Indonesia
NovelToon NovelToon

Satu Triliun Untuk Semalam

: tawaran yang mustahil

Langit sore di kota Semarang itu terlihat kelabu, seolah ikut merasakan beban berat yang sedang dipikul oleh Laras. Di dalam ruang tunggu rumah sakit yang berbau obat dan kesunyian, gadis berusia dua puluh dua tahun itu duduk menunduk, tangannya meremas selembar kertas tagihan rumah sakit yang sudah ia baca puluhan kali.

Angka yang tertera di sana terasa seperti tanda akhir dari segalanya. Seratus lima puluh juta rupiah. Jumlah yang mustahil untuk dikumpulkan dalam waktu tujuh hari—batas terakhir yang diberikan dokter sebelum ayahnya tidak bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut dan nyawanya semakin terancam.

Laras mengusap sudut matanya yang mulai basah. Ia sudah menjual semua barang berharga yang dimiliki, meminjam ke sana ke mari sampai tidak ada lagi kerabat atau teman yang berani menolong. Usahanya selama ini hanya mengumpulkan sedikit lebih dari dua puluh juta rupiah. Masih sangat jauh dari yang dibutuhkan.

“Nak Laras?”

Suara lembut memecah kesunyian. Ia mendongak, melihat Pak Budi, petugas administrasi yang sudah mengenalnya sejak ayahnya masuk rumah sakit dua minggu lalu. Wajah pria paruh baya itu terlihat prihatin.

“Ada kabar baik sekaligus kabar yang mungkin terdengar aneh untukmu,” kata Pak Budi pelan sambil melirik sekeliling agar tidak didengar orang lain. “Ada seseorang yang tahu keadaanmu. Ia bersedia melunasi semua biaya pengobatan ayahmu… bahkan memberikanmu uang yang jauh lebih banyak dari itu.”

Jantung Laras berdegup kencang. “Siapa, Pak? Apa syaratnya?”

“Beliau menunggu di ruang tamu utama. Namanya Raka Dirgantara. Kau pasti pernah mendengar namanya pemilik kelompok usaha terbesar di negeri ini. Tapi… aku harus ingatkan. Jangan terburu-buru setuju sebelum mendengar semuanya.”

Nama itu sudah cukup membuat Laras menahan nafas. Raka Dirgantara. Orang yang sering terlihat di berita, pemilik kekayaan yang tak terhitung jumlahnya, dikenal sebagai pria yang dingin, tegas, dan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa ada keuntungan untuk dirinya. Apa yang mungkin ia inginkan dari gadis biasa sepertinya?

Dengan kaki yang terasa lemas, Laras mengikuti Pak Budi menuju ruang yang lebih tenang dan mewah. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca besar. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan jas hitam rapi yang terlihat sangat mahal. Udara di ruangan itu terasa lebih dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan, tapi juga karena aura yang terpancar dari pria itu.

“Silakan masuk,” suara Raka terdengar dalam dan tenang, meski ia belum berbalik.

Laras melangkah masuk perlahan, jantungnya berdegup semakin kencang. Ketika Raka akhirnya memutar badannya, pandangan matanya langsung bertemu dengan tatapan pria itu. Matanya gelap dan tajam, seolah bisa menembus ke dalam setiap rahasia yang disembunyikan Laras. Wajahnya tampan sempurna, namun tanpa senyum—hanya ada ketegasan dan jarak yang sulit ditembus.

“Duduklah,” perintahnya singkat, lalu ia menempati kursi di hadapannya.

Laras duduk dengan hati-hati, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan untuk menyembunyikan kegugupannya. “Terima kasih sudah sudi menemui saya, Tuan. Saya dengar Anda bersedia membantu… tapi tentu saja ada syaratnya, bukan?”

Raka menatapnya lekat selama beberapa detik, seolah sedang menilai sesuatu pada diri gadis itu. Ia lalu menyandarkan punggungnya dan berbicara dengan nada datar, seolah sedang membahas urusan bisnis biasa.

