Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring, mengisi keheningan rumah yang terasa kian asing. Zahira Aulia Utami menatap punggung suaminya, Galang Putra Hadian, yang sibuk merapikan dasi di depan cermin. Pria yang dulunya selalu menyambut pagi dengan senyuman hangat itu, kini tak lebih dari bongkahan es yang dingin. Sudah hampir satu tahun rumah tanga mereka rasanya dingin.. Galang akan bersikap hangat saat dia sedang membutuhkan Aulia saja di atas ra-jang. Setelahnya tak ada lagi kehangatan yang dulu di rasakan Aulia. Mereka menikah bukan karena perjodohan namun karena memang sama-sama saling mencintai.
Di sudut ruangan, Cantika Alya Putri Hadian, putri kecil mereka yang berusia enam tahun sedang asyik menyusun balok mainan. Mulut mungilnya bergumam, mencoba menirukan suara mobil-mobilan, namun kata-kata yang keluar terdengar samar dan tidak jelas.
"Mas," panggil Aulia lembut, memecah keheningan.
"Pekan depan, hari Minggu, Cantika ada acara di sekolahnya. Penting sekali. Bisa kamu luangkan waktu untuk hadir?"
Galang menghentikan gerakannya di depan cermin. Bahunya menegang. Tanpa berbalik, dia mengembuskan napas berat, sebuah gestur yang belakangan ini selalu Aulia terima setiap kali membahas tentang putri mereka.
"Hari Minggu? Aku tidak bisa. Ada urusan pekerjaan penting yang harus kuselesaikan," jawab Galang datar, nadanya ketus dan terkesan mencari alasan.
Aulia menghela napas, mencoba menahan sesak di dadanya.
"Mas, acaranya hari Minggu. Dan ini acara sekolah Cantika. Dia sudah berlatih keras untuk penampilannya, meskipun... meskipun dia masih harus menjalani terapi bicaranya. Dia ingin ayahnya ada di sana."
Mendengar kata 'terapi', rahang Galang mengeras. Dia berbalik dengan tatapan tajam yang sarat akan kekecewaan dan amarah yang dipendam.
"Untuk apa aku datang, Aulia? Untuk melihatnya membuatku malu di depan orang tua murid yang lain?" sembur Galang, suaranya meninggi, membuat Cantika yang sedang bermain sempat terlonjak kaget sebelum kembali menunduk takut.
"Mas! Jaga bicaramu, ada Cantika di sini!" bisik Aulia tajam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa? Memang itu kenyataannya, kan?!" Galang melangkah mendekat, menatap Aulia dengan penuh kekesalan.
"Setahun ini aku sudah cukup sabar. Aku lelah, Aulia! Setiap ada acara keluarga atau pertemuan kantor, aku selalu jadi bahan bisikan karena punya anak yang... yang gagap seperti itu! Kamu yang mengandungnya, kamu yang mengurusnya sejak kecil, tapi kenapa kamu gagal mendidiknya sampai dia tidak bisa bicara normal di usia enam tahun?!"
Degh
Kata-kata Galang bagai sembilu yang menghunjam tepat di jantung Aulia. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Menyalahkan dirinya atas keterbatasan Cantika adalah makanan sehari-hari yang harus Aulia telan setahun terakhir ini. Suaminya yang dulu penyayang, kini telah berubah menjadi pria asing yang dipenuhi rasa malu egois. Padahal dulu galang begitu menyayangi Cantika, buah hati mereka berdua.
"Dia anakmu juga, Galang! Cantika tidak meminta dilahirkan dengan keistimewaan ini!" suara Aulia bergetar menahan tangis dan amarah yang meluap.
"Tugas kita sebagai orang tuanya adalah mendampingi dan mendukungnya, bukan malah membuang muka karena malu!"
"Sudahlah, berdebat denganmu tidak akan pernah ada habisnya," potong Galang dingin. Dia meraih tas kerjanya di atas meja dengan kasar.
"Intinya aku tidak bisa datang hari Minggu nanti. Urus saja anakmu itu sendiri. Aku pergi."
Tanpa memandang Aulia, bahkan tanpa melirik sedikit pun ke arah Cantika yang menatap kepergiannya dengan mata bulat yang polos, Galang melangkah lebar keluar rumah dan membanting pintu.
Braaaakkkk
Suara pintu yang berdentum keras itu seolah menegaskan bahwa rumah tangga mereka kini berada di ambang kehancuran. Aulia perlahan luruh ke lantai, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan saat isak tangisnya pecah.
