Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri SAH Yang Disia-siakan

Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka

Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal terdengar nyaring di ruang makan kediaman Ibu Widya.

Ruangan itu dirancang dengan kemewahan yang mencolok. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya berkilau, dinding berlapis wallpaper sutra, dan meja makan panjang dari kayu jati solid dipoles sempurna.

Setiap bulan, ada jamuan makan malam keluarga yang wajib dihadiri. Bagi Sarah, malam-malam seperti ini tak ubahnya seperti berjalan di atas pecahan kaca yang tajam.

Selama lima tahun berturut-turut, Sarah selalu mengambil posisi duduk di ujung meja yang paling tidak strategis. Posisi yang seolah-olah menegaskan kastanya di rumah ini: seorang penonton, bukan bagian dari keluarga.

"Ardi, coba kamu lihat ini. Ini brosur dari anaknya Jenderal tumpuan Papa dulu," ujar Ibu Widya memecah keheningan dengan suara sengaja dikeraskan.

Beliau menggeser sebuah brosur pameran seni yang menampilkan foto seorang wanita muda berwajah blasteran.

"Cantik, lulusan luar negeri, dan keluarganya punya jaringan bisnis luas di ibu kota. Bukan seperti..." Ibu Widya sengaja menggantung kalimatnya.

Matanya yang dihiasi riasan tebal melirik sinis ke arah Sarah yang sedang mengunyah makanan dengan pelan.

"...wanita yang cuma modal tampang pas-pasan dan latar belakang tidak jelas. Hanya bisa membuat status sosialmu mandek!"

Ardi yang duduk di kepala meja hanya berdehem pelan. Laki-laki itu sibuk memotong daging steak di piringnya, membiarkan saus melumuri pisau peraknya.

Dia sama sekali tidak mendongak, apalagi berniat membela istrinya yang sedang disudutkan secara terang-terangan.

"Ma, Ardi sudah menikah dengan Sarah. Jangan bahas itu lagi di depan meja makan," ucap Ardi hambar.

Nada suaranya sangat datar. Seolah kalimat pembelaan itu hanyalah formalitas belaka agar ibunya tidak terlalu berisik, bukan karena dia benar-benar peduli pada perasaan Sarah.

"Mama cuma mengingatkan kamu, Ardi! Kamu itu sekarang pengusaha sukses!" sela Rika, kakak perempuan Ardi, ikut menimpali dengan nada ketus.

Rika meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan kecil yang disengaja.

"Bisnis kontraktor kamu itu sedang berkembang pesat di mana-mana. Kamu butuh pendamping yang bisa menaikkan gengsi dan membantumu melobi klien kelas atas. Bukan istri rumahan yang tahunya cuma masak, mencuci, dan menghabiskan uang hasil keringatmu setiap hari!"

Sarah meremas kain serbet putih di pangkuannya hingga jemarinya memutih.

Menghabiskan uang? Kalimat itu rasanya seperti lelucon paling kejam yang pernah dia dengar.

Selama lima tahun pernikahan ini, uang belanja dari Ardi selalu dipotong berkala oleh Ibu Widya dengan alasan untuk tabungan masa depan Ardi dan investasi keluarga.

Sarah bahkan harus memutar otak setiap hari, mencatat setiap butir bawang dan cabai yang dibelinya agar uang dapur yang pas-pasan itu cukup.

Jangankan untuk membeli pakaian bermerek atau perawatan di salon mewah seperti Rika, untuk membeli sepotong baju baru saja Sarah harus berpikir dua kali.

"Ma, Mbak Rika... Sarah selama ini sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Mas Ardi. Menjaga rumah dan memastikan semua kebutuhan Mas Ardi terpenuhi sebelum berangkat kerja," ucap Sarah lirih.

Dia memilih meredam suaranya dan mengalah seperti biasa, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar di depan kedua wanita yang membencinya itu.

"Terbaik apa?!" Ibu Widya tiba-tiba menggebrak meja dengan telapak tangan beliau, membuat beberapa cangkir di atas meja berdenting keras.

