Indonesia
NovelToon NovelToon

Putri Kesayangan Raja Iblis

Hari Aku Dibuang

Gerimis sudah turun sejak para prajurit membawa Aelora melewati batas kerajaan. Air merembes ke dalam gaunnya, masuk melalui kerah, lalu mengalir di sepanjang punggung. Ia tidak lagi memakai sepatu. Sepasang sepatu kulit yang tadi pagi masih terikat di kakinya tertinggal entah di mana, mungkin tenggelam di lumpur atau sengaja ditendang salah seorang prajurit agar ia tidak bisa berlari pulang.

Aelora tidak yakin mana yang lebih buruk.

Telapak kakinya terasa nyeri setiap kali menginjak batu. Ada luka terbuka di tumit kiri, tetapi udara terlalu dingin sehingga rasa sakitnya berubah menjadi kebas. Ia hanya tahu lukanya masih berdarah karena sesekali terlihat bekas merah di tanah, cepat larut bersama air hujan.

Di dadanya, ia memeluk boneka kelinci hitam yang sudah buruk rupa. Sebelah telinganya hampir putus, satu matanya hilang, dan jahitan di bagian perut terbuka cukup lebar untuk memperlihatkan kapas di dalamnya.

Seorang prajurit tadi menyuruhnya membuang boneka itu.

Aelora tidak menurut.

Boneka itu mungkin rusak, tetapi setidaknya tidak pernah memanggilnya anak kutukan.

“Berhenti.”

Suara di belakangnya membuat Aelora mengangkat kepala.

Rombongan kecil itu tiba di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon hitam. Cabangnya saling bertaut di atas, membuat cahaya sore sulit masuk. Di tengah lapangan berdiri batu penanda setinggi dada orang dewasa. Permukaannya dipenuhi lumut, tetapi lambang matahari Asteria masih terlihat pada salah satu sisinya.

Aelora mengenal batu itu.

Ia juga mengenal pohon tua di sebelah kanan, yang batangnya terbelah seperti disambar petir. Akar besar di depannya membentuk lubang sempit, cukup luas bagi seorang anak untuk bersembunyi. Bahkan bau tanah basah dan daun busuk di tempat ini terasa sama.

Tangannya mulai gemetar.

Tidak mungkin.

Aelora menoleh ke belakang. Ada empat prajurit kerajaan dan dua penyihir Gereja Fajar. Jubah putih para penyihir kini bernoda lumpur, tetapi lambang matahari emas pada dada mereka tetap bersih. Salah seorang dari mereka, perempuan kurus dengan hidung tajam, sedang membuka gulungan perkamen.

Aelora mengingat wajahnya.

Pendeta Mareth.

Sepuluh tahun kemudian, perempuan itu akan mati di halaman gereja ketika langit terbelah dan hujan api turun di Asteria.

Namun sekarang Mareth tampak jauh lebih muda. Kerutan di sekitar matanya belum banyak, dan rambut kelabunya masih diselingi warna hitam.

Aelora menatap tangannya sendiri.

Jari-jarinya kecil. Kukunya pendek dan kotor. Pergelangan tangannya begitu kurus hingga gelang benang yang dipakainya tampak longgar.

Tubuhnya bukan tubuh gadis tujuh belas tahun yang ia ingat.

Tubuh ini milik seorang anak berusia tujuh tahun.

Mareth membaca sesuatu dari gulungan. Suaranya bercampur dengan bunyi hujan, tetapi Aelora tidak perlu mendengarkan untuk mengetahui isinya. Ia pernah mendengar keputusan yang sama. Setiap kalimatnya masih tersimpan di bagian ingatan yang tidak berhasil dihapus oleh kematian.

“Atas nama Gereja Fajar dan Kerajaan Asteria, anak bernama Aelora Arvand dinyatakan membawa tanda kutukan yang membahayakan masyarakat.”

Mareth berhenti sebentar, mungkin berharap Aelora menangis atau memohon.

Aelora tidak melakukan keduanya. Ia hanya menatap pergelangan tangan kirinya.

Di sana terdapat garis hitam yang menyerupai akar. Tadi pagi tanda itu masih samar. Sekarang warnanya semakin pekat karena udara Hutan Hitam. Sesekali ada cahaya tipis di bawah kulit, lalu lenyap sebelum orang lain melihatnya.

“Berdasarkan keputusan pengadilan,” lanjut Mareth, “anak tersebut diasingkan dari wilayah manusia. Ia dilarang kembali, menerima pertolongan, atau menggunakan nama keluarga Arvand.”

Salah seorang prajurit memalingkan wajah.

Aelora juga mengingatnya. Namanya Tomas. Pada kehidupan sebelumnya, ia satu-satunya orang yang diam-diam meninggalkan sepotong roti di dekat batu penanda setelah rombongan pergi.

Roti itu basah karena hujan, tetapi Aelora tetap memakannya.

Hari ini, kantong di pinggang Tomas tampak menggembung.

Mungkin roti itu masih ada di sana.

“Apa kau memahami keputusan ini?” tanya Mareth.

Aelora menatapnya.

Pada kehidupan sebelumnya, ia menangis sampai suaranya habis. Ia memeluk kaki Mareth dan berjanji akan menjadi anak baik. Ia bahkan menawarkan diri tidur di kandang kuda selama tidak dibuang ke hutan.

Tidak ada yang berubah.

Mereka tetap pergi.

Aelora melepaskan pelukannya pada boneka sebentar, lalu mengusap air hujan dari wajah. “Aku mengerti.”

Mareth terlihat sedikit kecewa.

“Kau tidak boleh mengikuti kami.”

“Aku tahu.”

“Hutan ini milik kaum iblis. Jika mereka menemukanmu, gereja tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”

Aelora hampir tertawa, tetapi tenggorokannya terasa terlalu kaku.

Gereja memang tidak pernah bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi kepadanya.

Mareth menggulung kembali perkamen. “Selesai.”

Tidak ada doa. Tidak ada salam perpisahan.

Para prajurit berbalik.

Tomas menjadi orang terakhir yang meninggalkan lapangan. Sebelum pergi, ia menunduk seolah sedang membetulkan sepatu. Sebuah bungkusan kecil terjatuh dari balik mantelnya dan mendarat di dekat akar pohon.

Roti.

Sama seperti dahulu.

Tomas sempat melihat Aelora. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Mungkin ia meminta maaf. Mungkin ia hanya menyuruh Aelora mengambil roti itu setelah rombongan pergi.

Aelora tidak sempat memastikan.

Pendeta Mareth memanggilnya, dan Tomas segera menyusul.

Suara langkah mereka perlahan hilang di balik pepohonan.

Aelora ditinggalkan sendirian.

Hutan tampak lebih gelap setelah manusia-manusia itu pergi. Tidak ada lagi cahaya dari tongkat penyihir atau suara zirah bergesekan. Hanya hujan yang menimpa dedaunan dan sesekali suara ranting patah dari kejauhan.

Aelora berdiri di dekat batu penanda, memeluk bonekanya lagi.

