Indonesia
NovelToon NovelToon

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Episode 1

Bab 1

Pengasuh Nomor 88

Pengasuh nomor delapan puluh delapan itu berdiri di depan gerbang Rumah Tan di Menteng dengan satu koper kecil, satu ransel, dan keberanian yang masih ia paksa agar tidak kabur duluan.

Budiman Sekar mengangkat wajah.

Gerbang hitam setinggi hampir dua kali tubuhnya terbuka tanpa suara. Di baliknya, halaman luas mengilap sehabis disiram, pohon palem berjajar rapi, dan rumah tiga lantai berwarna putih gading berdiri seperti hotel pribadi yang lupa memasang papan nama.

Di Depok, rumah Sekar bisa terdengar sampai ke dapur tetangga kalau Engkong Budiman batuk terlalu keras. Di sini, suara langkahnya sendiri seperti tenggelam dimakan rumput yang dipotong terlalu sempurna.

Sebuah mobil golf kecil berhenti di dekat pos satpam. Seorang perempuan paruh baya turun dengan tote bag besar di bahu. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, tetapi langkahnya cepat sekali. Terlalu cepat untuk orang yang katanya baru selesai bekerja.

"Mbak Sekar, ya?" tanyanya.

Sekar mengangguk. "Iya. Bu Susi?"

"Iya. Mantan Bu Susi," jawab perempuan itu sambil melirik ke arah rumah utama. Suaranya diturunkan seperti sedang membicarakan hantu. "Mulai hari ini kamu yang jaga Tuan Muda. Saya sudah selesai. Hidup saya mau saya pakai untuk hal baik-baik saja."

Sekar hampir tertawa, tetapi wajah Bu Susi terlalu serius.

"Sebentar, Bu. Katanya saya harus serah terima dulu."

"Serah terima?" Bu Susi membuka tote bag, mengeluarkan map tipis, lalu menjejalkannya ke tangan Sekar. "Ini daftar obat, jadwal makan, jadwal fisioterapi, nomor darurat, dan daftar makanan yang tidak boleh dia sentuh. Yang boleh dia makan? Hampir tidak ada. Kalau kamu bisa masak udara, mungkin dia mau."

Sekar menunduk melihat map itu. Di halaman pertama tertulis rapi: Pantangan Makanan Tan Ardian. Halaman kedua masih pantangan. Halaman ketiga juga.

"Tiga halaman?"

"Dua setengah. Yang setengahnya khusus tekstur tomat."

Sekar menatap Bu Susi.

Bu Susi menatap balik dengan mata yang sudah tidak punya sisa harapan. "Nak, kamu masih muda. Kalau bisa kabur, kabur saja. Gaji besar itu manis di awal, pahitnya nanti waktu gelas melayang dekat telinga."

Belum selesai kalimat itu, dari dalam rumah terdengar suara pecahan kaca.

Prang!

Sekar dan Bu Susi sama-sama diam.

Bu Susi menarik napas, lalu tersenyum kaku. "Nah. Itu ucapan selamat datang."

Pintu utama terbuka. Seorang laki-laki muda keluar dengan wajah panik sambil memegang ponsel dan tablet sekaligus. Kemeja putihnya kusut di bagian lengan, rambutnya sedikit acak-acakan, tapi jam di pergelangan tangannya jelas bukan barang yang pantas berada dekat orang ceroboh.

"Bu Susi!" panggilnya. "Jangan pergi dulu. Koko baru bangun dan dia sudah..."

Ucapannya berhenti ketika melihat koper di samping Sekar.

"Oh." Mata laki-laki itu langsung berbinar seperti orang menemukan payung di tengah hujan. "Kamu pengasuh baru?"

"Budiman Sekar," jawab Sekar.

"Tan Darren." Ia cepat-cepat menjabat tangan Sekar dengan dua tangan. "Terima kasih sudah datang. Sungguh. Kamu tidak tahu betapa besar jasamu untuk kemanusiaan."

