lalu bagaimana dengan image keluarga ini, jika salah satu anggota keluarga ini menikah dengan orang biasa yang artinya citra keluarga ini benar-benar akan buruk, Papa juga bisa mendapatkan masalah untuk mencalon sebagai pemimpin negara!" sahut Maria mengingatkan suaminya untuk berpikir lebih matang lagi.

"Kamu salah Maria, justru pernikahan yang akan dilakukan Damian, untuk bekal menambah citra kepercayaan masyarakat kepada kita," sahut Brahmana membuat Maria mengerutkan dahi.

"Maksud. Mas?" tanyanya.

"Masyarakat akan memandang kita sebagai keluarga yang sederhana, tidak memilih dalam bergaul dan tetap sama rata kepada siapapun dan artinya mereka akan mempercayakan kita sebagai pemimpin yang merakyat karena menantu dari keluarga mereka juga adalah gadis biasa tanpa melihat kesetaraan," sahut Brahmana ternyata di balik setujunya dirinya dengan cepat ada sesuatu yang menguntungkan baginya.

Maria tampak berpikir, masih ragu dan apakah keputusan suaminya benar-benar menguntungkan.

"Sudahlah Maria, biarkan saja Damian memilih untuk menikah dengan wanita yang dia cintai, tidak ada masalah yang terpenting bagaimana keluarga ini akan terus mendapatkan citra yang baik dari masyarakat, sampai akhirnya tiba pada pemilihan nanti," ucap Brahmana.

*******

Lavanya, gadis sederhana, dengan penampilan yang menggunakan kacamata dan berpakaian tampak sederhana, gadis itu tampak menulis di bawah pohon rindang yang terdapat salah satu batu besar.

Menggunakan kacamatanya yang terlihat anggun dan cantik, suasana taman di belakang yayasan panti asuhan dengan keramaian anak-anak yang sibuk dengan permainannya tidak menghilangkan konsentrasi Lavanya dalam berkarya.

"Lavanya....." seorang wanita menyapanya dan kemudian duduk di sebelahnya.

Wanita cantik tanpa menggunakan hijab, dengan penampilan yang akan dan modern, memakai dress berwarna merah semata kakinya dengan lengan panjang, rambutnya digerai dan diberi gelombang di bagian bawahnya.

"Arumi," sahut Lavanya.

"Kamu kapan kembali ke Jakarta?" tanyanya.

"Tadi sekitar jam 10.00 pesawatku baru saja tiba di Jakarta dan aku langsung ke panti untuk menemui kamu, aku merindukan panti asuhan ini dan juga kamu," ucap Arumi.

"Alhamdulillah jika kamu selamat dalam perjalanan," ucap Lavanya.

"Hmmmmm, aku dengar-dengar kamu akan menikah dengan putra pertama dari tuan Brahmana dan Nonya Maria?" tanya Arumi memastikan.

"Mas, Damian melamarku, aku sudah membicarakan dengan ibu dan juga para pengurus panti yang menyetujui hal itu," jawab Lavanya.

"Kita sama-sama beruntung Lavanya, meski dibesarkan di panti asuhan ini dan mendapatkan orang tua asuh, tapi nasib kita cukup baik, aku sekarang menjadi selebritis yang dikenal dan sementara kamu akan menikah dengan salah satu orang terkaya di negara ini," ucap Arumi.

"Jika kita terus berbuat baik, maka Allah akan mempermudah segalanya," sahut Lavanya.

"Tetapi tetap semua itu karena usaha yang kita lakukan," sahut Arumi sepertinya kurang setuju jika sang pencipta terlibat dalam keberuntungan yang mereka dapatkan saat ini.

"Ya, aku berdoa semoga saja pernikahan kamu langgeng dan kamu jangan melupakanku, meski sekarang kamu akan menjadi nyonya Brahmana, hidup dipenuhi dengan kemewahan dan sudah pasti tidak perlu bekerja seperti, ketemu pagi ketemu malam dan terus berangsur-angsur," ucap Arumi.

"Bagaimana mungkin aku melupakan sahabatku yang sejak lama kita bermain di tempat ini, tempat yang menjadi rumah untuk kita dan orang tua yang mengangkat kita adalah rumah kedua kita. Arumi kita akan terus saling bersama, saling menyayangi dan saling menghargai," ucap Lavanya.