Di saat itulah, sebuah tangan kecil yang hangat menyentuh pundaknya. Aulia mendongak dan melihat Cantika sudah berdiri di sampingnya, menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Ma... Ma... mi... ja... ngan... nang... is..." ucap Cantika terbata-bata, mencoba menghapus air mata di pipi ibunya dengan jemari mungilnya.
Aulia langsung merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan erat. Hatinya hancur, namun di dalam kehancuran itu, sebuah ketegasan mulai tumbuh. Dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dalam pernikahan yang hambar dan penuh penolakan ini.
"Sayang, kamu mandi dulu ya. Kita bersiap ke sekolah. Tapi sebelum itu, Cantika bereskan dulu mainanya, oke sayang?"
Cantika mengangguk patuh dan berlari kecil menuju ke arah mainannya. Memasukkan satu persatu ke dalam box khusus mainannya. Aulia menatap Cantika dengan perasaan yang campur aduk. Cantika adalah anak yang cuku[ cerdas dan mudah memahami seriap ucapan atau perintah. Hanya saja dia kesulitan untuk berbicara dan mengungkapkan perasaannya.
Seperti biasa, Aulia akan megantarkan Cantika ke sekolah TKnya dan di sana ada juga sekola TK yang khusus untuk anak-anak seperti Cantika dan yang lainnya. Galang bahkan tak pernah menginajakkan kakinya di sekolah Cantika ini. Dia selalu punya alasan dan pada akhirnya membuat Cantika kecewa. Bukan hanya Cantika yang merasa senang bisa ke sekolah dan bertemu dengan banyak teman yang saling menerima di tengah keterbatasan mereka. Tapi juga untuk Aulia.
Dia bertemu dengan banyak orangtua dan ibu hebat di sana, dan mereka saling sharing dengan perkembangan dan juga stimulan yang bagus untuk perkembangan anaknya. Namun yang berbeda dengan Aulia, banyak diantara mereka yang mendapatkan dukungan dari keluarga besar terutama dari keluarga inti yang memang bagus untuk perkembangan anak spesial mereka.
Pukul sebelas siang, Cantika selesai sekolah dan dia berlari ke arah ibunya dengan wajah ceria dan juga senyum yang lebar. Hal yang membuat Aulia sangat bahagia, melihat senyum bahagia di wajah putri kecilnya.
"Maaa.....maaa...." Cantika menunjukkan hasil gambarannya yang mendapat nilai tinggi dari gurunya.
"Wah anak mama pintar sekali, dapat nilai A lagi ya sayang...! Bagaimana kalau untuk merayakan nilai anak mama yang hebat ini kita beli es krim di supermarket? Sekalian Mama juga mau belanja kebutuhan rumah..."
Mendengar akan di belikan Es krim embuat Cantika melompat kegirangan kemudian memeluk kaki ibunya. Aulia tersenyum penuh kebahagiaan. Dengan menggunakan motornya, mereka berdua berangkat menuju supermarket.
Cantika berjalan dengan riang, sesekali melompat kecil sambil menggenggam erat tangan ibunya. Namun, suasana hati Aulia yang mulai membaik mendadak sirna saat mereka berbelok ke lorong makanan segar. Di ujung lorong, tampak sebuah keluarga yang sangat dia kenali. Itu adalah mertuanya, orang tua Galang bersama dengan kakak ipar, adik ipar dan keponakan-keponakannya. Mereka sedang asyik memilih buah sambil bercanda tawa.
Jantung Aulia berdegup kencang. Belum sempat dia memutuskan untuk berbalik arah, Cantika ternyata sudah melihat mereka terlebih dahulu. Mata bulat bocah itu berbinar senang saat melihat Nenek, kakek dan juga saudara-saudaranya ada di tempat yang sama.
"Neeee... Kaeeee...!" terukir senyum lebar di wajah Cantika.
Dengan polosnya, dia melepaskan genggaman tangan Aulia dan berlari kecil ke arah kakek dan neneknya. Aulia yang masih terkejut tak sempat mencegah cantika yang berteriak kegirangan sambil berlari.
"O... To... ma!"
"O... To... ma!" teriak Cantika lagi dengan suaranya yang tidak jelas, khas anak yang sedang menjalani terapi bicara. Suaranya yang cukup keras menggema di antara rak-rak supermarket, menarik perhatian beberapa pengunjung lain dan tentunya keluarga sang mertua.. Aulia panik.
"Cantika, jangan berlari, Sayang!" serunya sambil bergegas mengejar.
