Gisela Aura selalu percaya bahwa perpustakaan pusat universitas adalah satu-satunya tempat paling aman di bumi. Di balik dinding tebal yang meredam bisingnya jalanan kota, di antara aroma khas kertas tua dan pembersih lantai beraroma lavender, Aura menemukan kedamaiannya. Bagi seorang mahasiswi tingkat akhir dengan beban beasiswa penuh di pundaknya, kedamaian adalah kemewahan yang harus dipertahankan mati-matian.
Tugas akhir hukum pidana internasional miliknya sudah mencapai bab tiga, dan hari ini, ia bertekad untuk menyelesaikannya. Aura membenarkan letak kacamata berbingkai tipisnya, merapikan kardigan rajut biru dongker yang membungkus kemeja putihnya, lalu mengembuskan napas lega saat matanya menangkap satu-satunya buku referensi yang ia butuhkan sejak minggu lalu: Hukum Pidana Internasional dan Dinamika Global. Buku bersampul tebal itu terletak manis di rak nomor empat baris C.
Aura melangkah maju. Tangannya baru saja terulur, menyentuh tepi buku, ketika sebuah tangan lain dengan jemari panjang, kokoh, dan berhias tato sulur hitam di pergelangan tangannya, menyambar buku itu lebih cepat.
Sret.
Aura tertegun. Ia mengerjapkan mata, menatap ruang kosong di rak, lalu perlahan menoleh ke samping.
Berdiri di sebelahnya adalah sumber masalah terbesar di Universitas Ganesha. Devanandra Bratadikara.
Aura langsung mengenalnya, tentu saja. Siapa yang tidak kenal Devan? Mahasiswa jurusan hukum yang lebih sering terlihat di area parkir belakang bersama motor besarnya daripada di dalam kelas. Seseorang yang mengenakan jaket kulit hitam belel di atas kaos oblong gelap, j jeans robek di bagian lutut, dan sepatu bot yang selalu tampak kotor. Potret nyata dari seorang berandalan kampus yang masa bodoh dengan aturan. Namun, yang membuat semua orang heran adalah bagaimana Devan selalu lolos dari sanksi akademis meski absensinya hancur-hancuran. Rumor mengatakan keluarganya punya kuasa besar, tetapi Aura tidak peduli pada rumor. Yang ia pedulikan saat ini adalah buku di tangan laki-laki itu.
"Maaf," suara Aura memecah keheningan sunyi perpustakaan, pelan namun tegas. "Aku yang memegang buku itu duluan."
Devan tidak langsung menjawab. Ia menurunkan buku itu sedikit, menatap Aura dari balik helaian rambut hitamnya yang berantakan dan jatuh di dahi. Sepasang mata elang yang gelap dan dingin menatap Aura dengan tatapan meremehkan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang langsung membuat bulu kuduk Aura meremang.
"Oh ya?" Devan membalikkan buku itu di tangannya dengan santai, seolah benda itu tidak memiliki berat. "Tapi tangan gue yang dapet duluan. Jadi, buku ini punya gue."
"Ini fasilitas kampus, bukan milik pribadi," balas Aura, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya mulai berdegup kencang karena kesal. "Dan aku sangat membutuhkannya untuk referensi skripsi yang dikumpulkan besok lusa. Tolong kembalikan."
Devan melangkah satu tindakan lebih dekat. Jarak yang terkikis tiba-tiba membuat Aura bisa mencium aroma maskulin yang pekat—perpaduan antara parfum mahal, aroma tembakau tipis, dan dinginnya angin malam. Aura terpaksa mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup mencolok.
"Gue juga butuh," ucap Devan pendek, suaranya berat dan serak.
"Kamu? Butuh buku hukum pidana internasional?" Aura tidak bisa menahan nada sinis dalam suaranya. Ia menatap Devan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu bahkan jarang masuk kelas Profesor Wijaya, Devan. Untuk apa kamu membaca buku setebal lima ratus halaman ini? Untuk bantal tidur di warung kopi depan kampus?"
Seringai di wajah Devan menghilang, digantikan oleh tatapan yang mendadak menajam. Ada kilat berbahaya di matanya yang membuat Aura mendadak menyesali kelancangannya. Orang-orang bilang Devan tidak segan-segan menggunakan kekerasan jika diganggu.
"Lo berani juga ya, cewek beasiswa," desis Devan, membaca pin logo berprestasi yang tersemat di kardigan Aura. "Siapa nama lo? Aura? Denger ya, Aura si anak baik-baik. Jangan sok tahu tentang hidup gue kalau lo masih mau kuliah dengan tenang di sini."