"Benar sekali, kita akan terus menjadi sahabat selamanya," sahut Arumi dengan tersenyum.

Keduanya sama-sama menatap lurus ke depan, melihat anak-anak yang masih asik bermain, keduanya masih mengingat bagaimana perjalanan mereka di masa kecil yang sama seperti anak-anak tersebut hidup di panti asuhan dan Arumi juga mengenal keluarga Brahmana, karena mereka adalah penyalur donasi terbesar di panti asuhan itu.

Keduanya sama-sama diangkat oleh dua orang yang memiliki derajat. Arumi diangkat keluarga kaya raya sehingga hidupnya mewah dan juga karirnya berhasil.

Lavanya diangkat oleh keluarga yang sederhana, sakit tetap dia bersyukur dan menikmati kehidupannya.

Bersambung....

...Para pembaca saya kembali menyajikan karya terbaru, besar harapan saya untuk para pembaca terus mendukung karya saya, sedikit banyaknya dukungan yang kalian berikan merupakan hal terbesar bagi saya, jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan biasakan menabung bab, like, koment, dan subscribe, vote yang banyak....

...Terima kasih para pembaca salam cinta dari saya author.........

Episode 2 Pernikahan

Hari pernikahan...

Setelah melakukan proses dan pertemuan, akhirnya tiba saatnya pernikahan yang digelar begitu mewah di panti asuhan.

Tempat permintaan bagi Lavanya untuk melaksanakan ijab Kabul, taman panti asuhan yang begitu besar disulap menjadi dekorasi pengantin dengan tema outdoor yang sangat indah dengan nuansa bunga-bunga berwarna putih dipadukan dengan berwarna pink.

Kursi-kursi ditata dengan rapi, dipakai sarung berwarna putih dan diberi pita di belakangnya, semua benar-benar penuh dengan kesempurnaan.

Keluarga yang sangat dikenal oleh publik dengan kedermawanan dan citra yang baik tidak lepas dari para media yang sengaja diundang untuk mengabadikan momen pernikahan yang sakral itu.

"Tuan! bagaimana perasaan Anda memiliki menantu dari keluarga biasa?" tanya salah satu wartawan yang saat ini mewawancarai Brahmana.

"Apa yang harus saya jelaskan dalam perasaan saya, Saya juga merupakan warga biasa, saya juga seseorang yang lahir dari keluarga sederhana dan berkat kerja keras menjadi sekarang, lalu apakah saya harus melarang putra saya untuk menikah dengan wanita pilihannya meski berasal dari keluarga biasa, itu justru merupakan kebanggaan bagi saya sebagai orang tua yang berhasil mendidik putra saya," jawabnya.

Para wartawan mengangguk-angguk kagum dengan jawaban bijak yang diberi Brahmana, banyak pertanyaan yang diajukan wartawan dan jawaban yang selalu tenang.

Sementara Lavanya saat ini berada di salah satu ruangan sendiri yang cantik dengan menggunakan dress brokat panjang lurus dan sangat sopan, Lavanya harus memakai softlens karena tidak mungkin menggunakan kacamata di hari pernikahannya yang mengganggu penampilannya.

"Nona cantik sekali hari ini!" puji salah satu pria berkata jujur yang membuat Lavanya tersenyum malu.

Di luar sana, sudah semakin banyak tamu yang datang, tamu dari kalangan orang-orang terhormat, pejabat negara, tokoh-tokoh yang dikenal, serta pengusaha-pengusaha kaya raya dengan parkiran mobil mereka yang tertata rapi menghadiri acara pernikahan sederhana namun terkesan mewah.

Brahmana berbicara dengan tamunya yang didampingi oleh istrinya yang juga tidak kalah elegan dengan pakaian branded yang dia gunakan.

Sama dengan Mike yang saat ini mengambil minuman, menurut Mike acara ini cukup membosankan tetapi harus tetap ikut.

"Mike..." sapa Arumi.

"Hay Arumi," Mike menyapa kembali.

"Acaranya cukup meriah," ucap Arumi.

"Ya, seperti itulah," sahut Mike mengangkat kedua bahunya tidak ingin berkomentar apapun.

