Tahun 2042. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam itu, kota metropolitan ini terasa jauh lebih sesak dari biasanya. Di langit-langit kota, papan reklame holografik tiga dimensi berukuran raksasa memproyeksikan iklan mobil terbang generasi terbaru dan suplemen kecerdasan buatan. Cahaya neon berwarna biru elektrik dan merah muda menyiram jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan sore. Teknologi telah mencapai puncaknya, mengubah manusia menjadi budak-budak efisiensi. Namun, di balik semua kemilau futuristik itu, ada sesuatu yang tidak beres dengan alam.
Arkana Wijaya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi plastik di balkon kamar kosnya yang sempit. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terletak di lantai empat sebuah gedung tua di pinggiran Jakarta Barat—salah satu dari sedikit kawasan yang belum digusur oleh korporasi megah. Di atas meja belajarnya yang berantakan, layar tablet transparan masih menyala, menampilkan tumpukan jurnal tugas kuliah semester empatnya di jurusan Teknik Informatika.
Arkana baru berusia dua puluh tahun. Wajahnya tipis, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya akibat begadang yang terlalu sering. Garis rahangnya tegas, namun ekspresinya selalu memancarkan kelelahan khas pemuda kelas pekerja yang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya tuntutan zaman.
Namun, malam ini, fokus Arkana sama sekali bukan pada tugas kuliahnya. Pandangannya terpaku pada sebuah benda kecil yang tergeletak di telapak tangan kanannya.
Itu adalah sebuah cincin.
Cincin itu terbuat dari sejenis logam hitam pekat yang tidak berkilau, bahkan ketika terpapar cahaya lampu neon dari luar jendela. Permukaannya kasar, dipenuhi dengan ukiran-ukiran kuno yang sekilas tampak seperti retakan alami, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, retakan itu membentuk pola sulur dan tulisan dalam bahasa yang belum pernah Arkana lihat di buku sejarah mana pun. Benda ini adalah satu-satunya peninggalan dari almarhum kakeknya, Wijaya, yang meninggal dunia sebulan lalu.
Kakek Wijaya adalah sosok yang aneh di mata keluarga. Di era di mana semua orang memuja kecerdasan buatan dan implan sibernetik, kakeknya justru menghabiskan hidupnya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan kuno, membaca gulungan kain usang, dan menggumamkan hal-hal tidak masuk akal tentang "energi bumi" dan "jalan langit". Sebelum mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit tua, sang kakek mencengkeram erat pergelangan tangan Arkana dan menyerahkan cincin ini.
"Arka... simpan ini," bisik kakeknya hari itu, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dunia yang kau kenal hanyalah ilusi yang dibangun di atas tanah yang tertidur. Ketika fajar sejati tiba, singkaplah segelnya. Hanya darah Wijaya yang bisa menahan beban ini."
Saat itu, Arkana mengira kakeknya hanya berhalusinasi akibat demam tinggi. Namun, entah mengapa, dia tidak pernah bisa membuang cincin itu. Dia selalu membawanya, menyimpannya di dalam saku celananya seperti sebuah jimat keberuntungan yang tidak berguna.
"Dunia yang tertidur, ya?" gumam Arkana retoris. Dia tersenyum kecut, memutar-mutar cincin hitam itu di sela jarinya. "Kek, kalau saja kau tahu seberapa susahnya membayar uang kos bulan ini, kau pasti akan menyarankanku untuk menjual cincin rongsokan ini ke toko barang antik."
Tepat ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, sesuatu yang aneh terjadi.
BZZZZT!
Lampu neon di langit-langit kamar kos Arkana mendadak berkedip hebat. Layar tablet transparannya bergoyang, memancarkan gelombang statis sebelum akhirnya mati total. Bukan hanya di kamarnya, dari luar jendela, Arkana bisa mendengar suara riuh rendah dan klakson kendaraan yang tiba-tiba bersahutan. Papan reklame holografik raksasa yang menerangi langit Jakarta mendadak padam, melemparkan seluruh kota ke dalam kegelapan yang pekat.
