Bab 1
Surat Pelepasan
Pagi itu, udara Jakarta belum sempat terang, tapi bayi di pelukan Nikita sudah menangis seolah seluruh rumah sedang mengusirnya.
Jam dinding di ruang tamu Keluarga Permadi baru menunjuk pukul enam. Kipas angin tua berputar lambat, tidak cukup mengusir hawa lembap. Di depan Nikita, tiga pasang mata menatapnya seperti ia bukan manusia, melainkan noda yang jatuh di lantai marmer.
Bayi itu menggeliat dalam bedong tipis. Wajahnya merah. Jari-jarinya yang mungil mencengkeram ujung kaus Nikita, seolah hanya kain murah itu yang bisa menahannya dari dunia yang terlalu keras.
Nikita merapatkan bayi itu ke dada.
Lengan kirinya terbuka sedikit ketika ia membenarkan bedong. Di bawah cahaya lampu ruang tamu, bekas luka pucat memanjang di kulitnya terlihat jelas. Tidak menonjol, tidak berdarah, tapi cukup untuk membuat siapa pun tahu bahwa luka itu tidak lahir dari kecelakaan kecil.
"Jadi ini yang kau bawa pulang?" Suara Bagus Permadi terdengar rendah, kasar, penuh jijik. Ia berdiri di depan sofa dengan sarung masih melilit pinggang, rambutnya belum disisir, tapi matanya sudah siap menghakimi. "Anak haram?"
Tangisan bayi itu tersendat. Nikita menunduk, menepuk punggung mungilnya dengan ritme pelan.
"Namanya Sisi," kata Nikita.
"Aku tidak tanya namanya!" Bagus membentak.
Sri Rahayu, yang duduk di sofa dengan daster mahal dan gelang emas di pergelangan tangannya, mencibir. "Baru sembilan belas tahun sudah pulang bawa bayi. Dasar tidak tahu malu. Kalau tetangga dengar, muka kami taruh di mana?"
Di sebelah Sri, Dewi Permadi memeluk bantal sofa sambil tersenyum tipis. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya masih halus karena tidur cukup. Ia menatap Sisi seperti melihat barang kotor yang salah masuk rumah.
"Kak Nikita," ucap Dewi manis, terlalu manis untuk pagi sepagi itu, "kalau memang kamu punya masalah, kenapa harus bawa pulang? Kasihan Papa. Kasihan Mama."
Kata "kasihan" dari mulut Dewi membuat jari Nikita berhenti sekejap di punggung Sisi.
Tiga hari lalu, tepat setelah ulang tahunnya yang kesembilan belas, sebuah kotak bayi ditinggalkan di depan kos kecil tempat Nikita biasa tidur setelah kerja paruh waktu. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada selembar laporan tes DNA yang dilipat rapi dalam map plastik, satu botol susu, dan bayi perempuan yang menangis sampai napasnya putus-putus.
Di laporan itu tertulis jelas, kecocokan biologis ibu dan anak.
Nikita membaca kalimat itu berulang kali sampai matanya perih. Ibu dan anak. Dia dan bayi ini. Padahal ia tidak pernah hamil. Tidak pernah melahirkan. Bahkan tidak pernah menyerahkan tubuhnya pada laki-laki mana pun.
Namun satu hal jelas. Bayi ini hidup. Bayi ini memegang jarinya. Dan ketika semua orang melihat Sisi sebagai aib, Nikita justru melihat bayi itu sebagai seseorang yang juga dibuang tanpa sempat memilih.
Sama seperti dirinya dulu.
"Pak Bagus," Nikita berkata, suaranya tidak tinggi, "jangan sebut dia begitu."
Bagus tertawa pendek. "Jangan? Kau masih berani melarangku di rumahku sendiri?"
"Kalau Bapak menghina saya, saya diam. Tapi jangan hina bayi ini."
Sri memukul sandaran sofa. "Dengar, Gus? Anak pungut ini sudah mulai mengajari orang tua!"
Kata anak pungut tidak lagi menyakitkan seperti dulu. Tubuh Nikita sudah terlalu hafal menerima pukulan dari kata-kata itu. Yang tersisa hanya rasa dingin di dalam dada, cukup dingin untuk membuatnya berdiri tegak meski semalaman tidak tidur.
Pak Liem, pengurus rumah tua itu, berdiri di dekat pintu lorong. Matanya menunduk. Tangannya yang keriput meremas lap piring. Seperti biasa, ia melihat semuanya, tapi tidak punya tempat untuk bicara.
Bagus menunjuk pintu. "Buang bayi itu. Sekarang. Taruh di panti asuhan, masjid, kantor polisi, mana saja. Aku tidak mau ada anak haram di rumah ini."
Nikita mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya pagi itu, matanya benar-benar menatap Bagus.
"Coba sentuh dia," katanya pelan, "dan saya pastikan Bapak menyesal."
Ruang tamu mendadak senyap.
Bagus tertegun satu detik, lalu wajahnya memerah. "Kau mengancamku?"
"Saya memperingatkan."
Tangan Sri terangkat. Gerakannya cepat, terlalu akrab bagi tubuh Nikita.
