PERKENALAN TOKOH + WAJIB DIBACA‼️
⚠️KARYA ASLI TIDAK UNTUK DI PLAGIAT ⚠️
DISCLAIMER, CERITA INI ADALAH HASIL KARYA SENDIRI. JADI TOLONG JANGAN DI JIPLAK YAA.. NYARI IDE DAN BUATNYA PENUH PERJUANGAN LOH. THANK YOU ❤
...****************...
Selamat datang di karya kedua ku. Terima kasih telah kembali mempercayakan imajinasi kalian pada tulisanku. Jika di buku pertama aku mengajak kalian jatuh cinta pada dedek gumush dan ketos tampan, maka kali ini aku mengajak kalian menemani Athena membalaskan dendam pada keluarga yang selalu menyiksanya.
Kali ini, bersiaplah berkenalan dengan Athena Clarissa Mahendra. Ketika keadaan menyudutkannya tanpa pilihan, Athena terpaksa menyeret kembali keahlian dunia bawah yang selama ini dia sembunyikan. Baginya, ini bukan lagi tentang bertahan hidup, melainkan tentang membalas setiap perbuatan keluarganya secara tunai.
————————
Dilahirkan di keluarga Mahendra bukanlah keinginan Athena, gadis kecil yang dulu selalu di penuhi kasih sayang dari keluarganya justru menjadi samsak hidup saat keluarganya memutuskan mengadopsi seorang anak perempuan yang cantik dan terlihat polos dan baik hati.
Athena Clarisa Mahendra. Adalah sosok gadis tangguh yang hidupnya penuh dengan siksaan yang ia dapat justru dari keluarganya sendiri.
Di tindas oleh abang kembarnya dan selalu di siksa oleh ayahnya sendiri. Selama hidupnya bahkan tak pernah sedikit pun merasakan hidup bahagia.
Keluarganya justru lebih menyayangi anak angkatnya yang memiliki sifat lembut,pintar dan baik hati.tanpa mereka tahu jika dibalik wajah lugu anak angkatnya itu tersimpan sifat licik dan maipulatif.
Karna perlakuan keluarganya itu sudah mencapai batas sabar Athena dan membuat Athena memiliki dendam dan janji untuk menghancurkan keluarga gilanya itu.
Athena kecil yang mulai terabaikan mulai mencari perhatian dari kedua orang tua bahkan abang kembarnya tapi selalu berujung di marahi oleh sang ayah.
Sesuatu menjadi lebih menyakitkan ketika adik adopsinya justru sering memfitnah Athena melukainya, sampai akhirnya siksaan terus menerus menerpa tubuh kecilnya. Hingga suatu hari ia di larikan ke rumah sakit karna siksaan dari ayahnya dan berujung koma selama seminggu tanpa satupun dari keluarganya datang untuk sekedar menjenguknya.
Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup Athena? Yuk baca novelnya 😉
Athena Clarissa Mahendra
Anak bungsu dari padangan Bramantio Mahendra dan Arina Mahendra.
Parasnya yang cantik dengan tinggi semampai, berkulit putih bersih, mata biru laut yang cerah dengan rambut blondenya membuatnya menjadi primadona sekolah yang tak tersentuh, jangan lupakan dengan otak cerdas di atas rata-ratanya itu.
Sifatnya yang dulu sering mengemis kasih sayang keluarganya terutama abang kembarnya itu lenyap, karna sudah jengah dan lelah atas perlakuan keluarganya.
...****************...
Kenzo Nathaniel De Luca
Tangguh, dingin,tak tersentuh,kejam, dengan badan tinggi kekar , paras bak dewa yunani dengan mata almond yang tajam.
Orang terkaya nomor satu dan mavia nomor satu dunia.penyayang keluarga terutama mommynya
...****************...
JAXON VANCE
Sebelas dua belas dengan kenzo, kejam dan berdarah dingin. Penyayang keluarga , sahabat Kenzo Nathaniel
...****************...
KENZIE MAHENDRA
Kaka pertama athena, pendiam, cuek dan tidak peduli dengan apa yang athena alami tapi tidak juga menyudutkan athena
...****************...
KENAN MAHENDRA
Kaka kedua athena, bermulut pedas dan sangat membenci athena
...****************...