Tiba-tiba seorang pria menghampiri Brahmana dan terlihat berbisik, ekspresi Brahmana tanpa kaget yang membuat Maria juga seperti merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah menyampaikan apa yang ingin disampaikan pria tersebut.

"Hmmm, tuan saya tinggal sebentar!" ucap Brahmana berpamitan membuat tamunya menganggukkan kepala dan Brahmana langsung pergi yang disusul oleh sang istri.

Suasana hangat yang penuh kebahagiaan seketika berubah menjadi ketegangan. Saat ini Brahmana berada di salah satu ruangan bersama dengan Maria, Mike, Clara dan sementara calon pengantin pria tidak berada di sana.

"Apa-apaan Damian!" umpat Brahmana menekan suaranya.

"Bagaimana mungkin dia meninggalkan pernikahannya dan tidak bertanggung jawab? Apa dia ingin membuat malu keluarga ini!" Brahmana penuhi dengan amarah yang menggeprak meja.

Sementara Maria sejak tadi memerintahkan salah satu bodyguard untuk menghubungi Damian yang tidak mengangkat panggilan teleponnya.

"Lihatlah apa yang terjadi setelah ini? nama baik keluarga kita benar-benar hancur akibat perbuatan anak yang tidak bertanggung jawab itu. Mama sudah mengatakan sejak awal jangan pernah memberinya kesempatan, tetapi lihat bagaimana rasa malu di keluarga ini telah dia torehkan mencemari nama baik kedua orang tuanya!" tegas Maria.

"Kamu bisa diam tidak Maria. Kita tidak tahu apa yang terjadi dan jangan menduga-duga," sahut Brahmana.

"Papa masih bisa menyalahkan Mama! Papa coba pikirkan baik-baik semua ini akan menjadi masalah besar dan siapa yang harus bertanggung jawab!" tegas Maria.

Brahmana semakin frustasi, benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan sementara Lavanya yang berada di kamarnya duduk sendirian di pinggir ranjang dengan riasan yang sudah sempurna tanpa gugup dan panik dengan kedua tangannya saling memencet.

Lavanya akhirnya mengetahui bahwa calon suaminya meninggalkannya, entah apa yang menjadi masalah. Lavanya hanya bisa berdiam diri.

Ceklek.

Suasana keheningan di dalam ruangan itu seketika terganti ketika Maria memasuki kamar.

"Tante....." ucap Lavanya.

"Kamu sudah tahu apa yang terjadi? jika Damian meninggalkan pernikahan kalian!" ucap Maria.

Lavanya menunduk, rasanya hancur tetapi penuh dengan pertanyaan? Mengapa dan apa yang terjadi.

"Berdirilah, semua orang sudah menunggu," ucap Maria.

Lavanya kembali mengangkat kepala melihat serius pada calon mertuanya itu.

"Mas Damian sudah kembali?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.

"Tidak! tetapi pernikahan ini harus tetap dilanjutkan, untuk memperbaiki citra keluarga besar Brahmana dan terlebih lagi untuk membuang kesialan akibat ulah yang dilakukan oleh Damian!" jawab Maria.

"Maksudnya bagaimana? Dan saya akan menikah dengan siapa?" tanya Lavanya.

"Mike William," jawab Maria benar-benar mengejutkan Lavanya, jantungnya berdebar dengan tatapan mata pada ibu mertuanya itu.

"Apah!" pekik Lavanya.

"Tidak punya pilihan lain untuk menutupi nama baik keluarga yang sudah tercemar, kamu jangan hanya berdiam diri dan cepat keluar lakukan pernikahan ini," tegas Maria.

"Tidak Tante, saya tidak terlalu mengenal Mike, tidak mencintainya dan saya tidak akan menikah dengannya," Lavanya menolak keras.

"Lalu kamu pikir Damian mencintai kamu? Kamu lihat semua yang terjadi, apa kamu pikir semua kejadian ini adalah bentuk cintanya kepada kamu yang sudah mempermalukan keluarga besar saya, kamu masih bisa berbicara tentang cinta hah!" ucap Maria.

"Tetapi saya tidak mungkin menikah dengan pria lain dan apalagi harus menggantikan seseorang yang harus menikah dengan saya!" tegas Lavanya.