Sekejap, usia Nikita seperti terseret mundur ke umur delapan tahun.
Hari itu ia menumpahkan segelas susu milik Dewi. Bukan sengaja. Dewi menyenggol sikunya lebih dulu, lalu menangis sebelum Nikita sempat bicara. Sri mengambil gantungan baju dari kamar belakang. Punggung tangan Nikita dihantam sampai gantungan plastik itu patah. Dewi berdiri di balik kaki meja, memegang gelas baru, lalu menjulurkan lidah kepadanya.
"Anak tidak berguna," kata Sri waktu itu. "Susu Dewi lebih mahal daripada seluruh hidupmu."
Kini, tangan Sri berhenti di udara karena Nikita tidak mundur.
Nikita hanya menatapnya. Tenang. Terlalu tenang.
"Pukul saya," ucap Nikita, "dan pengacara yang saya panggil akan mencatatnya sebagai kekerasan."
Mata Sri membelalak. "Pengacara?"
Seolah menunggu kalimat itu, bel rumah berbunyi.
Pak Liem tersentak. Bagus menoleh tajam. Dewi menegakkan badan, senyumnya menghilang untuk pertama kalinya.
"Pak Liem," kata Nikita, "tolong buka pintu."
Bagus membentak, "Jangan!"
Tapi Pak Liem sudah bergerak. Suara Nikita sederhana, datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat orang tua itu menurut.
Beberapa detik kemudian, seorang pria berkemeja putih masuk membawa map cokelat dan tas dokumen hitam. Ia membungkuk singkat.
"Selamat pagi. Saya pengacara yang dihubungi Mbak Nikita."
"Mbak?" Sri mendengus. "Dia tidak punya uang untuk bayar pengacara. Jangan-jangan kamu teman kampusnya?"
Pria itu tidak terpancing. "Saya datang untuk menjadi saksi penandatanganan dokumen dan memastikan tidak ada paksaan dari pihak mana pun."
Dewi menyipitkan mata. "Dokumen apa?"
Nikita menggeser Sisi ke satu lengan, lalu mengambil map dari tas kain lusuh yang sejak tadi tergantung di bahunya. Map itu tampak terlalu rapi untuk tas yang sudah sobek di bagian bawah. Di atas kertas pertama, huruf tebal terbaca jelas.
Surat Pelepasan Hak.
Bagus merampas kertas itu sebelum pengacara sempat meletakkannya di meja. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris. Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung, lalu kembali marah.
"Apa-apaan ini?"
"Surat bahwa saya melepaskan semua hubungan hak dan kewajiban dengan Keluarga Permadi," jawab Nikita. "Saya tidak akan memakai nama Permadi. Saya tidak akan menuntut warisan, nafkah, biaya hidup, atau apa pun dari rumah ini. Sebagai gantinya, Keluarga Permadi tidak punya hak mengatur hidup saya, menjual saya, menikahkan saya, atau mengklaim saya ketika nanti saya berguna."
Kata terakhir jatuh pelan, tapi terasa seperti gelas retak di lantai.
Dewi tertawa kecil, kali ini suaranya dibuat ringan. "Kak, jangan sok dramatis. Tidak ada yang mau menjualmu."
Nikita menoleh kepadanya. "Tidak?"
Dewi mengangkat bahu. "Yah, kalaupun ada, itu demi kebaikanmu. Pak Liem juga tahu, ada Pak Rahmat dari Serpong. Duda, mapan, rumahnya besar. Memang usianya sudah lima puluh lebih, tapi dia bisa menerima perempuan yang... punya masa lalu."
Nikita tidak menjawab.
"Tiga istrinya meninggal karena sakit, bukan karena apa-apa," lanjut Dewi, pura-pura polos. "Kamu harus bersyukur masih ada laki-laki yang mau. Daripada bawa bayi tanpa ayah seperti ini."
Udara di ruang tamu terasa makin lembap. Aroma tanah basah masuk lewat celah jendela.
Bau itu menusuk ingatan Nikita.
Umur lima tahun, hujan turun deras. Ia berdiri di balkon belakang, terkunci dari dalam. Bajunya basah sampai kulitnya menggigil. Di balik pintu kaca, Dewi duduk di pangkuan Sri, memakan kue ulang tahun berkrim merah muda. Nikita mengetuk kaca sampai buku jarinya sakit.
"Mama," panggilnya waktu itu.
Sri hanya menoleh sebentar. "Anak pungut jangan ikut acara keluarga."
Malam itu, Nikita belajar bahwa pintu bisa tertutup dari dalam bahkan ketika orang yang kau panggil ibu berada tepat di baliknya.
Sekarang, pintu yang sama ada di hadapannya. Bedanya, kali ini ia yang memegang kuncinya.
Sri bangkit. "Bagus, jangan dengarkan omong kosongnya. Sebelum pergi, dia harus bayar semua biaya kami membesarkannya. Makan, sekolah, obat, listrik, semuanya. Jangan sampai dia keluar dari rumah ini seolah kami yang jahat."