AYUSITA MAHENDRA
Polos, baik hati, penyanyang. Sayangnya hanya topeng untuk menutupi sifat manipulatif jangan lupakan dia ini pick me dan selalu berambisi merebut apa yang Athena miliki.
Di sebuah ruang rawat kelas tiga di salah satu rumah sakit di daerah Jakarta Pusat, bau karbol dan obat-obatan menyengat menusuk hidung. Di atas ranjang besi yang keras, seorang gadis remaja 17th terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya yang kurus dipenuhi oleh luka lebam yang membiru dan menghitam, menciptakan kontras yang mengerikan pada kulitnya yang pucat. Tragisnya, di sana juga terlihat jelas bekas luka lama yang belum sepenuhnya sembuh—namun sudah ditimpa oleh luka-luka baru yang masih basah.
Sudah seminggu lamanya gadis itu terbaring koma, bergantung pada untaian kabel dan selang oksigen yang menyiksa tubuh ringkihnya. Ironisnya, di tengah kondisi kritis yang mempertaruhkan nyawa tersebut, tak ada satu pun anggota keluarga kandungnya yang datang menjenguk, apalagi berniat untuk menemani.
Jangankan biaya perawatan yang memadai, sekadar ruang rawat yang layak pun tidak mereka berikan.
Hanya ada seorang wanita paruh baya bernama Bi Mina di sana. Pelayan setia yang sudah mengasuhnya sejak bayi itu duduk setia menemani di sisi ranjang tanpa sedetik pun berniat beranjak.
Matanya sembab, lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa wanita tua itu tidak tidur berhari-hari.
"Non Thea... kapan Non akan sadar? Bibi sedih melihat Non begini," isak Bi Mina dengan suara serak, sambil menggenggam erat tangan dingin Athena yang terasa sedingin es.
Hati Bi Mina hancur. Ia adalah saksi hidup bagaimana nona mudanya yang dulu begitu dicintai, dimanja, dan disayangi oleh keluarga besar Mahendra, kini justru berakhir tragis menjadi samsak hidup bagi keluarganya sendiri. Semua penderitaan ini bermula sejak kehadiran satu anak adopsi di rumah mereka. Anak perempuan yang tampak polos namun berhati culas, yang berhasil merebut seluruh atensi dan kasih sayang yang seharusnya menjadi milik Athena.
Pandangan Bi Mina mendadak kosong, menatap lurus ke arah dinding semen yang mengelupas. Pikirannya melayang, terseret kembali oleh memori kelam tentang tragedi mengerikan malam itu, tepat beberapa jam sebelum nona mudanya dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri dan bersimbah darah.
Flasback on
Ctass!
Ctass!
Ctass!
Suara cambukan ikat pinggang kulit tebal bergema mengerikan, memantul di dinding-dinding marmer ruang tengah kediaman Mahendra yang megah. Setiap hantaman keras itu selalu diiringi oleh jerit tangis yang memilukan dan rintihan pasrah dari bibir Athena. Tubuh gadis itu terasa remuk redam, setiap jengkal kulitnya menjerit kesakitan menahan amukan membabi buta dari ayah kandungnya sendiri.
"Dasar anak tidak tahu diri! Anak sial! Saya menyesal memiliki anak sepertimu!" murka Tuan Reksa Mahendra. Napasnya memburu, wajahnya merah padam menahan amarah yang meluap-luap hingga urat-urat di lehernya menegang tebal.
"Apa maksudmu mencelakai putriku, hah?! Jawab, dasar anak sialan!" teriak Tuan Mahendra penuh emosi yang meledak-ledak, tangannya kembali terangkat tinggi, siap melayangkan cambukan berikutnya ke punggung Athena yang sudah terkoyak.
"Ampun, Ayah... ampun... Thea tidak salah, Ayah," isak Athena di atas lantai dingin, merapatkan tubuhnya, memeluk lututnya yang gemetar hebat demi melindungi organ-organ vitalnya dari hantaman sabuk besi.