Bu Susi mendengus kecil. "Saya pamit, Pak Darren."

"Tunggu, Bu Susi. Minimal jelaskan dulu cara menghadapi Koko kalau dia marah."

"Jangan dihadapi," jawab Bu Susi mantap. "Hindari."

Setelah itu, perempuan itu benar-benar pergi. Bukan berjalan. Setengah berlari. Begitu mencapai gerbang, ia bahkan tidak menoleh lagi.

Sekar memandangi punggung Bu Susi yang menghilang, lalu menoleh ke Darren. "Dia selalu begitu?"

"Hari ini termasuk tenang," kata Darren.

Bagus. Hari pertama, dan Sekar sudah mendapat kabar bahwa suara kaca pecah adalah kondisi tenang.

Namun ia tidak mungkin mundur. Kontrak percobaan ini nilainya lebih besar daripada semua pekerjaan paruh waktu yang pernah ia ambil digabungkan. Biaya implan koklea Papa dan Mama, servis alat, cicilan rumah, uang kuliah semester akhir, semua seperti berdiri berbaris di belakang punggungnya sambil mendorong.

Sekar mengeratkan pegangan pada ransel.

"Di mana Pak Tan?"

Darren tampak ingin menjawab, tetapi dari arah ruang tengah terdengar suara dingin.

"Suruh dia pulang."

Suara itu tidak keras. Justru terlalu datar. Tetapi udara di sekitar pintu seperti langsung turun beberapa derajat.

Sekar masuk mengikuti Darren.

Ruang tengah Rumah Tan luas, bersih, dan mahal sampai terasa tidak ramah. Lantai marmer memantulkan bayangan lampu kristal. Di antara sofa kulit gelap dan meja rendah, seorang pria duduk di kursi roda elektrik hitam.

Tan Ardian.

Sekar pernah melihat fotonya di artikel bisnis lama. Saat itu dia berdiri di podium, memakai jas, dengan tatapan tajam yang membuat judul artikel terlihat kalah percaya diri. Pria di depannya sekarang masih sangat tampan. Terlalu tampan, malah. Hidungnya tegas, bulu matanya panjang, rahangnya bersih, tetapi wajah itu seperti pintu yang dikunci dari dalam.

Kaki panjangnya tertutup selimut tipis. Tangan kanannya memegang gelas yang tinggal setengah. Di lantai dekat roda, pecahan kaca dari gelas lain masih berserakan.

Matanya bergerak dari koper Sekar ke wajah Sekar.

"Nomor berapa?"

Sekar butuh satu detik untuk paham. "Delapan puluh delapan."

"Hebat." Sudut bibir Ardian bergerak sedikit, bukan senyum. "Darren makin rajin mengirim korban."

"Koko," Darren berbisik panik. "Ini Budiman Sekar. Agensinya bilang dia punya pengalaman merawat hewan dan orang tua. Dia juga bisa bahasa isyarat. Profilnya bagus."

"Aku bukan hewan."

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu berpikir begitu."

Darren langsung menutup mulut.

Sekar melirik pecahan kaca di lantai. Ada satu pecahan yang terlalu dekat dengan roda kursi. Kalau roda bergerak, serpihannya bisa melukai ban atau memantul ke kaki. Ia meletakkan koper, mengambil sapu kecil dari dekat lemari pajangan, lalu mulai membersihkan tanpa menunggu perintah.

Ardian menatapnya.

"Siapa yang menyuruhmu menyentuh barang di rumah ini?"

"Tidak ada," jawab Sekar sambil jongkok. "Saya cuma tidak ingin Pak Tan menambah daftar kerusakan di hari pertama saya."

"Hari pertamamu tidak akan sampai malam."

"Sayang sekali. Saya sudah bawa baju ganti."

Darren mengeluarkan suara kecil, seperti tersedak doa.

Ardian meletakkan gelasnya di meja. Gerakannya pelan, tetapi cukup membuat Darren mundur setengah langkah.

