Andrea menatap takjub deretan gedung percakar langit yang ada di hadapannya. Mulutnya ternganga. "Bagaimana cara mereka mendirikan bangunan setinggi itu? Orang-orang kota memang luar biasa. Hebat!"
Andrea Goh, gadis 22 tahun yang baru seminggu datang ke kota guna menemui sang nenek, tak henti berdecak kagum dan memuji setiap bangunan megah yang dilihatnya. Tinggal di sebuah pedalaman di mana kehidupan di sana serba sederhana dan jauh dari kecanggihan teknologi modern, membuatnya seperti berpindah ke dimensi lain. Dan hari ini dia berencana mencari pekerjaan.
"Permisi, Nyonya. Aku baru saja datang ke kota ini, jadi masih belum tahu jalan menuju pasar. Bisakah kau membantuku menunjukkan arah?" tanya Andrea sopan pada seorang wanita yang melintas. Tak lupa dia menyunggingkan senyum manis.
"Oh, orang kampung ternyata. Pantas bau."
Sebelah alis Andrea sontak terangkat ke atas begitu mendengar jawaban dari wanita yang disapanya. Bau?
"Hei Nona, lebih baik kau kembali saja ke kampung halamanmu. Orang sepertimu tak pantas berada di kota dan mencari pekerjaan. Tahu?"
"Pantas atau tidaknya bukan kau yang menentukan. Dan apa katamu tadi? Aku bau?"
Andrea maju ke depan. Ditatapnya dengan bengis wanita yang lancang menghinanya. "Kurasa sikat gigi di rumahmu terbuat dari tulang domba. Makanya kalimat yang keluar dari mulutmu begitu busuk dan kotor. Puihhh!"
"A-APA?"
"Oh, ternyata kau juga tuli. Ckck, tak ku sangka orang yang tinggal di kota begitu minim sopan santun. Sikapmu kalah jauh dengan kami yang tinggal di pedalaman. Seenaknya saja kau mengataiku bau. Kau pikir dirimu tak bau? Perutku bahkan sampai mual gara-gara mendengar suaramu. Menyesal aku bertanya dengan nada sopan tadi!" hardik Andrea tanpa rasa takut. Jangan dikira dia baru datang di kota lantas membiarkan orang-orang menghinanya. Akan Andrea lawan sampai titik darah penghabisan. "Dengar ya! Kalau ucapanmu hanya bertujuan untuk menyakiti hati orang lain, sebaiknya kau diam saja atau pura-pura bisu. Bau-bau! Mulutmu itu yang penuh kotoran. Dasar tak punya sopan santun!"
Dimaki brutal oleh seorang gadis pedesaan, membuat wanita tersebut syok setengah mati. Mulutnya hanya bisa ternganga lebar tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Dia benar-benar tak menyangka akan dipermalukan sedemikian rupa di depan umum. Oleh gadis desa pula.
"Kenapa diam? Sadar kalau dirimulah yang bau? Iya?!" bentak Andre lagi. Raut wajahnya saat ini benar-benar bengis dengan kedua mata yang melotot besar. Ingin menindasnya? MIMPI.
"K-kau ... kau ....
"Kau apa hah? Masih mau menghinaku? Ayo cepat katakan! Dengan senang hati aku akan membalas!"
Orang-orang yang melihat pertengkaran tersebut mulai tertarik memperhatikan. Mereka berkerumun sambil berbisik lirih, menebak-nebak akan apa yang terjadi.
"Dasar gadis kampung. Huh!"
"Heh, mau kabur ke mana kau? Kemari! Urusan kita belum selesai!" teriak Andrea tak terima ditinggal begitu saja. Kesal, dia segera mengejar wanita yang telah meninggalkannya sambil berlari cukup kencang. Namun ....