“Kondisimu sedang terdesak. Ayahmu butuh biaya besar, dan waktu yang tersisa sangat sedikit. Aku bisa menyelesaikan semuanya dalam hitungan jam.”

“Lalu apa yang Tuan inginkan dari saya?” tanya Laras lurus, berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

Sudut bibir Raka terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tidak menyentuh matanya. “Jawaban yang tepat. Aku tidak suka bertele-tele. Aku punya satu syarat sederhana: Kau harus menghabiskan satu malam bersamaku.”

Darah seketika terasa berhenti mengalir di tubuh Laras. Matanya terbelalak, wajahnya memucat. Ia sudah menduga ada syarat berat, tapi tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu.

“Satu malam?” ulangnya dengan suara yang nyaris tercekik.

“Ya. Hanya satu malam,” tegas Raka tanpa ragu. “Mulai dari matahari terbenam sampai matahari terbit keesokan harinya. Selama itu, kau akan menemaniku sesuai apa yang aku butuhkan. Setelah malam itu berakhir… semuanya selesai.”

Laras menelan ludah, pikirannya berputar kacau. Harga diri melawan rasa takut kehilangan ayahnya. “Dan sebagai gantinya… Tuan akan membayar biaya rumah sakit ayah saya?”

Raka menggeleng perlahan. “Lebih dari itu. Biaya pengobatan, biaya perawatan lanjutan, semuanya akan ditanggung. Dan sebagai bayaran untuk satu malam itu… aku akan memberimu uang tunai sebesar Satu Triliun Rupiah.”

Satu triliun.

Angka itu berputar di kepala Laras seolah menjadi gema yang memekakkan telinga. Jumlah yang nilainya cukup untuk mengubah nasib keluarganya selama tujuh turunan, cukup untuk menghapus segala kekhawatiran soal uang selamanya. Namun di balik angka yang luar biasa itu, tersimpan harga yang mungkin tidak bisa ia bayar dengan apa pun selain dirinya sendiri.

“Mengapa saya?” tanya Laras akhirnya, suaranya bergetar namun berusaha tetap tenang. “Dunia ini penuh wanita yang lebih cantik, lebih cerdas, dan tentu saja lebih pantas untuk tawaran sebesar itu dibanding saya.”

Raka menatapnya lebih dalam, ada kilatan samar yang sulit diartikan di balik matanya. “Karena kau terlihat bersih. Tidak ada niat tersembunyi, tidak ada ambisi untuk memanfaatkan kekayaanku. Aku hanya butuh seseorang yang bisa hadir malam itu tanpa membuat masalah, tanpa menuntut apa pun lagi setelahnya. Dan menurut laporan yang aku dapatkan, saat ini kau sedang dalam posisi yang tidak punya banyak pilihan.”

Kalimat itu jujur, namun terasa menusuk. Benar, Laras sadar ia sedang terjebak. Menolak berarti membiarkan ayahnya perlahan pergi, dan hidupnya akan hancur selamanya. Menerima berarti ia harus menyerahkan dirinya ke tangan pria yang tidak ia kenal, dengan risiko yang tidak bisa diprediksi.

“Berikan aku waktu untuk berpikir,” bisik Laras pelan.

“Tentu saja,” jawab Raka tenang. “Tapi ingat, tawaran ini hanya berlaku sampai matahari terbenam besok sore. Jika kau belum menjawab saat itu, tawaran ini akan ditarik kembali selamanya. Tidak akan ada kesempatan kedua.”

Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Laras.

“Jika kau setuju, hubungi nomor itu. Seseorang akan menjemputmu malam itu juga.”

Setelah mengucapkannya, Raka berdiri seolah urusannya sudah selesai. Ia melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Laras yang masih terduduk kaku, ditinggalkan bersama tawaran yang terasa seperti mimpi sekaligus jebakan.