Aura mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Aku tidak tertarik dengan hidupmu. Aku hanya ingin buku itu."
"Sayang sekali," Devan menepuk sampul tebal buku itu dengan telapak tangannya yang bertato. "Gue gak suka berbagi. Dan gue paling gak suka diatur-atur oleh cewek yang hobi mendekam di perpustakaan kayak lo."
Tanpa menunggu balasan Aura, Devan berbalik dan melangkah pergi dengan santai, membawa buku itu di bawah ketiaknya. Aura berdiri mematung, menatap punggung tegap itu dengan perasaan dongkol yang membubung hingga ke ubun-ubun. Tangannya gemetar karena menahan amarah. Sepanjang hidupnya, Aura selalu mengalah dan menghindari konflik, tetapi sikap arogan Devan baru saja menyalut api permusuhan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Dasar berandalan egois," gumam Aura sengit.
Kekesalan Aura tidak berhenti di perpustakaan. Sore harinya, awan mendung menggantung tebal di langit kota, memaksa Aura untuk terburu-buru berjalan menuju kedai kopi kecil di dekat area kampus tempat ia bekerja paruh waktu. Sebagai anak tunggal dari seorang ibu tunggal yang sedang berjuang melawan penyakit kronis, Aura tidak punya waktu untuk meratapi nasib atau meratapi buku yang hilang. Ia harus bekerja untuk menambah biaya pengobatan ibunya.
Kedai kopi malam itu cukup ramai karena hujan mulai turun dengan deras. Aura bergerak lincah di balik meja konter, mengelap gelas, mencatat pesanan, dan menyajikan kopi dengan senyuman ramah yang dipaksakan. Kepalanya masih berdenyut memikirkan bagaimana cara menyusun bab tiga tanpa buku referensi utama tersebut.
Hingga sekitar pukul delapan malam, lonceng di atas pintu kedai berdenting keras. Angin dingin malam berembus masuk bersamaan dengan sekelompok pemuda berjaket kulit hitam. Kedai yang tadinya berisik oleh obrolan mahasiswa mendadak senyap. Aura mendongak dan seketika membeku.
Itu Devan, bersama dengan tiga orang temannya. Salah satunya adalah Bram, cowok jangkung yang terkenal sebagai tangan kanan Devan di kampus. Mereka berjalan dengan gestur tubuh yang dominan, seolah-olah mereka memiliki tempat tersebut. Devan melepaskan jaket kulitnya yang basah oleh sisa air hujan, menyisakan kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengan dan tato-tatonya yang rumit.
Mereka mengambil tempat di meja sudut yang agak temaram. Aura berdoa dalam hati agar rekan kerjanya, Tari, yang mengantar pesanan ke meja mereka. Namun, nasib baik sedang tidak berpihak padanya malam ini.
"Aura, tolong antar ini ke meja nomor tujuh, ya? Aku harus ke toilet sebentar, perutku sakit sekali," bisik Tari dengan wajah pucat, menyerahkan sebuah nampan berisi tiga cangkir kopi hitam pekat dan satu espresso ganda.
Aura menatap nampan itu seolah benda itu adalah bom waktu. Meja nomor tujuh adalah meja Devan.
Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Aura menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, dan berjalan menuju sudut kedai. Ia meletakkan cangkir-cangkir kopi itu satu per satu ke atas meja dengan gerakan sehalus mungkin.
"Permisi, ini pesanannya," ucap Aura dengan nada profesional yang datar.
Bram mendongak, lalu menyenggol lengan Devan sambil berbisik, "Hei Dev, bukannya ini cewek yang lo ceritain tadi siang di perpus?"
Devan, yang sejak tadi sibuk memeriksa ponselnya, perlahan mendongak. Ketika matanya bertemu dengan mata Aura, sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyuman miring yang sangat familiar.
"Wah, dunia sempit banget ya," ujar Devan dengan nada mengejek. "Ternyata si juara kelas ini kerja jadi pelayan kopi."
Aura mengabaikan sindiran itu. "Selamat menikmati kopinya," katanya formal, berniat langsung berbalik.
"Tunggu dulu," panggil Devan. "Gue belum selesai."
Aura menghentikan langkahnya, menatap Devan dengan tatapan dingin. "Ada yang salah dengan pesanannya, Tuan Bratadikara?"
Devan meraih cangkir espresso ganda miliknya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi klak yang cukup keras di atas meja kayu. "Kopi lo terlalu pahit. Selera lo payah, sama kayak muka lo kalau lagi marah."
