Prolog.
"Angela."
Suara berat itu membuat langkah Angela terhenti di tengah koridor kampus.
Ia memejamkan mata sesaat. Dari seluruh orang di kampus, hanya satu orang yang memanggil namanya dengan nada sedingin itu.
Raymond.
Angela menoleh perlahan. "Kamu ngapain ke sini?"
Pria bertubuh tinggi dengan wajah tampan itu melangkah mendekat. Tatapannya datar, tetapi begitu tajam hingga mahasiswa di sekitar mereka buru-buru menyingkir memberi jalan.
"Aku nyari kamu."
"Ada apa?"
Raymond tidak langsung menjawab. Matanya justru tertuju pada tangan Angela yang masih menggenggam sebotol minuman pemberian seorang senior.
"Siapa yang kasih itu?"
Angela mengangkat botolnya. "Senior organisasi. Memangnya kenapa?"
Rahang Raymond mengeras.
"Buang."
Angela mengernyit. "Hah?"
"Aku bilang, buang."
"Nggak bisa gitu dong. Ini baru dikasih."
Belum sempat Angela bereaksi, Raymond mengambil botol itu dari tangannya, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.
"Raymond!"
Angela membelalak tak percaya.
"Kamu kenapa, sih? Itu kan bukan punyamu!"
Raymond menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Aku nggak suka kamu nerima apa pun dari laki-laki lain."
Ucapan itu membuat suasana di sekitar mereka seketika hening.
Beberapa mahasiswa mulai berbisik.
"Bukannya Raymond nggak pernah dekat sama cewek?"
"Kenapa dia marah-marah ke Angela?"
Angela panik mendengar bisikan itu.
"Raymond, jangan bikin orang salah paham."
"Salah paham?"
Pria itu melangkah lebih dekat hingga jarak mereka nyaris tak menyisakan ruang.
"Lalu menurutmu, mereka harus paham yang bagaimana?"
Angela menelan ludah.
Tatapan Raymond berubah semakin dalam.
Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang memandang, ia meraih pergelangan tangan Angela, menarik gadis itu ke dalam pelukannya, lalu memeluknya erat dari belakang.
"Aku capek pura-pura."
Suara Raymond terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar Angela.
"Kalau perlu, hari ini juga aku kasih tahu satu kampus..."
Ia berhenti sejenak, lalu berbisik tepat di telinga Angela.
"Kalau kamu itu istriku." Angela membeku.
****
Langkah kaki Angela bergema pelan di koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa. Pagi itu, sinar matahari menembus sela-sela pepohonan, memantulkan cahaya ke dinding bangunan fakultas yang megah. Suara tawa, obrolan, dan derap langkah memenuhi udara, menciptakan suasana khas awal perkuliahan.
Angela menghela napas panjang sambil membetulkan tas ransel yang menggantung di bahunya. Rambut hitamnya dikuncir satu sederhana. Penampilannya yang tomboy membuatnya lebih sering disangka mahasiswa baru yang cuek daripada gadis yang sebenarnya cukup berprestasi.
"Hari pertama semester baru. Semoga nggak ada masalah," gumamnya.
"Angela!"
Seorang sahabatnya, Maya, berlari kecil menghampiri.
"Kamu dengar kabar belum? Raymond datang hari ini!"
Angela mengernyit.
"Terus kenapa?"
Maya langsung memegang kedua bahu Angela.
"Ya ampun! Kamu tinggal di gua, ya? Raymond itu Pangeran Kampus! Anak keluarga konglomerat, wajahnya ganteng, nilainya sempurna, jago olahraga, dan yang paling penting... belum pernah ada cewek yang berhasil menaklukkan hatinya."
Angela hanya mengangkat bahu.
"Kalau memang sehebat itu, biarin saja. Hidupku nggak ada hubungannya sama dia."
Bel berbunyi. Keduanya segera berjalan menuju gedung utama.
Namun, langkah Angela terhenti ketika suasana kampus mendadak riuh.
"Itu dia!"
"Raymond datang!"
"Tampannya kebangetan!"
Sebuah mobil sport hitam berhenti di depan gedung fakultas. Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan langkah tenang. Jas hitam sederhana membalut tubuhnya, sementara sorot matanya dingin tanpa sedikit pun senyum.
Mahasiswa yang berkerumun otomatis membuka jalan. Tak ada yang berani menghalangi. Tak ada yang berani menyapa lebih dulu. Raymond berjalan lurus tanpa memedulikan bisikan di sekelilingnya.
Angela hanya melirik sekilas.
"Oh... jadi itu Raymond."
Ia kembali melangkah, sama sekali tidak tertarik. Sikap itu justru membuat Raymond menghentikan langkahnya sesaat. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memandangnya dengan kagum ataupun takut.
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik. Angela segera memalingkan wajah dan terus berjalan.
Raymond tetap diam.
Namun, untuk alasan yang bahkan tidak ia mengerti, bayangan gadis tomboy itu terus memenuhi pikirannya. Di sisi lain, Angela sama sekali tidak menyadari bahwa sejak detik itu, hidupnya telah berubah.
Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja diabaikannya akan menjadi badai terbesar dalam hidupnya.
Dan lebih dari itu...
Pria itu kelak akan menjadi suami rahasianya.
****
Jam pertama kuliah berlangsung seperti biasa. Dosen menjelaskan silabus semester baru, sementara sebagian mahasiswa masih sibuk saling berkenalan. Angela duduk di bangku dekat jendela, mencatat poin-poin penting tanpa terlalu memedulikan suasana di sekitarnya.
Saat kelas usai, Maya langsung menarik lengannya.
"Angela, ke kantin, yuk! Aku lapar."
Angela mengangguk. "Ayo."
Keduanya berjalan menyusuri taman kampus. Di sepanjang jalan, beberapa mahasiswi masih membicarakan Raymond dengan penuh antusias.
"Aku dengar dia menolak puluhan surat cinta."
"Katanya, belum pernah ada perempuan yang bisa dekat dengannya."
"Kalau dia senyum sekali saja ke aku, mungkin aku nggak bakal bisa tidur seminggu."
Angela terkekeh pelan.
"Lebay." Maya mencubit lengannya.
"Kamu memang aneh. Cowok setampan itu malah dibilang biasa."
"Memangnya tampan bisa bikin nilai IPK naik?" Maya hanya bisa menggeleng sambil tertawa.
Sesampainya di kantin, mereka mencari meja kosong. Baru saja Angela meletakkan nampan makanannya, seorang mahasiswa tingkat akhir datang menghampiri.
"Hai... kamu Angela, kan?" Angela mendongak.
"Iya."
"Aku Dimas, dari Fakultas Teknik. Boleh kenalan?" Angela tersenyum sopan.
"Boleh."
Belum sempat Dimas melanjutkan percakapan, suasana kantin mendadak sunyi.
Semua mata tertuju ke arah pintu masuk.
Raymond melangkah masuk bersama dua temannya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi. Aura dinginnya seolah membuat udara di sekitar ikut membeku.
Tatapan Raymond menyapu ruangan hingga berhenti tepat pada Angela.
Lebih tepatnya...
Pada Dimas yang sedang berdiri di depan Angela. Sorot matanya berubah semakin tajam. Dimas yang menyadari kehadiran Raymond langsung menelan ludah. Ia tidak mengerti mengapa pria itu terus menatapnya.
Angela yang tidak menyadari perubahan suasana masih berkata santai,
"Ada perlu apa, Kak?" Dimas berdeham gugup.
"E-eh... sebenarnya aku cuma mau minta nomor ponselmu." Belum sempat Angela menjawab, sebuah suara berat terdengar dari belakang.
"Dia tidak tertarik." Semua orang menoleh.
Raymond kini berdiri hanya beberapa langkah dari meja Angela. Tatapannya dingin, tetapi penuh tekanan.
Dimas mengernyit.
"Maaf, tapi... siapa Anda menentukan dia tertarik atau tidak?" Suasana kantin menjadi semakin tegang. Angela ikut berdiri. Ia menatap Raymond dengan bingung.
"Maaf, kita saling kenal?"