"Kamu tahu berapa orang sebelum kamu yang keluar dari rumah ini?"

"Delapan puluh tujuh," jawab Sekar.

"Dan kamu masih datang?"

"Saya bisa menghitung sampai delapan puluh delapan, Pak."

Mata Ardian menyipit.

Sekar memasukkan pecahan terakhir ke pengki. Tangannya tidak gemetar, meski jantungnya berdetak seperti orang mengejar KRL. Ia takut, tentu saja. Orang waras mana yang tidak takut melihat majikan baru menyambut pengasuh dengan pecahan gelas?

Tapi takut miskin lebih lama, lebih melelahkan, dan tidak bisa disapu ke pengki.

Ardian menekan tombol kecil di sisi kursi roda. Kursi itu maju beberapa senti, cukup untuk membuat jarak mereka berkurang. Suara mesinnya halus, hampir tidak terdengar.

"Budiman Sekar."

Ini pertama kalinya ia menyebut namanya. Di mulut pria itu, namanya terdengar seperti berkas yang siap ditandatangani penolakannya.

"Iya, Pak Tan."

"Aku tidak butuh pengasuh. Aku tidak butuh orang asing masuk kamar, mengatur makan, menyentuh kakiku, atau berpura-pura kasihan."

"Bagus," kata Sekar. "Saya juga tidak suka berpura-pura."

Darren memejamkan mata.

Ardian diam sesaat. Lalu gelas di meja itu tiba-tiba tersapu tangannya.

Prang!

Gelas kedua pecah tepat di depan kaki Sekar.

Kali ini Sekar tidak bergerak. Sepatunya terkena percikan air. Ujung celana jeans-nya basah. Serpihan kecil mengilap di lantai marmer, hanya beberapa senti dari jemarinya.

"Pulang," kata Ardian.

Suara Darren langsung pecah. "Koko!"

Sekar menatap pecahan itu, lalu menatap Ardian. Wajahnya masih dingin, tapi ada sesuatu di balik matanya. Bukan hanya marah. Ada lelah, pahit, dan luka yang terlalu lama disembunyikan sampai berubah menjadi duri.

Sayangnya, duri tetap duri. Kalau menusuk orang lain, tetap harus dicabut.

Sekar berdiri. Ia mengambil tisu dari meja, mengeringkan ujung celananya, lalu tersenyum.

"Pak Tan, kalau mau mengusir saya, silakan. Tapi gelasnya jangan mahal-mahal. Nanti sayang."

Darren membuka mata.

Ardian menatapnya seperti baru mendengar kursi bicara.

"Kamu tidak takut?"

"Takut," jawab Sekar jujur. "Tapi saya lebih takut pulang tanpa pekerjaan."

Untuk pertama kalinya sejak Sekar masuk, ruang tengah itu benar-benar sunyi.

Ardian menekan sandaran kursi rodanya, tubuhnya sedikit condong ke belakang. Tatapannya turun ke sepatu Sekar yang basah, naik ke ransel murahnya, lalu berhenti di wajahnya.

"Tiga hari."

Sekar mengangkat alis.

"Dalam tiga hari, aku akan membuatmu pergi sendiri dari rumah ini."

Darren langsung menoleh pada Sekar dengan wajah memohon. Seolah meminta maaf sebelum perang dimulai.

Sekar melihat pecahan gelas di lantai, map pantangan makanan di tangannya, rumah besar yang dingin ini, dan pria di kursi roda yang memakai kemarahan seperti selimut.

Lalu ia tersenyum.

"Baik, Pak Tan."

Ia mengambil sapu lagi, menunduk membersihkan pecahan gelas kedua, kemudian berkata dengan suara ringan, "Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerah."

Episode 2

Bab 2

Mantan Tunangan yang Tidak Diundang

"Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerah."

Kalimat Sekar masih menggantung di ruang tengah ketika Tan Ardian menatapnya tanpa berkedip. Darren bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Tiga detik.

Lima detik.