Ia mencoba mengingat apa yang terjadi setelah ini pada kehidupan pertama.

Malam akan datang kurang dari satu jam lagi. Suhu turun. Ia akan mengambil roti Tomas, lalu bersembunyi di bawah akar pohon. Menjelang tengah malam, kawanan serigala kabut mencium darah dari kakinya.

Ia selamat karena berlari ke arah sungai.

Setelah itu—

Aelora mengerutkan dahi.

Ada bagian yang hilang.

Ia mengingat air yang dingin, arus yang menyeret tubuh kecilnya, lalu demam selama beberapa hari. Namun ia tidak bisa mengingat siapa yang menemukan dan membawanya keluar dari hutan.

Ingatan berikutnya hanya memperlihatkan sebuah rumah reyot di pinggir desa, seorang perempuan tua yang takut menyentuhnya, dan tahun-tahun panjang ketika semua orang memanggilnya anak penyihir.

“Kenapa aku kembali ke sini?”

Suaranya terdengar kecil di tengah hutan.

Kenangan terakhir sebelum ia membuka mata di tubuh ini datang tanpa diminta.

Langit terbelah menjadi tiga warna. Menara-menara Nocthara terbakar. Gerbang raksasa terbuka di antara gunung, memuntahkan cahaya dan bayangan ke medan perang.

Kael berdiri di depannya dengan pedang menembus dada.

Darah hitam mengalir di bibirnya. Walau nyaris tidak sanggup bernapas, ia masih berusaha tersenyum.

Jangan buka gerbang, Aelora.

Lalu seseorang berbisik bahwa darah Raja Iblis dapat mengembalikan semua orang yang telah mati.

Aelora mempercayainya.

Setelah itu hanya ada cahaya.

Ia seharusnya mati bersama dunia yang dihancurkannya.

Aelora memeluk boneka kelinci lebih erat sampai telapak tangannya sakit. “Aku tidak akan mengulanginya.”

Kalimat itu terdengar sangat berani.

Sayangnya, tubuhnya tidak ikut merasa berani.

Perutnya kosong. Kakinya gemetar, dan gaun basah membuat giginya terus beradu. Ia mengambil bungkusan roti yang ditinggalkan Tomas, tetapi tidak langsung memakannya. Kebiasaan lama membuatnya menyimpan setengah untuk nanti, meski ia sendiri belum tahu apakah masih akan hidup sampai besok.

Dari balik semak terdengar geraman rendah.

Aelora membeku sambil memegang roti.

Bukan serigala kabut. Geraman itu terlalu berat. Tanah bahkan ikut bergetar setiap kali makhluk tersebut bernapas.

Ia memaksa dirinya mundur pelan-pelan.

Di kehidupan sebelumnya, makhluk ini tidak muncul secepat ini.

Sesuatu bergerak di antara pohon. Sepasang mata merah terbuka dalam gelap, lalu sepasang lagi menyusul di sampingnya.

Dua serigala bayangan keluar dari semak.

Tubuh mereka hampir setinggi dada orang dewasa. Bulu hitamnya tidak benar-benar padat; sebagian tampak seperti asap yang terus bergerak. Air hujan menguap sebelum menyentuh punggung mereka.

Salah satu serigala mengendus udara.

Tatapannya turun ke kaki Aelora yang terluka.

“Jangan mendekat,” kata Aelora.

Suaranya bergetar.

Serigala itu tentu saja tidak peduli.

Aelora meletakkan boneka dan roti di belakang batu. Ia mengangkat tangan kanan, mencoba mengingat mantra sederhana yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun kemudian.

Api kecil seharusnya cukup untuk menakuti serigala.

Ia menggambar bentuk rune di udara menggunakan ujung jari.

“Fera… ignis.”

Tidak terjadi apa-apa.

Aelora mencoba lagi. Kali ini ujung jarinya mengeluarkan percikan merah yang langsung mati terkena hujan.

Ia baru ingat bahwa tubuh anak-anaknya belum pernah dilatih menggunakan sihir. Jalur mana di dalam tubuhnya masih tertutup. Pengetahuan yang dibawa dari masa depan tidak berguna jika tangannya terlalu lemah untuk menjalankannya.

Serigala pertama merendahkan tubuh, bersiap menerkam.

Aelora mengambil batu dari tanah.

Batu kecil itu tidak akan menolong.

Tetapi berdiri tanpa melakukan apa pun terasa lebih menakutkan.

Serigala tersebut melompat.

Sebelum mencapai Aelora, sebuah bayangan tipis melesat dari bawah akar pohon dan menghantam moncongnya. Serigala itu terpelanting ke samping, menabrak batang pohon sampai kulit kayunya pecah.

Aelora menoleh.

Bayangan kecil berbentuk kucing berdiri di atas batu penanda. Tubuhnya kabur, belum sepenuhnya terbentuk. Hanya mata ungu dan sepasang telinga yang terlihat jelas.

Makhluk itu menatap Aelora, lalu menoleh ke arah jalan sempit di sebelah utara.

“Kau menyuruhku ke sana?” tanya Aelora.

Kucing itu mengibaskan ekor.

Serigala kedua menyerang.

Makhluk kecil itu membuka mulut, mengeluarkan suara mendesis yang sama sekali tidak menakutkan. Namun tanah di bawah serigala mendadak berubah hitam dan menahan keempat kakinya.

Aelora mengambil boneka serta rotinya, lalu berlari ke jalan yang ditunjukkan.

Baru beberapa langkah, ia sadar ini bukan jalur yang ditempuhnya pada kehidupan pertama. Seharusnya ia berlari ke selatan, menuju sungai.

Jalan utara mengarah lebih dalam ke wilayah iblis.

“Ini jalan yang salah,” katanya sambil terus berlari.

Kucing bayangan muncul di sampingnya, lalu menghilang lagi.

Di belakang, serigala-serigala itu berhasil melepaskan diri.

Geraman mereka semakin dekat.

Aelora berlari secepat tubuh kecilnya sanggup. Napasnya terasa seperti pisau di tenggorokan. Ranting-ranting rendah mencakar wajah dan gaunnya. Beberapa kali ia hampir jatuh karena akar yang menonjol.

Ketika kakinya benar-benar tersangkut, ia tidak berhasil menjaga keseimbangan.

Tubuhnya jatuh ke tanah.

Lututnya membentur batu.

Boneka kelinci terlempar dari pelukan dan jatuh beberapa langkah di depan.

Aelora berusaha bangun, tetapi pergelangan kaki kanannya terasa sakit. Serigala bayangan sudah muncul di belakangnya. Mata merah mereka tampak semakin cerah di antara kabut.

Ia merangkak mengambil boneka.

“Jangan ambil dia,” gumamnya.

Aneh, karena benda itu hanya boneka. Namun pada kehidupan sebelumnya, boneka tersebut adalah satu-satunya benda dari masa kecil yang masih dimilikinya. Kael pernah menjahit telinganya yang putus dengan tangan sendiri, meskipun hasil jahitannya buruk dan benangnya salah warna.