Brukkk
Tepat di tikungan sebuah gedung, tiba-tiba saja Andre bertabrakan dengan seseorang. Kejadian tersebut membuat tubuhnya limbung. Takut jatuh, tangannya asal meraih benda apapun untuk berpegangan. Di detik berikutnya, biji mata Andrea hampir melompat keluar saat menyadari kalau tangan orang yang telah menabraknya bertengger di tempat yang sangat sensitif.
"JAUHKAN TANGANMU DARI DADAKU, ORANG MESUM! BRENGSEK!!"
Teriakan Andrea sukses membuat orang tersebut membeku di tempat. Untuk seperkian detik tak ada reaksi apapun yang muncul hingga satu kejadian membuat kepalanya terdongak ke atas.
"Arghhhh! Kenapa kau menjambak rambutku!" teriak Lucien kesakitan.
"Masih bertanya kenapa?"
Wajah Andrea merah padam. Belum juga selesai urusannya dengan wanita yang mengatainya bau, muncul lagi orang kota yang berani berbuat mesum padanya. Sungguh, mereka yang tinggal di kota besar tak ada yang memiliki sopan santun.
"Biar ku patahkan tanganmu supaya gadis lain tak menjadi korban. Dasar sialan!" umpat Andrea kemudian bersiap hendak mematahkan tangan si pelaku. Amarah begitu menggebu membakar tubuh.
"Wait wait wait! Mematahkan tanganku?"
Lucien syok. Niat hati ingin mencari udara segar di luar kantor, malah harus berakhir dengan bertemu orang gila yang ingin mematahkan tangannya.
"Ya. Orang mesum sepertimu sudah seharusnya diberi pelajaran supaya tidak ada korban lain. Jika dibiarkan, tanganmu yang kurang ajar itu pasti akan sembarang bertengger di dada para gadis. Kurang ajar! Kenapa kota seindah ini harus dipenuhi orang-orang tak bermoral seperti kalian?"
Jika tadi orang-orang berkerumun karena melihat Andrea mengamuk karena dikatai bau, kali ini kerumunan jauh lebih banyak lagi setelah mendengar teriakannya yang menyebut orang mesum. Kejadian ini tentu saja membuat Lucien bingung harus melakukan apa. Atas saran beberapa orang, Lucien akhirnya ditarik paksa menuju kantor polisi.
"Permisi, aku ingin melaporkan tindak kriminal yang dilakukan oleh seorang pria cabul. Di tempat umum dia berani melakukan hal mesum kepada seorang gadis. Lekas proses perbuatannya dan jebloskan dia ke dalam penjara!" lapor Andrea dengan penuh semangat. Posisi tangannya saat ini tengah menarik dasi milik si pria mesum tersebut.
Hening. Wajah para polisi langsung pucat setelah mengetahui siapa orang yang dituduh sebagai pria cabul.
"Permisi. Hellow?"
Masih tak ada respon. Kening Andrea mengernyit, tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
(Aneh. Ada apa dengan para polisi di sini? Kenapa mereka malah terlihat seperti orang yang sedang ketakutan?)
Lucien menghela nafas. Dia menatap datar pada semua polisi yang ada di sana. Adakah diantara mereka yang berani menerima laporan tak masuk akal dari gadis gila yang menuduhnya sebagai pria mesum? Jika ada, detik itu juga dia akan memutasi mereka ke perbatasan yang rawan perang. Sungguh, hari ini sangat menjengkelkan.
"Em N-Nona, sebaiknya lepaskan Tuan ini dulu. K-kau salah orang," ucap salah seorang polisi akhirnya merespon. Tangannya nampak gemetar saat menyeka keringat di kening. Kentara sekali kalau dia sedang ketakutan.
"Lepaskan? Yang benar saja!" sahut Andrea tak terima. Dia lalu menoleh, menatap bengis ke arah pria yang hanya diam saja sejak tadi. "Orang mesum seperti dia ini sangat berbahaya kalau dilepas-liarkan. Keselamatan para gadis diluar sana jadi terancam nanti!"
"Nona, kami mohon tolong lepaskan. Be-beliau bukan orang seperti itu."