Saat pintu tertutup rapat, Laras menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan menangis dalam diam. Di satu sisi ada harga diri, di sisi lain ada nyawa ayahnya yang tergantung. Dan di tengah-tengah itu, ada angka satu triliun yang terus berputar di pikirannya sebuah tawaran yang terlalu besar untuk ditolak, tapi terlalu berat untuk diterima.

Apakah ia sanggup menjajakan satu malam hidupnya demi segunung uang? Dan yang lebih penting lagi… apa yang sebenarnya tersembunyi di balik tawaran itu?

Laras belum tahu, bahwa keputusan yang akan ia ambil itu bukan hanya akan menyelamatkan hidupnya, tapi juga akan menjeratnya masuk ke dalam dunia Raka Dirgantara—dunia yang penuh kekuasaan, rahasia kelam, dan perasaan yang bisa menghancurkan keduanya.

pilihan yang menyiksa

Langit sore perlahan berubah menjadi gelap, seolah turut melambangkan kegelapan yang kini menyelimuti hati Laras. Ia berjalan gontai meninggalkan ruang tamu mewah itu, kembali ke lorong rumah sakit yang terasa semakin sempit dan sesak. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah ada rantai tak terlihat yang mengikat kakinya, menariknya ke dalam dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.

Tawaran itu terus berputar di kepalanya, seperti suara yang berulang-ulang memekakkan telinga. Satu triliun rupiah

angka yang sebelumnya hanya bisa ia baca di berita atau dengar dalam percakapan orang kaya, kini tergantung di hadapannya, hanya menunggu jawaban ya atau tidak. Namun untuk mendapatkannya, ia harus membayar dengan harga yang mungkin lebih berharga dari apa pun yang bisa dibeli dengan uang: harga dirinya sendiri.

Sesampainya di ruang rawat ayahnya, Laras berusaha menyeka sisa air mata di pipinya dan memasang senyum yang setulus mungkin. Ia tidak ingin Pak Harjo melihatnya dalam keadaan hancur dan bertanya apa yang terjadi.

“Sudah selesai, Nak?” tanya ayahnya dengan suara lemah, matanya menatap putrinya dengan perhatian penuh.

Laras mengangguk pelan, mendekat dan memegang tangan ayahnya yang terasa kering dan dingin. “Sudah, Yah. Jangan khawatir, semuanya sedang diurus. Kita akan menemukan jalan keluarnya, percayalah padaku.”

Pak Harjo menatap wajah putrinya lekat, seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan itu. Ia sudah mengenal Laras seumur hidupnya, tahu kapan gadis itu menyembunyikan kesedihan demi menyelamatkan perasaan orang lain.

“Laras,” panggilnya perlahan, “dengar kata Ayah. Jika memang tidak ada jalan, biarkan saja. Nyawa Ayah tidak sebanding dengan harga dirimu. Jangan pernah melakukan hal yang akan membuatmu menyesal seumur hidup hanya demi menyelamatkan Ayah. Mengerti?”

Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Laras. Ia tertegun, lalu mengangguk sambil menahan isak tangis yang hampir meledak. “Ayah bicara apa? Tentu saja ada jalan. Saya akan cari sampai ketemu, tidak akan menyerah begitu saja.”

Namun sesungguhnya, di dalam hatinya ia sadar: jalan yang tersisa hanya satu jalan yang ditawarkan Raka Dirgantara.

Malam itu, setelah memastikan ayahnya sudah terlelap, Laras duduk di bangku taman kecil di halaman rumah sakit. Angin malam berhembus dingin menerpa wajahnya, membuatnya menggigil bukan hanya karena suhu udara, tapi juga karena ketidakpastian yang menyelimuti pikirannya.

Ia mengeluarkan kartu nama yang diberikan Raka tadi sore. Di atas kertas tebal berwarna hitam itu tertera hanya satu nama dan satu nomor telepon, dicetak dengan huruf emas yang terlihat mewah namun terasa dingin. Setiap kali ia memandangnya, ia teringat tatapan mata pria itu dingin, penuh kendali, seolah tidak ada ruang untuk emosi atau belas kasihan.