Aelora baru berhasil menyentuh ujung telinga boneka ketika serigala pertama melompat.

Kabut mendadak terbelah.

Seekor kuda hitam keluar dari antara pepohonan tanpa mengeluarkan suara. Api ungu menyala di keempat kukunya. Penunggangnya mengenakan mantel panjang yang gelap, dengan sulaman perak di bagian bahu.

Ia hanya mengangkat satu tangan.

Serigala yang sedang melompat berhenti di udara.

Tubuhnya dihantam ke tanah begitu keras hingga lumpur memercik ke batang-batang pohon. Serigala kedua langsung merunduk. Telinganya tertekuk, ekornya masuk ke antara kaki.

Makhluk-makhluk hutan yang beberapa saat lalu hendak menerkam Aelora kini gemetar.

Lelaki di atas kuda memandang mereka dengan wajah bosan.

“Pergi.”

Satu kata.

Kedua serigala itu berbalik dan menghilang ke dalam hutan.

Aelora masih berlutut di tanah.

Ia tahu suara itu.

Bahkan sebelum lelaki tersebut turun dari kuda, ia sudah mengenal cara mantel hitamnya bergerak, rambut gelap yang jatuh ke dahinya, dan tatapan merah yang selalu membuat orang lain sulit bernapas.

Kael Vesperion.

Raja Iblis Nocthara.

Orang yang kelak memberinya rumah.

Orang yang kelak mati di pelukannya.

Aelora lupa bagaimana caranya bernapas.

Kael pada masa ini tampak lebih muda daripada dalam ingatannya. Tidak ada bekas luka panjang di rahang. Bahunya belum dipenuhi retakan cahaya akibat perang. Namun sorot matanya tetap sama—tajam, lelah, dan tidak sabar menghadapi dunia.

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di depan Aelora.

Tatapannya turun ke gaun basah, kaki berdarah, roti yang jatuh di lumpur, dan boneka kelinci yang dipeluk erat.

“Anak manusia?” tanyanya.

Aelora ingin memanggilnya Ayah.

Kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi ia menelannya. Kael belum mengenalnya. Bagi lelaki ini, Aelora hanyalah anak asing yang tersesat di wilayahnya.

Ia menundukkan kepala agar air matanya tidak terlihat.

“Aku dibuang.”

“Ke Hutan Hitam?”

Aelora mengangguk.

Kael menoleh ke arah jalan yang baru saja dilalui Aelora. Tatapannya berhenti pada lambang Asteria yang samar-samar terlihat di balik kabut.

“Manusia mulai kehabisan cara untuk menjadi bodoh.”

Nada suaranya datar, tetapi Aelora ingat bahwa itulah cara Kael berbicara ketika sangat marah.

Ia mengulurkan tangan.

Aelora refleks mundur.

Gerakan itu membuat pergelangan tangannya keluar dari lengan gaun. Tanda hitam di kulitnya terlihat jelas.

Kael berhenti.

Mata merahnya menyempit.

Untuk pertama kalinya sejak muncul dari kabut, wajahnya benar-benar berubah. Bukan marah atau jijik. Ia terlihat terkejut—perasaan yang sangat jarang berhasil muncul di wajah Raja Iblis.

Kael berjongkok agar sejajar dengan Aelora.

“Perlihatkan tanganmu.”

Aelora ragu, tetapi akhirnya mengulurkan pergelangan kirinya.

Kael tidak langsung menyentuhnya. Ia mengamati tanda hitam itu, kemudian melihat gelang benang perak yang tersembunyi di bawah lumpur.

Ketika ujung jarinya menyentuh gelang tersebut, tanda di kulit Aelora menyala.

Cahaya putih berbentuk sayap muncul sebentar, lalu padam.

Seluruh hutan mendadak sunyi.

Kael mengangkat wajah dan menatap Aelora lama sekali.

Kemudian ia berkata pelan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri,

“Aneh.”

Tatapannya turun sekali lagi pada tanda di pergelangan Aelora.

“Kenapa anak malaikat dibuang ke wilayahku?”

Boneka Rusak di Hutan Hitam

Kael masih memegang pergelangan tangan Aelora ketika cahaya berbentuk sayap itu padam.

Bekasnya tidak langsung hilang. Di bawah kulit, garis putih tipis bergerak mengikuti tanda hitam yang selama ini dianggap kutukan. Keduanya bertemu di tengah pergelangan, lalu saling menjauh seperti tidak tahan berada terlalu dekat.

Aelora mencoba menarik tangannya, tetapi jemari Kael menahannya dengan hati-hati.

“Apakah itu sakit?” tanyanya.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Kael mengangkat alis.

Aelora mengalihkan pandangan ke boneka kelinci dalam pelukannya. Bagian wajah boneka itu sudah terkena lumpur. Salah satu mata kancingnya yang tersisa menggantung pada seutas benang.

“Sedikit,” katanya akhirnya.

Kael melepaskan tangannya. “Sejak kapan tanda itu muncul?”

Aelora tahu jawaban yang seharusnya diberikan anak berusia tujuh tahun: sejak tiga hari lalu, setelah ia jatuh sakit dan lampu-lampu rumah mulai padam setiap kali disentuhnya.

Namun ia juga ingat bahwa tanda itu bukan kutukan. Dalam kehidupan sebelumnya, para pendeta menggunakan rune gelap untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi mereka.

Darah malaikat.

Kalau Kael mengetahuinya sekarang, masa depan dapat berubah lebih cepat daripada yang sanggup ia kendalikan.

“Tidak ingat,” jawabnya.

“Kau tidak ingat kapan tubuhmu mulai mengeluarkan cahaya?”

“Mereka bilang aku sakit.”

“Siapa mereka?”

“Orang-orang di rumah.”

“Orang tuamu?”

Aelora menunduk. “Aku tidak punya ayah.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kael terdiam sejenak. Tatapannya berubah, meski hanya sedikit. “Ibumu?”

“Sudah mati.”

Itulah yang selama bertahun-tahun dikatakan orang-orang Asteria. Mirael Arvand, penyihir pengkhianat yang dibakar sebelum putrinya cukup besar untuk mengingat wajahnya.

Aelora baru mengetahui kebenarannya jauh setelah perang dimulai. Ibunya tidak mati di tiang pembakaran. Setidaknya, tidak pada hari itu.

Namun bagian ingatannya tentang Mirael kabur. Wajahnya seperti lukisan yang terlalu lama terkena hujan.

Kael berdiri dan memandang sekeliling hutan. “Siapa yang membawamu ke sini?”

“Pendeta Mareth. Empat prajurit.”

“Mereka meninggalkan seorang anak sendirian di wilayah serigala bayangan?”

Aelora mengangguk.

Rahang Kael mengeras. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tetapi kabut di sekitar sepatu botnya bergerak menjauh, seolah ikut takut pada perubahan suasana hatinya.