Blackout? Di seluruh Jakarta? Itu adalah hal yang mustahil di tahun 2042, di mana kota ini disokong oleh reaktor fusi nuklir bawah tanah yang memiliki sistem cadangan berlapis.
Namun, kejutan malam itu baru saja dimulai.
Bumi di bawah kaki Arkana tiba-tiba bergetar. Itu bukan gempa bumi biasa yang bergetar ke kanan dan ke kiri. Ini adalah getaran frekuensi tinggi yang seolah-olah meletup dari kedalaman tanah, menembus fondasi gedung, dan langsung merambat ke dalam tulang-belulangnya. Arkana terhuyung, terpaksa berpegangan pada pagar pembatas balkon agar tidak jatuh.
"Apa yang terjadi?!" bisiknya dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
Dia mendongak ke langit, dan matanya melebar tak percaya. Langit Jakarta yang biasanya tertutup polusi dan awan kelabu tebal, perlahan-lahan terbelah. Dari balik celah awan itu, sebuah fenomena alam yang luar biasa indah sekaligus mengerikan tercipta. Tirai cahaya berwarna hijau zamrud dan ungu tua—mirip seperti aurora borealis, namun seratus kali lebih masif—membentang luas melintasi cakrawala.
Udara di sekitar Arkana mendadak berubah. Oksigen yang dia hirup tidak lagi terasa hambar dan berbau asap knalpot. Udara itu mendadak menjadi sangat dingin, murni, dan membawa aroma tanah basah serta wewangian kuno yang menyegarkan. Setiap kali Arkana menarik napas, dia merasa paru-parunya seperti dibersihkan, dan rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya selama berhari-hari lenyap dalam sekejap.
Tanpa disadari oleh umat manusia, pada detik itu, tirai tak kasat mata yang mengunci energi spiritual Bumi selama ribuan tahun telah runtuh. Qi—energi primordial alam semesta—mengalir kembali ke permukaan bumi seperti air bah yang menjebol bendungan.
Dan di tangan Arkana, cincin hitam itu mulai bereaksi.
Ukir-ukiran kuno di permukaan logam cincin itu tiba-tiba menyala, memancarkan cahaya keemasan yang redup namun intens. Arkana tersentak kaget. Dia mencoba melemparkan cincin itu ke lantai, tetapi benda itu seolah-olah telah merekat erat pada kulit telapak tangansnya. Rasa hangat yang awalnya nyaman dengan cepat berubah menjadi panas yang membakar.
"Sialan! Panas!" jerit Arkana.
Cahaya keemasan dari cincin itu semakin terang, membentuk sulur-sulur cahaya yang merayap naik ke pergelangan tangannya, menembus urat nadi, dan terus menjalar menuju lengannya. Arkana terjatuh ke lantai balkon, mencengkeram lengan kanannya yang kini dipenuhi oleh garis-garis emas yang bercahaya di bawah kulitnya. Rasanya seolah-olah ada cairan logam mendidih yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darahnya.
Napas Arkana memburu. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Di tengah rasa sakit yang mendera, sebuah suara berdengung keras di dalam kepalanya, mengabaikan indra pendengarannya fisik dan langsung berbicara ke dalam jiwanya.
【 Sembilan Ribu Tahun Kehampaan... Segel Roda Langit Telah Hancur... 】
【 Pewaris Darah Wijaya Ditemukan. Memulai Proses Pengikatan Jiwa dengan Cincin Kaisar Abadi... 】
"Siapa... siapa itu?!" Arkana berteriak di dalam batinnya, mencoba mempertahankan kesadarannya yang mulai terkikis oleh rasa sakit yang luar biasa.
Sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi, gelombang informasi raksasa menghantam otaknya tanpa ampun. Itu bukan sekadar teks atau data numerik, melainkan untaian memori, visualisasi, dan emosi yang sangat masif.