Raymond menatap lurus ke dalam mata Angela selama beberapa detik. Lalu, tanpa menjawab pertanyaannya, ia berkata dengan tenang,
"Mulai hari ini... jangan sembarang berbicara dengan pria lain." Angela mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Ucapan Raymond membuat seluruh kantin terdiam. Tak seorang pun mengerti alasan di balik sikap dingin dan penuh kepemilikan itu.
Sementara Angela mulai merasa kesal. Baginya, Raymond hanyalah mahasiswa populer yang bahkan baru pertama kali berbicara dengannya.
Angela mengangkat dagunya, menatap Raymond tanpa sedikit pun rasa gentar. Jari-jarinya masih memegang botol minuman dingin, sementara wajahnya tetap tenang.
"Maaf," katanya santai. "Saya bicara dengan siapa pun itu hak saya. Sepertinya kita bahkan belum saling kenal." Suasana kantin seketika membeku.
Beberapa mahasiswa yang sedang makan menghentikan gerakan mereka. Sendok yang semula terangkat kini menggantung di udara. Semua mata tertuju pada dua orang yang saling berhadapan.
Maya buru-buru menarik ujung jaket Angela.
"Pelan-pelan, Ang..." bisiknya panik. "Itu Raymond." Angela menoleh sekilas.
"Memangnya kenapa?" Maya hanya bisa mengusap wajahnya pasrah.
Raymond melangkah mendekat. Bunyi sepatunya bergema pelan di lantai keramik. Ia berhenti tepat di depan meja Angela, memasukkan satu tangan ke saku celananya.
"Aku Raymond."
Nada suaranya datar, tetapi memiliki tekanan yang membuat orang lain otomatis diam.
Angela berdiri perlahan agar tinggi mereka tidak terpaut terlalu jauh. Ia menyodorkan tangan dengan senyum tipis.
"Angela."
Raymond tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Tatapannya justru berpindah dari wajah Angela menuju tangan yang masih terulur.
Beberapa detik berlalu.
Baru kemudian ia menjabat tangan Angela dengan singkat.
"Senang berkenalan," ucap Angela.
"Belum tentu." Angela menaikkan sebelah alis.
"Jawaban yang aneh." Raymond melepaskan genggamannya.
"Aku hanya tidak suka melihatmu berbicara terlalu akrab dengan pria lain."
Angela terkekeh pelan, seolah mendengar lelucon.
"Serius?"
"Ya."
"Kita baru saling kenal satu menit."
"Sudah cukup." Angela menggeleng sambil tertawa kecil.
"Kalau semua orang berpikir seperti kamu, dunia pasti penuh salah paham."
Ucapan itu membuat beberapa mahasiswa menahan tawa. Wajah Raymond tetap datar.
Sebaliknya, Kevin yang berdiri tidak jauh darinya sampai memijat pelipis.
"Habis sudah... belum pernah ada yang mengajak Raymond berdebat seperti ini." Angela mengambil kembali tasnya.
"Kalau tidak ada urusan lagi, saya mau makan. Nasi goreng lebih penting daripada berdebat."
Ia baru saja hendak duduk ketika Raymond kembali bersuara.
"Namanya siapa?" Angela menoleh.
"Siapa?"
"Pria tadi."
"Oh, Kak Dimas?" Raymond mengangguk tipis.
"Jangan terlalu dekat dengannya." Angela mengembuskan napas panjang.
"Raymond."
"Apa?"
"Kamu ini memang suka mengatur orang?"
"Itu tergantung orangnya."
"Nah, aku tidak suka diatur."
"Tapi aku tetap akan mengingatkan."
Angela menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Kenapa?" Raymond menatapnya lurus.
"Karena aku mau." Jawaban singkat itu membuat Angela kehilangan kata-kata sesaat.
Sebelum ia sempat membalas, Raymond sudah berbalik meninggalkan kantin.
Langkahnya tenang, tetapi kehadirannya meninggalkan keheningan yang panjang.
Beberapa detik setelah pintu kantin tertutup, suara riuh langsung pecah.
"Ya ampun! Angela berani membantah Raymond!"
"Dia bahkan mengajak Raymond adu mulut!"
"Ini pertama kalinya aku melihat Raymond bicara sepanjang itu dengan seorang perempuan."
Maya memegang kedua pipinya sendiri.
"Angela... jujur saja. Kalian benar-benar baru pertama kali bertemu?" Angela mengangguk bingung. "Demi apa, baru hari ini."
"Lalu kenapa dia bersikap seperti... pacarmu yang cemburuan?" Angela tertawa kecil sambil menggeleng.
"Mana aku tahu."
Tanpa mereka sadari, dari balik jendela lantai dua gedung fakultas, Raymond berhenti sejenak. Sorot matanya kembali jatuh pada sosok Angela yang sedang tertawa bersama sahabatnya.
Entah mengapa, melihat senyum gadis itu membuat sudut bibirnya nyaris terangkat.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Namun, bagi Kevin yang berdiri di sampingnya, itu sudah cukup untuk menyadarkan satu hal.
"Sepertinya..." gumam Kevin pelan, "Pangeran Kampus akhirnya benar-benar tertarik pada seseorang."
****
Bel pergantian jam kuliah kembali berbunyi.
Teng... teng... teng...
Mahasiswa yang tadi memenuhi kantin mulai bubar. Ada yang buru-buru masuk kelas, ada juga yang masih asyik ngobrol sambil jalan.
Angela memasukkan kotak makannya ke dalam tas ransel.
"Yuk, May. Nanti telat lagi."
Maya bukannya langsung jalan, malah terus menatap Angela dengan tatapan penuh selidik.
"Ang."
"Hmm?"
"Jujur deh."
"Apa?"
"Kamu beneran baru kenal sama Raymond hari ini?"
Angela mengangguk santai.
"Iya. Emang kenapa?"
Maya mendekat sambil menurunkan suaranya.
"Terus kenapa dia kelihatan... cemburu banget?" Angela spontan ngakak.
"Cemburu apaan? Orang baru kenal lima menit."
"Nah itu dia! Makanya aku bingung." Angela cuma mengangkat bahu.
"Mungkin dia lagi banyak pikiran. Atau..."
"Atau apa?"
"Suka sama kamu." Angela langsung melotot.
"Ngaco!"
"Hahaha... lihat tuh, pipimu merah."
"Bukan merah! Gerah!"
Maya makin ngakak melihat sahabatnya salah tingkah.
Sementara itu...
Di ruang organisasi mahasiswa.
Kevin melemparkan sebotol air mineral ke arah Raymond.
"Minum dulu. Dari tadi mukamu makin serem."
Raymond menangkap botol itu dengan satu tangan.
"Serem?"
"Iya."
Kevin duduk di hadapan Raymond sambil menyilangkan kaki.
"Gue kenal lo hampir tiga tahun."
"Lalu?"
"Baru kali ini lo ngejar cewek." Raymond membuka tutup botol, lalu minum seteguk.
"Gue nggak ngejar." Kevin mendengus.
"Oh ya? Terus yang tadi di kantin apa?"
Raymond diam. Kevin melanjutkan sambil menahan tawa.
"Lo bahkan nyuruh senior itu menjauh dari Angela."
"Itu wajar."
"Wajar dari mana?" Raymond menatap Kevin datar.
"Gue nggak suka dia dideketin cowok lain."
Kevin menepuk dahinya.
"Gila... parah."
"Kenapa?"
"Lo aja bahkan belum jadian."
Raymond menaruh botol di atas meja.
"Belum."
"Nah, sadar."
"Tapi nanti juga iya."
Kevin sampai terdiam beberapa detik.
"Luar biasa... pede banget." Raymond tersenyum tipis.
"Bukan pede."
"Terus?"
"Yakin." Kevin cuma bisa geleng-geleng kepala. "Semoga Angela kuat ngadepin sifat posesif lo."
Di taman kampus...
Angela dan Maya berjalan santai sambil menikmati angin sore. Tiba-tiba Maya menyenggol lengan Angela.
"Eh, sadar nggak?"
"Sadar apa?"
"Banyak yang ngelihatin kita."
Angela menoleh ke kanan dan kiri.
Benar saja.
Beberapa mahasiswa langsung pura-pura ngobrol saat ketahuan sedang memperhatikan mereka.