Bagus langsung menangkap peluang itu. Ia melempar kertas ke meja dan tersenyum menghina. "Benar. Kau mau putus hubungan? Bisa. Bayar dulu biaya membesarkanmu. Dua miliar rupiah."
Dewi menutup mulut, menahan tawa. "Papa, terlalu murah. Tapi untuk Kak Nikita, itu juga mustahil."
Sri melipat tangan di dada. "Kalau tidak sanggup, taruh bayi itu, masuk kamar, dan besok ikut Mama menemui Pak Rahmat."
Sisi menangis lagi, lebih keras. Mungkin lapar. Mungkin takut. Mungkin hanya merasakan dada Nikita yang tiba-tiba menjadi kaku.
Nikita mencium kening bayi itu. Panas tubuh Sisi membuat matanya sedikit perih, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
"Pengacara," katanya, "tolong siapkan pasal tambahan. Pembayaran dua miliar rupiah sebagai penyelesaian akhir. Setelah dana diterima, tidak ada tuntutan apa pun dari pihak Permadi terhadap saya dan anak ini."
Bagus tertawa keras. "Dengar dia! Dua miliar, katanya seperti beli gorengan."
Pengacara itu membuka map, mengeluarkan lembar tambahan yang sudah disiapkan. Jelas sekali Nikita telah memikirkan kemungkinan ini sebelum datang.
Tawa Bagus tersendat.
Nikita duduk di kursi tunggal, masih menggendong Sisi. Dengan satu tangan, ia mengambil pena. Tanda tangannya kecil, tegas, tanpa goresan ragu. Setelah itu ia menekan ibu jarinya pada bantalan tinta, lalu membubuhkan cap di atas meterai.
Sri menatapnya seolah melihat orang asing.
"Dari mana kamu belajar semua ini?" bisiknya.
Nikita tidak menjawab. Ia membuka ponsel murahnya. Layarnya retak di pojok kanan, tapi aplikasi m-banking di dalamnya berjalan mulus. Jari-jarinya bergerak cepat memasukkan nomor rekening yang diberikan pengacara sebagai rekening penerima. Nominalnya ia ketik tanpa jeda.
2.000.000.000.
Dewi berdiri. "Tidak mungkin."
Bagus maju satu langkah. "Kau mencuri?"
"Kalau Bapak yakin, silakan lapor polisi," kata Nikita.
Kode OTP masuk. Nikita membacanya sekali, mengetik, lalu menekan tombol konfirmasi.
Beberapa detik yang terlalu panjang berlalu.
Sisi berhenti menangis. Hanya napas kecilnya yang terdengar di sela putaran kipas angin.
Layar ponsel menampilkan notifikasi hijau.
Transfer berhasil.
Pengacara menerima pesan masuk di ponselnya hampir bersamaan. Ia mengecek, lalu mengangguk. "Dana dua miliar rupiah telah masuk ke rekening penyelesaian. Dokumen sah sebagai kesepakatan para pihak, dengan saksi."
Tidak ada yang bicara.
Bagus menatap layar ponsel Nikita seperti angka di sana menampar wajahnya. Sri mencengkeram sandaran sofa sampai buku jarinya memutih. Dewi kehilangan senyum manisnya. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kalimat yang keluar.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun hidup Nikita di rumah itu, mereka melihatnya bukan sebagai anak pungut yang bisa disuruh diam.
Mereka melihat celah yang selama ini mereka abaikan.
Nikita melipat salinan surat, memasukkannya ke dalam tas. Salinan lain tetap dipegang pengacara.
"Mulai pagi ini," katanya, "saya bukan anak Keluarga Permadi. Sisi juga tidak ada hubungan apa pun dengan kalian."
Sri tersentak ketika mendengar nama bayi itu disebut sejajar dengan mereka. "Kau akan menyesal, Nikita. Di luar sana, siapa yang mau menerima perempuan dengan bayi tanpa ayah?"
Nikita berdiri. Sisi tertidur lagi, pipinya menempel di dada Nikita, napasnya lembut dan hangat.
"Lebih baik tidak diterima siapa pun," jawab Nikita, "daripada diterima rumah yang setiap hari mengajari saya bahwa kasih sayang harus dibayar dengan darah."
Pak Liem menunduk lebih dalam. Bahunya bergetar sedikit.
Nikita berjalan melewati mereka. Sandal tipisnya menyentuh lantai marmer yang pernah ia pel berkali-kali saat Dewi belajar piano di ruang tengah. Di pintu, ia berhenti sebentar karena Sisi menggeliat.
Ia membetulkan bedong bayi itu, menutupi telinganya dari suara rumah yang tidak pantas menjadi ingatan pertama.
Di luar, langit Jakarta mulai berubah abu-abu muda. Sebuah taksi online berhenti di depan pagar. Sopirnya turun untuk membantu membuka pintu belakang, lalu terdiam ketika melihat bayi dalam pelukan Nikita.
"Ke mana, Mbak?"
Nikita menatap rumah itu untuk terakhir kali.
Tidak ada wajah yang ia rindukan di sana. Tidak ada pelukan yang tertinggal. Hanya pintu, dinding, dan suara masa kecil yang akhirnya berhenti mengejarnya.