"Pak polisi, tugas kalian itukan menangkap orang jahat. Kenapa malah memintaku melepaskannya? Tahu tidak, tadi dia dengan sengaja menyentuh dadaku. Bukankah ini adalah pelecehan? Harus ditangkap dan diberi hukuman. Bagaimana sih!"
"Tapi Nona, beliau ....
"Sudah selesai meracaunya?"
Lucien jengah. Dengan kasar dia menghempaskan tangan gadis gila tersebut. Setelah itu Lucien menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar.
"Nona, entah apa tujuanmu sebenarnya. Tapi yang jelas, dari ujung rambut hingga ujung kakimu tak ada satupun yang membuatku bernafsu untuk menyentuh. Jadi berhentilah bertindak tak masuk akal dan menuduhku sebagai orang mesum!" ucap Lucien dingin.
"Apa kau bilang? Hei, kau hilang ingatan apa bagaimana? Aku ingat dengan jelas bagaimana tangan kirimu menyentuh dadaku dan mer*masnya pelan. Masih ingin mengelak? Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus dihukum. Titik!"
Andrea kekeuh dengan tuduhannya, sedangkan Lucien tampak mengepalkan tangan menahan diri agar tidak terpancing emosi. Para polisi? Mungkin jika ada yang menyayat tubuh mereka, tidak akan ada darah yang mengalir keluar saking tubuh mereka membeku menahan rasa panik sekaligus takut.
***
"Berhenti memprovokasi atau kau akan menyesal karena berurusan denganku!"
"Halah provokasi apa. Berurusan dengan orang mesum sepertimu mana mungkin membuatku menyesal. Justru jika dilepas baru akan memberi efek penyesalan karena aku telah dengan sengaja membiarkan para gadis di luar sana berada dalam bahaya. Dasar pria mesum!"
"Kau!!!"
Habis kesabaran, Lucien melangkah keluar dari kantor polisi. Raut wajahnya sangat buruk. Tak menyangka kalau dirinya akan tertimpa nasib sesial ini.
"Menjijikkan! Apa ini adalah trik baru dari para wanita yang ingin menggodaku? Cihhh!"
Dari arah belakang, Andrea berjalan sangat cepat hendak memburu si pria mesum yang keluar begitu saja dari kantor polisi. Khawatir pria tersebut kabur, dia melihat ke kanan kiri mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memberi pelajaran. Kebetulan sebuah mobil yang membawa tanaman berhenti tak jauh darinya. Dan tanpa banyak pikir lagi Andrea mengambil satu dahan yang terjuntai lalu menjadikannya sebagai cambuk.
"Ingin kabur dariku?" ujar Andrea sambil menyeringai sinis. "Sampai dasar neraka pun kau akan tetap ku kejar."
Lucien yang tak menyadari ada bahaya mendekat, memekik kencang antara kaget dan juga kesakitan saat sebuah pukulan menghantam keras di bagian punggung. Segera dia berbalik sambil meringis menahan rasa panas yang tiba-tiba muncul.
"Apa yang kau lakukan padaku hah!" bentak Lucien emosi setelah tahu siapa yang baru saja menyerangnya. Ekor matanya kemudian melirik ke arah senjata di tangan si gadis gila. "Kau lagi kau lagi! Apa maumu sebenarnya!"
"Menegakkan keadilan," jawab Andrea lantang. Tangannya terangkat ke atas, siap mengayunkan cambukan pada si pria mesum.
"Berani kau lakukan, akan langsung ku patahkan kedua tanganmu!"
"Patahkan saja kalau mampu."
Ctarr ctarr
Lucien Scott, CEO dari GS Company, raja dari segala raja penguasa bisnis yang sahamnya ada di mana-mana, kini tengah menghadapi serangan brutal dari seorang gadis yang entah siapa. Andai gadis ini tahu siapa dia sebenarnya, mungkin tak akan seberani ini bersikap lancang.