Arkana melihat kilasan-kilasan masa lalu yang tidak masuk akal. Dia melihat seorang pria berambut putih panjang yang berdiri di puncak gunung tertinggi, memegang sebuah pedang yang mampu membelah awan dan bintang-bintang di langit hanya dengan satu tebasan. Pria itu dikelilingi oleh ribuan makhluk mengerikan berwujud naga dan binatang buas raksasa, namun tatapan matanya tetap tenang, sedalam lautan purba. Pria itu adalah Kaisar Abadi, penguasa tertinggi dari era kultivasi kuno sebelum energi dunia ini mengering.
Semua pengetahuan pria itu—teknik bertarung, pemahaman tentang hukum alam, formula ramuan obat, hingga rahasia kultivasi terdalam—diubah menjadi segel-segel cahaya dan ditanamkan paksa ke dalam struktur otak Arkana.
Kepala Arkana terasa seperti mau pecah. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol keluar, berdenyut selaras dengan cahaya emas di lengannya. "Hentikan... CUKUP!"
Namun proses itu tidak bisa dihentikan. Cincin Kaisar Abadi telah memilihnya.
Bersamaan dengan masuknya memori tersebut, energi spiritual murni dari cincin itu mulai merombak tubuh fisik Arkana. Ini adalah tahap paling dasar namun paling menyakitkan dalam dunia kultivator: Body Tempering (Penempaan Tubuh).
Arus energi yang kasar dan tajam seperti pisau mikroskopis mulai mengalir melalui jalur meridian tubuhnya yang tersumbat sejak lahir. Energi itu menghancurkan sel-sel mati, membersihkan racun-racun kimia akibat makanan modern dan polusi kota, serta memperkuat struktur tulang dan ototnya dari dalam.
Arkana bisa mendengar suara gemertak dari tulang-belulangnya sendiri. Setiap inci dagingnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum es. Rasa sakitnya begitu intens hingga dia bahkan tidak bisa berteriak lagi. Suaranya tertahan di tenggorokan, dan pandangannya perlahan-lahan mulai menggelap.
Di ambang batas kesadarannya, dia melihat garis-garis emas di tubuhnya perlahan meredup, menyerap masuk ke dalam jantungnya. Cincin hitam di tangannya kini telah berpindah tempat, melingkar dengan sempurna di jari tengah tangan kanannya, tampak menyatu seolah-olah benda itu memang terlahir di sana.
Sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya, sebuah baris kalimat emas terakhir mengambang di benaknya, berkilau dengan keagungan yang mutlak:
【 Kitab Primordial Kaisar Abadi: Penempaan Tubuh Tubuh Sembilan Langit... Telah Dibuka. 】
Arkana jatuh pingsan di lantai balkon kosnya yang dingin. Di luar sana, Jakarta masih tenggelam dalam kegelapan, diselimuti oleh tirai aurora yang menari-nari dengan anggun di langit malam. Tanpa ada yang menyadari, di sudut kota yang kumuh ini, roda takdir seorang penguasa baru telah mulai berputar.
Sinar matahari pagi menembus celah-celah awan Jakarta, menyiram balkon lantai empat gedung kos tua itu dengan cahaya keemasan. Perlahan, kelopak mata Arkana bergerak. Rasa sakit luar biasa yang semalam meremukkan seluruh tubuhnya kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh sensasi hangat yang mengalir tenang di bawah kulitnya.
Arkana menarik napas dalam-dalam dan langsung terbatuk hebat.
"Uhuk! Bau apa ini?!" jeritnya, langsung terbangun dan terduduk di lantai balkon.
Bau busuk yang sangat menyengat—perpaduan antara bau belerang, selokan mampet, dan karat logam—menusuk hidungnya tanpa ampun. Arkana menunduk melihat tubuhnya sendiri, dan matanya seketika melebar karena terkejut. Kaos oblong putih dan celana pendek yang ia kenakan semalam kini telah berubah warna menjadi hitam keabu-abuan, basah oleh cairan lengket yang kental dan berbau busuk. Cairan itu keluar dari setiap pori-pori kulitnya, mengering menjadi lapisan kerak yang menjijikkan.