Suasana di ruang makan langsung mencekam.

"Lima tahun, Sarah! Lima tahun kamu jadi menantu di rumah ini, tapi belum juga ada tanda-tanda kamu bisa memberikan Ardi seorang anak!"

"Sudah tidak punya latar belakang keluarga yang kaya, mandul pula! Mau ditaruh di mana muka Mama kalau teman-teman arisan Mama bertanya tentang cucu?!"

Kata-kata "mandul" itu menghujam tepat di bagian terdalam jantung Sarah. Dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

Kenyataannya, jadwal kerja Ardi yang gila-gilaan, egonya yang tinggi, serta stres berkepanjangan akibat tekanan konstan dari keluarga Ardi-lah yang membuat semua program kehamilan menemui jalan buntu.

Namun, di dalam rumah ini, semua kesalahan selalu ditimpakan ke pundak Sarah.

Sarah hanya bisa menundukkan kepala, menerima sumpah serapah itu tanpa bantahan, menelan bulat-bulat rasa sakit demi menjaga nama baik suaminya.

"Kalau bukan karena Ardi yang keras kepala mempertahankanmu dulu saat Papa masih hidup, kamu tidak akan pernah mencicipi tidur di kasur empuk dan tinggal di rumah mewah seperti ini, Sarah. Sadar diri sedikit dari mana asalmu," tambah Rika tanpa perasaan.

Rika menyunggingkan senyum kemenangan melihat wajah Sarah yang memucat dan hanya diam tak berdaya.

Sarah memalingkan wajahnya yang terasa panas ke arah Ardi. Dia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.

Dia berharap laki-laki yang dulu berjanji di depan mendiang ayahnya untuk menjaganya seumur hidup akan mengeluarkan satu kata saja untuk menghentikan semua ini. Satu kata saja sudah cukup untuk menguatkannya.

Namun, harapan itu pupus seketika.

Ardi justru meletakkan garpunya dengan kasar ke atas piring, mengembuskan napas panjang dengan raut wajah tampak sangat terganggu.

"Sudahlah, Sarah. Kalau Mama dan Mbak Rika bicara itu didengarkan, dicamkan dengan baik. Jangan malah memasang muka melas dan mengemis simpati seperti itu. Bikin tidak nafsu makan saja," ucap Ardi dingin.

Laki-laki itu berdiri dari kursinya, merapikan kemeja kerjanya tanpa melirik Sarah sedikit pun.

"Ardi ke ruang kerja dulu, Ma. Ada telepon penting dari klien besar."

Ardi melangkah pergi begitu saja dari ruang makan, meninggalkan Sarah sendirian di antara dua orang yang siap mengoyaknya kapan saja.

Suara langkah kaki Ardi yang menjauh terdengar seperti palu hakim yang mengetuk keputusan akhir atas harga diri Sarah yang telah hancur.

Ibu Widya tersenyum sinis, merasa menang karena putranya sendiri berada di pihaknya.

Beliau mengambil sebuah mangkuk sup porselen yang sudah kosong dan mendorongnya ke arah Sarah menggunakan ujung jarinya yang berkuku panjang penuh riasan kuteks merah.

"Berdiri kamu. Cuci semua piring kotor di dapur ini. Pembantu sedang pulang kampung," titah Ibu Widya seraya bersandar di kursinya.

Beliau melipat tangan di dada dengan keangkuhan luar biasa. "Lagipula, memang itu kan satu-satunya keahlian yang kamu punya sebagai wanita kelas bawah?"

Rika ikut terkekeh, menyandarkan tubuhnya sembari memperhatikan Sarah dengan tatapan mengejek.

"Iya, Sarah. Buruan dicuci. Jangan malas-malasan. Beruntung kamu masih punya tempat berteduh malam ini."

Sarah menatap mangkuk kosong di hadapannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata, namun dia buru-buru mengerjapkannya agar tidak jatuh di depan kedua wanita kejam ini.

Tangannya yang gemetar perlahan meraih mangkuk itu.

Mengikuti perintah patuh seperti robot, dia mulai mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja dengan kepala tetap tertunduk.