Teman-teman Devan terkekeh, membuat telinga Aura terasa panas. Batas kesabaran Aura yang setipis benang akhirnya putus. Ia mengepalkan tangannya di balik nampan plastik yang ia pegang.
"Jika Anda menginginkan sesuatu yang manis, Anda bisa memesan susu murni, bukan espresso, Devan," balas Aura, suaranya naik satu oktav, cukup keras hingga beberapa pengunjung di dekat mereka menoleh. "Dan jika Anda memiliki masalah pribadi dengan saya karena kejadian tadi siang, tolong jangan bawa-bawa pekerjaan saya di sini."
Suasana di meja itu mendadak hening. Teman-teman Devan berhenti tertawa, tampak terkejut karena ada seorang gadis yang berani berbicara dengan nada menantang kepada Devan.
Devan sendiri tidak marah. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada, dan menatap Aura dengan binar ketertarikan yang aneh di matanya. Belum pernah ada orang di kampus ini, apalagi seorang gadis pendiam seperti Aura, yang berani menatap matanya langsung dan membalas ucapannya dengan begitu tajam.
"Gisela Aura," Devan membaca papan nama kecil yang tersemat di apron kerja Aura dengan perlahan, seolah sedang mengecap setiap suku katanya. "Lo menarik juga kalau lagi gak pegang buku."
"Permisi," Aura berbalik dengan cepat, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang hanya akan menguras energinya.
Namun, saat ia berbalik dengan tergesa-gesa, ujung sepatunya tidak sengaja tersangkut kaki meja. Tubuhnya limbung ke depan. Nampan di tangannya terlepas, dan sisa air di dalam nampan serta satu cangkir kosong yang belum sempat dibersihkan jatuh langsung ke arah Devan.
Prang!
Kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik. Cangkir itu pecah di lantai, dan sisa cairan kopi yang ada di nampan sukses membasahi bagian depan kaos hitam Devan.
Aura terengah-engah, memegangi pinggiran meja terdekat agar tidak jatuh sepenuhnya. Matanya melebar ngeri melihat noda basah yang melebar di dada Devan. Seluruh kedai kopi mendadak sunyi senyap, bahkan musik latar belakang seolah ikut berhenti berputar.
"Dev! Lo gak apa-apa?" Bram langsung berdiri, mengambil beberapa lembar tisu dengan panik.
Devan menghentikan gerakan tangan Bram. Ia melihat ke bawah, menatap kaosnya yang basah, lalu perlahan mengalihkan pandangannya kembali kepada Aura. Kali ini, tidak ada lagi senyuman miring atau tatapan mengejek di wajahnya. Wajah Devan berubah menjadi sangat datar, dingin, dan memancarkan aura kegelapan yang membuat Aura mendadak merasa dunianya runtuh.
Aura menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya mendadak kering. "A-aku... aku tidak sengaja."
Devan berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar seolah menenggelamkan Aura dalam bayangan hitam. Ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, membuat Aura bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh cowok itu.
Devan menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Aura, lalu berbisik dengan suara yang begitu rendah hingga hanya Aura yang bisa mendengarnya.
"Gisela Aura," bisik Devan, nadanya tenang namun penuh ancaman yang nyata. "Mulai hari ini, anggap hidup tenang lo di kampus sudah selesai. Lo baru saja mengibarkan bendera perang sama orang yang salah."
Devan mundur selangkah, mengambil jaket kulitnya dengan sentakan kasar, lalu berjalan keluar dari kedai kopi tanpa menoleh lagi, diikuti oleh teman-temannya yang memberikan tatapan peringatan kepada Aura.
Aura berdiri membeku di tengah kedai, mengabaikan tatapan kasihan dan bisikan dari pengunjung lain. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Di luar, guntur menggelegar keras bersamaan dengan hujan yang semakin lebat. Aura tahu, hidupnya yang tenang dan teratur tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini. Permusuhan mereka baru saja dimulai, dan kampus tidak akan lagi menjadi tempat yang aman baginya.
Malam itu, Aura tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan tatapan mata Devan yang sedingin es dan ancaman yang dibisikkannya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang adalah seringai miring cowok itu dan noda kopi yang membasahi kaosnya. Aura tahu Devan bukan jenis orang yang menggertak sambal. Di kampus, siapa pun yang berurusan dengan Devanandra Bratadikara biasanya akan berakhir dengan mengajukan surat pindah atau, paling minimal, kehilangan kenyamanan mereka berbulan-bulan.
