Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Pengganti Yang Terluka

Bab 1

Lampu gantung kristal setinggi tiga meter di langit-langit grand ballroom Hotel Grand Luminary memantulkan pendaran cahaya keemasan yang megah, menyulap ruangan itu menjadi istana satu malam yang begitu memukau.

Ribuan tangkai mawar putih segar yang diimpor langsung dari Belanda ditata sedemikian rupa, menyebarkan aroma harum yang menenangkan ke setiap sudut ruangan.

Di atas panggung utama, sebuah pelaminan megah dengan dekorasi bernuansa putih-emas sudah berdiri kokoh, siap menyambut sepasang pengantin dari salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di negeri ini - Keluarga Besar Oliver.

Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat, pengusaha papan atas, hingga figur publik berkelas mulai memenuhi area registrasi.

Denting romantis dari permainan grand piano di sudut ruangan mengalun lembut, membaur bersama gumam obrolan elegan dan tawa renyah para tamu yang datang dengan gaun-gaun malam terbaik serta setelan jas mewah.

Malam ini harusnya menjadi malam yang paling sempurna bagi keluarga Oliver. Malam di mana putra sulung kebanggaan mereka, Devon Oliver, akan bersanding dengan seorang wanita pilihan keluarga.

Namun, di tengah kemegahan yang membuai itu, Liam Oliver berdiri agak menjauh dari keramaian dekat pilar marmer besar.

Berbeda dengan para tamu yang tampil formal maksimal, pemuda berusia dua puluh dua tahun itu hanya mengenakan kemeja putih kasual yang dilapisi jas santai berwarna abu-abu muda, tanpa dasi, dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka.

Celana jins hitam pekat dan sepatu sneakers kulitnya mempertegas statusnya sebagai seorang mahasiswa yang enggan terikat oleh protokoler kaku dunia bisnis keluarganya.

Liam menyesap segelas jus jeruk di tangannya, matanya menatap malas ke arah pelaminan. Baginya, acara-acara seperti ini tak lebih dari panggung sandiwara korporat.

"Dua puluh menit lagi acara dimulai, dan si anak emas belum juga memunculkan batang hidungnya," gumam Liam sinis pada diri sendiri.

Ia melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya. Devon, sang kakak yang selalu dipuja sebagai penerus takhta Oliver Group yang karismatik dan tanpa cela, seharusnya sudah berdiri di ruang tunggu utama sejak satu jam yang lalu.

Tepat saat Liam hendak berbalik untuk mencari udara segar di balkon luar, sebuah cengkeraman kuat yang gemetar mendarat di bahunya.

Liam menoleh cepat dan terkejut mendapati sang ayah, Papa Bramantyo, berdiri di belakangnya. Wajah pria paruh baya yang biasanya selalu tampak tegas, berwibawa, dan tak tergoyahkan itu kini pucat pasi.

Butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya, dan napasnya terdengar pendek-pendek, memburu seperti orang yang baru saja berlari maraton.

"Pa? Ada apa? Wajah Papa pucat sekali," tanya Liam, raut sinisnya instan menguap, digantikan oleh kerutan cemas di dahi.

Papa Bramantyo tidak menjawab. Sepasang matanya yang mulai meredup menatap Liam dengan tatapan panik yang belum pernah Liam lihat seumur hidupnya.

Tanpa sepatah kata pun, Papa Bramantyo menarik lengan Liam dengan sisa tenaga yang dimilikinya, menyeret putranya itu menjauh dari area ballroom, melewati lorong VIP yang sepi, menuju ke arah sebuah ruangan privat yang dijaga ketat di ujung koridor.

"Pa, pelan-pelan. Jantung Papa..."

"Diam dan ikut Papa, Liam!" bisik Papa Bramantyo dengan suara yang serak dan bergetar hebat.

Begitu mereka tiba di depan pintu kayu jati tebal ruangan privat tersebut, dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian sipil namun memiliki lencana kepolisian yang tergantung di saku dada mereka tampak berjaga. Jantung Liam mendadak berdesir aneh. Perasaan buruk langsung menyergap benaknya.

Cklek....

Papa Bramantyo membuka pintu dan mendorong Liam masuk sebelum mengunci kembali pintu itu dari dalam.

Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat Liam terpaku di tempat. Di tengah ruangan yang elegan itu, Devon Oliver, sang pengantin pria yang seharusnya mengenakan jas pengantin dengan senyum menawan, kini berdiri dengan kepala tertunduk dalam.

Kedua tangannya yang berbalut kemeja satin putih mewah kini terikat oleh sepasang borgol besi yang dingin. Di kanan dan kirinya, dua orang penyidik kepolisian berpakaian dinas lengkap berdiri tegap dengan wajah tanpa kompromi.

Di atas meja kaca, berserakan belasan berkas dokumen dengan stempel merah bertuliskan 'SITA'.

"Devon? Apa-apaan ini?!" Liam melangkah maju dengan mata membelalak tak percaya. "Pa, kenapa Kak Devon diborgol? Ini pasti bercanda, kan? Acara di luar sudah mau mulai!"

Salah satu petugas kepolisian yang memegang map surat perintah melangkah maju, memotong ucapan Liam dengan nada suara yang sangat formal dan dingin. "Maaf, Saudara Liam Oliver. Kami dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus telah memiliki bukti permulaan yang cukup kuat. Saudara Devon Oliver resmi kami amankan malam ini atas dugaan kasus penggelapan dana publik dan pencucian uang skala besar melalui beberapa perusahaan cangkang milik Oliver Group."

"Penggelapan dana? Kak Devon?" Liam menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menatap kakaknya, berharap pria itu berteriak marah dan membantah tuduhan konyol ini. "Kak! Katakan pada mereka kalau mereka salah tangkap! Kamu tidak mungkin melakukan hal serendah itu! Cerita ini tidak masuk akal!"

Namun, Devon tetap bungkam. Bahunya gemetar, dan ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap mata adiknya sendiri. Bungkamnya Devon menjadi jawaban paling menyakitkan yang menegaskan bahwa semua tuduhan itu bukanlah kekeliruan.

"Kami harus membawa tersangka ke markas besar sekarang juga untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mohon kerja samanya," ujar petugas itu lagi, lalu memberi isyarat kepada rekannya untuk mulai menggiring Devon keluar melalui pintu akses rahasia di belakang ruangan.

"Tunggu! Selesaikan ini setelah resepsi! Tolong, demi nama baik keluarga kami, beri kami waktu dua jam saja!" Papa Bramantyo memohon dengan suara yang nyaris habis, harga dirinya sebagai konglomerat besar runtuh begitu saja di hadapan hukum.

"Maaf, Pak Bramantyo. Surat perintah ini harus segera dieksekusi demi mencegah penghilangan barang bukti elektronik lainnya. Permisi."

Dengan langkah cepat dan dingin, para petugas itu membawa Devon pergi. Pintu akses rahasia itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam dan mengerikan di dalam ruangan.

Kakak laki-lakinya, sosok yang beberapa menit lagi seharusnya berjanji suci di hadapan ratusan pasang mata, baru saja diseret ke penjara bak seorang kriminal kelas teri.

"Sialan!" Liam memukul meja kaca dengan kepalan tangannya hingga menimbulkan bunyi berdentang yang keras. Amarahnya meluap-luap. Bagaimana bisa sebuah badai sebesar ini datang tepat di detik-detik menjelang acara paling sakral?

Namun, kemarahan Liam mendadak lumpuh saat mendengar suara erangan tertahan dari arah belakang.

Uhuk! Uh...

Liam berbalik dan mendapati Papa Bramantyo sudah terduduk di sofa dengan satu tangan mencengkeram dada kirinya erat-erat.

Wajah pria paruh baya itu kini berubah menjadi kebiruan, bibirnya bergetar, dan napasnya terdengar seperti orang yang tercekik. Matanya mendelik ke atas, menahan rasa sakit yang luar biasa yang menghantam jantungnya.

"Papa!" Liam menjatuhkan dirinya di depan sang ayah, menyangga tubuh Papa Bramantyo yang mulai lunglai. "Pa! Buka mata Papa! Di mana obat Papa?!"