Dia membiarkan punggungnya dihujani oleh senyum kemenangan dan tatapan merendahkan dari ibu mertua dan kakak iparnya.

"Iya, Ma. Sarah cuci sekarang," jawab Sarah dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik.

Dia mengangkat tumpukan piring kotor itu dengan hati-hati, berbalik, dan melangkah perlahan menuju dapur yang berada di bagian belakang rumah.

Di setiap langkahnya menuju bak cuci piring, dadanya bergemuruh hebat.

Hawa dingin dari air yang mulai mengalir menyentuh tangannya, membasuh sisa-sisa kehangatan dari ketulusan yang selama lima tahun ini dia agungkan.

Sembari menggosok piring-piring porselen mahal itu satu per satu dalam keheningan dapur, ada sesuatu yang patah di dalam diri Sarah.

Dan dari patahan itu, sebuah tekad baru mendadak mengkristal dengan sangat kokoh.

Air matanya tidak lagi mengalir. Tatapan matanya yang semula redup dan terluka perlahan berubah menjadi sedingin es, membeku bersama rasa sakit yang sudah mencapai ambang batas.

Cukup sudah.

Cukup lima tahun ini dia merendahkan diri, membuang harga dirinya demi pria yang bahkan tidak sudi meliriknya saat dia diinjak-injak.

Cukup sudah dia berpura-pura menjadi wanita rumahan yang miskin dan tak punya apa-apa hanya demi menjaga ego suaminya yang merangkak dari bawah.

Sarah menatap piring-piring kotor itu dengan senyum tipis yang sarat akan penghinaan.

"Nikmati saja sisa-sisa kesombongan kalian malam ini," batinnya bergejolak penuh tekad, sementara tangannya menyelesaikan piring terakhir dengan ketukan tajam.

"Sebab saat topeng ini lepas, bukan cuma piring kotor yang akan kubuat hancur, tapi seluruh harga diri kalian akan kuratakan dengan tanah!"

Malam itu, Sarah menyelesaikan tugasnya sebagai "babu" untuk terakhir kalinya di rumah ini.

Dia merapikan pakaiannya, mengambil tas kecilnya tanpa pamit lagi pada Ibu Widya dan Rika yang masih bersenang-senang di ruang tengah.

Mulai malam ini, Sarah bersumpah tidak akan pernah lagi menjadi babu mereka atau diam saja jika dihina lagi.

Waktu untuk mengalah sudah habis. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

.

.

.

.

.

. Halo semuanya! Selamat datang di cerita pertamaku, semoga kalian suka dan betah membaca kisah ini sampai akhir ya! ✨

Bab 2 Akhir Status Babu

Sejak malam jamuan makan itu, atmosfer di rumah terasa berbeda.

Ardi semakin jarang pulang dengan alasan kesibukan proyek. Sementara itu, Ibu Widya dan Rika justru semakin sering datang ke rumah Sarah.

Mereka mengira Sarah masihlah wanita penurut yang bisa mereka jadikan samsak pelampiasan ego kapan saja.

Namun, mereka tidak tahu bahwa Sarah yang sekarang bukan lagi Sarah yang dulu.

Sore itu, hujan rintik-rintik membasahi halaman.

Sarah sedang duduk di ruang tengah. Dia menikmati secangkir teh hangat sambil membaca sebuah majalah bisnis ketika pintu depan terbuka tanpa ketukan.

Ibu Widya masuk dengan menenteng tas mahal barunya, diikuti oleh Rika yang sibuk mengunyah permen karet.

Tanpa permisi, Ibu Widya langsung melemparkan jaket rajutnya ke atas sofa tepat di sebelah Sarah.

"Sarah! Ambilkan Mama air es. Di luar hujan tapi hawanya pengap sekali, bikin gerah. Sekalian itu jaket Mama digantung di kamar, jangan sampai lecek," titah Ibu Widya dengan nada memerintah yang sangat natural.

Beliau seolah sedang berbicara pada pembantu harian.

Sarah tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari halaman majalah yang sedang dibacanya.