Sekar tetap menunduk membersihkan pecahan gelas, seolah baru saja mengatakan harga cabai di pasar, bukan menantang pria paling sulit di rumah ini.

Ardian akhirnya memutar kursi rodanya.

"Darren."

"Iya, Koko?"

"Kalau dia merusak barang, potong dari gajimu."

Wajah Darren langsung pucat. "Kok gajiku?"

"Kamu yang membawanya."

Setelah mengatakan itu, Ardian pergi menuju koridor tanpa menoleh lagi. Suara roda elektriknya halus, tetapi punggungnya dingin sampai membuat ruangan terasa lebih kosong setelah ia menghilang.

Darren menatap Sekar dengan mata hampir basah. "Mbak Sekar, tolong jangan rusak barang apa pun. Gajiku tidak sekuat mentalmu."

Sekar mengikat kantong sampah kecil berisi pecahan kaca. "Kalau dia yang merusak?"

"Itu... biasanya masuk biaya operasional penderitaan keluarga."

Sekar menahan senyum. Setidaknya, adik Tuan Muda itu masih punya fungsi: membuat rumah semahal ini tidak sepenuhnya terasa seperti museum tempat orang dimarahi.

Sisa pagi berjalan dengan cara yang aneh. Sekar diperkenalkan pada dapur yang ukurannya lebih besar dari ruang tamu rumahnya, kamar obat yang lebih rapi daripada klinik kecil, dan lift pribadi yang hanya bisa diakses dengan kartu. Darren menjelaskan semuanya sambil sesekali menoleh ke koridor, seperti takut Ardian muncul dari dinding.

"Koko paling tidak suka orang masuk kamar tanpa izin. Jangan pegang kaki sebelum jadwal. Jangan komentar soal kursi roda. Jangan tanya kecelakaan. Jangan bilang kasihan. Jangan..."

"Pak Darren," potong Sekar, "kalau semua tidak boleh, saya kerja apa?"

Darren terdiam.

"Berdoa?" jawabnya ragu.

Sekar menghela napas. Tiga hari, katanya. Sepertinya tiga hari itu akan terasa seperti magang di medan perang.

Menjelang sore, rumah yang sejak pagi dingin tiba-tiba menjadi lebih sibuk. Dua satpam di depan mengirim pesan lewat interkom. Darren yang sedang minum air hampir tersedak.

"Siapa?" tanya Sekar.

Darren melihat layar tablet, lalu wajahnya berubah tidak enak. "Hartono Felicia."

Nama itu membuat dua asisten rumah tangga yang sedang lewat saling pandang. Sekar menangkap perubahan kecil itu. Seperti ada nama yang tidak boleh disebut keras-keras di rumah ini.

"Siapa dia?"

Darren belum sempat menjawab.

Pintu utama sudah terbuka.

Seorang perempuan masuk tanpa menunggu dipersilakan. Gaun putih tulangnya jatuh rapi sampai lutut, tas kecil bermerek tergantung di pergelangan tangan, rambut panjangnya ditata lembut. Wajahnya cantik dengan cara yang mahal. Jenis cantik yang tahu kamera akan menyukainya dari sudut mana pun.

Di belakangnya, seorang sopir membawa kotak kecil dan satu folder dokumen.

"Darren," sapa perempuan itu. Senyumnya tipis. "Lama tidak bertemu."

Darren berdiri kaku. "Felicia, kamu tidak buat janji."

"Aku masih tunangan kakakmu. Perlu buat janji untuk masuk rumah calon suamiku sendiri?"

Sekar yang berdiri di dekat meja bunga langsung paham. Hartono Felicia. Tunangan Ardian.

Atau mungkin sebentar lagi bukan.

Suara roda elektrik terdengar dari koridor. Ardian muncul dengan wajah tanpa ekspresi. Selimut tipis masih menutup kakinya. Tidak ada kejutan di matanya saat melihat Felicia, seolah ia sudah menduga hari buruk punya jadwal sendiri.