"Itu Angela, kan?"
"Iya. Yang tadi bikin Raymond berhenti makan cuma buat ngomong sama dia."
"Gokil sih."
Angela menghela napas.
"Baru juga sehari kuliah, gosipnya udah ke mana-mana."
Maya nyengir.
"Selamat datang di kehidupan kampus."
Mereka kembali berjalan.
Tiba-tiba...
Bug!
Sebuah bola basket meluncur deras ke arah Angela.
"ANG! AWAS!!"
Angela refleks menoleh. Matanya membelalak. Bola itu tinggal sejengkal lagi mengenai wajahnya.
Namun...
Seseorang menangkap bola itu tepat di depan wajah Angela. Angela mengedip beberapa kali.
Raymond. Cowok itu berdiri tegak sambil memegang bola basket dengan satu tangan.
Tatapannya langsung beralih ke arah lapangan.
"Siapa yang lempar?"
Beberapa mahasiswa langsung saling pandang. Seorang cowok mengangkat tangan pelan.
"Maaf, Kak... nggak sengaja." Raymond melempar bola itu kembali.
"Lain kali lebih hati-hati."
"Iya... maaf." Cowok itu langsung kabur bersama teman-temannya. Angela masih menatap Raymond.
"Eh..." Raymond menoleh.
"Kenapa?" Angela tersenyum kecil.
"Makasih." Raymond menatap wajah Angela beberapa detik.
"Nggak usah." Angela mengernyitkan dahi bingung.
"Karena mulai sekarang..." Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sekitar satu langkah. "...gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo."
Deg.
Angela langsung membeku.
Sementara Maya yang berdiri di sampingnya sampai menutup mulut karena kaget.
Raymond memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu berjalan pergi seolah baru saja mengucapkan kalimat biasa.
Angela menatap punggungnya yang semakin menjauh.
"May..."
"Iya?"
"Menurut lo..."
"Hmm?"
"Itu orang emang dari sananya aneh... atau cuma ke gue aja?" Maya tersenyum usil.
"Kayaknya... cuma ke lo." Angela mengembuskan napas panjang.
"Haduh... baru juga semester baru. Jangan-jangan hidup gue bakal ribet gara-gara dia." Angela mengusap pelipisnya pelan.
Maya malah ngakak sampai memegangi perut.
"Ribet? Itu mah baru pembukaan." Angela mendengus.
"Jangan nakut-nakutin, deh."
"Serius. Lo tahu nggak siapa Raymond?"
"Pangeran Kampus. Anak orang kaya. Dingin. Udah, itu doang yang gue tahu." Maya menggeleng.
"Kurang satu."
"Apa?"
"Kalau dia udah ngincer sesuatu..." Maya berhenti sebentar, lalu menatap Angela dengan wajah serius. "...dia nggak pernah gagal dapetin." Angela mencibir kecil.
"Emangnya gue barang?"
"Nah, itu yang harusnya lo bilang ke Raymond." Mereka berdua kembali berjalan menuju gedung fakultas.
Belum jauh melangkah, tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari depan gerbang kampus.
Tin! Tin!
Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan Raymond. Seorang pria paruh baya turun dengan setelan jas rapi.
"Maaf, Tuan Muda. Ketua sudah menunggu."
Raymond mengangguk singkat.
"Aku segera ke sana."
Beberapa mahasiswa yang melihat langsung berbisik-bisik.
"Itu sekretaris keluarga Raymond, kan?"
"Iya. Katanya keluarganya punya banyak perusahaan."
"Pantes aja auranya beda."
Angela yang kebetulan lewat hanya melirik sekilas.
"May."
"Hmm?"
"Kayaknya hidup dia ribet juga."
"Hah?"
"Baru kuliah aja udah dijemput sekretaris."
Maya tertawa.
"Fokus lo malah ke situ?"
"Iya lah."
Raymond yang hendak masuk ke mobil tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Entah kenapa, ia menoleh ke arah Angela.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Angela mengangkat tangan kecil sambil tersenyum sopan.
"Dadah." Maya langsung melotot.
"Ang! Ngapain lo malah dadah?"
"Lah... refleks." Di luar dugaan, Raymond menganggukkan kepala pelan sebagai balasan sebelum masuk ke dalam mobil.
Mobil itu pun melaju meninggalkan area kampus. Maya masih bengong.
"Gue nggak salah lihat, kan?"
"Lihat apa?"
"Raymond... bales lo." Angela mengangkat bahu.
"Ya terus?"
"Dia nggak pernah nyapa orang duluan."
Angela tertawa kecil.
"Berarti hari ini banyak pertama kalinya."
Sore harinya.
Angela akhirnya tiba di rumah kontrak sederhana yang ia tinggali sendirian.
Rumah itu tidak besar, tetapi cukup nyaman. Halaman depannya dipenuhi pot bunga yang ia rawat sendiri.
"Ah... akhirnya pulang."
Angela melempar tas ke sofa, lalu merebahkan tubuhnya. Belum sempat memejamkan mata...
Ting!
Ponselnya berbunyi.
Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.
> Nomor Tidak Dikenal: Sudah sampai rumah?
Angela langsung mengernyit.
"Siapa, ya?" Ia membalas singkat.
Siapa ini? Tak sampai lima detik...
Balasan kembali masuk.
"Raymond". Angela yang tengah berdiri langsung terduduk.
"Hah?!" Matanya membulat.
"Sejak kapan dia punya nomor gue?" Jarinya bergerak cepat mengetik.
'Dapat nomor gue dari mana?
Beberapa detik berlalu.
Balasan kembali muncul.
Itu nggak penting.
Angela mendelik ke layar ponsel.
"Nggak penting dari mana?!"
Pesan berikutnya kembali masuk.
'Yang penting, jangan lupa makan malam.'
'Jangan tidur terlalu larut.'
'Besok gue jemput.'
Angela sampai terdiam beberapa saat. Lalu
Ia langsung menekan tombol panggil.
Tuut...
Tuut...
Baru dering kedua, panggilan itu diangkat.
"Hallo."
Suara Raymond terdengar tenang dari seberang.
Angela langsung protes.
"Eh! Siapa yang nyuruh lo jemput gue?"
"Nggak ada."
"Terus kenapa nulis begitu?"
"Karena besok gue memang bakal jemput."
Angela menarik napas panjang, berusaha menahan kesal.
"Raymond."
"Iya."
"Gue bisa berangkat sendiri."
"Tahu."
"Terus?"
"Tetap gue jemput."
Angela menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Ya ampun... nih cowok keras kepala banget."
Di seberang sana, Raymond justru terdengar tertawa pelan. Suara tawanya singkat, tapi cukup membuat Angela terdiam.
"Lo..."
"Hmm?"
"Ternyata bisa ketawa juga."
Raymond tersenyum tipis.
"Hanya untuk orang tertentu."
Ucapan itu membuat Angela kehilangan kata-kata. Tanpa menunggu balasan, Raymond menutup telepon lebih dulu.
Angela menatap layar ponselnya sambil menghela napas panjang.
"Fix...! Semester ini bakal panjang banget."
Mentari pagi baru saja menyembul dari balik gedung-gedung kota. Udara masih terasa sejuk, sementara jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang berangkat bekerja dan para mahasiswa yang bersiap menuju kampus.
Di sebuah rumah kontrakan sederhana, suara alarm ponsel berbunyi nyaring.
Triing... Triing... Triing...
Angela meraba-raba meja di samping kasur dengan mata yang masih terpejam.
"Ya ampun... berisik banget..."
Bukannya menemukan ponsel, tangannya justru menyenggol botol minum hingga terjatuh ke lantai.
Bruk!
Angela langsung membuka sebelah matanya.
"Aduh! Pagi-pagi udah bikin kaget."
Dengan rambut yang masih berantakan, ia akhirnya berhasil mematikan alarm, lalu menggeliat panjang.
"Hari kedua kuliah... semangat, Angela."
Ia turun dari tempat tidur sambil menyeret sandal. Setelah membuka gorden, cahaya mentari pagi langsung masuk dan memenuhi kamar mungilnya. Angela menarik napas dalam-dalam.