"Rasakan ini! Kau pikir aku akan melepaskanmu seperti yang dilakukan oleh para polisi itu? Tidak akan! Hari ini hasil dari perbuatan mesummu akan ku bayar lunas!" ucap Andrea sambil terus melayangkan cambukan.
"Hentikan ku bilang!" teriak Lucien sambil berusaha menghindar. Otaknya segera berpikir keras mencari cara untuk balas menyerang.
(Persetan dia seorang gadis. Berani menyerangku itu artinya dia siap menanggung akibatnya! Gadis sialan!)
Tak tahan terus dicambuk, Lucien berlari menuju sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dia mengambil salah satu tangkai tanaman di sana lalu berbalik dan membalas serangan gadis tersebut. Alhasil, di pinggir jalan disaksikan oleh banyak orang, dua orang asing dengan latar belakang yang berbeda saling balas mencambuk menggunakan tanaman yang diambil paksa dari sebuah mobil.
"Pria tidak boleh menyerang wanita!" teriak Andrea sambil mengusap lengannya yang terasa panas.
"Salahmu sendiri berani menyerangku. Rasakan akibatnya!" sahut Lucien sembari meringis saat menyentuh pipi. Garis merah tercetak jelas di sana.
"Aku sedang menghukummu."
"Dan aku sedang membela diri."
"Membela diri dari apa? Jelas-jelas di sini aku adalah korban."
"Dengan dada serata itu? Cihh, telanjang pun aku tak sudi menyentuhnya."
"Sialan! Mulutmu benar-benar cabul. Aku tidak akan melepaskanmu!"
Veroz, orang kepercayaan pemilik GS Company, terlonjak kaget begitu menerima laporan dari penjaga yang mengatakan kalau bosnya diserang oleh orang asing. Gesit, dia berlari keluar meninggalkan perusahaan sambil membawa senjata api dibalik baju. Di belakangnya ada belasan bodyguard yang mengikuti lengkap dengan senjata masing-masing.
"Di mana mereka?"
"Tak jauh dari kantor polisi. Pelakunya seorang gadis."
Langkah Veroz terhenti. Alisnya berkerut.
"Gadis?"
"Iya. Tuan Lucien diserang menggunakan cambuk yang berasal dari tanaman hias. Dan wajahnya sudah penuh luka."
"Kau tidak sedang bercanda, bukan?" tanya Veroz memastikan. Informasi ini terdengar konyol. Sejak kapan bosnya tertarik berkelahi dengan seorang gadis? Menggunakan tanaman sebagai senjata pula. Apakah ini masih tentang sang Tiran yang bengis itu?
"Tuan Veroz, saya sendiri agak bingung menjelaskan. Tadi Tuan Lucien keluar dari kantor polisi diikuti oleh seorang gadis yang menyebutnya sebagai pria mesum. Lalu mereka berdua cekcok kemudian saling mencambuk. Sekarang media sosial dipenuhi trending kalau pewaris keluarga Scott adalah seorang pria cabul," lapor salah satu bodyguard.
"Hmmm," Veroz bergumam lirih. Dia lalu menelpon seseorang. "Turunkan berita tentang Tuan Lucien di media. Ganti dengan topik korupsi yang terjadi di anak cabang. Laksanakan dengan cepat sebelum penghuni rumah utama mengendus berita ini. Jika terlambat, resikonya tanggung sendiri!"
Setelah memberi perintah, Veroz mengajak para bodyguard untuk segera menghampiri bos mereka. Dalam hati dia meyakini kalau gadis yang menyerang bosnya tidaklah terlalu berbahaya. Menyerang menggunakan cambuk tanaman, ini adalah senjata terkonyol yang pernah Veroz dengar semenjak menjadi asisten dari pemilik GS Company.
"Tuan Veroz, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sepertinya Tuan Lucien terluka parah."
"Cukup pantau dari jauh dulu. Kalau kondisinya sudah tidak terkendali baru kita muncul. Tuan Lucien berpesan sedang tidak ingin diganggu siapapun."
