Hujan turun tanpa henti sejak sore. Angin malam berembus dingin, menerpa jendela rumah sederhana yang berdiri di ujung desa. Di dalam kamar sempit itu, suara tangisan bayi memecah kesunyian.
Namun, tangisan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru disambut tatapan penuh kebencian.
"Anak ini pembawa sial!"
Suara lantang seorang wanita paruh baya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah masam, menatap bayi mungil yang baru beberapa jam lahir ke dunia.
Di atas ranjang, seorang perempuan muda yang masih lemah setelah melahirkan spontan memeluk bayinya semakin erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Bu... jangan bilang begitu. Dia tidak salah apa-apa," ucapnya lirih.
"Tidak salah?" Wanita itu tertawa sinis. "Sejak kamu mengandung anak itu, hidup keluarga ini tidak pernah tenang. Sekarang suamimu menghilang tanpa kabar. Apa itu bukan karena dia?"
Perempuan muda itu menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis lebih keras.
Ia tahu, apa pun yang diucapkannya tidak akan mengubah kebencian ibu mertuanya.
Tangannya perlahan mengusap pipi bayi laki-lakinya yang masih memejamkan mata. Wajah mungil itu begitu damai, seolah belum tahu bahwa dunia telah menolaknya bahkan sebelum sempat mengenalnya.
"Maafkan Ibu..." bisiknya sambil mengecup kening sang bayi. "Ibu akan menjaga kamu."
Wanita paruh baya itu mendengus kasar sebelum meninggalkan kamar sambil membanting pintu.
Suara benturan pintu membuat bayi itu kembali menangis.
Perempuan muda itu buru-buru menggendongnya. Dengan tubuh yang masih terasa sakit, ia berjalan perlahan mengelilingi kamar sambil menimang buah hatinya.
"Jangan menangis, Nak... Ibu di sini."
Beberapa menit kemudian tangisan bayi itu mulai reda.
Tatapan perempuan itu beralih ke ponsel yang sejak tadi berada di atas meja kecil.
Tidak ada satu pun pesan masuk.
Tidak ada panggilan.
Sudah tiga hari suaminya pergi tanpa kabar.
Semua nomor yang dihubungi tidak aktif.
Teman-temannya mengaku tidak tahu.
Bahkan tempat kerjanya mengatakan pria itu sudah tidak masuk sejak beberapa hari lalu.
Rasa cemas semakin memenuhi dadanya.
"Mas... sebenarnya kamu di mana?" gumamnya.
Ia masih percaya suaminya tidak mungkin sengaja meninggalkan dirinya dan bayi mereka.
Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Pasti.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuatnya tersentak.
Ia buru-buru mengusap air mata sebelum membuka pintu kamar.
Di ruang tamu berdiri dua pria berpakaian rapi. Salah satunya membawa sebuah map cokelat.
"Permisi. Apa benar ini rumah Pak Arman?" tanya pria itu sopan.
"Iya... saya istrinya."
Pria itu saling berpandangan dengan rekannya seolah sedang mencari kata yang tepat.
"Kami dari pihak kepolisian."
Jantung perempuan itu langsung berdegup kencang.
"Ada apa, Pak?"
Pria itu menarik napas panjang.
"Dua hari yang lalu Pak Arman mengalami kecelakaan lalu lintas."
Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti.
"Apa...?"
Tubuhnya mendadak lemas.
Tangannya yang menggendong bayi mulai bergetar.
"Beliau sempat dibawa ke rumah sakit."
Air mata perempuan itu mulai mengalir.
"Kalau begitu... sekarang suami saya di mana? Saya mau menemuinya."
Pria itu kembali terdiam beberapa detik.
Sorot matanya berubah penuh iba.
"Kami turut berduka cita..."
Kalimat berikutnya membuat napas perempuan itu tercekat.
"Pak Arman tidak berhasil diselamatkan."
Brak!
Tubuh perempuan itu ambruk berlutut di lantai.
Bayi di pelukannya menangis keras, sementara surat yang dibawa pria itu jatuh tepat di hadapannya.
Air matanya mengalir tanpa henti.
Ia bahkan tidak sempat melihat wajah suaminya untuk terakhir kali.
Dunia yang selama ini ia bangun bersama pria itu runtuh dalam sekejap.
Namun, penderitaan itu ternyata belum berakhir.
Wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di belakang langsung menunjuk bayi kecil itu dengan tatapan penuh amarah.
"Aku sudah bilang! Anak itu pembawa sial! Baru lahir saja ayahnya meninggal!"
Perempuan muda itu spontan memeluk bayinya erat.
"Jangan salahkan anak saya!"