"Ke tempat yang aman," katanya.
Pintu mobil tertutup. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk memutus sesuatu yang selama ini mengikatnya.
Di dalam rumah, Bagus baru tersadar ketika deru mobil menjauh dari pagar.
"Anak itu..." Ia menyambar ponselnya dari meja, wajahnya masih merah antara malu dan marah. "Dua miliar. Dari mana dia punya dua miliar?"
Dewi menggigit bibir. "Papa, jangan-jangan dia punya simpanan lain?"
"Diam!" bentak Bagus.
Ia membuka aplikasi sahamnya dengan tangan gemetar. Sejak semalam ia menunggu pasar bergerak naik. Ada posisi besar yang ia pasang setelah mendengar bisikan dari grup investor. Uang itu seharusnya menjadi jalan pintas untuk menggandakan modal.
Namun begitu layar terbuka, warna merah memenuhi portofolionya.
Satu per satu saham yang ia pegang jatuh dalam, seolah seseorang menarik lantai dari bawah kakinya. Bagus menekan refresh berkali-kali, tapi angka itu tidak berubah. Malah makin buruk.
Sri mendekat. "Gus, kenapa?"
Bagus tidak menjawab. Matanya melekat pada satu angka yang membuat tenggorokannya tercekat.
Angka merah itu berhenti di minus 1,8 miliar rupiah.
Bab 2
Kembali ke Jakarta
Lima tahun setelah angka merah itu membuat Bagus Permadi kehilangan napas, Nikita kembali menginjak Jakarta dengan koper hitam di satu tangan dan seorang anak perempuan kecil di sisi lainnya.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3 ramai seperti biasa. Suara roda koper bergesekan dengan lantai, pengumuman penerbangan berganti-ganti di pengeras suara, aroma kopi dari kafe dekat pintu kedatangan bercampur dengan wangi parfum orang-orang yang baru turun dari pesawat.
Nikita berjalan di antara keramaian itu dengan langkah tenang. Rambut hitamnya diikat rendah. Kemeja putih polos dan celana panjang hitam membuatnya terlihat sederhana, tetapi ada jarak tak terlihat yang membuat orang-orang refleks menyingkir saat ia lewat.
Di sampingnya, Sisi tidak bisa diam.
"Mami, itu pesawatnya besar banget! Kalau Sisi berdiri di atas sayapnya, bisa lihat rumah kita nggak?"
Nikita menunduk. Wajah dinginnya melembut setipis napas.
"Kalau kamu berdiri di atas sayap pesawat, Mami yang pertama kena serangan jantung."
Sisi langsung menutup mulut dengan dua tangan kecilnya, lalu tertawa. Gaun kuning lembutnya bergerak-gerak setiap kali ia melompat kecil. Rambutnya diikat dua dengan pita putih, matanya bulat dan cerah, seperti Jakarta tidak pernah punya debu, tidak pernah punya luka.
"Berarti Sisi jangan berdiri. Sisi duduk aja. Tapi tetap di sayap."
"Sisi."
"Iya, Mami. Bercanda."
Nikita meremas jemari kecil itu. Lima tahun lalu, ia membawa bayi yang menangis keluar dari rumah Permadi tanpa tahu harus ke mana. Hari ini, bayi itu berjalan di sampingnya, cerewet, sehat, dan terlalu manis untuk dunia yang pernah mencoba membuangnya.
Alasan Nikita pulang bukan untuk bernostalgia.
Lidia, ibu angkat yang pernah benar-benar menyayanginya sebelum meninggal, tidak mati wajar. Laporan lama terlalu bersih, saksi terlalu sedikit, dan Bagus terlalu cepat menikahi Sri setelah pemakaman. Selain itu, asal-usul Sisi masih tertutup kabut. DNA mengatakan mereka ibu dan anak, tetapi lima tahun penyelidikan belum memberi jawaban yang utuh.
Jakarta menyimpan dua utang untuknya.
Kematian Lidia.
Dan kelahiran Sisi.
Ponsel Nikita bergetar.
Nama Satria muncul di layar.
Nikita mengangkat panggilan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang Sisi.
"Nona, maaf mengganggu. Posisi saham tambang yang kemarin diburu grup itu tiba-tiba digoreng lawan. Kalau kita ikut arus, mereka bisa menjebak dana ritel sampai sore."
Suara Satria di seberang terdengar cepat, tetapi tetap terkendali. Di belakangnya ada ketukan keyboard dan suara orang berbicara pelan.
Nikita melirik papan penunjuk arah di atas kepala. "Kode?"
Satria menyebutkan tiga huruf.
Nikita berhenti sebentar di dekat tiang, matanya menajam seolah melihat grafik yang tidak ada di depannya. Hanya tiga detik.
"Batalkan. Tambah. Angkat."
Di seberang, Satria hening sesaat.
"Dipahami."
"Jangan biarkan mereka tutup di bawah garis tengah."
"Siap, Nona."
Panggilan berakhir. Sisi mendongak penuh rasa ingin tahu.