Arkana bergegas bangkit, bermaksud untuk langsung berlari ke kamar mandi. Namun, begitu dia mendorong dirinya untuk berdiri, sebuah fenomena aneh kembali terjadi. Tubuhnya terasa seringan kapas. Lompatan kecil yang biasanya hanya menggeser posisinya beberapa sentimeter, justru membuatnya melesat ke atas hingga kepalanya hampir membentur langit-langit balkon kos.
"Wtf?!" Arkana mendarat dengan canggung, kakinya menapak di lantai beton tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Dia menatap kedua tangannya yang gemetar. Di balik lapisan cairan hitam yang menjijikkan itu, Arkana bisa merasakan struktur otot dan tulangnya telah berubah secara fundamental. Mereka terasa jauh lebih padat, lebih kuat, dan dipenuhi oleh vitalitas yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Arkana bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin, dia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun hingga tiga kali bilasan. Saat cairan hitam itu perlahan luruh dan mengalir ke lubang pembuangan, Arkana menatap cermin buram di kamar mandinya dengan tatapan tidak percaya.
Pria di dalam cermin itu adalah dirinya, tetapi dalam versi yang jauh lebih sempurna. Lingkaran hitam di bawah matanya akibat begadang berhari-hari telah hilang tanpa bekas. Kulitnya yang dulu agak kusam kini tampak bersih, sehat, dan memiliki rona samar yang memancarkan aura segar. Tubuhnya yang semula kurus dan agak membungkuk akibat terlalu sering duduk di depan komputer, kini tegap sempurna. Otot-otot dada, perut, dan lengannya terbentuk dengan proporsi yang ideal—bukan otot besar yang bengkak seperti binaragawan, melainkan otot yang ramping, padat, dan efisien, mirip seperti seorang atlet bela diri profesional.
Lebih dari itu, penglihatannya yang semula sedikit minus kini menjadi sangat tajam. Dia bahkan bisa melihat serat-serat halus pada handuknya yang tergantung di dinding dengan tingkat kejelasan yang luar biasa.
Arkana menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang lambat namun sangat bertenaga. Setiap detakan seolah memompa energi hangat ke seluruh penjuru tubuhnya.
"Ini... Body Tempering?" gumam Arkana, mengingat kembali istilah yang semalam terpatri di dalam otaknya.
Dia memejamkan mata dan mencoba fokus. Begitu dia melakukannya, sebuah kesadaran batin langsung terbuka. Di dalam ruang kesadarannya, sebaris informasi dari Kitab Primordial Kaisar Abadi mengambang dengan jelas. Arkana kini tahu bahwa semalam tubuhnya baru saja melewati tahap awal dari Body Tempering Tingkat Pertama. Cairan hitam berbau busuk itu adalah impuritas—racun kimia, sisa makanan tidak sehat, dan sel mati yang selama dua puluh tahun ini menyumbat jalur meridian dan membatasi potensi fisiknya sebagai manusia. Cincin hitam peninggalan kakeknya telah membersihkan semua itu dalam satu malam.
Arkana menatap jari tengah tangan kanannya. Cincin hitam itu masih ada di sana, namun penampilannya kini berubah menjadi sangat biasa, tampak seperti cincin besi murah yang tidak menarik perhatian. Namun, Arkana tahu betul, benda ini adalah pusaka yang bisa menjungkirbalikkan dunia.
Setelah selesai berpakaian, Arkana melangkah kembali ke area utama kamarnya. Dia mengambil tablet transparan di atas meja belajar. Untungnya, perangkat elektronik itu sudah menyala kembali. Sinyal internet yang semalam sempat terputus total kini sudah pulih, tetapi apa yang ada di layar membuat Arkana terpaku.
Dunia luar telah gempar.
Arkana membuka forum berita global dan media sosial. Jutaan unggahan baru masuk setiap detiknya, semuanya membahas kejadian semalam yang kini secara resmi disebut oleh media sebagai "The Great Awakening" atau "Kebangkitan Besar".
Sebuah video viral di Jakarta memperlihatkan sebuah pohon beringin tua di tengah taman kota yang tiba-tiba tumbuh membesar hingga tiga kali lipat dalam waktu satu jam, dengan akar-akar yang menjebol trotoar beton seolah-olah semen itu hanyalah kerupuk rapuh.