"Thea tidak mendorong Sita dari tangga, Ayah... Demi Tuhan, Thea baru saja turun dan melihat Sita sudah terjatuh... Tolong percaya pada Thea, sekali ini saja..." Athena memohon dengan sisa-sisa tenaganya, menatap sang ayah dengan mata yang sembab, bengkak, dan dipenuhi oleh air mata keputusasaan.
"Halah! Mana ada maling yang mau mengaku! Lo iri, kan, sama Sita karena kami semua lebih menyayangi dia?! Lo selalu cemburu karena Sita jauh lebih pintar dan berharga daripada anak menjijikan kayak lo!" celetuk Kenan, salah satu abang kembar Athena. Pria muda itu duduk dengan santai di sofa, sambil mencibir sinis dan memainkan ponselnya, menganggap penyiksaan di depannya tak lebih dari sebuah tontonan gratis yang menghibur.
"Lo itu gak pantas jadi bagian dari keluarga Mahendra. Dasar pembawa sial!" timpal Kenan lagi tanpa beban. Kata-katanya yang tajam bak belati berkarat langsung menghujam tepat di dada Athena, menghancurkan sisa-sisa mental dan harapan yang tersisa di lubuk hatinya.
Melihat adik kandungnya disiksa sedemikian rupa hingga kulitnya melepuh, sebenarnya ada sedikit perasaan aneh yang mengganjal di hati Kenzie, si sulung yang berdiri di sudut ruangan. Ada sedikit denyut rasa bersalah yang singgah di benaknya. Namun, Kenzie memilih untuk tetap diam. Dia memang tidak ikut merundung atau mencaci-maki Athena, tetapi dia juga tidak pernah berniat untuk melangkah maju, membela, atau sekadar menghentikan siksaan yang tidak manusiawi itu.
"Mati saja kau, anak sial! Sampai kapan pun, kau bukan anakku lagi!" ucap Tuan Mahendra dengan tatapan bengis yang begitu dingin. Bersamaan dengan kalimat itu, sebuah tendangan keras mendarat tepat di rusuk Athena, membuat tubuh ringkih itu terpental ke lantai.
BRAK!
Kepala Athena membentur sudut meja kaca yang tajam dengan sangat keras. Suara hantaman tengkorak itu terdengar begitu nyaring di keheningan malam.
Detik berikutnya, cairan kental berwarna merah segar mengalir deras dari pelipisnya, membasahi lantai marmer putih yang bersih. Athena tidak lagi bergerak. Matanya terpejam, dan tubuhnya seketika mendingin dalam keheningan yang mencekam.
Flashback of
...----------------...
Biiip... Biiip... Biiip...
Suara dari monitor penanda detak jantung di ruang rawat menyentak Bi Mina dari lamunan buruknya. Wanita paruh baya itu mengerjapkan mata beberapa kali, menghapus sisa air mata yang sempat menetes di pipinya yang keriput. Tiba-tiba, ia menyadari ada pergerakan kecil, sebuah kedutan halus dari jemari Athena yang berada di dalam genggamannya.
Tak berselang lama, terdengar pula sebuah suara serak yang begitu lirih dan samar dari arah ranjang pasien.
"Ya Allah, Non... Non Thea? Non Thea sudah sadar?" ucap Bi Mina dengan suara panik sekaligus lega yang luar biasa. Ia langsung bangkit dari kursinya,
mendekatkan wajahnya ke arah Athena.
"A... air..." rintih Athena. Tenggorokannya terasa begitu sakit, panas, dan sekering gurun pasir setelah seminggu penuh tidak berfungsi.
"Ini, Non, ini. Sini Bibi bantu minum perlahan-lahan ya, Non," ucap Bi Mina dengan cekatan. Dengan penuh kehati-hatian, ia menyangga tengkuk Athena dan mengarahkan sedotan air putih ke bibir pucat yang pecah-pecah milik gadis itu.
Setelah beberapa teguk air membasahi tenggorokannya, Athena perlahan membuka kelopak matanya secara penuh. Namun, ada sesuatu yang berubah secara drastis dari dalam dirinya.
Sesuatu yang membuat atmosfer di dalam ruangan kecil itu mendadak turun beberapa derajat menjadi sangat dingin.