"Mami ngomong apa tadi? Batalkan, tambah, angkat. Itu mantra?"
"Bukan."
"Kalau Sisi ucapkan, bisa dapat es krim?"
"Tidak."
"Kalau Sisi ucapkan sambil tersenyum?"
Nikita menatap wajah kecil yang sengaja dibuat paling imut sedunia itu. Sudut bibirnya bergerak tipis.
"Nanti setelah sampai hotel."
"Yes!"
Kegembiraan Sisi belum selesai ketika suara teriakan memecah keramaian di sisi kanan aula kedatangan.
Orang-orang berhamburan.
Seorang pria bertubuh besar mengenakan jaket hitam mundur sambil menyeret anak laki-laki kecil. Tangan kirinya mengunci leher anak itu, tangan kanannya memegang pistol yang ditempelkan ke pelipisnya. Wajah pria itu berkeringat deras. Matanya liar. Di belakangnya, beberapa pria berpakaian biasa bergerak hati-hati, tetapi posisi mereka terlalu jelas untuk disebut penumpang biasa.
"Mundur!" teriak pria itu. "Satu langkah lagi, anak ini mati!"
Keramaian berubah menjadi kepanikan. Seorang ibu menjerit. Koper terbalik. Petugas keamanan mengangkat tangan, mencoba menenangkan orang-orang. Papan iklan digital di atas kepala tetap menampilkan promo kartu kredit, terlalu terang untuk suasana yang tiba-tiba mencekik.
Nikita menarik Sisi ke belakang tubuhnya.
"Mami..." Suara Sisi mengecil.
"Pegang koper. Jangan lepas dari tiang ini."
Sisi langsung memeluk gagang koper dengan dua tangan. Bibir kecilnya mengerucut, tetapi ia tidak menangis.
Anak laki-laki yang disandera itu mungkin seusia Sisi. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak memberontak. Ada bekas merah di lehernya karena kuncian pria itu terlalu kuat. Di bajunya, pin kecil bertuliskan Hiram miring hampir lepas.
Nikita membaca keadaan dalam satu tarikan napas.
Tiga polisi berpakaian sipil.
Dua pintu keluar.
Jarak dua belas langkah.
Pria itu kidal atau pura-pura kidal? Tidak. Jari telunjuk kanan sudah terlalu kaku di pelatuk. Ia panik, bukan profesional. Orang seperti itu paling berbahaya karena tangannya bisa bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
"Naga!" salah satu pria berpakaian sipil berseru. "Lepaskan anak itu. Jalan keluar bandara sudah ditutup."
Nama itu membuat beberapa petugas saling pandang.
Naga. Buronan narkoba yang fotonya beberapa hari terakhir tersebar di berita, pemimpin jaringan kecil yang lari setelah penggerebekan gudang di Tangerang. Nikita pernah melihat wajahnya di laporan yang dikirim Satria, bukan karena ia peduli pada berita kriminal, tetapi karena salah satu aliran dana jaringan itu pernah menyentuh rekening yang sedang ia telusuri.
Naga tertawa serak. "Kalau jalan keluar ditutup, buka! Atau otak anak ini pecah di sini!"
Anak laki-laki itu memejamkan mata.
Di saat yang sama, dada Nikita terasa ditarik sesuatu yang sangat tipis.
Rasa itu datang tanpa alasan. Sama seperti lima tahun lalu ketika ia pertama kali menyentuh jari Sisi di dalam bedong. Asing, tetapi dekat. Tidak masuk akal, tetapi terlalu nyata untuk diabaikan.
Nikita melepas tangan dari koper.
"Mami?" bisik Sisi.
"Tutup mata kalau Mami bilang tutup."
Sisi menelan ludah, lalu mengangguk.
Nikita berjalan.
Tidak cepat. Tidak mencolok. Ia bergerak seperti penumpang yang salah arah, melewati seorang pria yang panik memungut paspornya, lalu berhenti hanya satu langkah di belakang bahu kanan Naga.
Seorang polisi melihatnya. Matanya membesar.
Naga menyadari bayangan di belakangnya setengah detik terlambat.
Nikita menepuk bahunya.
"Pak."
Refleks manusia selalu jujur. Naga menoleh.
Pada detik itulah Nikita bergerak.
Pergelangan tangan yang memegang pistol dipelintir ke luar. Ujung pistol terangkat menjauh dari kepala Hiram. Lutut Nikita menghantam pergelangan kakinya, membuat pusat berat tubuh Naga runtuh. Sebelum pria itu sempat berteriak, satu pukulan pendek masuk tepat ke tulang bawah matanya.
Pistol jatuh.
Nikita menendangnya jauh ke arah polisi.
Naga masih mencoba menarik Hiram, tetapi tangan Nikita sudah menyambar kerah belakang anak itu, mendorong tubuh kecilnya ke belakang, lalu memutar pinggul. Kaki kanannya menghantam dada Naga.
Pria besar itu terlempar ke lantai.
Semuanya terjadi kurang dari sepuluh detik.
Baru setelah polisi menerjang dan memborgol Naga, keramaian seperti ingat cara bernapas. Teriakan pecah. Ada yang menangis. Ada yang mengangkat ponsel. Petugas bandara berlari memblokir orang-orang yang mendekat.