"Untuk apa datang?" tanyanya.

Felicia tersenyum lebih lebar. "Menyelesaikan sesuatu."

Ia memberi isyarat pada sopir. Pria itu membuka folder, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di meja.

"Surat pembatalan pertunangan," kata Felicia lembut. "Aku sudah tanda tangan."

Ruang tengah langsung sunyi.

Darren melangkah maju. "Felicia, kalau mau bicara, bicara baik-baik. Jangan di sini."

"Kenapa?" Felicia menoleh pelan. "Takut pengasuh baru mendengar?"

Tatapannya akhirnya jatuh pada Sekar. Dari atas ke bawah. Dari sepatu murah, ransel yang belum sempat dibawa ke kamar, sampai rambut Sekar yang diikat asal. Senyumnya berubah sedikit.

"Oh. Ini nomor berapa?"

Sekar menatapnya. "Delapan puluh delapan."

"Semoga bertahan lebih lama dari yang kemarin."

"Amin," jawab Sekar datar.

Darren menahan napas. Ardian tidak bereaksi.

Felicia membuka kotak kecil dari sopir. Di dalamnya ada cincin pertunangan dengan batu yang berkilau dingin. Ia meletakkannya di meja, tepat di depan Ardian.

"Aku mengembalikan ini."

Ardian hanya melihat cincin itu sebentar. "Selesai?"

Senyum Felicia menipis. Rupanya ia tidak puas jika lukanya tidak terlihat.

"Belum."

Ia mengambil ponsel, menyambungkannya ke layar besar di ruang tengah. Darren langsung bergerak, tetapi Felicia lebih cepat menekan tombol putar.

Video itu menyala.

Dalam video, Ardian duduk di lantai kamar rumah sakit. Rambutnya lebih panjang, wajahnya pucat, dan kursi roda terbalik di sampingnya. Tangannya mencengkeram seprai, berusaha menarik tubuhnya naik. Kakinya tidak bergerak. Ada suara orang tertawa kecil di balik rekaman. Bukan tawa keras, tetapi cukup untuk membuat telinga panas.

"Jangan!" Darren membentak.

Sekar membeku.

Di layar, Ardian yang dulu masih berjuang menarik tubuhnya. Napasnya berat. Bahunya bergetar. Rekaman itu bukan sekadar memalukan. Itu seperti seseorang mengintip luka yang seharusnya ditutup, lalu membawanya ke ruang tamu untuk dijadikan tontonan.

Felicia mematikan video setelah beberapa detik, cukup lama untuk menyakiti, cukup singkat untuk berpura-pura tidak kejam.

"Aku tidak sanggup," katanya pelan. "Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa berdiri di hari pernikahannya sendiri."

Darren menatapnya dengan mata merah. "Kamu keterlaluan."

"Aku realistis." Felicia menoleh pada Ardian. "Keluargaku juga butuh kepastian. Aku masih muda, Ardian. Aku tidak mungkin menghabiskan hidupku menjadi perawat."

Sekar merasakan tangannya mengepal.

Pagi tadi, Ardian memang menyebalkan. Ia melempar gelas, mengusir orang, membuat rumah ini seperti tempat ujian kesabaran. Tapi melihat seseorang memakai luka orang lain sebagai alat tawar, rasanya berbeda.

Itu bukan keberanian. Itu kejam yang dibungkus gaun mahal.

Ardian sejak tadi diam. Wajahnya tidak berubah. Hanya jari di sandaran kursi roda yang menekan pelan, satu kali.

Tombol darurat merah menyala.

Tidak sampai lima detik, empat bodyguard berbaju hitam masuk dari pintu samping.

Felicia tertegun.

Ardian mengangkat wajah. Suaranya tenang, hampir malas.

"Antar Nona Hartono keluar."

"Ardian." Felicia tertawa kecil, tetapi nadanya mulai retak. "Kamu mengusirku?"