"Cukup Lavanya, kamu jangan protes dan turuti apa yang saya katakan! ini sudah keputusan keluarga saya dan kamu juga harus mengambil tanggung jawab untuk pernikahan ini. Jangan hanya gara-gara permasalahan kecil dan tidak selevel dengan keluarga saya dan nama baik keluarga saya akan tercemar!" tegas Maria.

"Tetapi Tante....."

"Kamu mungkin menjadi korban karena pernikahan ini, kamu ditinggalkan dan tidak tahu apa alasannya yang akhirnya membuat keyakinan Damian untuk mengakhiri pernikahan kalian, tetapi ada tanggung jawab yang harus kamu selesaikan dan jika kamu tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, maka orang tua kamu akan saya hancurkan!" tegas Maria tidak main-main memberi ancaman membuat Lavanya benar-benar terdiam.

"Jangan hanya berdiam seperti patung! cepat keluar dari ruangan ini!" tegas Maria tidak berbicara terlalu panjang dan langsung keluar dari ruangan Lavanya dengan keputusan yang tidak bisa dibantah.

"Tidak! ini tidak mungkin," ucap Lavanya merasa hari ini sangat konyol dan tidak mungkin dia lakukan.

******

..."Saya terima nikahnya Lavanya Anggraini dengan mas kawin tersebut dibayar tunai....."...

..."Bagaimana saksi,"...

..."Sah!"...

..."Sah,"...

..."Alhamdulillah,"...

Mike harus menggantikan saudaranya untuk menikahi Lavanya agar nama baik keluarga tidak tercemar, pernikahan itu berjalan dengan lancar yang disorot kamera wartawan yang terus mengambil momen-momen dalam pernikahan tersebut. Lavanya dipaksa memberi senyumannya seolah-olah tidak terjadi apapun.

Untung saja semua masih bisa diatasi Brahmana, bagaimana mereka memang tidak mengetahui siapa yang akan menikah dan mereka mengetahui yang menikah adalah salah satu putra dari Brahmana.

Mike menghela nafas, harus mengambil tanggung jawab dari perbuatan kakaknya yang tidak tahu apa alasannya meninggalkan pernikahan itu dan tidak memunculkan dirinya sehingga membuat kekacauan yang masih bisa diatasi oleh keluarga itu.

Bersambung ....

...Para pembaca saya kembali menyajikan karya terbaru, besar harapan saya untuk para pembaca terus mendukung karya saya, sedikit banyaknya dukungan yang kalian berikan merupakan hal terbesar bagi saya, jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai bab akhir dan jangan biasakan menabung bab, like, koment, dan subscribe, vote yang banyak....

...Terima kasih para pembaca salam cinta dari saya author.........

Episode 3 Belum Siap

Acara pernikahan berjalan begitu lancar, Arumi sudah pasti akan menjadi tamu undangan, terlihat cantik menggunakan dress hitam seperti biasa rambutnya selalu digerai, matanya melihat ke arah pelaminan bagaimana Lavanya dan Mike secara mendadak bersanding di pelaminan yang menerima ucapan selamat dari para tamu.

"Sungguh drama yang cukup menarik!" Arumi menoleh ke sebelahnya.

Clara tampak sinis dengan senyumnya yang seolah-olah mengejek pasangan pengantin tersebut.

"Mungkin saja, kak Damian mendapatkan kesadaran dan akhirnya memutuskan untuk tidak menikah dengan wanita kampungan sepertinya, tetapi sayang sekali keluarga ini adalah keluarga yang penuh dengan citra baik, untuk menutupi satu kebodohan anak dan mereka harus mengorbankan anak yang satu," sahut Clara terdengar sini sembari mengendus.

"Huhhhhh, drama yang sangat memuakkan," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Arumi yang membuat Arumi melihat ke Clara.

"Apa yang dia katakan," sahut Arumi tidak mengerti.

Menghela nafas dan kemudian langsung pergi.

*****

Acara pernikahan sudah selesai, acara yang dilaksanakan dari pagi hari sampai sore hari. Pernikahan itu bahkan menjadi trending topik berita, komentar positif yang diterima Brahmana.

Maria bersama suaminya bahkan sudah pulang ke rumah mewah mereka.