Kuda hitam yang tadi ditungganginya mendekat. Makhluk itu lebih besar daripada kuda biasa, dengan mata ungu dan api kecil di sekitar kuku. Ia menundukkan kepala untuk mengendus Aelora.

Aelora memeluk bonekanya lebih erat.

Kuda itu bersin.

Asap ungu menyembur dari lubang hidungnya dan mengenai rambut Aelora.

Kael menepuk leher kuda. “Sopan sedikit.”

Makhluk itu memalingkan kepala, tampak tidak merasa bersalah.

Aelora hampir tersenyum.

Hampir.

Kael melepas mantel luarnya, kemudian menyampirkannya ke bahu Aelora. Mantel itu terlalu panjang. Ujungnya langsung menyentuh tanah dan menutupi tubuhnya sampai ke kaki.

Aelora mengenali aroma kulit, logam, dan daun pinus yang melekat pada kain tersebut. Bau yang sama pernah memenuhi ruang kerja Kael bertahun-tahun kemudian. Ingatan sederhana itu membuat tenggorokannya mendadak sesak.

Ia menarik mantel lebih rapat.

Kael memperhatikannya. “Kau kedinginan?”

Aelora mengangguk.

“Kenapa tidak bilang?”

Aelora tidak tahu harus menjawab apa.

Anak-anak di rumah lama tidak boleh mengeluh. Mengatakan lapar dianggap tidak tahu bersyukur. Mengatakan sakit hanya membuatnya diperiksa oleh pendeta. Mengatakan takut sering membuat orang dewasa mengingat bahwa keberadaannya memang tidak diinginkan.

Kael berjongkok lagi, kali ini membelakanginya.

“Naik.”

Aelora menatap punggungnya.

“Apa?”

“Kakimu terluka.”

“Aku bisa jalan.”

“Kau baru saja jatuh karena tersandung akar.”

“Itu karena aku berlari.”

“Penjelasan yang sangat membantu.”

Aelora menatap rambut gelap di belakang kepala Kael. Dalam ingatannya, Raja Iblis tidak pernah menawarkan punggung kepada siapa pun. Bahkan ketika terluka, ia lebih suka berjalan sendiri daripada menerima bantuan.

Barangkali pada masa ini Kael memang berbeda.

Atau mungkin Aelora tidak pernah benar-benar mengenalnya.

“Cepat,” kata Kael. “Aku tidak berniat tinggal di tengah hujan sampai malam.”

Aelora ragu sebelum merangkul lehernya. Kael mengangkatnya dengan mudah. Tubuh lelaki itu hangat, jauh lebih hangat daripada udara hutan.

Boneka kelinci terjepit di antara mereka.

Kael melirik benda itu. “Kau membawa itu sejak tadi?”

“Namanya Piko.”

“Benda itu masih punya nama?”

“Dia cuma rusak.”

Kael melihat telinga yang hampir putus dan kapas yang menyembul dari perutnya. “Cuma?”

Aelora mengerutkan hidung. “Dia masih bisa diperbaiki.”

Kael tidak membantah. Ia berjalan ke arah kuda, lalu menempatkan Aelora di atas pelana. Setelah memastikan anak itu tidak akan jatuh, ia naik di belakangnya.

Aelora duduk kaku. Tangannya masih memegang Piko, sedangkan Kael mengambil tali kekang di kedua sisi tubuhnya.

“Ke mana kita pergi?” tanyanya.

“Keluar dari hutan.”

“Ke Asteria?”

“Tidak.”

Jawaban Kael datang tanpa keraguan.

Aelora menoleh sedikit. “Lalu?”

“Ke wilayahku.”

Nocthara.

Istana Bulan Merah.

Rumah yang belum menjadi rumah.

Jantung Aelora berdebar lebih cepat.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia baru bertemu Kael ketika usianya hampir dua belas tahun. Saat itu ia sudah belajar mencuri makanan, tidur dengan pisau di bawah bantal, dan tidak mempercayai siapa pun yang menawarkan pertolongan.

Namun sekarang Kael menemukannya pada hari pembuangan.

Lima tahun lebih awal.

Ini bukan sekadar perubahan kecil.

“Aku manusia,” katanya.

“Aku sudah melihatnya.”

“Manusia tidak boleh masuk Nocthara.”

“Siapa yang melarang?”

“Gereja.”

“Gerejamu juga membuangmu ke hutan. Aku tidak yakin pendapat mereka perlu dipertimbangkan.”

Aelora menunduk agar Kael tidak melihat senyum kecil yang muncul di bibirnya.

Kuda bergerak menyusuri jalan sempit. Langkahnya tidak membuat pelana berguncang keras seperti kuda biasa. Ia seperti meluncur di atas tanah, sementara api pada kukunya meninggalkan bekas ungu yang segera hilang terkena hujan.

Mereka baru berjalan beberapa menit ketika Aelora melihat bayangan kecil berlari di antara pepohonan.

Kucing yang tadi menolongnya.

Kadang-kadang hanya telinganya yang terlihat. Kadang ekornya muncul dari balik akar, kemudian lenyap saat Aelora menoleh.

Kael juga melihatnya.

“Makhluk itu mengikutimu?”

“Aku tidak tahu.”

“Dia membantuku.”

“Kucing bayangan jarang membantu manusia.”

“Mungkin dia baik.”

“Tidak ada kucing yang baik.”

Aelora menoleh. “Kau tidak suka kucing?”

“Aku tidak mempercayai makhluk yang tersenyum ketika menjatuhkan barang dari meja.”

Itu terdengar seperti pengalaman pribadi.

Aelora ingin bertanya, tetapi Kael mempercepat laju kuda ketika suara lolongan terdengar dari kejauhan.

Hutan berubah semakin gelap. Pohon-pohonnya lebih tinggi, dan daun hitamnya menutup hampir seluruh langit. Beberapa bunga pucat tumbuh di dekat akar. Saat kuda melewatinya, kelopak bunga membuka dan memperlihatkan gigi kecil di tengah.

Aelora segera menarik mantel agar tidak menyentuh tanaman.

“Kau pernah ke sini?” tanya Kael.

“Tidak.”

“Kau tahu bunga itu menggigit.”

“Orang-orang suka bercerita tentang Hutan Hitam.”

“Cerita manusia biasanya mengatakan bunga itu memakan bayi.”

“Apakah benar?”

“Tidak. Mereka terlalu kecil.”

“Lalu mereka makan apa?”

“Jari.”

Aelora memasukkan tangannya ke balik mantel.

Kael tertawa pendek.

Suara itu mengejutkannya.

Dalam ingatannya, Kael jarang tertawa. Kalaupun melakukannya, biasanya hanya dengusan yang cepat hilang. Mendengar suara itu sekarang terasa aneh, seperti menemukan jendela di ruangan yang sebelumnya ia kira tidak memilikinya.

“Kau menakut-nakutiku,” kata Aelora.

“Sedikit.”

“Itu jahat.”

“Aku Raja Iblis.”

“Bukan berarti kau harus membuat semua cerita tentangmu benar.”