Mengapa aku? Mengapa dia memilih gadis biasa sepertiku untuk tawaran sebesar ini? pikir Laras berulang kali dalam hatinya.

Ia tidak bodoh. Ia tahu dunia tidak berjalan seperti dongeng. Jika ada yang menawarkan sesuatu yang terlalu berharga, pasti ada risiko yang sama besarnya. Satu malam itu mungkin bukan sekadar duduk dan mengobrol. Ia tahu persis apa yang tersirat di balik kalimat “menghabiskan satu malam bersamaku”. Ia adalah wanita, ia mengerti konteks itu dengan sangat jelas.

Namun jika ia menolak… apa yang akan terjadi besok? Tagihan tidak terbayar, ayahnya harus dipulangkan dalam kondisi lemah, dan tanpa perawatan rutin, nyawanya hanya tinggal hitungan minggu bahkan hari. Laras tidak sanggup membayangkan hidup tanpa ayah—satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini.

Ia mengangkat wajah menatap langit malam yang bertabur bintang. Di bawah langit yang sama, ada jutaan orang yang tidur dengan tenang, tidak perlu memikirkan pilihan seberat ini. Namun takdir justru meletakkan beban itu di pundaknya yang masih muda.

Satu malam saja. Hanya satu malam, bisik hatinya mencoba meyakinkan diri sendiri. Setelah itu semuanya selesai. Ayah akan sembuh, kita akan hidup layak, dan aku bisa melupakan semuanya seolah tidak pernah terjadi.

Namun sekeras apa pun ia mencoba meyakinkan diri, rasa takut dan malu itu tetap ada. Ia membayangkan dirinya menyerahkan tubuh dan waktunya pada pria yang bahkan tidak ia kenal sifatnya, tidak tahu apakah ia akan diperlakukan dengan hormat atau hanya dianggap sebagai barang yang dibeli.

Pikirannya melayang kembali pada kata-kata Raka tadi: “Kau terlihat bersih. Tidak ada niat tersembunyi.”

Apakah itu berarti ia hanya menginginkan ketenangan? Atau justru itu alasan yang membuatnya menjadi sasaran empuk, karena ia tidak akan berani meminta lebih setelahnya?

Laras menggenggam kartu nama itu semakin erat, sampai kuku-kukunya tertekan ke telapak tangan hingga terasa perih. Ia tahu batas waktu terus berjalan. Besok sore tawaran itu akan hilang selamanya, dan bersamanya juga harapan untuk menyelamatkan ayahnya.

“Maafkan saya, Ayah,” gumamnya pelan sambil meneteskan air mata. “Saya tidak punya pilihan lain.”

Saat matahari mulai terbit keesokan harinya, Laras sudah mengambil keputusan. Pilihan itu terasa seperti menelan duri yang menyakitkan, tapi ia sadar itu satu-satunya jalan yang tersedia. Ia tidak akan membiarkan harga diri menjadi alasan membiarkan nyawa ayahnya melayang pergi begitu saja.

Sepanjang hari itu ia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa, meski setiap detik terasa berjalan sangat lambat. Ia menjaga ayahnya, berbicara dengan nada ceria, dan berusaha menyembunyikan gejolak batin yang meluap-luap di dalam dadanya. Ia tahu, begitu matahari terbenam, hidupnya akan berubah selamanya.

Sore hari menjelang, saat langit mulai berubah menjadi warna jingga kemerahan, Laras duduk sendirian di sudut ruang tunggu. Ia memandang kartu nama itu sekali lagi, lalu dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan ponsel lama miliknya dan mulai menekan nomor yang tertera di sana.

Setiap nada dering yang terdengar terasa seperti berdentang di telinganya, membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Detik yang terasa lama itu akhirnya terputus ketika suara seorang wanita yang tenang namun tegas terdengar dari seberang sana.