Di bagian belahan dunia lain, ada rekaman amatir yang memperlihatkan hewan-hewan kebun binatang—singa dan serigala—memiliki ukuran tubuh yang tidak masuk akal dengan mata yang memancarkan cahaya merah cerah, mengaum dengan gelombang suara yang mampu memecahkan kaca-kaca mobil di sekitarnya.
“Apakah ini tanda kiamat?”
“Radiasi kosmik apa yang menyerang Bumi semalam?”
“Pemerintah menyembunyikan sesuatu! Ini pasti eksperimen militer yang gagal!”
Berbagai spekulasi liar memenuhi kolom komentar. Namun, ada satu jenis unggahan yang menarik perhatian Arkana lebih dalam. Beberapa orang mulai membagikan video di mana mereka bisa mengeluarkan percikan api dari ujung jari, atau mengangkat beban yang beratnya ratusan kilogram tanpa kesulitan berarti.
Dunia luar sedang panik mencari jawaban ilmiah, tetapi Arkana—berkat memori warisan Kaisar Abadi di kepalanya—tahu jawaban yang sebenarnya. Energi spiritual (Qi) yang telah mengering selama ribuan tahun kini telah mengalir kembali ke Bumi. Alam sedang melakukan pemulihan diri, dan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, sedang dipaksa untuk berevolusi secara massal.
"Kakek benar..." bisik Arkana dengan mata berbinar. "Dunia yang lama sudah berakhir. Era baru telah dimulai."
Arkana memutuskan untuk menguji seberapa besar kekuatan fisiknya saat ini. Dia berjalan mendekati meja belajarnya yang terbuat dari kayu jati tua yang cukup tebal dan berat. Biasanya, untuk menggeser meja ini saja dia harus menggunakan kedua tangan dan mengeluarkan banyak tenaga.
Arkana mengulurkan tangan kanannya, memegang pinggiran meja dengan hanya menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Dia menarik napas, memfokuskan sedikit energi hangat dari dadanya menuju ujung jari.
Sret.
Dengan gerakan seringan mengangkat selembar kertas, meja jati seberat lima puluh kilogram itu terangkat dari lantai. Arkana menahannya di udara selama beberapa detik dengan satu tangan tanpa ada tanda-tanda ototnya menegang atau gemetar. Wajahnya tetap tenang, napasnya tetap teratur.
"Ini baru tingkat awal dari Body Tempering," gumam Arkana, matanya dipenuhi rasa takjub yang luar biasa. "Jika tingkat pertama saja sudah sekuat ini, bagaimana dengan tingkat selanjutnya? Spirit Gathering? Foundation Establishment?"
Sesuai dengan cetak biru ingatan di kepalanya, sistem kultivasi sejati memiliki sepuluh ranah besar, dan dia baru saja menginjakkan satu kaki di anak tangga paling bawah dari ranah pertama. Di dunia modern saat ini, di mana manusia lain baru meraba-raba perubahan energi ini tanpa arah, Arkana sudah memiliki peta jalan yang sempurna menuju puncak keabadian.
BZZZZT.
Tablet milik Arkana bergetar, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari grup obrolan kampusnya.
[Grup Angkatan - TI 2040]
Ketua Kelas: "Pengumuman dari rektorat! Meskipun semalam ada gangguan listrik massal, hari ini kampus TETAP BUKA. Kuliah jam 09.00 di Gedung Utama tidak dibatalkan. Harap semua mahasiswa datang tepat waktu karena ada pengumuman penting terkait situasi darurat semalam."
Arkana melihat jam di dinding. Pukul 08.15.
Dia terdiam sejenak, menimbang-nimbang situasinya. Di satu sisi, dunia sedang berada di ambang kekacauan besar akibat kebangkitan energi spiritual. Di sisi lain, dia masihlah seorang mahasiswa miskin yang jika bolos kuliah tanpa alasan jelas bisa terancam kehilangan beasiswanya. Lagi pula, pergi ke kampus mungkin menjadi cara terbaik untuk mengamati bagaimana dampak kebangkitan energi ini pada masyarakat secara langsung.