Dengan tangan yang gemetar hebat, Papa Bramantyo mencengkeram kerah kemeja Liam. Suaranya terdengar putus-putus, terengah-engah di antara rasa sakit yang mematikan. "Li-Liam... di... di luar... ada menteri... ada kolega... nama... nama baik keluarga kita..."

"Jangan pikirkan acara di luar dulu, Pa! Kita ke rumah sakit sekarang!" Liam berteriak panik, bersiap merengkuh tubuh ayahnya untuk digendong.

"Tidak!" Papa Bramantyo menggeleng dengan sisa kekuatannya, air mata frustrasi mengalir di sudut matanya yang menua. "Jika... jika pernikahan ini batal... jika berita Devon ditangkap menyebar malam ini... Oliver Group akan hancur besok pagi... saham kita akan anjlok... ribuan karyawan kita... Papa... Papa lebih baik mati malam ini daripada melihat kehancuran itu, Liam!"

Cengkeraman tangan Papa Bramantyo di kerah baju Liam semakin mengencang, menarik wajah putranya itu agar mendekat. Tatapan mata sang ayah kini beralih, bukan lagi sekadar kepanikan, melainkan sebuah permohonan yang teramat berat, sebuah beban hidup dan mati yang diletakkan langsung ke atas pundak Liam.

"Hanya... hanya kamu, Liam. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan kita..." bisik Papa Bramantyo dengan napas yang kian menipis, sebelum matanya perlahan terpejam dan tubuhnya mendadak lemas tak berdaya dalam dekapan Liam.

"Pa? Papa!! Buka mata Papa!" Teriak Liam mengguncang tubuh ayahnya, sementara di luar ruangan, sayup-sayup terdengar suara pembawa acara melalui pengeras suara yang menggema ke seluruh hotel, mengumumkan bahwa prosesi akad nikah akan segera dimulai dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Liam terpaku. Di dekapannya ada tubuh ayahnya yang sekarat menahan serangan jantung, di luar ruangan ada ribuan pasang mata yang menanti pengantin pria, dan di kepalanya, dunia yang ia kenal sebagai mahasiswa biasa baru saja hancur berkeping-keping.

Badai utama telah tiba, dan Liam tidak punya pilihan selain masuk ke dalamnya.

...----------------...

To Be Continue ....

**Haaay para pembaca tersayang! Terima kasih sudah mampir ke pelukan kisah Istri Pengganti yang Terluka**.

**Di bab pertama ini, kita akan langsung diajak menyelami badai utama yang mengubah takdir dua insan. Cerita ini ditulis dengan penuh cinta dan emosi, semoga bisa menyentuh hati kalian semua, ya**.

**Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan lewat like, vote, dan komentar di setiap episodenya agar Author makin semangat mengetik kelanjutan kisah mereka! Selamat membaca semuanya**....

**See You**...

Bab 2

Aroma mint yang tajam dari minyak angin menyeruak, berbaur dengan sisa keharuman bunga mawar yang terlanjur terperangkap di dalam ruang privat itu.

Di atas sofa beludru, Papa Bramantyo terbaring lemah dengan kancing kemeja atas yang sudah dilonggarkan. Wajahnya yang biasa memancarkan otoritas mutlak kini tampak kuyu, dengan garis-garis penuaan yang tercetak semakin tegas akibat hantaman syok.

Liam berdiri beberapa langkah di depan sofa, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana jins hitamnya.

Napasnya naik turun tidak teratur. Tatapannya tertuju pada jas pengantin putih porselen milik Devon yang tergantung kaku di manekin sudut ruangan, seolah-olah pakaian itu sedang mengejek ketidakberdayaan situasi mereka.

"Liam... Papa mohon," suara Papa Bramantyo terdengar serak, nyaris tenggelam oleh deru mesin pendingin ruangan. Pria paruh baya itu mencoba menegakkan punggungnya, namun rasa nyeri di dada kirinya kembali memaksa beliau merintih tertahan.

"Pa, jangan banyak bergerak dulu. Dokter hotel sedang menuju ke sini," potong Liam dengan nada suara yang sengaja ditekan dingin, walau sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kepanikan yang mendalam. "Dan tolong, jangan katakan hal gila itu lagi. Menggantikan Kak Devon? Yang benar saja. Aku ini adiknya, bukan ban serep yang bisa dipasang kapan saja saat ban utamanya bocor!"