Dia perlahan menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkir porselen itu ke atas meja dengan ketukan pelan yang konstan.

Melihat tidak ada pergerakan, Rika mendengkus kencang.

"Heh, Sarah! Kupingmu dipasang tidak? Mama menyuruhmu ambil air, malah asyik baca majalah. Sejak kapan kamu sok tahu membaca majalah keuangan begitu? Mengerti juga tidak!"

Sarah perlahan menutup majalahnya. Dia mendongak, menatap Rika lalu beralih ke Ibu Widya.

Tidak ada lagi binar ketakutan atau mata yang berkaca-kaca. Yang ada hanyalah tatapan datar, dingin, dan kosong.

"Kalau Mama haus, dispenser ada di dapur. Tinggal tekan tombolnya, airnya keluar sendiri," ucap Sarah.

Suaranya terdengar sangat tenang namun membawa aura yang mencekam.

"Dan Mbak Rika, kalau tangan Mbak tidak sanggup untuk mengambilkan jaket Mama, biarkan saja jaket itu di sana. Rumah ini bukan hotel, dan aku bukan pelayan kalian!"

Ibu Widya terbelalak. Beliau langsung berdiri dari duduknya, menunjuk wajah Sarah dengan jari yang gemetar karena syok.

"Kamu... kamu berani bicara begitu pada Mama?! Ardi benar-benar salah memilih istri! Semakin hari kamu semakin kurang ajar!"

"Ardi tidak salah memilih istri, Ma. Tapi kalian yang salah menilai kesabaranku selama lima tahun ini," balas Sarah seraya berdiri tegak.

Postur tubuhnya yang tinggi dan anggun seketika mengintimidasi kedua wanita di hadapannya.

Rika mencoba membela ibunya. Dia maju mendekati Sarah dengan wajah menantang.

"Jangan sombong ya, Sarah! Kamu itu cuma menumpang hidup di rumah adikku! Rumah megah ini, baju yang kamu pakai, semuanya dibeli pakai uang Ardi! Kalau bukan karena Ardi, kamu mungkin sudah jadi gelandangan di luar sana!"

Sarah memandangi Rika dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Menumpang hidup?" Sarah terkekeh pelan. Sebuah kekehan yang membuat Rika mendadak merinding.

"Mbak Rika tidak sadar kalau barang-barang mewah yang Mbak pakai hari ini dibeli dari uang yang kalian peras dari Ardi setiap bulan?

Tanpa aliran dana dari rumah ini, kalian bahkan tidak akan bisa mempertahankan gaya hidup sok kaya kalian itu. Sadar diri, Mbak, siapa benalu yang sebenarnya di sini."

"Kamu—" Rika kehabisan kata-kata. Wajahnya memerah padam karena rahasia memalukannya dibongkar begitu saja.

Ibu Widya yang tidak terima putrinya dipojokkan, ikut melangkah maju.

"Cukup, Sarah! Jangan berlagak seperti kamu yang paling berjasa! Kamu itu wanita mandul yang tidak berguna untuk keluarga ini! Mengurus anak saja tidak bisa, sekarang mau mengurus harta Ardi?!"

Kalimat "mandul" itu kembali terlontar. Dulu, kalimat itu akan membuat Sarah menangis tersedu-sedu di kamar.

Tapi hari ini, kalimat itu justru terdengar menggelikan di telinganya.

"Ma," potong Sarah dengan suara yang tegas dan tajam bagai silet.

"Ma," potong Sarah dengan suara yang tegas dan tajam bagai silet.

"Sebelum Mama menghina rahim orang lain, pastikan dulu putra kebanggaan Mama itu sudah memeriksakan dirinya ke dokter. Jangan-jangan, alasan kenapa rumah ini sepi bukan karena aku, tapi karena putra kebanggaan Mama yang sebenarnya bermasalah."

Plak!

Ibu Widya mengangkat tangannya, mencoba menampar wajah Sarah.

Namun, dengan sigap dan cepat, Sarah mencengkeram pergelangan tangan ibu mertuanya itu di udara!