"Pa coba lihat?" Maria memperlihatkan tablet pada sang suami.

"Retensi bisnis yang dimiliki Mike langsung naik ketika orang-orang mengetahui bahwa dia menikah dengan gadis biasa, apa ini merupakan keberuntungan atau hanya kebetulan saja?" tanya Maria.

"Ini keberuntungan, sepertinya alam tidak menginginkan kita untuk jatuh dan para pesaing ternyata tidak bisa mendahului kita, meski Damian telah melakukan kesalahan, tetapi lihatlah kita bisa mengatasi masalah ini, dan nama Mike semakin dikenal," ucap Brahmana tidak lepas dari keuntungan atas semua yang telah terjadi.

"Itu artinya keputusan Mama sudah tepat untuk menggantikan Mike sebagai pengantin Lavanya," sahut Maria.

"Menurut Mama keputusan itu sudah tepat atau keputusan itu justru mengorbankan ku?" di tengah pembicaraan suami istri itu tiba-tiba saja terdengar suara sangat dingin yang membuat pasangan suami istri itu melihat ke arah pintu rumah.

"Mike, kamu ada di sini dan bukankah seharusnya kamu menikmati pernikahan kamu di hotel mewah yang sudah disiapkan?" tanya Brahmana.

"Bagaimana mungkin Mama dan Papa hanya memikirkan keuntungan setelah menyuruhku menikah dengan wanita yang seharusnya menjadi saudara iparku," sahut Mike.

"Sudahlah. Mike, lagi pula lihatlah hanya beberapa jam saja pernikahan ini telah usai, retensi bisnis kamu naik tinggi, ini artinya kelayan-kelayan akan semakin banyak mendekati kamu dan bisnis kamu akan berkembang berkembang pesat, ini juga menjadi kabar baik untuk perusahaan dan terlebih lagi untuk nama baik Papa yang akan menjadi pemimpin negara di tahun depan," ucap Brahmana.

"Papa hanya memikirkan semua itu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku?" tanya Mike.

"Mike, dunia ini sangat kejam dan jika ingin bertahan harus ada yang dikorbankan, kamu jangan berlebihan, ini juga demi kebaikan kamu dan sebaiknya kamu nikmati pernikahan kamu," sahut Maria.

Mike merasa percuma berbicara dengan kedua orang tuanya, orang tua yang lebih mementingkan nama baik daripada perasaannya yang harus menggantikan saudaranya dalam pernikahan.

*******

Kamar hotel mewah yang menjadi pilihan dari hadiah kedua orang tua Mike terhadap pasangan pengantin baru.

Lavanya masih tetap dengan pakaian sebelumnya, cantik dan anggun duduk di pinggir ranjang yang sudah ditebar kelopak mawar. Harum kamar yang luas itu terasa begitu berbeda, romantis teh dengan lampu yang sedikit redup.

Krekkk

Suara pintu kamar terbuka pelan membuat detak jantung Lavanya berdebar kencang, matanya tetap masih melihat ke arah bawah seolah-olah enggan untuk menatap pria yang sudah berdiri di hadapannya.

"Kamu akan tetap menggunakan pakaian itu?" tanya Mike.

Lavanya diam antara takut dan juga tidak nyaman.

"Kamu tidak mendengarkan saya?" tanya Mike.

Mike mencoba rileks, terlihat membuka kancing bagian tengah jasnya dan kemudian meletakkan jas tersebut di atas tempat tidur yang kemudian duduk disebelah Lavanya yang membuat Lavanya semakin takut dengan jantungnya berdebar dengan kencang.

Mike layaknya seperti laki-laki normal jika dihadapkan dengan seorang wanita yang berada di sebelahnya tangannya perlahan menyentuh bahu Lavanya dan seketika spontan menghindar.

"Jangan mendekati saya," ucapnya.

"Lavanya saya sudah menikahi kamu dan saya adalah suami kamu," ucap Mike memberi sedikit penekanan untuk wanita itu agar terlihat lebih rileks lagi.

Lavanya benar-benar menghindar dan berdiri dari tempat duduknya yang sekarang berdiri di hadapan Mike.