"Organisasi rahasia, klan kuno... kakek bilang mereka semua akan mulai bergerak," pikir Arkana, mengingat rincian dari memori cincinnya. "Aku tidak boleh terlalu mencolok untuk saat ini. Menjadi mahasiswa biasa adalah penyamaran terbaik sampai kekuatanku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri."
Arkana mengambil tas ranselnya, memasukkan tablet, dan berjalan keluar dari kamar kosnya. Saat dia melangkah ke jalanan Jakarta yang sibuk, dia bisa merasakan atmosfer kota ini telah berubah sepenuhnya. Udara terasa bergetar oleh energi laten yang tak kasat mata, dan di antara kerumunan orang yang berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas, Arkana tahu bahwa takdirnya tidak akan pernah sama lagi.
Perjalanan menuju kampus pagi itu terasa sangat berbeda bagi Arkana Wijaya. Jakarta Barat yang biasanya bising oleh raungan mesin kendaraan hibrida dan desis kereta maglev layang, kini diselimuti oleh atmosfer ketegangan yang aneh. Di dalam gerbong kereta otonom yang ia naiki, tidak ada lagi penumpang yang tertidur atau asyik bermain dengan kacamata Virtual Reality mereka. Semua orang terpaku pada layar gawai masing-masing, saling berbisik dengan raut wajah cemas sekaligus penasaran.
Arkana berdiri di dekat pintu kaca gerbong, memegang tiang besi dengan santai. Namun, jika ada orang yang memperhatikannya dengan teliti, mereka akan menyadari bahwa Arkana sama sekali tidak menggunakan tenaga untuk menahan tubuhnya dari guncangan kereta. Ia berdiri dengan keseimbangan yang mutlak, seolah-olah kakinya telah menyatu dengan lantai gerbong.
Sejak melangkah keluar dari kos, Arkana terpaksa harus beradaptasi dengan perubahan drastis pada indranya. Efek dari Body Tempering Tingkat Pertama ternyata jauh lebih masif dari yang ia duga.
Telinganya kini mampu mendengar detak jantung pria paruh baya yang berdiri tiga meter di sebelahnya. Ia bahkan bisa menangkap frekuensi bisikan dua mahasiswi di ujung gerbong yang sedang membicarakan video viral tentang kucing liar yang tumbuh sebesar macan tutul di daerah Kebayoran.
Penglihatannya pun tidak kalah mengerikan; Arkana bisa melihat dengan jelas debu-debu mikro yang beterbangan di udara, serta riak energi transparan yang samar-samar menyelimuti tubuh beberapa orang di dalam kereta.
"Energi spiritual benar-benar telah menyebar ke segala penjuru," batin Arkana, sambil menatap ke luar jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. "Tapi energi ini masih sangat liar dan tidak teratur. Tanpa teknik kultivasi yang benar, manusia biasa hanya akan menyerapnya secara pasif melalui makanan atau udara, menyebabkan perubahan fisik yang acak."
Berkat ingatan kuno dari Cincin Kaisar Abadi, Arkana tahu bahwa situasi ini sangat berbahaya. Manusia yang tidak siap menerima lonjakan energi spiritual bisa mengalami kerusakan organ interior jika emosi mereka tidak stabil. Bumi saat ini ibarat sebuah wadah kering yang tiba-tiba diguyur air bah; jika tidak ada saluran yang tepat, air tersebut hanya akan merusak sekitarnya.
Beberapa menit kemudian, kereta maglev berhenti di stasiun terdekat dari Universitas Nusantara—kampus tempat Arkana menuntut ilmu. Begitu melangkah turun, ia langsung disambut oleh pemandangan yang tidak biasa di gerbang utama kampus.