"Cuacanya enak juga."
Tak ingin terlambat, ia segera melangkah menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, suara gemericik air mulai terdengar. Beberapa menit setelahnya, Angela keluar dengan handuk kecil yang disampirkan di bahunya. Ia berdiri di depan lemari, menatap isinya sambil berpikir sejenak.
"Hmm... pakai yang mana, ya?"
Tangannya mengambil sebuah rok lipit.
"Nggak, deh."
Rok itu dikembalikannya ke dalam lemari. Lalu tangannya beralih mengambil hoodie.
"Kepanasan."
Akhirnya, ia memilih kaus putih polos, celana jeans biru, dan jaket denim favoritnya.
"Nah... ini baru gue."
Angela mengikat rambut panjangnya menjadi satu kuncir sederhana, lalu bercermin sambil tersenyum puas.
"Oke. Siap berangkat."
Tiba-tiba perutnya berbunyi.
Kruuuk...
Angela memegang perutnya sambil tertawa kecil.
"Iya, iya... sarapan dulu."
Ia berjalan menuju dapur mungil. Di sana hanya tersedia sepotong roti tawar, sebutir telur, dan sekotak susu.
Angela mulai menggoreng telur sambil memanggang roti. Sesekali ia bersenandung pelan mengikuti lagu yang diputar dari ponselnya.
"Semoga hari ini lebih tenang dari kemarin."
Beberapa menit kemudian, ia duduk di meja makan kecil. Baru saja hendak menyuapkan gigitan pertama...
Ponselnya bergetar.
Ting.
Sebuah pesan masuk.
Raymond: Udah bangun?
Angela langsung mendelik.
"Baru jam segini udah nge-chat."
Ia segera mengetik balasan singkat.
Angela: Udah.
Tak sampai tiga detik...
Balasan kembali masuk.
Raymond: Sarapan dulu.
Angela menghela napas.
Angela: Lagi makan.
Raymond: Bagus.
Raymond: Jangan buru-buru.
Angela menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Kenapa rasanya kayak lagi diawasin, sih?"
Setelah selesai sarapan, ia mencuci piring, memasukkan kotak bekal ke dalam tas, lalu memeriksa isi ranselnya satu per satu.
"Laptop, dompet, power bank, kartu mahasiswa. Oke, aman." setelah memeriksa semua perlengkapannya, Angela kemudian mengenakan sepatu kets putih kesayangannya.
Beberapa menit pun berlalu.
Angela mengunci pintu kontrakannya, lalu memasukkan kunci ke dalam tas kanvas yang sudah mulai pudar warnanya. Ia menepuk-nepuk saku depan tas untuk memastikan dompet dan ponselnya tidak tertinggal. Setelah itu, ia melangkah santai menuju motor matic tuanya yang terparkir di depan pagar.
Baru dua langkah berjalan, suara gesekan ban dengan aspal memecah keheningan pagi.
Ciiit...
Sebuah mobil sport berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan pagar kontrakan. Kilauan bodinya memantulkan cahaya matahari pagi hingga tampak begitu mencolok di antara deretan rumah sederhana di gang itu. Beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman bahkan sempat melirik penasaran.
Angela mengangkat sebelah alis.
"Mobil siapa pagi-pagi begini?"
Pintu mobil terbuka perlahan.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan gerakan tenang. Raymond mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang lengan bajunya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan abu-abu gelap dan jam tangan berdesain elegan di pergelangan kirinya. Penampilannya tidak berlebihan, tetapi aura berkelas yang melekat padanya tetap sulit disembunyikan.
Kontras sekali dengan lingkungan sederhana tempat Angela tinggal.
Begitu pandangan mereka bertemu, Raymond menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Selamat pagi."
Angela hanya berkedip beberapa kali.
"..."
Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan Raymond benar-benar sedang berbicara kepadanya.
Setelah yakin tidak ada orang lain di sekitar, ia menunjuk dirinya sendiri.
"Lo... ngapain di sini?"
"Jemput lo."
Jawaban itu keluar begitu saja, datar, seolah hal tersebut adalah sesuatu yang sangat biasa.
Sebaliknya, Angela justru mengerutkan dahi.
"Bentar."
Ia kembali menunjuk dirinya sendiri dengan wajah penuh tanda tanya.
"Maksud lo... jemput gue?"
Raymond mengangguk singkat.
"Iya."
Angela memijat pelipisnya pelan.
"Serius?"
"Iya."
"Tapi... kok lo tahu rumah gue?"
Raymond terdiam sesaat sebelum menjawab santai.
"Nyari."
Angela langsung memasang wajah curiga.
"Nyari gimana?"
"Ya... nyari."
Jawaban singkat itu justru membuat rasa penasaran Angela semakin menjadi.
"Rumah gue nggak muncul di Google Maps, kali."
Sudut bibir Raymond terangkat. Ia terkekeh pelan, suara tawanya rendah, tetapi terdengar hangat.
"Itu urusan gampang."
Angela memicingkan mata sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Jangan bilang... lo nyuruh orang nyari alamat gue?"
Raymond tidak membantah. Tatapannya tetap tenang, seolah menganggap hal itu bukan sesuatu yang perlu dijelaskan panjang lebar.
Melihat reaksi tersebut, Angela menepuk dahinya pelan.
"Ya ampun... niat banget."
Ia benar-benar tidak habis pikir.
Mereka baru saling mengenal kemarin.
Bahkan, kalau dihitung, jumlah percakapan mereka belum sampai puluhan kalimat.
Namun pagi ini, Raymond sudah berdiri di depan rumah kontrakannya, lengkap dengan mobil mewah yang nilainya mungkin bisa membeli seluruh deretan kontrakan di gang itu.
Angela mengembuskan napas panjang.
"Cowok ini sebenarnya kenapa, sih?" batinnya.
"Kemarin tiba-tiba nyuruh cowok lain menjauh dari gue. Malamnya entah gimana bisa dapat nomor HP gue. Sekarang... dia bahkan tahu alamat rumah gue."
Semakin dipikirkan, semakin sulit dipahami.
Tatapan Angela perlahan turun dari wajah Raymond hingga ke sepatu kulit mahal yang dikenakannya.
Lalu ia melirik motornya sendiri yang mulai kusam.
Perbedaan dunia mereka terasa begitu nyata.
Yang satu datang dengan mobil sport seharga miliaran.
Yang satu lagi masih setia mengendarai motor yang sudah menemaninya sejak SMA.
Harusnya mereka tidak pernah berada dalam satu garis kehidupan.
Namun entah kenapa, pria itu terus muncul di hadapannya.
Angela kembali mengangkat wajah.
"Jujur deh."
"Hm?"
"Lo lagi ngerjain gue, ya?"
Raymond terlihat sedikit bingung.
"Ngerjain?"
"Iya."
Angela mengangkat kedua bahunya.
"Jangan-jangan ini tantangan dari teman-teman lo. Gue pernah dengar, anak-anak orang kaya suka bikin taruhan aneh."
Raymond menggeleng pelan.
Sorot matanya berubah lebih serius.
"Gue nggak pernah bercanda soal lo."
Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun.
Tidak ada senyum jahil.
Tidak ada nada menggoda.
Hanya ketulusan yang justru membuat Angela kehilangan kemampuan untuk membalas.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah jalan agar Raymond tidak menyadari perubahan ekspresinya.
"Kenapa dia ngomongnya selalu serius, sih?" gumamnya lirih.
Angela mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa hangat.
"Raymond..."
"Iya?"
"Gue masih belum ngerti."
"Ngerti apa?"
"Kenapa lo baik banget sama gue? Padahal kita baru kenal."
Raymond menatap mata Angela cukup lama.
Tatapannya tetap tenang, tetapi kali ini terasa jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
Seolah tembok dingin yang selama ini mengelilinginya mulai retak sedikit demi sedikit saat berada di dekat gadis itu.
"Mungkin..."
Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan di antara mereka terasa begitu jelas.
Angin pagi berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambut Angela ke depan wajahnya.
Tanpa sadar, Raymond memperhatikan pemandangan sederhana itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"...karena dari pertama kali lihat lo..."
Ia tersenyum tipis.