"Ini bukan soal ban serep, Liam! Ini soal harga diri keluarga kita!" Papa Bramantyo terbatuk kecil, wajahnya kembali memerah menahan sakit dan emosi. "Tamu di luar... mereka bukan orang sembarangan. Ada menteri, ada investor utama dari London yang baru saja menanam modal untuk proyek kita. Jika mereka tahu pengantin prianya diseret polisi di hari pernikahannya, saham Oliver Group akan terjun bebas besok pagi! Kita akan bangkrut dalam hitungan hari!"

Liam mendengus sinis. Ia menyugar rambut hitamnya yang sedikit berantakan ke belakang dengan gestur frustrasi, sebuah kebiasaan yang selalu berhasil membuat para mahasiswi di kampusnya terpaku, namun kali ini, gestur itu murni karena rasa frustrasi yang memuncak.

"Lalu bagaimana denganku, Pa? Bagaimana dengan duniaku?" Suara Liam mulai meninggi, menuntut keadilan bagi dirinya sendiri. "Aku ini masih mahasiswa! Aku punya kehidupan, aku punya mimpi, dan aku punya reputasi di kampus yang harus kujaga! Bagaimana mungkin aku tiba-tiba keluar dari ruangan ini sebagai seorang suami dari wanita yang bahkan tidak pernah kuketahui warna matanya karena tertutup cadar? Papa egois!"

Papa Bramantyo terdiam. Air mata yang jarang sekali menetes dari mata seorang pemimpin dinasti bisnis itu kini perlahan bergulir, membasahi pipinya yang berkerut. Pria itu menunduk, mencengkeram dadanya yang kembali terasa seperti dihantam palu godam.

"Papa tahu Papa egois... Papa tahu Papa sudah gagal mendidik Devon hingga dia melakukan kejahatan itu," bisik Papa Bramantyo, suaranya bergetar hebat penuh keputusasaan. "Tapi Papa tidak punya pilihan lain, Liam. Mira... wanita itu... dia juga korban dari semua kekacauan ini. Jika pernikahan ini batal, keluarga Mira akan menanggung malu yang luar biasa, dan... dan nyawa Papa mungkin tidak akan sampai besok pagi untuk melihat kehancuran itu semua."

Melihat tubuh Papanya yang mendadak kembali kejang dengan napas yang terputus-putus, dinding pertahanan Liam yang keras seolah runtuh seketika. Kemarahan yang membakar dadanya mendadak padam, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan satu-satunya orang tua yang tersisa.

Liam melangkah cepat, menjatuhkan lututnya di lantai tepat di samping sofa tempat Papanya terbaring. Ia menggenggam tangan Papanya yang terasa sedingin es.

"Pa... Pa, dengarkan aku. Bernapas pelan-pelan," ujar Liam, nada suaranya kini berubah drastis menjadi lembut namun penuh penekanan, memancarkan aura kepemimpinan yang selama ini tersembunyi di balik sikap santainya. "Jangan bicara lagi. Aku... aku akan melakukannya."

Papa Bramantyo membuka matanya yang sayu, menatap Liam dengan tatapan tidak percaya sekaligus lega. "Liam... kau serius, Nak?"

Liam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri, membalikkan badannya, dan menatap lurus ke arah jas pengantin milik Devon. Rahangnya mengeras. Detik itu juga, Liam Oliver yang santai dan bebas resmi mati. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang harus memikul takdir yang dipaksakan.

Dengan gerakan yang tegas dan penuh karisma layaknya seorang eksekutif muda yang siap mengambil alih kendali perusahaan, Liam membuka jas kasual abu-abunya dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Ia melangkah menuju manekin, merenggut jas pengantin putih bersih itu dengan satu gerakan kuat.

Saat Liam mulai mengancingkan kemeja putih satin milik Devon yang sedikit longgar di tubuhnya yang atletis, aura di dalam ruangan itu mendadak berubah. Liam memiliki proporsi tubuh yang sempurna, bahu yang lebar, dada yang tegap, dan postur tinggi yang intimidatif.