Cengkeramannya begitu kuat hingga Ibu Widya meringis kesakitan.

"Lepaskan! Kurang ajar kamu, Sarah!" jerit Ibu Widya.

Sarah tidak langsung melepaskannya. Dia justru menarik tangan Ibu Widya sedikit lebih dekat, lalu berbisik tepat di depan wajah wanita tua itu.

"Jangan pernah coba-coba menyentuhku lagi, Ma. Tangan ini tidak akan ragu untuk membalas lebih keras jika Mama masih belum bisa menjaga sopan santun di rumah orang lain."

"Cukup lima tahun aku mengalah. Mulai detik ini, setiap rasa sakit yang kalian berikan akan kukembalikan dua kali lipat secara instan. Pikirkan baik-baik sebelum Mama bertindak!"

Sarah mengempaskan tangan Ibu Widya hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Beliau hampir kehilangan keseimbangan jika tidak ditangkap oleh Rika.

Kedua wanita itu menatap Sarah dengan pandangan horor. Mereka tidak pernah melihat Sarah yang seperti ini.

Wanita di hadapan mereka seolah menjelma menjadi sosok yang sangat asing, penuh kuasa, dan tidak tersentuh.

"Pergi dari rumahku sekarang," titah Sarah dingin tanpa emosi, menunjuk ke arah pintu depan.

"Sebelum aku memanggil satpam kompleks untuk menyeret kalian keluar seperti penyusup!"

Tanpa bisa membalas lagi, Ibu Widya dan Rika segera meraih tas mereka. Mereka berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah dengan wajah pucat dan menahan malu yang luar biasa.

Setelah pintu tertutup rapat, Sarah mengembuskan napas panjang. Dia berjalan kembali ke sofanya, merapikan setelan pakaiannya yang sedikit kusut.

Matanya menatap keluar jendela, ke arah rintik hujan yang semakin menderu.

Waktu untuk diam dan mengalah sudah benar-benar mati.

Sekarang, dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat sampai Ardi sendiri yang mengantarkan akhir dari pernikahan ini ke hadapannya.

bab 3 Kesabaran yang sudah habis

Gelas-gelas porselen di rak ruang tengah itu dibersihkan Sarah dengan gerakan perlahan.

Sudah dua minggu berlalu sejak makan malam penuh air mata di rumah mertuanya, tetapi rasa sesak di dadanya belum juga menguap.

Sarah tahu dia masih mencintai Ardi. Sangat mencintainya. Itulah satu-satunya alasan mengapa dia masih bertahan di rumah ini.

Namun, cinta tidak lagi membuatnya ingin menjadi wanita bodoh.

Detik ini, Sarah berjanji pada dirinya sendiri: dia tetaplah seorang istri yang menyayangi suaminya, tetapi dia tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya sebagai manusia.

Atmosfer di dalam rumah tangga Sarah dan Ardi berubah total. Kamar utama yang biasanya hangat kini terasa sedingin es.

Sarah tidak lagi menyambut Ardi di depan pintu dengan senyuman tulus.

Dia juga tidak lagi buru-buru ke dapur untuk membuatkan kopi hangat begitu mendengar suara mesin mobil suaminya memasuki halaman rumah.

Bukannya Sarah sudah tidak punya rasa. Justru karena dia masih sangat mencintai Ardi, dia memilih untuk tetap bertahan di rumah ini.

Lima tahun membina rumah tangga bukanlah waktu yang singkat untuk dihapus begitu saja.

Namun, cinta saja ternyata tidak cukup jika terus-menerus digerus rasa sakit. Sarah hanya lelah.

Lelah menjadi satu-satunya pihak yang selalu mengalah, mendengarkan cemoohan mertua, dan dianggap menumpang hidup seolah dirinya tidak memiliki harga diri sama sekali.

Malam itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

Ardi baru saja pulang, melangkah masuk ke ruang tamu lalu melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan kasar.

Wajah suaminya itu tampak luar biasa kusut dan kusam. Sebuah pertanda jelas bahwa urusan proyek kontraktornya di luar sana sedang tidak berjalan lancar.