Mendengar teriakan Cantika, ibu dan ayah Galang spontan menoleh. Kakak dan adik ipar Galang pun ikut membalikkan badan. Mata mereka sempat saling bertumpu dengan mata Cantika, lalu beralih menatap Aulia yang sedang berlari mendekat.
Namun, bukannya menyambut sang cucu dengan pelukan, ekspresi wajah mereka langsung berubah drastis. Ada kilat rasa malu, risih, dan penolakan yang begitu nyata di wajah mertua Aulia. Apalagi beberapa pengunjung melihat ke arah mereka semua.
Alih-alih menyahut, ibu Galang dengan cepat membalikkan badannya kembali membelakangi Cantika. Dia menyenggol lengan suaminya, berbisik tergesa-gesa. Detik berikutnya, seluruh keluarga besar Galang dengan sengaja memalingkan wajah. Mereka mendorong troli belanjaan mereka menjauh dengan langkah cepat, berpura-pura sibuk memeriksa buah-buahan di sisi lain, seolah-olah Cantika dan Aulia adalah orang asing atau lebih buruk, sebuah aib yang tidak boleh disentuh.
Cantika menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di belakang punggung kakek dan neneknya. Tangan mungilnya yang tadi terulur ingin memeluk, perlahan turun. Senyum cerianya surut, digantikan oleh raut kebingungan yang teramat polos.
"Kaeee... ma... Tooo...?" cicit Cantika lirih. Dia menoleh ke belakang, menatap Aulia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maaa... Kaeeee, Maaa... Tooo... Taa, naaaTaaaalll... hiksss?" (Mama, kakek dan Oma pergi karena Cantika Nakal ya?)
Aulia yang menyaksikan seluruh kejadian itu merasa seolah jantungnya dihantam godam besar. Rasa sakitnya melebihi saat dia dimarahi oleh Galang. Melihat putri kecilnya yang tak berdosa ditolak secara terang-terangan oleh darah dagingnya sendiri di tempat umum, membuat darah Aulia mendidih.
Aulia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Cantika. Dia membawa tubuh mungil yang mulai bergetar itu ke dalam dekapannya. Aulia menatap tajam ke arah punggung-punggung keluarga suaminya yang kian menjauh. Punggung-punggung yang membatu, yang tega membuang muka dari seorang anak berusia enam tahun.
Cukup, bisik Aulia dalam hati. Cukup Galang dan keluarganya menganggap anakku sebagai aib.
"Tidak kok sayang, Cantika tidak nakal. Mungkin Kakek, Oma dan yang lainnya sedang buru-buru sehingga mereka tidak melihat Cantika. Sudah ya jangan menangis lagi, nanti es krimnya malah mencair," Aulia mencoba membujuk anak perempuannya.
"Kita pulang ya, Sayang," bisik Aulia dengan suara yang bergetar menahan amarah yang teramat sangat.
Cantika mengangguk pelan dalam pelukan ibunya. Dia menyeka air matanya sendiri dengan punggung tangan, lalu berusaha tersenyum demi menuruti ucapan sang mama. Namun, binar ceria di matanya yang bulat itu telah redup, digantikan oleh kedewasaan prematur yang dipaksakan oleh keadaan.
Aulia segera menuntun Cantika menuju kasir es krim, membayar dengan tangan yang gemetar menahan gejolak emosi, lalu bergegas pergi dari supermarket itu. Sepanjang perjalanan pulang di atas motor, angin siang yang terik tak mampu menghangatkan hati Aulia yang terlanjur membeku. Di punggungnya, tangan mungil Cantika memeluknya erat, seolah takut kehilangan satu-satunya tempatnya bersandar.
Sesampainya di rumah, keheningan yang sama kembali menyambut mereka. Rumah sederhana yang masih mereka cicil dari gaji Galang setelah Aulia melahirkan itu terasa dingin, lebih dingin dari kulkas. Tak ada kehangatan seperti enam tahun sebelumnya. Rumah yang mereka isi dengan tawa canda dan juga mimpi masa depan kini terasa bagai penjara bagi Aulia. Apalagi Galang yang semakin terang-terangan bersikap dingin dan menghindari komunikasi atau kontak dengan Cantika.
Aulia menemani Cantika menghabiskan es krimnya di ruang tengah. Dia memandangi putrinya yang makan dengan tenang, sesekali jemari mungil itu menunjuk ke arah gambar berpita merah yang mendapat nilai A dari gurunya tadi.