"...gue merasa ada sesuatu yang berbeda."
Kalimat itu membuat dada Angela berdesir pelan.
Ia spontan tertawa kecil, bukan karena merasa lucu, melainkan untuk menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.
"Jawaban lo malah bikin gue makin bingung."
Raymond ikut tersenyum tipis.
Senyumnya memang singkat, tetapi cukup untuk mengubah wajah dinginnya menjadi jauh lebih hangat.
"Nggak apa-apa."
Angela mengangkat alis.
"Kenapa nggak apa-apa?"
Raymond melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka kini hanya terpaut satu langkah.
Dengan gerakan alami, ia membuka pintu mobil di sisi penumpang, lalu menoleh kepada Angela.
"Soalnya..."
Ia menatap gadis itu lekat-lekat.
Tatapannya penuh keyakinan, seolah tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya.
"...gue masih punya banyak waktu buat bikin lo pelan-pelan ngerti."
Angela terdiam.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih kencang dibanding sebelumnya.
Ia menatap Raymond beberapa saat tanpa berkedip. Lalu, tanpa sadar, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.
"Gawat... kalau dia terus bersikap kayak gini, jangan-jangan benteng pertahanan gue yang runtuh lebih dulu." Di dalam hati, ia mengeluh pelan.
"Siapa sebenarnya Raymond?" batinnya. "Dan kenapa rasanya dia seperti sudah mengenalku jauh lebih lama daripada yang kukira?"
Angela masih berdiri di depan pagar kontrakannya. Tatapannya bergantian antara mobil sport hitam milik Raymond dan motor matic kesayangannya yang terparkir di teras.
Ia menunjuk motornya.
"Raymond."
"Hm?"
"Gue masih punya motor."
"Tahu."
"Terus kenapa harus naik mobil lo?"
Raymond menjawab tanpa ragu.
"Biar gue yang antar."
Angela mengembuskan napas panjang.
"Lo tuh susah banget dibilangin."
"Memang."
Jawaban santai itu membuat Angela spontan memutar bola matanya.
"Kenapa sih, semua jawaban lo bikin orang pengen nyubit?" Raymond menatapnya datar.
"Mau nyoba?" Angela yang tadi kesal malah tertawa kecil.
"Ish... pede banget." Raymond membuka pintu mobil untuknya.
"Masuk." Angela masih diam di tempat.
"Kalau gue nolak?"
"Gue tunggu."
"Kalau gue tetap naik motor?"
"Gue ikut di belakang." Angela menghela napas pasrah.
"Kalau gue muter-muter kota dulu?"
"Gue ikut muter."
Angela menatap Raymond beberapa detik, lalu geleng-geleng kepala sambil tertawa.
"Lo menang."
Akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu tertutup, aroma lembut parfum bercampur wangi kulit jok mobil langsung menyambutnya. Angela melihat ke sekeliling dengan rasa kagum.
"Mobil lo... bersih banget."
Raymond duduk di kursi kemudi sambil memasang sabuk pengaman.
"Gue nggak suka berantakan."
"Pantes." Angela memperhatikan dashboard mobil yang terlihat rapi tanpa hiasan berlebihan.
"Bahkan nggak ada boneka."
"Buat apa?"
"Biar lucu." Raymond melirik Angela sekilas.
"Udah ada." Angela mengernyit.
"Mana?" Raymond tersenyum tipis.
"Duduk di sebelah gue." Angela membelalakkan mata, wajahnya langsung memanas.
"Lo lagi ngeledekin gue?"
"Nggak." Raymond terdiam sejenak, "Gue ngomong jujur." Angela mendengus pelan sambil memalingkan wajah ke jendela.
"Dasar aneh." Raymond tidak membalas.
Namun, sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat. Mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan kontrakan.
Sepanjang perjalanan, Angela lebih banyak memperhatikan pemandangan di luar. Jalanan mulai padat oleh kendaraan yang berangkat bekerja. Di beberapa lampu merah, pedagang sarapan tampak sibuk melayani pembeli, sementara siswa berseragam bergegas menuju sekolah.
Angela memecah keheningan.
"Raymond."
"Iya."
"Lo tiap hari berangkat sepagi ini?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Banyak kerjaan."
"Kerjaan kampus?"
"Bukan." Angela menoleh penasaran.
"Terus?"
"Perusahaan." Angela berkedip.
"Lo... kerja?"
"Lebih tepatnya bantu keluarga." Angela mengangguk pelan.
"Pasti capek, ya."
"Udah biasa." Suasana kembali hening.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di lampu merah.
Di luar, seorang nenek penjual tisu berjalan menghampiri kendaraan yang berhenti.
Raymond membuka sedikit kaca mobil.
"Nek."
Nenek itu tersenyum ramah.
"Iya, Nak."
"Saya beli semuanya."
Angela menoleh cepat.
"Semuanya?" Raymond mengangguk.
"Iya."
Nenek itu tampak terharu saat menerima uang yang diberikan Raymond.
"Terima kasih banyak, Nak. Semoga rezekinya makin lancar." Raymond hanya mengangguk pelan.
"Sama-sama."
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali melaju.
Angela diam cukup lama. Ia menatap Raymond dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya.
"Orang ini..." batinnya.
"Kelihatannya dingin banget, tapi ternyata diam-diam perhatian juga." Raymond yang menyadari tatapan Angela melirik sekilas.
"Kenapa?" Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak."
"Yakin?" singkatnya.
"Iya."
Meski menjawab begitu, di dalam hati Angela mulai muncul rasa penasaran yang semakin besar.
Mungkin... Raymond tidak sedingin yang diperlihatkannya kepada dunia.
***
Mobil sport hitam itu melaju mulus menuju kawasan kampus. Semakin dekat ke gerbang utama, semakin gelisah Angela dibuatnya.
Saat mobil berhenti di lampu merah yang berada di persimpangan menuju kampus, Angela melirik Raymond yang sedang memegang setir dengan santai.
"Ray?" panggil Angela pelan.
"Hm?"
"Turunin gue di sini aja." Raymond mengernyit tipis namun tidak ada niat berhenti.
"Kenapa?" singkatnya. Angela menunjuk ke arah gerbang kampus yang tinggal beberapa puluh meter lagi. jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
"Kalau gue jalan dari sini juga nyampe. Nggak usah sampai depan fakultas." Raymond kembali menoleh sekilas ke arahnya.
"Nggak." Angela terkejut saat mendengar jawaban itu.
"Raymond, serius. Nanti orang-orang salah paham."
"Mereka bebas mikir apa."
"Yang repot gue."
Lampu lalu lintas berubah hijau, alih-alih menepikan mobil, Raymond justru kembali menginjak pedal gas dan membawa mobilnya memasuki area kampus.
"Raymond!"
"Gue udah bilang, nggak." ucapnya pelan namun terdengar tegas. Angela menyandarkan punggungnya ke kursi, pasrah.
"Dasar keras kepala." Raymond hanya tersenyum tipis di sudut bibirnya.
"Lo gue antar sampai depan fakultas." Beberapa menit kemudian, mobil sport hitam itu berhenti tepat di depan gedung fakultas.
Begitu mesin dimatikan, puluhan pasang mata langsung tertuju ke arah mereka.
"Eh... itu mobil Raymond, kan?"
"Iya!"
"Tunggu... siapa yang ada di kursi penumpang?"
Angela yang semula hendak membuka pintu mendadak mengurungkan niatnya. Ia melirik ke luar jendela dan mendapati banyak mahasiswa sudah memperhatikan mobil mereka.
"Waduh..." Raymond menoleh.
"Kenapa?" ucapnya santai.
"Semuanya lagi ngelihatin." Raymond mengikuti arah pandangnya, lalu kembali menatap Angela dengan wajah datar.
"Terus?" Angela menatapnya tak percaya.
"Terus katanya? Ya jelas, Gue malu!" Raymond membuka sabuk pengamannya.
"Kalau terus nunggu di sini, yang lihat malah makin banyak." Angela mendesah pasrah.
"Iya juga..." Raymond turun lebih dulu dari mobil. Ia berjalan memutar menuju sisi penumpang, lalu membuka pintu untuk Angela.