"Kalau bukan karena dia, anakku pasti masih hidup!"
Tangisan bayi semakin keras memenuhi rumah yang kini dipenuhi duka.
Sementara di luar, hujan turun semakin deras, seolah langit ikut menangisi nasib seorang bayi yang bahkan belum sempat mengenal kasih sayang ayahnya.
Dan malam itu menjadi awal dari kehidupan Raka... seorang anak yang sejak hari pertama kelahirannya telah dicap sebagai pembawa sial oleh keluarganya sendiri.
Rumah yang kemarin dipenuhi tangis duka kini berubah menjadi tempat yang paling menyakitkan bagi Laila. Sejak suaminya dimakamkan, tak ada lagi sapaan hangat yang ia terima. Yang ada hanyalah tatapan sinis dan ucapan tajam dari ibu mertuanya.
Raka yang baru berusia tujuh hari kembali menangis karena lapar. Laila menggendong putranya sambil menepuk pelan punggung mungil itu.
"Tenang, Nak... sebentar lagi kamu minum."
Belum sempat ia masuk ke kamar, suara bentakan kembali terdengar.
"Masih betah tinggal di sini?" hardik ibu mertuanya.
Laila menghentikan langkah. Wajahnya langsung pucat.
"Bu..."
"Aku sudah tidak menganggapmu menantu lagi. Anakku sudah meninggal. Untuk apa kamu tetap tinggal di rumah ini?"
Laila menunduk. Air matanya menggenang.
"Saya tidak punya tempat lain."
"Itu bukan urusanku."
Kalimat itu menusuk jauh ke dalam hati.
Sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu, Laila memang tidak memiliki siapa pun lagi. Rumah yang ditempatinya sekarang adalah rumah peninggalan keluarga suaminya.
"Kasihanilah cucu Ibu," pinta Laila lirih.
"Cucu?" Wanita itu mendengus. "Jangan sebut anak itu cucuku! Sejak dia lahir, hidup anakku berakhir."
Laila spontan memeluk Raka semakin erat.
"Jangan salahkan dia, Bu."
"Kalau begitu, pergi! Bawa anak pembawa sial itu keluar dari rumahku!"
Suara itu terdengar begitu keras hingga beberapa tetangga mulai melirik ke arah rumah mereka.
Laila menggigit bibirnya. Harga dirinya terasa diinjak-injak, tetapi ia memilih diam demi putranya.
Malam harinya, setelah memastikan Raka tertidur, ia membuka lemari kecil peninggalan suaminya. Di dalamnya hanya ada beberapa potong pakaian, dompet lama, dan sebuah amplop cokelat.
Tangannya bergetar saat membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat buku tabungan.
Laila langsung menuju ATM keesokan paginya dengan harapan masih ada uang yang bisa digunakan untuk membeli susu dan kebutuhan bayi.
Namun harapan itu kembali pupus.
Saldo rekening itu hanya tersisa Rp185.000.
Jumlah yang bahkan tidak cukup untuk bertahan lama.
Laila terduduk lemas di kursi dekat mesin ATM.
"Aku harus bagaimana sekarang?"
Ia menoleh ke arah Raka yang tertidur pulas di gendongan kain.
"Apa Ibu sanggup membesarkanmu sendirian?"
Pertanyaan itu membuat air matanya kembali jatuh.
Sesampainya di rumah, sebuah koper tua sudah tergeletak di depan pintu.
Seluruh pakaian miliknya dimasukkan begitu saja ke dalam koper itu.
Ibu mertuanya berdiri di depan pintu dengan wajah dingin.
"Aku sudah bilang. Mulai hari ini kamu bukan penghuni rumah ini lagi."
"Bu... beri saya waktu beberapa hari saja."
"Tidak!"
Wanita itu melempar sebuah amplop ke arah Laila.
"Itu uang satu juta rupiah. Anggap saja selesai. Setelah ini jangan pernah kembali."
Laila tidak mengambil amplop itu.
"Saya tidak butuh uang Ibu."
"Kalau begitu pergi dengan tangan kosong!"
Air mata Laila mengalir semakin deras.
Ia menatap rumah yang dulu menjadi tempat ia membangun mimpi bersama suaminya.
Kini rumah itu mengusirnya tanpa sedikit pun rasa iba.
Dengan koper di tangan kanan dan Raka dalam gendongan, Laila melangkah meninggalkan rumah itu.
Tak sekali pun ia menoleh ke belakang.
Ia tidak tahu akan pergi ke mana.
Ia hanya tahu satu hal.
Apa pun yang terjadi, ia harus bertahan demi putra kecilnya.
Namun beberapa meter dari rumah itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapannya.