"Maaa... ni... Taa... gam... bar... Ma... ma... am... Taa..." (Mama, ini Cantika gambar Mama sama Cantika...) ucap Cantika terbata, menunjuk dua figur manusia di atas kertas yang saling bergandengan tangan. Tidak ada figur ayah di sana. Hati Aulia terasa sakit, bahkan anak sekecil Cantika yang seharusnya mendapatkan kasih sayang penuh dari sosok Ayah dalam keadaannya seprti ini malah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari cinta pertama dan keluarganya.
"Iya sayang, ini bagus sekali! Anak mama memang sangat hebat, Suatu hari kalau Cantika sudah besar, Cantika bisa menjadi pelukis yang hebat..." Puji Aulia sambil menysap lembut kepala Cantika.
Malam kian larut, Aulia memang sengaja belum tidur. Selain karena memang menunggu Galang, dia juga sedang bekerja online di laptop lama miliknya. Selama lebih dari satu tahun terakhir, Aulia aktif menulis online di beberapa platform. Dan Galang tak tahu akan hal itu, karena Aulia mengerjakan pekerjaannya di sela-sela waktu luangnya. Dan dari sana juga dia mendapatkan penghasilan yang dia tabung di rekeningnya.
Awalnya Aulia ingin mengatakan kepda Galang kalau dia juga berpenghasilan dan bisa membantu keuangan mereka. Namun, melihat sikap Galang semakin kasar kepada Cantika membuat Aulia mengurungkan niatnya. Dan mungkin tabungan dari hasil menulis online ini bisa berguna untuk hidupnya dan cantika kelak.
Jam dinding telah berdentang menunjukkan pukul sepuluh malam. Cantika sudah terlelap di kamarnya, kelelahan setelah seharian menahan luapan emosi yang belum mampu dicerna oleh benak kecilnya. Aulia duduk diam di sofa ruang tengah yang remang-remang dan baru menutup laptopnya. Namun ketika dia akan beranjak, pintu rumah terdenagr di dorong cukup keras.
Brak!
Pintu depan dibuka dengan kasar. Galang melangkah masuk, namun kali ini raut wajahnya tidak hanya sekadar lelah, melainkan merah padam oleh amarah yang tertahan. Begitu matanya menangkap sosok Aulia yang duduk di sofa, Galang langsung melempar tas kerjanya ke lantai hingga menimbulkan suara debuman keras.
"Baguslah kamu belum belum tidur. Apa yang sudah kamu lakukan kepada keluargaku?"
Aulia mengernyitkan dahi, bangkit berdiri.
"Apa maksudmu, Mas? Baru pulang kerja langsung marah-marah tidak jelas? Aku bahkan tak melakukan apapun kepada keluargamu itu!"
"Tidak jelas kamu bilang?!" Galang melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka dan menatap Aulia dengan pandangan menghakimi.
"Ibu meneleponku sambil menangis tadi sore! Kamu sengaja, kan, mempermalukan keluargaku di supermarket tadi siang?!"
Aulia tertegun sejenak, lalu sebuah tawa hambar dan getir lolos dari bibirnya. Jadi, mertuanya sudah mengadu duluan? Dan memutarbalikkan fakta?
"Aku? Mempermalukan keluargamu?" tanya Aulia dengan suara bergetar, menahan amarah yang mendadak naik ke ubun-ubun.
"Apa yang Ibu katakan padamu kali ini, Mas?"
"Ibu bilang, kamu sengaja membiarkan Cantika berteriak-teriak histeris di tempat umum supaya semua pengunjung supermarket melihat ke arah mereka! Kamu sengaja membuat Ibu dan Ayah jadi bahan tontonan dan bisik-bisik orang karena punya cucu yang... yang cacat bicara seperti itu! Ibu sampai syok dan tensinya naik begitu pulang ke rumah!" Galang menudingkan jarinya tepat di depan wajah Aulia.
"Kamu itu kalau tidak bisa mendidik anak dengan benar, minimal jangan bawa dia ke tempat umum dan bikin malu nama baik keluargaku, Aulia!"
Plaaaakkk
"Ibu bilang, kamu sengaja membiarkan Cantika berteriak-teriak histeris di tempat umum supaya semua pengunjung supermarket melihat ke arah mereka! Kamu sengaja membuat Ibu dan Ayah jadi bahan tontonan dan bisik-bisik orang karena punya cucu yang... yang cacat bicara seperti itu! Ibu sampai syok dan tensinya naik begitu pulang ke rumah!" Galang menudingkan jarinya tepat di depan wajah Aulia.
