Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Jadi Miliarder Dalam Satu Malam

Membutuhkan Bantuan

Miles Sterling duduk di kursi, tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya tergenggam erat. Tatapannya tak pernah lepas dari pintu ICU. Di balik pintu itu, ibunya—satu-satunya keluarga yang ia miliki—sedang berjuang mempertahankan hidup.

Saat itu juga, seorang dokter yang mengenakan jas putih keluar.

"Tuan Sterling, kondisi ibumu sangat kritis. Kau harus menyiapkan biaya sebesar $250.000 untuk biaya pengobatannya."

Miles hanya menatap dokter itu tanpa mampu berkata sepatah kata pun. Sang dokter tampaknya mengerti, lalu menepuk bahunya dengan lembut sebelum pergi.

"Dua ratus lima puluh ribu dolar..." bisik Miles pelan sambil menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya tabungan. Ia hanyalah seorang menantu yang tinggal serumah dengan keluarga Wycliff. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

"Lily..." gumamnya menyebut nama istrinya. Kini Lily adalah satu-satunya harapannya. Meskipun selama ini wanita itu selalu bersikap dingin kepadanya, Miles berharap kali ini Lily akan menganggapnya serius. Nyawa ibunya bergantung pada itu.

Tanpa membuang waktu, Miles berlari kembali ke kediaman keluarga Wycliff—rumah mewah paling megah di seluruh kota. Keluarga Wycliff sangat kaya raya.

Tiga tahun lalu, Miles pernah menyelamatkan seorang pria tua yang sedang dipukuli di jalan. Pria itu ternyata adalah Darius Wycliff, kepala keluarga Wycliff yang sangat berpengaruh. Sebagai rasa terima kasih, Darius membawa Miles pulang dan menjodohkannya dengan cucu perempuannya, Lily.

Namun setelah Darius tiada, semuanya berubah. Seluruh anggota keluarga lainnya membenci Miles dan memperlakukannya seperti sampah—tak lebih dari beban yang tidak berguna.

Begitu Miles melangkah ke koridor, ia mendengar suara pelan dari ruang duduk. Salah satunya adalah suara Lily, sedangkan yang lainnya adalah suara seorang pria.

Miles mempercepat langkahnya, lalu tertegun begitu melihat pemandangan di hadapannya.

Lily sedang bersandar santai di sofa dengan balutan jubah sutra, sementara kedua kakinya diletakkan di atas pangkuan seorang pria. Pria itu bukan sembarang orang. Dia adalah Kelvin Stewart, mantan kekasih Lily.

Tangan Kelvin membelai tubuh Lily dengan penuh percaya diri. Namun begitu Lily melihat Miles, tatapannya langsung berubah sedingin es.

Tanpa benar-benar menoleh, Lily mengangkat gelas anggurnya perlahan.

"Dia datang lagi," katanya datar, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada kehadiran Miles.

Kelvin menoleh, berpura-pura tidak mengenali Miles. Lalu ia mengangkat alisnya.

"Oh! Apa aku mengganggu sesuatu?" katanya sambil tersenyum palsu. "Bagaimana kalau aku memberi kalian berdua sedikit waktu?"

Namun setelah mengucapkan itu, ia tetap duduk dengan santai, bahkan masih terus mengelus paha Lily.

Lily menyandarkan tubuhnya perlahan dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak.

"Tidak usah," ucapnya dingin. "Kalau dia memang ingin mengatakan sesuatu, katakan saja di sini."

Miles berpura-pura tidak memperhatikan keintiman antara istrinya dan mantan kekasihnya.

Rahangnya mengeras, tetapi suaranya tetap tenang. "Aku perlu bicara denganmu, Lily... berdua saja. Ini penting."

Lily mengangkat sebelah alis. Suaranya tetap datar tanpa sedikit pun emosi. "Untuk apa? Supaya kau bisa mengemis tanpa ada yang melihat? Jangan malu-malu. Kelvin sudah tahu semua kebiasaan-kebiasaan kecilmu."