Sorot mata yang dulunya selalu dipenuhi oleh ketakutan, kepasrahan yang menyedihkan, dan damba yang luar biasa akan kasih sayang keluarga, kini telah lenyap tanpa bekas.
Jiwa gadis kecil yang naif itu tampaknya telah hanyut bersama genangan darah di malam jahanam itu. Yang tersisa di bola mata jernih itu kini hanyalah tatapan yang kosong, sedingin es, dan memancarkan aura dendam yang begitu pekat menindas.
Athena Clarissa Mahendra telah kembali dari ambang kematiannya. Jiwanya yang lama telah melebur di dalam neraka buatan keluarganya sendiri, dan kini dia bangkit sebagai sosok yang sama sekali berbeda.
Sudut bibirnya yang terluka terangkat sedikit, membentuk sebuah seringai tipis yang tampak begitu mengerikan di wajahnya yang putih pucat.
Dia tidak akan lagi menangis. Dia tidak akan lagi mengemis cinta yang murah. Dan kali ini, dia bersumpah demi sisa napasnya, bahwa dia tidak akan membiarkan siapa pun di dunia ini—termasuk mereka yang memiliki pertalian darah dengannya—untuk kembali menginjak-injak harga diri dan kehidupannya.
...****************...
WELCOME TO MY 2ND BOOK! ✨
Mari kita temani Athena membalaskan dendamnya pada keluarga yang selalu menyiksanya.🔥
STAY TUNE TERUS SETIAP HARI YA GUYS! Karena bab baru akan selalu UP SETIAP PAGI DAN MALAM jam 09.00 dan 20.00 😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA. THANK YOU! 🥰
Bi mina tertegun. Tubuhnya mendadak kaku. Wanita tua itu terbiasa melihat nona mudanya yang rapuh, selalu menangis ketakutan, dan mencari perhatian keluarganya. Kini justru terlihat dingin dan mengeluarkan aura yang menekan,sorot mata tajamnya seakan bisa menguliti siapa saja yang dilihatnya.
"non... Non thea? Ada yang sakit? Bibi panggilkan dokter ya non?" tanya bi mina dengan suara lembut yang hangat, cemas melihat nona mudanya yang diam saja.
Athena tidak langsung menjawab. Dia mdnggerakan lehernya perlahan, mengabaikan rasa pening hang amat sangat menghujam kepalanya. Netra tajamnya menyapu sekeliling kamar rawat sempit dengan aroma obat yang menyengat.
'Rumah sakiit'
Ingatan terakhirnya adalah rasa sakit saat kepalanya membentur sudut meja, disusul suara tawa sinis kenan dan tatapan dingin Kenzie. Sudut bibir athena yang pecah terangkat mengulas senyum dingin yang tampak mengerikan di wajahnya yang pucat.
"bi mina," panggil athena, menatap pengasuhnya itu dengan tatapan melembutkan dan seluas senyum, satu-satunya orang yang masih membelanya di saat semua orang justru memusuhinya.
"mulai hari ini, athena yang bodoh dan lemah itu sudah mati. Jadi jangan pernah menangis untukku lagi bi, karna semua yang mereka lakukan padaku akan ku balas berkali-kali lipat dari rasa sakit yang ku terima" ucapnya dengan mata penuh dendam.
Bi Mina terpaku, merasakan aura pekat yang menguat dari nona mudanya.
"kita pulang besok bi" perintah athena datar "kita punya banyak hal yang harus diselesaikan"
"tapi, non.. Kondisi non thea belum pulih sepenuhnya. Dokterbilang non harus-"
"aku tidak apa-apa, bi" potong athena cepat, menatap bi mina dengan sorot mata tajam tak ingin di bantah. "tubuhku sudah baik-baik saja dan berada di tempat ini terlalu lama hanya membuang-buang waktu"
Mendengar penuturan itu, bi mina menelan ludah susah payah. Ketegasan nona mudanha membuat bi mina menelan kalimat yang sudah di ujung lidah. Ia hanya bisa mengangguk pasrah, menyadari nona mudanya tidak sedang mengajak berdiskusi, melainkan memberikan perintah mutlak.
"baiklah non, besok pagi bibi akan mengurus kepulangan non thea. Agar tetap bisa tetap rawat jalan" patuh bi mina.