Nikita tidak melihat mereka.
Ia berjongkok di depan Hiram.
Anak laki-laki itu menatapnya. Wajahnya masih putih, napasnya pendek-pendek. Biasanya anak yang baru diselamatkan akan menjerit atau mencari keluarganya, tetapi Hiram hanya berdiri kaku, seolah seluruh tubuhnya belum percaya bahwa bahaya sudah lewat.
"Kamu terluka?" tanya Nikita.
Hiram menggeleng kecil.
"Namamu Hiram?"
Jari kecilnya menyentuh pin di dada, lalu ia mengangguk.
Nikita hendak berdiri, tetapi Hiram tiba-tiba menggenggam ujung lengan bajunya.
Gerakan itu sangat pelan.
Namun cukup membuat mata seorang pria muda di belakang petugas membelalak. Pria itu baru datang berlari, napasnya berantakan, wajahnya tampan tetapi tampak sangat panik.
"Hiram!"
Hiram tidak menoleh. Tangannya tetap memegang baju Nikita.
Nikita merasakan telapak kecil itu dingin. Tanpa berpikir terlalu lama, ia mengangkat Hiram ke dalam pelukannya. Anak itu menegang sebentar, lalu wajahnya pelan-pelan jatuh ke bahu Nikita.
Di belakangnya, Sisi berlari dengan koper yang hampir lebih besar dari tubuhnya.
"Mami! Sisi buka mata sekarang boleh?"
Nikita menahan Hiram dengan satu tangan, lalu meraih Sisi dengan tangan lainnya.
"Boleh."
Sisi melihat anak laki-laki di pelukan Nikita. Matanya langsung melebar.
"Wah, Mami dapat anak baru?"
Beberapa orang yang tegang tanpa sadar tertawa kecil.
Nikita menatapnya.
Sisi cepat-cepat melipat tangan di dada. "Maksud Sisi, Mami menyelamatkan anak baru. Bukan mengambil."
Pria muda yang tadi berlari menghampiri mereka. Usianya pertengahan dua puluhan, matanya masih tertuju pada Hiram dengan kaget bercampur lega.
"Saya Axel," katanya cepat. "Dia Hiram, keponakan saya. Terima kasih. Sungguh, terima kasih."
Nikita menyerahkan Hiram pelan, tetapi anak itu menolak. Tangannya malah mengerat di baju Nikita.
Axel tercengang.
"Hiram..." suaranya melembut. "Kamu mau sama Om Axel, kan?"
Hiram menggeleng nyaris tak terlihat.
Axel menatap Nikita seolah ia baru melihat sesuatu yang tidak mungkin. "Dia... biasanya tidak mau disentuh wanita asing."
Nikita menunduk pada Hiram. "Ayahmu akan datang?"
Sebelum Hiram menjawab, hawa di sekitar mereka berubah.
Bukan karena bandara mendadak sepi. Justru suara di sekitar masih ramai. Tetapi dari arah pintu jalur VIP, beberapa pria berjas hitam bergerak cepat, membelah kerumunan dengan cara yang tidak perlu berteriak. Di tengah mereka, seorang pria tinggi berjalan dengan wajah sedingin kaca.
Tinggi hampir seratus sembilan puluh sentimeter. Setelan gelapnya rapi tanpa satu kerutan. Wajahnya tajam, mata hitamnya menekan seluruh ruangan. Orang-orang yang tadi sibuk merekam langsung menurunkan ponsel tanpa sadar.
Axel menoleh, lalu menghela napas lega.
"Ko Ethan!"
Nama itu jatuh di telinga Nikita seperti nada rendah yang belum punya arti.
Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya turun ke Hiram yang masih menempel di pelukan Nikita, lalu naik ke wajah Nikita.
Selama satu detik, bandara yang riuh terasa seperti tertahan.
Axel cepat berkata, "Ko, dia yang menyelamatkan Hiram."
Ethan tidak langsung menjawab. Matanya tetap pada Nikita, dingin dan waspada, tetapi di dasarnya ada sesuatu yang lebih tajam dari sekadar curiga.
Axel menelan ludah, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, seolah hanya bicara pada dirinya sendiri, "Aneh sekali... sebelas tahun Ko Ethan mencari gadis berusia tiga belas tahun yang pernah menyelamatkannya, dan hari ini Hiram justru diselamatkan wanita ini."
Nikita mengangkat alis tipis.
Sebelas tahun.
Gadis berusia tiga belas tahun.
Di tengah bandara yang masih kacau, kalimat itu menggantung seperti pintu yang baru terbuka sedikit.
Bab 3
Pria yang Tidak Menarik
Pintu yang baru terbuka sedikit itu belum sempat ditutup, karena pria bernama Ethan sudah berdiri tepat di depan Nikita.