Kael tidak segera menjawab. “Kau cukup berani untuk anak yang baru dibuang.”

Aelora memandang jalan di depan mereka. “Aku tidak berani.”

“Tidak?”

“Aku takut.”

“Pada apa?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya terlalu panjang.

Ia takut pada Hutan Hitam. Takut pada Gereja Fajar. Takut bahwa dunia akan berakhir lagi. Takut Kael akan mati karena keputusan yang belum ia buat. Takut pada tangannya sendiri, yang dalam masa depan pernah memegang pedang berlumuran darah.

Aelora memilih jawaban terkecil.

“Aku takut kau mengembalikanku.”

Tangan Kael pada tali kekang tidak bergerak.

“Ke Asteria?”

Aelora mengangguk.

“Mereka membuangmu ke wilayahku.”

“Jadi?”

“Artinya mereka melepaskan hak untuk mengambilmu kembali.”

“Kalau mereka bilang aku berbahaya?”

“Aku sudah memelihara hal-hal yang lebih berbahaya.”

Aelora menoleh pada kuda mereka.

Makhluk itu menggeram pelan, mungkin tersinggung.

“Bukan dia,” kata Kael.

Kuda itu mengibaskan telinga.

Aelora diam sebentar. “Apakah kau akan membunuhku kalau aku memang berbahaya?”

Pertanyaan itu membuat langkah kuda melambat.

Kael tidak langsung menjawab. Ia memandang bagian belakang kepala Aelora, seolah mencoba memahami mengapa seorang anak kecil dapat menanyakan sesuatu seperti itu tanpa menangis.

“Siapa yang mengatakan kau harus dibunuh?”

“Semua orang.”

“Semua orang sering salah.”

“Tapi kalau mereka benar?”

Kael menarik napas perlahan. “Aku belum mengenalmu cukup lama untuk memutuskan apakah kau berbahaya.”

Aelora menunggu.

“Namun aku tidak membunuh anak-anak hanya karena orang dewasa takut kepada mereka.”

Jawaban itu tidak sempurna. Kael tidak berjanji akan selalu melindunginya. Ia juga tidak mengatakan Aelora aman.

Aneh, tetapi justru itu yang membuatnya terdengar dapat dipercaya.

Jalan mulai menurun. Di depan mereka tampak cahaya dari beberapa lentera ungu. Sebuah kereta hitam berhenti di bawah pohon besar, dijaga empat prajurit Nocthara. Mereka mengenakan zirah gelap dan membawa tombak pendek.

Ketika melihat Kael kembali bersama seorang anak manusia, keempatnya menunjukkan reaksi yang berbeda.

Prajurit pertama menjatuhkan tombaknya.

Prajurit kedua refleks menghunus pedang.

Prajurit ketiga membungkuk terlalu cepat sampai tanduknya membentur pintu kereta.

Yang terakhir hanya menatap Aelora, lalu menatap Kael, lalu kembali melihat Aelora.

“Yang Mulia,” katanya hati-hati, “apakah itu… anak?”

Kael turun dari kuda. “Pengamatan yang bagus.”

Prajurit itu menutup mulut.

Kael mengangkat Aelora dari pelana. Saat kakinya menyentuh tanah, nyeri di pergelangan kanan membuatnya meringis.

Kael langsung melihatnya.

“Tabib.”

Seorang perempuan keluar dari dalam kereta. Rambutnya merah gelap, diikat tinggi agar tidak mengganggu. Ia mengenakan mantel abu-abu dan membawa tas kulit besar.

Perempuan itu berhenti ketika melihat Aelora.

“Dari mana Anda mendapatkan anak manusia?”

“Hutan.”

“Seperti memungut jamur?”

“Dia terluka.”

Perempuan itu menatap Kael seolah memiliki banyak pertanyaan, tetapi memilih menyimpannya. Ia berlutut dan membuka tas.

“Namaku Eirna,” katanya kepada Aelora. “Aku tabib. Boleh kulihat kakimu?”

Aelora memandang Kael lebih dulu.

Eirna memperhatikan gerakan kecil itu, lalu melirik sang raja.

Kael mengangguk. “Dia tidak akan menyakitimu.”

Aelora membiarkan Eirna memeriksanya.

Luka di tumit dibersihkan dengan cairan yang terasa dingin. Pergelangan kaki kanannya dibalut kain hitam. Eirna juga menemukan memar di lengan dan luka kecil di bawah rambutnya.

“Dia demam,” kata Eirna setelah menyentuh dahi Aelora.

“Aku tidak demam,” bantah Aelora.

“Kau panas.”

“Aku kedinginan.”

“Keduanya bisa terjadi bersamaan.”

Eirna membuka mantel Kael sedikit untuk memeriksa lehernya. Gerakannya berhenti ketika melihat tanda hitam di pergelangan Aelora.

“Apa ini?”

“Katanya kutukan,” jawab Aelora.

Eirna mengusap tanda itu menggunakan ibu jari. Garis hitam di bawah kulit langsung bergerak.

Tabib itu menarik tangannya.

“Aku perlu memeriksanya di istana.”

“Sangat buruk?” tanya Kael.

“Aku tidak tahu.”

“Aku membayar tabib agar mereka tahu.”

“Anda membayar tabib agar kami mencari tahu sebelum memberikan jawaban yang salah.”

Kael tampaknya tidak puas, tetapi tidak melanjutkan perdebatan.

Eirna menatap boneka kelinci yang masih dipeluk Aelora. “Boleh kulihat juga?”

Aelora menggeleng.

“Hanya sebentar.”

“Tidak.”

“Bisa saja ada rune yang disembunyikan di dalamnya.”

“Piko tidak berbahaya.”

Kael berdiri di dekat pintu kereta. “Biarkan dia menyimpannya.”

Eirna mengangkat alis. “Yang Mulia, seorang anak manusia ditemukan dengan tanda yang tidak dikenal di tengah hutan. Barang yang dibawanya harus diperiksa.”

Aelora memeluk Piko sampai kapas dari perutnya semakin keluar.

Kael melihat tangannya yang gemetar.

“Periksa nanti,” katanya. “Tidak sekarang.”

Eirna menutup tas dengan gerakan sedikit lebih keras daripada perlu. “Baik.”

Kael membantu Aelora masuk ke kereta.

Bagian dalamnya hangat dan tidak terlalu luas. Ada dua bangku berlapis kulit, sebuah meja kecil, selimut, dan lampu rune yang bergantung di langit-langit.

Aelora duduk dekat jendela. Ia masih mengenakan mantel Kael, sehingga tubuhnya hampir tenggelam di antara lipatan kain.

Kael duduk berhadapan dengannya. Eirna mengambil tempat di samping, sementara Milo—kucing bayangan yang sejak tadi mengikuti—muncul sebentar di bawah kereta sebelum kembali menghilang.

Kereta mulai bergerak.

Aelora memandang Hutan Hitam melalui jendela. Pohon-pohon bergeser perlahan, lalu tenggelam dalam kabut.