“Selamat sore. Ini layanan resmi Tuan Raka Dirgantara. Ada yang bisa saya bantu?”

Laras menarik napas panjang, berusaha menenangkan suaranya agar tidak terdengar tergagap. “Saya… saya Laras Anindita. Tadi kemarin Tuan Raka bertemu dengan saya di rumah sakit. Saya ingin menyampaikan jawaban saya.”

Ada jeda sebentar, sebelum suara itu menjawab kembali. “Baik, Nona Laras. Tuan Raka sudah menunggu keputusan Anda. Apakah Anda menerima tawaran yang diajukan?”

Pertanyaan itu terasa menusuk tepat di jantungnya. Laras menutup matanya rapat-rapat, membayangkan wajah ayahnya yang lemah namun penuh harapan, lalu membayangkan masa depan yang mungkin bisa ia raih dengan uang itu. Dengan suara yang nyaris tidak terdengar, namun tegas dan pasti, ia menjawab:

“Ya. Saya terima.”

Suasana hening sejenak, lalu wanita itu kembali berbicara dengan nada datar seolah jawaban itu sudah diduga sebelumnya. “Baik. Tepat pukul enam sore, sebuah mobil akan menjemput Anda di depan gerbang rumah sakit. Jangan membawa barang banyak, cukup keperluan pribadi seperlunya. Setelah malam berakhir, semua kesepakatan akan dilaksanakan sesuai janji.”

“Baik… saya mengerti,” jawab Laras, lalu menutup telepon dengan tangan yang masih gemetar.

Ia meletakkan ponsel itu di pangkuannya, menatap kosong ke depan. Keputusan sudah diambil. Tidak ada jalan untuk mundur lagi. Ia baru saja menandatangani perjanjian tak tertulis yang akan mengikatnya pada satu malam yang mungkin akan menghantuinya seumur hidup.

Tepat saat jarum jam menunjuk angka enam, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Kendaraan itu terlihat sangat mahal, membuat orang-orang yang lewat menoleh dengan pandangan takjub. Seorang pengemudi berpakaian rapi turun, membuka pintu belakang, lalu berdiri menunggu dengan sikap hormat namun kaku.

Laras melangkah keluar dengan langkah yang terasa berat. Ia berpakaian sederhana, hanya mengenakan gaun katun berwarna krem dan membawa satu tas kain kecil berisi barang-barang penting. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menoleh ke arah gedung rumah sakit, berdoa dalam hati agar keputusannya ini benar-benar membawa kebaikan, dan agar ia memiliki kekuatan untuk melewati malam itu dengan selamat.

Begitu duduk di dalam mobil, pintu ditutup perlahan, memisahkannya dari dunia yang ia kenal selama ini. Jendela mobil tertutup rapat dan gelap, menghalangi pandangan ke luar. Laras hanya bisa duduk diam, meremas ujung bajunya, merasakan kendaraan itu melaju masuk ke jalan raya yang membawanya menuju tempat yang tidak ia ketahui, menuju malam yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Di dalam perjalanan itu, satu pertanyaan terus menghantui pikirannya: Apa sebenarnya yang akan ia hadapi malam ini? Dan apakah Raka Dirgantara akan menepati janjinya, atau justru menjeratnya ke dalam jebakan yang lebih dalam lagi?

di balik pintu kediaman

Mobil melaju terus meninggalkan kawasan rumah sakit, membelok ke jalan-jalan yang semakin sepi dan berkelok. Laras duduk menekan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap lurus ke depan, namun pandangannya kosong. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras sampai ia merasa suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri. Setiap detik yang berlalu terasa semakin mendekatkannya pada sesuatu yang ia takuti sekaligus harapkan.