Dari dekat, aura pria itu jauh lebih menekan daripada saat ia berjalan di antara pengawal. Tingginya hampir seratus sembilan puluh sentimeter, bahunya lebar, dan wajahnya tajam seperti garis yang digambar dengan pisau. Setelan gelapnya rapi tanpa cela. Jam di pergelangan tangannya tidak berkilau berlebihan, tetapi siapa pun yang mengenal barang mahal akan tahu nilainya cukup untuk membeli sebuah rumah kecil di pinggir Jakarta.
Budiman Ethan.
Direktur Utama Budiman Group. Dua puluh sembilan tahun. Nama yang bahkan jarang disebut orang sembarangan di dunia bisnis Jakarta.
Namun bagi Nikita, ia hanya pria asing yang anaknya masih menempel di lengannya.
"Hiram," suara Ethan rendah.
Anak laki-laki itu akhirnya bergerak. Ia menoleh sedikit, melihat ayahnya, lalu tetap memegang baju Nikita.
Axel menutup wajah dengan satu tangan. "Aduh, ini pertama kalinya dia begini."
Ethan tidak memarahi Hiram. Ia hanya menatap tangan kecil yang menggenggam kain kemeja Nikita, lalu berkata lebih pelan, "Papa di sini."
Kata itu membuat Sisi yang sejak tadi berdiri di samping koper langsung menoleh.
Matanya membesar.
Ia memandang Ethan dari ujung sepatu sampai wajah, lalu menarik napas seperti baru menemukan hadiah ulang tahun di tengah bandara.
"Papi?"
Seluruh udara di sekitar mereka seolah berhenti.
Axel batuk keras. Seorang petugas bandara yang berdiri terlalu dekat pura-pura melihat ke arah lain. Hiram, yang masih pucat, bahkan mengangkat wajah untuk melihat Sisi.
Nikita menunduk. "Sisi."
Sisi sudah telanjur maju setengah langkah. "Papi, kamu Papi-nya Sisi ya?"
Alis Ethan bergerak sangat tipis.
Kalau bukan karena wajahnya terlalu dingin, mungkin orang akan mengira ia terkejut. Tapi Ethan hanya menatap anak perempuan kecil itu dengan diam yang terlalu panjang.
Sisi menepuk dadanya sendiri. "Nama Sisi. Umur lima. Mami bilang Papi Sisi belum ketemu. Jadi kalau ketemu pria ganteng, Sisi boleh tanya dulu."
"Mami tidak pernah bilang begitu," kata Nikita datar.
Sisi menoleh cepat. "Mami bilang jangan bicara dengan orang asing. Tapi kalau dia ganteng sekali, dia kelihatan tidak asing."
Axel gagal menahan tawa.
Sudut mata Ethan menajam ke arahnya. Tawa Axel langsung patah.
"Maaf, Ko. Tapi anak ini lucu sekali."
Nikita menarik Sisi mendekat. "Dia bukan Papi kamu."
Sisi menghela napas panjang seperti orang dewasa yang kecewa pada dunia. "Sayang banget."
Untuk sesaat, ketegangan setelah penyanderaan itu pecah oleh suara kecil Sisi. Tetapi hanya sesaat.
Ethan mengulurkan tangan kepada Hiram. "Turun."
Nada itu tenang, tidak keras, tetapi jelas terbiasa ditaati.
Hiram menatap Nikita dulu.
Nikita menepuk punggungnya. "Ayahmu sudah datang."
Baru setelah itu Hiram melepaskan baju Nikita. Ethan mengambil putranya dengan gerakan hati-hati. Ketika Hiram pindah ke pelukan ayahnya, anak itu tetap menoleh ke arah Nikita, seolah takut wanita itu menghilang jika ia berkedip terlalu lama.
Ethan melihatnya.
Dan karena ia melihat, tatapannya pada Nikita berubah setingkat lebih dalam.
"Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya," katanya.
"Sama-sama."
Nikita mengambil koper dari tangan Sisi, seolah urusan sudah selesai.
Axel buru-buru melangkah maju. "Tunggu. Kami belum membalas budi. Kalau tidak ada Mbak tadi, Hiram mungkin..." Ia berhenti, wajahnya pucat lagi. "Apa pun yang Mbak minta, selama masih masuk akal, kami akan berusaha penuhi."
Nikita menatapnya. "Apa pun?"
Axel mengangguk cepat. "Apa pun."
Ethan melirik Axel. Tatapan itu jelas mengatakan bahwa sepupunya baru saja membuka mulut terlalu lebar.
Nikita menangkapnya.
Ia menoleh kepada Ethan. Wajahnya tetap datar, tetapi mata gelapnya seperti sengaja menyentuh batas kesabaran pria itu.
"Kalau begitu, saya mau seluruh harta Pak Budiman."
Petugas yang tadi pura-pura sibuk hampir menjatuhkan alat komunikasi.
Axel membeku.
Sisi mengangkat kedua tangan kecilnya. "Mami hebat. Minta oleh-oleh banyak sekali."
Hiram menatap Nikita tanpa berkedip, seolah kalimat itu tidak mengejutkannya sama sekali.
Ethan tetap diam. Dua detik. Tiga detik.
Lalu ia berkata, "Seluruh harta saya hanya bisa dimiliki keluarga saya."