"Kamu itu kalau tidak bisa mendidik anak dengan benar, minimal jangan bawa dia ke tempat umum dan bikin malu nama baik keluargaku, Aulia!"
Plak!
Suara tamparan keras menggema di ruangan itu. Tangan Aulia gemetar hebat setelah mendaratkan telapak tangannya di pipi Galang. Air mata yang sejak siang ditahannya kini luruh, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang teramat sangat. Dia tak menyangka kalau Galang malah lebih membela ibu dan keluarganya di banding melindungi anaknya sendiri. Bahkan cantika adalah anaknya yang membutuhkan kasih sayang dari dia. Sosok ayah yang seharusnya bisa melindungi Cantika kecil.namun ucapan Galang benar-benar menyakitkan hati Aulia.
Galang terkesiap, memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya membelalak tak percaya dengan yang di lakukan Aulia. Wanita yang menemaninya selama delapan tahun ini. Wanita yang selalu sabar saat dia berkata kasar dan juga mengabaikannya. Namun Aulia tetap melayani dan menyiapkan ssegala kebutuhannya walau terjadi pertengkaran di antara mereka.
"Kamu... berani menampar suamimu sendiri?!"
"Itu belum seberapa dibanding rasa sakit hati anakku tadi siang, Galang!" jerit Aulia, namun dia segera membekap mulutnya sendiri, teringat Cantika yang sedang tidur di kamar sebelah. Bahkan tak ada embel-embel Mas di sana saat menyebut nama suaminya. Dengan suara berbisik yang sarat akan racun dan rasa muak, Aulia melanjutkan.
"Ibumu keterlaluan! Keluargamu keterlaluan! Dan kamu... kamu adalah ayah paling bajingan yang pernah ada!"
"Jaga bicaramu, Aulia!"
"Kamu mau tahu kenyataannya?" Aulia maju satu langkah, menatap tepat ke dalam manik mata Galang yang meradang.
"Tadi siang, Cantika melihat kakek dan neneknya. Dia senang sekali, Mas. Dengan polosnya dia lepas dari gandenganku, berlari sambil memanggil 'Kakek, Oma' karena dia merindukan mereka! Tapi apa yang ibumu dan keluargamu lakukan? Begitu melihat Cantika, mereka membuang muka, membalikkan badan, dan mendorong troli menjauh secepat mungkin seolah-olah anak kita ini pembawa sial! Dan sikap itu sama seperti yang kamu lakukan! Apa selama ini kamu tak pernah membayangkan betapa sakitnya hati Cantika dan seberapa dalam luka yang sudah kalian buat? Cantika anakmu, bagaimanpun keadaanya! Dan kamu adalah ayahnya, darahmu mengalir dalam tubuh Cantika! Kay benar-benar tak punya hati Galang!"
Galang terdiam sekilas, ekspresi wajahnya berubah goyah untuk beberapa detik sebelum egonya kembali menguasai diri.
"Ya... ya wajar kalau Ibu menghindar! Ibu panik karena suara Cantika keras dan tidak jelas, memancing perhatian orang! Ibu hanya tidak ingin suasananya jadi canggung!"
"Wajar kamu bilang?!" Suara Aulia meninggi lagi, dadanya naik turun dengan cepat.
"Anakmu yang berusia enam tahun, yang belum mengerti jahatnya dunia, bertanya padaku sambil menangis: 'Mama, apa Kakek dan Oma pergi karena Cantika nakal?' Dia merasa bersalah atas penolakan dari darah dagingnya sendiri! Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah, Galang?!"
Galang memalingkan wajah, rahangnya mengeras.
"Sudahlah! Toh Ibu tidak bermaksud seperti itu. Kamu saja yang terlalu sensitif dan mendramatisir keadaan. Intinya, mulai besok-besok, kalau mau belanja, titipkan saja Cantika atau pergi sendiri. Jangan bawa dia ke tempat-tempat yang berpotensi bikin malu."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya, detik itu juga, sesuatu di dalam diri Aulia patah dan hancur berkeping-keping. Tak ada lagi yang tersisa dari rasa cintanya yang dulu menggebu untuk pria di hadapannya ini. Galang bukan lagi suaminya, pria ini adalah orang asing yang kejam.
Aulia mundur dua langkah. Dia menyeka air matanya dengan kasar, lalu menatap Galang dengan senyuman paling dingin yang pernah Galang lihat.
"Kamu benar-benar jahat, Galang! Apa kamu tak punya rasa cinta lagi untuk kami?" ucap Aulia lirih.