Hari itu seharusnya menjadi awal dari sepuluh tahun penderitaan.

Namun sekarang ia duduk di kereta Raja Iblis.

Kael belum mengenalnya. Nocthara belum menerimanya. Masa depan belum benar-benar berubah.

Tetapi untuk pertama kalinya, jalan di hadapannya tidak sama dengan yang pernah dilalui.

Kelopak matanya mulai terasa berat.

Eirna memberi secangkir minuman hangat yang rasanya pahit. Aelora meminumnya tanpa protes, lalu menyandarkan kepala pada dinding kereta.

Boneka Piko tetap berada dalam pelukannya.

“Tidurlah,” kata Kael. “Perjalanannya masih panjang.”

Aelora menatapnya melalui mata yang setengah tertutup. “Kau tidak akan pergi saat aku tidur?”

Kael tampak tidak siap menerima pertanyaan itu.

“Aku ada di kereta yang sama.”

“Itu bukan jawaban.”

Kael menghela napas. “Aku tidak akan pergi.”

Aelora mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian napasnya menjadi teratur.

Kael menoleh kepada Eirna. “Apa pendapatmu?”

“Tubuhnya kekurangan makan. Ada bekas hukuman lama di punggung dan lengannya. Demamnya mungkin karena terpapar hujan, mungkin juga karena tanda itu.”

“Bisakah tanda tersebut dibuang?”

“Kalau itu kutukan, mungkin.”

“Kalau bukan?”

Eirna memandang pergelangan tangan Aelora yang tersembunyi di balik mantel.

“Kalau bukan, saya harus tahu apa yang sebenarnya berusaha disembunyikannya.”

Di luar jendela, kabut hutan menebal.

Aelora tertidur tanpa mendengar percakapan mereka.

Ia juga tidak melihat jahitan pada perut boneka kelincinya bergerak sendiri.

Mata kancing Piko berputar perlahan ke arah Kael.

Kemudian, dari dalam tubuh boneka yang rusak itu, keluar suara rendah seorang lelaki.

Suara yang lebih berat dan jauh lebih lelah daripada suara Kael sekarang.

“Jangan bawa dia ke istana.”

Kael langsung menoleh.

Boneka itu melanjutkan dengan suaranya sendiri—suara Kael dari masa depan.

“Kau akan membunuhnya lagi.”

Raja Iblis Tidak Makan Anak Kecil

Kael tidak langsung bergerak.

Boneka kelinci di pelukan Aelora baru saja berbicara menggunakan suaranya—lebih tua, lebih serak, dan terdengar seperti seseorang yang telah melewati terlalu banyak malam tanpa tidur.

Eirna membeku dengan botol obat masih di tangan.

“Kau mendengarnya?” tanya Kael.

“Saya berharap tidak.”

Mata kancing boneka itu kembali diam. Jahitan di perutnya berhenti bergerak. Jika Kael tidak mendengar sendiri, benda tersebut akan terlihat seperti mainan buruk yang kebetulan dibawa seorang anak dari hutan.

Kael mengulurkan tangan.

Sebelum jarinya menyentuh telinga boneka, Aelora menggeliat dalam tidur dan menarik Piko lebih erat ke dadanya.

“Jangan,” gumamnya.

Kael berhenti.

“Aelora.”

Anak itu tidak membuka mata.

“Kau akan membangunkannya,” kata Eirna.

“Itu boneka baru saja mengancamku dengan suaraku sendiri.”

“Secara teknis, ia memperingatkan Anda.”

“Perbedaannya tidak banyak.”

Eirna menyimpan kembali botol obatnya. “Kita bisa memeriksanya setelah tiba di istana. Di dalam kereta, rune yang salah dapat meledakkan seluruh atap.”

Kael melirik langit-langit kereta.

“Kereta ini seharusnya tahan ledakan.”

“Bukan alasan untuk menguji.”

Boneka itu tidak berbicara lagi.

Kael akhirnya menarik tangannya dan duduk kembali. Tatapannya tetap tertuju pada Piko, seolah sedang menunggu benda itu membuka mulut sekali lagi.

Kau akan membunuhnya lagi.

Bukan membunuhnya.

Membunuhnya lagi.

Kata terakhir itulah yang mengganggunya.

Kael belum pernah melihat anak ini sebelum sore tadi. Setidaknya, ia yakin belum pernah. Wajah kecil Aelora tidak mengingatkannya pada siapa pun, tetapi gelang perak di pergelangan anak itu adalah perkara lain.

Ia pernah melihat gelang serupa bertahun-tahun lalu.

Di tangan Mirael Arvand.

Kael memandang keluar jendela. Hutan bergerak di balik kaca, gelap dan basah. Ia seharusnya hanya memeriksa perbatasan, memastikan kawanan serigala bayangan tidak masuk terlalu dekat ke jalur perdagangan. Tidak ada rencana membawa pulang anak manusia, apalagi anak dengan tanda malaikat dan benda terkutuk yang menggunakan suaranya.

Namun membiarkan Aelora di hutan juga bukan pilihan.

“Yang Mulia,” kata Eirna pelan, “Anda mengenali gelangnya?”

Kael tidak menoleh. “Tidak.”

“Jawaban Anda terlalu cepat.”

“Aku tidak membayar tabib untuk menginterogasiku.”

“Saya juga tidak dibayar cukup untuk menangani boneka yang berbicara dengan suara masa depan.”

Kael menatapnya.

Eirna mengangkat kedua tangan. “Baik. Saya diam.”

Kereta terus bergerak.

Tidak lama kemudian, pohon-pohon mulai jarang. Kabut menipis dan memperlihatkan dinding batu hitam yang membentang di sepanjang perbatasan Nocthara. Menara-menara penjaga berdiri pada jarak tertentu, masing-masing diterangi api ungu.

Penjaga gerbang sudah membuka jalan sebelum kereta tiba.

Mereka membungkuk ketika lambang kerajaan terlihat pada pintu, lalu mengangkat kepala saat salah seorang prajurit pengiring berbisik bahwa Raja membawa seorang anak manusia.

Kabar itu bergerak lebih cepat daripada kereta.

Di pos kedua, lima penjaga berdiri berdesakan untuk mengintip ke jendela. Pada pos ketiga, seorang kapten datang bersama dua penyihir pertahanan dan sebuah tombak yang biasanya digunakan untuk menangkap binatang suci.

Kael membuka jendela sedikit.

“Apa yang kalian lakukan?”

Kapten itu menegakkan punggung. Tanduk kirinya belum tumbuh sempurna dan tampak lebih pendek daripada tanduk kanan.

“Kami menerima laporan bahwa ada manusia di dalam kereta, Yang Mulia.”

“Laporan itu benar.”

“Manusia kecil.”

“Masih benar.”

Kapten tersebut menatap ke balik bahu Kael. Ia berhasil melihat ujung rambut basah Aelora dan telinga boneka hitam yang muncul dari balik mantel.

“Apakah dia tahanan?”

“Tidak.”