Biasanya, gerbang hanya dijaga oleh dua atau tiga satpam robotik. Namun pagi ini, sepasang robot itu telah dinonaktifkan, digantikan oleh belasan personel keamanan manusia berpakaian hitam legam tanpa atribut resmi. Mereka berdiri tegak dengan tatapan mata yang dingin dan waspada, memeriksa setiap kartu mahasiswa yang masuk secara manual dengan alat pemindai genggam.
"Arka! Hei, tungguin gua!"
Sebuah tepokan keras mendarat di bahu kanan Arkana. Jika itu adalah Arkana yang lama, tepokan sekuat itu pasti akan membuatnya sedikit terhuyung. Namun sekarang, tubuh Arkana bahkan tidak bergeming satu milimeter pun. Justru si pemukul yang meringis kesakitan, memegang telapak tangannya sendiri yang memerah.
"Aduh! Sialan, lo pasang besi ya di balik jaket lo? Keras banget!" seru Dani, sahabat karib Arkana sejak semester pertama. Dani adalah tipikal mahasiswa teknik yang ekspresif, dengan rambut berantakan dan jaket denim penuh tambalan logo band cyber-punk.
Arkana dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya. "Cuma perasaan lo aja kali, Dan. Lo-nya aja yang lemes belum sarapan. Ada apa sih rame-rame begini? Kampus ketat banget."
Dani langsung melupakan rasa sakit di tangansnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Arkana, berbisik dengan nada yang sangat serius. "Lo semalam gak mati lampu apa? Seluruh Jakarta mati total, Ka! Terus lo lihat gak langit semalam? Ada aurora gila warna hijau sama ungu! Dan denger-denger dari anak-anak forum, penjaga di depan itu bukan satpam kampus. Mereka dari biro keamanan khusus bentukan pemerintah pusat. Katanya ada anomali energi yang keindikasi di sekitar wilayah kampus kita semalam."
Jantung Arkana berdesir pelat. Anomali energi semalam? Apakah itu karena proses pengikatan jiwanya dengan Cincin Kaisar Abadi yang memicu lonjakan Qi murni secara lokal di sekitar kosnya yang tidak jauh dari kampus?
"Biro keamanan khusus?" tanya Arkana, berpura-pura bingung.
"Iya! Namanya Badan Investigasi Krisis Energi atau apa lah, gua lupa. Yang jelas, mereka punya hak veto buat nutup fasilitas umum kalau dianggap berbahaya," sahut Dani penuh semangat saat mereka berjalan melewati pos pemeriksaan. Alat pemindai di tangan petugas berbaju hitam sempat berbunyi tit pendek saat diarahkan ke tubuh Arkana, tetapi petugas itu hanya mengernyitkan dahi sejenak sebelum mengizinkannya masuk. Tampaknya, alat itu hanya bisa mendeteksi fluktuasi Qi yang aktif, sedangkan Arkana telah berhasil menyembunyikan energinya jauh di dalam lubang meridiannya.
Ketika mereka tiba di Gedung Utama, auditorium lantai tiga sudah dipenuhi oleh ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan. Suasana di dalam ruangan sangat bising. Di atas panggung utama, beberapa dosen senior tampak berdiri mendampingi seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas abu-abu formal. Pria itu memiliki potongan rambut militer yang rapi dan sepasang mata yang sangat tajam, mengawasi seluruh mahasiswa yang masuk dengan pandangan yang mengintimidasi.
Begitu Arkana melangkah masuk ke dalam auditorium, insting kultivatornya langsung memberikan sinyal bahaya. Cincin hitam di jarinya memberikan denyutan hangat yang halus, sebuah peringatan otomatis.
Arkana memicingkan matanya, memfokuskan penglihatannya ke arah pria berjas abu-abu di atas panggung. Di bawah pandangan batinnya yang telah terbuka, Arkana tersentak. Pria itu tidak seperti manusia biasa di sekitarnya yang hanya memiliki riak energi tipis. Di dalam tubuh pria itu, terdapat aliran energi spiritual yang terstruktur dengan jelas, berputar di sekitar area dadanya meskipun jalurnya tampak sangat kasar dan tidak efisien.