Pengemudi itu tetap diam sepanjang perjalanan, tidak berbicara sepatah kata pun, hanya fokus mengemudi. Kesunyian di dalam mobil terasa menyesakkan, membuat pikiran Laras semakin liar berkelana. Ia membayangkan berbagai kemungkinan apakah ia akan dibawa ke tempat yang asing dan terpencil? Apakah Raka akan memperlakukannya dengan kasar, atau justru bersikap dingin tanpa emosi seperti yang terlihat saat pertama kali bertemu?

Lebih dari empat puluh menit kemudian, mobil mulai melambat. Jalan raya yang luas berubah menjadi jalan masuk yang dipagari tembok tinggi, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang rapi sepanjang sisi kanan dan kiri. Cahaya lampu jalan yang lembut menerangi jalur itu, menciptakan suasana yang tenang namun juga terasa terasing dari hiruk pikuk kota.

Sesampainya di gerbang utama yang besar dan kokoh, dua penjaga berseragam rapi segera mendekat. Setelah memeriksa identitas dan mengenali nomor kendaraan, gerbang besi itu terbuka perlahan dengan suara gesekan halus, mempersilakan mobil masuk ke dalam kawasan yang terlihat sangat luas.

Hati Laras terasa semakin berdebar. Dari balik jendela yang sedikit terbuka, ia bisa melihat hamparan taman yang terawat sempurna, kolam air mancur yang tenang, dan pepohonan yang sudah berusia puluhan tahun. Jauh di ujung jalan itu, berdiri sebuah bangunan besar bergaya klasik modern, bercat putih bersih dengan atap tinggi dan banyak jendela yang memancarkan cahaya hangat dari dalamnya. Itulah kediaman Raka Dirgantara—tempat yang konon dijaga sangat ketat, tidak sembarang orang bisa melangkahkan kakinya.

Mobil berhenti tepat di depan tangga utama. Pengemudi segera turun dan membukakan pintu untuk Laras dengan sikap hormat.

“Silakan turun, Nona. Tuan Raka sudah menunggu di dalam,” ucapnya singkat.

Dengan kaki yang terasa sedikit lemas, Laras melangkah turun. Udara malam di sini terasa lebih sejuk dan bersih, membawa aroma bunga melati dan tanah basah yang menenangkan, namun tidak mampu meredakan kegelisahan yang melanda hatinya. Ia menggenggam erat tali tas kainnya, mengikuti langkah pelayan rumah yang sudah berdiri menunggu di depan pintu.

Begitu pintu utama terbuka, suasana mewah namun tenang langsung menyambutnya. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menjuntai tinggi dari langit-langit. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernilai tinggi, dan perabotan yang terlihat mahal tersusun rapi tanpa terasa berlebihan. Di sini terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berjalan teratur.

“Silakan ikuti saya, Nona,” ajak pelayan itu, lalu berjalan mendahului Laras menuju ruang tengah yang lebih luas lagi.

Saat melangkah masuk, pandangan Laras langsung tertuju pada sosok yang sudah ia kenal. Raka Dirgantara sedang berdiri di dekat perapian yang masih menyala lembut, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan kancing atas terbuka, tampak lebih santai dibandingkan saat bertemu di rumah sakit, namun tetap memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.

Mendengar langkah kaki, Raka menoleh perlahan. Tatapan matanya yang gelap dan tajam langsung jatuh menatap Laras, membuat gadis itu secara tidak sadar berhenti melangkah dan menundukkan kepala. Ia merasa seperti sedang diteliti dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah Raka sedang memastikan bahwa ia tidak membawa niat buruk apa pun masuk ke dalam rumahnya.

“Masuklah,” kata Raka dengan nada tenang, lalu melambaikan tangan memberi isyarat agar pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.

Begitu hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu, suasana menjadi semakin hening. Laras berdiri kaku di ambang pintu, tidak berani bergerak sembarangan, rasa takut dan malu perlahan merayap masuk ke dalam dirinya. Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan pria yang memiliki segalanya ini.