Athena mengangguk samar, lalu menyandarkan kepalanya. Tatapannya menerawang ke luaf jendel kamar rawat yang menampilkan langit malam jakarta pusat.
'pulang', batin athena, mengulang kata itu dengan seringai sinis di benaknya.
Bagi orang lain, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang. Tapi bagi athena rumah adalah neraka, kembali ke kexiaman mahendra sama saja kembali kedalam neraka. Belum lagi dengan segala macam drama yang di ciptakan anak kesayangannya itu.
Hanya dengan memikirkan itu saja sudah membuat atena muak, betapa bodohnya dia di masa lalu yang dengan naifnya mencari perhatian keluarga yang sudah tidak mengharapkan kehadirannya.
"gue akan tetep pulang ke neraka itu, bukan untuk jadi samsak hidup. Tapi untuk membuat gue bener-bener benci sama keluarga gila itu dan bisa balas perlakuan mereka tanpa rasa bersalah meski mereka harus mati di tangan gue"
"tunggu gue pulang, keluarga tersayang" ucapnya dengan seringaian penuh dendam.
...----------------...
Pagi-pagi sekali, Bi Mina sudah berada di ruang administrasi untuk mengurus kepulangan Athena. Meski dokter sempat melarang karena kondisinya belum pulih sepenuhnya, keputusan keras kepala gadis itu tidak bisa dipatahkan.
Akhirnya, dengan berat hati dokter mengizinkan Athena pulang, dengan syarat ia harus menghabiskan cairan infusnya terlebih dahulu.
Hal itu membuat Athena baru bisa keluar dari rumah sakit saat hari sudah beranjak siang.
"Non, kita pulang naik taksi, ya? Mang Jajang masih mengantar Nyonya belanja bulanan," jelas Bi Mina dengan nada tidak enak hati.
Mendengar itu, Athena hanya mengangguk samar. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan sarkasme. Tentu saja, prioritas rumah itu tidak akan pernah berubah.
Di sinilah Athena sekarang, berdiri di depan gerbang megah kediaman Mahendra. Saat taksi yang mereka tumpangi memasuki pelataran rumah, pandangan Athena langsung tertuju pada deretan motor sport yang berjejer rapi.
Ia tahu persis siapa pemilik kendaraan-kendaraan mahal itu. Mereka adalah teman-teman dari abang kembarnya.Athena turun dari taksi. Angin siang menerpa wajah pucatnya, namun tidak ada lagi gurat kerapuhan di sana.
Dengan langkah kaki yang tegas, punggung tegap, dan sorot mata setajam silet, ia melangkah masuk ke dalam mansion.Langkahnya belum genap mencapai ruang utama, namun suara tawa yang menggelegar sudah menggema, memenuhi seisi ruang tengah. Sebuah kehangatan keluarga yang tidak pernah menyertakan dirinya di dalamnya.
Tawa di ruang tengah mendadak berhenti saat mereka melihat Athena masuk. Bukannya ketakutan atau menangis seperti biasanya, Athena justru menatap balik dengan pandangan meremehkan yang membuat abang kembarnya merasa terhina.
Melihat keramaian di ruang tengah sama sekali tidak membuat Athena berniat menyapa atau sekadar basa-basi. Ia sungguh lelah dan malas meladeni drama.
Tubuhnya yang masih lemas hanya ingin segera direbahkan di atas kasur. Namun, baru saja kakinya akan menapak anak tangga pertama, sebuah suara lembut yang memuakkan masuk ke indra pendengarannya.
"Kakak sudah sembuh? Kakak lama sekali dirawat, apa luka Kakak separah itu? Padahal aku yang Kakak dorong dari tangga saja sudah bisa masuk sekolah," celetukan menjijikan itu membuatnya muak dan ingin sekali membunuh manusia yang berbicara itu.
...****************...
WELCOME TO MY 2ND BOOK! ✨
Mari kita temani Athena membalaskan dendamnya pada keluarga yang selalu menyiksanya.🔥
STAY TUNE TERUS SETIAP HARI YA GUYS! Karena bab baru akan selalu UP SETIAP PAGI DAN MALAM jam 09.00 dan 20.00 😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA. THANK YOU! 🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!