Pandangan Miles beralih kepada Kelvin. Pria itu memberikan senyum tipis yang tampak sopan di permukaan, tetapi sorot matanya dipenuhi ejekan.

"Tolong... Lily," kata Miles lirih. "Ini benar-benar serius."

"Tidak," jawab Lily singkat sambil mengembuskan napas panjang yang dingin, lalu berdiri perlahan. "Apa pun yang ingin kau katakan, katakan di sini."

Miles ragu sejenak. Rahangnya mengeras menahan kesal, tetapi ia membutuhkan bantuan Lily. Waktu terus berjalan. Ia tidak lagi punya ruang untuk mempertahankan harga dirinya.

"Ini tentang ibuku," katanya akhirnya dengan suara rendah. "Dia ada di ICU. Dokter mendiagnosisnya menderita sirosis hati. Mereka bilang dia harus segera menjalani operasi."

Lily hanya memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang melihat benda yang sama sekali tidak menarik baginya.

"Biayanya $250.000," lanjut Miles. "Aku butuh bantuan. Aku tahu orang tuamu mampu membayarnya. Aku akan bekerja untuk ayahmu selama lima tahun tanpa gaji. Tolong... selamatkan ibuku."

Sesaat, ada sesuatu yang sulit dipahami melintas di mata Lily. Miles sempat berpikir... mungkin saja wanita itu mulai mendengarkan.

Namun seketika ekspresinya kembali sedingin es.

Lalu terdengar dengusan pelan dari Kelvin.

"Oh, Miles," kata Lily dengan nada penuh ketidakpedulian sambil memutar gelas anggurnya perlahan, matanya tetap menatap cairan di dalam gelas. "Sepertinya kau benar-benar sudah menguasai seni mengemis. Mungkin kau bisa membuka kelas."

Kelvin terkekeh lalu menyeringai. "Jangan terlalu kejam pada pria malang ini, Lily. Selama ini dia tinggal di sini tanpa uang sepeser pun, memakai pakaian lusuh yang murah. Mana mungkin dia bisa menyelamatkan ibunya tanpa bantuan istrinya? Dengarkan saja permohonannya."

Lily meletakkan gelasnya, lalu menatap Miles dengan tatapan dingin dan tajam. "Apa kau tidak pernah berhenti mencoba memanfaatkan aku?"

Kedua tangan Miles mengepal erat.

"Aku tidak meminta untuk diriku sendiri," katanya melalui rahang yang mengatup. "Aku memohon demi ibuku. Dia membesarkanku sendirian. Bekerja tanpa kenal lelah. Dan sekarang dia..."

Lily memutar bola matanya.

"Oh, sudahlah. Setiap kali kau bicara, selalu saja 'ibuku begini, ibuku begitu'. Apa kau pikir hanya karena hidupmu sulit, semua orang berutang sesuatu kepadamu?"

"Aku pikir kau akan mengerti," kata Miles. "Sekali saja. Ini menyangkut hidup dan mati, Lily."

"Kau salah besar," potong Lily dengan dingin.

Ia memiringkan kepalanya ke sisi lain, berpura-pura menunjukkan rasa iba.

"Dan supaya jelas, orang tuaku bahkan tidak akan meludah ke arahmu, apalagi menuliskan cek untukmu. Kau bukan menantu mereka. Kau hanyalah parasit yang tinggal menumpang."

Kelvin menyandarkan tubuhnya dengan santai sambil menyilangkan kaki.

"Aduh... itu pasti menyakitkan," gumamnya sambil menepuk dahinya secara berlebihan.

Miles berdiri membeku.

Lily kembali mengangkat gelas anggurnya. "Mungkin sebaiknya kau kembali ke asalmu. Aku yakin membawa papan kardus dan berdiri di pinggir jalan akan sangat membantu penggalangan dana untukmu."