"Apa beliau hanya sedang bersenang-senang dengan gadis itu?"
"Bisa jadi."
"Baiklah."
Di pinggir jalan, Andrea dan Lucien kini sama-sama terduduk dengan nafas tersengal. Keringat mengalir membasahi wajah dan tubuh mereka. Sementara orang-orang yang tadi asik menonton, sibuk merekam momen sambil sesekali terkikik geli.
"Aku lelah sekali. Haus," keluh Andrea. Tak disangka memberi pelajaran pada seorang penjahat akan menguras tenaga sebanyak ini.
"Ini semua salahmu karena bertindak berlebihan. Aku bukan orang mesum. Aku pria baik-baik," sahut Lucien sambil menelan ludah. Jujur, tenggorokannya seperti gurun pasir yang diterpa kemarau panjang. Sangat kering.
"Pria baik apa yang sembarangan menyentuh aset milik seorang gadis. Salah tetap saja salah. Jangan sok membela diri."
"Aset mana yang kau maksud? Kecil begitu. Tanganku bahkan tak merasakan apapun saat berada di dadamu. Itu semua terjadi karena kecelakaan yang tak disengaja. Kita bertabrakan."
"Halah, biar kecil begini juga termasuk aset. Aku merawatnya dengan penuh kasih sayang supaya calon anakku nanti bisa mendapatkan yang terbaik. Tahu kau pria mesum!" hardik Andrea tak terima asetnya dihina.
Lucien terdiam. Tiba-tiba saja tengkuknya meremang. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang gadis yang terang-terangan bicara vulgar di hadapannya. Karena biasanya, setiap wanita yang mendekatinya begitu penuh pura-pura dan sok menjaga image agar terlihat seperti wanita baik-baik. Akan tetapi gadis ini malah kebalikannya.
"Apa kau tidak malu membahas hal seintim ini di depan pria asing?" tanya Lucien sambil menatap sekilas ke arah gadis yang entah siapa namanya.
"Untuk apa malu? Aku pakai baju," jawab Andrea asal. Sedetik kemudian tubuhnya menegang. Cepat-cepat Andrea menyilangkan kedua tangan di depan dada lalu menatap bengis ke arah pria di sampingnya. "Jangan bilang kau ingin melihat aset di dadaku. Dasar pria cabul! Sepertinya hari ini aku harus melakukan operasi dadakan untuk memperbaiki otakmu yang sudah rusak itu! Sialan!"
Dari kejauhan, Veroz hanya mendesah pasrah menyaksikan bagaimana bosnya dianiyai dengan begitu brutal.
"Sepertinya akan ada sejarah baru di keluarga Scott nanti. Hmmm,"
***
Di sebuah mansion tengah kota, seorang pria mengenakan celana panjang berdiri di depan jendela yang terbuka. Membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan meniup rambutnya, sudut bibirnya tampak menyunggingkan senyum tipis. Di belakangnya berdiri seorang pria yang masih mengenakan stelan jas lengkap.
"Unik."
Sebuah kata singkat lolos dari bibir Lucien setelah terdiam beberapa menit.
"Anda ingin saya melakukan apa terhadap gadis itu, Tuan?" tanya Veroz membuka pembicaraan.
"Culik lalu tenggelamkan ke tengah laut," jawab Lucien. " Musuh yang sangat mematikan. Baru kali ini ada seseorang yang berani menyerangku di tempat terbuka."
Veroz diam tak menyahut. Perintah untuk menculik dan membuang gadis yang telah menyerang bosnya tak serta merta dia laksanakan. Terlalu ambigu karena reaksi bosnya saat memberikan perintah tersebut berbeda dari biasanya.
"Sudah kau bereskan berita di media?"
"Sudah, Tuan. Informasi tentang gadis itu juga sudah saya terima. Apakah Anda ingin memeriksanya?"
"Kau pikir aku sesantai itu sampai harus membuang waktu hanya untuk memeriksa informasi yang tidak penting?"