“Sudah memutuskan dengan pasti?” tanya Raka memecah keheningan, berjalan mendekat perlahan hingga berjarak sekitar dua meter dari Laras. “Ingat, jika kau ingin mundur sekarang, masih ada kesempatan. Aku tidak akan memaksamu, dan biaya pengobatan ayahmu akan tetap ditanggung sebagai bentuk rasa hormat atas kejujuranmu.”

Kalimat itu membuat Laras terkejut dan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Raka dengan pandangan bingung. Ia tidak menyangka akan mendengar tawaran seperti itu. Mengapa pria ini memberinya jalan keluar lagi, padahal ia tahu posisinya sedang terdesak?

“Tapi… mengapa Tuan melakukan itu?” tanya Laras dengan suara bergetar. “Jika saya mundur, Tuan tidak akan mendapatkan apa pun sebagai gantinya.”

Sudut bibir Raka terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. “Karena aku tidak ingin kau menjalani malam ini dengan perasaan dipaksa. Jika kau melakukannya hanya karena terjepit keadaan, maka kesepakatan ini tidak ada gunanya bagiku. Aku butuh seseorang yang datang dengan keputusan sadar, bukan dengan rasa benci atau tertekan.”

Laras terdiam mendengar penjelasan itu. Pikirannya kembali berputar, namun kali ini lebih tenang. Ia mengingat wajah ayahnya yang lemah, mengingat tagihan yang menanti, dan mengingat masa depan yang masih tergantung di ujung jalan. Ia menggeleng perlahan, lalu menegakkan punggungnya sekuat tenaga.

“Saya tidak akan mundur, Tuan,” jawabnya dengan suara yang mulai mantap. “Saya sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Saya menerima tawaran itu. Satu malam, dan semuanya selesai sesuai janji.”

Raka menatapnya dalam-dalam selama beberapa detik, seolah membaca kebenaran di balik tatapan gadis itu. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju meja panjang di sisi ruangan. Di atas meja itu sudah tergeletak sebuah dokumen yang dicetak rapi dan dua pena emas.

“Baiklah. Sebelum kita mulai, ada hal yang harus kita luruskan terlebih dahulu,” kata Raka sambil duduk dan memberi isyarat agar Laras duduk di seberangnya. “Ini adalah perjanjian tertulis yang mencatat semua kesepakatan kita. Baca dengan teliti sebelum menandatanganinya.”

Laras mendekat dengan hati-hati, lalu duduk di ujung kursi. Ia mengambil lembaran kertas itu dan membacanya dengan cermat, jari-jarinya menelusuri setiap baris tulisan. Isinya jelas dan lugas: Raka akan menanggung seluruh biaya pengobatan, perawatan lanjutan, serta memberikan sejumlah satu triliun rupiah setelah malam itu berakhir. Sebagai gantinya, Laras akan menghabiskan waktu dari matahari terbenam hingga terbit tanpa menuntut hal lain, dan setelah itu tidak ada hubungan apa pun lagi di antara mereka. Tidak ada kewajiban untuk saling bertemu, tidak ada hak untuk menuntut warisan atau kedudukan, semuanya selesai sepenuhnya.

Setelah membaca sampai akhir, Laras menghela napas panjang. Tidak ada klausul tersembunyi, tidak ada jebakan tertulis, semuanya terbuka. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Raka.

“Saya sudah membacanya. Semuanya sesuai dengan apa yang Tuan katakan,” ujarnya.

“Bagus. Tanda tangani di tempat yang disediakan,” perintah Raka tenang.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Laras mengambil pena dan menandatangani namanya di bagian bawah dokumen. Begitu tinta mengering, Raka juga menandatanganinya sebagai tanda persetujuan dari pihaknya. Ia melipat dokumen itu dan menyimpannya di dalam amplop, lalu mendorongnya ke arah Laras.

“Satu salinan ini untuk kau simpan sebagai bukti. Tidak ada yang bisa mengingkari apa yang sudah tertulis di sini,” katanya tegas.

Laras menerima amplop itu dengan rasa campur aduk. Kini secara resmi ia sudah terikat pada kesepakatan itu. Tidak ada jalan mundur lagi.