Keesokan paginya, Aura terbangun dengan kantung mata yang menghitam. Setelah memastikan ibunya sudah meminum obat penurun tekanan darah dan sarapan, Aura bergegas berangkat ke kampus. Ia sengaja datang satu jam lebih awal dari jadwal kuliah pertamanya, berharap bisa menghindari kerumunan dan—yang paling penting—menghindari Devan.
Kampus masih sepi saat Aura berjalan melewati koridor gedung Fakultas Hukum. Sinar matahari pagi yang hangat sedikit mengurangi rasa cemasnya. Ia langsung menuju mading utama untuk memeriksa jadwal ujian susulan yang sempat tertunda minggu lalu.
Namun, begitu Aura berdiri di depan papan pengumuman, langkahnya mendadak terkunci.
Sebuah kertas putih berukuran A3 tertempel tepat di tengah mading. Di sana, tercetak foto wajah Aura yang diambil secara diam-diam dari samping saat ia bekerja di kedai kopi semalam. Di bawah foto itu, terdapat tulisan besar dengan huruf kapital berwarna merah menyala:
"DICARI: GISELA AURA (JURUSAN HUKUM/ANGKATAN 22). BURONAN SAKSI INSIDEN KOPI. HARAP JAUHI ATAU LAPORKAN KE AREA PARKIR BELAKANG JIKA INGIN KULIAH ANDA SELAMAT."
Aura merasakan seluruh darah di tubuhnya berdesir turun ke kaki. Wajahnya seketika pias. Ia mendekat, tangannya gemetar saat merobek kertas itu dengan paksa dari mading.
"Apa-apaan ini..." gumamnya, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Aura!"
Sebuah suara familier membuat Aura tersentak. Ia menoleh dan mendapati Tari, sahabat sekaligus rekan kerjanya semalam, berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah dan wajah penuh kepanikan.
"Aura, syukurlah lo udah datang! Lo udah lihat mading?" Tanya Tari dengan mata membelalak, melihat kertas yang sudah diremas di tangan Aura. "Bukan cuma di sini, Ra! Di mading Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, bahkan di grup angkatan... foto lo menyebar luas!"
Aura merasakan kepalanya mendadak pusing. "Siapa yang melakukannya? Devan?"
"Siapa lagi kalau bukan gengnya?" Tari menarik Aura ke sudut koridor yang lebih sepi. "Tadi pagi-pagi banget, Bram dan anak-anak buah Devan keliling nempel ini. Mereka bilang, siapa saja yang kedapatan ngobrol atau bantu lo, bakal berurusan langsung sama Devan. Ra, lo sebenarnya ngapain semalam sampai Devan semarah itu? Semua orang tahu, Devan gak pernah ngurusin cewek sampai se-obsesif ini!"
Aura memejamkan mata rapat-rapat, meremas kertas pengumuman itu hingga tak berbentuk. "Aku gak sengaja menumpahkan kopi ke kaosnya setelah kami berdebat di perpustakaan. Cuma itu, Tar. Dia saja yang kekanak-kanakan dan gila hormat!"
"Tapi dia Devan, Aura!" Tari memegang kedua pundak sahabatnya, suaranya merendah menjadi bisikan penuh peringatan. "Lo gak tahu siapa keluarganya? Bratadikara itu bukan cuma nama marga kaya. Bokapnya... desas-desusnya adalah kepala sindikat yang menguasai jalur bisnis gelap di kota ini. Devan itu calon penerusnya. Dia gak kenal kata maaf kalau harga dirinya diusik!"
Aura melepaskan tangan Tari perlahan. "Aku tidak takut pada latar belakang keluarganya, Tari. Ini kampus, tempat belajar, bukan markas geng motor atau wilayah kekuasaan mafia. Ada hukum dan aturan di sini."
Tari menghela napas panjang, menatap Aura dengan tatapan cemas sekaligus kagum atas keras kepalanya. "Gue tahu lo pintar, Ra. Tapi hukum kadang gak berlaku buat orang-orang seperti mereka. Tolong, hati-hati ya hari ini. Kalau bisa, hindari area parkir belakang dan kantin utama."
Nasihat Tari terbukti benar dalam beberapa jam berikutnya. Hidup Aura di kampus mendadak berubah menjadi drama pengasingan.
Saat memasuki ruang kelas untuk mata kuliah Hukum Perdata, beberapa teman sekelas yang biasanya menyapanya atau mengajaknya berdiskusi mendadak membuang muka. Ketika Aura duduk di bangku baris kedua seperti biasa, dua mahasiswi yang duduk di sebelahnya langsung mengemas buku mereka dan pindah ke baris paling belakang, seolah-olah Aura membawa wabah penyakit menular.