"Nah, sekarang turun." Angela menatap Raymond beberapa detik sebelum akhirnya menyerah.
"Oke... kalau nanti kampus heboh, itu salah lo."
Raymond mengangkat bahu santai.
"Siap."
Angela pun turun dari mobil sambil merapikan ransel di bahunya.
Namun baru saja kedua kakinya menginjak aspal, suasana di sekitar mereka mendadak berubah hening.
Puluhan pasang mata tertuju kepada mereka.
Beberapa mahasiswa bahkan langsung mengeluarkan ponsel, seolah tak ingin melewatkan momen langka ketika Pangeran Kampus mengantar seorang mahasiswi hingga ke depan fakultas.
Angela mematung sesaat.
Puluhan tatapan mengarah kepadanya tanpa berkedip. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai penjuru halaman fakultas.
"Itu cewek yang bareng Raymond?"
"Iya. Dia benar-benar dianter sampai depan gedung."
"Siapa, sih? Mahasiswa baru?"
Angela menarik napas dalam-dalam. Ia meraih tali ranselnya, lalu menatap Raymond dengan kesal.
"Nih, kan. Gue udah bilang."
Raymond hanya mengunci mobilnya dengan menekan remote.
"Biarin aja."
"Biarin gimana? Besok-besok nama gue udah jadi bahan gosip satu kampus."
Raymond melangkah santai melewati Angela.
"Kalau udah selesai ngeluh, ayo."
Angela mendengus pelan.
"Nyebelin." Meski begitu, ia tetap menyusul langkah Raymond.
"ANGELA!" tiba-tiba terdengar suara seruan dari arah depan. Angela menoleh dengan raut muka cemberut.
Maya berlari kecil sambil melambaikan tangan. Begitu sampai di depan Angela, langkahnya langsung terhenti. Pandangannya bergantian menatap Angela, lalu Raymond yang berdiri tak jauh di sampingnya.
Matanya membulat.
"Astaga... gue nggak salah lihat, kan?"
Angela langsung mengangkat kedua tangannya.
"Lo jangan mulai."
"Mulai apanya? Satu fakultas juga lihat lo turun dari mobil Raymond!"
Angela menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Nah, itu dia masalahnya." Maya menatap Angela penuh rasa penasaran.
"Jadi... kalian sekarang apa?"
"Bukan apa-apa."
"Terus kenapa dia nganterin lo?" Angela menunjuk Raymond dengan wajah pasrah.
"Tanya aja sendiri. Gue udah minta turun di persimpangan kampus, tapi dia nggak mau."
Maya menoleh ke arah Raymond.
"Serius, Kak?" Raymond menjawab singkat.
"Iya."
"Lho, kenapa?" tanya Maya penasaran.
"biar lebih aman." Jawaban singkat itu justru membuat Maya makin salah paham. Ia menatap Angela sambil menaik-turunkan alisnya.
"Wih... perhatian banget." Angela buru-buru menggeleng.
"Bukan begitu maksudnya." Raymond menatap Maya.
"Kalau gue lagi nggak ada, tolong temenin Angela." Maya spontan menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?"
"Iya."
"Oke... siap." jawab Maya penuh semangat sambil tangan sebelahnya memberi hormat.
Angela langsung memelototi Raymond.
"Eh, siapa yang nyuruh lo nitipin gue?" Raymond menatapnya tenang.
"Gue."
"Gue bisa jaga diri sendiri."
"Tahu."
"Terus?"
"Gue tetap lebih tenang kalau ada yang nemenin." Kalimat itu membuat Angela kehilangan kata-kata, ia hanya bisa mendesah pelan sambil memalingkan wajahnya. Maya yang melihat interaksi mereka nyaris tertawa.
"Kalau begini terus, gosip di kampus bakal meledak hari ini juga." batinnya.
Di sisi lain halaman, sekelompok mahasiswi memperhatikan mereka dengan tatapan iri.
"Itu cewek baru, ya?"
"Iya. Berani banget dekat sama Raymond."
"Baru masuk kampus aja udah dianter Pangeran Kampus."
"Jangan-jangan mereka pacaran?" Bisikan demi bisikan semakin menyebar.
Tanpa disadari Angela, sejak ia melangkah turun dari mobil sport hitam itu...
Namanya telah menjadi topik pembicaraan di seluruh fakultas.
Angela pura-pura tidak mendengar bisik-bisik para mahasiswi yang terus mengiringi langkahnya. Sejak kemarin, ia memang menjadi pusat perhatian. Meski berusaha bersikap biasa, tetap saja puluhan pasang mata yang menatapnya membuat tengkuknya terasa kaku.
"Ayo, May. Masuk kelas aja," ucap Angela sambil merapikan tali tas di bahunya.
"Iya, daripada makin banyak yang ngelihatin," sahut Maya pelan. Baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba berdiri menghadang mereka. Seorang mahasiswi berambut panjang dengan wajah cantik dan riasan tipis menatap Angela tanpa berkedip.
Clarissa.
Mahasiswi tingkat dua yang terkenal aktif di organisasi kampus. Selain itu, hampir semua orang tahu kalau ia sudah lama menaruh hati pada Raymond. Clarissa melipat kedua tangan di depan dada.
"Jadi... kamu Angela?" tanyanya tanpa basa basi. Angela menghentikan langkahnya lalu membalas senyum tipis dengan sopan.
"Iya." Kepalanya sedikit dimiringkan. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Nggak." Clarissa menggeleng pelan, tetapi sorot matanya tetap tajam. "Aku cuma penasaran." sambungnya.
"Penasaran soal apa?" Clarissa mengangkat dagunya ke arah mobil sport hitam yang masih terparkir di depan gedung fakultas.
"Soalnya..." ujarnya sambil menyipitkan mata. "Selama ini belum pernah ada cewek yang diantar Raymond sampai ke kampus."
Maya langsung menelan ludah kemudian, menyenggol pelan siku Angela.
"Ang..." bisiknya lirih. "Kayaknya dia nggak cuma penasaran deh." Angela hanya menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil seolah ingin menenangkan sahabatnya.
"Oh... gitu." Clarissa mengernyit.
"Cuma 'gitu'?"
"Iya."
"Kamu nggak merasa spesial?" Angela hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa harus?"
"Karena Raymond." Clarissa melangkah setapak lebih dekat. "Dia nggak pernah memperlakukan perempuan lain seperti itu."
Angela menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Ah... mungkin kebetulan aja."
"Kebetulan?" ulang Clarissa dengan nada tidak percaya.
"Iya." Angela mengangguk santai.
"Rumah kami searah. Dia cuma nganterin gue."
Dalam hati, Clarissa mulai kesal. Gadis di depannya seolah tidak menyadari betapa banyak perempuan yang berharap bisa berada di posisi itu.
Atau... Jangan-jangan Angela memang sedang berpura-pura? Saat Clarissa hendak membuka mulut lagi—
"Siapa bilang?" Suara berat yang dingin membuat semua orang spontan menoleh.
Raymond.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara tatapannya lurus ke arah Angela. Sesampainya di depan mereka, Raymond berhenti.
"Aku mengantar Angela," ucapnya tenang, "karena memang ingin mengantarnya."
Hening, beberapa mahasiswa yang sejak tadi diam-diam menguping langsung saling pandang. Maya membelalak.
"Ya ampun..." gumamnya pelan. Sementara Kevin yang berdiri tak jauh dari sana langsung menepuk dahinya.
"Ampun, Bos..." desisnya sambil geleng-geleng kepala. "Kalau ngomong emang nggak pernah disaring."
Angela memijat pelipisnya. "Raymond..."
"Hm?" Raymond menoleh santai.
"Lo ngapain balik lagi?" tanya Angela santai namun mengandung kekesalan.
Alih-alih menjawab, Raymond mengangkat sebuah kotak bekal berwarna biru.
"Ketinggalan." Raymond menyodorkan kotak bekal Angela. Angela langsung membulatkan mata.
"Astaga!" Ia buru-buru menepuk dahinya sendiri.
"Itu bekal gue."
"Tadi jatuh di kursi mobil." Raymond mengulurkan kotak itu. Angela menerimanya dengan kedua tangan.