Aulia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dadanya agar suaranya tidak lagi bergetar. Dingin. Hanya ada rasa dingin dan hampa yang tersisa di matanya yang sembap.
"Aku tidak sedang mendramatisir, Galang. Aku sedang melihat kenyataan," ucap Aulia, suaranya kini begitu lirih, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakannya tadi.
"Dan kenyataannya adalah... kamu dan keluargamu tidak pernah menganggap Cantika ada."
Galang mendengus, membuang muka ke arah lain sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Terserah apa katamu. Aku lelah. Intinya aku sudah ingatkan kamu."
Aulia tidak membalas. Dia tidak menangis lagi, tidak juga mencaci maki. Tatapan matanya kosong seolah Galang hanyalah embusan angin lalu. Dengan gerakan lambat namun pasti, Aulia membalikkan badan, berjalan melewati Galang tanpa menyenggolnya sedikit pun, lalu masuk ke dalam kamar Cantika. Pintu kayu itu ditutupnya rapat-rapat, menyisakan keheningan yang mencekam di ruang tengah.
Sejak malam itu, atmosfer di dalam rumah berubah total. Rumah yang biasanya bising oleh suara Aulia yang mengurus keperluan rumah tangga, kini mendadak senyap bagai kuburan.
Aulia benar-benar berhenti bicara pada Galang. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan, bahkan tidak ada kontak mata. Jika Galang menanyakan sesuatu, Aulia hanya merespons dengan anggukan, gelengan, atau menunjuk dengan dagunya. Jika terpaksa harus menyampaikan hal penting, seperti uang bulanan yang kurang atau tagihan listrik, Aulia memilih menulisnya di secarik kertas kecil yang ditinggalkan di atas meja makan.
Aulia tetap memasak dan mencuci, namun semua dilakukan tanpa hati. Makanan tersaji di meja, pakaian Galang tersusun rapi di lemari, tetapi tak ada lagi kopi hangat yang dibuatkan khusus saat Galang pulang kerja. Aulia sengaja mengatur jadwalnya agar tidak pernah berada di ruangan yang sama dengan Galang. Ketika Galang berada di ruang tengah, Aulia akan mengunci diri di kamar bersama Cantika.
Fokus Sepenuhnya pada Cantika Seluruh dunia Aulia kini hanya berputar pada putrinya. Dia mengabaikan keberadaan Galang, namun melimpahi Cantika dengan kasih sayang yang berkali-kali lipat lebih besar. Dia melatih bicara Cantika dengan sabar, membacakan dongeng, dan memeluk bocah enam tahun itu setiap kali ingatan tentang kejadian di supermarket kembali membuat Cantika murung.
Beberapa hari berlalu Galang mulai tak nyaman, apalagi Aulia lebih memilih tidur dengan Cantika di banding dengan dirinya. Sesuatu yang tak pernah di lakukan Aulia walau dia sedang marah besar padanya.
Awalnya, ego Galang merasa menang karena Aulia tidak lagi mendebat atau menceramahinya. Namun, lama-kelamaan, diabaikan secara total seperti ini jauh lebih menyiksa daripada dimarahi. Rumahnya terasa asing, dingin, dan tidak nyaman.
Puncaknya adalah malam ini, saat Galang pulang kerja dan mendapati meja makan kosong karena Aulia dan Cantika sudah makan malam lebih awal di dalam kamar. Galang mengetuk pintu kamar Cantika dengan tidak sabar.
"Aulia! Buka pintunya! Kita perlu bicara!" seru Galang dari luar.
"Sampai kapan kamu mau bertingkah kekanak-kanakan seperti ini? Hah?! Cuma karena masalah itu kamu mendiamkan suamimu berhari-hari?!"
Pintu terbuka. Aulia berdiri di ambang pintu, menatap Galang dengan tatapan yang begitu datar, kering, dan tanpa emosi. Tak ada lagi sisa-sisa cinta atau binar hangat yang dulu selalu menyambut Galang.
"Cantika sedang tidur. Jangan berisik," bisik Aulia dingin.
"Kalau begitu keluar! Kita selesaikan ini!" tuntut Galang, rahangnya mengeras karena frustrasi.
Aulia menatap suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum sinis.
"Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan, Galang. Kamu mau aku tidak membawa Cantika ke tempat umum agar tidak membuatmu malu, kan? Sudah kulakukan. Sekarang, anggap saja kami berdua memang tidak pernah ada di hidupmu. Bukankah itu yang kamu dan keluargamu mau?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!