Suara rendah itu jatuh sangat pelan, tetapi maknanya membuat Axel langsung menoleh.
Keluarga.
Dalam kalimat seorang Ethan, kata itu bukan basa-basi. Untuk memiliki seluruh hartanya, seseorang harus menjadi darahnya, atau menjadi istrinya.
Dengan kata lain, jawaban itu bukan penolakan sederhana.
Itu jebakan lain.
Nikita tersenyum sedikit.
Senyum itu tipis, cepat, nyaris tidak terlihat. Namun cukup membuat mata Ethan berhenti di bibirnya selama sepersekian detik.
"Kalau begitu tidak perlu," katanya. "Saya tidak tertarik pada pria."
Axel benar-benar tersedak.
Sisi terdiam, lalu menarik ujung baju Nikita. "Mami, kalau tidak tertarik pria, Sisi cari Papi di mana?"
"Di tempat lain."
"Yang ganteng seperti itu ada banyak?"
"Tidak tahu."
"Kalau tidak ada?"
"Kita beli es krim."
Sisi berpikir serius, lalu mengangguk. "Bisa diterima."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Ethan seperti retak sangat halus. Bukan senyum, bukan marah. Lebih seperti ia bertemu teka-teki yang tidak langsung bisa ia baca.
"Nama Anda?" tanyanya.
"Tidak penting."
"Anda menyelamatkan anak saya."
"Itu juga tidak membuat nama saya penting."
Axel memandang Nikita dengan kagum. Tidak banyak orang berani bicara seperti itu kepada Ethan. Bahkan pemilik perusahaan besar pun biasanya menunduk setengah inci saat berbicara dengannya.
Ethan tidak tersinggung. Atau lebih tepatnya, ia terlalu terlatih untuk menunjukkan apakah dirinya tersinggung.
"Setidaknya beri kami cara menghubungi Anda," kata Ethan.
Nikita baru akan menjawab ketika Hiram tiba-tiba berkata pelan, "Bu Nikita."
Semua orang menoleh.
Nikita juga.
Hiram menunjuk kartu bagasi yang tergantung di koper Nikita. Di sana tertulis nama penumpang dengan huruf jelas.
NIKITA.
Sisi langsung berbisik, "Hiram pintar."
Hiram menunduk, tetapi telinganya memerah.
Ethan membaca nama itu sekali. "Nikita."
Cara ia mengucapkan nama itu membuat Nikita menahan napas setengah detik tanpa alasan jelas.
Ia tidak menyukai perasaan itu.
"Saya pergi dulu," katanya.
Axel seperti baru ingat sesuatu. "Tunggu, Mbak Nikita. Soal yang tadi saya bilang..."
Nikita berhenti.
Axel melirik Ethan, ragu sebentar, lalu berkata, "Ko Ethan sudah sebelas tahun mencari seseorang. Waktu itu dia delapan belas, dikejar orang sampai terluka parah di Desa Ninan. Ada gadis sekitar tiga belas tahun yang menolongnya. Gadis itu memakai kain tipis menutupi wajah, jadi Ko Ethan tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas."
Jari Nikita pada gagang koper mengencang.
Hanya sebentar.
Begitu singkat sampai hampir tidak terlihat.
Namun Ethan melihatnya.
Tatapan pria itu turun ke tangan Nikita, lalu kembali ke wajahnya.
"Desa Ninan?" suara Nikita tetap datar.
Axel mengangguk. "Iya. Desa kecil di Jawa Tengah. Kami sudah mencari semua orang yang mungkin ada di sana waktu itu. Tapi gadis itu seperti hilang begitu saja."
Sisi mendongak. "Mami pernah ke desa?"
Nikita melepaskan genggamannya dari koper satu jari demi satu jari.
"Banyak orang pernah ke desa."
Jawaban itu terlalu biasa, tetapi Ethan tidak bergerak. Matanya seperti menahan sesuatu di balik lapisan es.
"Apakah Anda salah satunya?" tanyanya.
Nikita menatapnya. "Pak Budiman, orang yang diselamatkan sebelas tahun lalu seharusnya lebih berhati-hati menjaga anaknya sekarang."
Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang tidak terlihat.
Ethan tidak membalas.
Axel meringis.
Nikita menggandeng Sisi dan mulai berjalan. Di belakangnya, Hiram tiba-tiba memanggil dengan suara kecil, "Bu Nikita."
Langkah Nikita berhenti lagi.
"Terima kasih," kata Hiram.
Kali ini, dingin di wajah Nikita mencair sedikit. Ia menoleh, mengangguk pelan, lalu pergi tanpa melihat Ethan lagi.
Sisi berjalan di sampingnya sambil berbisik, "Mami, Papi palsu tadi ganteng banget."
"Sisi."
"Iya, iya. Bukan Papi. Calon Papi juga belum tentu."
Nikita tidak menjawab.
Di belakang mereka, Ethan masih berdiri di tempat yang sama. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, nama sebuah desa terdengar tidak seperti masa lalu, melainkan seperti arah.
Karena sebelas tahun lalu, di Desa Ninan, Nikita memang pernah memakai kain tipis untuk menutup wajahnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!