"Kamu sendiri yang mengembalikan cincin. Tamu tanpa undangan tidak perlu diantar terlalu sopan."

Dua bodyguard berdiri di kanan kiri Felicia. Sopirnya mundur ketakutan. Darren mengambil remote dan mematikan layar sepenuhnya, tangannya gemetar.

Felicia memungut tasnya dengan gerakan kaku. Harga dirinya jelas terluka, tetapi ia masih berusaha tersenyum.

Ketika melewati Sekar, ia berhenti sebentar.

"Jangan terlalu berani, pengasuh. Rumah ini tidak pernah baik pada perempuan biasa."

Sekar menatap lurus. "Kalau begitu, Nona harusnya paling tahu jalan keluarnya."

Wajah Felicia berubah.

Darren mengeluarkan suara kecil lagi, kali ini seperti antara kagum dan takut.

Bodyguard tidak memberi Felicia waktu membalas. Mereka mengantarnya sampai pintu utama. Hak sepatunya mengetuk lantai marmer, keras, cepat, makin jauh.

Di ambang pintu, Felicia berhenti. Ia menoleh pada Ardian. Senyumnya kembali, dingin dan tipis.

"Tan Ardian," katanya, "kamu pikir ini sudah selesai?"

Pintu tertutup setelahnya.

Ruang tengah kembali sunyi. Cincin pertunangan masih tergeletak di meja, berkilau sendirian seperti benda yang salah tempat.

Sekar menoleh pada Ardian.

Pria itu masih duduk tegak di kursi rodanya. Wajahnya tetap dingin. Namun, ujung jarinya menekan sandaran terlalu kuat sampai buku-bukunya memutih.

Untuk pertama kalinya, Sekar merasa kemarahan pria itu mungkin bukan hanya tembok.

Mungkin juga perban.

Episode 3

Bab 3

Cabut Baterainya!

Perban yang ditarik paksa bisa berdarah lagi. Sekar memikirkan itu saat melihat Tan Ardian pergi meninggalkan ruang tengah tanpa membawa cincin pertunangan di meja.

Tidak ada yang berani menyentuh cincin itu.

Darren berdiri di dekat sofa dengan remote masih di tangan. Matanya merah, tetapi ia berusaha terlihat biasa. Gagal total.

"Mbak Sekar," katanya pelan, "maaf kamu harus lihat yang tadi."

Sekar mengambil kotak cincin itu, menutupnya, lalu meletakkannya di sisi meja yang tidak langsung terlihat dari koridor. "Yang harus minta maaf bukan Pak Darren."

Darren menunduk. "Koko paling benci dikasihani."

"Saya tidak kasihan."

"Tapi wajahmu tadi..."

"Saya marah," potong Sekar. "Beda."

Darren terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum kecil. "Kalau begitu, tolong tetap marah sampai jadwal pijat sore. Karena kalau Koko menolak, biasanya semua orang menyerah."

Sekar melihat map yang ditinggalkan Bu Susi. Di bagian jadwal tertulis jelas:

17.00: pijat ringan, peregangan pasif, pemeriksaan kulit kaki.

Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.

"Dia di kamar?"

Darren mengecek tablet. "Tidak. Kartu lift terakhir berhenti di lantai tiga."

"Ada apa di lantai tiga?"

"Teras. Tempat dia menyiksa diri dengan angin dan wajah dingin."

Sekar mengangguk. "Lift bisa dibuka?"

"Bisa, tapi kalau dia tahu aku bantu..."

"Gajimu dipotong?"

Darren menelan ludah. "Mungkin warisanku."

Sekar mengambil kartu akses dari meja kecil. "Kalau begitu, anggap saja saya mencurinya."

Darren menatapnya seperti melihat pahlawan masuk medan perang memakai sandal rumah.

Teras lantai tiga ternyata luas dan sepi. Dari sana, lampu-lampu Menteng mulai menyala satu per satu. Angin sore membawa bau tanah basah dari taman bawah. Di sisi pagar kaca, Tan Ardian duduk menghadap langit yang mulai gelap. Selimut tipis menutup kakinya. Kursi roda elektriknya diam, tetapi tubuhnya tampak seperti siap menolak siapa pun yang mendekat.