Ketika ia mengenakan jas pengantin putih itu dan merapikan kerahnya di depan cermin besar, sosok pemuda kuliahan yang cuek langsung bertransformasi menjadi visual sempurna seorang pewaris takhta yang dingin, tampan, dan tak tersentuh.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya yang berantakan kini ia sisir rapi ke belakang menggunakan jemarinya, menyisakan beberapa helai yang jatuh dengan sengaja di dahinya, memberikan kesan cool namun sangat maskulin, tipe visual pria yang sanggup membuat jantung wanita mana pun berhenti berdetak hanya dengan satu tatapan tajam.

"Mulai detik ini, aku adalah pengantinnya," gumam Liam pada bayangannya di cermin, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, tanpa emosi.

Cklek.

Pintu ruangan privat terbuka, dan asisten pribadi keluarga Oliver masuk dengan wajah panik. "Tuan Muda Liam... maaf, maksud saya Tuan Pengantin, waktu kita sudah habis. Penghulu dan perwakilan keluarga wanita sudah siap di meja akad."

Liam membalikkan tubuhnya. Karismanya yang mengintimidasi membuat asisten pribadi itu langsung menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung mata tajam Liam.

"Jaga Papa. Pastikan dokter memberikan penanganan terbaik tanpa ada satu pun orang luar yang tahu," perintah Liam dengan nada suara yang mutlak, tidak menerima bantahan.

"Baik, Tuan Muda."

Liam melangkah menuju pintu. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran hidupnya. Sebelum benar-benar keluar, ia melirik sekilas ke arah Papanya yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus bangga.

Liam menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan jas putihnya yang melekat sempurna, lalu membuka pintu kayu jati tebal itu lebar-lebar.

Kilatan lampu kilat dari kamera para fotografer langsung menyambutnya begitu ia menginjakkan kaki di lorong menuju grand ballroom. Suara riuh rendah dari ribuan tamu undangan di ujung lorong terdengar seperti gemuruh ombak yang siap menenggelamkannya.

Di ujung sana, di atas altar yang dikelilingi ribuan mawar putih, sebuah takdir baru telah menantinya. Takdir yang melibatkan seorang wanita misterius bernama Mira Hazelya, dan sebuah pernikahan kontrak satu semester yang akan mengubah hidupnya menjadi neraka penuh rahasia.

Liam melangkah maju dengan dagu terangkat, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan mematikan, siap menantang apa pun badai yang ada di depan matanya.

...----------------...

To Be Continue ....

Bab 3

Pintu ganda grand ballroom terbuka lebar dengan kemegahan yang mengintimidasi. Langkah kaki Liam Oliver yang mantap seketika memediasi keheningan yang merayap di antara deretan kursi tamu VIP.

Setiap mata tertuju padanya. Kilatan lampu kilat kamera dari tim dokumentasi internal menyambar wajahnya dari berbagai sudut, namun tidak ada satu pun kedipan atau riak kecemasan yang tampak di wajah tampan itu.

Liam berjalan dengan postur tubuh tegap sempurna, memancarkan aura dingin dan berkelas khas seorang pria yang terbiasa mengendalikan keadaan. Jas pengantin putih porselen milik Devon melekat pas di bahunya yang lebar, kontras dengan rambut hitamnya yang ditata rapi ke belakang.

Bagi para tamu undangan, sosok yang sedang berjalan menuju meja akad adalah Devon Oliver, sang putra mahkota yang karismatik. Tidak ada yang menyadari bahwa di balik tatapan tajam dan langkah tegas itu, ada seorang adik yang sedang mengorbankan seluruh masa depannya demi sebuah sandiwara korporat.

Liam menghentikan langkahnya tepat di depan meja akad yang didekorasi dengan untaian bunga melati suci. Di sana, penghulu, saksi, dan seorang pria paruh baya yang merupakan wali nikah dari pihak perempuan sudah duduk menanti.

Liam menarik kursi kayu berukir emas di hadapan wali nikah. Ia duduk dengan gerakan yang begitu tenang, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain dengan gestur yang memancarkan dominasi mutlak, sebuah pemandangan yang membuat beberapa wanita di barisan depan menahan napas kagum. Wajahnya datar, lurus menatap pria paruh baya di depannya tanpa ada kehangatan sepeser pun. Hatinya sedingin es.