Miles tidak lagi memiliki kata-kata untuk diucapkan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan perlahan menuju tangga. Jantungnya berdetak sangat cepat.

Dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu?

Namun kemudian ia kembali mendengar suara Lily.

Kali ini wanita itu tidak lagi berbicara kepadanya.

Ia sedang menelepon seseorang.

"Oh, pastikan saja tempatnya siap malam ini," katanya. "Ya, temanya emas dan biru tengah malam. Dan aku ingin ada menara sampanye. Bukan yang murahan."

Kelvin tampak sangat puas, ia tersenyum santai sambil menyeruput minumannya.

"Ya, tentu saja aku serius," lanjut Lily. "Ini pesta ulang tahun Kelvin. Aku ingin semuanya sempurna."

Miles membeku di anak tangga ketiga.

Lalu datanglah tusukan paling menyakitkan ke dalam dadanya.

"Kirim saja tagihannya. Aku akan langsung mentransfer seluruh biayanya. $300.000, kan? Jangan khawatir soal uangnya. Aku ingin pesta ini menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Ini untuk seseorang yang benar-benar berarti."

Memohon!!

Udara dingin menerpa wajah Miles saat ia kembali melangkah keluar dari rumah itu.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jins lusuhnya. Ia tidak memiliki tujuan. Ia hanya terus berjalan. Pikirannya terus berputar pada satu pertanyaan.

"Bagaimana cara aku menyelamatkannya?"

Kurang dari dua puluh empat jam.

Hanya itu sisa waktu yang dimiliki ibunya.

Ia telah mengetuk setiap pintu, memohon kepada setiap orang yang dikenalnya, bahkan mencoba mengajukan pinjaman ke bank. Namun tidak seorang pun bersedia membantu seorang kurir miskin yang tidak memiliki aset dan tak mampu menawarkan apa pun selain janji-janji penuh keputusasaan.

Ia benar-benar sudah kehabisan jalan.

Namun kemudian sebuah pikiran melintas di benaknya.

Mungkin pihak rumah sakit bersedia memulai operasi terlebih dahulu sementara ia terus berusaha mencari uangnya. Harapan itu memang sangat tipis, tetapi ia harus mencobanya.

Miles segera berbalik dan berlari kembali ke rumah sakit. Paru-parunya terasa terbakar saat ia menerobos pintu masuk rumah sakit sekali lagi.

Untungnya, ia berpapasan dengan Dokter Tyler di lorong rumah sakit.

"Tolong!" serunya sambil terengah-engah ketika berhasil menyusul Dokter Tyler di lorong.

Pria itu menoleh dengan terkejut, lalu mengernyit ketika melihat Miles berlari menghampirinya.

"Aku mohon," kata Miles sambil mencengkeram lengan jas dokter. "Tolong, segera lakukan operasinya. Aku akan menemukan cara untuk membayarnya... apa pun yang harus kulakukan. Aku bersumpah akan melunasinya."

Miles tidak peduli meskipun banyak orang sedang memperhatikannya.

Ekspresi Dokter Tyler sedikit melunak, tetapi suaranya tetap setegas sebelumnya.

"Tuan Sterling, aku mengagumi tekadmu untuk menyelamatkan ibumu. Namun kami memiliki peraturan. Untuk operasi sebesar ini, seluruh biaya—dua ratus lima puluh ribu dolar—harus dibayar di muka. Tidak ada pengecualian."

Tenggorokan Miles terasa tercekat. "Tapi ibuku sedang sekarat. Dokter sendiri yang mengatakan dia tidak punya waktu lebih dari dua puluh empat jam. Apa Dokter akan membiarkannya tiada sebelum aku berhasil mengumpulkan uang itu? Dokter harus melakukan sesuatu."

"Aku tahu," jawab dokter itu pelan. "Dan aku benar-benar minta maaf. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Setelah mengatakan itu, ia pun pergi.