"Pernikahan ini bukan pernikahan yang kita inginkan, saya belum bisa menerima semua pernikahan ini, saya masih bingung kenapa Mas Damian meninggalkan saya di hari yang paling bahagia ini, saya belum bisa benar-benar menerima kamu," jawabnya jujur apa adanya mengekspresikan hatinya.

Mike menghela nafas panjang.

"Oke, saya paham apa yang kamu rasakan saat ini dan sama dengan saya, kamu benar bahwa kita sama-sama kaget berada dalam situasi yang tidak seharusnya kita jalani, oke mungkin saya berlebihan, saya terlalu cepat dan saya yakin kamu belum siap, tetapi Lavanya kita sudah berada di titik pernikahan ini dan saya berharap pelan-pelan kita berdua menerima pernikahan ini," ucap Mike ternyata orangnya sangat santai dan tidak mempersulit keadaan.

Lavanya jauh sedikit lebih tenang, untung saja Mike bukan tipe laki-laki memaksa dan meski dia tidak terlalu mengenal siap Mike sebenarnya, Karena Lavanya jarang sekali bertemu dengan laki-laki yang menghabiskan masa mudanya di Luar Negeri dengan pendidikan.

"Kalau kamu ingin istirahat dan ingin bersih-bersih, maka silahkan, saya akan keluar dan nanti akan kembali ke kamar ini lagi," ucap Mike kemudian berdiri dari tempat tersebut membuat Lavanya merasa lega.

******

Hari ini akhirnya Lavanya pindah ke kediaman kedua orang tua Mike. Penampilan Lavanya tetap saja sederhana meski sudah menjadi menantu kolongmerat. Mike berjalan terlebih dahulu yang diikuti Lavanya dan seorang pelayan yang membawa koper Lavanya.

Keluarga besarnya tampak melaksanakan sarapan seperti biasanya.

"Kamu antar kopernya ke kamar saya dan pakaiannya langsung kamu susun ke dalam lemari yang kosong!" titah Mike pada asisten rumah tangga tersebut.

"Baik tuan," sahut asisten rumah tangga yang kemudian langsung pergi.

Lavanya kembali mengikuti Mike yang menghampiri meja makan dengan kursi yang ditarik oleh pelayan dan Mike duduk.

Lavanya bingung dengan sistem keluarga tersebut, melihat salah satu pelayan juga melakukan hal yang sama untuk mempersilahkannya duduk.

Lavanya seperti orang linglung tetapi tetap duduk dan bergabung dengan keluarga elit-elit tersebut.

"Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Maria langsung to the point.

"Menurutku hal itu tidak perlu dibahas," sahut Mike.

"Oke, tidak perlu di lanjutkan," sahut Maria.

Maria menghela nafas, menghentikan makannya dan melihat ke arah Lavanya yang tetap menunduk. Maria menggerakkan matanya kepada pelayan yang membuat pelayanan itu langsung mengambil sarapan untuk Lavanya.

"Lavanya mulai sekarang kamu tinggal di rumah ini, rumah ini memiliki aturan dan nama yang baik, sebagai keluarga baru, kamu juga harus menaati peraturan yang berlaku," ucap Maria membuat Lavanya terdiam.

"Kamu sudah menjadi menantu di rumah ini dan mulai hari ini kamu panggil saya seperti Mike memanggil saya dan begitu juga dengan suami saya. Kamu harus bisa mengimbangi keluarga ini, baik dari cara fashion, tata krama dan juga nama baik yang sudah tercipta selama ini pada keluarga ini!" tegas Lavanya.

"Apa iya bisa mengembang keluarga ini," celetukan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Clara yang membuat Lavanya menatap serius.

"Mama tidak menyuruh kamu untuk berkomentar!" tegas Maria.

"Di rumah ini semua menaati peraturan yang sudah ada, baik pelayan dan siapapun itu. Aku tidak yakin jika dia bisa melakukan hal itu," sahut Clara ragu.

"Diamlah Clara," sahut Brahmana dengan suara dingin membuat Clara langsung terdiam dengan menghela nafas yang tidak bisa berkomentar apapun lagi.

"Peraturan keluarga, peraturan seperti apa yang mereka maksud, apa benar yang dikatakan Clara jika aku mampir," batin Lavanya.

Bersambung....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!