"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Liam, suaranya yang bariton dan berat terdengar begitu tenang namun tidak bisa dibantah, langsung mendominasi atmosfer di sekitar meja akad.

Penghulu berdehem, sedikit tertegun oleh aura intimidatif yang dipancarkan oleh pemuda di hadapannya. "Baik, karena pengantin pria sudah siap, mari kita hadirkan pengantin wanita."

Detik itu juga, alunan musik instrumen piano yang lembut dan syahdu mulai menggema di seluruh penjuru ruangan. Semua perhatian beralih ke arah pintu masuk utama.

Dari balik tirai sutra putih, sosok itu akhirnya melangkah masuk.

Mira Hazelya.

Langkah kakinya begitu pelan, anggun, dan seolah tidak menyentuh bumi. Ia mengenakan gaun pengantin satin modern berwarna putih bersih yang menjuntai indah di lantai marmer.

Potongan gaun itu sangat berkelas, membungkus tubuhnya yang ramping dengan sangat sopan namun memancarkan keanggunan tingkat tinggi. Sebuah tiara berlian kecil berkilauan di atas kepalanya, menahan sehelai kain brokat halus yang menjuntai menjadi jilbab panjangnya.

Namun, yang paling menarik perhatian Liam, dan seluruh orang di ruangan itu adalah kain sifon putih tipis yang menutupi setengah wajahnya. Sebuah cadar. Kain pelindung itu hanya menyisakan sepasang mata bulat yang indah. Namun, mata itu tidak memancarkan binar kebahagiaan seorang pengantin.

Dari jarak beberapa meter, Liam yang memiliki penglihatan tajam bisa melihat dengan jelas bahwa sudut mata Mira Hazelya tampak basah. Bulu mata lentiknya bergetar, dan sorot matanya menyiratkan sebuah luka emosional yang teramat dalam dan ketakutan yang disembunyikan rapat-rapat.

"Jadi ini wanita yang menghancurkan masa mudaku ?" batin Liam, menatap dingin tanpa ekspresi saat Mira berjalan didampingi oleh seorang ibu paruh baya menuju kursi di sebelah kanannya.

Saat Mira duduk di sampingnya, aroma harum bunga lili yang lembut dan menenangkan langsung menguar, menyapa indra penciuman Liam.

Ada getaran halus yang terasa dari tubuh Mira. Wanita itu terus menunduk, meremas jemarinya sendiri yang terbalut sarung tangan brokat putih di atas pangkuannya.

Liam bisa merasakan kecemasan yang luar biasa dari wanita di sebelahnya, namun ego dan kemarahannya yang terpendam membuat Liam enggan peduli. Bagi Liam, Mira adalah bagian dari konspirasi yang menjebak keluarganya.

"Baiklah, Saudara pengantin pria, silakan jabat tangan wali nikah," instruksi penghulu memecah keheningan yang menegangkan.

Liam mengabaikan debaran aneh di dadanya. Ia mengulurkan tangan kanannya, menjabat kuat dan mantap tangan ayah dari Mira Hazelya. Genggamannya begitu tegas, menunjukkan bahwa ia siap mengambil alih kendali, walau hatinya menolak mati-matian.

"Saudara Devon Oliver bin Bramantyo Oliver," ucap wali nikah dengan suara yang agak bergetar, menyebut nama Devon sesuai dengan berkas pernikahan yang tidak sempat diubah demi hukum formal di depan publik.

Liam tidak mengoreksi. Ia membiarkan nama kakaknya disebut, karena di mata dunia malam ini, ia adalah pengganti yang sah dalam kegelapan.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Mira Hazelya binti Ahmad, dengan mas kawin berupa logam mulia seratus gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

Keheningan di dalam ballroom mendadak menjadi begitu pekat, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan itu tersedot habis. Semua orang menantikan kalimat sakral itu keluar dari bibir sang pengantin pria.

Liam menarik napas dalam-dalam melalui hidung. Tatapan matanya mengunci lurus mata wali nikah di hadapannya dengan ketegasan yang mematikan.

Tanpa ada keraguan sedikit pun, tanpa ada jeda yang membuat orang curiga, ia mengucapkan kalimat qobul dengan satu tarikan napas yang lugas, berat, dan sangat berwibawa.