Lucien berbalik kemudian duduk di sofa. Kakinya bersilang.
"Namanya Andrea Goh. Belum ada banyak informasi mengenai gadis itu di kota ini. Sepertinya dia baru datang dari desa," ucap Veroz sembari menyodorkan tablet. Dia tersenyum samar saat tangan bosnya menyambut dengan cepat benda pipih berisi informasi gadis bernama Andrea tersebut.
(Lain dimulut lain pula di hati. Sejarah baru benar-benar akan terjadi di era ini)
"Sudah ku katakan aku tidak peduli. Kenapa kau masih memaksaku untuk melihat informasi tentang gadis itu?" protes Lucien sembari fokus membaca data diri tentang gadis asing yang siang tadi membuatnya menjadi bahan tontonan orang-orang. "Owh, usianya baru 22. Pantas tenaganya begitu kuat. Darah muda ternyata."
Tanpa Lucien sadari, dia kini terhanyut oleh perasaannya sendiri. Terlebih setelah mengetahui kalau Andrea bukan berasal dari keluarga pembisnis, semakin membuatnya lupa diri.
"Tuan Lucien, luka di tubuh Anda harus segera diobati. Saya akan menghubungi dokter,"
"Aku terluka sangat parah, Veroz. Segera layangkan gugatan pada Andrea!" perintah Lucien sambil tersenyum licik.
"Baiklah. Ada perintah lain?"
"Gadis itu penuh tipu muslihat. Jika langsung menjebloskannya ke dalam penjara, takutnya dia akan melubangi dinding lalu kabur dari sana. Buat agar dia mengemis maaf padaku."
"Baiklah. Selanjutnya apalagi?"
"Sekujur tubuhku sangat berharga. Nilainya hampir setara dengan seluruh harta kekayaan milik keluarga Scott. Aku akan membuat perhitungan keras sebagai ganti rugi."
"Apakah Anda akan langsung membunuh Nona Andrea?"
"Tidak, kematian terlalu mudah baginya. Aku akan menyiksanya perlahan," ucap Lucien penuh percaya diri.
Veroz mengangguk, pura-pura tak tahu akan apa yang sedang terjadi pada diri bosnya. Padahal, dalam hati dia sedang tertawa. Merasa tergelitik akan tumbuhnya sesuatu yang biasa disebut cinta pada pandangan pertama, tapi tak disadari oleh yang bersangkutan.
"Haihhh, hari ini aku benar-benar sial. Dituduh sebagai pria mesum, ingin dijebloskan ke penjara, lalu berakhir dengan tubuh penuh luka cambuk. Entah harus semahal apa Andrea membayar ganti rugi padaku nanti," ucap Lucien kemudian bangun dan berjalan menuju kamar. Di tangannya tergenggam erat tablet berisi informasi tentang Andrea.
Sementara itu di tempat lain, Andrea tengah menerima siraman rohani dari sang nenek sambil menahan sakit ketika luka di tubuhnya diobati. Akibat berkelahi dengan pria cabul, hari ini dia gagal mendapat pekerjaan. Naasnya malah pulang dengan kondisi tubuh penuh luka.
"Baru satu minggu berada di kota dan kau sudah mendapatkan musuh. Ini kota besar, Andrea. Bukan pedalaman yang aman seperti tempat tinggalmu dulu. Tahu?!" omel Erwita, neneknya Andrea.
"Iya-iya, Nek. Aku tahu,"
"Kalau memang tahu harusnya tidak sampai terluka begini. Andrea, kau harus hati-hati. Di kota memang banyak tempat yang menakjubkan, tapi kejahatannya pun tak kalah mengerikan. Jadi kau tidak boleh sembrono. Coba bayangkan jika seandainya orang itu melapor pada polisi karena kau telah menyerangnya. Pada siapa kita akan meminta bantuan? Nenekmu ini orang miskin. Tidak ada dukungan dari keluarga terpandang yang bisa dijadikan sandaran. Jadi tolong berhati-hatilah. Ya?"