Aura berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang berdengung di sekitarnya. Ia membuka buku catatannya, mencoba fokus pada penjelasan dosen, meskipun sepasang matanya beberapa kali melirik ke kursi kosong di pojok belakang ruang kelas—kursi yang biasanya ditempati Devan jika cowok itu memutuskan untuk hadir. Hari ini, kursi itu kosong. Devan tidak masuk kelas. Namun, absensinya justru membuat atmosfer di sekitar Aura terasa semakin mencekam, seperti ketenangan sebelum badai besar datang.
Siksaan psikologis itu berlanjut hingga jam makan siang. Aura memutuskan untuk pergi ke kafetaria kecil di belakang gedung perpustakaan, tempat yang biasanya lebih sepi. Ia hanya membeli satu kotak susu dan roti lapis. Namun, baru saja ia duduk di salah satu meja kayu di bawah pohon rindang, tiga orang mahasiswa berbadan tegap tiba-tiba datang dan berdiri mengitari mejanya. Salah satu dari mereka adalah Bram.
Bram mengetukkan jemarinya di atas meja Aura, menimbulkan bunyi yang mengintimidasi. "Gisela Aura," sapanya dengan senyum yang dipaksakan. "Bos besar minta lo datang ke tempat biasa sekarang juga."
Aura tidak mendongak. Ia tetap mengunyah roti lapisnya dengan tenang, meskipun dadanya bergemuruh. "Aku ada kelas tiga puluh menit lagi. Kalau temanmu itu punya masalah denganku, suruh dia datang sendiri ke sini."
Dua mahasiswa di belakang Bram terkekeh sinis. Bram condong ke depan, menumpu kedua tangannya di meja, menatap Aura dengan tajam. "Lo punya nyali juga ya. Tapi denger, ini bukan undangan santai yang bisa lo tolak. Devan gak suka menunggu. Dan kalau lo gak datang sekarang, gue gak bisa jamin beasiswa penuh yang lo banggakan itu bakal bertahan sampai besok sore. Satu telepon dari bokap Devan ke pihak rektorat, dan lo bakal terdepak dari kampus ini tanpa hormat."
Gerakan mengunyah Aura terhenti. Ancaman beasiswa adalah kelemahan terbesarnya. Jika beasiswanya dicabut, impiannya untuk lulus dan membiayai pengobatan ibunya akan hancur lebur. Aura meletakkan rotinya kembali ke dalam bungkus plastik. Ia mendongak, menatap Bram dengan pandangan yang sarat akan kebencian.
"Di mana dia?" tanya Aura dingin.
Bram tersenyum puas, menegakkan kembali tubuhnya. "Parkir belakang. Gedung tua laboratorium yang terbengkalai. Jangan telat."
Area parkir belakang Universitas Ganesha selalu terkenal sebagai wilayah abu-abu. Tempat itu jarang dilewati dosen atau sekuriti, menjadikannya tempat favorit bagi mahasiswa yang ingin merokok, membolos, atau menyelesaikan perselisihan secara jantan. Di ujung area parkir, berdiri sebuah gedung laboratorium tua berlantai dua yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun.
Aura berjalan dengan langkah mantap melewati barisan motor besar yang terparkir rapi. Setiap langkahnya terasa berat, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ketika ia mendorong pintu kayu gedung tua yang berdecit nyaring, bau debu dan lembap langsung menyambut indra penciumannya.
Di dalam ruangan yang remang-remang, cahaya matahari menerobos masuk dari celah-celah jendela kaca yang kotor. Di tengah ruangan, duduk Devanandra di atas sebuah meja laboratorium kosong. Satu kakinya menekuk, sementara kaki lainnya bergelantungan santai. Ia mengenakan kaos putih bersih—kontras dengan kaos hitam yang dikotori Aura semalam—dan jaket denim longgar. Di tangannya, terdapat sebuah korek api gas zippo perak yang terus ia buka-tutup, menimbulkan bunyi klik-klik yang monoton di dalam ruangan sunyi itu.
Mendengar suara pintu, Devan menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Aura yang berdiri beberapa meter di depannya.
"Akhirnya datang juga," ujar Devan, suaranya menggema di ruangan kosong itu. Ia turun dari meja dengan gerakan seringan kucing, melangkah perlahan mendekati Aura.
"Hentikan semua lelucon kekanak-kanakan ini, Devan," langsung Aura tanpa basa-basi. Ia mengangkat kertas pengumuman yang sudah diremasnya dan melemparkannya ke lantai di dekat kaki Devan. "Menempel fotoku di seluruh kampus, mengancam teman-temanku, dan mengancam beasiswaku... apakah ini cara seorang pewaris keluarga kaya menyelesaikan masalah?"