"Sarah! Ambilkan aku air dingin, cepat. Haus banget ini," teriak Ardi dari ruang tengah.

Nadanya terdengar sangat kasual, memerintah tanpa beban seolah itu adalah tugas wajib Sarah yang tidak boleh ditunda.

Sarah yang kebetulan sedang merapikan buku-buku di rak ruang tengah tidak beranjak dari posisinya.

Dia hanya menoleh pelan, menatap punggung Ardi yang tampak lelah.

"Kulkasnya tidak dikunci, Mas. Air dinginnya ada di dalam botol hijau. Tinggal ambil sendiri."

Ardi yang saat itu sedang melonggarkan ikatan dasinya langsung menghentikan gerakannya.

Dia menoleh, menatap Sarah dengan dahi berkerut dalam. Laki-laki itu tampak heran dan sedikit terkejut dengan jawaban istrinya.

Biasanya, Sarah akan langsung berlari ke dapur bahkan sebelum Ardi selesai meminta.

"Kamu kenapa, sih? Cuma disuruh ambil air saja malas banget," ketus Ardi. Langkah kakinya menghentak kasar menuju dapur.

Terdengar suara pintu kulkas dibuka dengan hentakan emosi.

Setelah meneguk air langsung dari botolnya, Ardi kembali ke ruang tengah dengan wajah menuntut penjelasan.

Dia berdiri di dekat sofa, menatap Sarah yang masih sibuk membelakanginya.

"Oh, atau ini gara-gara masalah dua hari lalu?" tanya Ardi, nadanya mulai meninggi, siap mengonfrontasi.

"Mama sama Rika cerita ke aku. Katanya kamu sekarang sudah berani kasar, membentak, bahkan sampai mengusir mereka dari rumah ini! Benar begitu?!"

Sarah perlahan meletakkan buku terakhir ke dalam rak, lalu membalikkan badannya untuk menghadapi suaminya secara langsung.

"Aku tidak akan mengusir mereka kalau mereka tahu cara bertamu dengan sopan, Mas. Apa membela diri dari makian dan hinaan di rumahku sendiri termasuk tindakan kriminal?"

"Sarah! Jaga ya ucapan kamu!" bentak Ardi. Egonya sebagai kepala keluarga seketika terusik melihat ketenangan di wajah Sarah.

"Mereka itu keluarga aku! Mama yang melahirkan aku! Dan kamu, sebagai istriku, harusnya tahu cara menghormati mereka, bukan malah bikin mereka sakit hati dan pulang menanggung malu!"

"Lalu siapa yang menghormati aku di rumah ini, Mas?!"

Suara Sarah akhirnya pecah. Kalimatnya memotong ucapan Ardi dengan cepat dan tajam.

Matanya yang biasa menatap dengan teduh kini berkilat penuh emosi yang selama lima tahun ini dia pendam rapat-rapat di dasar hatinya.

"Lima tahun, Mas! Lima tahun aku diam setiap kali Mama menghina latar belakang keluargaku! Aku diam waktu Mbak Rika bilang aku wanita tidak berguna yang cuma bisa menghabiskan uangmu!"

"Kamu di mana waktu mereka menginjak-injak harga diriku di meja makan?! Kamu malah pergi ke ruang kerja dan menyuruhku menerima semua makian itu tanpa peduli bagaimana hancurnya perasaanku!"

Ardi tersentak. Langkahnya tertahan.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Sarah selalu menerima semua keluhan, amarah, dan ego keluarganya dengan kepala tertunduk dan air mata yang disembunyikan di kamar mandi.

Melihat Sarah yang sekarang berani berdiri tegak, menentang kata-katanya, dan menatap matanya dengan penuh tuntutan seperti ini membuat Ardi mendadak kehilangan kata-kata untuk beberapa detik.

"Itu... itu kan karena mereka orang tua, Sarah. Harusnya kamu mengalah sedikit, jangan semua hal dimasukkan ke dalam hati," ucap Ardi.

Suaranya sedikit melunak namun nadanya tetap defensif, mencoba membenarkan diri sendiri.