"Saya terima nikah dan kawinnya Mira Hazelya binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Suaranya yang tegas menggelegar melalui mikrofon, menggema ke setiap sudut ruangan, memaku mati takdir dua insan yang tidak saling mencintai itu.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

Kata itu diucapkan serempak oleh para saksi. Penghulu langsung memimpin doa. Di saat semua orang menengadahkan tangan dan mengucap syukur, Liam justru menurunkan tangannya dengan cepat. Ia melirik ke samping kanan. Di balik cadar tipisnya, Liam bisa melihat bahu Mira Hazelya mendadak terguncang kecil.

Sebutir air mata lolos dari sudut mata indahnya, jatuh membasahi kain cadar putihnya hingga membentuk noda basah kecil. Mira menangis dalam diam, sebuah tangisan yang tampak begitu menyakitkan.

"Kenapa dia harus menangis? Bukankah dia yang diuntungkan dari pernikahan dengan keluarga Oliver ?" gumam Liam dalam hati, rasa sinis kembali merayapi pikirannya.

"Silakan pengantin pria memasangkan cincin ke jari manis pengantin wanita, dan pengantin wanita mencium tangan suaminya," ucapan penghulu membawa mereka ke ritual berikutnya.

Liam mengambil kotak beludru merah yang disodorkan. Ia mengeluarkan sebuah cincin berlian berdesain modern yang sangat mewah.

Dengan gerakan yang dingin namun terlihat sangat lembut di depan kamera, Liam meraih tangan kanan Mira. Tangan wanita itu terasa sangat dingin dan gemetar hebat dalam genggamannya.

Liam menatap mata Mira dari jarak dekat saat menyelipkan cincin itu ke jari manisnya. Ada sengatan aneh yang membuat jantung Liam berdegup tidak karuan saat netra tajamnya beradu dengan netra sayu Mira yang dipenuhi kabut kesedihan.

Setelah cincin terpasang, kini giliran Mira. Dengan gerakan yang sangat pelan dan ragu-ragu, Mira meraih tangan kanan Liam. Ia membungkukkan tubuhnya yang anggun, lalu menyentuhkan kening dan bibirnya di punggung tangan Liam.

Sentuhan fisik pertama mereka terasa seperti aliran listrik yang dingin. Liam membeku. Ia bisa merasakan kehangatan napas Mira yang berembus di balik cadarnya, mengenai kulit tangannya. Di saat yang sama, setitik air mata hangat Mira jatuh tepat di atas pergelangan tangan Liam.

Air mata itu terasa membakar kulit Liam, meninggalkan rasa tidak nyaman yang aneh di hatinya. Liam segera menarik tangannya kembali begitu Mira menegakkan tubuhnya. Wajah Liam kembali mengeras, datar tanpa ekspresi, menyembunyikan badai batin yang mulai bergejolak di dalam dirinya.

Kini, mereka telah resmi menjadi suami istri di mata hukum dan agama. Namun bagi Liam, ini hanyalah awal dari sebuah permainan sandiwara yang melelahkan.

Satu semester...

Ia hanya perlu bertahan selama satu semester bersama wanita penuh misteri di sebelahnya ini, sebelum ia bisa menceraikannya dan mengambil kembali kebebasan hidupnya yang telah direnggut paksa malam ini.

Liam berdiri dari kursinya, menawarkan lengan kirinya dengan gestur formal yang kaku kepada Mira untuk membantu wanita itu berdiri menuju pelaminan. Mira menatap lengan kekar itu sekilas, lalu dengan sangat perlahan dan menjaga jarak, ia menyentuhkan ujung jemarinya di atas lengan jas Liam.

Di bawah guyuran ribuan lampu kristal dan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan yang mengira ini adalah akhir yang bahagia, Liam dan Mira melangkah bersama menuju pelaminan.

Mereka bersanding sebagai pasangan paling sempurna di mata dunia, tanpa ada yang tahu bahwa di balik senyum tipis yang dipaksakan Liam dan cadar yang menyembunyikan wajah Mira, sebuah neraka pernikahan baru saja dimulai.

...----------------...

To Be Continue ....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!