Devan melirik kertas di lantai, lalu kembali menatap Aura. Bukannya marah, ia justru tertawa kecil—sebuah tawa rendah yang terdengar berbahaya.
"Lelucon?" Devan menggelengkan kepalanya, melangkah maju hingga jarak mereka kembali terkikis. Aura bisa melihat dengan jelas goresan luka kecil yang baru di dekat alis kanan cowok itu. "Gue gak pernah bercanda, Aura. Gue udah bilang semalam, lo mengibarkan bendera perang sama orang yang salah. Di kampus ini, gak ada yang boleh bikin gue kelihatan konyol di depan umum. Dan lo... lo sukses melakukannya dua kali dalam satu hari."
"Itu ketidaksengajaan! Aku sudah minta maaf!" bela Aura, sepasang matanya menatap Devan dengan berani, menolak untuk mengalihkan pandangan.
"Maaf lo gak bisa ngebersihin noda kopi di baju gue, dan maaf lo gak bisa ngembaliin reputasi gue yang terusik karena ditentang sama cewek kutu buku," balas Devan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aura. Tatapannya begitu intens, mengunci pergerakan Aura sepenuhnya.
Aura bisa merasakan hembusan napas hangat Devan di kulit wajahnya. Jantungnya berpacu gila-gilaan, bukan lagi karena marah, melainkan karena ketegangan yang mendadak terasa berbeda. Ada dominasi yang begitu kuat dari sosok di depannya ini.
"Lalu apa yang kamu mau?" tanya Aura, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Uang untuk mengganti bajumu? Aku tidak punya uang sebanyak itu. Tapi aku bisa mencucinya sampai bersih jika itu yang kamu minta."
Devan terdiam sejenak. Ia menatap bibir Aura yang sedikit gemetar namun tetap melontarkan kalimat-kalimat tegas, lalu beralih menatap mata cokelat gadis itu yang memancarkan kilat perlawanan yang murni. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang selalu mencari perhatiannya atau ketakutan setengah mati saat ia dekati, Aura justru menatapnya seolah Devan adalah musuh yang harus ditaklukkan.
Sebuah ide gila mendadak melintas di kepala Devan. Seringai miringnya kembali muncul, kali ini tampak lebih licik.
"Gue gak butuh uang lo, dan gue gak butuh baju gue dicuci," ucap Devan pelan, sengaja menggantung kalimatnya untuk menikmati ekspresi bingung di wajah Aura.
"Lantas?"
Devan menjauhkan wajahnya sedikit, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denimnya. "Mulai hari ini, sampai tugas akhir lo selesai dan lo lulus dari kampus ini, lo berada di bawah pengawasan gue. Lo harus ikut ke mana pun gue pergi kalau gue panggil. Lo harus ngerjain tugas-tugas kuliah gue yang menumpuk. Dan yang paling penting... lo gak boleh dekat-dekat sama cowok lain di kampus ini tanpa izin dari gue."
Aura terbelalak. "Kamu gila? Itu sama saja menjadikanku budakmu! Aku menolak!"
"Pilihan ada di tangan lo, Aura Kirana," Devan berbalik, berjalan santai menuju pintu keluar. Sebelum membuka pintu, ia menoleh ke belakang, memberikan senyuman paling menyebalkan yang pernah Aura lihat. "Tolak kesepakatan ini, dan gue jamin sebelum matahari terbenam sore ini, surat pencabutan beasiswa lo sudah ditandatangani oleh Rektor. Selamat memilih, Good Girl."
Brak.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Aura sendirian di dalam gedung laboratorium yang dingin. Aura merosot duduk di salah satu kursi tua yang berdebu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Ia tahu, ia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan sang monster, dan jalan keluar dari kampus ini tampaknya akan menjadi sangat panjang dan berdarah.
Aura menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi kampus. Wajahnya pucat, dan kedua tangannya masih sedikit gemetar saat menyalakan keran untuk membasuh muka. Air dingin yang menerpa kulitnya tidak mampu mengusir rasa sesak di dadanya. Ia baru saja menggadaikan kebebasannya demi selembar kertas beasiswa.
Budak. Pengawasan. Kontrol. Kata-kata Devan terus terngiang, terasa seperti rantai kasat mata yang menjerat lehernya.