"Dia seorang kultivator!" batin Arkana terkejut. "Tidak... bukan kultivator sejati. Aliran energinya dipaksakan melalui obat-obatan atau teknik yang cacat. Kekuatannya mungkin baru setara dengan pertengahan ranah Body Tempering, tetapi di dunia yang baru bangkit ini, dia sudah menjadi manusia super."
Fakta ini membuat Arkana menyadari sesuatu yang krusial. Pemerintah atau organisasi rahasia tertentu ternyata sudah mengetahui keberadaan energi spiritual jauh sebelum The Great Awakening semalam terjadi. Mereka hanya menyembunyikannya dari publik sembari melatih segelintir orang secara rahasia.
"Harap tenang, semuanya. Silakan ambil tempat duduk masing-masing," suara Profesor Bramanto, Dekan Fakultas Teknik, bergema melalui pengeras suara, mencoba menenangkan massa yang gelisah.
Setelah auditorium mulai kondusif, Profesor Bramanto menyerahkan mikrofon kepada pria berjas abu-abu di sampingnya.
"Selamat pagi, para mahasiswa sekalian," suara pria itu berat, berwibawa, dan memiliki resonansi yang kuat, tanda bahwa ia menggunakan energi fisiknya untuk memperkeras volume suaranya tanpa perlu berteriak. "Nama saya Aditia Pramono. Saya adalah perwakilan dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan Nasional, Divisi Respons Anomali Alam."
Seluruh ruangan seketika hening. Kehadiran pejabat kementerian di kampus teknik bukanlah hal yang biasa.
"Saya tahu kalian semua bingung, takut, dan memiliki banyak pertanyaan mengenai fenomena alam yang terjadi semalam," lanjut Aditia, matanya menyapu seluruh ruangan. "Pemerintah ingin menegaskan bahwa situasi saat ini berada di bawah kendali penuh. Fenomena kosmik semalam memicu radiasi gelombang elektromagnetik baru yang kami sebut sebagai Partikel E-01. Partikel ini memiliki dampak langsung pada struktur biologi makhluk hidup dan lingkungan."
Arkana tersenyum sinis di dalam hati. Partikel E-01? Sebuah nama ilmiah yang dikarang dengan rapi oleh pemerintah untuk menyamarkan nama asli dari energi penciptaan alam semesta: Qi.
"Untuk mengantisipasi dampak buruk dan menjaga stabilitas nasional, pemerintah akan melakukan skrining kesehatan massal di setiap universitas mulai hari ini. Siapa pun yang menunjukkan gejala adaptasi positif terhadap Partikel E-01 akan dipisahkan ke dalam program karantina mandiri dan pelatihan khusus di bawah pengawasan militer demi keselamatan publik," tegas Aditia.
Mendengar kata "karantina mandiri" dan "pengawasan militer", suasana auditorium kembali riuh dengan protes dan bisikan ketakutan dari para mahasiswa. Mereka tahu betul bahwa di era modern ini, masuk ke dalam program khusus militer berarti kehilangan kebebasan pribadi secara mutlak.
Di tengah kegaduhan itu, tatapan mata Aditia tiba-tiba berhenti, terkunci tepat ke arah sudut belakang auditorium—tempat di mana Arkana sedang duduk.
Sebagai seorang yang telah melatih fisiknya hingga batas ranah manusia, Aditia memiliki intuisi yang sangat tajam terhadap bahaya. Entah mengapa, saat matanya menyapu area belakang, ia merasakan sebuah tekanan tak kasat mata yang sangat dingin, seolah-olah ada seekor predator purba yang sedang mengawasinya dari kegelapan.
Aditia mengerutkan alisnya, matanya menatap tajam ke arah barisan tempat duduk Arkana.
Di tempat duduknya, Arkana tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang lesu dan bingung, persis seperti mahasiswa lain di sekitarnya. Namun di balik penampilannya yang biasa saja, tangan kanan Arkana yang berada di bawah meja perlahan mengepal. Energi hangat dari Kitab Primordial Kaisar Abadi mengalir pelan, siap meletup kapan saja jika penyamarannya terbongkar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!