"Pergi," katanya sebelum Sekar bicara.

Sekar berhenti tiga langkah di belakangnya. "Jadwal pijat pukul lima."

"Batal."

"Di map tidak ada kolom batal."

"Buat sekarang."

"Saya pengasuh, bukan sekretaris."

Kursi roda itu berputar setengah lingkaran. Ardian menatapnya. Mata yang tadi terlihat beku sekarang lebih tajam, seperti kaca yang pecah diam-diam.

"Aku bilang pergi."

"Saya dengar."

"Tapi kamu masih berdiri di sini."

"Karena saya belum selesai kerja."

Ardian menekan tombol maju. Kursi itu bergerak ke arah lift, melewati Sekar dengan jarak sangat dekat. Sekar mundur selangkah, lalu matanya menangkap sesuatu di sisi bawah kursi: panel baterai dengan pengunci kecil. Bu Susi pernah menandai bagian itu di map, lengkap dengan tulisan merah: Jangan sentuh kecuali darurat.

Sekar memandang punggung Ardian.

Kalau orang ini dibiarkan pergi, jadwal perawatan hari pertama gagal. Besok ia akan menolak lagi. Lusa juga. Tiga hari itu bukan tantangan untuk mengusir Sekar saja. Itu juga cara Ardian mengusir semua hal yang bisa menyelamatkannya.

Sekar bergerak.

Satu tangan menekan tuas rem manual di belakang roda. Tangan lain membuka pengunci panel dan menarik paket baterai keluar dari slotnya.

Kursi roda berhenti mendadak.

Ardian membeku.

Dua detik kemudian, udara teras seperti disambar petir.

"Budiman Sekar."

Sekar memegang baterai itu di dada. "Iya, Pak Tan?"

"Pasang kembali."

"Setelah pijat."

"Sekarang."

"Setelah pijat."

Ia menekan tombol kursi beberapa kali. Tidak bergerak. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram sandaran begitu kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas.

"Kamu pikir ini lucu?"

"Tidak. Saya pikir ini jadwal medis."

"Kamu tidak berhak menyentuh kursi rodaku."

"Saya tahu." Sekar menelan rasa takutnya, lalu memaksa suara tetap rata. "Tapi Pak Tan juga tidak berhak membuat tubuh sendiri makin buruk hanya karena sedang marah."

Mata Ardian berubah. Bukan melembut. Lebih mirip luka yang tersentuh sebelum siap.

"Jangan bicara seolah kamu tahu apa pun."

"Saya memang tidak tahu semuanya," kata Sekar. "Saya hanya tahu kalau seseorang punya jadwal perawatan, berarti tubuhnya masih punya sesuatu yang harus dijaga."

Hening.

Angin menyapu rambut Sekar ke wajahnya. Ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga, lalu jongkok di depan kursi roda. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat Ardian langsung mundur dengan tubuh bagian atas.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Memeriksa kaki."

"Jangan sentuh."

"Saya akan sentuh bagian yang perlu disentuh untuk kerja saya. Kalau sakit, bilang. Kalau tidak nyaman, bilang. Kalau mau memaki, silakan, tapi jangan tendang. Oh, lupa. Untuk sekarang belum bisa."

Wajah Ardian menggelap.

Sekar sadar mulutnya mungkin terlalu cepat, tetapi tangannya tetap hati-hati. Ia membuka selimut tipis itu perlahan. Di bawah kain, kaki Ardian lebih kurus dari yang ia bayangkan, tetapi bukan lemah tanpa bentuk. Ada bekas latihan, ada garis otot yang menipis, dan ada bekas luka panjang di sisi betis kiri. Kulit di sekitarnya membentuk jaringan keloid yang keras dan merah kecokelatan.

Sekar berhenti.