"Nek, aku itu cuma membela diri. Kenapa juga harus takut dilaporkan? Banyak orang yang jadi saksi kalau pria itu memang berbuat cabul padaku. Dan sebagai pihak berwenang, polisi sudah seharusnya berpihak pada korban," ucap Andrea dengan yakin.
"Dirimu terlalu naif. Ini kota, tempat di mana uang menjadi raja."
"Uang menjadi raja? Maksudnya?"
"Andrea." Erwita menatap sang cucu lekat. "Tak peduli apakah benar atau salah, jika yang menjadi lawanmu merupakan orang yang berkuasa dan punya banyak uang, polisi tidak akan berpihak pada kita. Karena apa? Karena kita miskin. Mereka lebih takut pada uang daripada menerima cap dosa karena membela yang salah. Pahami nasehat Nenek dengan baik. Selagi kau bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, jauhi yang namanya masalah. Segera menghindar jika bertemu dengan mereka yang punya status dan kekayaan. Itu hanya akan mendatangkan kesialan."
Andrea termenung diam. Semengerikan itukah kehidupan di kota besar? Bahkan orang kepolisian pun takluk pada mereka yang ber-uang.
"Ternyata orang-orang di sini darurat moral ya, Nek. Kalau di tempat tinggalku dulu yang salah akan langsung diadili dengan hukum adat. Jika kesalahannya terlalu besar, akan langsung mendapat hukum rimba. Itulah kenapa aku tumbuh menjadi gadis yang sopan dan berani. Semua tindakan ada porsi hukum dan tanggung jawabnya. Jadi tak bisa asal."
"Lalu kenapa kau menyakiti orang lain?"
"Itu karena para polisi abai. Aku sudah berusaha melaporkan secara baik-baik, tapi malah diminta agar melepaskan tersangka. Ya sudah kuberi hukum rimba saja. Begitu aturan di tempat tinggalku dulu."
Nenek Erwita terkekeh. Sikap cucunya begitu terus terang. Lucu, tapi agak mengerikan juga mengingat di kota tidak ada yang namanya hukum rimba.
"Oya, Nek. Tadi saat pulang aku menemukan selebaran. Isinya ada lowongan pekerjaan yang tidak menuntut latar belakang pendidikan. Rencananya besok pagi aku ingin melamar ke sana," ucap Andrea menyampaikan niatnya pada sang nenek.
"Kau yakin masih ingin pergi ke luar? Tidak takut bertemu pria mesum lagi?" ledek Nenek Erwita gemas sendiri.
(Sudah babak belur begini nyalinya masih begitu besar. Cucuku sungguh pemberani. Untung saja masih ada kesempatan untuk bertemu. Lega rasanya)
"Untuk apa takut? Selagi bukan berada di pihak yang salah tak ada yang perlu ditakuti. Lagipula tidak mungkin semua orang kota berhati jahatkan, Nek? Aku yakin pasti masih ada sosok baik yang bisa ku jadikan sebagai teman."
"Boleh-boleh saja, Nenek juga tahu kau ingin melihat dunia luar. Akan tetapi berusahalah agar tidak mengulang kejadian seperti hari ini. Selain bisa membuatmu berurusan dengan polisi, Nenek khawatir kau akan menjadi incaran orang jahat. Nenek sudah tua, siapa yang akan menjaga Nenek kalau kau sampai kenapa-napa,"
"Nenek," rengek Andrea. Dipeluknya penuh sayang perempuan tua yang kini menjadi keluarga satu-satunya di dunia ini. "Walaupun kita lama berpisah, aku tetap menyayangimu. Baiklah, aku berjanji kejadian hari ini tidak akan terulang lagi. Kecuali jika terdesak. Aku perlu melakukan pembelaan untuk melindungi diri sendiri. Bolehkan?"
"Ya ya ya, kau aturlah sebaik mungkin. Sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Besok masih harus mencari pekerjaan bukan?"
"Baiklah, Nek. Ayo,"
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!