Seorang pria tua berjas rapi turun sambil menatap wajah Raka dengan saksama.
"Laila... akhirnya saya menemukan kalian."
Mata Laila membelalak.
Ia sama sekali tidak mengenal pria itu.
Bersambung...
Laila memeluk Raka lebih erat saat mobil hitam itu berhenti tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mengenal pria tua yang baru saja turun dari kursi belakang mobil.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi. Rambutnya sudah memutih, tetapi sorot matanya tampak teduh. Begitu melihat bayi dalam gendongan Laila, matanya berkaca-kaca.
"Laila?" tanyanya pelan.
Laila mengangguk dengan hati-hati.
"Iya... Bapak siapa?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Pandangannya justru tertuju pada wajah mungil Raka yang sedang terlelap.
"Jadi... ini benar cucu itu."
Laila mengernyit.
"Cucu?"
Pria itu menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu yang selama ini dipendam.
"Maaf. Perkenalkan, nama saya Surya."
Laila masih memasang wajah bingung.
"Saya sahabat almarhum ayah suamimu."
Ucapan itu membuat Laila sedikit terkejut.
Selama menikah dengan Arman, ia tidak pernah mendengar nama Surya.
"Bapak salah orang."
"Saya tidak salah."
Surya mengeluarkan sebuah foto lama dari dalam dompetnya.
Foto itu memperlihatkan dua pria muda yang tersenyum sambil merangkul bahu satu sama lain.
Laila langsung mengenali salah satunya.
"Itu... ayah Arman."
Surya mengangguk.
"Kami bersahabat sejak muda. Setelah ayah Arman meninggal, kami kehilangan kontak."
Laila mulai sedikit tenang, tetapi tetap menjaga jarak.
"Kenapa Bapak mencari saya?"
"Saya baru mengetahui kabar kematian Arman kemarin."
Mata Surya kembali memerah.
"Kalau saya tahu lebih cepat, saya pasti datang saat pemakamannya."
Laila menundukkan kepala.
Kesedihan kembali memenuhi dadanya saat nama suaminya disebut.
Surya melirik koper lusuh di samping kaki Laila.
"Kamu mau ke mana?"
Laila terdiam.
Ia sendiri tidak tahu jawabannya.
"Saya... belum punya tujuan."
"Tidak ada keluarga?"
Laila menggeleng.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal."
Surya memejamkan mata sesaat.
"Kalau begitu ikut saya."
Laila langsung menggeleng cepat.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa ikut orang yang baru saya kenal."
Surya tersenyum tipis.
"Itu keputusan yang benar. Kamu memang harus berhati-hati."
Jawaban itu justru membuat Laila sedikit lega.
Pria tersebut tidak memaksa.
Sebaliknya, Surya mengeluarkan sebuah kartu nama.
"Ini alamat dan nomor saya."
"Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar membutuhkan bantuan, datanglah."
Laila menerima kartu itu dengan ragu.
Belum sempat ia mengucapkan terima kasih, suara klakson keras terdengar dari arah belakang.
Seorang pria bertubuh besar turun dari sebuah truk.
"Heh! Jangan berdiri di tengah jalan!"
Laila yang sedang menggendong Raka spontan mundur.
Namun tumitnya tersangkut batu.
Tubuhnya oleng.
"Ah!"
Koper terlepas dari tangannya.
Tubuh Raka hampir saja terjatuh jika Surya tidak bergerak cepat menopang bahu Laila.
"Hati-hati!"
Laila memeluk Raka erat-erat sambil menangis ketakutan.
"Maaf... maaf...."
Surya memungut koper yang isinya sudah berhamburan di jalan.
Beberapa potong pakaian bayi jatuh ke tanah yang masih basah oleh hujan.
Tanpa merasa jijik, Surya ikut memungut satu per satu pakaian kecil itu.
Saat itulah matanya menangkap sebuah surat yang terselip di antara pakaian.
Di bagian atas surat itu tertulis nama Arman.
Surya membacanya sekilas.
Wajahnya langsung berubah tegang.
"Tidak mungkin..."
Laila menoleh heran.
"Ada apa, Pak?"
Surya segera melipat kembali surat itu.
"Tidak... bukan apa-apa."
Tetapi sejak saat itu pikirannya tidak lagi tenang.
Isi surat tersebut membuatnya sadar bahwa kematian Arman mungkin bukan sekadar kecelakaan biasa.
Seseorang tampaknya sengaja menyembunyikan sebuah rahasia besar.
Dan tanpa disadari Laila, dirinya bersama Raka kini mulai terlibat dalam rahasia yang dapat mengubah hidup mereka selamanya.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!