"Aku tidak boleh kalah," bisik Aura pada dirinya sendiri di depan cermin. Suaranya serak namun penuh tekad. "Ini cuma sampai skripsi selesai. Setelah lulus, aku akan pergi jauh-bisa ke luar kota, bawa Ibu, dan tidak perlu melihat wajah berandalan itu lagi."
Aura mengeringkan wajahnya dengan tisu, merapikan kembali kardigan rajutnya, lalu melangkah keluar. Namun, baru tiga langkah ia meninggalkan toilet wanita, ponsel di dalam saku roknya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat.
0812-XXXX-XXXX:
Kantin utama. Meja nomor 4. Sekarang. Bawa laptop lo.
Aura meremas ponselnya. Ia tahu persis siapa pemilik nomor ini. Dengan berat hati, ia memutar arah langkahnya menuju kantin utama, tempat yang beberapa jam lalu mati-matian ia hindari.
Kantin utama siang itu sangat padat. Aroma mi goreng, ayam geprek, dan es teh manis bercampur di udara, bersahutan dengan riuh rendah obrolan ratusan mahasiswa. Namun, suasana di sekitar meja nomor 4 tampak sangat berbeda. Ada radius sekitar dua meter yang dibiarkan kosong oleh mahasiswa lain, seolah meja itu memiliki medan magnet berbahaya.
Di sana, Devan sedang duduk santai sambil memainkan korek api zippo-nya. Di sebelahnya ada Bram yang sedang asyik mengunyah siomay, dan Kenzo—cowok berkacamata berwajah datar yang terkenal sebagai otak taktis di lingkaran pertemanan Devan.
Aura melangkah mendekat, mengabaikan tatapan mata dan bisikan-bisikan yang langsung tertuju padanya begitu ia memasuki area kantin. Ia berdiri di ujung meja, meletakkan tas ranselnya yang berat dengan hentakan pelan.
"Aku di sini. Apa yang kamu mau?" tanya Aura, berusaha terdengar sedingin mungkin.
Devan tidak langsung menjawab. Ia memasukkan korek apinya ke saku jins, lalu mengetuk permukaan meja yang kosong di depannya. "Duduk."
Aura menarik kursi di seberang Devan dan duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di dada. "Katakan cepat. Kelas hukum internasional-ku mulai dua puluh menit lagi."
Kenzo menggeser sebuah flashdisk hitam dan seonggok buku tebal ke hadapan Aura. Aura melirik benda-benda itu, lalu beralih menatap Devan dengan kening berkerut.
"Itu draf laporan magang gue di firma hukum bokap gue," kata Devan santai. "Gue gak punya waktu buat ngetik dan ngerapiin formatnya sesuai panduan kampus. Kerjain itu, rapiin bahasanya, buat analisis kasusnya jadi terlihat meyakinkan seolah-olah gue yang mikir keras. Besok pagi jam delapan, gue mau filenya udah ada di email gue."
Aura terbelalak. "Laporan magang? Kamu minta aku memalsukan analisis hukum laporan magangmu? Devan, itu pelanggaran akademis yang serius!"
"Pelanggaran akademis?" Devan menumpu dagunya dengan satu tangan, menatap Aura dengan seringai tipis yang menyebalkan. "Yang serius itu kalau beasiswa lo hilang sore ini, Aura. Lo lupa aturan main kita?"
Aura mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Sifat arogan cowok ini benar-benar menguji batas kewarasannya. "Analisis kasus membutuhkan waktu berhari-hari, Devan. Aku juga punya tugas akhir sendiri yang harus kukerjakan!"
"Gue gak peduli," potong Devan tajam, sisa-sisa keramahan palsunya menguap. Matanya menatap Aura dengan intimidasi yang pekat. "Lo pintar, kan? Juara umum angkatan. Tugas kayak gini harusnya cuma butuh waktu beberapa jam buat otak encer lo. Jangan membantah kalau lo gak mau gue mempersulit hidup ibu lo di rumah sakit."
Mendengar kata 'ibu', jantung Aura rasanya seperti berhenti berdetak. Seluruh keberanian yang ia kumpulkan di kamar mandi tadi runtuh seketika. Wajahnya kembali pias, dan matanya membelalak menatap Devan dengan rasa tidak percaya yang bercampur ketakutan murni.
"Kamu... dari mana kamu tahu tentang ibuku?" bisik Aura, suaranya bergetar.
Devan menyandarkan punggungnya ke kursi, ekspresinya kembali datar dan dingin. "Gisela Aura, jangan pernah meremehkan apa yang bisa gue cari tahu tentang lo dalam waktu lima menit. Gue tahu semua tentang lo. Jadi, kerja sama yang baik, dan ibu lo akan tetap aman mendapatkan fasilitas kesehatannya tanpa gangguan."