Miles berdiri membeku sesaat sebelum akhirnya melangkah sempoyongan menuju ruang tunggu. Kedua lututnya tak lagi mampu menopang tubuhnya hingga ia jatuh terduduk di lantai rumah sakit, bersandar pada dinding, sementara kepalanya tertunduk di antara kedua tangannya.

Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, tetapi ia sama sekali tidak melihat mereka. Suara-suara di rumah sakit perlahan memudar, hanya menyisakan gumaman samar dari beberapa perawat yang sedang mengobrol.

Lalu… Sebuah suara memecah keheningan.

"Berita terbaru."

Suara seorang pembawa berita wanita terdengar dari televisi kecil yang tergantung di sudut ruang tunggu.

Miles mengangkat kepalanya perlahan. Kedua matanya memerah. Ia sendiri tidak tahu mengapa pandangannya tertarik ke layar televisi itu.

Judul berita berjalan di bagian bawah layar dengan huruf-huruf besar.

"NexaChain resmi diluncurkan dengan harga 800.000.000 dolar per koin NexaChain. Setelah beredar rumor bahwa aplikasi NexaChain adalah penipuan, dari total 997.000 akun penambang yang pernah ada, sebanyak 996.999 akun telah dihapus oleh para pengguna yang benar-benar percaya bahwa aplikasi tersebut adalah penipuan. Menurut pihak NexaChain, kini hanya tersisa satu pengguna, dan pengguna tersebut dikabarkan telah berhasil menambang lima puluh koin NexaChain. Demi alasan keamanan, identitasnya masih dirahasiakan."

Darah Miles seakan membeku.

Selama beberapa saat, ia hanya menatap layar televisi itu, tidak yakin apakah pendengarannya benar.

Lalu ingatannya kembali melayang.

Lima tahun yang lalu… Ia pernah mengunduh aplikasi itu hanya karena rasa penasaran, meskipun semua orang menertawakannya. Selama beberapa minggu ia sempat menambang koin NexaChain sebelum kerasnya kehidupan memaksanya berhenti. Setelah itu ia melupakannya begitu saja, tetapi ia tidak pernah menghapus akunnya.

Dan jika berita itu benar… Jika benar hanya ada satu orang yang masih memiliki lima puluh koin… Orang itu adalah dirinya.

Miles langsung berdiri. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia hampir tidak bisa mendengar apa pun.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia berlari keluar dari rumah sakit.

Sampai akhirnya tiba kembali di kediaman keluarga Wycliff untuk kedua kalinya malam itu.

Ia menerobos masuk melalui pintu depan sambil terengah-engah.

Lily dan Kelvin masih bersantai di ruang tamu, mengobrol panjang sambil mengenang masa lalu. Mereka bahkan nyaris tidak melirik saat Miles bergegas melewati mereka.

"Jangan sampai tersandung," ejek Kelvin.

"Mungkin kalau kau berlari secepat itu mengejar lamaran pekerjaan, kau tidak akan semiskin ini," tambah Lily dengan nada datar.

Miles mengabaikan mereka.

Ia berlari menaiki tangga. Jantungnya berdetak kencang saat menuju kamar kecil yang kini menjadi tempat tinggalnya setelah Lily mengusirnya dari kamar mereka.

Ia segera membuka lemari lalu menarik keluar sebuah kotak kardus yang sudah penyok. Ia melempar buku-buku kuliah lama dan kabel-kabel kusut hingga akhirnya menemukan benda yang dicarinya.

Laptop lamanya.

Sudut layarnya retak, dan bodinya sudah penuh goresan serta pecahan kecil.

Namun laptop itu masih bisa menyala.

Miles menunggu hingga proses booting selesai.

Setelah beberapa saat, akhirnya tampilan desktop muncul.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard saat membuka aplikasi NexaChain, sambil terus berdoa agar ia masih bisa masuk ke akunnya.