“Upeti?”

“Tidak.”

“Bahan pemeriksaan?”

Eirna menutup wajah dengan telapak tangan.

Kael memandang kapten itu sampai warna wajahnya berubah.

“Dia anak-anak,” kata Kael.

“Ya, Yang Mulia.”

“Anak-anak bukan bahan pemeriksaan.”

“Tentu. Saya hanya—”

“Dan simpan tombak itu sebelum dia bangun dan mengira Nocthara sama buruknya dengan manusia.”

Kapten itu buru-buru memberi isyarat kepada bawahannya. Tombak panjang tersebut disembunyikan di belakang pos, meski ujungnya masih terlihat dari samping dinding.

Kereta melanjutkan perjalanan.

Eirna bersandar dan menghela napas. “Saat tiba di istana, seluruh pelayan pasti sudah mendengar.”

“Bagus. Mereka bisa menyiapkan kamar.”

“Kamar mana?”

Kael berpikir sejenak.

Istana Bulan Merah memiliki ratusan kamar, tetapi sebagian besar tidak pernah digunakan. Kamar tamu terlalu dekat dengan ruang dewan. Sayap timur sedang direnovasi setelah salah satu gargoyle atap jatuh dan menghancurkan tiga jendela. Sayap utara terlalu dingin bagi anak manusia.

“Kamar dekat taman dalam,” katanya.

Eirna menoleh. “Kamar keluarga kerajaan?”

“Letaknya paling hangat.”

“Dewan akan bertanya.”

“Dewan selalu bertanya.”

“Dan Anda selalu marah ketika mereka bertanya.”

“Mereka seharusnya belajar.”

Aelora bergerak lagi.

Dahinya berkerut. Napas yang tadi tenang berubah pendek-pendek. Tangannya mencengkeram tubuh boneka sampai buku-buku jarinya memutih.

“Tidak,” gumamnya. “Jangan buka.”

Eirna segera berpindah tempat dan menyentuh dahinya.

“Demamnya naik.”

Kael melihat butir keringat di pelipis Aelora, meski tubuhnya masih menggigil.

“Apa yang dia lihat?”

“Mungkin mimpi buruk.”

Aelora menggeleng di dalam tidur.

“Gerbangnya… tutup gerbangnya.”

Kael menegang.

Eirna menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Aelora mulai meronta. Mantel di tubuhnya terlepas dari salah satu bahu. Garis hitam di pergelangan tangannya bersinar, lalu cahaya tipis merambat sampai ke siku.

Eirna mengambil ramuan penenang.

Sebelum sempat memberikannya, Aelora terbangun.

Ia menarik napas panjang, lalu memandang sekeliling dengan panik. Butuh beberapa detik sampai matanya mengenali bagian dalam kereta.

“Tenang,” kata Eirna. “Kau hanya bermimpi.”

Aelora tidak menjawab. Pandangannya langsung mencari Kael.

Ia masih ada.

Duduk di tempat yang sama, dengan satu tangan pada lutut dan wajah yang berusaha terlihat biasa saja.

Aelora menunduk pada Piko. Boneka itu tidak bergerak.

“Apa kita sudah sampai?”

“Belum,” jawab Kael. “Sebentar lagi.”

Aelora memperhatikan mantel yang menutupi tubuhnya. “Maaf.”

“Untuk apa?”

“Mantelmu kotor.”

Kael melihat bekas lumpur pada ujung kain. “Bisa dicuci.”

“Orang-orang di rumah lama marah kalau aku mengotori barang.”

“Orang-orang di rumah lamamu tampaknya mudah marah.”

Aelora memikirkan itu, lalu mengangguk.

Eirna menyodorkan cangkir. “Minum sedikit.”

“Apa itu?”

“Air.”

Aelora mencium isinya terlebih dahulu.

Eirna memandang Kael, lalu kembali menatap anak tersebut. “Benar-benar hanya air.”

Aelora minum dua teguk.

“Apakah Piko berbicara?” tanyanya tiba-tiba.

Kael dan Eirna saling pandang.

“Kenapa kau menanyakan itu?” ujar Kael.

Aelora meneliti wajah mereka. “Berarti dia bicara.”

“Kau tahu bonekamu bisa berbicara?”

“Kadang-kadang.”

Eirna mengerutkan dahi. “Sejak kapan?”

“Di hutan.”

“Apa yang dia katakan?”

Aelora ragu. “Hal-hal aneh.”

“Seperti apa?”

“Dia pernah menyuruhku lari.”

“Dengan suara siapa?”

Aelora memegang telinga boneka yang hampir putus. “Aku tidak tahu.”

Kael mencondongkan tubuh sedikit. “Tadi dia menggunakan suaraku.”

Aelora berhenti mengelus Piko.

Ia tidak tampak terkejut. Justru itulah yang membuat Kael semakin curiga.

“Apa yang dikatakannya?” tanya Aelora.

Kael tidak langsung menjawab. “Dia menyuruhku tidak membawamu ke istana.”

Wajah Aelora memucat.

“Lalu?”

“Katanya aku akan membunuhmu lagi.”

Roda kereta menghantam batu. Tubuh Aelora bergeser sedikit, tetapi ia tidak bereaksi. Tatapannya tertuju pada boneka di tangannya.

“Dia berbohong,” katanya.

“Kau terlihat seperti sedang meyakinkan dirimu sendiri.”

Aelora mengangkat wajah. “Kau tidak membunuhku.”

“Benda itu berkata lain.”

“Kau tidak membunuhku,” ulangnya, lebih keras.

Kael memperhatikan mata ungunya. Ada ketakutan di sana, tetapi bukan ketakutan seorang anak yang baru mendengar ancaman. Itu lebih mirip ketakutan seseorang yang sedang menjaga rahasia agar tidak jatuh dari mulutnya.

“Kita pernah bertemu?” tanya Kael.

Aelora menggeleng.

“Pikirkan baik-baik.”

“Aku belum pernah ke Nocthara.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Aelora menunduk lagi.

Kereta mulai menanjak. Dari balik jendela, Istana Bulan Merah akhirnya terlihat di kejauhan. Bangunan itu berdiri di atas bukit batu, dikelilingi menara tinggi dan dinding berlapis. Bulan merah yang belum sepenuhnya muncul tergantung di belakangnya, membuat seluruh istana tampak seperti bayangan besar.

Aelora mengenal setiap menaranya.

Menara barat tempat Ryn pernah bersembunyi setelah dihukum. Balkon kecil dekat perpustakaan tempat Nira menjatuhkan tiga pot bunga karena mencoba mengintip rapat. Jendela tinggi ruang takhta yang kelak pecah saat perang pertama mencapai ibu kota.

Rasa rindu datang begitu cepat hingga dadanya sakit.

Ia kembali.

Belum menjadi rumah, tetapi tetap tempat pertama yang pernah menerima dirinya.

“Menakutkan?” tanya Kael.

Aelora menghapus sudut matanya sebelum air mata jatuh. “Tidak.”