Aura merasakan dunianya berputar. Laki-laki di depannya ini bukan sekadar bad boy kampus yang suka mencari gara-gara. Dia benar-benar monster. Dia adalah darah daging dari sebuah keluarga yang terbiasa menggunakan kuasa untuk menghancurkan hidup orang lain.
"Ra..." Bram yang sejak tadi diam, berdeham pelan, tampak sedikit tidak nyaman dengan ketegangan yang terlalu intim itu. "Mending lo bawa aja dulu tugasnya. Devan kalau udah ngomong A, gak bisa diganggu gugat."
Aura menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang mendesak ingin keluar di matanya. Ia menolak menangis di depan monster ini. Dengan gerakan cepat, Aura menyambar flashdisk dan buku tebal itu, memasukkannya ke dalam tas dengan kasar.
"Akan kuselesaikan," ucap Aura dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan kebencian. "Tapi ingat satu hal, Devan. Kamu bisa mengendalikan beasiswaku, kamu bisa mengancamku, tapi kamu tidak akan pernah bisa membuatku menghormatimu. Kamu... tetaplah seorang pengecut yang berlindung di balik nama besar keluargamu."
Setelah melontarkan kalimat itu, Aura berdiri, menyampirkan tasnya, dan berjalan setengah berlari meninggalkan kantin.
Bram bersiul pelan, menatap punggung Aura yang menjauh. "Gila, Dev. Tuh cewek bener-bener punya nyali. Belum pernah ada yang berani ngatain lo pengecut di depan muka lo sendiri."
Kenzo melirik Devan dari balik kacamata kutu bukunya. "Lo keterlaluan membawa-bawa ibunya, Dev. Dia cuma mahasiswi beasiswa yang mencoba bertahan hidup."
Devan tidak menyahut. Sepasang matanya tetap terkunci pada pintu keluar kantin tempat Aura menghilang. Tangannya meraba saku jins, kembali mengeluarkan korek api zippo-nya, memainkannya dengan gerakan mekanis yang lambat. Kata-kata Aura—seorang pengecut yang berlindung di balik nama besar keluargamu—terasa menghantam bagian terdalam dari ego dan harga dirinya. Seringai liciknya hilang, digantikan oleh tatapan gelap yang sulit diartikan.
Malam harinya, kamar kos Aura yang kecil dipenuhi oleh tumpukan buku hukum perdata dan pidana. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Aura masih terjaga di depan layar laptopnya yang menyala terang. Matanya terasa panas dan kepalanya berdenyut-denyut.
Ia baru saja menyelesaikan bab tiga skripsinya sendiri, dan kini ia terpaksa menghabiskan sisa energinya untuk membedah berkas laporan magang milik Devan. Sialnya, analisis yang ditulis Devan—atau entah siapa pun yang menulis draf kasarnya—sangat berantakan. Namun, saat Aura membaca lembar demi lembar berkas kasus yang dilampirkan, keningnya berkerut.
Kasus yang ditangani oleh firma hukum Bratadikara di laporan ini bukan kasus perdata biasa. Ini tentang sengketa kepemilikan pelabuhan logistik dan beberapa transaksi ekspor-impor yang memiliki banyak celah hukum mencurigakan. Ada nama-nama perusahaan fiktif yang terkesan disembunyikan di balik istilah-istilah hukum yang rumit.
Sebagai mahasiswa hukum terbaik, otak Aura otomatis bekerja mendeteksi adanya kejanggalan. Ini bukan sekadar laporan magang biasa. Ini seperti sebuah dokumen pencucian uang yang dikemas secara legal.
Apakah Devan sengaja memberikan ini padaku? pikir Aura, bulu kuduknya meremang. Atau dia memang sebodoh itu sampai tidak sadar kalau dokumen ini sangat berbahaya jika dibaca oleh orang luar?
Aura menggelengkan kepalanya cepat, mencoba mengusir pikiran-pikiran menakutkan itu. Ia tidak boleh tahu terlalu banyak. Semakin banyak ia tahu tentang dunia gelap Devan, semakin sulit baginya untuk melepaskan diri. Ia segera mengetik analisis hukum yang aman, memperbaiki tata bahasanya, dan menutup laptopnya tepat saat adzan subuh mulai berkumandang di kejauhan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aura mengirimkan file tersebut ke email Devan, lalu merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya. Sebelum matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa, satu pikiran terakhir melintas di benaknya: Esok hari akan menjadi perang yang baru.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!