Setelah sempat mengalami sedikit gangguan, layar berkedip beberapa kali sebelum aplikasi itu akhirnya terbuka.

Di sanalah tampil antarmuka aplikasi NexaChain.

Miles mengusap wajahnya lalu menarik napas dalam-dalam.

"Aku harus memastikan ini," bisiknya.

Ia mengklik menu Withdraw pada aplikasi NexaChain.

Aplikasi itu mengarahkannya ke situs resmi NexaChain.

Ia kembali memasukkan informasi akun miliknya.

Jari-jarinya gemetar, berharap ia masih mengingat kata sandi yang benar.

"Ya!" serunya sambil mengatupkan rahang ketika kata sandinya langsung diterima pada percobaan pertama.

Hanya butuh beberapa detik.

Lalu dasbor akunnya muncul di layar laptop dengan ringkasan berikut.

Saldo: 50 koin NexaChain

Harga saat ini: 800.000.000 dolar per koin

Di bawahnya terdapat sebuah pilihan.

Konversikan NexaChain ke USD

Total nilai yang dapat ditarik: 40.000.000.000 dolar

Mata Miles membelalak.

Ia mencondongkan tubuh ke depan sambil menatap layar tanpa berkedip untuk memastikan dirinya tidak sedang berhalusinasi.

Total nilai… Empat puluh miliar dolar.

Ia segera mengklik tombol Konversikan ke USD.

Sebuah lingkaran kecil berputar di layar.

Beberapa detik kemudian… Sebuah notifikasi muncul.

Transaksi Berhasil.

Layar kembali dimuat ulang.

Lalu sebuah angka berwarna hijau muncul.

Saldo tersedia: 40.000.000.000,00 dolar.

Miles mengembuskan napas panjang. Ia tidak sanggup mempercayainya. Pandangan matanya menjadi kabur karena syok.

Uang itu benar-benar ada. Tersimpan di dompet digital NexaChain miliknya.

Tawa tiba-tiba keluar dari mulutnya sebelum sempat ia tahan.

Miles berdiri perlahan sambil mencengkeram sisi meja. Kedua matanya masih dipenuhi keterkejutan.

Tepat ketika ia mengira tidak mungkin ada kejutan lain lagi… Sebuah pesan muncul di dasbor NexaChain miliknya.

Halo Miles Sterling,

Selamat!

NexaChain Global telah memilih anda sebagai CEO baru perusahaan. Kesabaran dan dedikasimu telah diakui. Seorang perwakilan perusahaan akan segera menghubungi anda.

Mata Miles membelalak.

CEO baru NexaChain Global?

Hinaan

Miles berjalan memasuki rumah sakit sambil menggenggam ponselnya. Kedua tangannya masih gemetar karena syok atas apa yang baru saja ia peroleh.

Ia sudah memindahkan sebagian uangnya, tepatnya satu juta dolar, dari dompet NexaChain miliknya ke rekening banknya.

Saat semakin mendekati lorong menuju ruang rawat ibunya, ia mendengar suara-suara yang meninggi. Banyak orang berkumpul di sana, berbisik-bisik sambil menatap ke arah yang sama.

Rasa penasaran menguasainya.

Ia menerobos kerumunan dengan jantung berdegup kencang.

Lalu ia mendengar suara melengking seorang wanita.

"Bawa dia pergi! Jangan buang waktu! Anaknya sudah meninggalkannya karena tidak punya uang! Jadi dia tidak bisa terus tinggal di sini dan hanya memenuhi tempat!"

Begitu berhasil menerobos kerumunan di lorong itu, Miles membeku melihat pemandangan di depan matanya.

Mereka sedang meneriaki ibunya.

Dua petugas keamanan rumah sakit sedang menyeret ibunya menuju pintu keluar. Tubuh wanita itu tampak sangat lemah, bahkan nyaris tidak mampu berdiri. Gaun pasien yang dikenakannya menggantung longgar di tubuhnya yang kurus.