"Untung lo balik."
"Habis ini dimakan."
"Iya, Pak." Angela memberi hormat bercanda.
Kevin yang berdiri di belakang Raymond langsung tertawa keras.
"Hahaha! Serius, Bos sekarang udah kayak bapak-bapak yang khawatir anaknya lupa makan." Beberapa mahasiswa ikut terkekeh.
Raymond hanya menggeleng pelan. Meski begitu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.Senyuman yang sangat jarang terlihat. Pemandangan itu membuat napas Clarissa tercekat. Selama ini, Ia bahkan belum pernah melihat Raymond tersenyum selembut itu kepadanya.
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh.
Tak lama kemudian Raymond kembali masuk ke mobilnya. Sebelum pergi, ia sempat menatap Angela.
"Kalau pulang nanti kabarin." Angela mengangguk singkat.
"Iya." jawabnya tanpa sadar, setelah beberapa menit, dia pun tertegun. Mobil sport hitam itu pun melaju meninggalkan area fakultas.
Begitu suara mesinnya menghilang, Clarissa kembali menatap Angela.
"Angela."
"Hm?" Angela membalikkan badan.
Clarissa menarik napas pelan sebelum berkata,
"Aku cuma mau kasih saran."
"Saran apa?"
"Jangan terlalu dekat sama Raymond." Angela mengangkat sebelah alis.
"Kenapa memangnya?" Clarissa tersenyum tipis.
"Dunia dia beda sama dunia kita." Angela terdiam sesaat. Kemudian ia tersenyum ramah.
"Mungkin." Wajah Clarissa sedikit melunak.
Namun sedetik kemudian, "Tapi sampai sekarang..." Angela mengangkat kotak bekalnya sambil terkekeh kecil. "Justru Raymond yang terus datang nyari gue."
Maya spontan memejamkan mata.
"Ya Tuhan..." bisiknya putus asa. "Angela, rem dikit napa." Beberapa mahasiswa yang mendengar kalimat itu langsung saling berbisik.
"Nggak salah denger, kan?"
"Berani banget ngomongnya."
"Sakit sih kalau jadi Clarissa." Wajah Clarissa perlahan mengeras. Ia ingin membantah.
Namun kenyataannya semua orang baru saja melihat sendiri bagaimana Raymond kembali hanya demi mengembalikan bekal Angela.
Fakta itu tidak bisa disangkal.
Clarissa akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Baiklah." Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan berjalan pergi. Begitu sosoknya menghilang, Maya langsung mencengkeram lengan Angela.
"Ang!"
"Apa lagi?"
"Lo tahu nggak siapa dia?" Angela menggeleng.
"Nggak."
"Itu Clarissa." Maya mendekatkan wajahnya sambil berbisik. "Banyak cowok ngejar dia. Tapi dia malah ngejar Raymond dari dulu."
Angela langsung meringis.
"Pantesan auranya serem banget."
"Iya." Maya mengangguk cepat.
"Makanya hati-hati." Angela menghela napas panjang.
"Gue beneran nggak ada niat cari musuh."
Maya tertawa hambar.
"Masalahnya..." katanya sambil menepuk pelan bahu Angela, "kadang musuh datang bukan karena kita nyari. Tapi karena kita terlalu dekat sama orang yang diincer banyak cewek."
Angela hanya bisa mengusap wajahnya pasrah.
****
Hari kedua kuliah bahkan belum memasuki jam pertama. Namun ia sudah mulai merasakan satu hal. Dekat dengan Raymond bukan hanya membuatnya menjadi pusat perhatian, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai masalah yang sama sekali tidak pernah ia undang.
Mata kuliah pun berganti, suara riuh di koridor perlahan mereda. Para mahasiswa mulai berhamburan menuju kelas masing-masing.
"Ayo!" Maya menarik pelan lengan Angela. "Kalau telat lagi, dosen killer itu bisa langsung nyuruh kita berdiri di luar."
Angela terkekeh. "Iya, iya. Santai."
Mereka bergegas memasuki ruang kuliah. Beruntung dosen belum datang.
Ruangan yang semula ramai masih dipenuhi obrolan mahasiswa. Begitu Angela melangkah masuk, beberapa siswa langsung menoleh.
"Itu dia..."
"Cewek yang diantar Raymond."
"Duduknya di mana, ya?"
Bisik-bisik kembali terdengar.
Angela pura-pura tidak peduli. Ia memilih bangku di baris tengah dekat jendela, lalu meletakkan tasnya di atas meja.
"Huft..." Ia mengembuskan napas panjang. "Baru juga pagi." Maya duduk di sebelahnya sambil tertawa kecil.
"Lo sekarang udah terkenal, Ang."
"Terkenal apanya?"
"Belum sehari, nama lo udah keliling fakultas."
Angela hanya menggeleng pasrah.
"Aku pengin kuliah yang tenang."
"Sayangnya..." Maya mengangkat bahu. "Semesta kayaknya punya rencana lain."
Belum sempat Angela membalas, pintu kelas kembali terbuka. Seorang pria berkacamata masuk sambil membawa setumpuk buku.
"Itu ketua tingkat," bisik Maya. Pria itu berdiri di depan kelas lalu bertepuk tangan pelan.
"Teman-teman, sebelum dosen datang, saya mau mengumumkan sesuatu." Ruangan langsung sunyi. .
"Minggu depan kampus mengadakan program mentoring untuk mahasiswa baru. Nama mentor akan dipasangkan hari ini."
Beberapa mahasiswa langsung bersorak antusias.
"Wah, semoga mentorku kakak tingkat yang ganteng."
"Yang penting baik."
"Jangan yang galak." Ketua tingkat membuka lembar daftar di tangannya.
"Oke, saya mulai." Satu per satu nama dipanggil. Setiap mahasiswa langsung mengetahui siapa mentor mereka.
Angela tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya, siapa pun mentornya tidak masalah, hingga namanya pun di sebut.
"Angela Pratama."
"Iya?" Angela mengangkat tangan.
Ketua tingkat melihat kembali daftar di tangannya, lalu mengernyit seolah memastikan dirinya tidak salah baca.
"Mentormu adalah..." Ia berhenti sejenak, seluruh kelas ikut menunggu.
"...Raymond." Ruangan mendadak sunyi.
"Demi apa?"
"Serius?"
"Ini kebetulan atau gimana?"
Puluhan pasang mata langsung beralih kepada Angela. Angela sendiri tampak mematung.
"Hah?" Maya sampai menjatuhkan pulpennya.
"Ang... gue nggak salah denger, kan?" Angela masih belum percaya.
"Kayaknya... gue juga salah denger." Ketua tingkat berdeham.
"Nggak salah. Sesuai data yang saya terima."
Bisik-bisik kembali memenuhi kelas.
"Fix."
"Mereka emang dekat."
"Pantes diantar."
Angela buru-buru menggeleng.
"Nggak, ini pasti ada yang keliru."
"Tanya aja nanti ke bagian akademik," kata ketua tingkat sebelum melanjutkan pembagian nama lainnya.
Namun perhatian mahasiswa sudah telanjur buyar. Semua masih sibuk membicarakan Angela. Tak lama kemudian, dosen akhirnya datang.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak."
Perkuliahan pun dimulai.
Selama hampir dua jam, Angela berusaha fokus mencatat materi. Sesekali ia berhasil melupakan semua kejadian sejak pagi.
Hingga kelas selesai.
"Baik, minggu depan kita kuis," ucap dosen sebelum keluar ruangan.
Begitu dosen menghilang, suasana kembali ramai. Angela baru saja hendak memasukkan buku ke dalam tas ketika seseorang berdiri di samping mejanya. Ia mengangkat wajah.
Clarissa.
"Kamu." Angela tersenyum tipis.
"Ya?" Clarissa meletakkan secarik kertas di atas meja.
"Itu jadwal rapat mentor." Angela melirik kertas itu.
"Terima kasih." Clarissa tidak langsung pergi.
Tatapannya justru semakin tajam.
"Semoga kamu sadar."
"Sadar apa?" Clarissa menyilangkan kedua tangan.
"Di kampus ini... banyak orang yang ingin dekat dengan Raymond." Angela menatapnya tenang.