Raka berdiri kembali, menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Sekarang, mari kita luruskan satu hal lagi agar tidak ada kesalahpahaman sepanjang malam ini. Selama di sini, kau boleh berbicara, bertanya, bergerak bebas selama tidak melanggar aturan dasar rumah ini. Namun ingat satu hal: jangan mencoba mencari tahu urusan pribadiku, jangan membuka laci atau ruangan yang tidak diperbolehkan, dan jangan berharap lebih dari apa yang sudah disepakati. Mengerti?”

“Saya mengerti, Tuan,” jawab Laras singkat.

Raka mengangguk puas. “Baik. Malam ini kita tidak akan melakukan apa yang mungkin kau bayangkan selama ini. Aku tidak akan memaksamu melakukan hal yang melukai harga dirimu. Aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku, mendengarkan, dan menjadi teman bicara selama malam ini. Tidak ada sentuhan yang tidak dikehendaki, tidak ada paksaan apa pun.”

Kalimat itu membuat Laras tertegun dan matanya terbelalak kaget. “Tapi… apa maksud Tuan? Bukankah tawaran ini untuk…”

“Untuk menghabiskan satu malam bersamaku,” potong Raka tenang, namun suaranya tidak keras. “Bukan berarti harus melibatkan keintiman fisik. Itu hanya asumsi orang kebanyakan. Alasanku memilihmu bukan karena penampilanmu, tapi karena ketulusan yang terlihat di matamu. Aku hanya butuh ketenangan yang sudah lama tidak aku rasakan. Dan itu tidak butuh hal lain selain kehadiran seseorang yang tidak melihatku hanya sebagai orang kaya atau berkuasa.”

Laras terdiam terpaku. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa kenyataannya akan berbeda jauh dari apa yang ia bayangkan selama ini. Beban berat yang terasa menekan dadanya perlahan terangkat sedikit, digantikan oleh rasa bingung yang semakin besar. Mengapa seseorang setingkat Raka Dirgantara rela mengeluarkan uang sebesar satu triliun rupiah hanya untuk ditemani mengobrol semalam? Pasti ada alasan lain yang tersembunyi di balik semua ini, pikirnya.

Namun apa pun alasannya, fakta bahwa ia tidak harus menyerahkan tubuhnya membuat rasa takut itu perlahan berkurang. Setidaknya ia masih bisa mempertahankan harga dirinya, dan tetap mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk menyelamatkan ayahnya.

“Jadi… saya hanya perlu duduk dan menemanimu bicara sepanjang malam?” tanya Laras memastikan sekali lagi.

“Tepat sekali,” jawab Raka dengan pandangan tenang. “Tapi ingat, rahasia apa pun yang kau dengar atau lihat malam ini harus tetap tersimpan rapat di hatimu. Jika sampai bocor ke telinga orang luar, maka kesepakatan ini batal, dan konsekuensinya akan jauh lebih berat daripada apa yang kau bayangkan. Bisa kau janjikan itu?”

Laras mengangguk mantap. “Saya janji. Mulai sekarang sampai selamanya, apa pun yang terjadi malam ini akan tetap menjadi rahasia saya sendiri.”

Raka tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa lebih hangat dari sebelumnya. Ia berjalan mendekat ke meja samping perapian, menuangkan dua gelas minuman hangat, lalu menyerahkan satu gelas itu pada Laras.

“Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai malam ini. Waktunya masih panjang, dan ada banyak hal yang mungkin ingin kau tanyakan… atau mungkin aku yang butuh didengarkan.”

Laras menerima gelas itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap wajah Raka yang terlihat lebih manusiawi dalam cahaya api perapian itu, perlahan menyadari bahwa malam ini mungkin akan membawanya pada jawaban-jawaban yang selama ini tersembunyi, dan membuatnya mengenal sisi lain dari Raka Dirgantara yang tidak pernah diketahui dunia luar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!