Di samping kedua petugas itu berdiri seorang perawat.

Kedua tangannya disilangkan, dan wajahnya dipenuhi ekspresi kesal. Ia memandang ibu Miles dengan tatapan penuh kemarahan.

"Tidak ada uang, tidak ada pengobatan! Itu adalah peraturan rumah sakit kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu," bentak perawat itu tanpa sedikit pun menunjukkan rasa horma.

Perawat itu menoleh kepada ibu Miles dengan tatapan jijik sambil menggelengkan kepalanya.

"Apa kau pikir kau bisa terus tinggal di sini tanpa membayar? Kami bukan lembaga amal. Keluarkan dia dari sini! Dia hanya membuang-buang tempat!"

Miles membeku di tempatnya.

Perawat itu bahkan tidak melirik ke arahnya. Seluruh perhatiannya tertuju pada ibu Miles yang sedang berjuang mempertahankan keseimbangan tubuhnya.

"Kalau kau tidak punya uang, kami tidak bisa menyulap keajaiban untuk menyembuhkanmu," katanya lagi dengan tatapan yang semakin dingin sebelum kembali menoleh kepada para petugas keamanan.

"Keluarkan dia sekarang juga."

Dada Miles terasa sesak. Rahangnya mengeras karena amarah dan kekesalan melihat bagaimana perawat itu memperlakukan ibunya.

"Berhenti!" teriaknya dengan suara yang bergetar menahan amarah. "Bawa ibuku kembali ke dalam. Sekarang juga. Aku akan membayar seluruh biayanya!"

Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.

Semua orang tampak terkejut.

Kedua petugas keamanan saling berpandangan dengan bingung. Genggaman mereka pada tubuh ibu Miles sedikit mengendur.

Namun perawat itu justru menoleh. Tatapannya menyapu tubuh Miles dari atas sampai bawah. Lalu ia mendengus sinis.

"Kau?" Nada suaranya dipenuhi rasa jengkel. "Bukankah kau pria yang tadi mengemis di sini?"

Bibirnya melengkung membentuk senyum mengejek. "Jadi akhirnya kau kembali merangkak kepada istrimu untuk meminta uang? Atau ini bagian dari penipuan barumu?"

Miles tidak menanggapi hinaan itu.

Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dipikirkan perawat tersebut.

Seluruh perhatiannya tertuju kepada ibunya, yang mulai batuk lemah.

"Aku sudah bilang, bawa ibuku kembali ke dalam," ulang Miles sambil melangkah maju. "Aku akan membayar semuanya."

Perawat itu tertawa begitu keras hingga menarik perhatian semua orang kepada Miles. Ia berbalik menghadap kerumunan yang semakin banyak.

"Baiklah, ini dia," katanya dengan nada penuh sindiran. "Dengar baik-baik, semuanya! Pengemis ini kembali dari surga dan bilang kalau dia siap membayar dua ratus lima puluh ribu dolar. Luar biasa, bukan?"

Orang-orang di sekitar mulai saling berbisik.

Sebagian tertawa kecil.

Sebagian lagi menatap Miles dengan rasa iba atau penuh keraguan.

Bahkan ada beberapa orang yang mulai mengeluarkan ponsel mereka, berharap bisa merekam kejadian itu.

Perawat itu kembali menghadap Miles sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kalau pria ini benar-benar bisa membayar, aku akan langsung mengundurkan diri. Lalu kalau ternyata dia tidak bisa… Aku sendiri yang akan menamparnya dan menyeret dia keluar bersama ibunya yang sedang sekarat karena sudah membuang-buang waktu kami!”

Tepat pada saat itu, Dokter Tyler memasuki lorong setelah mendengar keributan di luar. Tatapannya langsung tertuju pada Miles dengan raut kesal yang begitu jelas.