“Kebanyakan manusia menangis saat pertama kali melihat istana.”

“Aku tidak menangis.”

“Matamu basah.”

“Itu karena demam.”

Eirna mengangguk seolah sedang mendukung alasan tersebut. “Demam memang sering membuat mata berair.”

Kael tidak percaya, tetapi membiarkannya.

Kereta melewati jembatan batu. Di bawahnya mengalir sungai berwarna hitam dengan ikan-ikan kecil yang mengeluarkan cahaya biru. Para penjaga di gerbang istana berdiri dalam dua baris.

Begitu pintu kereta dibuka, Aelora mendengar keributan dari halaman.

Puluhan pelayan berkumpul di tangga depan. Mereka berusaha terlihat seperti sedang menjalankan tugas, padahal sebagian membawa benda-benda yang tidak masuk akal.

Seorang pelayan bertanduk membawa nampan penuh daging mentah.

Pelayan lain memegang kandang besi kecil.

Kepala dapur datang bersama panci besar.

Kael turun lebih dulu. “Apa ini?”

Kepala pelayan, lelaki tinggi bernama Orin, membungkuk. “Kami mendengar Yang Mulia membawa anak manusia.”

“Lalu?”

“Kami tidak tahu apa yang dimakan anak manusia.”

Aelora masih duduk di dalam kereta. Ia melihat nampan daging mentah, kemudian panci yang isinya mengeluarkan gelembung hijau.

Kael mengikuti arah pandangnya.

“Singkirkan itu.”

Kepala dapur tampak tersinggung. “Ini sup sumsum naga, Yang Mulia.”

“Dia tujuh tahun.”

“Anak naga memakannya sejak usia tiga.”

“Dia bukan naga.”

Pelayan yang membawa kandang mengangkat tangan ragu-ragu. “Apakah anak manusia perlu dimasukkan ke sini agar tidak menggigit?”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Aku pernah mendengar manusia menggigit kalau ketakutan,” lanjutnya, lalu perlahan menurunkan kandang.

Kael memijat pangkal hidung.

“Raja Iblis tidak makan anak kecil,” katanya kepada seluruh halaman. “Anak kecil juga tidak disimpan dalam kandang. Siapa pun yang menyebarkan cerita lain akan membersihkan kandang chimera selama satu bulan.”

Para pelayan langsung berpencar. Kandang besi menghilang paling cepat.

Kael berbalik ke arah kereta dan mengulurkan tangan.

Aelora menatap telapak tangannya.

Ia dapat turun sendiri. Namun pergelangan kakinya masih sakit, dan halaman dipenuhi mata yang mengawasi.

Akhirnya ia menerima bantuan itu.

Kael mengangkatnya dari kereta. Ia bermaksud menurunkannya setelah kedua kaki Aelora mencapai tanah, tetapi anak itu meringis begitu berat badannya bertumpu pada kaki kanan.

Tanpa berkata apa-apa, Kael mengangkatnya kembali.

Aelora memeluk Piko dengan satu tangan. Tangan lainnya mencengkeram bagian depan pakaian Kael agar tidak jatuh.

Orin memperhatikan dengan mata melebar. Eirna berdeham, memberi isyarat agar ia tidak berkomentar.

Kael membawa Aelora menaiki tangga.

Istana terasa sama seperti dalam ingatannya: lantai hitam mengilap, pilar tinggi, lampu-lampu ungu yang melayang tanpa rantai. Namun sekarang semuanya tampak jauh lebih besar karena ia melihatnya dari tubuh anak tujuh tahun.

Saat memasuki aula utama, dua gargoyle batu di atas pintu menoleh.

Salah satunya mengendus.

“Bau manusia,” katanya.

Gargoyle kedua membuka satu mata. “Kecil sekali.”

“Diam,” ujar Kael.

Kedua patung kembali kaku.

Aelora menahan tawa.

Kael melihatnya. “Apa?”

“Mereka selalu bicara terlalu banyak.”

Langkah Kael berhenti.

Aelora menyadari kesalahannya terlambat.

“Selalu?” tanyanya.

Ia berusaha mencari alasan. “Maksudku… patung bicara biasanya begitu.”

“Berapa banyak patung bicara yang pernah kautemui?”

Aelora menatap bahunya dan berpura-pura tertarik pada sulaman mantel.

Kael kembali berjalan, tetapi ia tidak melupakan jawaban itu.

Mereka melewati tangga besar menuju sayap keluarga kerajaan. Beberapa pelayan mengikuti dari jauh sambil berbisik. Aelora dapat merasakan tatapan mereka pada rambut pucat, pakaian manusia, dan tanda di tangannya.

Semakin banyak mata memandang, semakin erat ia mencengkeram pakaian Kael.

“Kau akan jatuh kalau terus bergerak,” katanya.

“Aku tidak bergerak.”

“Kau gemetar.”

Aelora menarik napas.

Mungkin karena demam. Mungkin juga karena lorong ini membawa terlalu banyak kenangan. Di ujungnya terdapat ruang yang kelak dipakai Kael untuk menyembunyikannya saat istana diserang.

Ruang tempat ia menunggu sampai suara pertempuran berhenti.

Ruang tempat Kael tidak pernah kembali.

Tanpa sadar, Aelora menempelkan wajah pada bahunya.

Kael merasakan kain pakaiannya menjadi basah.

“Aelora?”

Anak itu mencoba menjawab, tetapi tangisnya keluar lebih dulu. Bukan tangisan keras. Hanya sesenggukan kecil yang selama ini berusaha ia tahan sejak ditinggalkan di hutan.

Kael berhenti di tengah lorong.

Para pelayan ikut berhenti.

Ia tampak benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

“Apakah kakimu sakit?”

Aelora menggeleng.

“Demam?”

Ia kembali menggeleng.

“Lalu kenapa menangis?”

Aelora ingin berkata bahwa ia merindukannya. Bahwa di kehidupan lain ia menunggu bertahun-tahun untuk kembali ke lorong ini. Bahwa ia masih mengingat darah Kael di tangannya sendiri.

Namun kalimat yang keluar jauh lebih sederhana.

“Aku takut kau pergi.”

Kael memandang wajah kecil yang tersembunyi di bahunya.

“Aku tidak pergi ke mana-mana.”

“Kau pernah.”

Ucapan itu nyaris tidak terdengar.

“Apa?”

Aelora mengangkat wajah. Air mata memenuhi matanya. Dalam keadaan lelah dan demam, ia lupa bahwa lelaki di depannya belum mengenal panggilan itu.

“Jangan tinggalkan aku lagi, Kae.”

Seluruh lorong mendadak sunyi.

Orin menjatuhkan buku catatannya.

Eirna menoleh cepat kepada Kael.

Wajah Raja Iblis kehilangan seluruh ekspresi.

Tidak ada seorang pun di istana yang memanggilnya Kae.

Tidak ada seorang pun yang masih hidup.

Panggilan itu hanya pernah digunakan oleh satu orang bertahun-tahun lalu.

Mirael Arvand.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!