Amarahnya yang tadi panas mendadak turun, diganti sesuatu yang berat di dada.

Luka itu tidak terlihat seperti cerita di artikel bisnis. Tidak terlihat seperti gosip keluarga konglomerat. Luka itu nyata. Jelek. Sakit. Menempel pada tubuh seseorang yang barusan dipermalukan karena tidak bisa berdiri.

Ardian melihat perubahan wajahnya.

"Sudah puas?"

Suaranya lebih rendah dari tadi.

Sekar mengangkat mata. Ia ingin berkata hati-hati, tetapi kata yang keluar justru lain.

"Untung kakinya lumpuh."

Teras itu senyap.

Ardian menatapnya seolah ia baru saja menamparnya.

Dari sudut kamera CCTV di atas pintu, lampu kecil berkedip. Di ruang monitor lantai dua, Darren yang sejak tadi menonton langsung berdiri dari kursinya.

"Mbak Sekar, jangan mati dulu," bisiknya panik pada layar.

Di teras, Sekar menyadari betapa mengerikan kalimatnya terdengar. Namun ia tidak menariknya kembali. Ia menaruh baterai di lantai, lalu memegang pergelangan kaki Ardian dengan sangat hati-hati.

"Maksud saya," lanjutnya, kali ini lebih pelan, "untung yang hilang sementara cuma gerak kaki. Bukan napas Pak Tan. Bukan tangan Pak Tan. Bukan kepala Pak Tan. Bukan kesempatan Pak Tan untuk marah-marah lagi hari ini."

Jari Ardian yang mencengkeram sandaran perlahan berhenti bergerak.

Sekar menunduk. "Saya tidak bilang ini ringan. Saya juga tidak bilang saya mengerti sakitnya. Tapi kalau masih ada jadwal pijat, masih ada dokter, masih ada orang yang membuat pantangan makanan sampai dua setengah halaman, berarti belum selesai. Jadi jangan bertingkah seperti semuanya sudah habis."

Tidak ada jawaban.

Hanya napas Ardian yang terdengar sedikit berat.

Sekar mulai memijat perlahan, mengikuti catatan di map. Tekanan ringan di betis, gerakan memutar di sekitar otot yang aman, peregangan pasif yang tidak memaksa sendi. Ia pernah membantu di Pijat Bahagia sejak kecil. Papa tidak bisa bicara, tetapi tangannya mengajari Sekar bahwa tubuh orang harus didengar, bukan ditaklukkan.

Ardian tidak mengusirnya lagi.

Kadang ujung jarinya berkedut di sandaran. Kadang rahangnya menegang. Namun ketika Sekar bertanya, "Sakit?", ia hanya menjawab pendek, "Lanjut."

Sepuluh menit berlalu.

Lima belas.

Langit di atas Menteng berubah ungu gelap. Lampu taman menyala. Sekar menyelesaikan pijatan terakhir, menutup kembali selimut di atas kaki Ardian, lalu memasang baterai ke tempatnya.

"Selesai," katanya.

Ardian menatapnya lama. Banyak kata seperti lewat di matanya, tetapi tidak satu pun keluar.

Akhirnya ia hanya menekan tombol kursi roda. Mesin menyala halus.

Sebelum pergi, ia berkata tanpa menoleh, "Besok jangan terlambat."

Sekar berdiri di teras dengan telapak tangan yang masih terasa hangat bekas memegang baterai, butuh beberapa detik untuk sadar.

Itu bukan terima kasih.

Tapi dari pria yang pagi tadi melempar dua gelas, kalimat itu hampir terdengar seperti izin hidup.

Di ruang monitor, Darren sudah menangis tanpa suara. Ia membuka aplikasi mobile banking, mengetik nominal bonus dengan jari gemetar, lalu menekan kirim.

Ponsel Sekar bergetar.

Transfer masuk: Tan Darren.

Catatan: Bonus keberanian. Tolong lanjutkan, Mbak. Saya dukung dari balik layar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!