"Lalu?"
"Jangan sampai kamu menyakiti dia."
Angela tersenyum kecil.
"Kayaknya... yang lebih perlu dijaga justru jangan sampai dia menyakiti gue."
Jawaban itu membuat Maya spontan batuk karena menahan tawa. Clarissa terdiam beberapa detik.
Belum sempat ia membalas, terdengar suara langkah kaki dari arah pintu kelas.
Seluruh mahasiswa serempak menoleh.
Sesosok pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu. Dengan wajah datar, Raymond menyapu isi kelas dengan tatapan tenangnya.
Lalu, tanpa sedikit pun ragu, ia mengucapkan satu kalimat yang membuat seisi ruangan kembali membeku.
"Angela."
"Iya?"
"Ayo pulang." Seisi kelas langsung terdiam.
Sementara Clarissa hanya mampu mengepalkan kedua tangannya, menyaksikan Raymond sama sekali tidak melirik ke arahnya. Ucapan Raymond membuat ruang kelas seketika diselimuti keheningan.
Semua kepala menoleh hampir bersamaan. Tatapan mereka bergantian berpindah dari Raymond ke Angela, seolah menunggu reaksi gadis itu.
Angela yang sedang memasukkan buku ke dalam tas pun berhenti. Tangannya menggantung di udara.
"Hah?" Ia mengerjapkan mata beberapa kali. "Pulang?"
"Iya." Raymond mengangguk singkat.
Angela melirik jam dinding yang tergantung di atas papan tulis.
"Masih siang."
"Aku tahu."
"Nah, terus kenapa buru-buru pulang?" Raymond menjawab tanpa ragu.
"Karena kita mau pulang."
Nada bicaranya tetap datar, seolah mengajak Angela pulang bersama adalah hal yang paling lumrah. Kevin, yang berdiri di belakang Raymond sambil membawa map, langsung mengusap wajahnya pelan.
"Astaga, Bos..." gumamnya lirih. "Bisa nggak sekali-kali ngomong yang lebih halus?" Raymond menoleh sekilas.
"Memangnya salah?" Kevin mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Nggak salah, sih." Ia terkekeh canggung. "Cuma... cara ngomong Bos itu bikin orang salah paham." Ucapan Kevin justru memancing bisik-bisik di seluruh kelas.
"Raymond nungguin Angela selesai kuliah?"
"Baru kali ini gue lihat dia masuk kelas mahasiswa baru."
"Clarissa pasti panas."
Angela mengembuskan napas pelan. Ia menutup ritsleting tasnya, lalu berdiri.
"Ray," panggilnya sambil menyampirkan tas ke bahu, "gue masih mau ke perpustakaan."
Raymond menatapnya tenang.
"Buat apa?"
"Pinjam beberapa buku."
"Aku antar." Angela langsung menggeleng.
"Nggak usah. Gue bisa sendiri." Raymond tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan wajah Angela beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Lalu?" tanya Angela, mulai heran karena Raymond hanya diam.
"Aku ikut." Angela menghela napas panjang.
"Lo ini kenapa, sih?"
"Bukannya tadi mau ke perpustakaan?"
"Iya."
"Berarti aku ikut." Jawaban polos itu membuat Maya spontan menutup mulutnya agar tidak tertawa.
"Ya ampun..." bisiknya sambil menyenggol bahu Angela. "Dia serius banget." Angela memijat pelipisnya.
"Ray, gue bukan anak kecil." Raymond mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Terus?"
"Temenin."
Satu kata itu kembali membuat seisi kelas terdiam. Maya menepuk dahinya.
"Fix." Ia menggeleng sambil tertawa pelan. "Hari ini gosip kampus bakal meledak."
Di sisi lain, Clarissa yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya melangkah mendekat.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, tetapi senyumnya tetap dipaksakan.
"Raymond."
"Hm?"
"Kamu lupa?" tanyanya hati-hati. "Sore nanti ada rapat organisasi."
"Aku ingat."
"Kamu datang, kan?"
Raymond mengangguk.
"Datang."
Mata Clarissa langsung berbinar.
Namun sebelum ia sempat tersenyum lebih lebar, Raymond kembali melanjutkan ucapannya.
"Habis nganter Angela."
Senyum di wajah Clarissa perlahan memudar.
Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram tali tas hingga buku-buku jarinya memutih.
Di sudut kelas, beberapa mahasiswa mulai berbisik semakin heboh.
"Dia nolak ajakan Clarissa cuma buat nganter Angela?"
"Gila... ini udah bukan gosip lagi."
Maya menoleh ke arah Angela dengan wajah panik.
"Ang."
"Hm?"
"Tolong ngomong sesuatu."
Angela mengernyit.
"Ngomong apa?"
"Apalah! Biar suasananya nggak makin panas." Angela menarik napas, lalu menatap Raymond.
"Ray."
"Iya?"
"Gue naik motor sendiri."
"Nanti hujan."
Angela menoleh ke arah jendela.
Langit memang mulai dipenuhi awan kelabu, tetapi matahari masih terlihat malu-malu di balik sela-selanya.
"Belum hujan." Raymond tetap tenang.
"Nanti hujan."
"Kalaupun hujan, gue bisa neduh."
"Nggak usah." Raymond menggeleng pelan.
"Aku yang antar." Angela mengembuskan napas panjang sambil memijat tengkuknya.
"Lo keras kepala, ya." Raymond menatapnya tanpa mengubah ekspresi.
"Katanya begitu." Jawaban itu membuat Kevin terkekeh pelan.
"Nah, Bos sadar juga." Angela akhirnya menyerah. Ia mengangkat kedua tangan.
"Iya, iya. Terserah." Untuk pertama kalinya sejak masuk kelas, sudut bibir Raymond melengkung membentuk senyum tipis.
Maya yang melihatnya langsung membelalak.
"Demi apa..." bisiknya. "Dia senyum." Kevin ikut mengangguk.
"Rekor baru." Raymond berbalik menuju pintu.
"Ayo."
Angela hendak mengikutinya, tetapi baru dua langkah berjalan, suara Clarissa kembali menghentikannya.
"Angela." Angela menoleh.
"Iya?"
Clarissa menatapnya lekat-lekat.
"Aku belum selesai." Angela mengangkat sebelah alis.
"Maksudnya?"
Clarissa menarik napas dalam sebelum berkata pelan,
"Mulai hari ini..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Angela tanpa berkedip.
"...aku nggak akan tinggal diam."
Suasana kelas kembali sunyi.
Beberapa mahasiswa saling bertukar pandang, merasakan ketegangan yang mulai memanas. Angela belum sempat menjawab.
Raymond yang sudah berada di ambang pintu tiba-tiba berbalik. Tatapannya yang dingin langsung mengarah kepada Clarissa.
"Kalau ada masalah, bicara denganku."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raymond melangkah mendekat ke arah Angela. Dengan gerakan alami, ia mengambil tas yang masih menggantung di bahu gadis itu.
"Eh!" Angela refleks menahan tali tasnya.
"Ray, tas gue!" Angela terkejut saat tasnya di ambil ol h Raymond.
"Aku bawakan." Angela memandang tasnya, lalu menatap Raymond dengan wajah bingung.
"Isinya cuma dua buku sama kotak bekal."
"Hm."
"Nggak berat." Raymond menatapnya sekilas.
"Kalau begitu..." ucapnya menggantung di udara, Ia mengangkat tas itu sedikit sambil berkata datar, " biar aku yang ngerasain." sambungnya. Kevin langsung menepuk dahinya sambil terkekeh.
"Bos, Bos... nggak sadar ya kalau kalimat barusan bikin cewek-cewek satu kampus susah move on."
Beberapa mahasiswa ikut tertawa kecil, sementara yang lain hanya bisa melongo.
Hari itu, tanpa perlu menyatakan apa pun secara terang-terangan, semua orang menyaksikan satu hal yang sulit dibantah.
Pangeran kampus yang dikenal dingin, sulit didekati, dan nyaris tak pernah peduli pada perempuan, kini justru dengan sukarela membawakan tas seorang mahasiswi baru.
Dan mahasiswi itu bernama Angela.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!