"Kenapa kau masih ada di sini?" bentak dokter itu dengan suara dingin dan tajam. "Kau sudah diberi tahu syaratnya. Kami tidak menciptakan keajaiban di rumah sakit ini, Tuan Sterling. Kalau kau tidak punya uang, berhentilah membuang waktu semua orang dan cari tempat lain yang menjual belas kasihan."

Perawat itu langsung mengangguk setuju. Sikap angkuhnya semakin menjadi-jadi.

"Benar sekali. Sudah cukup sandiwaranya. Memalukan."

Miles tidak menjawab, wajahnya tetap tenang. Namun di dalam dirinya, amarah sedang berkobar.

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka kuncinya. Cahaya dari aplikasi perbankan menyinari wajahnya saat ia membuka menu transfer.

Jari-jarinya bergerak cepat.

Namun tiba-tiba… Layar mulai melambat. Lingkaran pemuatan terus berputar.

Ia mengetuk layar sekali lagi.

Tidak terjadi apa-apa.

Jantungnya berdegup lebih kencang.

Aplikasi itu tidak mau terbuka.

Ia mematikan layar ponselnya lalu menyalakannya kembali, berharap aplikasi itu bisa berjalan normal.

Tetapi tetap saja… Aplikasi itu masih macet.

Perawat itu melangkah mendekat sambil mengangkat sebelah alis dengan senyum penuh ejekan.

"Hah!" Ia tertawa keras. "Lihat dia. Berpura-pura kalau ponselnya bermasalah."

Ia menggeleng pelan.

"Coba katakan padaku, bagaimana mungkin seseorang yang mampu membayar dua ratus lima puluh ribu dolar tidak sanggup membeli ponsel yang bagus? Sudah berapa lama? Tujuh menit? Kalau kau benar-benar punya uang sebanyak itu, transfernya tidak mungkin memakan waktu selama ini."

Ia memiringkan kepalanya sambil meninggikan suara agar seluruh orang di lorong bisa mendengarnya.

"Biar aku tebak. Aplikasi bankmu masih sedang berpikir, ya? Dari tadi kau terus menggulir layar, mengetuk, menyegarkan halaman, tapi tetap tidak terjadi apa-apa?"

Wah… Akting sebagus ini pantas mendapat penghargaan. Ponsel malang itu tidak perlu disalahkan. Berhentilah memukulnya hanya karena kebodohan kau sendiri."

Perawat itu tertawa kecil.

Bahkan dokter dan beberapa orang di sekitar mulai ikut tertawa.

Gelombang tawa kembali pecah di sekeliling Miles.

Sebagian orang mengangkat ponsel mereka untuk merekam.

Sebagian lainnya berbisik-bisik sambil melontarkan hinaan.

Miles mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Kedua matanya dipenuhi bara amarah.

"Ini aplikasi bankku..." katanya sambil berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Butuh sedikit waktu untuk memuat. Tolong beri aku satu menit lagi. Aku akan mengirim uang itu kepada kalian."

Namun… Tidak seorang pun mau memberinya kesempatan untuk dipercaya.

"Dengar itu?" seseorang mendengus.

"Aplikasi bank apa yang butuh sepuluh menit hanya untuk terbuka?"

"Dia pasti menganggap kita semua bodoh."

"Berhentilah mempermalukan diri sendiri. Kalau kau sudah tidak punya harga diri, setidaknya pikirkan ibumu. Menyerahlah dan pergi."

Rasa malu membakar seluruh tubuh Miles.

Namun ia tidak memperlihatkannya. Ia mengatupkan rahangnya, lalu memulai ulang ponselnya dan kembali mencoba membuka aplikasi tersebut.

Dokter Tyler mengembuskan napas panjang dengan kesal.

"Ini benar-benar konyol," katanya tajam. "Petugas keamanan, keluarkan dia. Sekarang juga. Rumah sakit ini harus kembali berjalan dengan normal."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!