"Lagipula, bisnis kontraktorku lagi naik daun sekarang. Aku butuh istri yang bisa mendukungku di depan kolega, bukan istri yang kerjaannya cuma memicu keributan di dalam keluarga seperti ini."

Sarah tersenyum sinis. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak hilang.

Laki-laki yang sangat dia cintai, yang dulu berlutut di depan mendiang ayahnya dan berjanji akan menjaganya seumur hidup, ternyata tidak pernah sekalipun berdiri di pihaknya.

Cinta di hatinya malam itu rasanya seperti diremas kuat-kuat oleh kenyataan, menyisakan rasa perih yang teramat dalam.

"Dukungan seperti apa yang kamu mau, Ardi? Apa aku harus jadi patung bernyawa yang tidak punya mulut agar keluargamu senang?" tanya Sarah.

Suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan pelan, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakan histeris tadi.

Sarah maju selangkah, menatap suaminya lekat-lekat.

"Mulai malam ini, aku tidak akan pernah diam lagi. Kalau keluargamu datang ke rumah ini hanya untuk menjadikanku tempat sampah bagi kesombongan mereka, aku tidak akan segan-segan mengusir mereka keluar."

"Kamu berani mengancamku di rumahku sendiri?!"

Amarah Ardi kembali tersulut mendengar kata 'mengusir'.

Dia maju satu langkah besar, meraih kedua pundak Sarah lalu mencengkeramnya dengan kuat, seolah ingin menegaskan posisinya yang lebih tinggi.

"Ingat ya, Sarah! Rumah mewah ini, semua fasilitas yang kamu nikmati, baju yang melekat di badanmu, semuanya dibeli pakai uang hasil keringatku!"

"Kamu tidak punya hak sepeser pun untuk mengatur siapa yang boleh atau tidak boleh datang ke rumah ini!"

Sarah tidak memberontak. Dia tidak mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ardi yang mulai terasa sakit di pundaknya.

Dia justru membiarkan dirinya sedekat itu dengan Ardi, menatap lurus ke dalam bola mata suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sebuah perpaduan antara sisa rasa cinta yang terluka dan rasa kecewa yang sudah teramat sangat matang.

"Uangmu, Mas?" bisik Sarah lirih.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terasa begitu misterius sekaligus menyakitkan. "Kamu yakin semua ini murni karena kehebatanmu?"

Ardi mengernyitkan dahi, tidak mengerti arah pembicaraan Sarah. "Maksud kamu apa—"

Tepat saat ketegangan di antara pasangan suami istri itu berada di titik didih yang paling krusial, suara hantaman keras dari arah depan memecah keheningan malam yang mencekam tersebut.

Gedor! Gedor! Gedor!

Suara pintu jati rumah mereka digedor dengan sangat brutal, seolah-olah orang di luar sana sedang dikejar oleh bahaya besar.

"Ardi! Sarah! Buka pintunya! Ardi, keluar kamu, Nak! Tolong Mama!"

Suara jeritan histeris yang melengking memecah malam. Ardi dan Sarah refleks menoleh ke arah pintu depan secara bersamaan.

Itu jelas suara Ibu Widya. Namun, nada suaranya sama sekali tidak seperti biasanya yang penuh keangkuhan dan nada meremehkan.

Suara wanita tua itu bergetar hebat, dipenuhi oleh kepanikan, ketakutan yang teramat sangat, dan suara tangisan yang pecah di tengah rintik hujan malam.

Ardi refleks melepaskan cengkeramannya dari pundak Sarah.

Wajahnya yang semula memerah penuh amarah mendadak berubah menjadi pias dan pucat. Jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk langsung menghantam kepalanya.

Di jam hampir tengah malam seperti ini, ibunya datang berteriak minta tolong?

Tanpa memedulikan Sarah lagi, Ardi berbalik dan berlari tergesa-gesa menuju pintu depan, sementara Sarah tetap berdiri mematung di ruang tengah.

Dia menatap punggung suaminya yang menjauh dengan perasaan yang mendadak campur aduk.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!